Ayo Ngeblog!

Tiap hari kerja itu-itu saja, kerja adalah sebuah rutinitas yang menjenuhkan. Ngeblog sebagai salah satu upaya untuk membunuh kejenuhan itu.

KTKLN Itu Hanya Mempersulit Saya

Suasana memanas ketika aku berhadapan dengan petugas imigrasi. Kecemasan dan kegalauan hatiku serta merta terbaca oleh petugas imigrasi. Suasana itu seperti apa yang telah aku prediksikan sebelumnya. Inilah petaka pertama yang kudapat dari kartu KTKLN...

Menggugat Doktrin TKW itu Bodoh

Ijasah bukanlah sebuah komoditas/bukti intelektualitas seseorang kalau itu tanpa dibarengi dengan kualitas. Namun kenyataannya banyak orang mendiskriminasikan TKW hanya karena mereka tak sekolah dan tak berijasah.

Wahai SBY! TKW Itu Tak Butuh HP!

TKW itu butuh HP yang bermerk PERLINDUNGAN! Selama ini pemerintah hanya berasumsi tentang apa yang dibutuhkan oleh TKW. Mereka tak pernah duduk bersama (dialog) dan bertanya itu langsung kepada TKI/TKW atau perwakilannya. Mereka hanya berasumsi kemudian memutuskan begitu saja.

Tragedi Munyuk Kesasar di Hong Kong

Keterbatasan tempat di apartemen bosku menyebabkan mereka memilih tempat paling strategis untuk membuat sarang untukku. Di atas dua buah kulkas dan mesin cuci diberi papan yang digelari kasur diatasnya, itulah dan disitulah sarangku. Nah uniknya

Salah Kaprah Eufimisme

Bagaimanapun eufimisme yang digunakan untuk memperhalus bahasa terhadap kata "babu" ianya tak akan berguna bila tak dibarengi dengan tindakan menghargai dan mengakui bahwa mereka itu manusia dan pekerja. Manusia yang perlu dimanusiakan dan pekerja yang perlu dihargai keberadaannya dan dilindungi hak-haknya

Menyoal Nasionalisme

Tari Garuda, sebelum pentas di Konser Sheila On 7 di Hong Kong
Minggu (28 april 2013). Sesaat setelah saya dan kawan-kawan saya yang tergabung dalam salah satu dari organisasi yang dibentuk oleh TKW-Hong Kong yang bernama Sekar Bumi menarikan sebuah tarian, tari Garuda Nuswantara di acara The Cultures and Colors of Hope, saya bersusah payah menyembunyikan airmata saya dari kawan-kawan.

Sudah puluhan kali saya dan kawan-kawan saya, juga organisasi seni yang dibentuk oleh TKW-Hong Kong lainnya, kami diundang untuk menampilkan tarian Indonesia oleh organisasi-organisasi non goverment yang ada di Hong Kong. Mereka kebanyakan adalah organisasi yang membangun keharmonisan antar masyarakat pendatang (ras minoritas) dengan warga Hong Kong, seperti SSCEM, ISS Hope, HDH, EOC dan lain-lain. Acara budaya yang diikuti oleh perwakilan organisasi seni dari berbagai negara itu bertujuan untuk meningkatkan komunitas inklusif Hong Kong yang mencakup keragaman budaya, mempromosikan keharmonisan rasial dan kesetaraan untuk semua.
Antusias penonton dan jepretan puluhan kamera membuat saya yakin kalau saya diakui oleh orang-orang Hong Kong itu sebagai warga negara Indonesia, tapi apakah Indonesia berpikiran sama? Entahlah.

"Yannei diumo a, hou leng a... (Tarian Indonesia, bagusnya...)," kata mereka bersaut-sautan.

Juga banyaknya orang Hong Kong yang kemudian merangsek mendekati kami, mengucapkan selamat dan mengajak foto bareng. Ini bukan kali pertama, namun perasaan dada mengembang itu ternyata bisa berulang-ulang kami rasakan.

Bagi organisasi seni seperti Sekar Bumi, Alexa Dancer, Sanggar Budaya, Arimby, Ganisha, Borneo Dancer dan sebagainya, kesempatan pentas tersebut merupakan bagian dari upaya kami untuk mengenalkan budaya bangsa sekaligus melestarikannya. Di Hong Kong, seni adalah media interaksi paling tepat untuk saling mengenalkan keragaman dan kekayaan budaya bangsa.

kiri-kanan: mbak Wik & Anggie Camat
Di organisasi saya, Sekar Bumi, dua kakak-adik, teman kami yang ketika di Indonesia sering menari di pagelaran wayang didaulat menjadi guru tari. Seminggu sekali di tiap hari Minggu kami berkumpul dan berlatih tari-tarian Indonesia, sejenak melupakan rutinitas kerja dalam sepekan pun sebagai pengobat hati akan kerinduan kepada Indonesia.

Kami berlatih di taman-taman atau di lapangan Victoria Park yang luas itu dengan sebuah tape recorder dan CD tarian yang saya download dari Youtube. Kadang, kami harus buru-buru membungkus tape recorder dengan tas kresek lalu berlari-lari menuju tempat naungan ketika hujan tiba-tiba disuntakkan dari langit.

Latihan di taman atas Pasar Bowrington Wanchai
Kadang pula kami membawa gunting dan jarum juga manik-manik untuk dijahit sebagai pakaian tari. Ya, pakaian tari itu jahitan tangan, tangan-tangan kami sendiri. Kami menjahitnya dengan menyisihkan uang hasil kerja kami dan kami menjahitnya dengan lagu Indonesia Raya di dada.

Peralatan tari lain seperti topeng, jaranan, celengan (seperti wayang dalam gambar celeng-babi hutan), reog, kendang, penthul tembem juga irah-irahan (hiasan kepala) harus kami datangkan secara khusus dari Indonesia, kami beli dengan merogoh uang sendiri. Mengapa kami sudi memboroskan diri untuk seni? Apalagi kalau bukan karena rasa cinta kami?

Di kesempatan lain, di acara Hong Kong International Flower Show atau acara kenegaraan juga kunjungan menteri-menteri, kerap pula dibarengi dengan serombongan penari sebagai duta budaya Indonesia dan ditonton oleh orang-orang penting di Hong Kong. Mereka, duta budaya itu, didatangkan secara khusus dengan biaya yang tidak sedikit lalu dielu-elukan oleh para penggede praja di ruangan tertutup ber-AC. Mereka terhormat dan dihormati oleh negaranya sendiri.

Saya tak hendak membandingkan nasib kami, bukan pula membandingkan berapa jumlah uang yang kami dapat setelah ngamen di hadapan hadirin penikmat yang berbeda (toh kami hanya menerima uang pengganti trasportasi dan snack saja), kedudukan kami memang tidak sama. Tapi peluh-peluh yang keluar dari seluruh pori-pori di tubuh kami dan tepuk tangan dari warga Hong Kong itulah yang menyamakan derajat kami sebagai pekerja seni, sebagai duta budaya (walau tak diakui).

tari Goyang-goyang di Festival Pertukaran Seni 2010

Tari Rereyogan di Festival Aids 2012




Tari Incling di Perayaan Imlek 2013
setelah menari tari Surengkerti di Aids Festival 2013

Penonton di perayaan Imlek 2013

Tari Warok di Perayaan Imlek 2013

Tari Rampak di Perayaan Imlek 2013




Sukebo

Sukebo

 I've never been so kebo but today...

Katakanlah hari ini, eh, tiga setengah jam yang lalu adalah perjuangan melawan ragu, perjuangan melawan bego dan perjuangan melawan kebo yang aku lakukan.

Untuk kebo (atau yang merasa kebo) aku mohon maaf. Bukan bermaksud menstratakebokan kebo tapi memang sudah nasib kebo untuk dimasukkan dalam golongan makhluk hidup yang dungu. Yah... meski dungu-dungu gitu si kebo tidak pernah makan selain suket dan jerami juga dedak campur bekatul dan sedikit garam, enggak seperti manusia sukebo sepertiku yang pinternya enggak nyampek-nyampek, bodohnya never ending tapi omnivora banget. Apalagi kalau melihat penyet ayam campur lalapan kemangi, kol dan timun, serbuuuuuuu....! Noh tuh!

Awalnya sebulan yang lalu, ketika pengumuman training design grafis yang diadakan oleh Dompet Dhuafa-Hong Kong (DD-HK) yang melibatkan Kang Sam sebagai anunya. Ya itulah, yang ngajarin gitu.
Lalu aku ikut.

Sebenarnya software coreldraw X5 dan PS CS3 sudah nangkring di Dell Lattitude D610 sejak enggak tahu tahun berapa. Software-nya pun aku peroleh dari hasil kerja sama dengan penyelundup software bajakan di Hong Kong yang harganya cuma enam puluh rebon atau seharga dua porsi bakso di Hong Kong (padahal harga aslinya bisa jutaan ya...). Dulu itu juga dalam rangka nyari duit ceperan, untuk diinstall ulang ke notebook pesenan temen-temen. Katakanlah itu proses kreatif atau proses penjahatif atau apa, terserahlah. Aku tahu kalau membajak (yang enggak pakek kebo atau sapi) itu tidak baik makanya aku ulangi lagi, siapa tahu hasil bajakanku kali ini lebih baik. Ha?

Aku selalu mempunyai pikiran bahwa I am good at nothing, terutama dalam hal gambar-menggambar. Guru TK-ku pernah membelejetiku di depan kelas dengan pernyataan yang aku ingat di sepanjang hidupku, pernyataan yang entah mengapa membuatku dead stuck mempercayainya, hingga kini.

"TK besar wis tuwek dhewe, tapi nggambare pinter sing nol kecil," kata guru TK itu.

Waktu itu aku menggambar dua orang anak yang sedang memancing. Gambar itu seperti penthol korek api dengan segitiga sebagai roknya dan dua ranting sebagai tangan dan dua ranting lagi sebagai kaki. Bagiku dan menurutku saat itu, itu adalah masterpieceku, tapi tidak bagi bu Titik, guru TK Tunas Rimba 2 di desaku.

Waktu itu aku tak menangis, tapi sejak saat itu aku membenci pelajaran menggambar.

setelah 30 tahun baru bisa nggambar seperti ini
Aku tak pernah bisa membedakan bagaimana menggambar orang dan monyet. Menurutku keduanya sama. Khan bedanya cuma di ekor saja. Jadi kalau manusia enggak ada ekornya kalau monyet ada. Tapi kadang nggambar manusianya sudah bener enggak seperti monyet tapi jalannya kayak guguk, kaki dan tangan sama panjang dan jalannya jadi merangkak. Itu kalau gak salah pas kelas 3 SMP, pas ujian praktek menggambar dan guru menggambarku langsung melempar penghapus yang penuh kapur ke kepalaku. Lhah khan Picasso kalau menggambar orang juga model nyleneh gitu khan?

Nah lalu kenapa ceritaku jadi dleweran kemana-mana ya?

Ya maksudku begini, khan semuanya ada korelasinya, ya khan? Atau anggep aja gitulah....

Trus

Kepala sudah terdoktrin begitu, sehingga sewaktu training design grafis yang aku ikuti tadi berlangsung, yang ada di otakku adalah "aku enggak bakal bisa". Dan itulah yang terjadi. Doktrin itu seperti doa yang adalah petaka bagi diriku sendiri. Sewaktu Kang Sam bertanya: "Gimana Rie? Bisa nggak?"
Lalu jawabanku sudah pasti adalah "enggak".

emak
Dan hingga training hari itu berakhir, bagaimana cara membuat foto yang sudah dicrop menjadi ukuran pasfoto saja aku tidak bisa, bayangkan!

Lalu adalah pak bos, yang tiba-tiba bertanya tentang liburku yang membuatku seperti diingatkan bahwa aku sudah melupakan om Gugel.

"I wonder, how can you be so forgetful with google," kata beliau ketika menanyai liburku yang kujawab dengan garuk-garuk kepala.

O iya ya.

Okelah aku enggak suka menggambar, mengedit gambar harus pula tak sukakah? Lhah khan aku suka moto?

Kang Sam, beliau luar biasa sabarnya, cuma aku tadi lebih luar biasa lagi kebonya. Ingatanku mengambang.

Dari jam 8 malam aku browsing dan mempraktekkan tehnik dasar PS, mencoba mengalihkan doktrin "aku enggak bakal bisa" dan menggantinya dengan "dicoba dulu". Lalu ketika resultnya "aku bisa" sepertinya doktrin "aku enggak bakal bisa" berkurang prosentasenya.

Lalu?

Mengapa mengunderestimate kemampuan sendiri? Mengapa tidak memanfaatkan om Gugel dan orang-orang yang telah berbaik hati berbagi ilmunya di net? Mengapa terlalu mempercayai penilaian orang lain pada diri? Mengapa malas mencoba dan membiarkan diri berada di titik 0,5 meter sedang orang lain sudah bermil-mil meninggalkanmu? Mengapa? Mengapa? Mengapa wahai Rie Rie Sukebooooo...??!!

Terong vs Tukang

Sodara, aku baru saja dimarahin sama tukang yang bekerja di lantai 5. Baru saja. Ya, kurang lebih dua jam yang lalu.

Apartemen bosku berada di lantai 4, apartemen tetangga lantai 5 sedang direnovasi, renovasi menyeluruh.

Sudah tiga minggu ini suara mendengung-dengung dan suara klotak-klotak, brak-brek, ngiung-ngiung, uing-uing dan sebagainya memenuhi telingaku. Ingin rasanya aku keluar dari apartemen bos untuk menghindar dari suara-suara itu, tapi aku khan babu yang baik, iya khan? Lagian banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum bos pulang. Jadi mau tak mau aku harus menelan suara-suara itu.

Untuk mengurangi bising aku membuat kebisingan. Menyetel CD dangdut atau campursari keras-keras, vacuum ruangan dilama-lamain, nyumpelin telinga dengan headset hingga kalau sudah mentok aku tinggal ke pasar lamaan dikit, blanjanya cuma dua buah item tapi muternya pasar tujuh kali putaran.

gaya ngoseng
Lalu hari ini sepulang dari pasar, dengan terong lonjooooong ungu yang panjangnya sepanjang tanganku dan cabe limas biji yang kalau dirupiahkan seharga empat ribu rupiah, brambang satu ikat plastik dan bawang dua siung, aku bermaksud menunaikan hajatku dan kewajibanku, masak oseng terong.

Aku melihat kaki tukang yang lagi ngrenovasi lantai lima menjuntai di jendela dapurku, eh, dapur bosku. Rupanya dia sedang mendandani jendela dapur dan dapur di lantai 5 itu.

Cabe sudah diiris, demikian juga dengan brambang, bawang. Maka aku mulai menumis. Sreeeng...srengg....

Karena aku alergi dengan bau cabe maka pas mengoseng, mengoseng apapun yang berbau cabe, aku selalu memakai masker. Nah, mengoseng terong supaya hasilnya tetep ungu khan musti pakek api besar khan? Namun payahnya kalau api besar berarti kebulnya ke mana-mana dan karena di apartemen bos ini hanya ada kipas kecil saja (tak ada exhaust fan) maka aku membuka jendela dapur. Dan...

"Atchiuuuuuu...!" sebuah suara melengking. Sumber suara itu dari lantai 5, pemilik dari kaki yang menjuntai tadi.

"Atchiuuu...atchiiuu...," berulang kali si tukang bersin-bersin.

Aku sendiri juga sudah puluhan kali bersin tapi tak sekeras si tukang tadi suaranya.

Dan tibalah bencana itu.

eh

Kesialan keduaku di hari ini.

"Lei a! Homoyi mo cui sung sin a, hou tai seng a. Ci emci!" teriak si tukang padaku yang masih meneruskan ngoseng terong.

Artinya begini: "Kamu! Bisa nggak sih jangan masak dulu, baunya nyegrak. Tau gak sih!"

Dan jawabku: "Ngo ke dou tang em to wo. Ngo hou dongo a, kam tim sun a? Lei leh, samko leipai hou jou ngo tu emcut seng keh. Lei ci em ci! Ngo ke yicai yika yilung a! Lei hamai siong sei a dong ngo takau!" (Perutku enggak bisa nunggu. Lapar, trus gimana lagi? Kamu, tiga minggu juga bikin ribut aku pun enggak komplin. Tau gak sih kamu! Kupingku sekarang budeg aa! Kamu mau mati ya berani berantem sama aku!)

Hari ini yang diawali dengan hal yang mengenakkan maka selanjutnya adalah episode tidak mengenakkan sepanjang hari.

Dan entah apa lagi yang dikatakan, karena bahasa Kantonisku tak begitu fasih di bahasa kasar (bahasa orang marah aku gak ngerti blas), jadi kubiarkan saja kepalanya melongok ke jendela dapurku dan mengumpat seribu umpatan, toh di jendela dapur itu ada grill-nya jadi dia gak bakalan bisa masuk dapurku. Jendela kubuka lebih lebar lagi, semua uap menuju ke wajahnya. Si tukang yang sedang membawa kuas itu, entah dengan sengaja atau tidak, mencipratkan cat putih. Cat putih  menempel di jendela.

Aku pergi. Dia pergi.

oseng terongnya gak kepoto, hiks
Sejam kemudian aku kembali masak oseng pare. Dan kembali si tukang marah-marah.

Biarin.

Untung cat putihnya bisa aku bersihin, kalau tidak maka dia akan berurusan dengan bu bosku, yang tentunya adalah petaka buatnya.


Where is My Bra?

Pagi ini, sepagi pukul 7.20 AM, bu bos sudah berteriak. Riuhnya melebihi suara vacuum cleaner lima biji yang dihidupin bareng-bareng. Di saat aku lagi disibukkan dengan kegiatan rutin di pagi hari untuk mempersiapkan lunch box dan sarapan buat momonganku yang jadwal bis sekolahnya jam 7.42 AM, seringkali adaaa saja hal-hal kecil yang ditanyakannya. Dari bajulah, celana panjanglah, celana dalamlah hingga BH. Dan pagi ini adalah giliran BH alias kotang alias bra.

"Cece, where is my bra? The peach colour, the one that has 4 hooks, the one that I used to wear, the one that I asked you to wash couple of days ago, the one that...

"I don't know," jawabku pendek.

Lha iyalah, semua BH warnanya peach, hampir semua dengan empat pengait, jadi yang mana satu mana aku tahu?

Aku tak menatap wajah jengkelnya ketika menjawab pertanyaan bertubinya. Tanganku masih disibukkan dengan makaroni dan api nyang menjilat pantat panci, sibuk masak untuk sarapan momonganku. Dan kalau aku tak mengindahkannya begitu, bisa dipastikan wajah bu bos akan berubah seperti buah delima, merah marah.

"Look at my face when I am talking to you!" bentaknya.

"Fine," jawabku sambil mematikan kompor.

Di ruang tidur momongan, terdengar pak bos berteriak-teriak, tak kalah kencangnya memanggil si Katelyn alias Pompi untuk segera bangun. Oh man, kenapa sepagi ini sudah diawali dengan masalah, pikirku.

Obrolan pedes, eh, lebih tepatnya mocking pagi ini berujung pertengkaran. Lagi. Aku ngeyel telah menyimpan kotang itu pada tempatnya sedang bu bos ngeyel bra itu tak ada. Pertengkaran antara bos dan pembantu mengawali hari. Bos yang demanding dan pembantu yang keras kepala.

Sewaktu aku masuk ke kamar bu bos, dua laci sudah diodol-odol isinya. Antara BH, celana dalam dan legging juga kaos kaki jadi satu anakan gunung Bromo. Masih pun si BH yang dimaksud tak juga ditemukan. Dan sewaktu aku odol-odol isi keranjang baju kotor, ternyata BH yang dimaksud ndlesep di sana. Jadi? Ya, rupanya BH itu sudah dipakainya lagi kemaren dan dimasukkannya ke dalam keranjang baju kotor semalam. Oh gosh!

Di kamar lain, Pompi menjerit protes karena diseret turun dari ranjangnya oleh papanya.

Pukul 7.30, lunch box sudah siap tapi sarapan belum siap. Pompi menangis. Bu Bos mendongkol. Pak Bos geram.

Pusing.

....aku pengin pulang....



Gendruwo Jengkol

Gendruwo Jengkol

dening Rie Rie

Mripate bunder gedhe, rupane soklat. Irunge bengkong, ilate dhawa werna ijo. Nalika guneman wewujudan kuwi mau mambu jengkol. "Apa iki Gendruwo Jengkol ya," batine Sari.

Sari mundur rong jangkah. Sumadiya, masang kuda-kuda. Sari mono kerep entuk kanugrahan medhali emas ing kejuaraan taekwondo tingkat kabupaten, mula ora gumun menawa ta Sari trengginas lan waspada. Apamaneh nyawang wewujudan aneh lan nggegilani kaya ngono kuwi, Sari rumangsa perlu ngati-ati amarga dheweke ora ngerti sepira kekuwatan wewujudan mau. 

"Aku rak ora ngomong nek bakale memungsuhan karo awakmu ta Ndhuk cah manis," ujare wewujudan mau.

"Aku rak ora ngerti sapa kowe ta? Aku ya ora ngerti apa karepmu. Tur maneh wujudmu aneh, nggegilani tur mambu. Wuek!" Sari ngipatake tangan tengene. 

"Kowe ki Gendruwo Jengkol ya?" pitakone Sari sajak semu wedi nanging isih kebak kaprayitnan.

"Gendruwo Jengkol? Ha ha ha ha...," wewujudan mau ngguyu ngakak.

Ambune jengkol sumebar, ndadekake ambegan sesek. 

"Ngendi ana Gendruwo Jengkol Ndhuk! Ha ha ha ha...."

"Lha witekna ambumu kaya jengkol," ujare Sari sinambi nutupi irunge.

"Sari...Sari.... Ababmu kuwi ya meh padha karo jengkol."

"Ngawur!" pambengoke Sari.

"Ha ha ha ha...," wewujudan mau ngguyu maneh.

Sari ora kuat mambu jengkol. Dumadakan wae wetenge krasa kaya diudhak. Lan sanajan ta Sari dudu wong kang seneng tinggal glanggang colong playu, ning Sari kepeksa mlayu tumuju omah. Ngliwati ruang tamu, ngliwati ruang kaluwarga, ngliwati ruang makan, ngliwati pawon lan ngenceng tumuju pekiwan. Sakbanjure...

"Huwek...huwekkk...," Sari muntah-muntah ing toilet.

Ibu sing nembe manasi jangan ning pawon nganti kaget. 

"Ana apa Sar? Masuk angin ya?" pitakone ibu.

Sari gedheg-gedheg.

"Ndang adus gek mangan trus turu," kandhane ibu.

"Huweekk...huweekk...," Sari muntah maneh.

Sari rumangsa awake teles kebes, kringeten. Mambu wuntahan lan mambu jengkol. Mula enggal-enggal wae dheweke mlebu kamar saperlu njipuk klambi tuli adus. Sakrampunge adus, kanyata kabeh kaluwarga wis ana ing meja makan, sumadiya mangan.

"Wah telat kowe Ndhuk. Jengkole wis takentekna," aloke mbah kung.

"Peneran, lagi eneg nyawang jengkol Mbah," sumaure Sari lega.

"Lho purik ya? Guyon kok Ndhuk. Iki isih takngengehi lima," ujare mbah kung karo ngikik.

"Wegaaahh!" pambengoke sari karo kipa-kipa, sajak keweden.

"Kaya nyawang Gendruwo Jengkol wae kowe ki Sar," ujare bapak. Mbah Kung ngguyu kekel.

"Pak! Mbok aja medeni aku ta," kandhane Sari.

"Wedi apa ta? Biasane ya mangan semur jengkol ngono kok, ana-ana wae," ujare ibu.

"Lha wong dhek mau aku ketemu Gendruwo Jengkol tenan kok Buk," kandhane Sari gregeten merga rumangsa digeguyu.

"Ha ha ha...," kabeh ngguyu kekel.

Sari jengkel. 

"Iki tenan! Mau sore aku ketemu ndek mburi omah. Jian nggilani lan mambu banget,"  Sari mbesengut.

"Lagi ketemu sepisan ta Sar?" pitakone ibu.

Sari manthuk.

"Awake dhewe weruh saben dina. Iya ta Pak?" ujare ibu marang bapak.

"Iya. Saben dina," wangsulane bapak karo mesem.

"Ah tenane? Mripate bunder coklat, irunge bengkong, ilate ijo?" pitakone Sari.

"Dudu," wangsulane bapak, ibu lan mbah kung bebarengan.

"Wee...," ujare  Sari karo melet.

"Mripate mbawang sebungkul, irunge mancung, ilate biasa wae, mung ambune wae sing padha, padha badhege," kandhane ibu.

"Lha kuwi wonge neng ngarepe kaca," ujare mbah kung karo ngempet guyu.

Sari age-age tumuju ing kaca pangilon gedhe kang ana ing ruang kaluwarga.

"Endi ta mbah?"pitakone Sari. 

Mbah Kung ora wangsulan malah kepara ngguyu kekel.

"Sapa sing mbok sawang Sar?" bapake sing takon.

"Sari," jawab Sari.

"Ya kowe kuwi Gendruwo Jengkole," ujare bapake karo ngguyu.

"Ora!" pambengoke Sari. Dheweke mlaku ing kursine karo mbesengut.

"Sing ngambu ababmu rak wong liya ta Sar, kowe dhewe ya ora nyadhari," ujare bapak. 

"Ya jelas mambu, wong olehe sikatan nek kelingan thok kok. Lha kelingane ki mung seminggu pisan. Kuwi wae ndadak ibuk kudu bengok-bengok neng ngarep kamar mandi," ujare ibu.

Sari jengkel njur mak nyat nglungani. Mlebu kamar njur mapan turu tanpa sikatan.

Sesoke Sari mangkat sekolah bareng karo Rina, kanca rakete. Rina, bocah manis sing nganggo kacamata lan nduweni untu putih miji timun kuwi tansah menehi permen menthos marang Sari saben isuk. 

"Eh Rin, kenang apa sih saben isuk kok kowe menehi aku permen menthos?" pitakone Sari marang Rina nalika Rina ngelungake permen menthos.

"Nek takwenehi ngerti sing satemene, mengko gek kowe nesu," ujare Rina sajak wedi.

"Ora. Awake dhewe rak kekancan apik ta," wangsulane Sari.

Rina meneng sedhela njur unjal ambegan tuli nyambung gunem.

"Ababmu badheg," kandhane Rina cekak aos sing jujur.

"Ha?" Sari mlongo. Rina manthuk.

Sasuwene iki tibake Rina ora wani ngandhani Sari menawa ta ababe Sari mana mambu banget, Rina wedi natoni atine Sari. Mula Rina saben isuk tansah menehi permen menthos marang Sari, pamrihe supaya Sari njur ngerti karo apa sing dikarepake dening Rina. Ning emane Sari kok ora mudheng. Sakwise ngerti sing sakbenere Sari rumangsa kisinan marang Rina lan kanca-kancane. Isiiin banget.

"Eh Sar, aku kok nduwe pamikiran kaya mangkene: mungsuh taekwondomu kuwi kalah merga ora kuat mambu ababmu. Lha wong cene mambu tenan kok," ujare Rina karo mesem.

"Ha? Apa iya ta?" Sari kaget.

"Ora Sar, guyon kok, hehehe.... Mula ta mulai saiki sing sregep sikatan ya," pituture Rina.

Sari kisinan. 

"Eh, arep ndeleng topeng karo klambi nari warok sesuk ra? Mbah Kungmu lho sing nggawe," ujare Rina

Sabanjure Sari dan Rina mbukak tas kresek ireng. Bocah sakloron njomblak.

"Wah apik tenan iki! Matoh!" aloke Rina.

Ewadene Sari kamitenggengen. 

"Lha iki rak Gendruwo Jengkol kae ta," batine Sari.


******************



**Crita bocah iki kapacak ing Jaya Baya no 27 ing Februari 2013

Sega Sambel Terong

"Kowe ki mangan apa?" pitakone Nyonyah karo nuding-nuding layah.











Nyonyah bos ujug-ujug wae ana mburiku, blas aku ora krungu suara sandhal nyedhak saking khusukku anggone mangan muluk. Batinku mana ya kaget campur gregeten, kok ora pangerten blas, nganggu gawe wong mangan.

"Genah nek sambel ngene kok Nyah. Kaya ra tau weruh aku mangan sambel wae," sumaurku enteng.

Lambeku isih panggah takjejeli sega sambel terong, ora mraelu nyonyah sing pasuryane katon seje kathik nganggo mengkirik pisan. "Ya benne, wong aku luwe," pikirku.

Wis jam 10 bengi, gaweyan durung rampung. Panci, piring, wajan, isih jejer-jejer antri, durung takkorahi. Wetengku jan luwe tenan, kawit esuk mung klebon gorengan thok. Iku wae olehku mangan karo kesusu, selak momonganku mulih seka sekolah. Nek konangan sida cilaka tenan, rebutan gorengan. Najan anak Cina ning momonganku kuwi kalebu dremban, panganan apa wae, apa maneh gorengan, ya doyan wae.

"Lha steak wedhus mau rak ya isih ta? Wong kok olehe ora nrimakna bendara. Aku iki kurang apik piye he? Rumangsaku nek karo panganan aku ki ra tau nglarang kowe mangan," kandhane Nyonyah karo mecucu.

"Wegah marai penyakit Nyah. Mengko gek sesuk mbok titik, rak tiwas ra dadi daging," sumaurku.

"Gundhulmu kuwi!" sumaure Nyonyah karo lunga.