Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Cerita 2 Oktober

:Untuk kawan-kawanku di Hong Kong

Namanya Safi atau ah... sebenarnya aku tak tahu. Dia cuma mengenalkan diri dengan nama Safi begitu, tanpa aku tahu bagaimana menuliskan namanya dengan baik dan benar. Tapi lucunya dia suka dipanggil Sapi'i oleh kawan-kawannya. Geli juga mendengarnya. Cewek secakep dia, dengan hidung mancung dan bibir tipisnya, mata bulat dan tubuh tinggi semampainya, dipanggil Sapi'i? Ah! 

Malam itu kami berbagi meja di sebuah restoran cepat saji di kawasan Hennesy Road di atasnya Mc Donnald, Causeway Bay. Itu tuh tempat mi yang ada mangkoknya yang berdiameter 30 cm dengan menu mie-mienya.

Awalnya aku acuh, melihatnya duduk pun tidak. Aku lebih disibukkan dengan foto-foto demo mahasiswa-mahasiswi Hong Kong yang menuntut demokras yang sebenarnya (pilkada langsung) di Hong Kong (semoga bisa ngeblog tentang itu). Mataku menatap lekat ponsel android murahan dengan headset menancap erat di ke dua belah kupingku. Ketika aku sedikit mendengar suara tapi tak jelas, kulepaskan headset yang menyumpal di kuping kiriku, namun masih kurang jelas juga. Akhirnya kuputuskan untuk mencabut keduanya lalu berkonsentrasi pada makhluk cantik yang mirip artis Korea (bedanya cuman jerawat dia banyak) di depanku itu.

"Sendiri, Mbak?" tanyanya dengan senyum ramah.

"Iya. Kamu juga?" tanyaku.

"Iya. Pada nggak libur," jawabnya.

"Asal mana, Mbak," tanyanya lagi.

Pertanyaan biasa bila bertemu seseorang pertama kalinya adalah: nama, asal, kerja di mana, kerjanya apa saja, bosnya galak apa enggak, sudah berapa lama di HK.

Yang membuatku tertarik adalah bibirnya yang tipis dan bergincu tipis (atau entah warna bibirnya memang pink) yang selalu menyunggingkan senyum ketika berbicara itu. Hei! Itu khan biasanya aku? Biasanya aku yang selalu tersenyum-senyum ketika berbicara, bukan? Dan betapa cantiknya melihat seseorang berbicara dengan tersenyum-senyum begitu.

Lalu aku sibuk membuat kesimpulan-kesimpulanku sendiri. Gadis cantik berambut pirang ini pasti ikutan nge-dance atau fashion show deh, soalnya dia terlihat stylish banget dengan eye liner tipis yang membuat matanya tampak lebih bulat dan dengan kacamata yang digunakan untuk bando itu. Lalu jawabannya membuatku tercengang.

"Dulu iya, dua bulanan. Lalu keluar," jawabnya.

"Kenapa?" buruku.

"Yang ngajarin pulang. Tapi sebelum itu aku juga merasa kurang nyaman. Pengeluaran banyak untuk manggung. Sepatu, kostum. Fashion juga gitu," jawabnya yang kujawab balik dengan "o" saja.

"Sempat pacaran pula, tapi sudah putus lalu sekarang temenan biasa aja sama dia," katanya.

"O baguslah kalau baik-baik. Jangan berantem ya," kataku.

Ok, aku memaklumi, itu adalah privacy dia. Mau pacaran sama siapa kek itu urusan dia. Sudah mau berbagi dengan aku sejauh inipun sudah luar biasa bagiku. Entah mengapa aku seperti punya kekuatan untuk memaksa lawan bicaraku untuk menjawab pertanyaan "mengapa dan bagaimana"-ku. Menjelaskan sesuatu padaku dengan suka cita.

Mungkin karena aku melihat mata lawan bicaraku dan dengan begitu mereka merasa aku bisa dipercaya untuk diceritai sesuatu, atau mungkin pula karena mereka sedang desperate ingin berbagi, entah.

"Suka begini. Bebas. Tak banyak teman, tak tergantung sama satu teman. Bisa ke mana-mana. Hiking, atau apa, enak-bebas," jelasnya.

"Libur tiap Minggu?" tanyaku.

"Iya."

"Nggak tertarik ikut kursus? Komputer, bahasa Inggris, Akuntansi? Banyak yang gratis kok," aku menawarkan.

"Mmm... Pengin menjahit tapi belum tahu di mana," jawabnya.

"Ada di sana, di situ (menyebutkan tempat kursus menjahit). Mau aku antar?" tanyaku.

Namun dia menjawab dengan tersenyum. Mungkin untuk saat ini belum tertarik, mungkin nanti, pikirku. Tiba-tiba aku jadi ingin sharing sesuatu, tiba-tiba aku merasa mempunyai kewajiban untuk menyampaikan sesuatu.

"Ketika kamu sudah setua aku, sudah selama aku tinggal di HK sedang kamu kurang mempunyai ketrampilan, maka kamu akan merasakan penyesalan sepertiku," kataku memulai.

"Tapi aku SMA aja nggak lulus, Mbak. Dulu kelas dua naik ke kelas tiga aku keluar, karena ingin kerja," kata gadis asal Kediri ini membela diri.

"Di sini kursus enggak perlu ijasah apapun. Kursus yang gratisan juga banyak," kataku.

"Aku cuma pengin punya uang, pulang, nikah, punya anak lalu enggak ke mana-mana lagi," kilahnya.

"Amiin," jawabku.

"Aku ditinggal ibuk ke Saudi dan aku tahu benar bagaimana susahnya kurang kasih sayang dari ibuk," katanya.

"Aku nggak pengin ke mana-mana kalau sudah punya anak. Aku mau di sampingnya, aku mau di sisinya, ngerawat dia," matanya menerawang.

"Aamiin," kataku lagi.

Karena sudah sementara waktu ditunggui orang untuk giliran meja makan dan petugas restoran juga telah dua kali datang mengangkut mangkok dan gelas kami, maka kami beranjak.

"Lihat demo yuk," ajakku.

Kami menyusuri Hennesy road ke arah Wanchai lalu balik lagi ke Causeway Bay. Di depan MTR station exit F, Causeway Bay, kami berhenti sejenak sebelum berpisah.

"Mbak, sebenernya aku nggak mudeng dengan demo ini," katanya jujur.

"Aku ini tahu apa ya?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Baca. Jangan cuma membaca status cekakakan  di FB thok tapi enggak peduli lainnya," kataku.

"Aku suka sesuatu yang ringan, yang enggak usah mikir, yang bisa membuatku rileks. Bukan berita-berita berat begitu," nah gadis kelahiran tahun 1988 ini membela diri lagi.

"Kalau gitu enggak usah tahu sekalian, enggak usah nanya. Nanggung kalau tahunya cuma sedikit, mending nggak usah, hehehe...," kataku.

Lalu kami pun berpisah. Dia terpaksa naik MTR karena tram nya enggak jalan padahal dia bilang paling suka kalau naik tram. Ha! Kebalikan sama aku yang paling benci naik tram. Sedang aku memilih naik minibus.

Entah mengapa, aku merasa sedikit berat meninggalkannya, merasa belum selesai aku menjelaskan sesuatu tapi juga merasa tidak perlu menjelaskan terlalu panjang lebar. Takut kalau-kalau terkesan terlalu menggurui. Dan satu perasaan lain yang membuatku tak selesa adalah: waktu "kepulanganku" (ke tanah air) sudah semakin dekat dan aku belum merasa berbuat apa-apa, belum belajar apa-apa.

Punakawan Mbeling: Kabeh Metu

Republik Astina Raya kuwi yen rinasa-rasa kok njelehi. Lha gene wong kabeh pemimpine kok penyakiten. Gek penyakite ki langka tambane. Ya kuwi penyakit sakit hati lan dendam kesumat.

Kaya dene Nagagini (ratu ka-lima) sing cengkerengan karo Pandhu (raja ka-nem). Trus sapa kuwi... anu... Duryudhana sing mungsuhan karo Nagagini lan Gareng jalaran Gareng (meh) kasil disengkakake dadi gantine Pandhu Dewanata.

intermezo:


"Weh! Ya sudah sewajarnya nek aku nesu karo Nagagini. Lha wong kabeh ex raja kuwi ngganteng kathik gedhe dhuwur. Lha iki kok tangane ceko, sikile pincang, mripate kero. Ngisinga pitung cikrak! Arep dadi apa Republik Astina Raya yen dipandegani dening bekakas kaya ngono kuwi?" ujare Duryudhana karo nempelke pin manuk emprit ing sisih tengen dhadhane. 

Omongan kaya mengkono mau langsung kamot ing Astina Post, Tabloid Wayang, Pandhawa Times, njur kasebar ing jagad medsos. Njur sakabehing wayang ing jagad medsos kang kalebu ing Gareng Fans Club mangsuli: "Ceko kuwi tandhane menawa ta Gareng ora nduweni pepinginan kanggo njupuk apa sing dudu hake, pincang kuwi tegese Gareng sarwa ngati-ati ing jagad pewayangan, dene kero kuwi tegese Gareng tansah awas lan waspada."

"Weh lha mukiya gombal amoh!" panyaute Asosiasi Duryudhana Lover.

intermezo wis rampung.


Kaya dikomandho, kamangka ora, Astina Post, Tabloid Wayang, Pandhawa Times, menehi headline "All Out Tegese Kabeh Metu". Headline kuwi langsung gawe gegere Astina. Prabu Pandu sing meh luntur wibawane kang paring sabda kaya mangkono kuwi marang andhahane kang kajibah melu rembug perdhemitan ing tlatah DPR, Di bawah Pohon Ringin, wit sakral kang dadi omahe gendruwo, wewe gombel, buta Ijo, dhemit, pocong, drakula lan sapiturute supaya all out.

Prabu Pandu sing lagi plesir kuwi kelalen yen ta andhahane mono ora lulus TOEFL. Eh lulus dhing, nanging ndadak nyogok karo Miss Rie Rie sing kapatah dadi dosen basa Inggris.

Lha amerga Miss Rie Rie minggat menyang Hong Kong saperlu nglanjutna kuliah S5 (Sekolah Samsaya Suwe Samsaya Susah) ing Hong Kong Institute of Perbabuan, lan wis di-ping BBM-e ning ora menehi wangsulan, mula andhahan kang mung kethok pinter mau njur mbukak saweneh website kang aran gugel translet.

 Dene piwolehe kaya gambar sisih kiwa iki. "All out" miturut gugel translet jebul tegese "semua keluar", yen ngono ing basa Jawa padha karo "kabeh metu". Oke sip! Yen ngono kabeh andhahane Prabu Pandhu kang cacahe satus kuwi metu saka DPR. Olehe metu karo melet-melet, mbuh ngece mbuh ancene lagi kena rabies.

Dene ing DPR mung kari bala-balane Duryudhana karo bala-balane Nagagini sing kabeh cacahe ora ana 400. Pungkasaning crita, Nakula, saka Koalisi Sengkuni (grupe Duryudhana) sing bakale disengkakake dadi ketua dhemit ing DPR.

"Diancuk! Kakekanipun tenan!" pisuhe Koalisi Bethari Durga (grupe Nagagini) sing njagokake Sembadra.

"Huahahaha...!" guyune Koalisi Sengkuni lan Asosiasi Duryudhana Lover.

Sakala, sakabehing gendruwo, wewe gombel, buta Ijo, dhemit, pocong, drakula lan sapiturute sing ana ing DPR terinfeksi virus sakit hati lan dendam kesumat. Rembug perdhemitan ing DPR (red: Di bawah Pohon Ringin)  bubar lan buyar kanthi ending kang ora maremake. Eh, maremake kanggone Koalisi Sengkuni dhing!

Njur wengine, jagad medsos geger. Jane mesakake Pandhu, yen ta kudu nanggung kabeh mau. Pandhu disalah-salahke, diece, lan dikuya-kuya. Ning priyayi gedhe dhuwur sing melu ISIS (Ikatan Suami takut IStri) kuwi ora kurang akal kok. Mak tuing, njur metu pamikiran kepriye amrih isa win-win solution. 

Ya ngene iki. Pungkasane, kabeh wayang ya kudu bertekuk lutut marang par-tai politik perdhemitan, amarga par-tai politik perdhemitan kuwi kang bakal nemtokake lakune Republik Astina Raya. Najan ta kabeh wayang cilik sing milih par-tai politik perdhemitan kuwi, durung karuwan yen ta dhemit sing kapilih kuwi bakal ngeboti wayang cilik kaya ta Den ayu Limbuk lan Bagong. Sarwa salah ta?

 Yen ta para dhemit mau niat ingsun ing par-tai politik perdhemitan kanggo mbangun Republik Astina Raya samesthine ora bakal ngorbanake lan memanfaatkan dunya pewayangan.

Puasa Pertama di Hong Kong

Gara-gara pilpres, jadi lupa posting tentang puasa di Hong Kong padahal ini sudah ada di draft hampir tiga minggu yang lalu. Fiuh!

Jujur sampai sekarang saya belum tahu, sebenarnya apa sih hukumnya makan sahur dari makanan hasil curian atau selundupan makanan lopan/majikan?

Sembilan tahun yang lalu ketika puasa pertama saya di Hong Kong jatuh pada bulan keempat saya mengabdi pada keluarga Wong, situasi saya serba sulit. Untungnya kedua lopan saya berangkat kantor dari pukul delapan pagi hingga tujuh malam, jadi pada siang hari aman-aman saja untuk berpuasa. Justru godaan terberatnya adalah saat sahur. Tiap kali memasak untuk dinner hanya cukup dimakan tiga orang saja, yaitu untuk saya, nyonyah dan pak bos. Jadi pas itu ya terpaksa sedikit ngutil makanan dinner trus disimpen di dalam BMW (sebutan untuk tas geret belanja) dan setelah lopan tidur baru saya bawa setengah mangkuk kecil makanan itu ke kamar saya. 

Dulu saya dilarang keluar rumah dan saya manut saja, lha khan masih baru dan lugu gitu (kalau sekarang mah tiada hari tanpa berantem). Kendati bisa keluar rumah, uang saya juga tak cukup untuk membeli sepotong roti sekalipun

Dengan sisa gaji hanya $270 (setelah membayar $3.000 upeti kepada agency sebagai biaya penempatan dan pemberangkatan saya ke Hong Kong), saya nyaris seperti babu terndoweh se-Hong Kong. Lha iya, wong uang segitu itu harus bisa  untuk dua kali libur (dalam sebulan dulu saya dapat libur dua kali padahal seharusnya dapat libur sekali dalam seminggu), beli softex, sabun/odol, pulsa dan MBK. MBK? Kenapa harus memakai MBK kalau keringat saya saja wangi? Iya, di PT saya dulu semua calon TKW diwajibkan untuk membeli dan memakai MBK setiap hari. Lucunya MBK tersebut harus dibeli dari toko di PT. Dan itu (membeli dan memakai MBK) menjadi kebiasaan saya selama dua tahun pertama di Hong Kong. Terlebih karena mantan pembantu lopan yang dulu bekerja hanya dalam waktu dua minggu itu dipecat kuwarasan dengan alasan bau badannya yang nyegrak.

Saat libur dulu saya paling hanya makan satu kali saja yaitu satu jam sebelum saya pulang kandang (pulang ke rumah majikan setelah libur). Selebihnya saya selalu membawa air dua botol kecil, satu polopau (roti nanas) dan dua sisir pisang. Payahnya, di bulan Ramadhan saya terkena virus yang bernama "kemaruk". Walhasil pisang dan polopau yang bisa disisihkan untuk saur diembat juga saat berbuka puasa. Akibatnya tentu teruk sekali.

Nah, berhubung manusia adalah homo sapiens yang cerdas maka saya mendapat ilham untuk memenuhi tuntutan kedua,  mencari makanan untuk sahur.

Lumbung makanan itu adalah kulkas dan kulkas berada di dapur dan dapur berada persis di depan kamar lopan. Dengan ilmu maling yang saya warisi dari petinggi negeri yang kerap korupsi, saya mengendap-endap dengan tujuan untuk blusukan ke dapur.

Perasaan sih cuma sekian detik saja saya membuka kulkas dan screening isi kulkas sambil mengunyah selembar roti tawar, mendadak kulkas menjerit histeris. "Tit...tit...tiit..tiit....titititititititititiiii..." Paniklah saya. Langsung saja kulkas itu saya tutup mak jebret. Baru saja mak jebret, pak bos sudah berada di samping saya. 

"What are you doing?" tanyanya. Pertanyaan lumrah itu tiba-tiba seperti auman macan Asia pada pukul 3 dini hari.

Dengan mulut dipenuhi roti tawar, saya spontan menjawab, "Baby hungry. 

Jawaban itu pastilah membuat pak bos kebingungan. Tidak mungkin bayi yang belum berumur enam bulan itu makan roti, lha wong bubur encer saja tidak. Kenapa tidak mengambil botol susu? Kenapa roti? Atau mungkin juga beliau tidak melihat roti karena gelap gulita, semua lampu padam. Saya tak tahu. Tapi saya berusaha keras mempercayai alasan kedua dengan dada masih berdebar-debar karena kaget yang masih menguasai.

Beliau berbalik ke kamarnya tanpa bertanya-tanya lagi, saya lega. Dan saya (terpaksa) masuk ke kamar bayi sekedar mengecek sekaligus pura-pura ngasih susu.

Oalah...nyuri makanan untuk sahur apa hukumnya?

Nama Cina Jokowi & Prabowo

Pas selesai dinner. Pak Bos masih di meja makan nungguin anaknya yang belum selesai makan. Apple Daily (salah satu nama koran) di tangan kanan, I-phone di tangan kiri, kepala mlengos ke dapur.

"Do you know this Waithotho and Polabowo?" tanyanya.


"Hem? What food is that?" aku balik bertanya karena merasa enggak mudeng dengan pertanyaannya. Biasanya sih kalau pak bos atau nyonyah membaca koran lalu memanggilku berarti lagi pas melihat resep makanan dan nyuruh aku masak seperti itu besuk harinya.


"Lei ko President a (presidenmu)!" teriaknya. 



Disorongkannya I-phone miliknya kepadaku. Di I-phone itu kulihat dua foto yang akhir-akhir ini lagi panas-panasnya jadi trending topik, Prabowo dan Jokowi, di wall FBnya pak Bos. Oalah...jadi nama Cina Prabowo itu Polabowo (Prabowo Subiyanto:  的前女婿普拉博沃)  sedang nama Cina Widodo itu Waithotho (Joko Widodo: 印尼奧巴馬」維多多) 

Tampak Prabowo memakai baju putih yang lagi pidato dan Jokowi yang memakai kotak-kotak lagi ancang-ancang lari di panggung, disaksikan ribuan folowernya. Ternyata kawan-kawan kerja bosku juga ada yang berasal dari Indonesia dan mereka juga sama-sama gencarnya update status tentang kedua capres fenomenal tersebut.

"What does he say?" tanya pak bos sambil nunjukin postingan di FB temannya.


"Talking about quick count," jawabku.
 

"What does he say?" tanya pak bos sambil nunjukin FB temannya yang lain.

"Demonstration on Sunday coz some did not have chance to vote," jawabku. Jiah..malam ini aku jadi translator dadakan.


"How about you? Did you go and vote?" tanya pak bos lagi.


"Yes."


"Does any of this Withotho and Polabowo make any difference to you here?" pak bos semakin ingin tahu dan dia menanti penjelasan dariku.


Aku unjal ambegan sebelum menjawab. Berdoa semoga aku enggak salah ucap atau salah memberi info.


"This one (sambil nunjuk foto) said he wil blablabla.... And this one (sambil nunjukin foto) said blablabla...."
 

"There is a plan to stop sending Domestic Helper, you know," tambahku, berharap pak bos ketakutan mendengarnya. Diluar dugaanku pak bos dengan kalemnya menjawab: "Don't trust them 100%, they will change after won the vote."
 

"That is so damn true!" teriakku dalam hati dan kecewa juga karena gagal menakut-nakutinya.

"What does he say?" tanya pak bos lagi sambil nunjukin FB temannya, aku jengah.


"They are two versions of news about election in HK," jawabku. 


Tiba-tiba.... Mak jederrrr..! Ada link blogku di situ, dishare oleh temennya bosku. Modiarrr kowe Rie..!!

"Why are you so "kepo"?" (kepo: bhs Hokkien artinya pengin tahu) kataku menunjukkan wajah tidak suka (sekaligus was-was)


"Just curious," jawabnya sambil mesem lalu kembali lagi ke I-phonenya.


Aku buru-buru pergi biar nggak ditanyaain lagi. Ughh! Nyaris!

Hasil Quick Count di Hong Kong

Mbak Betty, advisor Helpers for Domestic Helpers (organisasi non profit di Hong Kong yang didirikan untuk memberi bantuan kepada pekerja migran), mengajakku melihat quick count yang diadakan di KJRI pada 9 Juli kemarin, tapi buatku impossible banget. Lha wong momongan saja lagi liburan, yang artinya akan berada didekatku sehari full, nganter les ke mana-mana dan dolan seharian menemaninya. Gimana mau menyempatkan diri ke KJRI? Lha wong ngeblog tentang quick count saja baru sempat sekarang, saat lagi menunggu momongan keluar dari tempat lesnya. Life is hard, men! Saya menjadi babu beneran saat musim liburan gini (emangnya selama ini bukan?)

Lalu saya melihat brodcast KJRI dan PPLN-HK yang memberitakan hasil quick count sebagai berikut:
Capres 1: 6.169 suara atau 24,3%
Capres 2 : 19.166 suara atau 75,4%
Tidak sah: 89 suara atau 0,4%


Dengan rincian jumlah suara per-TPS sebagai berikut:
TPS01 1.808 suara
TPS02 1.760 suara
TPS03 1.753 suara
TPS04 1.838 suara
TPS05 1.664 suara
TPS06 2.020 suara
TPS07 2.119 suara
TPS08 2.035 suara
TPS09 1.815 suara
TPS10 1.939 suara
TPS11 2.010 suara
TPS12 1.607 suara
TPS13 1.488suara
TPS14 832 suara
TPS15 736 suara

TPS01 hingga TPS13 adalah pemilihan suara yang diadakan di Hong Kong sedang TPS14 dan TPS15 adalah pemilihan suara yang diadakan di Macau.


TPS01 hingga TPS13
sebanyak 23,856 suara.

TPS14 dan TPS15 sebanyak 1.568 suara.
Jumlah keseluruhan (Hong Kong-Macau) adalah 25.424 suara.


Namun jumlah ini masih jumlah sementara karena masih akan diadakan perhitungan susulan untuk surat suara yang dikirim lewat pos dan yang didrop ke penjara-penjara.

Dari kesekian surat suara yang masuk, surat suara yang tidak sah dikarenakan kertas suara rusak. Ada yang dicoblos di luar kotak dan di kotak ( mungkin dilipat trus dicoblos) dan ada yang disobek-sobek. Ada pula yang mencoblos nomer dua sambil menuliskan harapannya juga ada yang menggunting gambar capres nomer 2 dan memasukkannya ke kotak (saking cintanya kalee).

 Sedang rincian suara kedua capres per-TPS sebagai berikut (lihat gambar):



 Berikut adalah situasi di KJRI saat quick count. Foto-foto ini saya dapatkan dari mbak Betty.

situasi penghitungan TPS 7 & 8
Saksi menunjukan yg tidak sah krn menyobek dan memasukkan gampar capres no2 saja ke kotak suara


penghitungan di TPS 5

pengumuman hasil quick count.



Foto bareng usai quick count
 ____________________________________________________________________


**Postingan telat 
terimakasih kepada mbak Betty Listiani Wagner atas foto-fotonya.



Kisruh Pilpres di Hong Kong

Jam 5, pintu utama sudah tutup.
Foto by Kyteth asti

Saya merasa mempunyai kewajiban untuk menuliskan kericuhan pelaksanaan pilpres di Hong Kong. Beberapa e-mail, whatsapp dan inbox FB dari kawan-kawan menanyakan berita-berita yang tumpang tindih di media sosial (medsos) dan meminta kejelasan dan kesaksian saya tentang apa yang saya lihat dan saya dengar di TPS. Sebagai mantan reporter di beberapa media cetak berbahasa Indonesia di Hong Kong, insting saya menuntun saya ke mana saya harus bergerak dan menyaksikan kejadian yang patut digarisbawahi (bukan berniat menyombong tapi karena ada beberapa komentar dan pesan yang meragukan kebenaran postingan saya).

Berita di medsos terlalu banyak MSG dan ditambahi di sana-sini. Entah pula dari mana medsos itu mendapat keterangan. Apakah dari orang yang menyaksikan langsung atau sekedar berita "katanya"?

Akhirnya pembaca digiring pada pada opini ini-itu sesuai kepentingan medsos tersebut. Namun bukankah tugas medsos untuk memberikan fakta? Bukan opini atau isu? Kalau opini atau isu kenapa harus diberi label berita? Ya memang negara Indonesia ini negara besar namun bukan berarti sebuah berita harus dibesar-besarkan untuk membesarkan Indonesia. Bah!

Saya bolak-balik ke lapangan rumput Victoria Park, tempat pesta terbesar sepanjang sejarah berbangsa dan perpolitikan Indonesia di Hong Kong. Saya dan beberapa kawan juga sudah menduga akan adanya kesemrawutan dan keramaian, ketimpangan berita dan ketimpangan pelaksanaan pilpres 20014 di Hong Kong.

Pilpres dimulai tepat pukul 9 pagi. Beberapa kawan yang sudah mengantri memasuki pintu masuk menuju TPS.

Lapangan rumput Victoria Park berubah menjadi "kampung Pemilu" karena keseluruhan lapangan digunakan sebagai Tempat Pemungutan suara (TPS).

Ada 13 TPS di lapangan rumput itu yang dikelilingi oleh pagar besi dua lapis dan hanya ada satu pintu masuk menuju TPS-TPS itu.

Dengan adanya tiga jalur yaitu jalur hijau (untuk yang bawa undangan), jalur kuning (yang tidak terdaftar dan belum mendaftar dan hanya berbekal KTP Hong Kong atau Passpor untuk pendataan baru secara manual kemudian dimasukkan ke data komputer) dan jalur merah (untuk pemilih yang bingung, misal gak jadi milih lewat pos tapi pengin nyoblos langsung atau kehilangan surat undangannya) dan sosialisasi tentang mekanisme pencoblosan yang sebenarnya sudah dilaksanakan di aula Ramayana KJRI-Hong Kong pada 21 Juni lalu, namun pada pelaksanaannya masih banyak kekurangan.

Pemilih yang rencananya dibagi dalam tiga jalur itu ternyata harus melewati pintu masuk yang cuma satu thok til. Tidak ada pemisahan antara calon pemilih jalur ijo, kuning, abang  semua ngrumpel jadi satu. PPLN Hong Kong gagal mengantisipasi ini. Antrian berjubel dan tidak jelas. Petugas malah menyilakan pemilih dengan jadwal waktu pencoblosan kapanpun bisa masuk, ini semakin membingungkan. Pintu masuk dipecah menjadi dua saat banyak protes dan masukan diteriakkan oleh kawan-kawan kepada petugas, itu pun baru sekitar pukul 11.30 AM yang diumumkan lewat pengeras suara. Namun karena ratusan pemilih yang setiap orangnya memiliki mulut yang tidak bisa diam dan kebutuhan selfie yang mendadak menjadi penting sekali, kemungkinan pengumuman itu kurang didengar atau (diabaikan?). Saya melihat beberapa petugas PPLN beredar untuk memberitahu info itu kepada pemilih yang baru memasuki area lapangan rumput, itupun masih banyak yang bingung.

Antrian mengular, cuaca panas. Saya sendiri mengabaikan kepala saya yang sedang kebul-kebul kepanasen kemudian bergabung di antrian pada pukul 1.15 PM dan baru selesai pukul 2.15 PM (saya membawa surat undangan). Bagi saya pribadi kalau mau jujur, yang gagal nyoblos itu sebenarnya bisa nyoblos kalau mereka on time dan tidak takut panas. Meskipun begitu, pelaksanaan Pemilu di Hong Kong seharusnya bisa diminimalisir keruwetannya mengingat pengalaman pileg pada Maret lalu. Kalau pada pileg pemilihnya bertambah, maka pada pilpres bukan lagi bertambah tapi berkelipatan.

15 menit sebelum coblosan selesai petugas PPLN lewat pengeras suara (sekali lagi, lewat pengeras suara) mengumumkan bahwa pilpres akan selesai (pilpres selesai pukul 5 sesuai jadwal & ijin dari pihak Victoria Park). Kondisi pintu masuk menyepi PPLN menyilakan kawan-kawan yang berada di depan pintu masuk untuk segera ke TPS lalu menutup pintu masuk.

Ini yg sebenarnya gagal nyoblos
Foto by Asti
 Namun tepat pukul 5 sore, pintu masuk digrudug oleh kawan-kawan yang berlari-lari mau nyoblos (lihat gambar samping). PPLN dan KJRI menyatakan telah tutup tapi mereka meminta untuk diberi sedikit kelonggaran waktu. Maka diberilah kompensasi perpanjangan waktu selama 20 menit. Pintu samping dibuka oleh Sam Aryadi, sekretaris panitia PPLN, dan masuklah beberapa kawan yang telat datang ini. Garis besar hanya BEBERAPA, tak lebih dari dua puluh orang.

Para pemilih yang gagal nyoblos, ini jumlah yang sebenarnya!
Foto by Kyteth Asti
Herannya setelah yang nyoblos di dalam TPS kelar, ada lagi sekitar 40-70 orang (lihat gambar samping!) menyatakan mau mencoblos. Apakah foto-foto (foto sebelum mbak-mbak berteriak-teriak meminta masuk) itu ada 500 hingga seribu? TIDAK!

Semua TPS sudah tutup dan staf Victoria Park sudah ancang-ancang melakukan kegiatannya untuk membersihkan Victoria Park.

Hal ini diperburuk dengan mbak-mbak yang tadinya sudah mencoblos ikut-ikutan berteriak.

"Buka! Buka! Buka!"

Sebagian ada pula meneriakkan nama capres nomor urut dua sambil mengacungkan dua jari.

"Jokowi! Jokowi! Jokowi!"

 Kemudian mereka merangsek ke pintu masuk meminta untuk TPS dibuka kembali dan menyilakan kawan yang belum menggunakan hak pilihnya untuk masuk. Mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang sudah nyoblos yang demo inipun berjumlah 200-an orang, bukan 500-1000 seperti yang diberitakan oleh medsos.


Video ini adalah video protes dari mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang ikut-ikutan. Lalu mengapa video yang saya unggah di youtube itu saya beri tajuk "Protes Ganjil"? Karena awalnya mbak-mbak yang gagal nyoblos ini biasa-biasa saja namun setelah ketambahan mbak-mbak yang lain mendadak agresif, berteriak-teriak dan yel-yel yang lain. Ini aneh bin ganjil sekali.

Lalu ada isu yang menyatakan bahwa adanya petugas (Sigit) yang mengatakan bahwa pendukung capres No 1 saja yang boleh masuk sedangkan capres No 2 tidak boleh. Saya pribadi tidak mendengar adanya statement seperti itu, kawan-kawan media juga tidak. Bahwa setelah saya cross check dengan semua kawan ternyata statement ini yang benar: BAHWA PETUGAS PPLN BERBAJU HITAM ITU MENYILAKAN KAWAN-KAWAN UNTUK BERBARIS DALAM ANTRIAN SATU PERSATU BARU DIIJINKAN MASUK, KALAU DUA (bergerombol) TIDAK BOLEH. Medsos saya rasa mendengar pernyataan dari mbak yang berada paling belakang. Biasanya kalau kita main bisik-bisik, yang giliran dibisikin terakhir pasti salah kaprah. Iya khan? Kendati demikian apa maksud dari petugas itu menyuruh antri lagi kalau TPS sudah tutup?

Terjadilah desak-desakan. Sebagian pintu pagar besi itu roboh. Maaf, pagar besi ini bukan bentuk permanen, jadi adalah pagar yang bisa dipindah-pindakan dan dua orang saja cukup untuk merobohkannya. Dan kalau kawan-kawan berdesak-desakan itu amat sangat memungkinkan pagar besi roboh dengan sendirinya, BUKAN SENGAJA DIROBOHKAN. Pada saat yang sama, pintu pagar dan pintu masuk sengaja dibongkar oleh petugas Hong Kong yang bertugas di Victoria park karena waktu perijinannya sudah lewat.

Mbak-mbak yang berteriak-teriak demo berhamburan masuk ke area TPS dan protes kepada sesiapa saja petugas yang dijumpai.

Sekiranya ini yang bisa saya sampaikan dengan sebenar-benarnya. Saya tak terikat oleh pihak manapun dan tak terpengaruhi oleh beban membela capres pilihan saya. Saya menuliskan apa yang saya lihat dan saya ketahui. Semoga ini bisa membantu untuk mencerahkan berita yang simpang siur itu. 

Pada dasarnya kita adalah satu kesatuan WNI, siapapun presidennya nanti marilah saling dukung untuk kemajuan bangsa.

Sebagai pembanding, perhatikan screenshot broadcast dari PPLN dan kesaksian dari kawan-kawan saya lewat FB berikut:


BROADCAST PPLN HONG KONG:


 
KESAKSIAN KAWAN-KAWAN SAYA YANG MELIHAT SECARA LANGSUNG DI TPS :