Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Tuhan ingin aku mati cantik

"Tuhaaaaaaaann....!! Aku ingin mati cantiiik..!! Kenapa harus ada borok di payudaraku?"
Rasa ngilu dan nyeri yang luar biasa aku rasakan di payudara kananku. Juga rasa gatal yang menghantuiku sejak sebulan terakhir ini menjadikanku semakin tak berdaya. Menggaruknya saja rasanya tak cukup. Kulit yang mengkerut dan bersisik serupa kulit jeruk itu mengelupas dan merah. Kadang juga cairan busuk keluar dari kepundan buah dadaku, kadang kuning, kadang hijau warnanya. Sakit di satu tempat yang merembet ke daerah lainnya, menjadikan punggung sebelah kananku terasa nyeri, pegal dan berat sedang tanganku hanya menggantung di sisi kanan tubuhku, hampir mati fungsi.

Aku lelah. Masih banyak yang belum aku lakukan dalam hidup ini. Emakku yang menua, adik-adikku yang masih balita, sedang aku adalah yang pertama yang mempunyai tanggung jawab atas semua itu.

"Tuhan, kenapa aku harus mengidap borok yang menjijikkan ini? Apa salahku? Pada diriku, pada orang-orang disekelilingku, padaMu?"

"Karena Aku ingin kau mati cantik," bisik Tuhan, yang datangnya selalu tanpa kuketahui dan pergi seketika setelah itu.

"Tapi aku takkan mati cantik," jawabku. Tak berhasil aku mencegahnya berlalu. Dan bukankah Dia seperti itu? Selalu sukses untuk mengaduk-aduk hatiku. Mencampurkannya dengan bahan-bahan yang lain seperti rindu padaNya dan kangen bisikanNya, lagi?

Kembali aku menelusuri tubuhku bagian manakah yang bisa di bilang cantik? Rambutku yang mulai rontok atau kulitku yang semakin layu? Dan pandanganku berhenti pada seonggok daging yang benar-benar tumbuh di dadaku, menekannya sebentar dan merasakan lagi nyeri yang teramat sangat. Sakit ini menjalar kehatiku, meletup-letup dan sampai nanah keluar dari dua ketuban, hatiku dan payudaraku.

"Aku ingin kau mati cantik," bisiknya lagi. Kali ini bisikannya menggema, berulang-ulang, berkali-kali.

"Tuhaaaaaaaaan, aku tidak akan mati cantikkk...!!" teriakku, mencoba menghilangkan gema yang berhasil masuk ke telinga dan hatiku. Menorehkan perasaan lain yang indahnya seperti berada di pinggir jurang terjal. Yang nun di bawah sana batu-batunya meringis menunggu kejatuhanku.

Aku mencoba menyadarkan diriku. Agar tak larut dalam keinginan semu itu, keinginan untuk mendengarkan bisikanNya lagi karena mengusirkannya dari hatikupun aku tak mampu.

Ya, bukankah Tuhan itu hanya air yang mengalir, tapi tak hendak bermuara dihatiku. Tuhan itu hanya angin yang berhembus yang lewatnya hanya untuk membuat bulu kudukku meremang dan rokku tersingkap. Tuhan itu hanya malam yang dingin, yang karenaNya aku menggigil duka. Dan bukankah dia yang tidak mengijinkanku untuk mati cantik, dengan menempelkan kanker ganas ditubuhku yang selayaknya indah, cantik...

"Aku ingin kau mati cantik," kataNya lagi. Dekat, dekaat sekali. Aku rasakan nafasnya menyentuh ujung hidungku. Menggagalkan pemikiranku tentangNya sedetik yang lalu.

"Aku tak akan mati cantiik!" teriakku. Ah, sudah tak sekeras tadi rupanya.

"Aku ingin kau mati cantik," kataNya lagi, lebih dekat daripada dekaat sekali. BibirNya menyentuh daun telingaku. Kata-kataNya bergerak-gerak merangsang dan menggelitikku.

"Aku tak akan mati cantik,"
Bukan teriakan lagi, tapi sebuah kalimat yang datar saja. Tanpa intonasi di dalamnya, tanpa titik, tanda perintah ataupun tanda tanya yang mengakhirinya. Adalah keraguan yang menuju ke simpati atas kesungguhan kata-kataNya.

"Aku ingin kau mati cantik,"

Dan Dia telah masuk kedalamku. Kepalanya adalah kepalaku, tanganNya adalah tanganku, kakiNya adalah kakiku. Sudah matikah aku? Sudah mati cantikkah aku sesuai dengan keinginannya? keinginanku?

"Tuhan, aku ingin mati cantik?"


Aku Diperkosa

Beberapa waktu yang lalu aku diperkosa. Menyisakan aku sebuah perasaan yang pedih melilit dan menyayat hati. Seandainya airmata itu adalah hakku tentulah aku sudah menangis sampai merah darah. Tapi bukankah airmata hanya milik anak-anak orang kaya yang manja dan malas saja? Setidaknya demikian menurut emakku yang selalu menjadi cambukku untuk berdiri tegak menatap kedepan, sebuah jalan yang masih remang-remang.

Kalau kau melihat diriku saat ini, lusuh dan layu, seperti talas yang dicabut paksa, tapi akarnya masih erat memeluk tanah, patah. Rasanya sakit di sekujur tubuhku meresap sampai kedasar hatiku, tidak memberiku waktu untuk berhenti atau sekedar sedikit menghirup nafas tanpa kesedihan.

Hampir saja aku gagal menyembunyikan kenyataan bahwa aku tidak perawan lagi di hadapan emak. Tubuhku lemas, kakiku mengangkang, melangkah terbuka. Rasa sakit di selangkanganku masih menguasai. Sesuatu rasanya masih mengganjal disana.

Dan emak melihat perubahan ini padaku, sebagai seorang ibu hanya satu hal lumrah yang berada di kepalanya dan dilontarkan dalam sebuah pertanyaan yang wajar.

"Nduk, apa kamu lagi mens?" tanyanya.

Aku tersentak, adakah seorang anak gadis yang mempunyai masa ovulasi dini? Aku baru berumur 8 tahun! Antara ketakutan untuk menjawab sejujurnya dan ketakutan untuk berdusta seutuhnya, dan aku mengiyakannya saja. Mengijinkan sebuah kebohongan mengalir pertama kalinya dalam hidupku. Kebohongan yang aku yakini bakal melahirkan kebohongan-kebohongan baru.

Dengan suka cita emakku menggunting handuk dan melipat-lipat rapi untukku. Waktu itu hanya orang-orang kaya di desaku saja yang memakai kapas putih sewaktu mens. Dan aku semakin ketakutan, sewaktu emak memaksaku untuk memakai seutas pakaian yang melingkari dadaku. Dengan kancing mengait di bagian belakang dan dua tali kecil untuk dua pundakku. Dan aku di haruskan memakainya setiap hari, bayangkan setiap hari! Sedangkan tidak ada sesuatu menonjol sedikitpun yang layak untuk ditutupi di bagian dadaku, dadaku rata.

"Kalau kamu gak pakai ini nanti kamu seperti wewe gombel," kata emak.

Mendengar kata "wewe gombel" aku menjadi semakin takut. Kalau aku yang berbibir ndoweh, berhidung pesek dan bergigi besar ini harus di tambah lagi dengan predikat "seperti wewe gombel" yang mempunyai susu (maaf) kleweran, apalah jadinya?

Kata itu pula yang menusuk-nusuk perutku dan membuatku mau muntah. Aku merasakan nyeri menguasaiku lagi, bukan hanya berasal dari pangkal pahaku tetapi juga dari dasar hatiku. Menjadikanku tak mampu untuk sekedar menurunkan kakiku dari ranjang usang peninggalan kakek buyutku.Sehari ini aku hanya mengurung diri dan muram, namun emak mewajarkan hal itu bahkan mengumumkan pada tetangga bahwa anak gadisnya telah dewasa, bah!

........

Setahun....
Dua tahun....
Tiga tahun....
Empat tahun...


Tahun ke tahun berganti juga, sama, seperti biasanya. Pun tak ada yang curiga. Betapa aku pandai menyimpan segalanya, padahal aku baru 8 tahun saja waktu kejadian itu.

Aku mencoba menyibukkan diri dengan plastik-plastik yang berhasil aku pulung dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain. Aku mencoba menyibukkan diri dengan Sum, adikku yang selalu gagap mengeja huruf-huruf abjad di sekolahnya. Sum adalah kekhawatiranku juga, seperti halnya diriku dia juga gadis kecil yang lemah. Dan apalah yang bisa aku lakukan untuk melindunginya dari segala mara bahaya?

Sum, Adik kecilku, semalam pulang kerumah pukul 11. Sesaat sebelum emak pulang dari tempatnya Bu Sarwo untuk memijat. Wajahnya persis sepertiku empat tahun yang lalu.


Kubiarkan dia menangis sendiri, walaupun ingin sekali aku bertanya padanya. Sum telah masuk kamar dan mengunci diri. Sebelum sempat aku berteriak memanggilnya, dia telah membungkamku dengan ucapannya.

"Aku capek, ngantuk!" teriaknya di antara isak tangis yang ditahan.

..........

"Dia kah?" tanyaku pada Sum, keesokan harinya.

Dia yang aku maksudkan, tengah berjalan terdepan diikuti oleh pamong desa dan tetangga desaku lainnya. Berbincang sok arif bijaksana membuat pamong desa dan tetangga desaku mengangguk-anggukkan kepala. Ingin rasanya aku segera meludahi wajah lelaki itu atau memukul kepalanya dengan ranting kayu.

"Dia kah?" tanyaku lagi pada Sum. Kali ini dengan satu tangan memegang erat pundaknya dan tangan satunya lagi menunjuk ke arah laki-laki berkemeja biru itu.

Semenit berlalu tanpa jawaban, tanpa kata "iya" yang kutunggu-tunggu. Tapi kemudian anggukan kepala Sum kembali membawaku pada masa ah...bertahun-tahun yang lalu.

Sama, aku merasakan sakit seperti Sum, aku merasakan nyeri seperti Sum, aku merasakan tangisnya menggugah lagi perasaan pedih melilit menyayat hati.

Oh, bagaimana mungkin aku bisa membujuknya, sedangkan sakit dan luka yang sama juga aku rasakan, masih merah dan tak tersembuhkan hingga kini?

iya

mengapa membiarkannya mengoar seperti kerbau liar
mengapa membiarkannya bernyanyi seperti perkutut manggung

bunuh saja dia
bunuh saja lelaki itu
yang menusuk paksa lubang kehormatanku
yang mengalirkan darah haram ke tubuhku
yang membungkam kebenaran dengan gemintang di kepalanya

bunuh saja dia
bunuh saja lelaki itu
yang mencengkeram gumpalan indah milikku
yang mengikat hatiku pada kepedihan tak berkesudahan
yang mencampakkanku di pinggir malam hampir masuk jurang

bunuh saja dia
bunuh saja lelaki itu
tak akan ada yang menyesal karena hilangnya

sebuah cerpen jelek yang sayang kubuang

DEMO DUA KALI


Cece, kamu ngapain pakai baju seperti itu? We are going to have a demonstration!” teriak dhai-dhaiku yang cina kelahiran Kanada itu.

Yess mam, go demonstration!” jawabku tegas.

“Mana ada orang demonstrasi pakai baju seperti itu?” tanyanya dengan nada meninggi yang lebih mirip sebuah keterkejutan dengan penampilanku.

Kuperhatikan apa yang menempel pada tubuhku. Rasanya tidak ada yang aneh, pikirku. Aku memakai kaos hitam bergambar metal, celana jeans yang terlihat robek disana-sini, juga blangkon warna coklat yang bertengger manis di atas kepalaku.

“Hari ini adalah tanggal 1 Mei, lalu apa yang salah akan penampilan saya hari ini? Bukankah kalo orang mau demonstrasi itu berpakaian seperti ini?” kataku berargumen.

We are going demonstration, right?” tanyaku memastikan.

“Aku ajak kamu untuk demo masak, bukan demo di jalanan itu,” kata dhai-dhaiku.

“Bukan yau hang?” tanyaku kaget. Hampir saja blangkonku terloncat dari kepalaku.

“Bukan, bukaan! Demo masak,” jawab dhai-dhai singkat dan jelas.

Shi fan? Jadi bukan yau hang?” tanyaku lagi.

“Iya shi fan bukan yau hang,” jawab dhai-dhai lagi.

Kawan, jawaban itu tentunya bukanlah jawaban yang aku harapkan. Kerongkonganku mendadak kering, aku tak lagi merasakan setetes air ludahpun yang berada disana untuk melumaskan jalur makananku itu. Kegembiraan yang tadi meluap-luap kini hangus, sudah terbakar dan menjadi debu jugapun hampir beterbangan.

“Iya shi fan, demo masak gitu. Kami mau kamu nunjukin pada mereka bahwa kamu pinter masak nasi goreng ala Indonesia itu. Demonstrasi masak gitu,” tambah Sang sing sang.

“Nasi goreng di tanggal 1 Mei?” tanyaku dengan dahi berkerut dan suara pilu.

“Iya. Lha kamu pikir kenapa kemarin kami suruh kamu belanja banyak banget gitu?” dhai-dhai menegaskan.

“But, tapi ini khan tanggal 1 Mei, Dhai-dhai. Makanan bobo juga sudah saya siapkan. Ini Mayday, Dhai-dhai,” kataku setengah berteriak.

“Lho lha kemarin khan aku bilang sama kamu kalau hari ini kita ada acara, dan kamu kemarin bilang oke, khan?” kata dhai-dhai membela diri.

“Iya. Lha kemarin Dhai-dhai bilang kalau kita akan demonstrasi. On first of May, we go demonstration. Like that, right?”

“Iya. Tapi yang aku maksudkan bukan demonstrasi jalanan itu. Demo masak, shi fan, gitu lho!”

“Saya pikir yang Dhai-dhai maksud adalah demonstrasi yang di jalanan itu, yau hang itu,” jawabku lemas.

Mataku berkedut-kedut. Mendadak cairan panas memenuhinya. Airmataku tentu saja mengalir dengan segera, ndlewer di kedua belah pipiku. Aku tak lagi memperdulikan reaksi singsang dhai-dhaiku yang seketika terkejut melihat jatuhnya airmataku. Kubiarkan airmata itu berjuntaian, sedangkan kedua bosku itu menatapku takjub sekaligus takut.

Aku membayangkan sekarang teman-temanku pasti sedang berkumpul di Victoria Park. Dengan seragam hijau dan hitam dan panji-panji yang diangkat tinggi-tinggi. Meneriakkan tuntutan bersama ratusan atau bahkan ribuan buruh lainnya. Betapa aku ingin menjadi bagian dari mereka. Dan sekarang aku harus terkurung disini dengan wajan dan panci yang siap menanti? Oalah…

Cece, are you Ok?’ tanya dhai-dhaiku cemas.

What? OK? Dasar Ciken alias cina kentir! Lha wong hari buruh sedunia kok tega-teganya aku disuruh mbabu,” gerutuku dalam hati.

No!” jawabku pendek menyentak, hampir-hampir aku sendiri terpental kaget oleh satu kataku itu.

Aku lihat dhai-dhai berwajah takut, kemudian sing sang mengamit lengannya dan mengajak berbincang agak menjauh dariku.

Air mataku masih mengalir. Kudengar sayup-sayup Atun, babu sebelah, mengucap kata “bye-bye” kepada anak asuhnya. Oh dia kini bebas, batinku. Dan semakin deras saja airmataku menganak sungai. Oalah nasib, nasib… Haruskah aku mbabu di hari buruh sedunia ini?

Cece, sorry a. Kami tahu kalau ini adalah hari buruh sedunia. Tapi kami pikir kita sudah membuatnya jelas tentang ini. Kami pikir kamu setuju untuk demo masak siang ini,” kata sing sang.

Cece, emkoi lei a. Kami sudah undang beberapa saudara untuk datang dan menikmati nasi goreng buatanmu,” tambah dhai-dhai. Suaranya terdengar memohon sekali.

Mayday Dhai-dhai,” kataku masih terisak.

Kuusap ingusku yang juga turut berpartisipasi dalam kesedihanku. Kerah kaos hitamku menjadi basah dan agak berlendir oleh ingusku.

Kutatap wajah kedua bosku. Di matanya terlihat kata maaf yang amat mendalam juga kecewa yang teramat sangat. Pemandangan itu seketika menghentikan aktifitas sedihku. Menjadikannya gumpalan-gumpalan simpati sesaat.

“Ah rupanya salah pengertian. Seandainya dari semula sudah jelas demonstrasi macam apa yang akan dilakukan, tentu tidak begini jadinya. Kamu bisa menolak untuk demo masak dan kami bisa mengundurnya di lain hari,” kata sing sang bersintesa.

Dalam hati aku mengiyakan, memang benar kata sing sang. Sendainya dijelaskan sejelas-jelasnya dari awal tentu tidak begini jadinya.

Tim a?” tanya dhai-dhai menggantung. Matanya ada diantara aku dan sing sang.

Oh, rupanya bosku masih punya hati, pikirku.

“OO!!” teriak sing sang seketika. Kata “O” nya menyentak telinga mengagetkan aku dan dhai-dhai.

“Apa?” tanya dhai-dhai.

“Bagaimana kalau kamu libur setengah hari saja, sekarang kamu podhong, nyiapin masakan trus jam 11:30 nanti masak trus setelah masak selesai kamu cepat-cepat libur, gimana? Nanti kami yang beres-beres dapur dan cuci piringnya. Gimana?”

“Saran yang bagus! Tim a, Cece?” tanya dhai-dhai .

Boleh juga saran itu, masih mending libur setengah hari dari pada nggak libur sama sekali, pikirku.

Howak,” jawabku menyetujui.

Pemandangan bertemu dengan teman-temanku dan melakukan tuntutan tergambar lagi. Kali ini bukan dengan kesedihan tapi dengan kebahagiaan hatiku, aku akan berada di antara mereka.

Dan benar saja kawan, jam 1 setelah demo masakku selesai, aku segera meluncur ke Victoria Park. Di sana kutemukan teman-temanku masih melakukan tuntutannya.

“Lha kok kamu telat? Di telpon berkali-kali juga ga diangkat?” tanya Samiatun.

“Maaf, tadi aku lagi demo masak,” jawabku. Kujelaskan secara ringkas tentang demo lain yang kujalankan siang tadi, dan mereka manggut-manggut tanda mengerti.

“Jadi aku demo dua kali hari ini,” kataku pula.

“Oalah…buruan kesini, gantiin aku bawa tulisan ini, tanganku sudah pegel neh!” kata Paijah.

Howak, howak,” jawabku semangat.

Ka yankung, ka yankung, ka yankung!” teriak teman-temanku.

Ka yankung, ka lokong, ka kangkung!!” teriakku.

“Semprul tenan kowe iki!” teriak teman-temanku padaku.

“Nek niat demo kuwi sing nggenah yel-yelannya!” bentak Ipung ketua organisasiku.

Ka yankung, ka lokong, ka kangkung!” teriakku lagi.

“Ineeeeeeeeeeeeeeemmmmmmmmmmmmmm………………………….!!!!!!!






Keterangan:



Singsang/dhai-dhai: Tuan/Nyonya

Cece: kakak(sebutan umum)

Yau hang: demonstrasi

Shi fan: demo masak

Bobo: nenek

Emkoi lei: tolonglah

Tim a: bagaimana

Podhong: masak sup selama 2-3 jam

Howak: baiklah

Ka yankung, ka lokong, kangkung: naikkan/tambah gaji, tambah suami, tambah kangkung.

Calon Istri Kedua

Sudah tak siang lagi, tidakpun sore. Matahari yang telah pergi dua jam yang lalu meninggalkan sepi. Sepi yang membuat gemuruh di dada ini semakin memuncak. Sepi yang membuat keakraban seorang ibu dan anak menjadi gumpalan-gumpalan awan yang diam karena angin tak jua datang untuk mengusirnya pergi dari birunya kalbu. Dan itu menyiksakan.

Tak lepas-lepasnya mata tua yang telah lelah itu menatap jalan-jalan kosong. Matanya lurus memandang sedang ku tahu hatinya disini, disampingku. Mencoba memahamiku dan gagal. Mencoba membujukku dan sia-sia. Mata itu seolah takut memandangku, memandangku yang berarti menengok bayangan di masa mudanya.
Dia mendesah panjang, menutup tirai jendela yang kemudian menjadi penghalang mataku untuk melihat keluar secara jelas. Melangkah gontai menghampiriku seolah seribu beban di kakinya . Yang kulihat bukan beban di kakinya tapi di hatinya. “Ibu, maafkan Nimas,”kataku. Bibirku menganga tapi tak ada sepatah katapun yang terlepas. Kututup kembali bibirku dan aku siap menunggu.

“Haruskah ini turun-temurun ?” tanyanya pilu. Guratan-guratan kecil di dahinya mendadak menebal. Matanya menyipit menahan airmata yang sejak tadi memenuhinya. Dan lagi, dia meninggalkanku. Seolah membiarkan jarak tak menguak kegelisahan hatinya. Berjalan membelakangiku menyembunyikan wajahnya dari hadapanku.Selangkah sebelum dia sampai di depan tirai itu, setetes dua tetes airmata jatuh, aku tahu aku tahu…

“Ibu maafkan Nimas,” kataku dengan segenap keberanian yang terkumpul. “Nimas sudah memikirkannya bu. Nimas sadar akan segala resikonya. Toh mbak Ayu juga mengijinkannya. Bu, kalau ini ibu anggap dosa, biarlah Nimas menanggungnya. Kalau ini ibu anggap aib, maafkan Nimas. Tapi tolonglah jangan sekali-kali ibu anggap semua ini adalah turun-temurun. Ini cinta bu, hati yang bicara. Nimas mencintainya dan Nimas yakin dialah jodoh Nimas bu.”

Masih dengan pandangan yang sama, ibu menatapku. Sekali lagi mencoba memahamiku dan gagal. Berdiri lemas seolah tanpa daya menghadapi kemelut di dalam dirinya. Jarak yang ada di antara Ibu dan aku bukan sekedar sepuluh langkah saja, tapi sepuluh kali kerinduan akan kelembutan , pengertian dan kasih sayangnya. Tersadar bahwa aku butuh kedekatan itu, beranjak ku menujunya. Kuraih tangan tuanya dan dalam hitungan detik tangan tua itu telah basah. Tangisku pecah.

Dia yang mengajariku untuk tabah dan sabar, dia yang selalu sukses menyembunyikan duka, jugapun menangis. Saat itulah aku merasakan kedekatan yang sempat hilang. Saat itulah aku merasakan betapa jarak yang tadi ada seolah sirna di telan ombak airmata kami. Indah, nyaman.

“Lihatlah kamu,”katanya masih dengan airmata yang berlinang.

“Lihatlah ibu,”katanya lagi.

“Tidak cukupkah kamu melihat antara penderitaan dan cinta yang ibu alami sebagai contohmu?” Kurasakan getar suaranya sewaktu dia bertanya, seolah dia sendiri tak mempercayai apa yang telah di ucapkannya.

“Ibu, apakah ibu mencintai ayah ?” tanyaku takut.

“Ya pasti.”

“Apakah ayah mencintai ibu?”

“Tidak di ragukan lagi kaupun tau itu.”

“Dan Nimas pun sama bu. Nimas mencintai mas Panji, mas Panji mencintai Nimas,” kataku mantap tanpa keraguan sedikitpun.

“Tapi Nimas,…”

“Ibu, Nimas mohon izinkan Nimas restui Nimas bu, mengertilah ini bu.”

“Nimas, akankah kau kuat menerima gunjingan itu nak, akankah kau sanggup menghadapi cercaan sebegitu banyak orang ?”

“Nimas yakin pasti bisa bu.”

“Lihatlah ibu. Di mata orang istri kedua itu hina, istri kedua itu pengganggu dan pengacau kebahagiaan istri pertama. Tidak cukupkah ibu sebagai contohmu ? Lupakah kau sewaktu kau pulang sekolah dulu, menangis dan meraung hanya karena mendengar omongan orang tentang ibu ?”

“Nimas sadar, Nimas ingat bu.”

“Nimas, haruskah ini tur…….”

“Ibuu.. !!,” kataku dengan nada yang agak keras menampik kata-kata yang bakal keluar dari mulutnya, membuat ibu seketika menghentikan kata-katanya, terdiam. Saat itu juga aku menyesal telah memanggilnya dengan nada yang keras. Tapi aku tak mau kata-kata itu keluar lagi dari mulutnya, aku tak mau dia menyakiti hatiku dan hatinya dengan kata-kata itu. Aku menatapnya dengan tajam tapi mesra dan terakhir menjawabnya dengan sepenuh keyakinan dan kepercayaan diriku.

“Ibu, Nimas yakin kalau mas Panji itu jodoh Nimas. Nimas percaya kalau mas Panji mencintai Nimas sebesar Nimas mencintainya.”

Kulihat mata yang penuh kekhawatiran itu, mata yang selama ini mampu membuatku merasa teduh dan nyaman, tak berkedip memandangku. Menelanjangi di setiap kata-kataku, sebelum akhirnya menguliti keraguan yang dimilikinya. Berhasilkah dia? Entahlah.

Yang jelas, doa restupun terlempar padaku. Kemenangankukah ini? Mungkin. Semoga ibu mengucapkannya dengan kesadaran bukan keterpaksaan. Dan sudahlah, aku tak hendak berpikir lagi.

The Killer

Aku melihat dia, masih dengan langkah yang sama. Dia tegap dan berwibawa. Dia gagah dan berkharisma. Tapi dia bukan idola. Malahan banyak anak-anak yang menjuluki dia sebagai “The Killer”. Akupun ga habis pikir, padahal ga sekalipun dia membunuh seseorang. Mau tau kenapa? Sepele saja. Hanya karena kegalakan dan kedisiplinan yang ditunjukkan ke anak-anak yang kemudian membuatnya memperoleh gelar itu. Dasar anak-anak!

Misgiyanto namanya, guru paruh baya yang mengajar matematika di sekolahan kami. Dia dingin dan terlihat angkuh. Di wajahnya tak pernah kutemukan senyum. Guratan-guratan selalu terpasang di keningnya, membuatnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Kutafsir umurnya 45 tahun. Ga terlalu tua khan?

Melihat dia hatiku bergetar, ketakutan membuatku mempercepat langkahku. Tadinya hanya berjalan cepat, kini akupun sudah berlari. Mengejarnya ? Bukan !! Aku mengejar ketertinggalanku. Ini sudah jam tujuh lebih satu menit, yang berarti semenit yang lalu bel sekolah sudah berteriak. Koridor_koridor hampir sepi. Semua calon pemikir dan pembangun bangsa tergesa masuk kelasnya masing-masing.

“Alamak mati aku !”teriakku dalam hati. The killer berada satu langkah di depanku. Kegugupanku makin kentara. Dan… mak guabruukkk!! Aku terjatuh persis di bawah kakinya. “ Sialan!” gerutuku masih dalam hati juga.

“Maaf pak, saya terlambat,”kataku masih dengan posisi tengkurap dan kepala sedikit mendongak. Dia hanya menoleh dan kemudian berlalu tanpa memperdulikan aku sedikitpun.

Ya Tuhan, aku sakit hati diperlakukan seperti itu olehnya. Tidakkah terpikir olehnya untuk sekedar menungguku berdiri barang semenit dan mengucap sepatah kata menanyakan keadaan ku? Sudah matikah perasaannya terhadap penderitaan orang lain ? Hmm keterlaluan!

Kumelihat banyak anak-anak tersenyum lewat jendela kaca kelas mereka dan bahkan ada yang tertawa melihat penderitaanku ini. Ah sama saja, mereka tak lebih baik dari pada the killer.

Kukumpulkan tenagaku, dan bergegas berlalu dari tempat sialan itu. Sekali lagi aku harus berlari, the killer sudah masuk ke kelasku. Akankah dia mengijinkanku mengikuti pelajarannya? Ataukah akan mengusirku serta-merta? Lalu bagaimana dengan rencana ulangan hari ini?
Ya Tuhan, lunakkanlah hatinya, doaku sendiri.

“Maaf pak, boleh saya masuk?” tanyaku dengan segenap keberanian yang berhasil kukumpulkan. Dia memandangku, sesaat saja. Sekilas aku lihat ada sebenang senyum, sesaat saja, hanya seper sekian detik sebelum kemudian dia berpaling ke anak-anak. Tak salahkah penglihatanku tadi? Sebenang senyumnya telah membuatku melupakan perlakuan buruknya tadi. Keberanianku bangkit, harapanku untuk mengikuti pelajaran dan ulanganpun demikian menggebu.

“Maaf pak, boleh saya masuk?” tanyaku lagi lebih mantap dan penuh dengan kepercayaan diri. Tapi dia diam, tidakpun menoleh kepadaku.

“Kumpulkan buku catatan dan buku pelajaran kalian, dan keluarkan selembar kertas untuk ulangan. Sekarang!” perintahnya yang segera diikuti oleh kesibukan seisi kelas. Hah?? Lalu bagaimana dengan nasibku? Mana sebenang senyumnya tadi?
“Maaf pak boleh saya masuk dan mengikuti ulangan?” tanyaku lagi. Kali ini keberanianku mulai mengendur, keringat dinginpun mulai berjatuhan dari ujung-ujung jariku. Mataku menatap sesosok angkuh dihadapanku, mencoba mencari keikhlasannya.

“Kamu duduk,”katanya dengan tanpa menoleh kearahku.

“Terima kasih pak,”jawabku.

Sekali lagi kumelihat sebenang senyum itu, sesaat saja, hanya seper-sekian detik saja. Itupun sudah cukup untuk menyemangatiku. Ya Tuhan terima kasih. Sebenang senyumnya telah memudahkanku dalam meggarap semua soal-soal ulangan yang diberikannya. Rumus-rumus yang semalam aku hafal dalam keremangan lampu minyak tanah seakan terlihat dengan jelas di depan mataku. Selanjutnya sebenang senyumnya membuatku mencintai matematika, mencintai kedisiplinannya, mencintai keangkuhannya…. Mencoba memahami segala alasan yang mungkin ada di balik sikap-sikap angkuhnya. Sebenang senyumnya adalah sebuah bukti bahwa dia masih peduli. Dan mungkin juga dia mencintai… Aku harap, banyak yang melihat sebenang senyumnya tadi.


Cerpen adalah nyata kubuat untuk Bapak Misgiyanto yang berada di SMAN 1 Blora. Mungkin beliau telah lupa akan kejadian ini, namun aku akan selalu mengenangnya.

Almost Insane

“All I really need to know about how to live and what to do and how to be I learned in kindergarten…. Share everything….”

Some where in a book in which I have forgotten about the writer, I have found those words. Well, that is true for sharing is a good thing to do in life. May be, I have taken so much by those words. It has changed me from country kind of girl into rock kind of lady.

It might be just a little tiny bit of leaping from just simple sharing into a such a thrilling sharing. But half of the world against me.They said that I have assumed it (sharing) wrongly. I think they have misunderstood me, seriously completely misunderstood!

Most say the way I share is impossible, almost insane. See, I am not talking about sharing toys or things here, but love. There is an awesome guy who has made me fall deeply in love (or may be, fall madly in love as well). The guy who can be a prince in any season of my heart. I might have summer, fall or winter in one day but he is always be my sunshine. He is the one who give me brightnes and power to survive. I know, I knew, all of woman may not be as lucky as me but you do have some one (or some hope) for having this kind of man, don't you?

OK, I will make it short! I am falling in love to a 45 years old man. Why 45? This is the age when the man has his prime, the golden year, isn't it? Into addition, 45 years married old man. Oh yes!

So deeply in love I till I feel that sharing him with his wife is very much better than not having him at all. It is normal to me. I don’t care what he has done with his wife out there, I don’t even want to know. All I want is his love when he is with me. That's it! 

I had sex with him, gave him everything. May be a little bit too excessive but this is probably all of my fault. I let him do it without any rejection.  How could I resist it? I never had the power to do it. I am bound to him. I was never be able to separate which one is love nor pleasure. Can you?

 But how can the hell be so different about this "sharing" thing from other's opinion?

“You are sick!” my friend snapped at me.

“ I don’t think so, I am perfectly fit,” I denied.


“You are sick and need a treatment!” she added.


“Oh I see, you hate me telling about him. But he is all topic I have."


There is a long pause, both of us are not paying attention to each other anymore. I don’t know why I feel like vomiting, her words are giving me a sudden sick. I may know her a couple of years earlier than "my man" but she is no matter to me anymore. Ever since her disliking and her thinking of me, that is the end of our friendship. Having her as a friend is like having an enemy under the pillow. It pricks your head and let you bleed to die a lot earlier. When some one is no longer understand you, she is nobody.


I really don’t care if some one says that I am stupid and stubborn because I am. Once I have made up my mind there is no way to change. I love him and that is that!

_______________________________________________





 

nyoba sedikit "miksi" pakek bahasa Inggris, haha!! mawuttt grammarnya....