Srinthil 8: Face Buruk di Facebook  

Posted by Rie Rie in

Ini adalah alasan kenapa Serial Srinthil berhenti total selama satu tahun lebih terhitung dari kisah Srinthil yang terakhir. Untuk itu saya menghimbau kepada pembaca(kalo ada yang baca, hiks..), dengan ini maka saya menghimbau kepada pembaca semuanya untuk membaca dengan mata dan hati. Tidak dengan telinga ato hidung. Selaen itu juga harap dapat menyaring yang kotor dan memasak yang mentah (emang aer??).

Banyak kejadian di luar kebiasaan babu, tapi itu adalah kisah perjalanan kami. Dan karena kami adalah babu-babu yang luar biasa tersebut maka, semua kisah jadi satu adonan gado-gado hidup. Ada suka, duka, ketawa, kejahilan, ndableg, cabe, bawang, kecap, lontong, krupuk, dan dikasih sedikit garam…(lhoo…!!!) tindih menindih, tumpang-menumpang, tumpuk-menumpuk, sambung-menyambung menjadi satu... itulah Indonesia(Ya Olloh Ririiii...kok gaya bahasa cerita Srinthil jadi semrawut?)

"Jiannnngggggkrriiiiiiiikk!!" geramku dalam hati. Sudah tiga kali aku menelpon Srinthil tapi tidak dijawab, sedang sms yang kukirim sejam yang lalupun sepi jawaban. Sudah dua jam aku menunggu, perutku semakin merdu menyanyikan lagu kelaparan, sedang Srinthil yang dua jam yang lalu pamit dan berjanji padaku akan membelikan rujak petis favoritku yang berada di Warung Candra deketnya KJRI itu belum muncul juga.

"Jan-jane munyuk siji iki kemana tho..!" gremengku sendiri.

Teman-teman genk yang lainpun belum muncul karena masih mempunyai urusan masing-masing. Rasanya sepi, walau di sekelilingku banyak teman-teman sesama TKW yang lalu lalang menikmati hari liburnya.

Sudah beberapa lagu juga yang kuputar di notebookku, sembari membantu (koreksi=membantu dengan upah, satu lagu 50 sen)teman-teman yang lain untuk mengisi lagu di MP3, namun tak ada bau ketiak Hindun yang menyengat atau suara compreng Srinthil yang khas yang terdengar dari jarak 500 meter sekalipun.

Iseng, kukunjungi beberapa situs termasuk Facebookku yang sudah seminggu lebih tak tersentuh. Iseng juga kukirim pesan lewat fesbukku ke inbox fesbuk Srinthil, klik..pesan terkirim.

Sepuluh detik berikutnya kuterima pesan dari Srinthil, "Mbak Ri muisi a, aq kelupaan ini lagi berangkat beli rujak petis," tulis Srinthil dalam pesannya.

"Jiaangkriiikkkk....!!" umpatku lagi. "Dasar munyuk ra duwe buntut! Tega-teganya mempertaruhkan hidup matiku dengan fesbuk. Serta-merta kudial nomer Srinthil.

"Anu mbak Rie sepurane, hehehe...ini dalam perjalanan ke warung Candra, muisi a..maap mbak Ri," kata Srinthil.

"Sri, dirimu jadi orang amanah banget ya," kataku sinis. Hati dan perutku teriris luka dan lapar.

"Lha aku itu, anu... aku itu tadi fesbukan, eh ndelalah kok pas online chat ndek fesbuk ketemu sama mas Yudha, trus..."

"Ora ngurus! Ga peduli Mas Arip atau mas Duryudhana balane Sengkuni kuwi, pokoke NO REKEN! Wetengku ki luwe Sriiii!!" teriakku dengan sisa tenagaku. "Tega temen dirimu ki kok malah fesbukan," tambahku.

"Mbak Ri, mbak Ri bilang walao kita babu, jangan sampai ketinggalan informasi dan ilmu. Seperti mbak Ri juga bisa ngeblog tho? Berarti aku bisa fesbukan juga khan? Hari gini mosok ga punya fesbuk? Lha mosok cuma anak sekolahan dan kuliahan, PNS, juragan, ndoro, anggota DPR, atau karyawan perusahaan saja yang boleh punya blog atau fesbuk? Mosok cuma mereka yang boleh narsis dan nulis ini ono suka-suka mereka? Mosok para babu ga boleh bikin blog atao fesbuk? Mosok babu ga boleh menuliskan uneg-uneg kepala, nulis status nyentrik dan misuh-misuh karena bosnya yang kurang sajen?" kata Srinthil membela diri.

"Karepmu Sri, ga ada yang nglarang. Tapi mbok pas kamu fesbukan tadi sikilmu ya mlaku ke warung gitu, ora terus ndeprok pinggir dalan wiridan fesbuk thok! Kalo kayak gitu caramu ntar dapat masalah baru dari fesbuk kamu," kataku.

"Iya..iya...maap, ga gitu lagi deh mbak," jawab Srinthil. Kudengar Srinthil memesan rujak petis, namun perutku tak lagi bisa menunggu. Serta merta kupanggil mbak yang nawarin nasi bungkus yang lewat di depanku.

"Mbak, nasi campurnya satu mbak!" teriakku.

"Lho mbak Ri, aku wes pesen rujak petis iki, wes tak bayar pisan," kata Srinthil yang denger teriakanku.

"Ora urus, pangana dewe karo fesbukan," jawabku sambil mematikan HP.

Oh hari ini pertama kalinya aku mbolos bertemu dengan teman-teman se-gengku. Kusengajakan diriku untuk pulang kerumah (rumah bos) jauh lebih awal dari biasanya, dan kuabaikan beberapa misscall dari temen-temen geng yang menanyakanku. Aku lelah. Sebenarnya bukannya karena hatiku terlalu dongkol dengan Srinthil, karena toh setelah perutku terisi nasi campur tadi marahkupun sudah lenyap. Tapi, ah..entahlah..aku merasa seperti ada himpitan tertentu yang memaksaku kembali bertanya pada diriku sendiri, "Sampai kapan aku akan dicukupkan untuk merantau?"

Emak kemaren menangis karena lebaran kemaren aku membatalkan kepulanganku ke rumah. Berarti sudah terhitung sepuluh kali lebaran aku tidak berada dirumah. Emak kangen, kangen sekali. Ah, seandainya emak tau, kalau aku juga teramat-sangat-kangen-sekali-banget padanya...

Kepalaku berputar-putar, ucapan terakhir emak mendengung-dengung dikepalaku..."Nduk, awakmu kuwi wes dimanjakan dengan kemewahan Hong Kong, makanya takut pulang..." ah apa iya??? Tidak ada yang berubah dengan penampilanku, dari dulu hingga sekarang aku tetap penggemar jeans dan kaos, warna pilihanku juga cuma putih, abu-abu dan biru atau warna polos lainnya tanpa motif sama sekali, rambutku juga masih item, wajahku juga tetap polos tanpa polesan make up, tindikan di kupingku juga cuma satu di masing-maisng kuping...ah...tapi...notebookku...laptopku...koneksi internet yang unlimited dan gratis ini...nikon D90ku...itukah yang dimaksud emak dengan kemewahan itu? Barang-barang yang kudapati dengan perjuangan luar biasa di luar tugasku sebagai babu itu? ah tahukah mereka...?? ah...

.......

Hari demi hari Srinthil semakin jarang sms padaku, padahal Senin pagi waktu dia menelponku dia tahu kalau aku tak sedang marah padanya. Malam hari yang biasanya kami asyik bercengkrama bersama lewat sms gratisan dari smartone, Srinthil juga tak berpartisipasi.

Yang jelas tiap malam saat aku membuka laptop dan mengecek status fesbuk Srinthil, ternyata statusnya berubah-ubah di setiap jamnya, luarrr biasa! "Ah inikah lifestyle babu jaman sekarang?" tanyaku pada diri sendiri.

dreeettt...drreeeettt....dreeetttt....," getar Hpku yang kebetulan aq vibrate saja.

Tertera sebuah nama yang baru saja kita rasani bersama, Srinthil.

"Mbak Riiii...hik..huwaaa..huwaaa....

"Ada apa Sri?" tanyaku bingung.

"Mbak Ri...huwaaaa....aq mau lapor sama MUI mbak...huwaaaa...biar mereka memfatwa haram fesbuk, huwaa...waaa....aq di terminit mbak, huwaaa... Simbokku (bos perempuan) ngamuk a...huwaaa...metu Cinone..huwaaa....," wadul Srinthil disela isak tangisnya.

"Lha masalahe apa kok ada MUI dan facebook dan terminit campur jadi satu?" tanyaku heran campur kaget.

"Lha aq wingi kemaren ga sengaja invite dia di Fesbukku. Khan dari yahoo email itu aq invite semua gitu, lali lupa nek emaile simbok juga ada ndek situ...huwaaa...wa... Trus simbok ngamuk aku, dia bilang gini: "Is this you? Kamu kurang kerjaan ya? Kalo kurang kerjaan ntar tak tambahin kerjaan biar ga dolanan terus. Emange aq ngasih gaji kamu cuma buat nutul-nutul HP thok? Lagian Faceburuk gini kamu pamerin di Facebook?" gitu kata simbokku mbak, hik huwaaa...huwaaa...

"MBak...hik...emang Faceku buruk ya, hik...huwaa waa...,"

"Ya biasalah Sri, babu face," jawabku.

"Maksudnya baby face gitu ya mbak? ah mbak Ri salah ngucap," kata Srinthil.

"Bukan! Babu face kuwi artine rai babu," jwabku jujur.

"Mbak Riiii...huwaaa...elek ngunu ta? hik hiks...

"Trus kamu gimana ini sekarang? Dipecat tenan ta?" tanyaku tak menghiraukannya yang masih mempermasalahkan tentang babu face dan baby face.

"Iya mbak...hik...mau ke agen nyari bos lagi tapi ga mau pulang, aku di Cina aja mbak nunggu visa," katanya.

"Udah nelpon agen belum?" tanyaku

"Uwis,"

"Ya udah kamu di ejen aja dulu atau nyari tempat kos sambil nunggu nyari majikan dua minggu ini, ntar minggu kita ketemu, sekarang aku ga bisa bantu, aku sendiri lagi kerja. Tapi nek kamu butuh uang, ntar boleh pinjem aku," tegasku.

"Makasih mbak,"

Hening sejenak, di selilingi isak Srinthil yang tinggal satu dua...

"Mbak..,"

"Ya,"

"Trus blog e sampeyan piye?" tanyanya yang membuatku kaget.

"Apane sing kepiye?"

"Lha nanti trus Serial Srinthil rak mandeg?" tanyanya serius.

"Wakakaka...kok sempet-sempete dirimu mikir tho Sri.." jawabku.

"Ga usah ditulis aja ya mbak sampek aku dapet majikan sing genah," pesannya

"Ya wes lah gampang," jawabku.

.......

Nah itulah kawan alasan dari kealpaan serial Srinthilku....
jumpa lagi di Srinthil berikutnya karena Srinthil is BACK!!

klik sini untuk selengkapnya....

Perusahaan Abang Ijo vs Abang Putih  

Posted by Rie Rie in

Kawans, ini adalah cerita tentang perusahaan Abang Ijo dan perusahaan Abang Putih, cobalah simak hingga akhir cerita....

Bapak Lesmana adalah pemimpin dari perusahaan Abang Ijo. Dan seperti halnya Raden Lesmana dalam tokoh pewayangan, bapak Lesmana ini seorang pemimpin yang gagah, tampan tapi peragu dan sedikit tolol.

Suatu hari, perusahaan Abang Ijo mengikuti sebuah tender besar. Dalam tender itu dibutuhkan kecepatan dan ketepatan pimpinan perusahaan untuk membuat keputusan.

Bapak Lesmana dengan kepercayaan diri yang meluap-luap berkata, “Aku berjanji, perusahaan Abang Ijo pasti memenangkan tender ini!” Perkataan tersebut tentu saja membuat pegawai perusahaan berbangga hati mempunyai pimpinan yang optimis dan berjanji setinggi gunung.

Kemudian masalah timbul ketika sampai pada pembuatan keputusan. Bapak Lesmana terlalu bijaksana. Beliau menimbang-nimbang beberapa hal dan menerapkan ilmu matematika dalam menghitung untung rugi. Itu dilakukannya berulang-ulang. Kebijaksanaan yang berlebihan yang diterapkan oleh bapak Lesmana ini menjadikannya seorang pemimpin yang peragu, ragu dalam membuat keputusan. Karena ragu membuat keputusan, tender besarpun gagal di dapat dan pegawai perusahaan kecewa terhadap pimpinannya.

Payahnya kejadian seperti ini tidak menjadikan bapak Lesmana menyadari kesalahan dan berbenah diri. Perusahaan Abang Ijo pun gagal mendapatkan tender-tender selanjutnya karena pak Lesmana hanya mampu berjanji tapi tak mampu membuat keputusan. Tidak ada tanda bahwa pak Lesmana mempunyai itikad baik untuk memenuhi janjinya dan memberikan bukti bahwa beliau adalah pemimpin yang mumpuni.

Pegawai-pegawainyanya geram dan mengadakan mogok kerja. Perusahaan menjadi makin terpuruk dan hampir dinyatakan bangkrut. Nah saat itu barulah bapak Lesmana sadar akan kesalahannya dan segera merubah diri dan strategi

Sekarang, ketika perusahaaan Lesmana mengikuti tender atau tawaran kerjasama, bapak Lesmana berpikir cepat, bertindak cepat dan membuat keputusan secara cepat dan tepat pula. Akhirnya perusahaan Lesmana mendapatkan prestise sekaligus prestasi yang luar biasa. Dan bapak Lesmana kini menjadi seorang pemimpin yang disegani sekaligus disayangi oleh pegawai-pegawainya.

……….

Ada banyak cerita serupa yang berisikan tentang nilai hidup seseorang yang berada dalam timbangan baik atau buruk, pahlawan atau pengecut, lakon atau bandit. Kesemuanya mengerucut ke satu sistem tatanan nilai yang hampir sama, bahwa kesetimbangan atas nilai baik dan buruk itu dipertanggungjawabkan pada hasil akhir sebuah proses.

Beruntung bagi bapak Lesmana yang mendapat teguran dari pegawainya lewat pemogokan yang kemudian menjadikannya mengakui kesalahannya dan berbenah diri, Pegawainya pun mengampuni kesalahannya, bahwa salah itu tak mengapa yang terpenting mengakui kesalahan dan jangan melakukan kesalahan yang serupa lagi.

Lepas dari kultur ketimuran atau pola pikir ketimuran, masyarakat manapun, termasuk Indonesia dan Buruh Migran Indonesia-Hong Kong (BMI-HK) pada khususnya, tentu mempunyai pemikiran yang sama. Bahwa kita menghargai sebuah proses sekaligus hasil akhir.

Seperti halnya BMI-HK menunggu sebuah proses dan progress dari pemerintah Indonesia untuk membuat kebijaksanaan dan perlindungan bagi buruh migran pada umumnya dan BMI-HK pada khususnya, namun hingga kini kebijaksanaan dan perlindungan itu masih sebatas janji. Padahal, perlindungan dan kebijaksanaan pemerintah terhadap BMI adalah happy ending dan romantisme dari kisah cinta warga negara (BMI = warga negara) dan pemerintahnya.

Banyak hal yang bisa dilihat dari ketidakromantisan pemerintah. Seperti terminal IV khusus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang di maksudkan untuk melindungi dan memberikan kenyamanan pada TKI yang baru pulang, ternyata tak lebih dari sebuah gedung megah tempat mangkal para kriminal yang berseragam. Terminal IV itu “rencananya” akan ditutup, namun catat kawan, itu baru “rencana”, entah akan diwujudkan atau tidak tergantung dari pemerintah yang katanya masih berpikir tentang opsi lain yang lebih baik.

Pelanggaran hak asasi manusia pada buruh migran seperti gaji di bawah standar, pelecehan seksual, kekerasan, potongan agen yang mencekik, penahanan paspor adalah momok bagi BMI, yang puluhan tahun sudah berjalan tanpa perbaikan yang berarti.

Konvensi PBB tahun 1990 tentang perlindungan buruh migran yang ditandatangani oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2004, sampai saat inipun belum diratifikasi padahal jelas ratifikasi konvensi buruh migran ini sangat diperlukan sebagai dasar dari pembentukan kebijakan bagi buruh migran. Pemerintah malah menyerukan dakwahnya dengan mengajak para BMI untuk bersabar. “Tunggu sampai pemerintah siap, sabar ya,” kata Muhaimin Iskandar, Menteri Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi (menakestran) pada dialog yang diadakan di aula gedung Konsulat Jenderal Republik Indonesia-Hong Kong (KJRI-HK) lantai 20, Minggu (27 des ’09).

Meskipun desakan-desakan kepada KJRI untuk meningkatkan pelayanan secara maksimal dan memberikan perlindungan terhadap BMI juga desakan-desakan kepada pemerintah Indonesia untuk meratifikasi konvensi PBB tahun 1990 sekaligus membuat kebijakan baru dan perlindungan utuh sebagai kewajiban dari pemerintah kepada warganya telah dilakukan berulang kali, namun baik KJRI-HK maupun pemerintah masih adem ayem menyaksikan telenovela dari serial drama duka BMI. Pun beberapa dialog yang sempat digelar bersama KJRI dan menakestran, tak lebih hanya sebuah ajang silaturahim yang dipaksakan.

Kesemua itu menunjukkan timbangan kebaikan pemerintah Indonesia yang jauh dari harapan. Ibaratnya janji sudah setinggi gunung, namun bukti baru sebatas mata kaki (antagonisme antara janji dan bukti). Wah rupanya dari tahun ajaran lama (pemerintahan lama) hinggga beberapa kali ganti tahun ajaran (ganti kepemerintahan/pemimpn), tetap saja menggunakan kurikulum (janji) yang sama ya?

Ah, seandainya pemerintah bisa searif bapak Lesmana yang menyadari kesalahannya kemudian memperbaiki diri dengan membuat keputusan secara cepat dan tepat, tentu antagonisme antara janji dan bukti ini tak akan pernah terjadi. Hubungan BMI dan pemerintah/KJRI pun akan mesra lagi, romantis lagi dan sejalan hati.

Apakah mustahil adanya happy ending dari kisah cinta antara BMI dan pemerintah?

klik sini untuk selengkapnya....

Dancuk! Bojoku Rabi Maneh!  

Posted by Rie Rie in

"Dancuk! Bojoku rabi maneh!" jerite Suwanti kanthi luh dleweran lan ulat getem-getem. Tangan kekarone nggedhor meja sakrosane. Dene HP-ne mencelat saknalika, nyampluk sikile kenya ayu kang pinuju liwat ing sacedhake.

Aku minggir, rumangsa wedi nyawang kahanan atine Suwanti kang lagi kebranang. Age-age wae aku mrangguli lan nyuwun pangapura marang kenya ayu kang meh wae nesu nyawang patrape Suwanti. "Sepurane jeng, iki mbakyuku lagi susah atine merga ditinggal rabi maneh karo bojone," kandhaku alon marang kenya kuwi mau. Kenya kuwi ngadoh kanthi lambe mecucu.

Aku judeg, ora ngerti apa kang isa kinucap kanggo ngarih-arih dheweke. Apa ya ilok menawa aku menehi wejangan marang dheweke amarga aku dhewe uga nate ngalami kedadeyan kang pada plek setahun kepungkur? Kaya dene Suwanti, setahun kepungkur bojoku rabi maneh tanpa palilahku. Lelakon kaya ngene iki ora mung siji loro kedadeyan marang wanita kaya aku lan Suwanti, atusan, malah menawa uga ewon cacahe.

Ora salahku menawa dadi wong ora duwe, kere. Uga dudu salahe Suwanti utawa wanita-wanita liyane. Kuwi mana wis ginaris dening Gusti Kang Murbeng Dumadi lan kita mung saderma nglakoni, rak ya ngono tho? Dene ora sak jamake menungsa pasrah marang nasib, mesthi ana pambudidaya amrih becike urip.

Cekak aose aku lan Suwanti mana mbabu ning Hong Kong, ninggalake bojo lan nyengkut makarya. Nyikut sekabehing rasa sedih uga sepi, pamrihe muga-muga bisa dadia dalan tumuju becike dina ngarep lan bebrayan. Kabeh mau wes ana palilah lan niat bismillah.

Tak kandhani ya, aku lan Suwanti ora nate milih dadi babu, ora! Iki mana kebutuhan. Dudu pilihan. Diarani pilihan mana menawa ana pilihan apik lan elek, dadi isa di gawe bahan pertimbangan ngana kae. Tuladhane milih mangan karo sambel trasi apa opor. Karuan nek opor luwih enak tinimbang sambel trasi, amarga sambel trasi kuwi rak gawe sereden tho? Beda karo opor, opor isa gawe kewaregen, ngentek-entekke sega sewakul!

Lha iki apa tumon ana pilihan kang kaya mengkene, milih dadi forever kere apa babu? Rak ya kojur tho? Ora adil, wong menehi pilihan kok padha-padha rekasane! Mangkane dadi babu kuwi dudu pilihan nanging kebutuhan.

Ndilalah sing jenenge pacoban urip kuwi maneka warna. Owah-owahan kuwi gawa bubrahing suasana. Sapa sing salah? Apa aku utawa Suwanti lan wanita-wanita sing oncat ninggalake negara lan bojo? Geneya akeh uwong kang alok menawa bubrahing keluarga merga wanitane lunga yen menawa lungane mau wes entuk palilah lan dadi niate wong loro? Geneya kita wanita sing wes rekasa keraya-raya kerja ninggal keluarga sing dituding dadi punjering masalah? Kuwi ora adil! Geneya ora nyalahke negara wae sing ora kasil gawe makmure rakyate?

Ora krasa luhku dleweran rerasan lara lapa sing di alami dening wanita-wanita kaya aku. O ndonya...

"Brakkkk!!" suara meja di gedhor maneh. Sedela wae akeh mata kang nyawang Suwanti. aku rumangsa sumpek ing tengahing taman kang padatan di enggo ngaso para babu ing Hong Kong nalika wayah libur kerja kuwi.

"Wes tho Wan, sabar...sabar," kandhaku marang Suwanti padha plek karo apa kang kinucap dening Suwanti marang aku setahun kepungkur. Nyoba ngarih-arih lan ngelus-elus pundake nanging tanganku dikibatake kanthi kasar. Ah, biyen aku uga kaya mengkono, pikirku.

"Aku salah apa Sar? Aku kurang apik piye? Huu...uuu..," pitakone Suwanti marang aku karo mingseg-mingseg, pitakon kang padha kaya sing nate dak takonake marang dheweke.

"Kowe ora salah Wan," jawabku.

"Aku kurang apa Sar? Aku kudune kepriye? Huu..uuu..," pitakone maneh.

Meh wae dak wangsuli, "Kurang cedhak Wan" nanging dak wurungake. Ndah ne laraning atine Suwanti yen aku nyalahke dheweke wektu kuwi. Apa ya kudu nyalahke kahanan? Ah embuh...

Yen amarga kurang komunikasi lha wong Suwanti ya kerep caturan karo bojone lewat telpon. Kebutuhan ben dina sasat dicukupi karo Suwanti, malah kala-kala Suwanti ngemenke ngirim klambi utawa panganan karemaning bojone saka Hong Kong. Malah uga saking gemine Suwanti kanyata wes kasil gawe omah kramikan barang.

"Aku kudu priye iki Sar? Rong minggu engkas aku bali kok malah ana kabar kaya mengkene, huuu...uu...,"

"Sabar Wan, dileremake atine. Yen bali aja nganti kowe katon kalah ning ngarepe bojomu, aja kaya aku. Tatagna atimu, aja pamer luh Wan," kandhaku, nanging luhku dhewe dleweran nalika aku ngrangkul raket Suwanti.

Ah rasa iki, rasa kang padha karo sing nate dak rasa, ya rasa iki uga kang gawe raketing kekancan kaya paseduluran.

Aku ndhangak, apa alam iki ora krasa menawa ana ati kang lagi kelara-lara? Geneya abang kuning, ijo, biru, ungu kluwung gumantung ing angkasa mbarengi gonjang-ganjinging ati kang diblenjani tresna?


ANA CANDHAKE...

klik sini untuk selengkapnya....

Kunjungan Menakestrans Di Sambut Demo  

Posted by Rie Rie in

Minggu (27 Des'09), kedatangan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (menakertrans), Muhaimin Iskandar, ke Hong Kong dalam rangka kunjungan kerja yang teragenda dalam 100 hari kerjanya selaku menakertrans baru di sambut demo oleh anggota Indonesian Migran Union (IMWU).

Demo di gelar di depan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) mulai pukul 10:30 AM hingga pukul 1:30 PM waktu setempat, tepat di saat menakertrans cs dan KJRI melakukan dialog bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan 50 orang perwakilan dari semua organisasi Buruh migran Indonesia (BMI=TKW).

Dalam demo tersebut mereka menuntut adanya pelayanan maksimal kepada BMI, perlindungan kepada BMI berupa penindakan tegas kepada agen atau PJTKI nakal, ratifikasi konvensi buruh migran. Hal lain yang di singgung adalah pembubaran terminal IV dan pelibatan BMI dalam pembuatan kebijakan tentang BMI.

"Lihat, pak mentri datang dengan uang kita, ingin tahu tentang kita. Lalu setelah tahu bisa apa? Dari jaman pemerintahan dulu sampai sekarang janjinya muluk-muluk mau melindungi kita (BMI) tapi buktinya mana? Masih banyak pemerasan bahkan di terminal IV yang katanya terminal itu didirikan untuk melindungi TKW yang lagi mudik, tapi apa? Di sana banyak kawan kita yang malah diperas dan diancam. Potongan agen yang katanya lima bulan buktinya masih tetap potongan tujuh bulan. Olehe sengsara mangan omelan dan ngosek WCne Cina di pakek buat mbayar agen. Agen menahan paspor kita juga tidak ditindaklanjuti. Saat kita butuh pelayanan oleh KJRI, KJRI-ne malah tutup. Tong kosong bunyinya nyariiiing!" kata Anik, wakil ketua IMWU dalam orasinya.

"Kita butuh bukti, bukan janji!" teriak mereka bersama-sama.

klik sini untuk selengkapnya....

Iwak Lohan Made in Hongkong  

Posted by Rie Rie in


Ketika kata “maling uang rakyat” diganti dengan kata “koruptor” ianya dimaksudkan untuk memperhalus bahasa. Di sini penghalusan bahasa(eufimisme) yang dilakukan menjadikan kita tampak lebih santun dan beradab, meskipun kata koruptor itu sendiri adalah sebuah kata serapan dari bahasa Inggris, corrupt, toh kata serapan tersebut lebih dinilaiartikan daripada bahasa sendiri. Karakter orang Indonesia yang ramah dan sopan sangat mendukung penghalusan bahasa ini, walau sebenarnya bahasa Indonesia telah dihagemoni(dikuasai tanpa sadar) oleh bahasa asing.


Sama halnya dengan kata “babu” yang kemudian di perhalus menjadi "pembantu", dan bila sang pembantu ini keluar negeri(untuk mbabu) maka akan diperhalus lagi sebutannya menjadi "Tenaga Kerja Indonesia Informal(TKII)" atau bahkan lebih kerennya lagi dengan pangkat “Pahlawan Devisa” eufimisme tersebutpun dimaksudkan sama yaitu untuk memperhalus bahasa. Sayangnya bahasa yang terdengar halus ini tidak di barengi dengan nilai kesantunan dan keberadaban. Apalagi kalau TKII yang dimaksud adalah TKII Hongkong, sudah karib suatu "prokem" untuk menambahkan candaan dengan frasa 'Hongkong', sampai sebuah lagupun asyik di goyang dengan frasa “hongkong” …dandan moblong-moblong, kayak bintang Hongkong(Iwak Lohan).

Payahnya masyarakat seolah terlena dengan eufimisme pada maling uang rakyat dan babu ini. Sedangkan, banyak rakyat awam yang berada di daerah-daerah terpelosok yang masih belum mengetahui arti dari kata koruptor yang sesungguhnya. Ramai mereka(rakyat awam) hanya ikut-ikutan saja meneriakkan yel-yel anti korupsi tetapi ketika ditanya tentang arti korupsi atau koruptor yang sebenarnya merekapun tak tahu, sedangkan koruptornya sendiri melenggang dengan bangganya karena toh sebutan koruptor terdengar keren.

Mungkin beda halnya kalau mereka di sebut sebagai maling, rakyat akan segera paham dan tanggap dan mungkin juga sang koruptor akan sedikit mikir untuk melakukan tindak korupsi karena rasa malu,. Maling gitu loh...siapa seh yang tak akan malu kalau di sebut sebagai maling? Ah! Atau seandainya saja KPK(Komisi Pemberantasan Korupsi) di ubah menjadi KPMUR(Komisi Pemberantasan Maling Uang Rakyat), maka semua akan melek arti. Tapi lagi-lagi karena orang Indonesia itu ramah dan sopan dan bahasa serapan itu lebih dinilaiartikan, maka hal itu(eufimisme) di lakukan. Apalagi kalau dilihat KPMUR itu adalah singkatan yang terlalu panjang, ah susah menghafalkannya!

Lain koruptor lain pula TKII. Dalam penghalusan kata ini justru yang menjadi korban adalah TKII itu sendiri, sudah menjadi korban prokem nasionalis yang sengkuniisme(pengamalan atas sifat-sifat Sengkuni), masih pula sebagai korban trafficking dan atau kebijakan pemerintah yang (belum) bijak sebagaimana seharusnya. Eloknya seorang pahlawan(pembantu=pahlawan devisa) adalah mereka yang dielu-elukan karena keberhasilannya membawa perbaikan/kemajuan bagi sesiapapun ataupun negara, namun rupanya pahlawan yang satu ini(pahlawan devisa) justru kerap dielu-elukan penderitaannya atau dielu-elukan dalam artian melecehkan.

Bagaimanapun eufimisme yang digunakan untuk memperhalus bahasa terhadap kata "babu" ianya tak akan berguna bila tak dibarengi dengan tindakan menghargai dan mengakui bahwa mereka itu manusia dan pekerja. Manusia yang perlu dimanusiakan dan pekerja yang perlu dihargai keberadaannya dan dilindungi hak-haknya. Kalau bisa memilih tentu saja para pembantu itu lebih suka di sebut sebagai babu dengan perlindungan hak dan dimanusiakan daripada di sebut sebagai pahlawan devisa tetapi hak-haknya di rampas dan di diskriminasi. Leres tho mbak yu?

Kawans, itu hanya dua buah contoh dari salah kaprah fungsi dari majas eufimisme, masih banyak lagi salah kaprah yang lain, yang belakangan amat di gandrungi untuk menutupi fakta yang sebenarnya.


(sengaja membuat judul yang nyleneh dan kurang nyambung dengan isi tulisan, hehehe... Thanks to pujangga78 atas inspirasinya)

klik sini untuk selengkapnya....

Mengikhlaskan  

Posted by Rie Rie in


Kabar itu begitu singkat tersurat dalam satu kalimat yang terdiri dari tiga suku kata: "Nduk, mbahe meninggal". Ianya terkirim via sms pukul 5 pagi hari ini tanggal 11 oktober 2009. Innalillahi wa innalillahi rojiuunn...

Terkenang percakapan dengan beliau saat aku menemuinya sewaktu aku mudik dua bulan yang lalu, nenek menangis seperti anak kecil karena tidak diijinkan untuk menjemputku di bandara.
"Mbakyumu kuwi nakal kok, aku mau isuk wes adus wis salin tapi kok gak oleh melu mapak kowe. Aku pengin weruh kowe mudhun saka montor mabur," katanya sambil sesenggukan. Kami tertawa mendengarnya. Usianya sudah 90 tahun lebih(kami tak tahu usia sesungguhnya) sifatnya menjadi kekanak-kanakan dan manja. Saat itu nenek sedang sakit sehingga mbakku tidak mengijinkannya untuk ikut menjemputku. Innalillahi wa innalillahi rojiuunn...dariNya kembali padaNya, berusaha untuk mengikhlaskan kepergiannya, semoga nenekku di terima di sisiNya. Amiiinn...

klik sini untuk selengkapnya....

Surat Seorang Istri Yang Jadi TKW  

Posted by Rie Rie in

Aku menangkap wajah cinta seorang ibu dengan bola matanya yang berbinar indah ketika sabtu kemaren aku menikmati pening kepalaku di pinggiran Victoria Park.(bukan dalam gambar, gambar itu cuma diambil dari web yang ..udah lupa linknya).

"Wis maem durung Le(sudah makan belum Nak?)?" tanyanya pada anaknya lewat hubungan kawat.

Betapa merdu terdengar kata-kata itu. Selama ini aku hanya menjadi pendengar atas pertanyaan itu, belum menjadi penanya(secara aku belum beranak). Aku merinding merasakan dasyatnya pengaruh dari kalimat tanya itu, betapa tulus dan mesranya... Maka kuputuskan menikmati pening sambil menguping obrolan sang ibu.

"Kenapa mbak?" tanyaku lugu setelah selesai percakapannya. Kulihat sang ibu tersebut mengusap sudut matanya.
"Aku kangen anakku," katanya sendu.
"Sing sabar dan tabah mbak," bujukku.

Ya benar, hidup adalah sebuah pilihan. Menjadi TKW juga pilihan, sekalipun itu bukan pilihan yang layak disebut sebagai pilihan. Seseorang memilih menjadi TKW tentunya tidak semudah memilih mau makan dengan sambel trasi atau dengan ayam panggang. Keputusan yang tentu saja membutuhkan renungan yang panjang, pemikiran yang dalam dan pertimbangan yang matang. Seandainya saja hidup ini semudah apa yang pernah didendangkan oleh koesplus...

Surat Seorang Istri Yang Jadi TKW

Mas,
Apakah Ucok sudah minum susu?
Apakah Mas masih main kartu?
dari uang yang kukirim seminggu yang lalu
dari perasan keringat dan airmataku

Mas,
Pernahkah Ucok bertanya padamu
Pernahkah dia berseru
"Dimana emakku, aku rindu!"
Betapa itu lagu termerdu
di sela piluku

Mas,
Kemarin aku bermimpi
Kau kembali menjadi lelaki
dan aku menanak nasi
Kapan mimpi bisa terbukti

Mas,
Aku lelah berjumpalitan
Bertukar peran
Aku ingin kembali
menjadi istri

Mungkinkah mas?

klik sini untuk selengkapnya....

Dari YM ke Facebook, Cinta...oh...Cinta  

Posted by Rie Rie in


Cinta tuh..
ada karena kita bisa saling mengerti,
saling peduli, comfort/nyaman..

but terus gimana kalau semua itu bisa kita dapat dari dunia maya????,,,,is that love or just having fun??


Ada 3 demam yang terjadi di Indonesia sejak sebelum Juli tahun 2009, yaitu Pemilu, BBM dan Facebook. Taruh saja demam pemilu sudah lewat, juga demam BBM yang sudah mulai "dimaklumi". Namun demam facebook ternyata maha dasyat sehingga panasnya masih dirasa hingga saat ini.

Pertumbuhan pengguna facebook di Indonesia sangatlah luar biasa. Menurut checkfacebook.com(25 Sept'09) Indonesia merupakan negara terbesar ketujuh pengguna facebook sebanyak 9.642.620 orang. Indonesia menurut Alexa.com berada pada posisi kelima penyumbang trafik tertinggi ke situs facebook.com. Dan bahkan peta “top-sites” (masih menurut alexa.com)yang dikunjungi oleh pengguna Internet di Indonesia telah berubah. Facebook.com kini merangsek ke pertama, mengalahkan Google.com dan Yahoo.com.

Bayangkan! Mulai dari Presiden, sampai dengan anggota Persatuan BCA(baca=Babu Cina Asing alias TKW) sekarang mempunyai waktu dan cara yang unik untuk menjelajah dan berlenggang di jejaring sosial yang satu ini.

Sering si Liya, teman saya(seorang babu HK seperti saya) terlihat masyuk di pojok dapur. Kadang tersenyum sendiri kadang pula cemberut. Tangannya aktif seperti gerakan orang bertasbih sedang bibirnya menciptakan guratan-guratan perasaannya. Namun rupanya si Liya bukannya sedang bertasbih ataupun wiridan melainkan update status atau memberi komentar atas status-status temannya. Beruntung bos Liya adalah sepasang nenek kakek jompo yang hanya makan bubur setiap harinya, jadi kegiatan bertasbihnya tersebut aman-aman saja.

Ada juga seorang anggota DPR yang saking rajinnya dan tidak ingin mengecewakan rekan ataupun fansnya kemudian memanfaatkan waktu di sela-sela rapat paripurna untuk sekedar menengok facebook tercintanya.

Praktis memang, jejaring yang satu ini. Segala informasi dapat di lihat di sini, ianya seperti buku telpon, seperti buku alamat, seperti diary, sekaligus seperti ajang kenarsisan(hayuh ngaku!!). Facebook adalah sebuah fenomena yang fenomenal.

Ada satu hal unik yang sering aku jumpai belakangan ini ketika aku membuka facebookku, ianya di penuhi dengan status yang indah bak seorang yang sedang kasmaran, dengan gombalan-gombalannya mulai dari gombal mukiya hingga gombal mbelgedes.Herannya cuma menggombal di facebook atau dunia maya saja kok ya manjur gombalannya, buktinya wall/dinding facebookpun di penuhi dengan cinta mode on**. Sayangnya setelah mereka putus kembali status dan wall facebook berisikan sumpah serapah,cacian dan makian. Mbok yao di tulis di inbox khan bisa tho, kok sukanya mempermalukan diri sendiri...

Di jamannya Yahoo Messenger/chat masih di puja sebagai dewa penghubung, hal seperti ini juga sering terjadi. Ada yang benar-benar cinta(serius) tapi tak sedikit juga yang tipu daya, hanya kesenangan sementara saja.

NIAT, kejujuran dari kedua belah pihak menjadi dasar dari hubungan di dunia maya ini, bagaimanapun YM/e-mail/facebook hanyalah sebuah sarana atau media, sepenuhnya itu tergantung dari diri kita sendiri untuk mengapresiasikannya. Kadang secara sadar atau tidak kita tidak menjadi diri kita sendiri, menciptakan image baru dengan tujuan untuk mendapat simpati, ini petaka.

NALAR, bener ga seh si dia naksir atau suka sama kamu? Gelagat atau gestur seseorang pasti kentara kalau dia menerima kita dengan lapang dada. Asal ga kepedean saja menyimpulkan sesuatu, artinya jangan menilainya dari satu sisi saja.

NYOCOKIN, dalam segala hal. Pengertian dari kedua pihak adalah mutlak, nyocokin juga berarti bertemu. Walaupun niat sudah ada dan sama, jugapun sudah bisa dinalar namun tetap saja bertemu difatwakan wajib.

"Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." (QS. 16 : 1).


(merenung untuk diri sendiri dan seorang kawan yang di landa bimbang...)

klik sini untuk selengkapnya....

Bila Majikan Adalah Gusti Yang Makan Babi  

Posted by Rie Rie in

Dia hanya berbobot 39 kilogram, dengan tinggi badan 158 cm, bayangkan! Wajahnya pucat, mengingatkanku akan Edward di film Twilight, film vampire falling in love yang sukses itu. Tulang-tulang tubuhnya yang panjang tampak menonjol dengan kentara. Tulang pipi dan dahinya semakin jelas sedang matanya cekung dan berlingkar hitam. Namun senyum itu masih samar terlihat di bibirnya yang kering pecah-pecah, sewaktu bertemu denganku minggu 20 September 2009.

Biasa kupanggil dia Cus, 31 th berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Seperti halnya aku dan dua orang temanku yang menjumpainya hari itu Cus adalah TKW-Hongkong. Aku mengenalnya 5 tahun yang lalu sewaktu masih di Indonesia.

Benar, manusia membawa nasib sendiri-sendiri di bahunya, ketika aku masih setia pada satu majikan selama 4 tahun ini maka tidak demikian yang terjadi pada Cus, dia telah ganti 3 majikan. Kontrak pertamanya berhasil diselesaikannya dengan susah payah, kemudian di terminit(di PHK) setelah 3 bulan kerja di kontrak keduanya selanjutnya dia memutuskan kontrak pada majikan ketiganya setelah tak lagi mampu menerima siksa bathin dari majikannya.

Bertempat di daerah Leon Court, Wong Nai Chung Gap Road dimana rumah seluas 2.200 sq ft dengan sepasang nyonya-tuan dan anak perempuannya tinggal di situlah Cus mengalami tekanan bathin.

Sering Cus mengeluhkan padaku tentang gajinya yang di bayar telat, tentang liburnya yang tak teratur, tentang kerjanya hingga pukul 1 malam, tentang HP dan buku-bukunya yang di sita, tentang makanannya yang tak sehat(tidak segar karena makanan sekali masak untuk satu minggu), juga tentang bosnya yang terkadang mempraktekan jurus tampar muka kepadanya juga aji-aji marah bin misuh-misuh. Singkat kata semakin lama bekerja dengan nyonya-tuan yang luar biasa tersebut Cus mengalami depresi.

Ada lagi satu hal yang menakjubkan sekali yang di lakukan oleh sepasang nyonya-tuan bermobil 2 tersebut kepada Cus, mereka memberhentikan jatah makan Cus ketika Cus menyampaikan bahwa dia tidak makan babi. Praktis Cus harus rela mengeluarkan dolar demi dolarnya di setiap liburnya untuk membeli stok makanan. Lha wong tenagane di peres kok wetenge babune ora di urus, menakjubkan sekali!

Terhitung sejak 12 Agustus 2009 Cus menyerahkan one month notice(surat peringatan pengunduran kerja sebulan sebelum dia keluar dari pekerjaannya) dan sejak saat itu seharusnya Cus hanya oleh tinggal di rumah majikan tersebut hingga 12 September 2009(seharusnya kontrak kerja berakhir tgl 12 sept, untuk kemudian Cus masih boleh tinggal di HK selama 14 hari lagi setelah kontrak kerja berakhir). Namun entah karena sang bos masih mempunyai rasa sedikit cinta kepada Cus atau entah karena apa kepulangannya diundur. Sedang jatah tinggal 14 harinya setelah selesai masa kontrak di tiadakan oleh sang nyonya-tuan karena nyonya-tuan kemudian membelikan tiket kepada Cus dengan waktu yang mepet.

Kepada Agensi di mana Cus disalurkan sang nyonya mengatakan bahwa dia telah membelikan tiket jurusan Hongkong-Surabaya untuk Cus pada tanggal 20 September 2009. Aneh bukan? Cus yang tinggal di Kebumen/jawa tengah tetapi tiket pesawatnya jurusan Surabaya. Lebih anehnya lagi adalah tiket tersebut tidak diserahkan kepada Cus dengan alasan sang nyonya membeli tiket dengan menggunakan passpor Cus jadi nyonya bilang tidak usah menunjukkan tiket tidak apa-apa cukup dengan menunjukkan passpor.

Pukul 11.40 pada September 2009 kami(aku, Cus dan 2 orang kawanku yang lain) berangkat menuju Hongkong International Airport dengan canda tawa tanpa mengetahui bahwa kegemparan akan kami dapati di Airport. Cus pun terlihat bahagia bisa terlepas dari tekanan bathinnya dan akan segera bertemu dengan keluarga pada lebaran kedua.

Antrian yang puanjaaang berlipat-lipat panjangnya dari hari biasa(selamat kepada Garuda IA), menguji kesabaran kami hingga perutpun berdendang lagu kelaparan sedang pantat tak habis-habisnya mengeluarkan bau yang tak enak, ya benar, kentut. Beruntung ada mbak-mbak yang jualan nasi bungkus dan jajanan di airport. Tapi karena tinggal dua bungkus saja maka kami berempat layaknya bebek kelaparan saling sosor satu sama lain dengan tak lepasnya pula ketawa dan grememengan juga cekikikan(tipikal Rie Rie cs).

Waktupun tiba ketika sang petugas melambaikan tangannya kepada kami dengan senyum termenawannya dan kebetulan dia adalah petugas yang paling tampan di antara deretan petugas-petugas yang lain, namanya lupa karena kemudian pembicaraan kami mendadak menjadi serius.

Sang petugas meminta E-Ticket(Electronic Ticket=tiket pesawat) dan Cus hanya mampu memberikan passpor saja. Ketika sang petugas menyatakan bahwa tak ada tiket dengan nama Cus di hari itu kami seperti tersengat listrik bertegangan 400 volt, kok bisa??!! Aku meminta sang petugas untuk cross check, mengechek dari minggu sebelumnya hingga hari itu(tgl 20 sept) juga hari-hari setelah hari itu(setelah tgl 20 sept) selama 15 menit kami berada di depan konter dengan perasaan dag dig dug, bahkan sang petugas hingga mengecek di kelas executive. Kemudian di dapati bahwa pada tanggal 21 September(senin) ada penerbangan ke jurusan Surabaya dengan nama Cus, namun petugas tak berani memberikan ticket itu kepada kami dan menyuruh kami pulang mengambil tiket. Cus pucat pasi, airmatanya hampir jatuh.

Kemudian seorang petugas lagi datang menghampiri kami, ku jelaskan semua bahwa kami tidak mempunyai tiket karena sang bos tak mau memberikan tiketnya kepada Cus. Perdebatan antara aku dan dua orang petugas di airportpun tak terelakkan, setengah jam aku berargumen bersama mereka, hingga sebuah keputusan pun di dapat aku harus membayar 160 dolar untuk memajukan penerbangan dari tgl 21 menjadi tanggal 20 sept, aku sepakat tetapi rupanya Cus tak beruntung. Kepala petugas datang dan menekantegaskan bahwa setidaknya kami harus memberitahu nomer tiket saja untuk mendapatkan penerbangan hari itu. Cus menghubungi majikannya dan dengan suara rendah memohon kepada sang nyonya untuk memberitahukan nomer tiketnya tapi sang nyonya tidak memberitahukan dengan berasan dia sedang ada di kantor, bahh!! Hari minggu di kantor?? Alasan yang tak masuk akal.

Kami beranjak dari Hongkong International Airport dengan perasaan kacau dan geram, bukan geram kepada sang petugas melainkan pada sang nyonya bos.

Lagi Cus menelpon nyonya dan lagi sang nyonya mengelak dengan menggantung kami untuk menunggu telpon darinya. Waktu akhirnya datang pada acara perpisahan dengan 2 orang sahabatku yang lain, hanya aku dan Cus yang kemudian nantinya berhadapan dengan sang nyonya-tuan.

Menunggu adalah hal yang teramat tak kusukai terlebih karena yang di tunggu adalah sebangsa manusia yang menganggap babu adalah budak belian sedangkan dia sendiri menganggap dirinya sebagai gusti yang makan babi.

Jam 10.35pm ketika sedan mulus itu memasuki arena parkir dan sang pemilik sedan nyonya-majikan melihat kami maka tak pelak sumpah serapah yang kemudian kami dengar. Dalam hatiku, kalau dia ikut casting film Mak Lampir bersama Farida Pasha tentu saja dia yang akan terpilih melakonkan Mak Lampir dan film Mak Lampir kemudian akan menjadi box office di seluruh dunia.

Dari bicara secara halus kepadanya seperti kita mengemis padanya agar memberikan tiket atau setidaknya memberitahukan nomer tiketpun tak di hindahkannya, merekapun menyuruh satpam untuk mengusir kami, hanya satu yang bisa aku teriakkan,"Yuko lei em pei goi keibiu wakce keibiu number leh, goi tim fan ogei cek? Yuko goi dingyat emfan ogei leh, ngo tei wui hoi Labour, liko hai lei ke fucak(Kalau kamu tak memberinya tiket atau setidaknya nomer tiket itu, bagaimana dia bisa pulang? KAlau dia besok tidak pulang, kita bakal lapor ke Labour/departemen tenaga kerja, kepulangannya adalah tanggung jawabmu). Aku bergetar dalam kemarahanku, pengin rasanya aku meludahi wajahnya atau melemparinya dengan sepatuku.

Kami hampir saja bertolak ketika satpam berujar pada kami bahwa ini bukan pertama kalinya dia berbuat seperti itu kepada babu-babunya terdahulu dan kemudian telepon satpam berdering, sang nyonya berteriak-teriak dalam telpon menyebutkan nomer tiket Cus. Kami pulang ke tempat masing-masing dengan doa dan harapan semoga nomer tiket yang di berikannya itu benar dan semoga besok pemeriksaan di Airport tak ada kendala juga perjalanan pulang Cus lancar. Semalaman aku tak bisa tidur demikian pula Cus. Berharap dan cemas akan apa yang akan terjadi esok harinya...

Senin 21 Oktober 2009, Cus kembali ke Airport sedangkan aku tak bisa lagi mengantarnya karena aku harus bekerja. Dua sms Cus kuterima, pertama saat dia akan berangkat ke airport dan kedua sesampainya dia di airport, kusarankan padanya untuk datang pagi-pagi agar bisa antri paling depan. Jam 10.30 HP ku berdering lagi, terdengar suara Cus kebingungan.

"SLI(nama panggilanku), bosku nelpon aku, dia nyuruh aku, maksa-maksa, aku di suruh ambil tiket," katanya
"Cisiinnn(Gila)," jawabku kaget.
"Aku sudah bilang kalau aku di bandara, tapi dia bentak-bentak gak percaya," tambahnya pula.
"Kamu ga ada waktu buat bolak-balik Cus. Telpon agensimu, bilang sama agen tentang apa yang terjadi kemarin dan gimana perlakuan dia pada kita kemaren. Bilang sama agensi kalau kita sudah pergi kerumahnya dan diapun ga mau ngasih tiketnya, seharusnya agensimu berada di pihakmu, wong kamu ga salah kok," kataku.

Lima menit kemudian aku mendapat sms lagi dari Cus, "Agen bilang jgn pedulikan dia. Kalo hari ni aq ga bs plg, kita lapor Labour. titik."

Aku lega, berarti agen ada di pihak kami. Kusarankan pula kepada Cus agar tak menerima telpon dari sang nynya lagi.

Sang nyonya-tuan rupanya ketakutan, karena telponnya tak di angkat dan juga tak percaya kalau Cus sudah berada di Airport. Mereka pergi ke tempat penginapan Cus untuk mencari tahu tentang Cus. Hal ini di ceritakan teman Cus kepada Cus yang kemudian membuat kami tertawa, rasain!

Akhirnya Cus berhasil check in. Lolos di pengecekan kedua dan berhasil menemukan pintu/gate ke pesawatnya. Kemudian menumpang seorang kawan yang membawanya ke terminal Bungurasih untuk naik bis ke Yogjakarta. Dan tiba di rumahnya pada Selasa jam 9.30 malam.

Cus....We'll miss U, selamat bertemu kembali dengan keluargamu, berjuanglah di sana jangan kembali ke Hongkong, kamipun akan segera pulang...jangan lupakan kami yah....


sholat Id tgl 20 sept'09 di Lapangan Victoria-Hongkong, dua buah lapangan sepakbola penuh TKW!!

klik sini untuk selengkapnya....