Menyoal Nasionalisme

Tari Garuda, sebelum pentas di Konser Sheila On 7 di Hong Kong
Minggu (28 april 2013). Sesaat setelah saya dan kawan-kawan saya yang tergabung dalam salah satu dari organisasi yang dibentuk oleh TKW-Hong Kong yang bernama Sekar Bumi menarikan sebuah tarian, tari Garuda Nuswantara di acara The Cultures and Colors of Hope, saya bersusah payah menyembunyikan airmata saya dari kawan-kawan.

Sudah puluhan kali saya dan kawan-kawan saya, juga organisasi seni yang dibentuk oleh TKW-Hong Kong lainnya, kami diundang untuk menampilkan tarian Indonesia oleh organisasi-organisasi non goverment yang ada di Hong Kong. Mereka kebanyakan adalah organisasi yang membangun keharmonisan antar masyarakat pendatang (ras minoritas) dengan warga Hong Kong, seperti SSCEM, ISS Hope, HDH, EOC dan lain-lain. Acara budaya yang diikuti oleh perwakilan organisasi seni dari berbagai negara itu bertujuan untuk meningkatkan komunitas inklusif Hong Kong yang mencakup keragaman budaya, mempromosikan keharmonisan rasial dan kesetaraan untuk semua.
Antusias penonton dan jepretan puluhan kamera membuat saya yakin kalau saya diakui oleh orang-orang Hong Kong itu sebagai warga negara Indonesia, tapi apakah Indonesia berpikiran sama? Entahlah.

"Yannei diumo a, hou leng a... (Tarian Indonesia, bagusnya...)," kata mereka bersaut-sautan.

Juga banyaknya orang Hong Kong yang kemudian merangsek mendekati kami, mengucapkan selamat dan mengajak foto bareng. Ini bukan kali pertama, namun perasaan dada mengembang itu ternyata bisa berulang-ulang kami rasakan.

Bagi organisasi seni seperti Sekar Bumi, Alexa Dancer, Sanggar Budaya, Arimby, Ganisha, Borneo Dancer dan sebagainya, kesempatan pentas tersebut merupakan bagian dari upaya kami untuk mengenalkan budaya bangsa sekaligus melestarikannya. Di Hong Kong, seni adalah media interaksi paling tepat untuk saling mengenalkan keragaman dan kekayaan budaya bangsa.

kiri-kanan: mbak Wik & Anggie Camat
Di organisasi saya, Sekar Bumi, dua kakak-adik, teman kami yang ketika di Indonesia sering menari di pagelaran wayang didaulat menjadi guru tari. Seminggu sekali di tiap hari Minggu kami berkumpul dan berlatih tari-tarian Indonesia, sejenak melupakan rutinitas kerja dalam sepekan pun sebagai pengobat hati akan kerinduan kepada Indonesia.

Kami berlatih di taman-taman atau di lapangan Victoria Park yang luas itu dengan sebuah tape recorder dan CD tarian yang saya download dari Youtube. Kadang, kami harus buru-buru membungkus tape recorder dengan tas kresek lalu berlari-lari menuju tempat naungan ketika hujan tiba-tiba disuntakkan dari langit.

Latihan di taman atas Pasar Bowrington Wanchai
Kadang pula kami membawa gunting dan jarum juga manik-manik untuk dijahit sebagai pakaian tari. Ya, pakaian tari itu jahitan tangan, tangan-tangan kami sendiri. Kami menjahitnya dengan menyisihkan uang hasil kerja kami dan kami menjahitnya dengan lagu Indonesia Raya di dada.

Peralatan tari lain seperti topeng, jaranan, celengan (seperti wayang dalam gambar celeng-babi hutan), reog, kendang, penthul tembem juga irah-irahan (hiasan kepala) harus kami datangkan secara khusus dari Indonesia, kami beli dengan merogoh uang sendiri. Mengapa kami sudi memboroskan diri untuk seni? Apalagi kalau bukan karena rasa cinta kami?

Di kesempatan lain, di acara Hong Kong International Flower Show atau acara kenegaraan juga kunjungan menteri-menteri, kerap pula dibarengi dengan serombongan penari sebagai duta budaya Indonesia dan ditonton oleh orang-orang penting di Hong Kong. Mereka, duta budaya itu, didatangkan secara khusus dengan biaya yang tidak sedikit lalu dielu-elukan oleh para penggede praja di ruangan tertutup ber-AC. Mereka terhormat dan dihormati oleh negaranya sendiri.

Saya tak hendak membandingkan nasib kami, bukan pula membandingkan berapa jumlah uang yang kami dapat setelah ngamen di hadapan hadirin penikmat yang berbeda (toh kami hanya menerima uang pengganti trasportasi dan snack saja), kedudukan kami memang tidak sama. Tapi peluh-peluh yang keluar dari seluruh pori-pori di tubuh kami dan tepuk tangan dari warga Hong Kong itulah yang menyamakan derajat kami sebagai pekerja seni, sebagai duta budaya (walau tak diakui).

tari Goyang-goyang di Festival Pertukaran Seni 2010

Tari Rereyogan di Festival Aids 2012




Tari Incling di Perayaan Imlek 2013
setelah menari tari Surengkerti di Aids Festival 2013

Penonton di perayaan Imlek 2013

Tari Warok di Perayaan Imlek 2013

Tari Rampak di Perayaan Imlek 2013




15 komentar :

  1. sedihnya, seni budaya kita baru punya harga di negeri sendiri setelah diembat duluan oleh malingsia

    BalasHapus
  2. mbak,aku terharu loh bacanya...
    iyah, kadang kita sendiri di negri sendiri menganggap remeh budaya bangsa :(.
    saluuutttt dengan teman2 yang mengharumkan dan membanggakan budaya Indonesia di luar negri :)

    BalasHapus
  3. tepuk tangan buat mbak rie dan teman2... :D

    teruslah menari, berkarya...

    *terharu baca ini

    BalasHapus
  4. teruus berkarya mba....salut buat mba rie rie dan teman teman dsana :D

    BalasHapus
  5. benar-benar suatu yang positif.. semoga menjadi amal akrena sudah menyebarkan budaya bangsa ke bangsa lain

    BalasHapus
  6. Nasionalisme jangan sampai luntur ya mbak, di manapun kita berada.
    Apik2 acarane
    Salam dari Surabaya

    BalasHapus
  7. bekerja sekaligus menjadi duta budaya ya mbak ...
    keep the good work ...

    BalasHapus
  8. saluuuuut...
    ^_^
    tetap semangat sobat!!! aku mendukungmu!

    BalasHapus
  9. bagus yah. aturan acara kek gini diperbanyak dan diakomodasi sama pemerintah indonesia.

    BalasHapus
  10. Kok lama gak update? Lagi mudik apa klenger?

    BalasHapus
  11. ::tjak Doel, Ratu SYA, Ronal, Novi Rahantan, Sandy, Wong Cilik, Freya, Rima, terimakasih...terimakasih...

    @tjak doel, on duty tugas negara tjak....mbabu tulen nganti ra kober ngeblog :D

    BalasHapus
  12. mba rie rie, saya salut dengan mba rie rie dan kawan2. semoga hasil kecintaan kalian untuk Indonesia di 'acknowledge' pemerintah Indonesia.
    salam kenal mba.=)

    BalasHapus
  13. Maju Terus Mbak , Jaga Nasionalisme, Nasionalisme tidak bisa diukur dengan Materi Tapiu Rasa. Kita sama sama berjuang membangun rasa kebangsaan dan Nasionalisme

    BalasHapus
  14. aku pembaca setia blogmu loh mbak Rie,..sampean kiy cerdas, ndagel dan crito2ne bikin ngguyu kepingkel2....
    Saya salut, angkat jempol 10, buat mbak Rie.
    Blog nya hebat, tulisannya penuh muatan....

    Teruslah menulis mbak, biar aku punya hiburaaaannnn

    BalasHapus

Matur suwun wis gelem melu umuk...