Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Erwiana, Facebook, dan Solidaritas Buruh


Erwiana, Facebook, dan Solidaritas Buruh

dok / Jaringan Buruh Migran Indonesia
AKSI SOLIDARITAS รข€“ Ribuan buruh migran asal Indonesia menggelar aksi solidaritas untuk Erwiana di depan kantor Central Government Offi ce (CGO) di Hong Kong, Minggu (19/1). Sekitar 100 warga lokal turut bergabung dalam aksi ini.
Akankah negara bicara lantang tentang nasib pekerja rumah tangga Indonesia di Hong Kong?
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menelepon seorang lelaki bernama Rahmat, di sela-sela rapat kabinet yang berlangsung di Istana Negara, Selasa (21/1) pagi.

“Pak Rahmat, ini Pak SBY. Saya sedih prihatin terhadap musibah yang mengenai putri Bapak, Erwiana. Saya juga marah pada yang berbuat kejahatan. Saya minta hukum dan keadilan ditegakkan,” demikian SBY menelepon, seperti diberitakan Antara, Selasa. 

Tak jelas apa tanggapan dan reaksi Rahmat menerima telepon mendadak itu. Namun yang pasti, kejutan Rahmat sudah datang jauh-jauh hari, Sabtu (11/1) lalu, saat putrinya, Erwiana Sulistyaningsing, datang ke rumah dengan dipapah seorang buruh migran asal Magetan, seorang perempuan yang baru dijumpai Erwiana saat di Bandara Chek Lap Kok, Hong Kong. 

Wajah dan mata Erwiana lebam, tubuhnya memar. Rahmat dan istrinya histeris. Baru delapan bulan Erwiana bekerja di negeri bekas jajahan Inggris itu, tapi pulang dengan luka di sekujur badan. 

Riyanti, buruh migran asal Magetan yang mengantar Erwiana pulang ke kampung halamannya di Desa Pucangan, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menemukan Erwiana duduk sendiri di bandara Hong Kong, Jumat (10/1) malam lalu. Kebetulan malam itu, Riyanti juga memutuskan pulang kampung. Mereka menumpang penerbangan yang sama. 

Riyanti curiga dengan wajah lebam Erwiana. Namun, Erwiana bungkam ketika ditanya apa yang terjadi padanya. Ia hanya bilang alergi cuaca. 

Tapi, Riyanti tak percaya. Saat Erwiana minta diantar ke toilet dengan langkah tertatih, Riyanti makin curiga. Di toilet, Riyanti menemukan Erwiana berganti pampers untuk pantatnya. Riyanti makin curiga Erwiana mengalami penganiayaan, tapi perempuan berusia 22 tahun itu tetap bungkam.

Sambil mencoba berkomunikasi dengan Erwiana, Riyanti berbalas pesan pendek dengan kawannya, Icha, juga seorang buruh migran asal Malang yang bekerja di Hong Kong. Kepada Icha, Riyanti mengirim foto Erwiana yang lebam. 

Icha-lah yang kemudian menjadi orang pertama yang mem-posting foto Erwiana di Facebook, Sabtu (11/1) pagi. Ia tak berpikir panjang. Ia memutuskan melakukan hal tersebut setelah SMS terakhirnya ke Riyanti yang meminta agar Riyanti menemani Erwiana pulang hingga ke kampung halamannya, tak berbalas. 

Kemungkinan karena Riyanti sudah berada dalam pesawat bersama Erwiana. “Yang kupikirkan saat itu (saat mem-posting foto Erwiana di Facebook-red), itu jalan satu-satunya berharap kepedulian kawan-kawan BMI (buruh migran Indonesia, sebutan lain untuk tenaga kerja Indonesia-red) membantu Erwiana,” ucap Icha kepada SH. 

Tanggapan dan reaksi pun meluas. Banyak yang kemudian menyebarluaskan foto ini. Ada yang pro, ada yang kontra. Tak sedikit pula yang skeptis. Orang yang pro menyebut Erwiana harus dibantu dan solidaritas harus segera digalang. 

Orang yang kontra melihat foto semacam ini tak bisa sembarangan diedarkan tanpa izin dari pemiliknya karena dikhawatirkan terjadi sesuatu yang justru lebih buruk terhadap Erwiana. Sementara itu, orang yang skeptis menganggapnya sebagai hoax. 

Namun, saat informasi lanjutan mengalir dari Icha dan Riyanti tentang proses perjalanan Erwiana pulang ke kampung halaman, hingga penanganan terhadapnya, arus pun berubah cepat. Solidaritas mengalir deras. 

Disiksa

Kepada Riyanti, saat berada di dalam pesawat, Erwiana berkisah bahwa majikan perempuannya, Lo Wan-tung, memang doyan memukulinya. Ia takut mengaku karena majikannya sempat mengancam orang tuanya di kampung akan dibunuh jika Erwiana mengisahkan penganiayaan tersebut.

Selama delapan bulan bekerja pada majikan tersebut, Erwiana hanya sekali diberi makan nasi setiap hari, pada pukul 07.00. Siang dan malam hanya dapat jatah satu iris roti dan satu botol air mineral untuk sehari. Jam tidurnya pun diubah. 

Ia boleh beristirahat atau tidur dari pukul 13.00-17.00. Selebihnya, ia harus dalam kondisi bangun dan bekerja. Saat ia kelaparan dan mencoba mengambil roti di lemari, majikan langsung memukulinya, juga setiap kali dia melakukan kesalahan kecil. 

Dokter Imam Fadli, spesialis bedah yang merawat Erwiana di Rumah Sakit Islam Amal Sehat Sragen, mengatakan, Erwiana tak bisa berjalan dan mengalami pembengkakan otak karena kepalanya terus dipukuli benda tumpul selama enam bulan terakhir. 

Saat bulan pertama mengalami penganiayaan, Erwiana sebetulnya telah mencoba melapor pada PJTKI Graha Ayu Karsa Tangerang yang mengirimnya. Namun, alih-alih memberi perlindungan, PJTKI malah menelepon agen di Hong Kong yang menyalurkan Erwiana ke Lo Wan-tung dan sang agen memberi tahu majikan tersebut tentang keinginan Erwiana untuk hengkang. Jadilah, Erwiana kembali jadi bulan-bulanan. 

Minggu (19/1), sebuah aksi menuntut keadilan bagi Erwiana digelar di Hong Kong. Sekitar 5.000 orang turun ke jalan menuju kantor pemerintah Hong Kong dan markas polisi Hong Kong. 

Sejumlah organisasi pekerja migran mengoordinasi aksi tersebut. Warga Hong Kong yang bersimpati terhadap kasus Erwiana juga turun ke jalan. “Lebih dari 100 warga lokal ikut dalam aksi ini,” kata Sring Atin, juru bicara Komite Keadilan untuk Erwiana dan Semua Pekerja Migran Rumah Tangga. 

Hari itu juga polisi memeriksa Susi, pekerja migran asal Malang yang juga menjadi korban penganiayaan Lo Wan-tung. Sring mendampingi Susi dalam pemberian kesaksian tersebut. Kepada SH, Sring mengatakan, pada Jumat (17/1), polisi Hong Kong menghubunginya. “Mereka bilang jika Susi bisa bersaksi, mereka akan menangkap majikan Erwiana, Minggu (19/1) malam,” Sring menjelaskan.
Meski mundur sehari, polisi menepati janjinya. Senin (20/1) malam, Lo Wan-tung dicokok Imigrasi Hong Kong di bandara saat hendak terbang ke Bangkok. Perempuan tersebut ditangkap atas tuduhan menganiaya dua PRT asal Indonesia. 

Hari yang sama, empat penyidik dari Unit Kejahatan Kepolisian Hong Kong dan pejabat Departemen Perburuhan Hong Kong terbang ke Indonesia untuk memeriksa Erwiana. Polisi butuh keterangan dan hasil medis Erwiana sebagai bahan investigasi untuk menjerat Lo Wan-tung. 

Aksi solidaritas terhadap kasus ini dan juga soroton media internasional membuat Hong Kong jengah. Mereka tak ingin disamakan dengan Arab Saudi jika kasus ini gagal ditangani. 

Presiden Yudhoyono tampaknya juga terusik hingga merasa perlu untuk menelepon ayah Erwiana. Tapi, penghiburan saja memang tak cukup. 

Kamis (23/1) dan Minggu (26/1) nanti, organisasi dan jaringan buruh migran Indonesia di Hong Kong kembali menggelar aksi. Mereka akan mendatangi kantor Departemen Perburuhan Hong Kong dan kantor agen Chans Asia Recruitment Centre yang menyalurkan Erwiana, menuntut agar agen ditutup dan pemerintah Hong Kong meninjau ulang aturan yang mengharuskan PRT asing tinggal di rumah majikan. Secara kebetulan agen Chans berkantor di kawasan Causeway Bay, tempat perwakilan pemerintah Indonesia juga berkantor. 

Para pekerja migran asal Indonesia ini telanjur memercayai bukti bahwa bukan para pejabat negara yang akan menuntaskan masalah dan nasib mereka, tapi diri mereka sendiri. (SU Herdjoko)

Erwiana, TKW Hong Kong Korban Penganiayaan Majikan


Erwiana sebelum berangkat ke Hong Kong
ERWIANA SULISTYANINGSIH
Asal: Ngawi
 Lahir pada 7 Januari 1991
Nomer passport: AS 321825
8 bulan bekerja di majikan bernama LAW WAN TUNG
beralamat di: Flat J 38 /F BLK 5 Beverly Garden 1 Tong Ming Street Tsueng Kwan O, Kowloon, HK
Erwiana diberangkatkan oleh P.T. GRAHA AYU KARSA Tangerang. Dan agen di Hong Kong Chans Asia Recruitment Centre.

Tulisan ini berdasarkan cerita Rian yang kebetulan hendak cuti ke Indonesia dan bareng Erwiana. 

Tanggal 9 Januari 2014

Ketika aku sampai di bandara CHEK LAP KOK, HONG KONG, aku melihat ada seorang mbak-mbak, BMI (BMI=TKW) juga. Tapi kok wajahnya lebam dan jari tangannya juga bengkak menghitam? Lalu ku tanya: "Namamu siapa mbak?"
“Erwiana,” jawabnya.

Aku : "Lhoh mbak, kenapa wajah dan tanganmu seperti itu?"
Erwiana : "Ahh nggak papa kok, Mbak. Ini cuma alergi kena air dingin."
Aku : "Ahh massa sih alergi air dingin sebegitunya? Kok kayak ada luka gitu lo. Mbak di wajahmu juga lebam."
Erna : "Enggaklah, nggak apa-apa kok." (Erwiana diam dan menunduk sambil memainkan jarinya yang menghitam itu)

Aku : "Memangnya kenapa sih, Mbak? Apakah kamu dipukul oleh majikanmu?" (aku setengah memaksa dia untuk mengakui apa sih yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?)

Erwiana : "Ora papa, Mbak." (Lagi-lagi dia menunduk)

Aku : "Kamu asal mana?"
Erwiana: "Ngawi, Mbak."
Aku : "Lhoh, ya sama. Aku dari Magetan, berarti kita tetangga dekat lo."
Erwiana: "Oh iya, Mbak.”

Terdengar suara peringatan kepada seluruh penumpang pesawat agar segera masuk ke Gate 31.

Aku: "Ayok masuk, dah ada peringatan tuh.”
Erwiana: "Aku ewangana, Mbak. Aku gak bisa bawa tasku."
Aku : "Lhoh tadi katamu gak apa-apa? Lha kok? Sebenarnya kenapa sih mbak kamu nih?" (Aku jengkel karena ditanya gak ngaku-ngaku)

Erwiana di bandara Hong Kong
Erwiana : "Mbak, iya aku dipukuli oleh majikanku selama 8 bulan, tapi mbak aja ngomong-ngomong ya, aku takut sekali.” (wajah Er terlihat banget cemas)
”Erwiana: "Aku gak boleh ngobrol dengan orang Indonesia atau pun melapor ke Polisi tentang kejadian ini.” (tangan Erwiana terlihat gemetar)
Aku: "Hahhh..??!!”(aku kaget dan menyayangkan banget, kenapa disiksa separah itu kok diam saja? Kenapa??)

Karena waktu sudah mepet dan kami pun harus segera masuk pesawat, maka aku gandeng dia untuk jalan. Namun alangkah kagetnya aku, ternyata dia juga susah jalan jadi aku harus memapah dia. Semua bawaanku kutaruh di kereta barang. Aku sudah menawarkan untuk lapor polisi, dia gak mau dan ngeyel gak mau.
Akhirnya kami tiba di depan gate masuk Imigrasi.
Beberapa petugas bertanya pada Erwiana: "Kamu kenapa?" Dan aku yang jawab, kujelaskan bahwa dia telah dianiaya majikanya. Petugas tersebut seketika langsung menyarankan untuk lapor polisi dan lagi-lagi Erwiana menolak dengan alasan ingin segera pulang bertemu keluarga di kampung. Akhirnya walaupun banyak orang menyarankannya lapor polisi tapi dianya nggak mau, ya sudah tentu pihak imigrasipun tidak bisa memaksa seseorang untuk melaporkan kasusnya.

Sampai di dalam pesawat aku bersusah payah untuk memapahnya dan barangku dibawakan teman yang lain. Oh ya, Erwiana juga tidak mau dipapah teman lainnya selain aku. Di barisan tempat dudukku juga Erwiana ada orang asing dan dia melihat kondisi fisik Erwiana yang begitu. Penumpang asing itu minta pindah tempat duduk yang kebetulan ada yang masih kosong. Mungkin orang itu takut melihat tangan Erwiana yang seperti penyakit apa gak tau.

Di dalam pesawat Erwiana tertidur, mungkin saking capeknya. Beberapa kali dia terlelap. Beberapa kali juga dia mengigau. Dalam igauanya dia berteriak ketakutan, capek dan banyak lagi. Saat dia tidak tidur, aku coba ajak dia untuk bicara mengenai kondisi dia di majikan hingga dia teraniaya.

Er..kutatap wajahnya saat ia tertidur lagi..
(kasihan banget kau Er, wajah ayumu kini berubah lebam, majikanmu hanya memberi satu lembar uang seratus dolar, umurmu yang masih muda juga harus dituakan tiga tahun. Aku menerawang sedih.
Erwiana terbang ke Hong Kong pada Tanggal 13 May 2013. Dia juga harus membayar potongan Agen selama 6/7 bulan. Sejak awal dia bekerja, Erwiana sudah mulai dipukul oleh majikannya menggunakan hanger atau apa saja yang ada di depan majikannya. Lalu pada saat dia sudah bekerja satu bulan dia sempat lari ke bawah rumah telpon pihak PJTKI di Indonesia. Erwiana laporan bahwa dia mengalami penganiayaan fisik dan tiap hari dimarahi oleh majikannya. Erwiana gak kuat dan gak tahu harus bagaimana. Lalu pihak PJTKI segera menghubungi agen yang ada di Hong Kong. Tak berapa lama agen datang ke bawah rumah majikan Erwiana menemui Erwiana yang masih di bawah rumah. Selanjutnya, pihak agen mengantar Erwiana kembali ke rumah majikan karena Erwiana belum habis masa potongan gaji.

Erwiana yang masih baru, tidak tahu harus kemana dan tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan. Dengan bujuk agen, Erwiana terpaksa kembali ke majikan lagi. Dalam bekerja sehari-harinya Erwiana selalu mendapat perlakuan tidak baik dari majikannya. Dia juga kurang makan dan kurang tidur. Hingga pada kondisi yang kritis, tepatnya tiga hari sebelum dipulangkan, Erwiana mengeluh sakit dan lemah. Lalu majikannya menyuruhnya untuk tidur istirahat. Ketika mandi, Erwiana juga dimandikan oleh majikan perempuannya dengan alasan kalau Erwiana mandi sendiri nggak bersih.

Akhirnya pesawat landing di bandara Indonesia. Aku segera memapah Erwiana, ketika dia berasa ingin buang air kecil, segera ku antar ke toilet. Dan alangkah terkejutnya aku, ternyata Erwiana sudah dipakek i Pampers! Ohhh ya Alloh… Betapa tersiksanya dirimu wahai saudaraku. Aku hanya bisa berucap dalam hati, ingin sekali aku menangis, menjerit, agar apa yang kurasakan dongkol dalam hati ini berkurang, tapi ku tahan. Aku tak ingin terlihat sedih di depan Erwiana.

Dari bandara aku mengantarkan Erwiana sampai rumahnya di Ngawi. Di halaman depan rumahnya Taxi yang kami tumpangi berhenti. Keluarganya yang tidak tahu dia akan pulang hari itu kaget. Apalagi ketika melihat kondisi fisik Erwiana yang mukanya lebam dan harus dibopong masuk ke rumah. Spontan keluarga dan tetangga yang di situ menangis histeris.

Sampai di dalam rumah, Erwiana ditidurkan. Sebenarnya aku sudah penasaran sejak dari Hong Kong, kok kakinya gak bisa buat jalan itu kenapa? Tapi Erwiana menutupi dan tidak mau memberitahuku. Dalam kondisi yang pada menangisi keadaan Er, aku terus bersabar, aku harus kuat, aku harus tatak di hadapan banyak orang. Aku gak ingin menangis meskipun batinku menjerit dan airmataku begitu ingin mengalir.

image
image
image
 image
Dan akhirnya akupun memberanikan diri untuk melihat kondisi kakinya. Duh Gustiiiiii… Ampunilah dosa hambamu yang lemah iniiiii…(ku berdoa dalam hati). Kedua kakinya diperban dan aku tidak tahu luka apa ini. Bekas siraman.air panaskah? Atau bekas apa?  Ya Allah... begini parahnya. Aku mencium aroma yang tidak sedap dari kedua kaki Erwiana namum tak sedikitpun aku merasa jijik atau bagaimana. Aku tetap melepas perban-perban yang menempel di luka  Erwiana dan menggantikan dengan yang baru.

Kondisi Erwiana sangat lemah dan masih  butuh perawatan extra. Saat ini Erwiana sudah dibawa ke Rumah Sakit setempat untuk perawatan.

Kawan-kawan semua, itu tadi kisah saudara kita yang foto-fotonya sudah ramai dibicarakan di FB sejak semalam, dan untuk kekurangan nama tempat atau alamat, saya pribadi memang belum mendapatkan dari pihak keluarga. Dan perlu kawan- kawan ketahui, saat ini Erwiana juga sudah ada pihak di Indonesia yang siap mendampingi untuk menuntut haknya.

************

Copas dari blog kawan, Fendy .