Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Tak Netral, Ada Apa dengan SBY?

Pada awalnya saya merasa salut untuk yang pertama kalinya kepada SBY. Pasalnya SBY bersikap netral terhadap pasangan capres-cawapres. Dia tidak memihak. Tidakpun ada indikasi dia untuk memihak, kendati itu bukan mustahil. Apalah yang tak mungkin di dunia politik? Lha udang busuk saja bisa dibuat menjadi trasi kok.

Hingga ada kabar ini, bahwa SBY menyatakan dukungannya terhadap pasangan capres-cawapres nomer urut satu. Lalu DPP Partai Demokrat (yang kendali penuhnya dipegang oleh SBY) memutuskan dan menginstruksikan seluruh pengurus DPP, DPD, DPC, kader-kader Demokrat, seluruh simpatisan, serta sayap organisasi Partai Demokrat, untuk mendukung Prabowo-Hatta. What the hell is going on here, Mister Presiden?

Selagi sedang berhalangan berpuasa, biarlah saya keluarkan uneg-uneg kepala saya.

Century dan Hambalang adalah dua kasus never ending yang mungkin akan menjadi bumerang bagi SBY dan keluarga bila Jokowi menang. Pasalnya capres nomer urut dua ini berkomitmen untuk memperkuat KPK dan memberantas korupsi. Kasus Akil Mochtar, yang divonis penjara seumur hidup, bukankah sebuah tanda menguatnya KPK? Lha kalau diperkuat lagi bagaimana?

Sedang capres nomer urut satu dengan Hatta Rajasa sebagai cawapresnya mungkin bisa dijadikan sebagai tameng. Toh, terbukti hukum itu tumpul ke atas pada anak Hatta Rajasa. Sedang persepsi dan indikasi tentang keterlibatan Prabowo dalam isu HAM saja tak ada gaungnya. Hanya gema saja, gema dari opini publik yang digiring ke situ, tak ada itikad pengusutan. 1998-2014 bukan waktu yang singkat kalau benar-benar mau mengusut, nyatanya tidak.

So, welcome to the safe landing, Mister Presiden.
 
Kalau ada kubu yang menyatakan kuatnya JOkowi effect ditentang dengan pernyataan Jokowi effect itu hanya pepesan kosong, mungkin inilah salah satu pembuktiannya. Dukungan Demokrat ke capres pertama menambah barisan elite di kubu garuda merah. Sedang di seberang sana, di kubu Revolusi mental, berkumpul barisan enggak elite-elite amat, orang kampung, seniman jalanan, anak-anak muda dan sebagainya. 

Ini menarik sekali. Berubahnya pikiran SBY tentu didasari pada banyak fakta, survey salah satunya. Kalau dalam survey yang dipercaya oleh SBY tersebut menyatakan kemungkinan kemenangan capres nomer urut satu ya amanlah. Soalnya kalau capres nomer dua kalah toh sudah biasa, ya kan? Tahun 2004 dulu contohnya. Toh aman-aman saja khan? Megawati gagal nyapres toh tidak ada huru-hara kan?

Pertanyaan saya sekarang: "How are you, Mister Ruhut Sitompul?"


Saat Mister Ruhut Mendua

foto dari sini
Adalah seorang "dagelan politik" yang banyak dibenci publik sekaligus ditunggu-tunggu kehadirannya yang tak lain adalah Ruhut Sitompul yang membuat saya korupsi waktu istirahat saya untuk mengutik-utik blog dan menuliskan ini. 

Lelaki yang tidak akan pernah dimasukkan dalam kategori "lelaki STw macho" (STW=Setengah TuWa) ini emang kontroversial sekali. Lalu maaf, kenapa saya menyebut beliau dengan sebutan "dagelan politik"? Karena lelaki kelahiran Medan ini setiap muncul pasti mengeluarkan statemen atau opini yang nyleneh, ya kalau enggak nyleneh ya nyaris gila lah. Sebenarnya enggak beda jauh dengan pemilik blog ini sih (lho?), cuma mungkin kadar kepekatannya (gilanya) beda. OMG!

Dan adalah sebuah berita di sini dan di beberapa media online lainnya yang memberitakan bahwa tokoh media darling abu-abu yang satu ini memberikan dukungannya kepada pasangan capres nomor urut 2, Jokowi-Kalla. What???

Jadi orang yang selama ini memusuhi Jokowi mati-matian ini mendukung Jokowi?

Iya.

so what gitu loh?

Wah, kalau begini saya harus mengakui bahwa Ruhut adalah politikus yang kompeten. Pertama, beliau konsisten berperan sebagai "dagelan politik". Kedua, beliau bisa menerawang calon bos baru yang (menurutnya) baik dan prospektif. Sekaligus ketiga, beliau masih bisa loyal terhadap calon ex bosnya.

Tidak mudah untuk konsisten. Contohnya ya seperti saya sendiri. Kawan-kawan karib saya menunggu postingan saya di babungeblog atau share opini dan cerita lucu saya di FB, namun saya tak sanggup. Malah blog hiatus dan FB non aktif. Bahkan untuk sekedar meluangkan waktu satu jam untuk BW saja sedemikian berat, apalagi untuk posting. Padahal dulu getol banget mengkritisi sesuatu. Dan kalau lelaki yang pada 24 Maret lalu genap berumur nem jinah alias 60 tahun ini sanggup untuk konsisten menjadi -ya itu tadi seperti yang saya sebutkan tadi- itu adalah sebuah prestasi yang seharusnya diapresiasi. Jadi, mari bertepuk tangan sejenak untuk Mister Ruhut.

"Plok! plok! plok..!" (applause)

Oke, setelah tepuk tangan tadi selesai mari menilik SBY. Presiden dua putaran yang adalah (calon ex) bos dari Ruhut tak lama lagi akan lengser dan akan digantikan oleh entah pasangan Prabowo-Hatta atau JKW-Kalla. Ya pokoknya kalau enggak satu ya dua, gitu. Dan Ruhut yang mempunyai ilmu kebatinan yang dalam ini yakin bahwa "mister blusukan" akan menang. Sehingga (calon ex bos) SBY yang akan turun tahta ini sudah ada gambaran replacement-nya untuk kesinambungan apapun namanya itu. Dan bukankah with new employer we have to adjust ourself so that we can keep our job? (lihat sini) Jadi enggak usah ada istilah malu kalau dari anti pati menjadi cinta mati. Toh enggak cuma Ruhut yang berbuat demikian, iya to? Dulu partai-partai yang pada pileg Maret-April lalu saling berlomba memenangkan suara, toh akhirnya juga harus berbaik-baik kemudian berkoalisi. Saya baru sadar bahwa politik itu seperti kolor. Tarik ulur, memanjang lalu mengkerut kembali. Ya semoga saja tidak mengendur karena lupa akan apa sebenarnya tugas menjadi kolor itu.

Betapa pandainya Ruhut karena bisa mencari bos baru tanpa memecat bos lama, dia masih bisa loyal terhadap SBY. Keberpihakannya pada JKW-Kalla yang "katanya" dikarenakan kecewa pada Prabowo yang pada debat capres kedua lalu menyebut bocor sepuluh kali dan juga karena tagline "Indonesia Hebat" yang diusung capres-cawapres nomer urut dua itu seolah sebagai bukti kesetiaannya pada SBY. Saat 95% petinggi-petinggi partai berlambang mercedes  memberikan hatinya pada Prabowo, dia memberikan spermanya pada JKW. Ya meski spermanya nanti mandul, tidak berpengaruh apapun, toh tak ada yang dirugikan. Ruhut tetap Ruhut dengan gaya bicaranya yang seperti itu. Kalaupun dia kelepasan omong atau asal njeplak, itu tak akan mempengaruhi JKW-JK ataupun PDI-P. Ya, semua orang tahu kalau Ruhut itu ya..ya wis kaya ngono kuwi lah.

Indonesia saat ini sedang gonjang-ganjing karena semangat dukung-mendukung yang sumuk. Sumuk, gerah karena orang-orang mendadak menjadi irrasional dalam memberikan dukungan kepada jagonya masing-masing. Ruhut bukan pengecualian. Pastilah dia ikutan sumuk demi untuk menunjukkan bahwa dia mendukung salam dua jari.

Tapi ada yang mendadak membuat saya ngakak. Ruhut itu kok seperti Datuk Maringgih dalam Novel Siti Nurbaya ya? Tokoh antagonis yang di akhir cerita dihormati karena ikut berjuang demi tanah air. Lalu akankah Anis Baswedan berpelukan dengan Ruhut? Hehehe...

So Mister Ruhut, selamat mendua!
 

-----------------------------------------








Disclaimer: saya belum menjatuhkan pilihan saya pada capres-cawapres manapun, bukan pula berniat untuk golput. Tulisan ini saya buat tanpa niatan untuk menjatuhkan pasangan tertentu tetapi lebih untuk pembelajaran diri saya sendiri untuk mengenal lebih (dalam) tentang capres-cawapres tersebut. Mungkin saat ini saya menyentil Ruhut, bisa jadi besok giliran Jokowi lalu lusa giliran Prabowo. Semua capres tak ada yang sempurna, pun saya tidak sedang mencari yang sempurna tapi lebih melihat kecondongan atau keberpihakan capres-cawapres terhadap saya, kami, yang adalah WNI dari komunitas babu ekspor. Postingan-postingan ini dan selanjutnya (yang berhubungan dengan pilpres) sekaligus untuk memberi kritik, pertanyaan dan harapan pada capres-cawapres (nek diwaca lho).




Membangun Republik Indonesia Bagian Hong Kong

foto berita di koran, fotonya Muntamah
Merah Putih bisa berkibar di mana saja, tak terkecuali di Hong Kong. Negara bekas jajahan Inggris ini tercatat memiliki 172.000 pekerja asal Indonesia yang bekerja di sektor dapur. Ya kalau bukan TKW, ya setidaknya KJRI-Hong Kong-lah yang mengibarkan Merah Putih di sana.

Terlebih menjelang hari panas begini, maka semakin banyak bendera berkibar. Ya hari panas bagi parpol yang mendadak peduli dengan Erwiana, Sutinah, dan Iyem-iyem yang lain (termasuk saya).

 Ya parpol itu sekarang lagi fasih-fasihnya menyanyikan lagu "Hero" daripada lagu "Kulihat Ibu Pertiwi" :I can be your hero, baby.
I can kiss away the pain.

I will stand by you forever.

You can take my breath away.

Mereka mendadak menjadi proffesional singer setara Enrique Iglesias, menyanyikan politik umuk dan menjanjikan multiple orgasme. bah!

Iyalah, sejak awal September tahun lalu, di pojok-pojok Victori telah dimasuki bendera lain. Ada hijau dengan bintang-bintang yang mengelilingi peta Indonesia, ada juga burung Garuda yang sedang tertawa. Banner dijembreng di tempat mencolok, kaos disebar secara gratis. Bila perlu, jas juga gratis. Khan mentereng, ada TKW pakai jas parpol. Walau gak mudeng-mudeng amat dengan politik setidaknya dianggap ngertilah.
foto koran, fotonya Muntamah
Rekreasi ke tempat wisata secara gratis juga pernah diadakan. Buntutnya, rekreasi tersebut disponsori oleh sebuah parpol. Yang lebih heboh lagi, Rhoma Irama juga berhasil diseret ke Hong Kong untuk menarik ribuan TKW. Dan setelah ribuan TKW berkumpul, si parpol ini sesumbar bahwa ribuan TKW Hong Kong tersebut menghadiri pembukaan cabang partainya. Yaelah mas parpolll... mereka itu bukannya mau menghadiri acara pembukaan dan bla-blanya parpolmu, tapi mau lihat si Rhoma nyanyi. Kok ada parpol GR banget ya? Heran deh!

Ingar-bingar politik di Indonesia, pemilu, perebutan kursi hingga onani, maaf, orasi di pinggir jalan sampai blusukan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dan yang kini terpaksa dijalankan untuk mencari simpati TKW-HK adalah pengulangan sejarah perpolitikan Indonesia. Lima tahun yang lalu juga gitu. Kasus TKW yang mencuat saat hampir pemilu menjadi heboh. Para poliTIKUS mendadak mebar keprihatinan yang mendalam. Lhah sebelum ini ke elo di mana, Bung? 

Suatu pengulangan kebodohan politik yang entah dikarenakan kurang sadarnya masyarakat (enggak hanya TKW lho)  atau karena kepandaian penguasa yang mampu memutarbaliktengkurapterlentangkan situasi demi keuntungan pribadi.

Hari ini, 30 Maret 2014 akan diadakan Pileg di Hong Kong. Pileg yang dipercepat dari pileg di Indonesia (dan dapil luar negeri) dengan alasan cuaca di Hong Kong yang memburuk terkait prakiraan badai taifun ini adalah pileg pertama yang diadakan di tempat terbuka yaitu di lapangan Victoria Park pada hari Minggu.

Mungkin ini diadakan selain untuk menarik banyak pencoblos juga untuk menjajal kepiawaian KJRI dengan konjen anyarnya. Hal ini saya salut atas kinerja KJR-HK yang membaik.

Telah banyak fakta yang melenceng jauh dari janji para (katanya) pahlawan praja. Entah karena mereka telah dengan suksesnya mengubah kita menjadi gedibal yang bodoh ataupun mereka yang membodohkan diri sendiri. Keduanya adalah sangat mungkin. Maka kalau kawan (kawan-kawan di Hong Kong) mau memilih, mari memilih yang salah. Ini bukan apatis terhadap masa depan bangsa, tapi kalau tak satupun dari caleg memenuhi kriteriamu, pastikan untuk menghanguskan hak pilihmu untuk mengurangi pencurangan. Apa sih yang gak mungkin di perpolitikan Indonesia? Bisa jadi angka 172 ribu TKW di-mark up untuk nyoblos anu atau itu.


*semoga entar malem bisa diperpanjang umuk saya ini. Bos sudah bangun...


Kartika Puspitasari, Hong Kong Kecolongan, & Indonesia yang Gagal

Foto dari sini
Kartika Puspitasari, wanita yang berasal dari Cilacap ini mempunyai mimpi yang sama dengan rekan-rekan sekampungnya, kehidupan yang lebih layak. Untuk meraih mimpi tersebut wanita 30 tahun inipun rela meninggalkan keluarganya. Singapura menjadi negara pertama yang dijajalnya selama tujuh tahun. Namun setelah tamat dari Singapura dan bermaksud mengupgrade universitas kehidupannya di Hong Kong, ternyata neraka yang didapatinya.

Terhitung sejak 12 Juli 2010 Kartika resmi menjadi TKW Hong Kong dan bekerja pada keluarga Tai Ci Wa (majikan laki-laki, sales peralatan listrik, 42 th) dan Chaterine Au Yuk San (majikan perempuan, cleaning service Rumah sakit, 41 th).

Tiga bulan pertama dia mendapat perlakuan baik namun tidak setelah itu. Siksaan demi siksaan diterimanya. Tamparan di wajah dengan tangan atau hak sepatu kerap diterimanya juga sabetan rantai sepeda di punggungnya. Kartika yang hanya diberi makan sekali dalam tiga hari dengan makanan yang tidak layak ini juga mengaku pernah disetrika pada wajah dan pundaknya. Tinju di rahangnya juga menyebabkan beberapa giginya rontok. Tak hanya itu siksaan lain seperti dibenturkan kepalanya pada westafel, disayat tangannya dengan cutter juga diterimanya.

Lalu kenapa seorang yang pernah bekerja ke luar negeri selama tujuh tahun tidak juga sanggup memberontak?

Tekanan

Pada sebuah buku berjudul Mathilda karangan Roald Dahl, mengisahkan seorang kepala sekolah yang akan menghukum murid jika seorang murid melakukan kesalahan. Hukuman yang diberikan kepada murid itu seolah-olah tidak mungkin dilakukan oleh kepala sekolah karena dinilai mustahil. Hukuman yang teramat berat seperti membenturkan kepala anak SD ke tembok atau melemparkan anak SD tersebut dari jendela. Ya, seseorang tak akan langsung mempercayai bila seorang anak bercerita tentang sebegitu bengisnya kepala sekolahnya di sekolahan. Ditambah wajah angker kepala sekolah dan ancaman untuk tidak menceritakan kepada siapapun, hal ini menjadikan anak jadi takut bercerita, padahal kisah penyiksaan itu benar-benar ada.

Tai & Au, foto milik Mega Vristian
Seperti halnya dalam kasus Kartika. Saat majikan melarangnya untuk berbicara dengan orang lain dan tak segan-segan akan menghajarnya (dan benar-benar menghajarnya) kalau ketahuan berbicara sepatah katapun dengan orang lain atau saat majikan mengancam akan merontokkan giginya (dan sudah beberapa gigi rontok), maka ketakutan demi ketakutan akan tumpuk menumpuk. Dan tak sedikit orang akan meragukan kebenaran dari cerita tentang penyiksaannya. Belum lagi bayangan keluarga yang kelaparan karena menunggu kiriman uang. Sudah takut dengan ancaman dan tekanan dari majikan ketambahan pula dengan takut emak tidak bisa makan. Walhasil manut dengan majikan adalah jalan satu-satunya dengan harapan majikan akan memberikan hak atas gajinya.

Terlebih dengan ketiadaan passpor. Passpor yang menjadi identitas sekaligus nyawa dari Kartika selama di luar negeri disita dan disembunyikan majikan juga menyebabkan Kartika takut untuk memberontak.


Tak Berbekal

Ketakutan untuk memberontak ini juga kemungkinan disebabkan oleh minimnya bekal yang diperolehnya ketika masih berada di Indonesia. Lalu siapakah yang bertanggung jawab untuk membekali calon TKW? Ya seharusnya pemerintah dong!

Ketika seseorang memutuskan untuk bekerja di luar negeri sepertinya segala apa yang akan terjadi adalah tanggung jawabnya sendiri. Kurangnya kepedulian pemerintah dalam hal pengeksporan tenaga kerja ini tak urung berdampak pada kurangnya daya tawar/nilai TKW asal Indonesia.

Kata SBY, TKW dibekali dengan HP saat berangkat agar bisa melaporkan derita yang dialaminya. Ok, HP itu dibutuhkan. Untuk sms dengan emak atau suami atau telpon anak. lalu untuk melaporkan atas derita yang dialami TKW? Kendati HP sudah masuk dalam nota kesepahaman namun bagaimana bila saat masuk rumah majikan si TKW ini dilarang memakai HPnya? Nah presiden kita memang bukan pelawak tapi guyonan SBY yang telah lalu itu kalau dijabarkan bisa jadi tujuh hari tujuh malam bahkan tujuh tahun sekalipun masih bisa menimbulkan gelak tawa, ejekan.

Lalu bagaimana dengan pembekalan selama TKW berada di PJTKI (atau apalah sekarang namanya)? Pelatihan yang ada hanya setakat pelatihan memasak dan bahasa. Hal yang diajarkan hanyalah mengenai kewajiban seorang pembantu. Lalu pengetahuan mengenai haknya? Bagaimana? Oh, itu mah gak perlu diajarkan. Lhah kalau diajarkan bisa-bisa pembantu jadi pinter dong, gimana kalau semua pembantu ngeblog dan protes kepada pemerintah, hayo! Lagian khan pembantu pinter enggak cepat laku. Nah, inilah yang saya maksud dengan tidak mempunyai daya tawar/nilai. Pengetahuan tentang budaya lokal tidak ada, padahal ini penting sekali agar pembantu yang baru datang ke negara penempatannya tidak mengalami kejut budaya. Pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan TKW ketika mendapati masalah di tempat kerja juga tidak diajarkan. Lhah cuma dikasih HP tadi lho!

Budaya Manut, Budaya Diam

Foto dari sini
Wajah-wajah TKW ditempel di pintu agensi di Hong Kong. Dijajakan seperti gorengan. Poster-poster juga disebar, ditawar-tawarkan seperti sabun colek.
"Get Indonesian Maid to do your daily needs! Cantonis speaking fluently, obidient, deligent, honest, cheap!"
atau seperti ini:
"Yannei kungyan a. Yau bheng leng cheng!" (Pembantu dari Indonesia. Murah, bagus dan memuaskan!)

Pembantu Indonesia itu dikenal manut, rajin, nurut dan murah. Manut kalau disuruh apapun hingga cuci mobil lima biji dan beres-beres rumah tiga tingkat juga manut saja. Disuruh memakai baju transparant dan pempers seperti Kartika juga manut saja. Nurut dan tidak pernah complaint, walau pinggang seperti mau putus dan mata berkunang-kunang setelah mengelap jendela yang tingginya dari lantai ke atap juga diam saja. Murah karena enggak usah nambah uang lembur, kerja 16 hingga 20 jam pun gajinya tetap sama.

Terlebih dengan masyarakat kita atau pola pikir kita yang sudah terdoktrin bahwa menjadi pembantu itu harus manut. Sebagai kelompok minoritas di negara penempatan yang disubordinasikan dan mempunyai pola pikir patuh dan manut ini pengkastaan/pengkelasan terhadap TKW tentu ada. Seperti majikan Kartika, mereka (Tai Ci wa & Au yuk Shan) yang merasa pada kasta lebih tinggi akan berpotensi untuk menyetir hidup pembantu yang berada pada kasta lebih rendah. Dan Kartika yang merasa berada pada kasta lebih rendah tertundukkan. Dia manut dan patuh. Apalagi dengan kondisi tangan dan kakinya terikat. Ya, Kartika akan didudukkan di kursi dan diikat tangan dan kakinya ketika majikan tak membutuhkannya dan akan dibuka talinya hanya saat majikan membutuhkannya.

Selain budaya manut, budaya diam juga melekat pada masyarakat (apalagi pada mereka yang merasa berada pada kasta rendah). Eh jangankan mereka yang merasa pada kasta rendah, lha banyak mahasiswa juga lebih memilih bungkam, enggan bertanya pada dosennya atau enggan mengeluarkan pendapat (aku yakin tiap orang mempunyai pemikiran yang berbeda atau setidaknya sedikit berbeda). Akhirnya diam itu ya bungkam, diam itu ya pembodohan pada diri sendiri. Seperti Kartika yang setelah dua tahun baru bisa minggat dan mengadu ke KJRI-Hong Kong.

Doktrin: Jadi TKW itu Gampang dan Banyak Duit

Ketika aku pulang cuti bulan lalu, tetangga-tetangga pada ribut tentang seberapa banyak uang yang aku dapat. Menurut mereka jadi TKW itu sudah gampang, enak, banyak duit lagi! Ibaratnya dihitung pakai kalkulator saja sampai enggak cukup digitnya. (Duit moyang lo!)

Doktrin seperti ini (heran deh banyak banget doktrinnya) membuat aku gerah juga. Apakah sulit membayangkan dua tahun pertamaku di Hong Kong? Saat itu ibaratnya saat aku babat tanah leluhur sebelum mendapatkan kepercayaan dari bos. Atau tahukah mereka bagaimana perasaanku saat majikan memaki-maki aku dengan alasan yang tidak kumengerti? Atau bagaimana aku harus berjumpalitan mengatur waktu belanja, bersih-bersih rumah, memasak, momong anak, jualan online dan nyolong waktu buat ngeblog? Hong Kong itu keras, hanya mereka yang bekerja keras dan bisa memanage waktu saja yang bisa bertahan. Tak pernahkah mereka berpikiran tentang itu?

Tapi kemungkinan juga doktrin bahwa jadi TKW itu gampang dan banyak duit itu juga yang tertanam di otak kami ketika kami memutuskan untuk mengadu nasib di luar negeri. Juga seperti Kartika, yang tak cukup dengan tujuh tahun di Singapura itu. Atau seperti saya, yang tak cukup dengan 8 tahun di Hong Kong ini.

Perlindungan Separuh Hati

Pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh PJTKI sudah bukan rahasia lagi. Kendati demikian, belum ada itikad baik dari pemerintah untuk menata dan memperbaiki sistemnya sekaligus memperketat peraturan dan pengawalan terhadap PJTKI. Alih-alih melakukan itu, pemerintah malah memaksa TKW/TKI untuk membuat kartu KTKLN yang katanya sebagai alat untuk mempermudah dokumentasi. Bahkan pemerintah juga mengancam TKW/TKI untuk tidak bisa kembali ke negara tujuan bekerja tanpa mempunyai kartu KTKLN tersebut (padahal pembuatan kartu itu membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit).

Tindakan pemerintah semacam ini (memaksa & mengancam) tak beda halnya dengan majikan Kartika. Kalau Kartika berhasil melarikan diri dari majikannya kemudian melapor ke KJRI, memeriksakan diri ke dokter sekaligus melaporkan ihwal penyiksaan terhadap dirinya ke polisi. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan tiga sidang yang digelar di lantai 7/F District Court, Wanchai Law Court, Wanchai tower, maka kepada siapa TKI/TKW akan melarikan diri ketika negara tak becus melindungi?

Dengan hasil dari sidang ketiga, Au dianugrahi 5 tahun 6 bulan penjara sedang Tai mendapatkan ganjaran 3 tahun  tiga bulan penjara, Kartika mungkin sudah mengikhlaskan putusan hakim tersebut. Namun selama 2 tahun tiga bulan, Kartika tak sekalipun mendapatkan haknya. Gajinya tak terbayarkan, liburnya tak terbayarkan, cutinya tak terbayarkan. Lalu bagaimana kelanjutannya? Siapa yang akan bertanggung jawab?

Tuntutan Kartika sebesar HK$117,272 (sekitar 175 juta rupiah) tak juga disinggung pada sidang akhir. Padahal uang itu sekiranya dapat menutup hak Kartika (sakit, siksa, trauma-tidak masuk hitungan). Kalaupun pemerintah atau KJRI Hong Kong (yang menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah Indonesia) bisa membantu kasus Kartika hingga tuntas, itu akan menjadi prestasi yang sudah sewajarnya (ya wajarlah kalau negara melindungi warganya). Tetapi kalau tidak, sekiranya perlu jawaban atas tanda tanya besar ini: “Apa yang bisa pemerintah/negara berikan kepada warga negaranya yang sedang dalam masalah setelah sekian trilyun berhasil dikeruk melalui remittence?”

Menyoal Nasionalisme

Tari Garuda, sebelum pentas di Konser Sheila On 7 di Hong Kong
Minggu (28 april 2013). Sesaat setelah saya dan kawan-kawan saya yang tergabung dalam salah satu dari organisasi yang dibentuk oleh TKW-Hong Kong yang bernama Sekar Bumi menarikan sebuah tarian, tari Garuda Nuswantara di acara The Cultures and Colors of Hope, saya bersusah payah menyembunyikan airmata saya dari kawan-kawan.

Sudah puluhan kali saya dan kawan-kawan saya, juga organisasi seni yang dibentuk oleh TKW-Hong Kong lainnya, kami diundang untuk menampilkan tarian Indonesia oleh organisasi-organisasi non goverment yang ada di Hong Kong. Mereka kebanyakan adalah organisasi yang membangun keharmonisan antar masyarakat pendatang (ras minoritas) dengan warga Hong Kong, seperti SSCEM, ISS Hope, HDH, EOC dan lain-lain. Acara budaya yang diikuti oleh perwakilan organisasi seni dari berbagai negara itu bertujuan untuk meningkatkan komunitas inklusif Hong Kong yang mencakup keragaman budaya, mempromosikan keharmonisan rasial dan kesetaraan untuk semua.
Antusias penonton dan jepretan puluhan kamera membuat saya yakin kalau saya diakui oleh orang-orang Hong Kong itu sebagai warga negara Indonesia, tapi apakah Indonesia berpikiran sama? Entahlah.

"Yannei diumo a, hou leng a... (Tarian Indonesia, bagusnya...)," kata mereka bersaut-sautan.

Juga banyaknya orang Hong Kong yang kemudian merangsek mendekati kami, mengucapkan selamat dan mengajak foto bareng. Ini bukan kali pertama, namun perasaan dada mengembang itu ternyata bisa berulang-ulang kami rasakan.

Bagi organisasi seni seperti Sekar Bumi, Alexa Dancer, Sanggar Budaya, Arimby, Ganisha, Borneo Dancer dan sebagainya, kesempatan pentas tersebut merupakan bagian dari upaya kami untuk mengenalkan budaya bangsa sekaligus melestarikannya. Di Hong Kong, seni adalah media interaksi paling tepat untuk saling mengenalkan keragaman dan kekayaan budaya bangsa.

kiri-kanan: mbak Wik & Anggie Camat
Di organisasi saya, Sekar Bumi, dua kakak-adik, teman kami yang ketika di Indonesia sering menari di pagelaran wayang didaulat menjadi guru tari. Seminggu sekali di tiap hari Minggu kami berkumpul dan berlatih tari-tarian Indonesia, sejenak melupakan rutinitas kerja dalam sepekan pun sebagai pengobat hati akan kerinduan kepada Indonesia.

Kami berlatih di taman-taman atau di lapangan Victoria Park yang luas itu dengan sebuah tape recorder dan CD tarian yang saya download dari Youtube. Kadang, kami harus buru-buru membungkus tape recorder dengan tas kresek lalu berlari-lari menuju tempat naungan ketika hujan tiba-tiba disuntakkan dari langit.

Latihan di taman atas Pasar Bowrington Wanchai
Kadang pula kami membawa gunting dan jarum juga manik-manik untuk dijahit sebagai pakaian tari. Ya, pakaian tari itu jahitan tangan, tangan-tangan kami sendiri. Kami menjahitnya dengan menyisihkan uang hasil kerja kami dan kami menjahitnya dengan lagu Indonesia Raya di dada.

Peralatan tari lain seperti topeng, jaranan, celengan (seperti wayang dalam gambar celeng-babi hutan), reog, kendang, penthul tembem juga irah-irahan (hiasan kepala) harus kami datangkan secara khusus dari Indonesia, kami beli dengan merogoh uang sendiri. Mengapa kami sudi memboroskan diri untuk seni? Apalagi kalau bukan karena rasa cinta kami?

Di kesempatan lain, di acara Hong Kong International Flower Show atau acara kenegaraan juga kunjungan menteri-menteri, kerap pula dibarengi dengan serombongan penari sebagai duta budaya Indonesia dan ditonton oleh orang-orang penting di Hong Kong. Mereka, duta budaya itu, didatangkan secara khusus dengan biaya yang tidak sedikit lalu dielu-elukan oleh para penggede praja di ruangan tertutup ber-AC. Mereka terhormat dan dihormati oleh negaranya sendiri.

Saya tak hendak membandingkan nasib kami, bukan pula membandingkan berapa jumlah uang yang kami dapat setelah ngamen di hadapan hadirin penikmat yang berbeda (toh kami hanya menerima uang pengganti trasportasi dan snack saja), kedudukan kami memang tidak sama. Tapi peluh-peluh yang keluar dari seluruh pori-pori di tubuh kami dan tepuk tangan dari warga Hong Kong itulah yang menyamakan derajat kami sebagai pekerja seni, sebagai duta budaya (walau tak diakui).

tari Goyang-goyang di Festival Pertukaran Seni 2010

Tari Rereyogan di Festival Aids 2012




Tari Incling di Perayaan Imlek 2013
setelah menari tari Surengkerti di Aids Festival 2013

Penonton di perayaan Imlek 2013

Tari Warok di Perayaan Imlek 2013

Tari Rampak di Perayaan Imlek 2013




Mari Memperkosa Daming Insane

Anda tahu Daming Sunusi? Saya baru tahu Selasa lalu. Dan saya merasa perlu untuk membuat postingan ini karena saya gagal melempar asbak ke mukanya.

Hakim ibaratnya dan atau mengibaratkan diri sebagai manusia setengah dewa, sebagai tangan kanan dewa untuk memutuskan sebuah perkara itu harus ber-ending bagaimana. Dan calon hakim agung yang juga anggota Komisi III DPR RI ini entah karena sudah berpengalaman memperkosa orang atau telah melihat istri atau anaknya diperkosa orang atau adalah anak hasil perkosaan mempunyai pemikiran yang seksi, seseksi DP saat nari bugil di film terbarunya, Nyi Blorong.

"Hukuman mati tidak  layak bagi pelaku pemerkosaan. Karena pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati."

Saya benar-benar merinding sewaktu membaca berita pernyataan itu. Bercanda? Ah yang bener saja! Orang bercanda juga ada tempatnya.

Kendati permintaan maaf juga telah dilontarkannya karena mungkin semalaman dia telah berfikir (utamanya itu menyangkut berhasil tidaknya dia meraih posisi hakim agung) dan baru menyadari bahwa dia dilahirkan dari rahim seorang perempuan dan bukan dari rahim kadal atau buaya ataupun srigala, namun saya yakin hati masyarakat (perempuan pada umumnya) sudah terlanjur tersakiti. Kendati memaafkan itu bukan masalah yang mustahil namun tetap akan mengingat tinta hitam yang keluar dari mulut seorang bapakyang juga mempunyai anak perempuan ini.

Memang, manusia itu tidak ada yang sempurna, khilaf dan salah adalah tempatnya. Maka buat apa pula ada pengadilan kalau semua salah bisa dianggap sebagai suatu kekhilafan? Toh penghuni tempat terhormat (pengadilan) tersebut adalah manusia-manusia yang kurang atau tak terhormat, hanya gila hormat.

Dan maling uang rakyat atau koruptor pun tak perlu penjara, karena kasihan banget, sudah kaya kok dipenjara. Atau anak pejabat yang menabrak mobil hingga menewaskan seorang bapak dan seorang bayi juga tak perlu dipenjara. Kasihan, dia khan masih kuliah, lagian ketiak bapaknya terlalu wangi untuk disibak.

Saya (dan kebanyakan masyarakat) telah krisis kepercayaan kepada penggede praja. Meragukan kinerja mereka selama mereka hanya memikirkan masalah perut dan di bawah perut saja.

Atau pula saya harusnya menyalahkan guru bahasa Indonesia, yang gagal memberi pengajaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar kepada mereka sehingga mereka hanya cakap menguap, tidak cakap bercakap, bercakap yang menggunakan hati dan pikiran. Ataukah guru agama dan guru BP, yang gagalmemberi bimbingan rohani kepada mereka.

Pertanyaan saya: Akankah menteri urusan peranan wanita melakukan suatu tindakan terkait pelecehan terhadap perempuan ini? Apa yang terhormat menteri lakukan terhadap pelecehan terhadap perempuan yaang ada di Indonesia selama ini? Di mana beliau?

Melajang

Adakah yang bisa membaca aksara Jawa itu?
Batasan usia untuk menikah bagi wanita kini semakin bergeser. Entah karena belum siap lahir dan batin atau karena masih menyukai kebebasan sendiri, keduanya adalah kemungkinan yang menjadikan wanita menunda melengkungnya janur kuning.

Di Asia, wanita melajang dianggap tabu. Herannya seringkali ketakutan untuk masih melajang ini dimiliki oleh orang-orang tua. Rasa takut lebih akut di Asia. Wanita lajang melewati usia 30 dipandang dengan kecurigaan dan belas kasihan. Padahal kita (yang melajang) berpikir tentang orang-orang yang menunda pernikahan sebagai pribadi yang bebas melakukannya karena pilihan, perempuan yang tetap melajang bersifat sosial dan menolak atau belum menikah karena keadaan.  

Banyak sebutan nylekit disandangkan pada spinster. Orang Jepang menyebut mereka "makeinu" (anjing pecundang) karena telah gagal diberikan Tuhan misi mereka. Orang Cina menyebut mereka "sheng nu" (gadis sisa). Sedang orang Jawa menyebutnya "prawan tuwa" atau "prawan kasep" (perawan tua atau perawan kadaluarsa).  

Di Asia, --utamanya Indonesia-- yang penuh dengan stigma-stigma ini, membuat ruang gerak wanita untuk melajang menjadi sempit. Sebagai contoh: pada setiap pertemuan keluarga atau pun pertemuan dengan rekan kerja, pertanyaan yang terdengar wajar itu sungguh-sungguh menggigit. "Masih single ya?" atau "Kapan nikah?" Trus musti jawab gimana coba? Tidak menjawab atau salah menjawab ntar malah dikira lesbian, iya khan?

Walau semasa kecil wanita-wanita ini telah dicekoki dengan cerita-cerita princess yang menikah di usia 17 tahun, namun kenyataan tidak segampang film Snow White atau Sleeping Beauty, yang hanya dengan sedikit sengsara kemudian mendapat Prince Charming lalu menikah setelah ultah ke-17. Life is not disneystory kawan!

Banyak pula wanita-wanita yang lebih mementingkan kariernya dari pada yang lain. Meski berpendidikan, pandai, mapan, tapi mencari/mendapat jodoh bagi mereka mungkin tak semenarik meniti karier. 

Dan ada pula wanita-wanita yang meski bukan tergolong sebagai wanita karier tapi juga memilih untuk melajang. Saya, misalnya.

Lhah mau dibilang karier gimana, wong kerjanya aja sebagai pembantu alias babu. Pekerjaan sebagai pembantu khan enggak bakal naik pangkat atau jabatan, iya khan? Kalau naik gaji masih mungkin, itu pun kalau bosnya berbaik hati, ikhlas mensedekahkan uangnya kepada orang yang dengan menggerutu mengosek WC-nya dua kali dalam sehari, empat belas kali dalam seminggu, 420 kali dalam sebulan, 5.040 kali dalam setahun dan 10.080 kali dalam satu kontrak kerja. Bayangkan!

Cinderella-cinderella bertitel babu yang enggak bakal berubah menjadi princess ini bukannya tidak menginginkan untuk menikah, namun ya memang keadaan belum memungkinkan. Tuntutan ekonomi dan (mungkin) keluarga yang sudah kadung tergantung dengan besarnya duit trasferan menjadi salah satu kendala. Belum lagi sempitnya atau minimnya waktu dan kesempatan untuk mengenal pria.

Namun baik di Indonesia maupun para pekerja migran yang masih melajang ini ada sedikit akal untuk mencari jodoh, ya kalau-kalau nyangkut. Jejaring maya seperti Yahoo Messenger, Facebook, Skype menjadi alternatif. Ada juga whatsapp (whatsapp tuh termasuk maya bukan ya?).


foto dari takemeoutindonesia.com
Tayangan kurang mutu seperti Take Me Out Indonesia juga dijadikan salah satu solusi.Yang mana para wanita cantik berpakaian seksi yang sedang desperate ini menimbang dan mengukur kelayakan seorang laki-laki dari fisik, pekerjaan dan kemapanannya (itu menurutku, yang gak setuju silakan protes).

Nah, ini juga menjadi bukti bahwa wanita lajang (terutama yang desperate di Take Me Out Indonesia tadi) sebenarnya juga tak kurang usaha.

Masalahnya adalah pertemuan (di dunia maya atau nyata) itu mudah, tapi membuat pertemuan dua nyawa beda jenis kelamin tersebut sebagai pertemuan hati, itu yang sulit.

Menjadi wanita yang tegar dan percaya diri itu malah dua kali lebih sulit. Wanita sudah terlanjur didoktrinasi dari kecil untuk mengalah dan menyerah, untuk tidak usah berbicara/mengeluarkan pendapat sebelum orang tua bicara, untuk menjadi wanita somahan yang jinak. Jelasnya wanita telah makan lebih banyak garam daripada laki-laki.

Beberapa wanita tetap melajang karena pilihan sebenarnya bukan karena mereka mengharapkan seorang prince charming yang datang dengan mengendarai kuda putih. Namun laki-laki makin hari tidak lagi memiliki kedewasaan dan integritas yang cukup sebagai laki-laki, sebagai akibat dari perubahan sosial. Mungkin ini pula yang menyebabkan banyak wanita lebih memilih laki-laki yang jauh lebih tua. Laki-laki seumuran justru berpotensi menjadi balita ketimbang laki-laki. Mosok wanita harus ngopeni wong lanang?

Tentu saja untuk menjadi adil, akhir-akhir ini wanita juga banyak yang kehilangan feminitasnya. Seksi, cantik, sensual tapi sebatas untuk membuat first impression atau sexual attraction saja, melupakan sisi femininitas yang menjadi ciri wanita.


Waktu telah berubah, tetapi beberapa norma masih harus utuh (ditegakkan?), maka perang gender berlanjut. Jadi siapa yang harus disalahkan?


*****

18 November 2012
For my 34th b'day. I am single and I am happy. So stop worrying but keep loving me as what I am :)

Pembantu di Hong Kong (Bagian 1)

Leslei Cheung
Di tengah konser akbar yang digelarnya, Leslie Cheung, salah satu aktor dan penyanyi kondang Hong Kong menyempatkan waktu untuk memberi ucapan cinta dan terimakasih kepada Luk Che, seorang pembantu yang mengasuhnya sejak kecil. Leslie sadar benar betapa pentingnya peran Luk Che dalam kehidupannya. Cinta dan hormatnya kepada Luk Che tak hanya cukup diucapkan kepada Luk Che tapi juga kepada ribuan penggemarnya di seluruh dunia. Apa yang dilakukan oleh penyanyi legendaris yang meninggal pada 1 April 2003 ini tak pernah ada dalam sejarah sebelumnya dan juga sesudahnya.


Kendati berterimakasih adalah hal yang lumrah bagi warga Hong Kong, namun berterimakasih terhadap seorang pembantu di jaman apel krowak (baca: apple) dan burung berkicau aka twitter, mungkin masih dirasa sebagai hal yang kalau bukan tabu ya mungkin enggak perlu-perlu amat. 

Karena untuk berterimakasih terhadap seorang pembantu, seseorang itu harus sadar benar akan keeksistensian dan kontribusi dari seorang pembantu di dunianya. Sedang umumnya, apa yang telah dilakukan oleh pembantu terhadapnya dan keluarganya selalu dinilai sebagai sebuah kewajaran mengingat mereka (pembantu itu) digaji untuk itu. Orang-orang Hong Kong pada khususnya dan orang-orang di dunia pada umumnya masih perlu belajar banyak dari Leisle. Namun sayangnya Leslie telah mangkat, sehingga kemungkinan berterimakasih terhadap pembantu akan menjadi hal yang langka yang hampir mendekati tidak ada.

 Pada akhir 1970-an, Hong Kong mengalami pertumbuhan ekonomi dan transformasi dari manufaktur ke perekonomian jasa berbasis. Pemerintah kolonial ini menemukan dirinya menghadapi dua masalah serius, kekurangan tenaga kerja dan biaya tenaga kerja yang meningkat. Dalam upaya untuk mendapatkan tenaga kerja dengan upah rendah, pemerintah Hong Kong melonggarkan pembatasan pekerja migran. Pekerja migran asal Filipina kemudian masuk ke Hong Kong sebagai pembantu rumah.  

Dalam dekade berikutnya, jumlah pembantu Filipina di Hong Kong terus meningkat. Banyak perempuan-perempuan muda yang mengikuti jejak teman-teman dan kerabat mereka yang lebih dahulu bermigrasi ke Hong Kong untuk bekerja. Selain karena kurangnya lowongan pekerjaan di negara asalnya, tentu saja juga karena tergiur gaji yang lebih tinggi.  

Hong Kong kemudian membuka kesempatan kerja untuk negara lain seperti Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Nepal, Pakistan dan India. Segera saja negara-negara tersebut tergabung dalam bisnis ekspor tenaga kerja. Saat ini, ada sekitar 140.000 pembantu rumah tangga asal Filipina, 142.000 asal Indonesia sedang dari negara-negara lain masih dalam jumlah yang relatif sedikit.

petan
Setiap Minggu atau labour holiday, pembantu rumah yang berada di Hong Kong menguasai daerah Central dan Causeway Bay. Merubah taman dan jembatan menjadi tenda sementara untuk bisa berkumpul bersama kawan-kawannya. 

 Bercanda, "petan", main kartu, potong rambut, jualan hingga belajar menari atau mengaji dan membuat kerajinan tangan menjadi pemandangan yang lumrah, walau terkadang menjengkelkan juga karena mereka adalah penghasil sampah terbanyak sepanjang hari. Namun mau tak mau pemandangan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa. Mau gimana lagi? Tak ada tempat khusus yang bisa menampung puluhan ribu pembantu dalam satu tempat. 
mbak-mbak yang jualan di pinggir Victoria Park, Causeway Bay
Jangan harap pula mereka akan mendapat ijin untuk menumpang duduk di tempat umum seperti food court atau taman di bawah perumahan. Meski Hong Kong berhasil dinobatkan menjadi negara yang bisa menghargai HAM di Asia, nyatanya diskriminasi terhadap kaum minoritas seperti pekerja migran (utamanya pembantu rumah) kerap pula dilakukan.

Dan sesaat setelah matahari terbenam, penguasa sehari Central dan Causeway Bay ini harus kembali kepada penguasanya, yaitu majikannya. Dan enam hari ke depan mereka akan dihadapkan pada rutinitas yang sama lagi, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun dan dari kontrak ke kontrak berikutnya.

Jauh di Indonesia sana, perempuan dengan pekerjaan yang sama hanya digaji sekitar Rp. 400.000 hingga Rp. 600.000 perbulan. Sedang di Hong Kong mereka bisa menghasilkan sepuluh kali lipat dari itu. HK$ 3.920 atau sekitar Rp. 4.704.000  dengan kurs Rp. 1.200 per 1 dolar Hong Kong. Tapi konsekuensinya mereka harus berpisah dengan keluarga, tinggal dengan orang asing, bekerja 16 jam perhari, menanggung rindu dan kesepian dan tak jarang banyak pula yang harus rela menelan siksa batin dan jasmani. Kadang ketakutan diputus hubungan kerja secara sepihak mengakibatkan mereka bersikap "nrima" dan tutup mulut saat mereka dipaksa bekerja tak sesuai dengan apa yang tertera dalam kontrak kerjanya atau dibayar di bawah gaji standar atau dipaksa tidur di toilet

Apa yang tampak luar, yang terlihat dari pembantu rumah ini mungkin tidak mencerminkan perlakuan atau derita apa yang telah ditanggungnya selama bekerja di negara lain, sehingga kadang menjadikan orang salah menilai. Menganggap semua pekerja migran ini sejahtera dan banyak dolar tanpa mau berpikir tentang apa yang telah dilalui oleh mereka. Ya, terkadang pula banyak pembantu rumah ini yang dengan sengaja menutupi derita yang dipikulnya. Untuk menyenangkan atau menyamankan dirinyakah? Mungkin saja.

HK$ 3.920 sebenarnya bukan angka yang tinggi bagi warga Hong Kong. Mereka bisa menghasilkan sepuluh kali lipat gaji yang diberikan kepada pembantunya plus bebas beban pekerjaan rumah dan tetek bengeknya dengan anak maupun orang tuanya yang manula.

Meski jumlah tersebut mendekati jumlah tuntutan (HK$ 4.000) yang kerap dilakukan oleh organisasi-organisasi yang vokal menyuarakan hak pekerja migran, namun semakin hari semakin tinggi pula permintaan majikan untuk menutup kenaikan gaji terhadap pembantu rumahnya. Sebelumnya gaji pembantu rumah di Hong Kong sebesar HK$3.740, pada 20 September lalu baru dinaikkan sebesar HK$ 180 atau 4,7%. Pemerintah Hong Kong sendiri seperti sengaja mempermainkan hati para pekerja migran sektor nonformalnya dalam hal pemutusan UU kenaikan gaji, seperti pula terpaksa memutuskan itu karena desakan dari berbagai organisasi non pemerintah dan khususnya di bawah perhatian khusus dari ILO terkait telah ditandatanganinya ILO convension 1997 (perlindungan terhadap pembantu rumah) oleh pemerintah Hong Kong baru-baru ini.

Di lain pihak, dengan kemampuannya menggaji orang untuk mengurus anak, rumah, dan orang tuanya, seorang majikan seperti menciptakan sebuah kasta baru dan menempatkan dirinya bak raja-ratu yang setiap titahnya adalah perintah yang wajib dilaksanakan dalam hitungan detik. Tak jarang untuk hal-hal sesimpel seperti mengambil air minum saja tak mampu. Dan memilih untuk berteriak kepada pembantunya, meneriakkan perintah. Lebih dari itu, para majikan kecil, anak-anak mereka tak jarang pula menjadi manja. Mengikuti jejak orang tuanya, tak sanggup untuk sekedar menali sepatu atau gosok gigi saja.

Dan............terimakasih sudah membaca postingan ini :)



bersambung...







Privasi Untuk Pembantu, Tak Perlukah?

bawah toilet, atas tempat tidur
Juli 2012. Tiba-tiba saja Facebook geger. Foto-foto kamar tidur TKW- Hong Kong berkeliaran di wall. Masing-masing orang mendadak merasa kamar tidur pembantu itu begitu pentingnya untuk dibicarakan dan diperdebatkan.

Uniknya, foto tersebut justru berasal dari seorang warga Hong Kong, Doris Lee. Doris Lee adalah perwakilan dari organisasi Open Door, sebuah kelompok warga Hong Kong yang mendukung hak-hak Pekerja Rumah Tangga Asing.

Cerita bermula ketika seorang ratu penyanyi anak-anak kenamaan, Purple Lee, memamerkan rumahnya kepada media massa (Headline Daily).

Di rumah seluas 1.800 sq feet itu semua ruang tampak mewah. Menurut Purple Lee, rumahnya itu didesain secara khusus, tak luput pula kamar tidur pembantunya. Kamar tidur pembantu itu malah super khusus spesial, ianya terletak di atas toilet! Media massa geger, selama sebulan penuh membicarakan penyanyi tenar yang dinilai tidak manusiawi itu.

Selama tujuh setengah tahun aku bekerja di Hong Kong selama itu pula aku melihat kamar tidur kawan-kawan senasibku dalam situasi yang "nyleneh", tidak sesuai dengan yang tertera dalam kontrak kerjanya. Ada yang tidur di lantai dapur, ada yang di ruang tamu, ada yang berbagi kamar dengan anak laki-laki majikan umur 1yang berumur 18 tahun, ada yang tidur di lantai toilet, ada yang tidur diatas toilet, ada pula yang tidur di atas kulkas dan mesin cuci, sepertiku.

Doris Lee sempat menghubungiku dan membanjiriku dengan berbagai pertanyaan, salah satunya: "why aren't you complainning?"- mengapa kamu tidak protes?

Dan jawabku sesederhana ini: "We take whatever they give to us! We complain to ourselves but we cannot just break out. With every employer, we have to adjust ourselves, so that we can keep our jobs."

Apa yang orang lain lihat tentang TKW-Hong Kong atau apa yang tampak di luar adalah bahwa jadi TKW itu enak, gaji empat juta setengah perbulan, ber-gadget mewah dan up to date dapat libur mingguan pula. Tapi pernahkah orang-orang tersebut merasakan atau setidaknya bertanya tentang apa yang kami alami perhari? Sekalipun kami mengatakannya, bisakah orang-orang tersebut mengerti dan memahami posisi kami?

nggelar tikar di depan toilet trus tidur di sana
Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan untuk seorang pembantu untuk memilih bersikap "nrima". Kami membutuhkan pekerjaan itu. Secara hukum TKW-HK itu tinggal dengan majikannya tapi pemerintah Hong Kong mengabaikan tempat istirahat bagi pembantu rumah itu. Dalam surat kontrak kerja tertulis bahwa majikan diharuskan memberi tempat istirahat yang layak bagi pembantunya dan dituliskan secara jelas bagaimana kondisi tempat istirahatnya, adapun kenyataannya banyak pembantu rumah yang istirahat di tempat yang tidak sesuai dengan apa yang tertera dalam kontrak kerjanya.  Pemerintah Hong Kong juga seakan menutup mata tentang hal ini, tidak ada pemeriksaan dan tidak ada itikad untuk menekantegaskan hal ini kepada warga yang menjadi majikan/calon majikan.


Jika seorang pembantu melaporkan hal ini (ketidaklayakan tempat istirahatnya) maka yang didapatnya adalah pemecatan kerja sepihak. Dan apalah yang lebih ditakutkan oleh seorang TKW selain pemecatan kerja? Karena itu berarti dia harus kembali ke agensi, membayar sekian ribu dolar dan bersaing lagi mencari majikan baru, terkatung-katung menunggu visa kemudian ujungnya mendapat majikan yang belum tentu juga akan lebih baik dari majikan sebelumnya. Sedang di rumah sana, di Indonesia sana, emak dan bapak menunggu kiriman uang, anak-anak butuh biaya SPP, butuh susu, butuh uang jajan, seragam dan tetek bengeknya. Maafkan, kalau aku pesimis, bahwa tak ada orang yang bisa memahami kondisi sebenar dari TKW selain mereka yang pernah merasakan pahit getirnya melancong, mempertahankan hidup demi kehidupan yang lain.

Dan setelah laporan itu (bahwa pembantu itu tidak mempunyai tempat tidur yang layak) apakah yang terjadi dengan majikan? Tidak ada inspeksi oleh pemerintah HK kepada majikan, tidak ada sanksi dan tidak ada daftar hitam dari majikan tersebut. Hal ini berlangsung dari tahun ke tahun di Hong Kong. Tidak ada pembenahan dan tidak ada progress menuju ke lebih baik. Pemerintah HK seolah menutup fakta bahwa sebagian warganya (yang kaya) telah tidak memanusiawikan pekerjanya, pekerja yang diremehkan karena status kerjanya yang sebernya adalah orang tervital dalam kelangsungan hidupnya, yang mengurus anaknya, ibunya, rumahnya, makannya, hingga yang menjadi tumpuan kemarahan saat pekerjaan kantornya teramat berat di hari itu.
ini juga nggelar kasur tipis di toilet

Setelah bekerja selama sehari penuh, 16 jam, sebenarnya yang kami butuhkan hanyalah bagaimana seorang majikan itu memperlakukan selayaknya. Saya pribadi dan kami para pembantu rumah di HK ini, tidak begitu memusingkan tentang tempat tidur kami. Sejauh ribuan mil kami menempuh perjalanan dari negara kami untuk bekerja, meninggalkan orang-orang tersayang demi sesuatu yang kami harapkan esok akan menjadi sedikit cerah, kami menyadari benar konsekuensinya, kami menyadari benar di mana posisi kami. Kami tak mengharap lebih selain makan minum, ijin cuti sakit, gaji tepat pada waktunya, mendapatkan hak libur dan tidak dimaki tanpa sebab. 

Kalau hal tersebut terpenuhi, tidur dengan memeluk toilet pun tak jadi masalah. Tapi kalau tidak, bukankah itu terlalu? Siapa yang sanggup menerimanya? Dan apakah wajar manusia memperlakukan manusia sedemikian tidak manusiawinya?




Foto pertama dan kedua dari Doris Lee.
Foto ketiga dari kawanku, Fitri Vivi