Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Erwiana, Facebook, dan Solidaritas Buruh


Erwiana, Facebook, dan Solidaritas Buruh

dok / Jaringan Buruh Migran Indonesia
AKSI SOLIDARITAS – Ribuan buruh migran asal Indonesia menggelar aksi solidaritas untuk Erwiana di depan kantor Central Government Offi ce (CGO) di Hong Kong, Minggu (19/1). Sekitar 100 warga lokal turut bergabung dalam aksi ini.
Akankah negara bicara lantang tentang nasib pekerja rumah tangga Indonesia di Hong Kong?
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menelepon seorang lelaki bernama Rahmat, di sela-sela rapat kabinet yang berlangsung di Istana Negara, Selasa (21/1) pagi.

“Pak Rahmat, ini Pak SBY. Saya sedih prihatin terhadap musibah yang mengenai putri Bapak, Erwiana. Saya juga marah pada yang berbuat kejahatan. Saya minta hukum dan keadilan ditegakkan,” demikian SBY menelepon, seperti diberitakan Antara, Selasa. 

Tak jelas apa tanggapan dan reaksi Rahmat menerima telepon mendadak itu. Namun yang pasti, kejutan Rahmat sudah datang jauh-jauh hari, Sabtu (11/1) lalu, saat putrinya, Erwiana Sulistyaningsing, datang ke rumah dengan dipapah seorang buruh migran asal Magetan, seorang perempuan yang baru dijumpai Erwiana saat di Bandara Chek Lap Kok, Hong Kong. 

Wajah dan mata Erwiana lebam, tubuhnya memar. Rahmat dan istrinya histeris. Baru delapan bulan Erwiana bekerja di negeri bekas jajahan Inggris itu, tapi pulang dengan luka di sekujur badan. 

Riyanti, buruh migran asal Magetan yang mengantar Erwiana pulang ke kampung halamannya di Desa Pucangan, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menemukan Erwiana duduk sendiri di bandara Hong Kong, Jumat (10/1) malam lalu. Kebetulan malam itu, Riyanti juga memutuskan pulang kampung. Mereka menumpang penerbangan yang sama. 

Riyanti curiga dengan wajah lebam Erwiana. Namun, Erwiana bungkam ketika ditanya apa yang terjadi padanya. Ia hanya bilang alergi cuaca. 

Tapi, Riyanti tak percaya. Saat Erwiana minta diantar ke toilet dengan langkah tertatih, Riyanti makin curiga. Di toilet, Riyanti menemukan Erwiana berganti pampers untuk pantatnya. Riyanti makin curiga Erwiana mengalami penganiayaan, tapi perempuan berusia 22 tahun itu tetap bungkam.

Sambil mencoba berkomunikasi dengan Erwiana, Riyanti berbalas pesan pendek dengan kawannya, Icha, juga seorang buruh migran asal Malang yang bekerja di Hong Kong. Kepada Icha, Riyanti mengirim foto Erwiana yang lebam. 

Icha-lah yang kemudian menjadi orang pertama yang mem-posting foto Erwiana di Facebook, Sabtu (11/1) pagi. Ia tak berpikir panjang. Ia memutuskan melakukan hal tersebut setelah SMS terakhirnya ke Riyanti yang meminta agar Riyanti menemani Erwiana pulang hingga ke kampung halamannya, tak berbalas. 

Kemungkinan karena Riyanti sudah berada dalam pesawat bersama Erwiana. “Yang kupikirkan saat itu (saat mem-posting foto Erwiana di Facebook-red), itu jalan satu-satunya berharap kepedulian kawan-kawan BMI (buruh migran Indonesia, sebutan lain untuk tenaga kerja Indonesia-red) membantu Erwiana,” ucap Icha kepada SH. 

Tanggapan dan reaksi pun meluas. Banyak yang kemudian menyebarluaskan foto ini. Ada yang pro, ada yang kontra. Tak sedikit pula yang skeptis. Orang yang pro menyebut Erwiana harus dibantu dan solidaritas harus segera digalang. 

Orang yang kontra melihat foto semacam ini tak bisa sembarangan diedarkan tanpa izin dari pemiliknya karena dikhawatirkan terjadi sesuatu yang justru lebih buruk terhadap Erwiana. Sementara itu, orang yang skeptis menganggapnya sebagai hoax. 

Namun, saat informasi lanjutan mengalir dari Icha dan Riyanti tentang proses perjalanan Erwiana pulang ke kampung halaman, hingga penanganan terhadapnya, arus pun berubah cepat. Solidaritas mengalir deras. 

Disiksa

Kepada Riyanti, saat berada di dalam pesawat, Erwiana berkisah bahwa majikan perempuannya, Lo Wan-tung, memang doyan memukulinya. Ia takut mengaku karena majikannya sempat mengancam orang tuanya di kampung akan dibunuh jika Erwiana mengisahkan penganiayaan tersebut.

Selama delapan bulan bekerja pada majikan tersebut, Erwiana hanya sekali diberi makan nasi setiap hari, pada pukul 07.00. Siang dan malam hanya dapat jatah satu iris roti dan satu botol air mineral untuk sehari. Jam tidurnya pun diubah. 

Ia boleh beristirahat atau tidur dari pukul 13.00-17.00. Selebihnya, ia harus dalam kondisi bangun dan bekerja. Saat ia kelaparan dan mencoba mengambil roti di lemari, majikan langsung memukulinya, juga setiap kali dia melakukan kesalahan kecil. 

Dokter Imam Fadli, spesialis bedah yang merawat Erwiana di Rumah Sakit Islam Amal Sehat Sragen, mengatakan, Erwiana tak bisa berjalan dan mengalami pembengkakan otak karena kepalanya terus dipukuli benda tumpul selama enam bulan terakhir. 

Saat bulan pertama mengalami penganiayaan, Erwiana sebetulnya telah mencoba melapor pada PJTKI Graha Ayu Karsa Tangerang yang mengirimnya. Namun, alih-alih memberi perlindungan, PJTKI malah menelepon agen di Hong Kong yang menyalurkan Erwiana ke Lo Wan-tung dan sang agen memberi tahu majikan tersebut tentang keinginan Erwiana untuk hengkang. Jadilah, Erwiana kembali jadi bulan-bulanan. 

Minggu (19/1), sebuah aksi menuntut keadilan bagi Erwiana digelar di Hong Kong. Sekitar 5.000 orang turun ke jalan menuju kantor pemerintah Hong Kong dan markas polisi Hong Kong. 

Sejumlah organisasi pekerja migran mengoordinasi aksi tersebut. Warga Hong Kong yang bersimpati terhadap kasus Erwiana juga turun ke jalan. “Lebih dari 100 warga lokal ikut dalam aksi ini,” kata Sring Atin, juru bicara Komite Keadilan untuk Erwiana dan Semua Pekerja Migran Rumah Tangga. 

Hari itu juga polisi memeriksa Susi, pekerja migran asal Malang yang juga menjadi korban penganiayaan Lo Wan-tung. Sring mendampingi Susi dalam pemberian kesaksian tersebut. Kepada SH, Sring mengatakan, pada Jumat (17/1), polisi Hong Kong menghubunginya. “Mereka bilang jika Susi bisa bersaksi, mereka akan menangkap majikan Erwiana, Minggu (19/1) malam,” Sring menjelaskan.
Meski mundur sehari, polisi menepati janjinya. Senin (20/1) malam, Lo Wan-tung dicokok Imigrasi Hong Kong di bandara saat hendak terbang ke Bangkok. Perempuan tersebut ditangkap atas tuduhan menganiaya dua PRT asal Indonesia. 

Hari yang sama, empat penyidik dari Unit Kejahatan Kepolisian Hong Kong dan pejabat Departemen Perburuhan Hong Kong terbang ke Indonesia untuk memeriksa Erwiana. Polisi butuh keterangan dan hasil medis Erwiana sebagai bahan investigasi untuk menjerat Lo Wan-tung. 

Aksi solidaritas terhadap kasus ini dan juga soroton media internasional membuat Hong Kong jengah. Mereka tak ingin disamakan dengan Arab Saudi jika kasus ini gagal ditangani. 

Presiden Yudhoyono tampaknya juga terusik hingga merasa perlu untuk menelepon ayah Erwiana. Tapi, penghiburan saja memang tak cukup. 

Kamis (23/1) dan Minggu (26/1) nanti, organisasi dan jaringan buruh migran Indonesia di Hong Kong kembali menggelar aksi. Mereka akan mendatangi kantor Departemen Perburuhan Hong Kong dan kantor agen Chans Asia Recruitment Centre yang menyalurkan Erwiana, menuntut agar agen ditutup dan pemerintah Hong Kong meninjau ulang aturan yang mengharuskan PRT asing tinggal di rumah majikan. Secara kebetulan agen Chans berkantor di kawasan Causeway Bay, tempat perwakilan pemerintah Indonesia juga berkantor. 

Para pekerja migran asal Indonesia ini telanjur memercayai bukti bahwa bukan para pejabat negara yang akan menuntaskan masalah dan nasib mereka, tapi diri mereka sendiri. (SU Herdjoko)

Erwiana, TKW Hong Kong Korban Penganiayaan Majikan


Erwiana sebelum berangkat ke Hong Kong
ERWIANA SULISTYANINGSIH
Asal: Ngawi
 Lahir pada 7 Januari 1991
Nomer passport: AS 321825
8 bulan bekerja di majikan bernama LAW WAN TUNG
beralamat di: Flat J 38 /F BLK 5 Beverly Garden 1 Tong Ming Street Tsueng Kwan O, Kowloon, HK
Erwiana diberangkatkan oleh P.T. GRAHA AYU KARSA Tangerang. Dan agen di Hong Kong Chans Asia Recruitment Centre.

Tulisan ini berdasarkan cerita Rian yang kebetulan hendak cuti ke Indonesia dan bareng Erwiana. 

Tanggal 9 Januari 2014

Ketika aku sampai di bandara CHEK LAP KOK, HONG KONG, aku melihat ada seorang mbak-mbak, BMI (BMI=TKW) juga. Tapi kok wajahnya lebam dan jari tangannya juga bengkak menghitam? Lalu ku tanya: "Namamu siapa mbak?"
“Erwiana,” jawabnya.

Aku : "Lhoh mbak, kenapa wajah dan tanganmu seperti itu?"
Erwiana : "Ahh nggak papa kok, Mbak. Ini cuma alergi kena air dingin."
Aku : "Ahh massa sih alergi air dingin sebegitunya? Kok kayak ada luka gitu lo. Mbak di wajahmu juga lebam."
Erna : "Enggaklah, nggak apa-apa kok." (Erwiana diam dan menunduk sambil memainkan jarinya yang menghitam itu)

Aku : "Memangnya kenapa sih, Mbak? Apakah kamu dipukul oleh majikanmu?" (aku setengah memaksa dia untuk mengakui apa sih yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?)

Erwiana : "Ora papa, Mbak." (Lagi-lagi dia menunduk)

Aku : "Kamu asal mana?"
Erwiana: "Ngawi, Mbak."
Aku : "Lhoh, ya sama. Aku dari Magetan, berarti kita tetangga dekat lo."
Erwiana: "Oh iya, Mbak.”

Terdengar suara peringatan kepada seluruh penumpang pesawat agar segera masuk ke Gate 31.

Aku: "Ayok masuk, dah ada peringatan tuh.”
Erwiana: "Aku ewangana, Mbak. Aku gak bisa bawa tasku."
Aku : "Lhoh tadi katamu gak apa-apa? Lha kok? Sebenarnya kenapa sih mbak kamu nih?" (Aku jengkel karena ditanya gak ngaku-ngaku)

Erwiana di bandara Hong Kong
Erwiana : "Mbak, iya aku dipukuli oleh majikanku selama 8 bulan, tapi mbak aja ngomong-ngomong ya, aku takut sekali.” (wajah Er terlihat banget cemas)
”Erwiana: "Aku gak boleh ngobrol dengan orang Indonesia atau pun melapor ke Polisi tentang kejadian ini.” (tangan Erwiana terlihat gemetar)
Aku: "Hahhh..??!!”(aku kaget dan menyayangkan banget, kenapa disiksa separah itu kok diam saja? Kenapa??)

Karena waktu sudah mepet dan kami pun harus segera masuk pesawat, maka aku gandeng dia untuk jalan. Namun alangkah kagetnya aku, ternyata dia juga susah jalan jadi aku harus memapah dia. Semua bawaanku kutaruh di kereta barang. Aku sudah menawarkan untuk lapor polisi, dia gak mau dan ngeyel gak mau.
Akhirnya kami tiba di depan gate masuk Imigrasi.
Beberapa petugas bertanya pada Erwiana: "Kamu kenapa?" Dan aku yang jawab, kujelaskan bahwa dia telah dianiaya majikanya. Petugas tersebut seketika langsung menyarankan untuk lapor polisi dan lagi-lagi Erwiana menolak dengan alasan ingin segera pulang bertemu keluarga di kampung. Akhirnya walaupun banyak orang menyarankannya lapor polisi tapi dianya nggak mau, ya sudah tentu pihak imigrasipun tidak bisa memaksa seseorang untuk melaporkan kasusnya.

Sampai di dalam pesawat aku bersusah payah untuk memapahnya dan barangku dibawakan teman yang lain. Oh ya, Erwiana juga tidak mau dipapah teman lainnya selain aku. Di barisan tempat dudukku juga Erwiana ada orang asing dan dia melihat kondisi fisik Erwiana yang begitu. Penumpang asing itu minta pindah tempat duduk yang kebetulan ada yang masih kosong. Mungkin orang itu takut melihat tangan Erwiana yang seperti penyakit apa gak tau.

Di dalam pesawat Erwiana tertidur, mungkin saking capeknya. Beberapa kali dia terlelap. Beberapa kali juga dia mengigau. Dalam igauanya dia berteriak ketakutan, capek dan banyak lagi. Saat dia tidak tidur, aku coba ajak dia untuk bicara mengenai kondisi dia di majikan hingga dia teraniaya.

Er..kutatap wajahnya saat ia tertidur lagi..
(kasihan banget kau Er, wajah ayumu kini berubah lebam, majikanmu hanya memberi satu lembar uang seratus dolar, umurmu yang masih muda juga harus dituakan tiga tahun. Aku menerawang sedih.
Erwiana terbang ke Hong Kong pada Tanggal 13 May 2013. Dia juga harus membayar potongan Agen selama 6/7 bulan. Sejak awal dia bekerja, Erwiana sudah mulai dipukul oleh majikannya menggunakan hanger atau apa saja yang ada di depan majikannya. Lalu pada saat dia sudah bekerja satu bulan dia sempat lari ke bawah rumah telpon pihak PJTKI di Indonesia. Erwiana laporan bahwa dia mengalami penganiayaan fisik dan tiap hari dimarahi oleh majikannya. Erwiana gak kuat dan gak tahu harus bagaimana. Lalu pihak PJTKI segera menghubungi agen yang ada di Hong Kong. Tak berapa lama agen datang ke bawah rumah majikan Erwiana menemui Erwiana yang masih di bawah rumah. Selanjutnya, pihak agen mengantar Erwiana kembali ke rumah majikan karena Erwiana belum habis masa potongan gaji.

Erwiana yang masih baru, tidak tahu harus kemana dan tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan. Dengan bujuk agen, Erwiana terpaksa kembali ke majikan lagi. Dalam bekerja sehari-harinya Erwiana selalu mendapat perlakuan tidak baik dari majikannya. Dia juga kurang makan dan kurang tidur. Hingga pada kondisi yang kritis, tepatnya tiga hari sebelum dipulangkan, Erwiana mengeluh sakit dan lemah. Lalu majikannya menyuruhnya untuk tidur istirahat. Ketika mandi, Erwiana juga dimandikan oleh majikan perempuannya dengan alasan kalau Erwiana mandi sendiri nggak bersih.

Akhirnya pesawat landing di bandara Indonesia. Aku segera memapah Erwiana, ketika dia berasa ingin buang air kecil, segera ku antar ke toilet. Dan alangkah terkejutnya aku, ternyata Erwiana sudah dipakek i Pampers! Ohhh ya Alloh… Betapa tersiksanya dirimu wahai saudaraku. Aku hanya bisa berucap dalam hati, ingin sekali aku menangis, menjerit, agar apa yang kurasakan dongkol dalam hati ini berkurang, tapi ku tahan. Aku tak ingin terlihat sedih di depan Erwiana.

Dari bandara aku mengantarkan Erwiana sampai rumahnya di Ngawi. Di halaman depan rumahnya Taxi yang kami tumpangi berhenti. Keluarganya yang tidak tahu dia akan pulang hari itu kaget. Apalagi ketika melihat kondisi fisik Erwiana yang mukanya lebam dan harus dibopong masuk ke rumah. Spontan keluarga dan tetangga yang di situ menangis histeris.

Sampai di dalam rumah, Erwiana ditidurkan. Sebenarnya aku sudah penasaran sejak dari Hong Kong, kok kakinya gak bisa buat jalan itu kenapa? Tapi Erwiana menutupi dan tidak mau memberitahuku. Dalam kondisi yang pada menangisi keadaan Er, aku terus bersabar, aku harus kuat, aku harus tatak di hadapan banyak orang. Aku gak ingin menangis meskipun batinku menjerit dan airmataku begitu ingin mengalir.

image
image
image
 image
Dan akhirnya akupun memberanikan diri untuk melihat kondisi kakinya. Duh Gustiiiiii… Ampunilah dosa hambamu yang lemah iniiiii…(ku berdoa dalam hati). Kedua kakinya diperban dan aku tidak tahu luka apa ini. Bekas siraman.air panaskah? Atau bekas apa?  Ya Allah... begini parahnya. Aku mencium aroma yang tidak sedap dari kedua kaki Erwiana namum tak sedikitpun aku merasa jijik atau bagaimana. Aku tetap melepas perban-perban yang menempel di luka  Erwiana dan menggantikan dengan yang baru.

Kondisi Erwiana sangat lemah dan masih  butuh perawatan extra. Saat ini Erwiana sudah dibawa ke Rumah Sakit setempat untuk perawatan.

Kawan-kawan semua, itu tadi kisah saudara kita yang foto-fotonya sudah ramai dibicarakan di FB sejak semalam, dan untuk kekurangan nama tempat atau alamat, saya pribadi memang belum mendapatkan dari pihak keluarga. Dan perlu kawan- kawan ketahui, saat ini Erwiana juga sudah ada pihak di Indonesia yang siap mendampingi untuk menuntut haknya.

************

Copas dari blog kawan, Fendy .







Winter with Mr. Tarmedi

***Bear it! I wrote this post in broken English!

I am trying to write a note in every other day (though last night I have posted) to keep my self occupy. It has been very cold days. The blanket & pillow are seemed more interesting than a laptop or an android phone. The wind often blows hard. It goes through the layers of clothes and through our bones. And as a compliment, the rain makes the days even worst.

But my friends & I (note: we are domestic workers in Hong Kong) have got to be stronger than winter. We are playing a co-star in every daily movie. We are the lady behind the success man. Well, we have people depending on us, laying great help or hope (as well as burden) to us. And to do such a job, we've got to keep healthy as well as happy.

Our boss might be in the bedroom watching TV or having longer nap time. But just look at those piles of dirty clothes in the loundry basket and on the washroom floor or look at how messy the house can be. And how about breakfast, lunch & dinner to serve? Or clothes to iron and baby to feed? Also marketing and (not to forget) moping and grooming the dogs? We definitely are not entitled for having such a lazy day in any season and any reason. Be it rain or fall or summer or winter, the job must be done. It is the same amount of HK$ 3.920 in every month, means the same things to do every day, no less, but can be more.

To keep healthy, may be it's all about the food we eat. But one of the reasons to keep happy is sending messeges to a friend or multiple friends in one group under the generosity of whatsapp, line, BBM for Android etc. It is free (for now) and easy. It doesn't take much time also.

We often talk about our self, our boss, our "man", our holiday, future, business or married & family planning. Further more, we discuss about many different news, from Indonesian domestic worker's news to Jokowi, SBY and Mr. Tarmedi.

Ok, so this (Mr. Tarmedi) is the latest news that has inspired me to write in English (forgive my wrong grammar pls). And because of this news, my friends went crazy (but it is a good way of craziness of course). We write messeges in English. We hope that we'll be better one day, getting more fluently and confidence through wrongs and errors.

But there are two different confersations I have made with completly different type of friend. And both make my days brighter and lighter. It's...it's fun way of learning. With little bit of twist and little bit addition here and there (include mixing the language). It is bizare but hilarious! Check it out!



 




Did you find it funny? I did and still do! Lol...

note:
nganfen (bahasa Kantonis)=sleepy
codauu(bahasa Kantonis)=good night

Bila Emak Kirim Mangga ke Hong Kong

Jasa pengiriman barang BAI menggerutuiku karena aku gagal mengambil paketan pada hari Sabtu.  BAI juga mengkhawatirkan paketan yang berisi makanan itu akan busuk bila terlalu lama di gudang pengambilan. Berhubung Sabtu aku tak jadi libur, maka baru keesokan harinya aku sempat mengambilnya, itupun setelah berlari-lari menyerahkan pesanan online kepada kostumerku dari satu titik ke titik lain (masih di daerah Causeway Bay-untuk kisah jualan onlineku ini mungkin akan kutuliskan nanti).

Aku menggeret salah seorang kawan yang jarang banget libur. Menggeretnya, memegang erat tangannya hingga dia tak bisa menolak untuk berkata tidak untuk mengikutiku (sukurin Wiek, haha..!). Kemudian bersamanya aku menuju gudang pengiriman barang, menyeret sebuah kardus lalu membukanya persis di lorong apartemen.

455 dolar, pikirku.

"455 dolar," gerutuku.

"Iki apa wae ta Wiek kok sampek meh 500 dolar ki," kataku pada Awiek.

"Astagfirullah, akeh men. Gek paket pelem wae kok sampek 750 ewu lho, kaujo aaa...!" gerutuku.

23 buah mangga, 2 kilogram sambel pecel dan seplastik enjet (batu kapur yang sudah dilunakkan) terdapat di kardus bekas kardus Indomie itu. Saat kuterima pada Minggu (15 Des'13) lalu, kerdus itu sudah lembek, basah, bau dan berminyak. Tiga di antara mangga-mangga itu sudah busuk. Sebelas lagi gembuk, selebihnya tidak begitu ok tapi juga tidak begitu gembuk.

"Nyenengke wong tua, Mbak. Jenenge wong tua pengin ngirim anake lho. Piye maneh, ya ben lah," bujuk Awiek.

Aku masih membayangkan biaya pengiriman sebesar 455 dolar alias 750 ribu. Betapa besar uang itu bagiku. Aku membayangkan ketika aku butuh setidaknya 2x5 hari ngepel lantai, 5x5 hari ngosek WC ditambah belanja, nyuci pakaian, masak plus diomeli majikan. Aku membayangkan betapa aku akan kehilangan kesempatan ikut kursus ini dan itu dengan uang itu. Aku membayangkan betapa...

"Lha timbang dipakek buat mbayar biaya pemaketan, 750 ewu lho bisa buat tambah transfer dhuwit emak," gerutuku lagi.
"Di sini mau makan mangga lho tinggal ke pasar beli yang 30 dolar udah dapet guedhe. Itu lho buat beli di sini udah dapet 15 buah lebih. Lagian siapa yang mau makan mangga sebanyak ini? Pengin mencret apa? UUgghhh...!" tambahku.

"Mbaak...nyenengke wong tua, Mbaaakkk!" kata Awiek lagi, nadanya sedikit meninggi tapi dengan ujung bibir tertarik ke atas.

Aku tak habis pikir, apa sih yang emak pikirkan saat mengirim paketan ini? Aku geram, aku ingin marah pula. Tapi sewaktu aku dial nomer telpon bapak (bapak yang merawatku), beliau tak menjawab panggilan telponku. Dan saat aku menelpon mbak Titik, kakakku, dia sedang sibuk.Olala!

Lalu kulimpahkan marahku pada Awiek. Kupasrahkan empat buah mangga padanya dengan harapan bisa mengurangi bebanku, ternyata paketan itu berat, seberat 13 kilogram, belum ketambahan paketan lainnya dan barang daganganku dan berkah hujan pada hari itu. Dan kembali harus kurayu-paksa Awiek untuk membantuku membawa pulang (ke rumah bos) barang-barang itu.

Lalu...

Hari Selasa (17 Des'13) aku baru berkesempatan menelpon bapak. Dan sewaktu kukatakan bahwa paketan itu telah sampai dan telah aku nikmati, beberapa cerita mengalir lancar tanpa aku mempunyai kesempatan untuk memenggal atau menyela.

Beliau bercerita bagaimana emak membeli kacang langsung dari petaninya kemudian dikupasnya lalu menungguinya saat kacang-kacang itu dijemur. Menggorengnya lalu membawanya ke pasar untuk diselep (dan harus satu jam menunggu giliran). Beliau menceritakan bagaimana beliau mengambil mangga. Mangga itu setelah dipetik langsung dimasukkan kardus. Dipilih yang bagus-bagus, besar-besar dan yang paling tua. Bapak yang biasanya mengunduh mangga dengan gotek mendadak harus memanjat pohon mangga yang penuh dengan semut krangkang. Lalu beliau juga menceritakan kehebohan saat mangga-mangga dan sambel pecel itu dikemas dalam kerdus.

Aku tersenyum, ternganga, terpana dan entah ter-ter apa lagi. Yang jelas cerita-cerita itu kurasakan lebih hebat dari pada kehilanganku atas 455 dolar atau 750 ribu. Cerita-cerita itu begitu penuh dengan cinta dan ketulusan dari orang-orang yang mencintaiku (dan kucintai). Cerita-cerita itu begitu penuh tenaga, penuh semangat dan membuatku hangat.

"Takkirimi akeh, ben awakmu isa melu ngrasakne, ben kancamu ya isa melu ngincipi," kata bapak.

O, jadi itu toh alasan bapak dan emak mengirim sedemikian banyak mangga dan sambel pecel. Katanya kalau yang 10 buah busuk, masih ada 13 buah yang baik yang bisa aku makan bersama kawan-kawanku (dan memang juga aku bagi-bagikan kepada kawan-kawanku).

Pribadi-pribadi yang sederhana itu entah berapa kali telah membuatku kalah. Betapa cara pikir mereka yang simple, melihat sesuatu dari sisi lain, membuat sesuatu yang kurasakan berat sebenarnya/menjadi tak terasa.

Dan sewaktu telpon itu kuakhiri, tak sedikitpun aku menyinggung besarnya biaya pemaketan yang harus kubayarkan. Bukankah semua sudah terbayarkan lunas dengan cerita-cerita itu? Sudah tak membebaniku lagi.

breakfast, lunch, dinner: sambel pecel plus dessert mangga selama seminggu!



***pesan moral: cinta itu mahal maaakkk...!


Dikira Memplagiat Cerpen Anak

Cerita lama...terulang lagi...
Kalau sebagian dari konten di blog ini dicopy dan dikirim ke media itu sudah sekian kali, sekian lama pula. Padahal bagiku apa yang aku tulis di blog ini cuma umuk, wadul atau rasan-rasan. Kalaupun ada sesuatu yang lain yang berupa opini atau fiksi sebagian pernah dimuat di buletinku (yang aku buat bersama kawan-kawan organisasiku). Atau fiksi (puisi/cerpen) yang kebetulan laku nangkring di majalah/koran di Hong Kong. Atau mungkin sebagian tulisan dalam bahasa Jawa yang kebanyakan pernah dimuat di majalah Jaya Baya dan Panjebar Semangat.

Ada satu cerita lucu yang ingin aku tulis di sini. Ketika aku mudik pada lebaran kemaren ada seseorang yang mengirim inbox di FB-ku. Inbox tanpa kata-kata itu hanya berupa dua gambar. Ini pun aku ketahui setelah aku kembali ke Hong Kong (enggak internetan selama cuti sebulan di rumah).

Awalnya enggak begitu mudeng dengan apa yang dimaksudkan beliau. Dua foto tentang cerpen anak dalam bahasa Indonesia dan cerpen anak dalam bahasa Jawa, apa maksudnya? Hari berikutnya baru aku sadari ada "sesuatu" dari maksud pengiriman dua foto tersebut. Bahwa secara halus beliau sedang mempertanyakan keaslian dari tulisan cerita anak berbahasa Jawaku. Untuk lebih jelasnya simak dua gambar berikut:

Pada gambar pertama adalah cerpen anak berbahasa Jawa yang berjudul "Coro Boyongan" karyaku yang dimuat di majalah Jaya Baya pada JUli 2013 sedang pada gambar kedua adalah cerpen anak berbahasa Indonesia yang berjudul "Setelah Kamar Bersih" (tertera) karya Umi Kulsum yang dimuat di Kedaulatan Rakyat pada April 2013.

Coba sekarang cermati dua cerpen tersebut. Apa yang Anda temukan?
Ya! Cerpen anak itu sama persis! Hanya bahasa dan nama tokohnya saja yang berbeda.

Ok, sampai di sini mungkin Anda akan beranggapan sama dengan seseorang yang mengirim inbox di FB-ku kemaren dulu, iya khan? Beranggapan bahwa aku meniru cerpen di koran itu kemudian cuma mengalihbahasakannya saja, khan? Ya wajar saja. Itu karena bulan terbitnya beda. Cernak "Setelah Kamar Bersih" terbit tiga bulan lebih awal dari pada cernak "Coro Boyongan".

Lalu coba bandingkan dengan cernak saya dengan judul "Kecoak Pindah Rumah" yang ada di http://babungeblog.blogspot.hk/2012/12/cerita-anak-kecoak-pindah-rumah.html.

Bagaimana?

Sama persis ya?

Coba perhatikan tanggal posting cernak "Kecoak Pindah Rumah"

taraaaaaaaaaaa....!

14 Desember 2012 !


Masihkah Anda beranggapan sama? Hehehe...

Cerpen Kecoak Pindah Rumah pernah aku ikutkan lomba menulis cerpen ala Bobo tapi di-diskualifikasi karena dinilai temanya sudah umum. Aku pikir sih dari pada mubazir khan mending dipajang di blog gitu. Dan baru setahun kemudian kepikiran mengalihbahasakannya dalam bahasa Jawa lalu mengirimkannya ke majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, yang ndelalah kok ya laku dan dimuat. Lha mana aku tahu kalau ternyata cernak yang sudah di-reject itu bisa didaurulang kemudian dilempar ke koran dan kemuat? Lha wong lihat koran Kedaulatan Rakyat aja belum pernah je, gemana mau niru coba?!

Belum rejeki kali ya? Hehehe...
Eh rejeki nomplok juga sih karena udah dirasanin (jelek) dan disangka "anu" sama redaktur majalah dan seorang bapak yang menginbox aku. Udah gitu mau membela diri juga siapaaa yang bakal percaya, secara profesiku aja enggak meyakinkan, haha....!


**pesan moral yang aku dapat: Kembali ke tujuan ngeblog: wadul, rasan-rasan & umuk. Jangan posting fiksi :D


Malpraktek Salon

Foto di toilet setelah rambut dibabat.
Kejadiannya pada Minggu, 17 November 2013. Hal berbau wanita yang aku benci adalah masuk salon. Selain karena bau obat-obatan rambut yang menyengak, aku selalu dinomorsekiankan lantaran aku cuma mau potong rambut. Lhah mau apa coba? Aku bukan golongan wanita yang sabar duduk berjam-jam menunggu hairdresser menggarap rambut.

"Mau lurusin ya, Mbak?" tanya mbak yang lagi promosi di depan salon ketika aku menekuni price list di depan salon.

"Potong," jawabku pendek tanpa menoleh.

"Murah kok, Mbak. Potong cuma 78 dolar," katanya dengan sedikit mendorongku masuk ke salon itu.

Satu menit setelah itu sang pemilik salon menghampiri sambil membawa jubah, dikenakannya padaku dengan sedikit rayuan.

"Lei yiu tim a, Leng loi (kamu mau apa, cah ayu)?" tanyanya.

"Cin daufat. Canhai cin ka (potong rambut. Cuma potong saja)," jawabku menegaskan.

"Kok yau hou tik kepo. Lei ko daufat tapik kon a, Leng mui (disteam minyak lebih bagus lho. Rambutmu agak kering, cah ayu)," jurus bulus dimulai.

"Enggak ada waktu, enggak cukup uang.Cuma potong rambut boleh nggak?" tanyaku yang lebih tepatnya menegaskan kepentinganku.

"Taaak. Boleh! Sini, duduk sini dulu ya," katanya sambil menggiringku ke pojok salon.

"Hamai 78 man a (78 dolar khan?)" tanyaku.

"Haiya, haiyah. Mo jo (Iya, iya. Gak salah)," jawabnya meyakinkan.

Sepuluh menit aku berada dipojok sambil mendengarkan lagu-lagunya Jangan Asem & Rotra yang lucu menggelitik. Biasanya aku orang yang sabar. Tapi kebiasaan itu tidak berlaku di salon. Aku berdiri lalu mengamit lengan wanita yang adalah supervisor salon itu.

"Cece, kapan giliran saya? Masih lama? Kalau lama saya pindah salon depan aja deh, mumpung belum diapa-apain," kataku.

"Ok, ok, ok. Ini giliranmu kok, yuk naik," katanya menunjukkan jalan ke lantai satu. Kemudian aku disuruh duduk di tempat nyuci rambut (apa tuh namanya?). Dan duduklah aku di sana.

....lima menit, enam menit, delapan menit, sepuluh menit...

"Tak me aaaa (udah belum sih)?" tanyaku lagi pada supervisor yang kebetulan nyliwer di depanku.

"Tak tak tak... (ok, ok, ok)," jawabnya. Dia sendiri yang kemudian mencuci rambutku.

Setelah itu aku kembali digiring ke tempat eksekusi potong rambut.

 Wanita-wanita duduk berderet-deret. Di tangan mereka tampak sebuah HP touchscreen dengan merk ternama (entah asli, entah KW). Wanita-wanita yang desperate untuk tampil lebih cantik itu duduk di samping kanan-kiriku, tak sedetik pun menoleh padaku.Wanita-wanita yang aku tahu adalah seprofesi dengan aku, babu kualitas ekspor.

...rebonding, colouring, perming, highligting...

Bau obaat-obatan campur aduk.

"Klik, ceklik, klik, ceklik, klik," suara gunting dan suara kamera beradu.

Asap mengepul dari rambut yang disetrika.

Uap mengepul dari steamer yang sedang mengkondisi rambut (yang katanya) supaya lebih sehat.

"Hihihihi..hehehe...wkwkwkwk," tawa kecil dari mbak-mbak yang melototin HP.

...lima menit, enam menit, sepuluh menit...

"Koko, pingko pong ngo cin daufat a (mas, siapa yang akan memotong rambutku)?" tanyaku pada haidresser sebelah.

"Sabar ya, itu Koko sebentar lagi selesai kok. Hari ini ramai banget sih," katanya.

Ya iyalah. Minggu gitu loh! Semua TKW di Hong Kong rata-rata libur hari Minggu. Dan salon ini berada di jantung Kampung Jawa-nya Hong Kong di ruas jalan Sugar street, Causeway Bay. Coba kalau hari biasa.

....sepuluh menit kemudian....

Cute ya,xixixi...
Seorang hairdresser mendekatiku lalu mengajakku pindah kursi.

Damn it!

"Siong yiu tim a (Ingin gimana)?" tanyanya ramah.

"Cin daufat. Potong rambut. Cuma potong saja, enggak pakek lain-lain. Potong pendek seperti ini," kataku sambil menunjukkan gambar yang aku buat di HP dengan bantuan aplikasi momentcam.

"Tak em tak a (bisa nggak ya)?" tanyaku.

"Bisaaa. Yang penting khan ada rambut," jawabnya sambil ketawa. Aku tertawa.

lho kok jadi gini???
mbak-mbak sebelahku

...klik, klik, klik..kress...

Mbak disebelahku mempunyai rambut panjang yang subur. Dia sedang diwarnai rambutnya, maroon.

Pemilik salon naik lantai satu, mungkin lagi menilik. Hairdresser mbak sebelahku berbisik pada pemilik salon.

"Yatko emkau a (satu saja enggak cukup)," katanya.

"Kaulah. Siong yiu keito cek (Cukuplah, mau segimana sih)!" jawab pemilik salon kemudian keduanya berbisik-bisik lebih lembut lagi, aku hampir tak kedengaran tapi aku tahu inti permasalahan mereka. Bahwa obat rambut yang digunakan untuk mewarnai rambut mbak sebelahku sepertinya kurang tapi pemilik salon bilang cukup atau disuruh nyukup-nyukupin. Bah!

Payahnya dua orang mbak di sebelahku ini enggak bisa berbahasa Kantonis. Yang mbak lagi mewarnai rambut maroon itu komunikasi dengan majikan dalam bahasa Inggris sedang mbak sebelahnya lagi, yang mau nglurusin rambut dan mewarnai itu berkomunikasi dengan majikannya dengan bahasa Mandarin. Olala! Ini aku ketahui dari si mbaknya sendiri yang sedikit ngobrol denganku setelah aku sedikit eyel-eyelan dengan hairdresser.

Setelah pemilik salon turun hairdresser sebelah memasukkan rambut mbak ke dalam mangkok isi obat pewarna, padahal mangkok itu sudah kosong. Aku menyeletuk, "Ih kayaknya kurang deh obatnya."

"Enggaklah. Ini namanya pas. Cuma jangan memboroskan aja, jadi rambutnya aku masukin sini biar semua obat kepakek," jawabnya enteng.

"Tanhai dausin tu o dengto lei dong lei lopan kongye kepo (tapi tadi aku dengar kamu sama bosmu ngomong lho)," kataku.

Spontan wajahnya memerah.

Hairdresser yang lagi memotong rambutku menimpali, "Kalau menurutmu enggak cukup ya protesnya sama bos lo, sama pemilik salon. Lha kamu tadi denger sendiri dia bilang cukup khan?" katanya.

"Waah...kita ngasih segitu banyak uang lho, itu khan persetujuan awal, sesuai price list," kataku.

"Lhah protes sama pemilik salon aja lo," kata hairdresserku.

Lucu. Aneh. Menggeramkan. 

Apakah aku nosy? Mungkin.

Lalu ini kasus mbak sebelahnya (yang mau nglurusin dan mewarnai rambut). Lhah di sini aku dimintai jadi penerjemah (karena mbaknya gak bisa ngomong pakek bahasa Kantonis). Rambut si mbak ini banyak dan dulunya dikriting dan diwarnai coklat. Sekarang dian mau ganti mode, mau direbonding plus diwarnai warna lain. Oleh supervisor, si mbak ini disarankan untuk memberi hair lotion plus merapikan rambut (ya dipotong dikitlah) plus diwarnainya pakek warna yang sama. Jadi total pembayaran 699 dolar, ya karena plus di-hair treatment & lotion dan plus potong (padahal di price list-nya cuma 299 dolar untuk mewarnai dan meluruskan dan sebenernya si mbak itu ya cuma mau nglurusin sama mewarnai doang). Sebagai penerjemah, aku menjelaskan kepada mbaknya. Mbaknya mudeng tapi ngedumel dengan harga akhir yang lebih dari dua kali lipat, terlebih tentang warna rambut yang enggak boleh ganti warna lain.

Walhasil menggerutulah dia dengan pemilik salon. Eh saat si mbak menggerutu, mbak yang sebelahnya lagi nyeletuk, "Aku iya a. Tadi di bawah katanya 299 tapi trus katanya tambah ini itu, jadinya ya 699 dolar."

Whaaaatttt???? Buseeetttt! Malpraktek salon nih!

Kasus-kasus di atas sering kali terjadi. Yang menjadi pemicunya adalah misscommunication dan kurang tegasnya kostumer salon. Kendala bahasa ini bisa menyebabkansi mbak tidak mengerti akan apa yang dimaksud dengan hairdresser. Sewaktu hairdresser bilang ini itu maka si mbak mengangguk saja (padahal gak mudeng sepenuhnya). Ya hairdresser sih enak aja karena dengan semakin banyaknya hair treatment semakin banyak pembayaran. Dan sebagai hairdresser yang dinilai mempunyai kemampuan dan pengetahuan tentang rambut, apa yang disarankan olehnya terdengar rasional. Padahal itu adalah cara mereka menambah income. Itu namanya "glembuk Solo".

Pun ketidaktegasan si mbak dalam mengatakan keinginannya sesuai harga price list sering menyebabkan pembengkakan pembayaran. Khan tidak lucu kalau pada akhirnya harus nelpon teman untuk utang duit karena uang di dompet tidak cukup untuk membayar bill.

Di Hong Kong ya seperti itu. TKW adalah sasaran empuk untuk dibujuk. 

Enggak mau kena malpraktek salon di Hong Kong? Ya harus tegas sejak awal masuk salon. 

Di Indonesia kayak gini juga gak ya?


**percakapan antara aku dan pemilik saloa, supervisor salon dan hairdresser dalam bahasa Kantonis.