Surat Seorang Istri Yang Jadi TKW

Aku menangkap wajah cinta seorang ibu dengan bola matanya yang berbinar indah ketika sabtu kemaren aku menikmati pening kepalaku di pinggiran Victoria Park.(bukan dalam gambar, gambar itu cuma diambil dari web yang ..udah lupa linknya).

"Wis maem durung Le(sudah makan belum Nak?)?" tanyanya pada anaknya lewat hubungan kawat.

Betapa merdu terdengar kata-kata itu. Selama ini aku hanya menjadi pendengar atas pertanyaan itu, belum menjadi penanya(secara aku belum beranak). Aku merinding merasakan dasyatnya pengaruh dari kalimat tanya itu, betapa tulus dan mesranya... Maka kuputuskan menikmati pening sambil menguping obrolan sang ibu.

"Kenapa mbak?" tanyaku lugu setelah selesai percakapannya. Kulihat sang ibu tersebut mengusap sudut matanya.
"Aku kangen anakku," katanya sendu.
"Sing sabar dan tabah mbak," bujukku.

Ya benar, hidup adalah sebuah pilihan. Menjadi TKW juga pilihan, sekalipun itu bukan pilihan yang layak disebut sebagai pilihan. Seseorang memilih menjadi TKW tentunya tidak semudah memilih mau makan dengan sambel trasi atau dengan ayam panggang. Keputusan yang tentu saja membutuhkan renungan yang panjang, pemikiran yang dalam dan pertimbangan yang matang. Seandainya saja hidup ini semudah apa yang pernah didendangkan oleh koesplus...

Surat Seorang Istri Yang Jadi TKW

Mas,
Apakah Ucok sudah minum susu?
Apakah Mas masih main kartu?
dari uang yang kukirim seminggu yang lalu
dari perasan keringat dan airmataku

Mas,
Pernahkah Ucok bertanya padamu
Pernahkah dia berseru
"Dimana emakku, aku rindu!"
Betapa itu lagu termerdu
di sela piluku

Mas,
Kemarin aku bermimpi
Kau kembali menjadi lelaki
dan aku menanak nasi
Kapan mimpi bisa terbukti

Mas,
Aku lelah berjumpalitan
Bertukar peran
Aku ingin kembali
menjadi istri

Mungkinkah mas?

20 komentar :

  1. trenyuhhhhh...
    hiks hiks...
    ini adalah ide Rie, semangat ! Tetep berkarya!

    BalasHapus
  2. nyentuh samapi kedasar laut Rie..eh hati maksudnya, pinter men deneng..

    BalasHapus
  3. Hidup adalah pilihan... tinggal bagaimana kita memilih cara hidup kita sendiri. Keep on posting!!

    BalasHapus
  4. to all, makasih....makasihh...love U all, hehehe...keep posting keep learning!!

    BalasHapus
  5. Fiuh, sungguh pengorbanan sang Ibu...

    BalasHapus
  6. wuow mbak, aq jadi teringat sama tanteku yg juga jadi TKW di Saudi Arabia.... sampe2 meninggalkan anaknya mulai umur setahun sampe sekarang anaknya udah kelas 1 SMP. Ya itulah hidup.... aku suka tulisan puisi diatas... :D

    BalasHapus
  7. wuahh.. rie.. nyentuh tuh puisi..

    ingin kembali jadi isteri.. fiuh...

    BalasHapus
  8. Puisinya bagus tuh jadi tersentuh deh

    BalasHapus
  9. aku menilai para suami yang istrinya sampe nekat kerja sbg TKW di luarnegeri sebagai para suami gagal!!

    apalagi yang kerjaannya cuman main kartu, ngopi, nyenuk, and ngabisin duit kiriman istrinya!!! wes sama kayak bathang dia!!!

    BalasHapus
  10. hi mbak... kunjungan perdana nih...
    salam kenal..... ya....
    aku suka tulisan mbk...
    keep Blogging

    BalasHapus
  11. mantab tenan, slm kenal rudis blog ayaran

    BalasHapus
  12. Dari fanani aku tahu blog ini kemarin. Di puisi ini, aku sangat suka bagia terakhir: Aku ingin kembali menjadi istri... sederhana tapi menusuk

    BalasHapus
  13. tidak nyangka aku nyasar ke blog ini follow lah , coz menarik posting2nya

    BalasHapus
  14. cerita menarik dan puisi yang mendalam... cuma saya mau nanya.. koq Ucok sih...?! itu khan nama orang Batak... soalnya saya Batak he..he..he...

    BalasHapus
  15. haduh terharu aku mbacanya, cerita yg luar biasa, sama dengan penulisnya :)

    BalasHapus
  16. bagus banget... betul2 mengena, keep on writing, u should publish it someday.

    BalasHapus

Matur suwun wis gelem melu umuk...