Masalah keuangan menjadi momok dari kecil sehingga sekarang pun. Ternyata aku masih terlalu takut untuk menjadi miskin. Miskin yang merupakan teman kecilku yang tak begitu menakutkan itu kini berubah menjadi bayang-bayang hitam yang lebih panjang dari tinggi badanku meski matahari di ubun-ubun kepala.
Aku sedemikian sulit memutuskan untuk harus bagaimana setelah kontrak kerjaku selesai nanti. Mungkin inilah kenapa Indonesia tidak bisa berkembang cepat, karena manusia-manusianya memutuskan segala sesuatu secara lambat, bukan karena bijaksana namun lebih karena kegamangan, kekurangtahuan dan kebingungan. Dan aku adalah salah satu manusia itu.
Tentang Ladang Itu
Mungkin cobaan masih enggan melepasku kembali
seperti saat malam pertama
cinta saja tak cukup membungkam perut
untuk tidak lapar
Tidak!
bukan aku memilih untuk menjadi miskin
tapi miskin memilihku untuk mencangkul
di ladang tetangga
sungguh!
ladang yang kucangkul subur penuh
namun ladang yang kutinggal hijau gulma dua depa
padi dan jagung mengkeret rubuh
Bila tiba masa pulang
Sanggupkah aku mencabut gulma
manual atau kimia atau bagaimana?
Secara dia bukan sembarangnya
Atau kembali saja ke ladang tetangga
membungkukkan punggung
sambil mengipaskan mimpi
untuk menuai padi dan jagung bersama suami
di ladang sendiri


opo kuwi?? mbuh ah


