Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Cerpen Anak-Kecoak Pindah Rumah

Masih terpengaruh sama kecoak di postingan yang lalu hingga membuat cerita anak dengan memasukkan kecoak di dalamnya, haha... Awalnya sih karena diikutkan dalam lomba menulis anak tapi ternyata ditolak oleh jurinya alias tidak lolos dalam seleksi dengan alasan seperti ini:
"ceritanya bagus, tapi sudah ada yang bikin cerita yang nyaris seperti ini.
dan ada tiga majalah yang memuatnya. coba bikin yang lain"


Wola...jurinya sopan banget ya. Biasanya boro-boro memberi masukan, mengirim e-mail balasan aja kagak.

Hehe..maaf..maaf...saya mah lagi terkontaminasi sama kecoak postingan minggu lalu, hehe... Eitz, tapi 4 cerita anak karyaku yang lain alhamdulillah lolos seleksi.


Eh, daripada mubazir mending diposting aja ya, buat update blog  *senyumsenyumtanpadosa

Silakan menyimak..............!!

Kecoak Pindah Rumah

 

"Kecoaaak...!" teriak Katie sambil melompat-lompat. Kentang goreng yang ada di tangan kirinya berhamburan saat dia melompat. Hanya sisa beberapa batang saja yang kemudian digenggamnya erat-erat sambil berlari tunggang-langgang.
Katie takut sama kecoak, takuut sekali. Binatang berkaki enam dan berantena itu adalah binatang terjorok yang yang membuatnya phobia, takut luar biasa.
Katie berlari menuju rumahnya yang hanya berseberangan dengan sekolahnya. Begitu masuk, tampak mama dan papa berada di ruang tengah. Katie memberi salam sambil bergegas menuju kamarnya. Tak menghiraukan mama yang menanyakan tentang kabarnya di sekolah.
Mama menghela nafas kemudian kembali ke kesibukannya, menjahit baju-baju kecil persiapan untuk bayi kecil yang akan dilahirkannya dalam waktu dekat. Bayi kecil yang bakal menjadi adik kedua Katie.
Nolan, adik pertama Katie, tertidur di sofa di samping mama. Sedang papa tampak disibukkan dengan koran..
Angin sore itu mengalir sejuk, membawa semerbak harum bungan melati yang ditanam mama di samping rumah. Angin terus berembus hingga korden di dekat mama bergerak-gerak seperti mau terbang. Mama berdiri kemudian mengikat korden itu sedemikan rupa dan membuka jendela sedikit lebih lebar.
Mama pikir akan lebih baik kalau angin sore itu dibiarkan masuk untuk membuat sirkulasi udara di ruang tengah itu lebih nyaman.
Namun bersamaan dengan itu, sebuah bau lain mengalir membuat mama mengernyitkan dahi dan menajamkan indra penciumannya. Hal ini pun tak luput dari perhatian papa. Papa seketika menghentikan aktifitas membacanya dan menoleh ke arah mama.
"Bau apa nih ma?" tanya papa.
"Iya nih pa. Kirain cuma mama aja yang mencium bau ini," jawab mama.
"Coba mama periksanya," kata mama.
Mama memeriksa seluruh sudut di ruang tamu namun tidak menemukan sumber bau busuk itu. Dibukanya lemari buku. Buku-buku tampak berjejer rapi, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Mama melongok, mengintip di belakang TV. Di sana pun tak dijumpai apa-apa.
Pandangan mama beredar ke seluruh ruangan. Di koridor ruangan menuju dapur, tampak kaos kaki dan sepatu Katie tergeletak di sana. "Nah, ini dia," pekik mama dalam hati.
Sepertinya Katie nakal lagi. Kemarin Katie menaruh baju sekolahnya di lantai, lalu kemarin dulu tas sekolah di dapur dan kemarin dulunya kemarin topi dan dasi kupu-kupunya di samping rumah. Dan mamalah yang membereskan semuanya.
Coba bayangkan, mama yang berperut besar itu harus memungut barang-barang milik Katie yang berceceran di mana-mana. Apakah kali ini mama juga yang harus membereskannya?
Papa tampaknya memperhatikan mama. Papa juga melihat kaos kaki dan sepatu Katie yang berada di tempat yang tak semestinya itu.
"Katie mana ma?" tanya papa sembari melangkah mendekat.
"Sepertinya di kamar. Mungkin lagi negerjain PR," jawab mama.
Papa berjalan mendahului mama menuju kamar Katie. Namun belum sempat papa mengetuk pintu atau memanggil Katie, terdengar sebuah jeritan melengking.
"Kecoaaak...kecoaakk...! Toloong...!" teriak Katie.
Papa dan mama masuk kamar. Dilihatnya Katie berdiri di atas ranjang dengan muka pucat. "Mama...papa...tolong Katie...ada kecoaak di kamar Katie...!" teriak Katie sambil melompat dari ranjang dan berlari ke pelukan mama.
Katie memegang mama erat-erat, dia benar-benar ketakutan. Tapi mama dan papa diam saja.
Pandangan mama menyapu ruangan. Terlihat sampah di mana-mana. Ada kulit pisang di meja belajar, ada apel yang tinggal separuh di rak buku, ada bungkus permen di lantai di dekat jendela, ada kentang goreng yang tinggal sebiji di atas kasur. Buku-buku pelajaran berceceran, baju-baju tampak carut-marut di sana-sini. Mama menghela nafas menahan marah, demikian juga papa.
"Kecoak ma," kata Katie, sudah tak sekencang tadi. Katie tahu mama papa sedang marah melihat kamar Katie yang seperti sarang tikus.
"Katie tahu kenapa kecoak ke sini?" tanya papa.
Katie menggeleng.
"Karena Katie mengundangnya," kata mama.
"Semua kecoak dari got depan sekolahanmu akan berpindah ke sini kalau kamarmu seperti ini," kata papa dengan pandangan tajam.
Katie diam, bergidik membayangkan ratusan kecoak menguasai kamarnya. Diambilnya buku-buku yang berserakan dan diletakkannya pada tempatnya. Dibuangnya kulit pisang, bungkus permen, apel dan kentang goreng. Dilipatnya baju-baju yang carut-marut itu kemudian disimpannya kembali ke dalam lemari. Dirapikannya tempat tidurnya. Diambilnya sapu dan kain lap juga kain pel. Dalam waktu satu jam, ruangan Katie sudah tampak bersih dan rapi.
"Ma, kecoak dari got depan sekolahan itu enggak jadi pindah ke sini khan?' tanya Katie pada mama yang menungguinya bersih-bersih.
"Kalau bersih dan rapi gini, bukan kecoak yang pindah ke kamar kak Katie, tapi Nolan," kata Nolan yang  tiba-tiba melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
"Ha ha ha ha...," tawa seisi rumah.

My Silly Puppet Show: Tails and Wings

Kids nowadays doesn't need any nanny. Just give them ipad and they will be happy. They will glue to it and play all sort of games or simply go to youtube and fill their heart content with the movies they love.

This is so pathetic fact how they have been spoiled by the latest invention. Unfortunetly parent often doesn't realize the impact of this, but the nanny will.

The spoiled kids will not listen to any advise, they won't do homework, they won't go to bath, they won't eat well and the worst of all, they don't need to socialize. They don't want to play with their friends. They were sitting next to each other, eyes on the ipad screen without blinking and without any word to each other at all. This is so sickening. I hate it so much. To my opinion, kids are supposed to play together, not to see the ipad together. I hate it, I hate it, I hate it with the biggest capital ever: I--H A T E--I T!!

In order to win the girl's heart, I try to do all sort of fun and funny things. Like making a starbuck coffee, play pretend school, pet shop, doctor play, teach her how to do silly dance (I mix all sorts of music then make up the dance move) or doing puppet show. This last thing is the one that I want to tell you guys. My puppet show was so silly, almost like the one in the movie and won the girl's heart. Just read this silly puppet show story, the title is "Tails and Wings".

Well, I use anything, the recycle things to make 4 mermaids and 2 fairies and a monster. The mermaids and fairies are from wooden buttons, strings, glittery papers. And the stage is made from paper bag with decorations here and there. The monster is made from an old sock. And This is the story (I should have video it huh!)


TAILS and WINGS
by Cece (cece means kakak in Indonesian)

It was a sunny day, Amy and Lucy were going to the fairy land. Amy and Lucy are the smartest fairies in fairy land and they were just given a new house from the fairy queen. The house was given as a prize because Amy and Lucy has won the fairy queen's riddle.

They flew to the east from morning till noon. It was so hot and the two fairies decided not to fly anymore. They took fliying taxi instead!

"It saves our energy, right Amy?" said Lucy.

Lucy was not answering. She was busy looking out of the window. It was quiet for ten minutes then suddenly Lucy scream.

"Oh My God!"

"What? Oh My God what?" asked Amy.

"Just look around silly! Fairy land has been changed. It's double beautiful," said Lucy with her mouth opened.

Finaly, the fliying taxi stopped in front of a green house. After they paid the taxi fare with two golden rose petals, they went to that house. They ran past the small garden then opened the door.

They were so happy because the house was so fully furnished. The beautiful paintings were hanging on the wall, the soft pillows were put so neatly on the enormous sofa. They moved around the house and touched every kind of things. They were touching the wall then suddenly they stopped, they noticed a door with the funny handle. "Is it the secret door the queen was telling us?" asked Lucy. Amy raised her shoulders, she has no idea.

The funny handle was shaped like an ear and you had to twist the ear to open the secret door.

Amy opened the door sloowwly. The smell of sea and the sound of the waves were all that they can smell and hear at first. Then like magic, a beach appeared in front of them.

Fairies were not suppose to get wet, because when they got wet they could not fly. But Amy and Lucy didn't care. When they were small, they used to play secretly at the beach together. And to see the beautiful beach was like they were dragged in to sweet old memories. Soon they were fliying to the beach.

They were fliying then running a long the beach like old times. But then they were stopped by the loud sound of water splashing. "Splash!!"

Then followed by another bigger splash. "SPLAASSHH!!!"

Amy's and Lucy's wings got wet, by now they really cannot fly. They can only walk slowly because when the fairy wings got wet they were extremely heavy. Amy and Lucy were worried. Their face were pale, their feet got stuck on the sand.

And then another splash with glittering tail appeared. And then two beautiful heads popped up from the water. One with long purple hair and yellow tail and the other one with thick orange hair and blue tail. They were mermaid!

"Hello," said the long purple hair and yellow tail mermaid.

"Do we scare you?" asked the thick orange hair and blue tail mermaid.

The mermaid were so friendly, Amy and Lucy were not so scare anymore.

"So. are you mermaid?" asked Amy.

"Yes," answered long purple hair and yellow tail mermaid.

"And you can talk?" asked Lucy.

The two mermaids laughed, their teeth were so white, so even and so shiny.

"Of course," said the thick orange hair and blue tail mermaid.

"I am Elenour and she is my sister Angel, who are you?" said the thick orange hair and blue tail mermaid.

"I am Amy and she is my best friend, Lucy," said Amy.

"You are so amazing, your tails are so pretty," said Amy.

"Thank you," said Elenour.

"You know, we always wish that one day we could swim. Even we said our wish when we saw the shooting star, but it never happened," said Lucy sadly.

"You can!" said Angel.

"We can?" asked Amy.

"Yes. I can give you one of my scales then you can prick your feet with it then you can grow tail, but it's only temporary," said Angel.

"Yeah, it will hurt a bit but it's ok, not big harm," said Elenour.

'Really?" said Amy and Lucy.

"Yes. You wanna try?" asked Angel.

"Oh... Can we? Can we? Please help us," pleaded Amy.

"OK, wait. Let me pull out one of my scales,"said Angel.

"Oh..you are an angel," said Amy to Angel.

"I am Angel," said Angel, laughing. They all were laughing.

Angel gave one shinny yellow scale to Amy and Elanour gave one shinny blue scale to Lucy. The next minute Amy and Lucy pricked their feet with the scale then the smoke came out from their legs then the very next minute, tails appeared!

Amy and Lucy fell down to the beach, they were wiggling and gigling so much, they were so happy.

"Let's swim," said Angel.

"Waaitt!" said Lucy.

"Can we dive? Can we swim under water?" asked Lucy.

"Yeah... Can we breath?" asked Amy.

"Ups! Sorry! I forgot. Put this on, you can also call us with this, just whisper to it," said Angel. She gave her shell necklace to Amy. Elanour gave hers to Lucy.

"Thank you," said Amy and Lucy.

"Remember, it's temporary. Only until midnight," said Angel.

"We will fremember," said amy.

They were all swimming in the ocean. Amy and Lucy saw all kind of fishes and corals. Amy was so scare to see big shark but Angel were quickly talk to shark in the fish language then the shark swam away.

"Thank you," said Amy.

"You are wellcome. Don't swim too far a way from us. you are not used to swim and this place is new to you" said Angel.

They swam some more until Amy and Lucy were getting better at swimming.

Then they also play hide and seek in the ocean. Amy and Lucy were so happy, they swam further and further then they got lost. They didn't know wich way to go. They just swam until they saw a big hammer head shark swam towards them then quickly they swam inside a small cave. But the shark was still there, so they decided to swim deeper in to the cave.

Suddenly there is a loud sound. "Bang!"

"A trap! We are trapped," Amy panicked.

"Heeelpp...! Heellpp,...!!" they screamed

Lucy was about to cry when she saw a big shadow appeared. They scream. "Aaaaaaarrrggggg...!!"

"I can smell wings and legs here. You are not fish. What are you doing here! What are you?" asked the gost fish to them. The ghost fish is the under water palace keeeper. And that cave is entrance to the palace. And the ghost fish is the one who is guarding it.

"We are fairies, from fairy land," said Amy.

"They why aren't you fliying? Why areu you here? are you spying to us huh!" asked the ghost fish.

"We ...we... we... are Angel and Elenour's friend. They granted our wish to be a mermaid for one day," answered Lucy.

"The princesses? Impossible!" said the ghost.

"We are not lying. Please let us go, we will be fairy again in two hours. And fairy can not swim or breath under water. Please let us go, plesee...," pleaded Amy.

"If you are the real princesses friend, call her! Call he now!"

"We can not call her, we don't know how. We don't know if she can hear us," said Amy, she were crying.

"Call her!" said gost fish.

Amy and Lucy were triying so hard to call Angel and Elenour. The were screaming, shouting Angel and Elenour's name until they were out of breath. They can only say in a very low voice because they were so tired of calling.

"Angel... Elenour.... We are trapped at the cave, we need your help. Please come," whispered Amy.

"Angel, Elenour, the ghost fish caught us here, we need to go outta here, and it's almost midnight. Please come and save us," whispered Lucy.

Suddenly there was a sound of water rushing towards the cave, then suddenly Angel and Elenour were in front of them.

"Amy! Lucy! Why were you so far away from us? We were so worried," said Angel.

"Angel! Elenour! We are so sorry, but now we are trapped, please help us out," said Lucy.

"Uncle ghost fish, they are our new friend, please let them out," said Elenour to the ghost fish.

"I am so sorry princess, I didnt know that," said the gost fish.

The trap sprung, opened, and the friends hugged each other.

"One more hour! Hurry! We'll let you see our home then go back to the beach," say Elenour.

The four friends swam with the highest speed around the palace then went straight back up to the surface just in time. It's midnight, Amy's and Lucy's tails dissappeared, and got her legs and wings back.

"Thank you so much," said Lucy and Amy.

"You are wellcome," said Angel and Elenour.

"I give you back your necklace," said Amy.

"Keep it. Those are our gift to our new friends," said Angel.

Amy and Lucy smiled at each other then they took out their purse and gave two golden rose petals to Angel and Elenour.

"For you, so that so can remember us," said Amy to the mermaids.

"And we will always remember you," said Lucy.

"Can we meet up again one day?" asked Amy.

"Every full moon, by this beach. Please come to visit us again," said Angel.

"We will. Surely will," said Amy.

"Bye Angel, bye Elenour," said Lucy.

With the last sad goodbye the new friends went to different directions. Angel and Elenour has got to go back to their palace while Amy and Lucy walked back to the secret door and in to the house.

The End.


----------------------------------------------------------------------------------------

"I am so sory for my bad English, I have tried my best. Saran dan kritik are wellcome."

Yopi Ga Jadi Minta Hadiah

Yopi namanya. Mungil, cantik, lincah, periang, berhidung mancung, pandai dan berbakat.

Semua siswa-siswi hingga guru di SD Lebak II mengenalnya, bahkan banyak orang tua murid juga mengenalnya. Karena selain selalu menjadi ranking pertama di kelasnya, Yopi juga pandai menari dan menyanyi. Tari apa saja dia bisa. Tari kelinci, tari gambyong, tari remo, tari jaipong, tari India, modern dance juga bisa. Lagu apapun juga bisa dinyanyikannya. Lagu Jawa, dangdut, pop, anak-anak, rok hingga seriosa. Pokoknya prestasi Yopi enggak kalah dibandingkan dengan Brandon de Angelo ataupun Putri Ayu dari Indonesia Mencari Bakat tahun 2010 yang lalu.

Di ruang belajarnya berjejer belasan piala dari lomba menari dan menyanyi yang telah dimenangkannya. Inilah yang membuat mama, papa, teman sekolah dan guru-gurunya bangga. Yopi telah berhasil mengangkat nama sekolah SD Lebak II
sekaligus membuat bangga mama dan papanya.

Selain piala-piala dan hadiah yang diperolehnya dari menang lomba, Yopi juga mendapatkkan beberapa hadiah dari papa mamanya. Ada boneka monyet yang lucu hadiah dari papa saat dia jadi ranking pertama kelas dua kemaren, ada HP yang berwarna merah muda dengan pernik mickey mouse hadiah dari mama saat dia naik kelas tiga, ada MP3 hadiah ulang tahunnya tiga hari yang lalu saat dia genap sembilan tahun dan masih banyak lagi hadiah-hadiah yang lain. Setiap kemenangan yang diraihnya Yopi selalu meminta hadiah dari papa mamanya. Begitu juga kemarin saat Yopi menang lomba nyanyi sekabupaten, Yopi merengek minta dibelikan HP, padahal dia sudah punya.

"Beliin HP dong ma," rajuk Yopi saat mereka sedang duduk berdua sore itu.

"Lha kemarin khan sudah," jawab mamanya kalem.

"Yah mama, yang kemarin itu sudah setahun yang lalu, udah ga keren lagi," rengek Yopi.

Mama menghela nafas, kemudian meletakkan majalah yang dibacanya di meja kecil di samping kanannya.

"Khan masih bisa dipakai sayang," kata mama.

"Ya masih bisa dipakai tapi sudah butut, mana ga ada MP3-nya lagi, huuh kuno banget!" gerutu Yopi.

"Mama aja masih pakai yang seperti itu, lihat nih," kata mama sambil menunjukkan HPnya kepada Yopi.

"Yee.. mama. Mama khan enggak kemana-mana, cuma buat nelpon papa sama Yopi doang," sungut Yopi.

"Eh siapa bilang? Mama ke arisan, ikut ngaji, belanja atau kondangan juga kok," jawab mama sambil senyum.

"Tapi Yopi khan bawa ke sekolah ma. Trus kalau temen-temen Yopi ngelihat HP butut ini khan trus Yopi jadi malu," rengek Yopi sambil cemberut.

"Ya itulah dia Yop. Mama juga ketemu temen-temen mama dan mereka ngelihat HP mama tapi mama ga malu kok," kata mama.

"Mama nyuruh kamu bawa HP ke sekolah khan tujuannya biar mama bisa komunikasi sama kamu kalau pas jemput kamu ke sekolah. Kalau semisal mama telat atau kamu pulangnya awal atau gimana khan bisa nelpon, gitu," jelas mama lagi.

"Lhah papa aja punya HP keren, dua lagi," tukas Yopi.

"Papa khan buat kerja, sayang. HP papa khan nyambung dengan internet biar papa bisa ngecek e-mail kapanpun. Punya HP khan dilihat kebutuhannya, sayang. Enggak cuma karena ingin, trus beli. Enggak cuma karena gengsi, trus harus beli," jelas mama dengan suara lembut.

"Pokoknya beliin! Masak Yopi menang lomba nyanyi mama ga ngasih hadiah," bentak Yopi kemudian beranjak dari tempat itu. Dia kemudian berlari menuju kamarnya. Mama geleng-geleng kepala.

Braak..! suara pintu dibanting dengan kerasnya. Tangan kecil Yopi kemudian meraih remote VCD player. Sedetik kemudian mengalunlah musik hiphop Kate De Luna dengan lagu Whine up yang merupakan lagu favoritnya. Lagu itu segera mengantarnya ke alam mimpi.

Dalam mimpinya Yopi keheranan. Dandanannya sudah berubah. Bukan lagi memakai rok hitam dan kaos biru lagi tetapi dia sekarang memakai celana kulit berwarna kuning dipadu dengan jaket kulit hitam. Yopi juga meraba rambutnya dan merasakan perbedaan juga. Ketika Yopi bercermin, dilihatnya rambutnya diatur indah dengan jeli warna-warni, wajahnya juga ada sedikit make up. Yopi terlihat keren banget saat itu.

Dan yang lebih mengherankannya, saat itu dilihatnya Kat De Luna memakai kostum yang sama dengannya dan melambai sambil berteriak, "Yo! Yopi! Let's dance!"

"Nyayi dan dance duet bareng Kat De Luna?" tanya Yopi dalam hati hampir tidak percaya. Tapi kemudian musik menghentak dan Deluna menariknya menuju ke tengah panggung. Di sana mereka menari dan menyanyi berdua disaksikan oleh ribuan penonton dan disiarkan langsung di TV.

Hati Yopi senang sekali. Dia sudah melupakan kejengkelannya kepada mamanya sore tadi, dia juga melupakan keinginannya untuk memiliki HP keren.

Musik berhenti. Yopi dan De Luna melambaikan tangannya kepada penonton dan disambut dengan tepuk tangan dan teriakan yang membahana.

"Yo! Yopi and De Luna! Yo! Yo! Yo!"

Di ruang ganti Yopi berbincang dengan De luna, dan ternyata Deluna bisa berbahasa Indonesia.

"Saya senang sekali bisa duet bareng kamu," kata Yopi.

"Oh, aku juga senang sekali, kamu sungguh berbakat. Aku yakin kamu bisa seperti aku nanti," kata Kat tulus. Kat terlihat kebingungan mencari-cari sesuatu. Dibongkarnya tasnya dan dicarinya sesuatu dari dalamnya.

"Cari apa?" tanya Yopi.

"Mmm..HP. Aku mau nelpon mamaku, ngabarin tentang konserku hari ini denganmu," jawabnya.

"Yop, boleh pinjem HPnya ga? Aku mau misscall HPku. Kalau ada suaranya khan gampang nyarinya," kata Kate.

"HPku jelek," jawab Yopi. Dia merasa malu sekali menunjukkan HPnya pada artis pujaannya.

"Jangan gitu, yang penting khan bisa dibuat komunikasi, punya HP bagus kalau enggak ketemu seperti HPku juga ga bisa dipakai khan?" kata Deluna.

"Iya juga ya," pikir Yopi.

Yopi kemudian mengulurkan HPnya kepada kepada De Luna. Setelah berterima kasih, Kat De Luna segera mendial nomer HPnya dan seketika terdengarlah nada dering dari HP Deluna yang rupanya terselip diantara baju-bajunya.

"Nah ketemu deh, makasih ya Yop," kata Deluna.

"Lho kok HPnya mirip punyaku," kata Yopi keheranan.

"Iya. Aku sms dan telpon mama dan temen-temenku juga pakai HP ini," jawab Deluna.

Yopi melongo, tiba-tiba saja dia merasa berdosa dan menyesal telah bicara kasar dengan mamanya sore tadi. Belum selesei rasa berdosa dan menyesal, tiba-tiba Yopi dan Kat Deluna dikagetkan oleh suara.

Tok.. tok.. tok... Tok.. tok.. tok... Suara pintu Yopi diketuk dari luar. Suara itulah yang kemudian mengakhiri mimpi indah Yopi.

"Yop, mandi dulu. Udah jam lima lho," kata mama memanggil.

"Iya maa..," jawab Yopi.

Diambilnya handuk dan baju gantinya dan segera dia membuka pintu dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Melihat Yopi, mama segera mengulurkan segelas jus jeruk yang baru saja selesai dibuatnya.

"Makasih ma," kata Yopi.

Mama tersenyum.

"Ma, ga usah beli HP ya," kata Yopi tiba-tiba.

Mama tersenyum lagi, agak terkejut juga keheranan mendengar kata-kata Yopi barusan.

"HP yang setahun lalu mama beliin masih bisa kok, mending uangnya ditabung aja ya ma," kata Yopi lagi.

"Iya Yop, baguslah kalau kamu ngerti. Soalnya khan kamu udah mau naik kelas empat jadi ada kebutuhan yang lain yang lebih penting untuk sekolahmu," kata mama.

"Iya ma. Maapin Yopi tadi teriak-teriak sama mama ya," kata Yopi sambil memeluk mamanya



****

Tuhan ingin aku mati cantik

"Tuhaaaaaaaann....!! Aku ingin mati cantiiik..!! Kenapa harus ada borok di payudaraku?"
Rasa ngilu dan nyeri yang luar biasa aku rasakan di payudara kananku. Juga rasa gatal yang menghantuiku sejak sebulan terakhir ini menjadikanku semakin tak berdaya. Menggaruknya saja rasanya tak cukup. Kulit yang mengkerut dan bersisik serupa kulit jeruk itu mengelupas dan merah. Kadang juga cairan busuk keluar dari kepundan buah dadaku, kadang kuning, kadang hijau warnanya. Sakit di satu tempat yang merembet ke daerah lainnya, menjadikan punggung sebelah kananku terasa nyeri, pegal dan berat sedang tanganku hanya menggantung di sisi kanan tubuhku, hampir mati fungsi.

Aku lelah. Masih banyak yang belum aku lakukan dalam hidup ini. Emakku yang menua, adik-adikku yang masih balita, sedang aku adalah yang pertama yang mempunyai tanggung jawab atas semua itu.

"Tuhan, kenapa aku harus mengidap borok yang menjijikkan ini? Apa salahku? Pada diriku, pada orang-orang disekelilingku, padaMu?"

"Karena Aku ingin kau mati cantik," bisik Tuhan, yang datangnya selalu tanpa kuketahui dan pergi seketika setelah itu.

"Tapi aku takkan mati cantik," jawabku. Tak berhasil aku mencegahnya berlalu. Dan bukankah Dia seperti itu? Selalu sukses untuk mengaduk-aduk hatiku. Mencampurkannya dengan bahan-bahan yang lain seperti rindu padaNya dan kangen bisikanNya, lagi?

Kembali aku menelusuri tubuhku bagian manakah yang bisa di bilang cantik? Rambutku yang mulai rontok atau kulitku yang semakin layu? Dan pandanganku berhenti pada seonggok daging yang benar-benar tumbuh di dadaku, menekannya sebentar dan merasakan lagi nyeri yang teramat sangat. Sakit ini menjalar kehatiku, meletup-letup dan sampai nanah keluar dari dua ketuban, hatiku dan payudaraku.

"Aku ingin kau mati cantik," bisiknya lagi. Kali ini bisikannya menggema, berulang-ulang, berkali-kali.

"Tuhaaaaaaaaan, aku tidak akan mati cantikkk...!!" teriakku, mencoba menghilangkan gema yang berhasil masuk ke telinga dan hatiku. Menorehkan perasaan lain yang indahnya seperti berada di pinggir jurang terjal. Yang nun di bawah sana batu-batunya meringis menunggu kejatuhanku.

Aku mencoba menyadarkan diriku. Agar tak larut dalam keinginan semu itu, keinginan untuk mendengarkan bisikanNya lagi karena mengusirkannya dari hatikupun aku tak mampu.

Ya, bukankah Tuhan itu hanya air yang mengalir, tapi tak hendak bermuara dihatiku. Tuhan itu hanya angin yang berhembus yang lewatnya hanya untuk membuat bulu kudukku meremang dan rokku tersingkap. Tuhan itu hanya malam yang dingin, yang karenaNya aku menggigil duka. Dan bukankah dia yang tidak mengijinkanku untuk mati cantik, dengan menempelkan kanker ganas ditubuhku yang selayaknya indah, cantik...

"Aku ingin kau mati cantik," kataNya lagi. Dekat, dekaat sekali. Aku rasakan nafasnya menyentuh ujung hidungku. Menggagalkan pemikiranku tentangNya sedetik yang lalu.

"Aku tak akan mati cantiik!" teriakku. Ah, sudah tak sekeras tadi rupanya.

"Aku ingin kau mati cantik," kataNya lagi, lebih dekat daripada dekaat sekali. BibirNya menyentuh daun telingaku. Kata-kataNya bergerak-gerak merangsang dan menggelitikku.

"Aku tak akan mati cantik,"
Bukan teriakan lagi, tapi sebuah kalimat yang datar saja. Tanpa intonasi di dalamnya, tanpa titik, tanda perintah ataupun tanda tanya yang mengakhirinya. Adalah keraguan yang menuju ke simpati atas kesungguhan kata-kataNya.

"Aku ingin kau mati cantik,"

Dan Dia telah masuk kedalamku. Kepalanya adalah kepalaku, tanganNya adalah tanganku, kakiNya adalah kakiku. Sudah matikah aku? Sudah mati cantikkah aku sesuai dengan keinginannya? keinginanku?

"Tuhan, aku ingin mati cantik?"


Aku Diperkosa

Beberapa waktu yang lalu aku diperkosa. Menyisakan aku sebuah perasaan yang pedih melilit dan menyayat hati. Seandainya airmata itu adalah hakku tentulah aku sudah menangis sampai merah darah. Tapi bukankah airmata hanya milik anak-anak orang kaya yang manja dan malas saja? Setidaknya demikian menurut emakku yang selalu menjadi cambukku untuk berdiri tegak menatap kedepan, sebuah jalan yang masih remang-remang.

Kalau kau melihat diriku saat ini, lusuh dan layu, seperti talas yang dicabut paksa, tapi akarnya masih erat memeluk tanah, patah. Rasanya sakit di sekujur tubuhku meresap sampai kedasar hatiku, tidak memberiku waktu untuk berhenti atau sekedar sedikit menghirup nafas tanpa kesedihan.

Hampir saja aku gagal menyembunyikan kenyataan bahwa aku tidak perawan lagi di hadapan emak. Tubuhku lemas, kakiku mengangkang, melangkah terbuka. Rasa sakit di selangkanganku masih menguasai. Sesuatu rasanya masih mengganjal disana.

Dan emak melihat perubahan ini padaku, sebagai seorang ibu hanya satu hal lumrah yang berada di kepalanya dan dilontarkan dalam sebuah pertanyaan yang wajar.

"Nduk, apa kamu lagi mens?" tanyanya.

Aku tersentak, adakah seorang anak gadis yang mempunyai masa ovulasi dini? Aku baru berumur 8 tahun! Antara ketakutan untuk menjawab sejujurnya dan ketakutan untuk berdusta seutuhnya, dan aku mengiyakannya saja. Mengijinkan sebuah kebohongan mengalir pertama kalinya dalam hidupku. Kebohongan yang aku yakini bakal melahirkan kebohongan-kebohongan baru.

Dengan suka cita emakku menggunting handuk dan melipat-lipat rapi untukku. Waktu itu hanya orang-orang kaya di desaku saja yang memakai kapas putih sewaktu mens. Dan aku semakin ketakutan, sewaktu emak memaksaku untuk memakai seutas pakaian yang melingkari dadaku. Dengan kancing mengait di bagian belakang dan dua tali kecil untuk dua pundakku. Dan aku di haruskan memakainya setiap hari, bayangkan setiap hari! Sedangkan tidak ada sesuatu menonjol sedikitpun yang layak untuk ditutupi di bagian dadaku, dadaku rata.

"Kalau kamu gak pakai ini nanti kamu seperti wewe gombel," kata emak.

Mendengar kata "wewe gombel" aku menjadi semakin takut. Kalau aku yang berbibir ndoweh, berhidung pesek dan bergigi besar ini harus di tambah lagi dengan predikat "seperti wewe gombel" yang mempunyai susu (maaf) kleweran, apalah jadinya?

Kata itu pula yang menusuk-nusuk perutku dan membuatku mau muntah. Aku merasakan nyeri menguasaiku lagi, bukan hanya berasal dari pangkal pahaku tetapi juga dari dasar hatiku. Menjadikanku tak mampu untuk sekedar menurunkan kakiku dari ranjang usang peninggalan kakek buyutku.Sehari ini aku hanya mengurung diri dan muram, namun emak mewajarkan hal itu bahkan mengumumkan pada tetangga bahwa anak gadisnya telah dewasa, bah!

........

Setahun....
Dua tahun....
Tiga tahun....
Empat tahun...


Tahun ke tahun berganti juga, sama, seperti biasanya. Pun tak ada yang curiga. Betapa aku pandai menyimpan segalanya, padahal aku baru 8 tahun saja waktu kejadian itu.

Aku mencoba menyibukkan diri dengan plastik-plastik yang berhasil aku pulung dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain. Aku mencoba menyibukkan diri dengan Sum, adikku yang selalu gagap mengeja huruf-huruf abjad di sekolahnya. Sum adalah kekhawatiranku juga, seperti halnya diriku dia juga gadis kecil yang lemah. Dan apalah yang bisa aku lakukan untuk melindunginya dari segala mara bahaya?

Sum, Adik kecilku, semalam pulang kerumah pukul 11. Sesaat sebelum emak pulang dari tempatnya Bu Sarwo untuk memijat. Wajahnya persis sepertiku empat tahun yang lalu.


Kubiarkan dia menangis sendiri, walaupun ingin sekali aku bertanya padanya. Sum telah masuk kamar dan mengunci diri. Sebelum sempat aku berteriak memanggilnya, dia telah membungkamku dengan ucapannya.

"Aku capek, ngantuk!" teriaknya di antara isak tangis yang ditahan.

..........

"Dia kah?" tanyaku pada Sum, keesokan harinya.

Dia yang aku maksudkan, tengah berjalan terdepan diikuti oleh pamong desa dan tetangga desaku lainnya. Berbincang sok arif bijaksana membuat pamong desa dan tetangga desaku mengangguk-anggukkan kepala. Ingin rasanya aku segera meludahi wajah lelaki itu atau memukul kepalanya dengan ranting kayu.

"Dia kah?" tanyaku lagi pada Sum. Kali ini dengan satu tangan memegang erat pundaknya dan tangan satunya lagi menunjuk ke arah laki-laki berkemeja biru itu.

Semenit berlalu tanpa jawaban, tanpa kata "iya" yang kutunggu-tunggu. Tapi kemudian anggukan kepala Sum kembali membawaku pada masa ah...bertahun-tahun yang lalu.

Sama, aku merasakan sakit seperti Sum, aku merasakan nyeri seperti Sum, aku merasakan tangisnya menggugah lagi perasaan pedih melilit menyayat hati.

Oh, bagaimana mungkin aku bisa membujuknya, sedangkan sakit dan luka yang sama juga aku rasakan, masih merah dan tak tersembuhkan hingga kini?

iya

mengapa membiarkannya mengoar seperti kerbau liar
mengapa membiarkannya bernyanyi seperti perkutut manggung

bunuh saja dia
bunuh saja lelaki itu
yang menusuk paksa lubang kehormatanku
yang mengalirkan darah haram ke tubuhku
yang membungkam kebenaran dengan gemintang di kepalanya

bunuh saja dia
bunuh saja lelaki itu
yang mencengkeram gumpalan indah milikku
yang mengikat hatiku pada kepedihan tak berkesudahan
yang mencampakkanku di pinggir malam hampir masuk jurang

bunuh saja dia
bunuh saja lelaki itu
tak akan ada yang menyesal karena hilangnya

sebuah cerpen jelek yang sayang kubuang

DEMO DUA KALI


Cece, kamu ngapain pakai baju seperti itu? We are going to have a demonstration!” teriak dhai-dhaiku yang cina kelahiran Kanada itu.

Yess mam, go demonstration!” jawabku tegas.

“Mana ada orang demonstrasi pakai baju seperti itu?” tanyanya dengan nada meninggi yang lebih mirip sebuah keterkejutan dengan penampilanku.

Kuperhatikan apa yang menempel pada tubuhku. Rasanya tidak ada yang aneh, pikirku. Aku memakai kaos hitam bergambar metal, celana jeans yang terlihat robek disana-sini, juga blangkon warna coklat yang bertengger manis di atas kepalaku.

“Hari ini adalah tanggal 1 Mei, lalu apa yang salah akan penampilan saya hari ini? Bukankah kalo orang mau demonstrasi itu berpakaian seperti ini?” kataku berargumen.

We are going demonstration, right?” tanyaku memastikan.

“Aku ajak kamu untuk demo masak, bukan demo di jalanan itu,” kata dhai-dhaiku.

“Bukan yau hang?” tanyaku kaget. Hampir saja blangkonku terloncat dari kepalaku.

“Bukan, bukaan! Demo masak,” jawab dhai-dhai singkat dan jelas.

Shi fan? Jadi bukan yau hang?” tanyaku lagi.

“Iya shi fan bukan yau hang,” jawab dhai-dhai lagi.

Kawan, jawaban itu tentunya bukanlah jawaban yang aku harapkan. Kerongkonganku mendadak kering, aku tak lagi merasakan setetes air ludahpun yang berada disana untuk melumaskan jalur makananku itu. Kegembiraan yang tadi meluap-luap kini hangus, sudah terbakar dan menjadi debu jugapun hampir beterbangan.

“Iya shi fan, demo masak gitu. Kami mau kamu nunjukin pada mereka bahwa kamu pinter masak nasi goreng ala Indonesia itu. Demonstrasi masak gitu,” tambah Sang sing sang.

“Nasi goreng di tanggal 1 Mei?” tanyaku dengan dahi berkerut dan suara pilu.

“Iya. Lha kamu pikir kenapa kemarin kami suruh kamu belanja banyak banget gitu?” dhai-dhai menegaskan.

“But, tapi ini khan tanggal 1 Mei, Dhai-dhai. Makanan bobo juga sudah saya siapkan. Ini Mayday, Dhai-dhai,” kataku setengah berteriak.

“Lho lha kemarin khan aku bilang sama kamu kalau hari ini kita ada acara, dan kamu kemarin bilang oke, khan?” kata dhai-dhai membela diri.

“Iya. Lha kemarin Dhai-dhai bilang kalau kita akan demonstrasi. On first of May, we go demonstration. Like that, right?”

“Iya. Tapi yang aku maksudkan bukan demonstrasi jalanan itu. Demo masak, shi fan, gitu lho!”

“Saya pikir yang Dhai-dhai maksud adalah demonstrasi yang di jalanan itu, yau hang itu,” jawabku lemas.

Mataku berkedut-kedut. Mendadak cairan panas memenuhinya. Airmataku tentu saja mengalir dengan segera, ndlewer di kedua belah pipiku. Aku tak lagi memperdulikan reaksi singsang dhai-dhaiku yang seketika terkejut melihat jatuhnya airmataku. Kubiarkan airmata itu berjuntaian, sedangkan kedua bosku itu menatapku takjub sekaligus takut.

Aku membayangkan sekarang teman-temanku pasti sedang berkumpul di Victoria Park. Dengan seragam hijau dan hitam dan panji-panji yang diangkat tinggi-tinggi. Meneriakkan tuntutan bersama ratusan atau bahkan ribuan buruh lainnya. Betapa aku ingin menjadi bagian dari mereka. Dan sekarang aku harus terkurung disini dengan wajan dan panci yang siap menanti? Oalah…

Cece, are you Ok?’ tanya dhai-dhaiku cemas.

What? OK? Dasar Ciken alias cina kentir! Lha wong hari buruh sedunia kok tega-teganya aku disuruh mbabu,” gerutuku dalam hati.

No!” jawabku pendek menyentak, hampir-hampir aku sendiri terpental kaget oleh satu kataku itu.

Aku lihat dhai-dhai berwajah takut, kemudian sing sang mengamit lengannya dan mengajak berbincang agak menjauh dariku.

Air mataku masih mengalir. Kudengar sayup-sayup Atun, babu sebelah, mengucap kata “bye-bye” kepada anak asuhnya. Oh dia kini bebas, batinku. Dan semakin deras saja airmataku menganak sungai. Oalah nasib, nasib… Haruskah aku mbabu di hari buruh sedunia ini?

Cece, sorry a. Kami tahu kalau ini adalah hari buruh sedunia. Tapi kami pikir kita sudah membuatnya jelas tentang ini. Kami pikir kamu setuju untuk demo masak siang ini,” kata sing sang.

Cece, emkoi lei a. Kami sudah undang beberapa saudara untuk datang dan menikmati nasi goreng buatanmu,” tambah dhai-dhai. Suaranya terdengar memohon sekali.

Mayday Dhai-dhai,” kataku masih terisak.

Kuusap ingusku yang juga turut berpartisipasi dalam kesedihanku. Kerah kaos hitamku menjadi basah dan agak berlendir oleh ingusku.

Kutatap wajah kedua bosku. Di matanya terlihat kata maaf yang amat mendalam juga kecewa yang teramat sangat. Pemandangan itu seketika menghentikan aktifitas sedihku. Menjadikannya gumpalan-gumpalan simpati sesaat.

“Ah rupanya salah pengertian. Seandainya dari semula sudah jelas demonstrasi macam apa yang akan dilakukan, tentu tidak begini jadinya. Kamu bisa menolak untuk demo masak dan kami bisa mengundurnya di lain hari,” kata sing sang bersintesa.

Dalam hati aku mengiyakan, memang benar kata sing sang. Sendainya dijelaskan sejelas-jelasnya dari awal tentu tidak begini jadinya.

Tim a?” tanya dhai-dhai menggantung. Matanya ada diantara aku dan sing sang.

Oh, rupanya bosku masih punya hati, pikirku.

“OO!!” teriak sing sang seketika. Kata “O” nya menyentak telinga mengagetkan aku dan dhai-dhai.

“Apa?” tanya dhai-dhai.

“Bagaimana kalau kamu libur setengah hari saja, sekarang kamu podhong, nyiapin masakan trus jam 11:30 nanti masak trus setelah masak selesai kamu cepat-cepat libur, gimana? Nanti kami yang beres-beres dapur dan cuci piringnya. Gimana?”

“Saran yang bagus! Tim a, Cece?” tanya dhai-dhai .

Boleh juga saran itu, masih mending libur setengah hari dari pada nggak libur sama sekali, pikirku.

Howak,” jawabku menyetujui.

Pemandangan bertemu dengan teman-temanku dan melakukan tuntutan tergambar lagi. Kali ini bukan dengan kesedihan tapi dengan kebahagiaan hatiku, aku akan berada di antara mereka.

Dan benar saja kawan, jam 1 setelah demo masakku selesai, aku segera meluncur ke Victoria Park. Di sana kutemukan teman-temanku masih melakukan tuntutannya.

“Lha kok kamu telat? Di telpon berkali-kali juga ga diangkat?” tanya Samiatun.

“Maaf, tadi aku lagi demo masak,” jawabku. Kujelaskan secara ringkas tentang demo lain yang kujalankan siang tadi, dan mereka manggut-manggut tanda mengerti.

“Jadi aku demo dua kali hari ini,” kataku pula.

“Oalah…buruan kesini, gantiin aku bawa tulisan ini, tanganku sudah pegel neh!” kata Paijah.

Howak, howak,” jawabku semangat.

Ka yankung, ka yankung, ka yankung!” teriak teman-temanku.

Ka yankung, ka lokong, ka kangkung!!” teriakku.

“Semprul tenan kowe iki!” teriak teman-temanku padaku.

“Nek niat demo kuwi sing nggenah yel-yelannya!” bentak Ipung ketua organisasiku.

Ka yankung, ka lokong, ka kangkung!” teriakku lagi.

“Ineeeeeeeeeeeeeeemmmmmmmmmmmmmm………………………….!!!!!!!






Keterangan:



Singsang/dhai-dhai: Tuan/Nyonya

Cece: kakak(sebutan umum)

Yau hang: demonstrasi

Shi fan: demo masak

Bobo: nenek

Emkoi lei: tolonglah

Tim a: bagaimana

Podhong: masak sup selama 2-3 jam

Howak: baiklah

Ka yankung, ka lokong, kangkung: naikkan/tambah gaji, tambah suami, tambah kangkung.

My Silly Magical Story


"You can do it Ah Shee!" said my employer with her eyes glued to mine.

Followed by five couples, they asked me to tell a story that I have made for the little girl I am taking care of.

I was all wet, cold sweat, really. I've never been pushed to do this kind of thing, not in front of many adults.

Yes it's true that I used to read the story to my little girl(I am taking care of), but one day she got so bored with all of the stories I read to her from her story books.

"Own story cece, own story," she pleaded to me on that day.

My head was totally blank at that moment, empty. I was in the same state for 5-6 minutes, puzzled. But somehow I managed to arrange some words into sentences, and from sentences into story. I was telling her the story, silly magical story. I didn't even give it a title. The story has been her favorite ever since I read for her last week. That means, I have been telling this silly magical story for the entire week.

And now, here, in front of 5 couples and my mam(my boss), 9 kids aged 2,5 to 6 years and 5 maids(domestic helper from Philippine) I have to start again. It was not easy, I felt so nervous.

"Focus Ah Shee, don't mention about us, just think that you are telling the story to the kids only," said my mam(employer).

And that is what exactly I did, and everything went smooth, just like that, like I have nothing to weigh me down at all. You know, it's easier to tell something to kids. You only need to to look at their eyes and smile, and if they smile back to you everything will be a lot easier.


"Far far away, in the very top of the mountain, there was an old castle, I started my story.
"And there lived a witch, an owl and a cat. And then they sleep, and then they woke up, and then..." said Katelyn, my little girl.

"Katelyn! Let cece tell the story!" snapped my mam.

"I wanna help Ah Shee cece, tell the story," she answered plainly. Her face was so innocent and her eyes were not blinking at all, wondering what she has done wrong.

"Yes, but now we want to listen to Ah Shee cece first, there will be your turn to tell the story, okay?" the mam explained.

"OK,"

I started to tell the story again from the very beginning, my story was like this:


Far far away, in the very top of the mountain there was an old castle.

There lived a witch, an owl and a cat.

One night they were sleeping in the very very deep sleep. And all of sudden the cuckoo jumped up and shouted.

“Cuckoo…cuckoo…”

They woke up. Stretched up, opened a big mouth….

“aaughh…”

The first to jump up was the witch, and she said:

“Good morning!”

Then the owl.

“Oo…Oo…Good morning!” said the owl.

And last was the cat

“Meow…meow…good morning!” said the cat with the eyes slightly open.

They made their bed, tidied up the bed and when they have finished they went down the stairs. First went the witch, followed by the owl and the last one was the cat.

When they got to the bottom of the stairs, they went to the cauldron.

“Time for breakfast!” they said instantly.

Into the cauldron they threw 3 eggs, 2 pieces of chocolate, 4 frogs and 2 smelly fish. And they stirred and stirred and stirred and said the magic word.

“Abracadabra, widelwiwii, smack cracrocrop, make breakfast for three!”

Oh no! But something went terribly wrong! Up from inside the cauldron jumped the giant green stegosaurus. Then the stegosaurus chased everyone around the kitchen. They ran and ran and ran away from the stegosaurus. They ran and ran and ran and ran and the stegosaurus went out into the garden.

When he got to the garden, he ate all of the pretty flowers and all of the ripe plums. And when he was finished he went fast a sleep. He was sleeping so deeply because he was so full.

The witch, owl and the cat went back to into the kitchen to make another magic spell to see that they could chase the stegosaurus away.

The put in 3 smelly fish, 2 pieces of chocolate, a bottle of milk and they stirred and stirred and stirred and they say the magic word.

“Abracadabra, wigellywoo, ziggalizag, ziggadizoo!”

Oh no! But something went terribly wrong. They turn into 3 little mice. They went out of the kitchen into the garden where the stegosaurus was fast asleep. And the stegosaurus woke up. He saw the mice and he said: “I am scared of the mice!”

And he ran away. And the mice chased after him, out of the garden and out of the castle.

The mice went back to the kitchen. They were circling the cauldron. Then they jumped right into the spell and they drunk and drunk and drunk everything, until there was nothing to be seen left. And with the last abracadabra, up jumped the witch, up jumped the owl and up jumped the cat. They climbed up the stairs and they were very tired. And they went back to sleep.

"Good night," said the witch.

"Oo...Oo... Good night," said the owl.

"Meow...meow... Good night," said the cat.

And that is the end of the story.


There was loud claps after I finished my story, and when I saw those innocent eyes of the kids, their eyes were glittering in a happy tune. Did my story make them happy? Huhhh...silly magical story huh?!

Calon Istri Kedua

Sudah tak siang lagi, tidakpun sore. Matahari yang telah pergi dua jam yang lalu meninggalkan sepi. Sepi yang membuat gemuruh di dada ini semakin memuncak. Sepi yang membuat keakraban seorang ibu dan anak menjadi gumpalan-gumpalan awan yang diam karena angin tak jua datang untuk mengusirnya pergi dari birunya kalbu. Dan itu menyiksakan.

Tak lepas-lepasnya mata tua yang telah lelah itu menatap jalan-jalan kosong. Matanya lurus memandang sedang ku tahu hatinya disini, disampingku. Mencoba memahamiku dan gagal. Mencoba membujukku dan sia-sia. Mata itu seolah takut memandangku, memandangku yang berarti menengok bayangan di masa mudanya.
Dia mendesah panjang, menutup tirai jendela yang kemudian menjadi penghalang mataku untuk melihat keluar secara jelas. Melangkah gontai menghampiriku seolah seribu beban di kakinya . Yang kulihat bukan beban di kakinya tapi di hatinya. “Ibu, maafkan Nimas,”kataku. Bibirku menganga tapi tak ada sepatah katapun yang terlepas. Kututup kembali bibirku dan aku siap menunggu.

“Haruskah ini turun-temurun ?” tanyanya pilu. Guratan-guratan kecil di dahinya mendadak menebal. Matanya menyipit menahan airmata yang sejak tadi memenuhinya. Dan lagi, dia meninggalkanku. Seolah membiarkan jarak tak menguak kegelisahan hatinya. Berjalan membelakangiku menyembunyikan wajahnya dari hadapanku.Selangkah sebelum dia sampai di depan tirai itu, setetes dua tetes airmata jatuh, aku tahu aku tahu…

“Ibu maafkan Nimas,” kataku dengan segenap keberanian yang terkumpul. “Nimas sudah memikirkannya bu. Nimas sadar akan segala resikonya. Toh mbak Ayu juga mengijinkannya. Bu, kalau ini ibu anggap dosa, biarlah Nimas menanggungnya. Kalau ini ibu anggap aib, maafkan Nimas. Tapi tolonglah jangan sekali-kali ibu anggap semua ini adalah turun-temurun. Ini cinta bu, hati yang bicara. Nimas mencintainya dan Nimas yakin dialah jodoh Nimas bu.”

Masih dengan pandangan yang sama, ibu menatapku. Sekali lagi mencoba memahamiku dan gagal. Berdiri lemas seolah tanpa daya menghadapi kemelut di dalam dirinya. Jarak yang ada di antara Ibu dan aku bukan sekedar sepuluh langkah saja, tapi sepuluh kali kerinduan akan kelembutan , pengertian dan kasih sayangnya. Tersadar bahwa aku butuh kedekatan itu, beranjak ku menujunya. Kuraih tangan tuanya dan dalam hitungan detik tangan tua itu telah basah. Tangisku pecah.

Dia yang mengajariku untuk tabah dan sabar, dia yang selalu sukses menyembunyikan duka, jugapun menangis. Saat itulah aku merasakan kedekatan yang sempat hilang. Saat itulah aku merasakan betapa jarak yang tadi ada seolah sirna di telan ombak airmata kami. Indah, nyaman.

“Lihatlah kamu,”katanya masih dengan airmata yang berlinang.

“Lihatlah ibu,”katanya lagi.

“Tidak cukupkah kamu melihat antara penderitaan dan cinta yang ibu alami sebagai contohmu?” Kurasakan getar suaranya sewaktu dia bertanya, seolah dia sendiri tak mempercayai apa yang telah di ucapkannya.

“Ibu, apakah ibu mencintai ayah ?” tanyaku takut.

“Ya pasti.”

“Apakah ayah mencintai ibu?”

“Tidak di ragukan lagi kaupun tau itu.”

“Dan Nimas pun sama bu. Nimas mencintai mas Panji, mas Panji mencintai Nimas,” kataku mantap tanpa keraguan sedikitpun.

“Tapi Nimas,…”

“Ibu, Nimas mohon izinkan Nimas restui Nimas bu, mengertilah ini bu.”

“Nimas, akankah kau kuat menerima gunjingan itu nak, akankah kau sanggup menghadapi cercaan sebegitu banyak orang ?”

“Nimas yakin pasti bisa bu.”

“Lihatlah ibu. Di mata orang istri kedua itu hina, istri kedua itu pengganggu dan pengacau kebahagiaan istri pertama. Tidak cukupkah ibu sebagai contohmu ? Lupakah kau sewaktu kau pulang sekolah dulu, menangis dan meraung hanya karena mendengar omongan orang tentang ibu ?”

“Nimas sadar, Nimas ingat bu.”

“Nimas, haruskah ini tur…….”

“Ibuu.. !!,” kataku dengan nada yang agak keras menampik kata-kata yang bakal keluar dari mulutnya, membuat ibu seketika menghentikan kata-katanya, terdiam. Saat itu juga aku menyesal telah memanggilnya dengan nada yang keras. Tapi aku tak mau kata-kata itu keluar lagi dari mulutnya, aku tak mau dia menyakiti hatiku dan hatinya dengan kata-kata itu. Aku menatapnya dengan tajam tapi mesra dan terakhir menjawabnya dengan sepenuh keyakinan dan kepercayaan diriku.

“Ibu, Nimas yakin kalau mas Panji itu jodoh Nimas. Nimas percaya kalau mas Panji mencintai Nimas sebesar Nimas mencintainya.”

Kulihat mata yang penuh kekhawatiran itu, mata yang selama ini mampu membuatku merasa teduh dan nyaman, tak berkedip memandangku. Menelanjangi di setiap kata-kataku, sebelum akhirnya menguliti keraguan yang dimilikinya. Berhasilkah dia? Entahlah.

Yang jelas, doa restupun terlempar padaku. Kemenangankukah ini? Mungkin. Semoga ibu mengucapkannya dengan kesadaran bukan keterpaksaan. Dan sudahlah, aku tak hendak berpikir lagi.

Almost Insane

“All I really need to know about how to live and what to do and how to be I learned in kindergarten…. Share everything….”

Some where in a book in which I have forgotten about the writer, I have found those words. Well, that is true for sharing is a good thing to do in life. May be, I have taken so much by those words. It has changed me from country kind of girl into rock kind of lady.

It might be just a little tiny bit of leaping from just simple sharing into a such a thrilling sharing. But half of the world against me.They said that I have assumed it (sharing) wrongly. I think they have misunderstood me, seriously completely misunderstood!

Most say the way I share is impossible, almost insane. See, I am not talking about sharing toys or things here, but love. There is an awesome guy who has made me fall deeply in love (or may be, fall madly in love as well). The guy who can be a prince in any season of my heart. I might have summer, fall or winter in one day but he is always be my sunshine. He is the one who give me brightnes and power to survive. I know, I knew, all of woman may not be as lucky as me but you do have some one (or some hope) for having this kind of man, don't you?

OK, I will make it short! I am falling in love to a 45 years old man. Why 45? This is the age when the man has his prime, the golden year, isn't it? Into addition, 45 years married old man. Oh yes!

So deeply in love I till I feel that sharing him with his wife is very much better than not having him at all. It is normal to me. I don’t care what he has done with his wife out there, I don’t even want to know. All I want is his love when he is with me. That's it! 

I had sex with him, gave him everything. May be a little bit too excessive but this is probably all of my fault. I let him do it without any rejection.  How could I resist it? I never had the power to do it. I am bound to him. I was never be able to separate which one is love nor pleasure. Can you?

 But how can the hell be so different about this "sharing" thing from other's opinion?

“You are sick!” my friend snapped at me.

“ I don’t think so, I am perfectly fit,” I denied.


“You are sick and need a treatment!” she added.


“Oh I see, you hate me telling about him. But he is all topic I have."


There is a long pause, both of us are not paying attention to each other anymore. I don’t know why I feel like vomiting, her words are giving me a sudden sick. I may know her a couple of years earlier than "my man" but she is no matter to me anymore. Ever since her disliking and her thinking of me, that is the end of our friendship. Having her as a friend is like having an enemy under the pillow. It pricks your head and let you bleed to die a lot earlier. When some one is no longer understand you, she is nobody.


I really don’t care if some one says that I am stupid and stubborn because I am. Once I have made up my mind there is no way to change. I love him and that is that!

_______________________________________________





 

nyoba sedikit "miksi" pakek bahasa Inggris, haha!! mawuttt grammarnya....