Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Cerita 2 Oktober

:Untuk kawan-kawanku di Hong Kong

Namanya Safi atau ah... sebenarnya aku tak tahu. Dia cuma mengenalkan diri dengan nama Safi begitu, tanpa aku tahu bagaimana menuliskan namanya dengan baik dan benar. Tapi lucunya dia suka dipanggil Sapi'i oleh kawan-kawannya. Geli juga mendengarnya. Cewek secakep dia, dengan hidung mancung dan bibir tipisnya, mata bulat dan tubuh tinggi semampainya, dipanggil Sapi'i? Ah! 

Malam itu kami berbagi meja di sebuah restoran cepat saji di kawasan Hennesy Road di atasnya Mc Donnald, Causeway Bay. Itu tuh tempat mi yang ada mangkoknya yang berdiameter 30 cm dengan menu mie-mienya.

Awalnya aku acuh, melihatnya duduk pun tidak. Aku lebih disibukkan dengan foto-foto demo mahasiswa-mahasiswi Hong Kong yang menuntut demokras yang sebenarnya (pilkada langsung) di Hong Kong (semoga bisa ngeblog tentang itu). Mataku menatap lekat ponsel android murahan dengan headset menancap erat di ke dua belah kupingku. Ketika aku sedikit mendengar suara tapi tak jelas, kulepaskan headset yang menyumpal di kuping kiriku, namun masih kurang jelas juga. Akhirnya kuputuskan untuk mencabut keduanya lalu berkonsentrasi pada makhluk cantik yang mirip artis Korea (bedanya cuman jerawat dia banyak) di depanku itu.

"Sendiri, Mbak?" tanyanya dengan senyum ramah.

"Iya. Kamu juga?" tanyaku.

"Iya. Pada nggak libur," jawabnya.

"Asal mana, Mbak," tanyanya lagi.

Pertanyaan biasa bila bertemu seseorang pertama kalinya adalah: nama, asal, kerja di mana, kerjanya apa saja, bosnya galak apa enggak, sudah berapa lama di HK.

Yang membuatku tertarik adalah bibirnya yang tipis dan bergincu tipis (atau entah warna bibirnya memang pink) yang selalu menyunggingkan senyum ketika berbicara itu. Hei! Itu khan biasanya aku? Biasanya aku yang selalu tersenyum-senyum ketika berbicara, bukan? Dan betapa cantiknya melihat seseorang berbicara dengan tersenyum-senyum begitu.

Lalu aku sibuk membuat kesimpulan-kesimpulanku sendiri. Gadis cantik berambut pirang ini pasti ikutan nge-dance atau fashion show deh, soalnya dia terlihat stylish banget dengan eye liner tipis yang membuat matanya tampak lebih bulat dan dengan kacamata yang digunakan untuk bando itu. Lalu jawabannya membuatku tercengang.

"Dulu iya, dua bulanan. Lalu keluar," jawabnya.

"Kenapa?" buruku.

"Yang ngajarin pulang. Tapi sebelum itu aku juga merasa kurang nyaman. Pengeluaran banyak untuk manggung. Sepatu, kostum. Fashion juga gitu," jawabnya yang kujawab balik dengan "o" saja.

"Sempat pacaran pula, tapi sudah putus lalu sekarang temenan biasa aja sama dia," katanya.

"O baguslah kalau baik-baik. Jangan berantem ya," kataku.

Ok, aku memaklumi, itu adalah privacy dia. Mau pacaran sama siapa kek itu urusan dia. Sudah mau berbagi dengan aku sejauh inipun sudah luar biasa bagiku. Entah mengapa aku seperti punya kekuatan untuk memaksa lawan bicaraku untuk menjawab pertanyaan "mengapa dan bagaimana"-ku. Menjelaskan sesuatu padaku dengan suka cita.

Mungkin karena aku melihat mata lawan bicaraku dan dengan begitu mereka merasa aku bisa dipercaya untuk diceritai sesuatu, atau mungkin pula karena mereka sedang desperate ingin berbagi, entah.

"Suka begini. Bebas. Tak banyak teman, tak tergantung sama satu teman. Bisa ke mana-mana. Hiking, atau apa, enak-bebas," jelasnya.

"Libur tiap Minggu?" tanyaku.

"Iya."

"Nggak tertarik ikut kursus? Komputer, bahasa Inggris, Akuntansi? Banyak yang gratis kok," aku menawarkan.

"Mmm... Pengin menjahit tapi belum tahu di mana," jawabnya.

"Ada di sana, di situ (menyebutkan tempat kursus menjahit). Mau aku antar?" tanyaku.

Namun dia menjawab dengan tersenyum. Mungkin untuk saat ini belum tertarik, mungkin nanti, pikirku. Tiba-tiba aku jadi ingin sharing sesuatu, tiba-tiba aku merasa mempunyai kewajiban untuk menyampaikan sesuatu.

"Ketika kamu sudah setua aku, sudah selama aku tinggal di HK sedang kamu kurang mempunyai ketrampilan, maka kamu akan merasakan penyesalan sepertiku," kataku memulai.

"Tapi aku SMA aja nggak lulus, Mbak. Dulu kelas dua naik ke kelas tiga aku keluar, karena ingin kerja," kata gadis asal Kediri ini membela diri.

"Di sini kursus enggak perlu ijasah apapun. Kursus yang gratisan juga banyak," kataku.

"Aku cuma pengin punya uang, pulang, nikah, punya anak lalu enggak ke mana-mana lagi," kilahnya.

"Amiin," jawabku.

"Aku ditinggal ibuk ke Saudi dan aku tahu benar bagaimana susahnya kurang kasih sayang dari ibuk," katanya.

"Aku nggak pengin ke mana-mana kalau sudah punya anak. Aku mau di sampingnya, aku mau di sisinya, ngerawat dia," matanya menerawang.

"Aamiin," kataku lagi.

Karena sudah sementara waktu ditunggui orang untuk giliran meja makan dan petugas restoran juga telah dua kali datang mengangkut mangkok dan gelas kami, maka kami beranjak.

"Lihat demo yuk," ajakku.

Kami menyusuri Hennesy road ke arah Wanchai lalu balik lagi ke Causeway Bay. Di depan MTR station exit F, Causeway Bay, kami berhenti sejenak sebelum berpisah.

"Mbak, sebenernya aku nggak mudeng dengan demo ini," katanya jujur.

"Aku ini tahu apa ya?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Baca. Jangan cuma membaca status cekakakan  di FB thok tapi enggak peduli lainnya," kataku.

"Aku suka sesuatu yang ringan, yang enggak usah mikir, yang bisa membuatku rileks. Bukan berita-berita berat begitu," nah gadis kelahiran tahun 1988 ini membela diri lagi.

"Kalau gitu enggak usah tahu sekalian, enggak usah nanya. Nanggung kalau tahunya cuma sedikit, mending nggak usah, hehehe...," kataku.

Lalu kami pun berpisah. Dia terpaksa naik MTR karena tram nya enggak jalan padahal dia bilang paling suka kalau naik tram. Ha! Kebalikan sama aku yang paling benci naik tram. Sedang aku memilih naik minibus.

Entah mengapa, aku merasa sedikit berat meninggalkannya, merasa belum selesai aku menjelaskan sesuatu tapi juga merasa tidak perlu menjelaskan terlalu panjang lebar. Takut kalau-kalau terkesan terlalu menggurui. Dan satu perasaan lain yang membuatku tak selesa adalah: waktu "kepulanganku" (ke tanah air) sudah semakin dekat dan aku belum merasa berbuat apa-apa, belum belajar apa-apa.

Punakawan Mbeling: Kabeh Metu

Republik Astina Raya kuwi yen rinasa-rasa kok njelehi. Lha gene wong kabeh pemimpine kok penyakiten. Gek penyakite ki langka tambane. Ya kuwi penyakit sakit hati lan dendam kesumat.

Kaya dene Nagagini (ratu ka-lima) sing cengkerengan karo Pandhu (raja ka-nem). Trus sapa kuwi... anu... Duryudhana sing mungsuhan karo Nagagini lan Gareng jalaran Gareng (meh) kasil disengkakake dadi gantine Pandhu Dewanata.

intermezo:


"Weh! Ya sudah sewajarnya nek aku nesu karo Nagagini. Lha wong kabeh ex raja kuwi ngganteng kathik gedhe dhuwur. Lha iki kok tangane ceko, sikile pincang, mripate kero. Ngisinga pitung cikrak! Arep dadi apa Republik Astina Raya yen dipandegani dening bekakas kaya ngono kuwi?" ujare Duryudhana karo nempelke pin manuk emprit ing sisih tengen dhadhane. 

Omongan kaya mengkono mau langsung kamot ing Astina Post, Tabloid Wayang, Pandhawa Times, njur kasebar ing jagad medsos. Njur sakabehing wayang ing jagad medsos kang kalebu ing Gareng Fans Club mangsuli: "Ceko kuwi tandhane menawa ta Gareng ora nduweni pepinginan kanggo njupuk apa sing dudu hake, pincang kuwi tegese Gareng sarwa ngati-ati ing jagad pewayangan, dene kero kuwi tegese Gareng tansah awas lan waspada."

"Weh lha mukiya gombal amoh!" panyaute Asosiasi Duryudhana Lover.

intermezo wis rampung.


Kaya dikomandho, kamangka ora, Astina Post, Tabloid Wayang, Pandhawa Times, menehi headline "All Out Tegese Kabeh Metu". Headline kuwi langsung gawe gegere Astina. Prabu Pandu sing meh luntur wibawane kang paring sabda kaya mangkono kuwi marang andhahane kang kajibah melu rembug perdhemitan ing tlatah DPR, Di bawah Pohon Ringin, wit sakral kang dadi omahe gendruwo, wewe gombel, buta Ijo, dhemit, pocong, drakula lan sapiturute supaya all out.

Prabu Pandu sing lagi plesir kuwi kelalen yen ta andhahane mono ora lulus TOEFL. Eh lulus dhing, nanging ndadak nyogok karo Miss Rie Rie sing kapatah dadi dosen basa Inggris.

Lha amerga Miss Rie Rie minggat menyang Hong Kong saperlu nglanjutna kuliah S5 (Sekolah Samsaya Suwe Samsaya Susah) ing Hong Kong Institute of Perbabuan, lan wis di-ping BBM-e ning ora menehi wangsulan, mula andhahan kang mung kethok pinter mau njur mbukak saweneh website kang aran gugel translet.

 Dene piwolehe kaya gambar sisih kiwa iki. "All out" miturut gugel translet jebul tegese "semua keluar", yen ngono ing basa Jawa padha karo "kabeh metu". Oke sip! Yen ngono kabeh andhahane Prabu Pandhu kang cacahe satus kuwi metu saka DPR. Olehe metu karo melet-melet, mbuh ngece mbuh ancene lagi kena rabies.

Dene ing DPR mung kari bala-balane Duryudhana karo bala-balane Nagagini sing kabeh cacahe ora ana 400. Pungkasaning crita, Nakula, saka Koalisi Sengkuni (grupe Duryudhana) sing bakale disengkakake dadi ketua dhemit ing DPR.

"Diancuk! Kakekanipun tenan!" pisuhe Koalisi Bethari Durga (grupe Nagagini) sing njagokake Sembadra.

"Huahahaha...!" guyune Koalisi Sengkuni lan Asosiasi Duryudhana Lover.

Sakala, sakabehing gendruwo, wewe gombel, buta Ijo, dhemit, pocong, drakula lan sapiturute sing ana ing DPR terinfeksi virus sakit hati lan dendam kesumat. Rembug perdhemitan ing DPR (red: Di bawah Pohon Ringin)  bubar lan buyar kanthi ending kang ora maremake. Eh, maremake kanggone Koalisi Sengkuni dhing!

Njur wengine, jagad medsos geger. Jane mesakake Pandhu, yen ta kudu nanggung kabeh mau. Pandhu disalah-salahke, diece, lan dikuya-kuya. Ning priyayi gedhe dhuwur sing melu ISIS (Ikatan Suami takut IStri) kuwi ora kurang akal kok. Mak tuing, njur metu pamikiran kepriye amrih isa win-win solution. 

Ya ngene iki. Pungkasane, kabeh wayang ya kudu bertekuk lutut marang par-tai politik perdhemitan, amarga par-tai politik perdhemitan kuwi kang bakal nemtokake lakune Republik Astina Raya. Najan ta kabeh wayang cilik sing milih par-tai politik perdhemitan kuwi, durung karuwan yen ta dhemit sing kapilih kuwi bakal ngeboti wayang cilik kaya ta Den ayu Limbuk lan Bagong. Sarwa salah ta?

 Yen ta para dhemit mau niat ingsun ing par-tai politik perdhemitan kanggo mbangun Republik Astina Raya samesthine ora bakal ngorbanake lan memanfaatkan dunya pewayangan.

Puasa Pertama di Hong Kong

Gara-gara pilpres, jadi lupa posting tentang puasa di Hong Kong padahal ini sudah ada di draft hampir tiga minggu yang lalu. Fiuh!

Jujur sampai sekarang saya belum tahu, sebenarnya apa sih hukumnya makan sahur dari makanan hasil curian atau selundupan makanan lopan/majikan?

Sembilan tahun yang lalu ketika puasa pertama saya di Hong Kong jatuh pada bulan keempat saya mengabdi pada keluarga Wong, situasi saya serba sulit. Untungnya kedua lopan saya berangkat kantor dari pukul delapan pagi hingga tujuh malam, jadi pada siang hari aman-aman saja untuk berpuasa. Justru godaan terberatnya adalah saat sahur. Tiap kali memasak untuk dinner hanya cukup dimakan tiga orang saja, yaitu untuk saya, nyonyah dan pak bos. Jadi pas itu ya terpaksa sedikit ngutil makanan dinner trus disimpen di dalam BMW (sebutan untuk tas geret belanja) dan setelah lopan tidur baru saya bawa setengah mangkuk kecil makanan itu ke kamar saya. 

Dulu saya dilarang keluar rumah dan saya manut saja, lha khan masih baru dan lugu gitu (kalau sekarang mah tiada hari tanpa berantem). Kendati bisa keluar rumah, uang saya juga tak cukup untuk membeli sepotong roti sekalipun

Dengan sisa gaji hanya $270 (setelah membayar $3.000 upeti kepada agency sebagai biaya penempatan dan pemberangkatan saya ke Hong Kong), saya nyaris seperti babu terndoweh se-Hong Kong. Lha iya, wong uang segitu itu harus bisa  untuk dua kali libur (dalam sebulan dulu saya dapat libur dua kali padahal seharusnya dapat libur sekali dalam seminggu), beli softex, sabun/odol, pulsa dan MBK. MBK? Kenapa harus memakai MBK kalau keringat saya saja wangi? Iya, di PT saya dulu semua calon TKW diwajibkan untuk membeli dan memakai MBK setiap hari. Lucunya MBK tersebut harus dibeli dari toko di PT. Dan itu (membeli dan memakai MBK) menjadi kebiasaan saya selama dua tahun pertama di Hong Kong. Terlebih karena mantan pembantu lopan yang dulu bekerja hanya dalam waktu dua minggu itu dipecat kuwarasan dengan alasan bau badannya yang nyegrak.

Saat libur dulu saya paling hanya makan satu kali saja yaitu satu jam sebelum saya pulang kandang (pulang ke rumah majikan setelah libur). Selebihnya saya selalu membawa air dua botol kecil, satu polopau (roti nanas) dan dua sisir pisang. Payahnya, di bulan Ramadhan saya terkena virus yang bernama "kemaruk". Walhasil pisang dan polopau yang bisa disisihkan untuk saur diembat juga saat berbuka puasa. Akibatnya tentu teruk sekali.

Nah, berhubung manusia adalah homo sapiens yang cerdas maka saya mendapat ilham untuk memenuhi tuntutan kedua,  mencari makanan untuk sahur.

Lumbung makanan itu adalah kulkas dan kulkas berada di dapur dan dapur berada persis di depan kamar lopan. Dengan ilmu maling yang saya warisi dari petinggi negeri yang kerap korupsi, saya mengendap-endap dengan tujuan untuk blusukan ke dapur.

Perasaan sih cuma sekian detik saja saya membuka kulkas dan screening isi kulkas sambil mengunyah selembar roti tawar, mendadak kulkas menjerit histeris. "Tit...tit...tiit..tiit....titititititititititiiii..." Paniklah saya. Langsung saja kulkas itu saya tutup mak jebret. Baru saja mak jebret, pak bos sudah berada di samping saya. 

"What are you doing?" tanyanya. Pertanyaan lumrah itu tiba-tiba seperti auman macan Asia pada pukul 3 dini hari.

Dengan mulut dipenuhi roti tawar, saya spontan menjawab, "Baby hungry. 

Jawaban itu pastilah membuat pak bos kebingungan. Tidak mungkin bayi yang belum berumur enam bulan itu makan roti, lha wong bubur encer saja tidak. Kenapa tidak mengambil botol susu? Kenapa roti? Atau mungkin juga beliau tidak melihat roti karena gelap gulita, semua lampu padam. Saya tak tahu. Tapi saya berusaha keras mempercayai alasan kedua dengan dada masih berdebar-debar karena kaget yang masih menguasai.

Beliau berbalik ke kamarnya tanpa bertanya-tanya lagi, saya lega. Dan saya (terpaksa) masuk ke kamar bayi sekedar mengecek sekaligus pura-pura ngasih susu.

Oalah...nyuri makanan untuk sahur apa hukumnya?

Nama Cina Jokowi & Prabowo

Pas selesai dinner. Pak Bos masih di meja makan nungguin anaknya yang belum selesai makan. Apple Daily (salah satu nama koran) di tangan kanan, I-phone di tangan kiri, kepala mlengos ke dapur.

"Do you know this Waithotho and Polabowo?" tanyanya.


"Hem? What food is that?" aku balik bertanya karena merasa enggak mudeng dengan pertanyaannya. Biasanya sih kalau pak bos atau nyonyah membaca koran lalu memanggilku berarti lagi pas melihat resep makanan dan nyuruh aku masak seperti itu besuk harinya.


"Lei ko President a (presidenmu)!" teriaknya. 



Disorongkannya I-phone miliknya kepadaku. Di I-phone itu kulihat dua foto yang akhir-akhir ini lagi panas-panasnya jadi trending topik, Prabowo dan Jokowi, di wall FBnya pak Bos. Oalah...jadi nama Cina Prabowo itu Polabowo (Prabowo Subiyanto:  的前女婿普拉博沃)  sedang nama Cina Widodo itu Waithotho (Joko Widodo: 印尼奧巴馬」維多多) 

Tampak Prabowo memakai baju putih yang lagi pidato dan Jokowi yang memakai kotak-kotak lagi ancang-ancang lari di panggung, disaksikan ribuan folowernya. Ternyata kawan-kawan kerja bosku juga ada yang berasal dari Indonesia dan mereka juga sama-sama gencarnya update status tentang kedua capres fenomenal tersebut.

"What does he say?" tanya pak bos sambil nunjukin postingan di FB temannya.


"Talking about quick count," jawabku.
 

"What does he say?" tanya pak bos sambil nunjukin FB temannya yang lain.

"Demonstration on Sunday coz some did not have chance to vote," jawabku. Jiah..malam ini aku jadi translator dadakan.


"How about you? Did you go and vote?" tanya pak bos lagi.


"Yes."


"Does any of this Withotho and Polabowo make any difference to you here?" pak bos semakin ingin tahu dan dia menanti penjelasan dariku.


Aku unjal ambegan sebelum menjawab. Berdoa semoga aku enggak salah ucap atau salah memberi info.


"This one (sambil nunjuk foto) said he wil blablabla.... And this one (sambil nunjukin foto) said blablabla...."
 

"There is a plan to stop sending Domestic Helper, you know," tambahku, berharap pak bos ketakutan mendengarnya. Diluar dugaanku pak bos dengan kalemnya menjawab: "Don't trust them 100%, they will change after won the vote."
 

"That is so damn true!" teriakku dalam hati dan kecewa juga karena gagal menakut-nakutinya.

"What does he say?" tanya pak bos lagi sambil nunjukin FB temannya, aku jengah.


"They are two versions of news about election in HK," jawabku. 


Tiba-tiba.... Mak jederrrr..! Ada link blogku di situ, dishare oleh temennya bosku. Modiarrr kowe Rie..!!

"Why are you so "kepo"?" (kepo: bhs Hokkien artinya pengin tahu) kataku menunjukkan wajah tidak suka (sekaligus was-was)


"Just curious," jawabnya sambil mesem lalu kembali lagi ke I-phonenya.


Aku buru-buru pergi biar nggak ditanyaain lagi. Ughh! Nyaris!

Hasil Quick Count di Hong Kong

Mbak Betty, advisor Helpers for Domestic Helpers (organisasi non profit di Hong Kong yang didirikan untuk memberi bantuan kepada pekerja migran), mengajakku melihat quick count yang diadakan di KJRI pada 9 Juli kemarin, tapi buatku impossible banget. Lha wong momongan saja lagi liburan, yang artinya akan berada didekatku sehari full, nganter les ke mana-mana dan dolan seharian menemaninya. Gimana mau menyempatkan diri ke KJRI? Lha wong ngeblog tentang quick count saja baru sempat sekarang, saat lagi menunggu momongan keluar dari tempat lesnya. Life is hard, men! Saya menjadi babu beneran saat musim liburan gini (emangnya selama ini bukan?)

Lalu saya melihat brodcast KJRI dan PPLN-HK yang memberitakan hasil quick count sebagai berikut:
Capres 1: 6.169 suara atau 24,3%
Capres 2 : 19.166 suara atau 75,4%
Tidak sah: 89 suara atau 0,4%


Dengan rincian jumlah suara per-TPS sebagai berikut:
TPS01 1.808 suara
TPS02 1.760 suara
TPS03 1.753 suara
TPS04 1.838 suara
TPS05 1.664 suara
TPS06 2.020 suara
TPS07 2.119 suara
TPS08 2.035 suara
TPS09 1.815 suara
TPS10 1.939 suara
TPS11 2.010 suara
TPS12 1.607 suara
TPS13 1.488suara
TPS14 832 suara
TPS15 736 suara

TPS01 hingga TPS13 adalah pemilihan suara yang diadakan di Hong Kong sedang TPS14 dan TPS15 adalah pemilihan suara yang diadakan di Macau.


TPS01 hingga TPS13
sebanyak 23,856 suara.

TPS14 dan TPS15 sebanyak 1.568 suara.
Jumlah keseluruhan (Hong Kong-Macau) adalah 25.424 suara.


Namun jumlah ini masih jumlah sementara karena masih akan diadakan perhitungan susulan untuk surat suara yang dikirim lewat pos dan yang didrop ke penjara-penjara.

Dari kesekian surat suara yang masuk, surat suara yang tidak sah dikarenakan kertas suara rusak. Ada yang dicoblos di luar kotak dan di kotak ( mungkin dilipat trus dicoblos) dan ada yang disobek-sobek. Ada pula yang mencoblos nomer dua sambil menuliskan harapannya juga ada yang menggunting gambar capres nomer 2 dan memasukkannya ke kotak (saking cintanya kalee).

 Sedang rincian suara kedua capres per-TPS sebagai berikut (lihat gambar):



 Berikut adalah situasi di KJRI saat quick count. Foto-foto ini saya dapatkan dari mbak Betty.

situasi penghitungan TPS 7 & 8
Saksi menunjukan yg tidak sah krn menyobek dan memasukkan gampar capres no2 saja ke kotak suara


penghitungan di TPS 5

pengumuman hasil quick count.



Foto bareng usai quick count
 ____________________________________________________________________


**Postingan telat 
terimakasih kepada mbak Betty Listiani Wagner atas foto-fotonya.



Kisruh Pilpres di Hong Kong

Jam 5, pintu utama sudah tutup.
Foto by Kyteth asti

Saya merasa mempunyai kewajiban untuk menuliskan kericuhan pelaksanaan pilpres di Hong Kong. Beberapa e-mail, whatsapp dan inbox FB dari kawan-kawan menanyakan berita-berita yang tumpang tindih di media sosial (medsos) dan meminta kejelasan dan kesaksian saya tentang apa yang saya lihat dan saya dengar di TPS. Sebagai mantan reporter di beberapa media cetak berbahasa Indonesia di Hong Kong, insting saya menuntun saya ke mana saya harus bergerak dan menyaksikan kejadian yang patut digarisbawahi (bukan berniat menyombong tapi karena ada beberapa komentar dan pesan yang meragukan kebenaran postingan saya).

Berita di medsos terlalu banyak MSG dan ditambahi di sana-sini. Entah pula dari mana medsos itu mendapat keterangan. Apakah dari orang yang menyaksikan langsung atau sekedar berita "katanya"?

Akhirnya pembaca digiring pada pada opini ini-itu sesuai kepentingan medsos tersebut. Namun bukankah tugas medsos untuk memberikan fakta? Bukan opini atau isu? Kalau opini atau isu kenapa harus diberi label berita? Ya memang negara Indonesia ini negara besar namun bukan berarti sebuah berita harus dibesar-besarkan untuk membesarkan Indonesia. Bah!

Saya bolak-balik ke lapangan rumput Victoria Park, tempat pesta terbesar sepanjang sejarah berbangsa dan perpolitikan Indonesia di Hong Kong. Saya dan beberapa kawan juga sudah menduga akan adanya kesemrawutan dan keramaian, ketimpangan berita dan ketimpangan pelaksanaan pilpres 20014 di Hong Kong.

Pilpres dimulai tepat pukul 9 pagi. Beberapa kawan yang sudah mengantri memasuki pintu masuk menuju TPS.

Lapangan rumput Victoria Park berubah menjadi "kampung Pemilu" karena keseluruhan lapangan digunakan sebagai Tempat Pemungutan suara (TPS).

Ada 13 TPS di lapangan rumput itu yang dikelilingi oleh pagar besi dua lapis dan hanya ada satu pintu masuk menuju TPS-TPS itu.

Dengan adanya tiga jalur yaitu jalur hijau (untuk yang bawa undangan), jalur kuning (yang tidak terdaftar dan belum mendaftar dan hanya berbekal KTP Hong Kong atau Passpor untuk pendataan baru secara manual kemudian dimasukkan ke data komputer) dan jalur merah (untuk pemilih yang bingung, misal gak jadi milih lewat pos tapi pengin nyoblos langsung atau kehilangan surat undangannya) dan sosialisasi tentang mekanisme pencoblosan yang sebenarnya sudah dilaksanakan di aula Ramayana KJRI-Hong Kong pada 21 Juni lalu, namun pada pelaksanaannya masih banyak kekurangan.

Pemilih yang rencananya dibagi dalam tiga jalur itu ternyata harus melewati pintu masuk yang cuma satu thok til. Tidak ada pemisahan antara calon pemilih jalur ijo, kuning, abang  semua ngrumpel jadi satu. PPLN Hong Kong gagal mengantisipasi ini. Antrian berjubel dan tidak jelas. Petugas malah menyilakan pemilih dengan jadwal waktu pencoblosan kapanpun bisa masuk, ini semakin membingungkan. Pintu masuk dipecah menjadi dua saat banyak protes dan masukan diteriakkan oleh kawan-kawan kepada petugas, itu pun baru sekitar pukul 11.30 AM yang diumumkan lewat pengeras suara. Namun karena ratusan pemilih yang setiap orangnya memiliki mulut yang tidak bisa diam dan kebutuhan selfie yang mendadak menjadi penting sekali, kemungkinan pengumuman itu kurang didengar atau (diabaikan?). Saya melihat beberapa petugas PPLN beredar untuk memberitahu info itu kepada pemilih yang baru memasuki area lapangan rumput, itupun masih banyak yang bingung.

Antrian mengular, cuaca panas. Saya sendiri mengabaikan kepala saya yang sedang kebul-kebul kepanasen kemudian bergabung di antrian pada pukul 1.15 PM dan baru selesai pukul 2.15 PM (saya membawa surat undangan). Bagi saya pribadi kalau mau jujur, yang gagal nyoblos itu sebenarnya bisa nyoblos kalau mereka on time dan tidak takut panas. Meskipun begitu, pelaksanaan Pemilu di Hong Kong seharusnya bisa diminimalisir keruwetannya mengingat pengalaman pileg pada Maret lalu. Kalau pada pileg pemilihnya bertambah, maka pada pilpres bukan lagi bertambah tapi berkelipatan.

15 menit sebelum coblosan selesai petugas PPLN lewat pengeras suara (sekali lagi, lewat pengeras suara) mengumumkan bahwa pilpres akan selesai (pilpres selesai pukul 5 sesuai jadwal & ijin dari pihak Victoria Park). Kondisi pintu masuk menyepi PPLN menyilakan kawan-kawan yang berada di depan pintu masuk untuk segera ke TPS lalu menutup pintu masuk.

Ini yg sebenarnya gagal nyoblos
Foto by Asti
 Namun tepat pukul 5 sore, pintu masuk digrudug oleh kawan-kawan yang berlari-lari mau nyoblos (lihat gambar samping). PPLN dan KJRI menyatakan telah tutup tapi mereka meminta untuk diberi sedikit kelonggaran waktu. Maka diberilah kompensasi perpanjangan waktu selama 20 menit. Pintu samping dibuka oleh Sam Aryadi, sekretaris panitia PPLN, dan masuklah beberapa kawan yang telat datang ini. Garis besar hanya BEBERAPA, tak lebih dari dua puluh orang.

Para pemilih yang gagal nyoblos, ini jumlah yang sebenarnya!
Foto by Kyteth Asti
Herannya setelah yang nyoblos di dalam TPS kelar, ada lagi sekitar 40-70 orang (lihat gambar samping!) menyatakan mau mencoblos. Apakah foto-foto (foto sebelum mbak-mbak berteriak-teriak meminta masuk) itu ada 500 hingga seribu? TIDAK!

Semua TPS sudah tutup dan staf Victoria Park sudah ancang-ancang melakukan kegiatannya untuk membersihkan Victoria Park.

Hal ini diperburuk dengan mbak-mbak yang tadinya sudah mencoblos ikut-ikutan berteriak.

"Buka! Buka! Buka!"

Sebagian ada pula meneriakkan nama capres nomor urut dua sambil mengacungkan dua jari.

"Jokowi! Jokowi! Jokowi!"

 Kemudian mereka merangsek ke pintu masuk meminta untuk TPS dibuka kembali dan menyilakan kawan yang belum menggunakan hak pilihnya untuk masuk. Mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang sudah nyoblos yang demo inipun berjumlah 200-an orang, bukan 500-1000 seperti yang diberitakan oleh medsos.


Video ini adalah video protes dari mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang ikut-ikutan. Lalu mengapa video yang saya unggah di youtube itu saya beri tajuk "Protes Ganjil"? Karena awalnya mbak-mbak yang gagal nyoblos ini biasa-biasa saja namun setelah ketambahan mbak-mbak yang lain mendadak agresif, berteriak-teriak dan yel-yel yang lain. Ini aneh bin ganjil sekali.

Lalu ada isu yang menyatakan bahwa adanya petugas (Sigit) yang mengatakan bahwa pendukung capres No 1 saja yang boleh masuk sedangkan capres No 2 tidak boleh. Saya pribadi tidak mendengar adanya statement seperti itu, kawan-kawan media juga tidak. Bahwa setelah saya cross check dengan semua kawan ternyata statement ini yang benar: BAHWA PETUGAS PPLN BERBAJU HITAM ITU MENYILAKAN KAWAN-KAWAN UNTUK BERBARIS DALAM ANTRIAN SATU PERSATU BARU DIIJINKAN MASUK, KALAU DUA (bergerombol) TIDAK BOLEH. Medsos saya rasa mendengar pernyataan dari mbak yang berada paling belakang. Biasanya kalau kita main bisik-bisik, yang giliran dibisikin terakhir pasti salah kaprah. Iya khan? Kendati demikian apa maksud dari petugas itu menyuruh antri lagi kalau TPS sudah tutup?

Terjadilah desak-desakan. Sebagian pintu pagar besi itu roboh. Maaf, pagar besi ini bukan bentuk permanen, jadi adalah pagar yang bisa dipindah-pindakan dan dua orang saja cukup untuk merobohkannya. Dan kalau kawan-kawan berdesak-desakan itu amat sangat memungkinkan pagar besi roboh dengan sendirinya, BUKAN SENGAJA DIROBOHKAN. Pada saat yang sama, pintu pagar dan pintu masuk sengaja dibongkar oleh petugas Hong Kong yang bertugas di Victoria park karena waktu perijinannya sudah lewat.

Mbak-mbak yang berteriak-teriak demo berhamburan masuk ke area TPS dan protes kepada sesiapa saja petugas yang dijumpai.

Sekiranya ini yang bisa saya sampaikan dengan sebenar-benarnya. Saya tak terikat oleh pihak manapun dan tak terpengaruhi oleh beban membela capres pilihan saya. Saya menuliskan apa yang saya lihat dan saya ketahui. Semoga ini bisa membantu untuk mencerahkan berita yang simpang siur itu. 

Pada dasarnya kita adalah satu kesatuan WNI, siapapun presidennya nanti marilah saling dukung untuk kemajuan bangsa.

Sebagai pembanding, perhatikan screenshot broadcast dari PPLN dan kesaksian dari kawan-kawan saya lewat FB berikut:


BROADCAST PPLN HONG KONG:


 
KESAKSIAN KAWAN-KAWAN SAYA YANG MELIHAT SECARA LANGSUNG DI TPS :












Coblosan di Hong Kong

Tgl 6 Juli.
Langit sebentar terang sebentar mendung, sumuk, gerah. Tapi wajah-wajah kawan-kawan sebangsaku yang kujumpai di Victoria Park demikian semringah. Peluh pating dlewer mendelete sapuan bedak di wajah namun semangat mereka untuk menuju satu titik, jantung Victory, membuncah.

Aktivitas di lapangan rumput Victoria Park dimulai sejak pagi-pagi sekali. Tenda-tenda didirikan, spanduk dijembreng dari pohon ke pohon. Para petugas lalu lalang mempersiapkan apa yang sudah menjadi rencana besar hari ini. Yes, today is Coblosan Day. Hari ini adalah saatnya TKW-Hong Kong memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden ketujuh Indonesia.

Bahkan sebelum jadwal coblosan ini dilaksanakan beberapa kawan sudah berbaris antri di depan pintu masuk. Pilpres yang dijadwalkan dimulai pada pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 5 sore itu memakan tempat seluruh lapangan rumput Victoria Park yang seluas lapangan sepak bola jejer tiga.

13 TPS dengan enam bilik pada masing-masing TPS itu dibanjiri kurang lebih 32.000 TKW-HK yang antusias mengikuti pemilu kali ini (pada pileg hanya sekitar 6.0000 orang yang berpartisipasi).

Keantusiasan kawan-kawan ini juga disebabkan jadwal coblosan yang jatuh pada hari Minggu, hari liburnya TKW (kebanyakan liburnya hari Minggu, namun ada juga yang libur pada hari lain). Selain itu, tak bisa dipungkiri bahwa magnet dari pilpres kali ini ada pada capres nomer urut dua.  Visi misi capres asal Solo untuk TKI/W dinilai lebih realis dan solutif ketimbang capres nomer urut pertama. Selain itu kebanyakan TKW-HK yang tak lepas dari gadget HP android dengan fasilitas internet yang tergolong murah dan unlimited ini memudahkan TKW-HK untuk berselancar di dunia maya untuk mencari tahu tentang berita dan hal ihwal capres-cawapres. Streaming debat capres dan video-video yang telah diunggah di youtube menjadi referensi penting bagi kami.

KJRI dan PPLN Hong Kong yang bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan pilpres di Hong Kong ini pun menuai banyak kritikan. Dari 158.000 TKW di Hong Kong ternyata ada banyak sekali  yang tidak mendapatkan surat konfirmasi pilpres.

Surat konfirmasi pilpres ini dikirim kepada TKW-HK ke rumah majikannya masing-masing dua minggu sebelum pilpres. Setelah mendapatkan surat konfirmasi pilpres, calon pemilih diberikan dua opsi untuk memberikan suara lewat pos atau memilih langsung di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Bagi yang memutuskan untuk memberikan suara lewat pos maka surat konfirmasi itu diharuskan untuk dikirim balik ke KJRI untuk kemudian KJRI mengirim Surat Suara yang bisa dicoblos langsung oleh pemilih di rumah (rumah majikan) kemudian dikembalikan lagi ke KJRI lewat pos. Sedang bagi yang memilih untuk memberikan suara di TPS, tidak perlu mengirim balik surat konfirmasi tapi nanti akan dikirimi surat undangan mencoblos dengan barcode (untuk screening data) yang bertuliskan nama, nomer TPS dan waktu pencoblosan.

Di Hong Kong, ada pengecualian bagi TKW yang tak terdaftar dan tak mendapatkan surat konfirmasi, mereka tetap mempunyai kesempatan untuk memberikan suara secara langsung dengan cara mendatangi TPS dan menunjukkan KTP Hong Kong. Pendataan akan dilakukan secara manual dan komputer di TPS.

Kesemrawutan berlanjut dengan banyak yang mengirimkan surat balasan dan menyatakan kesediaannya untuk memberikan suara lewat pos (karena tidak libur di hari pencoblosan) tetapi malah mendapatkan surat undangan untuk memilih langsung di TPS. Ini menjadi kekecewaan yang besar karena mereka merasa dipaksa golput karena gagal nyoblos.

Malah pada hari H pemungutan suara tadi tak ada kontrol. Di pintu masuk menuju 13 TPS itu waktu pencoblosan (yang berbeda) yang tertera di surat undangan itu diabaikan oleh pemilih dan PPLN. Petugas malah menyilakan pemilih dengan jadwal waktu pencoblosan kapanpun bisa masuk. Teruknya, tidak ada pemisahan antara calon pemilih yang sudah mempunyai surat undangan dengan calon pemilih yang belum terdaftar.Sehingga ini memperlambat proses pendataan baru dan pendataan ulang. Pintu masuk dipecah menjadi dua saat banyak protes dan masukan diteriakkan oleh kawan-kawan kepada petugas, itu pun baru sekitar pukul 11.30 AM.

Parahnya, pilpres itu berakhir dengan demonstrasi yang boleh saya bilang aneh. Beberapa kawan-kawan yang melihat antrian mengular itu memilih menepi hingga terik matahari dirasa tak begitu menyengat dan panjangnya antrian menyurut. Namun ternyata antrian tersebut tak menyurut hingga waktu coblosan hampir selesai.

15 menit sebelum coblosan selesai petugas PPLN lewat pengeras suara mengumumkan bahwa pilpres akan selesai (pilpres selesai pukul 5 sesuai jadwal & ijin dari pihak Victoria Park). Kondisi pintu masuk menyepi namun tepat pukul 5 sore depan pintu masuk digrudug oleh banyak kawan-kawan yang tadinya berteduh yang ingin mengikuti pilpres. Setelah protes dan debat yang alot dan pertimbangan dari KJRI, PPLN dan Bawaslu akhirnya mereka berinisiatif untuk memberi kesempatan nyoblos 20 menit lagi. Setelah 20 menit, tiba-tiba datang lagi banyak kawan, sekitar 40-70an orang (lihat video di bawah) yang mau nyoblos. Lalu karena diberitahu bahwa TPS tutup mereka bersama mbak-mbak yang lain yang ada di sekitar TPS, mendadak protes untuk dibukakan pintu masuk untuk menunaikan haknya memberikan suara. Dan lagi, protes itu terjadi.

Ya kalau di Indonesia mah nyoblos sampai malem biasa aja khan di rumah sendiri. Lha ini di negara orang yang waktu sewa tempatnya ada aturannya. Sebenarnya kalau mau itung-itungan siapa yang salah, jujur saja:
1. Salah pemilih yang takut matahari dan tidak on time.
2. Salah PPLN Hong Kong karena ngasih surat undangan pada yang mau nyoblos lewat pos.
3. Salah TPS-nya yang kurang banyak. TPS-nya tuh seharusnya 40-50 buah dengan petugas bagian konfirmasi surat undangan sebanyak bilik suara di TPS itu. Coba bayangkan saja, di desa saja satu RWada  satu TPS. Satu RW berapa jiwa sih? Di sini 158.000 orang lho. Taruhlah yang mengikuti coblosan cuma sepertiganya saja, 13 TPS cukupkah?

Banyak yang mengeluh dan menyesalkan tidak memilih nyoblos lewat pos sehingga gagal menggunakan hak pilihnya.

*JKW kehilangan banyak suara karena ini, hehe...

Berikut foto-foto Pilpres di Hong Kong (tapi maaf, foto yang pada protes itu tidak punya karena kamera sudah habis batreinya):

menuju lokasi pilpres
menuju lapangan rumput


sebelum pintu masuk, pukul 11.30AM
sebelum Pintu masuk 12.45 PM

di depan pintu masuk @ 1 PM

jam 3 sore

jam 3 sore
aku tadi di TPS 9

pendataan bagi pemilih dengan surat undangan
menunjukkan bahwa surat suara masih baru, tidak cacat

memasukkan suara


Pendataan bagi pemilih tanpa surat undangan
pendataan pemilih tanpa surat undangan

di dalam pintu masuk, pemilih tanpa surat undangan
foto dari luar pintu

antrian mengular menuju pintu masuk

puanassss sekaliiiiiiii...!!
Video suasana pilpres di HK pada pukul 11.15 AM


Video "Protes Ganjil"
direkam oleh Mega Vristian.
Video ini adalah video protes dari mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang ikut-ikutan. Lalu mengapa video yang saya unggah di youtube itu saya beri tajuk "Protes Ganjil"? Karena awalnya mbak-mbak yang gagal nyoblos ini biasa-biasa saja namun setelah ketambahan mbak-mbak yang lain mendadak agresif, berteriak-teriak dan yel-yel yang lain. Ini aneh bin ganjil sekali.


--------------------------------------------







Srinthil 9: Saat Srinthil Debat Capres

 Saat ini, di depan kami kawan-kawan akrab kami saling berteriak adu lantang. Otot-otot leher mereka menjelantir tegang, mata-mata mereka membulat. Bahkan saat berdebat mereka sambil menggerak-gerakkan tangan dengan kasar. Merasa tak tahu apa yang sedang terjadi aku memilih diam barang sejenak.

Aku dan Srinthil terpaksa berhenti demi mendengar perdebatan itu. Padahal saat setengah jam yang lalu saat kami tinggalkan mereka untuk membeli Mie ayam dari warung lesehan pinggir Victory mereka rukun-rukun saja lho.  Lhah ini menjelang buka puasa kok sudah perang? Coba kalau dilihat sama Amien Rais, pasti dikira perang Badar deh.

Merasa nggak ngerti apa yang mereka perdebatkan membuat kami diam sejenak mendengarkan. Ketika suara itu menjadi satu persatu yang bicara bukan lagi adu cepat seperti tadi, barulah kami mengerti ke arah mana perdebatan mereka itu.

"Lha emang NKRI mau jadi Negara Kartu Republik Indonesia? Apa-apa kok solusinya kartu. Entar banjir juga solusinya pakek kartu? Mikir dong mikir!" kata Anez.

"Iya. Ih! Alergi aku sama kartu! Entar itu KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri=kartu identitas TKI yang cara membuatnya belibet) bukannya dihilangin malah digedhein, malah tambah nyusahin. Mana pencipta KTKLN (Jumhur) di sono pula! Enggak deh! Ngeri membayangkan rempongnya bikin KTKLN," ujar Miya sambil bergidik.

"Lagian kata Mister Blusukan lucu, bilang kalo  KJRI harus punya data TKI. Itu mah udah dari dulu, lha khan itu kewajiban KJRI, iya tho? KJRI ada sistem online, khan? Apa nggak sama aja tuh? Beda nama aja. Dari tahun lalu koar-koar sistem online tapi nyatanya apa coba? Orang pendataan pemilu aja ancur gini. Mosok aku milih lewat surat, dikirimin undangan. Mana bisa? Coblosannya jam 12 sampai jam 2 lagi. Khan itu jatahnya ikut seminar wirausaha. Rugi dong bokap guwe kehilangan satu suara," teriak Suzy.

"Eh, elu pikir bokap elu doang? Bapakku juga rugi tau!  Banyak yang pengin nyoblos tapi gak jadi karena gak dapet undangan dan pas gak libur," sergah Ellya

"Iya, samalah. Mangkanya, kalau pak Jokowi menang sistemnya akan diperbaiki," kata Chamid takut-takut.

"Dipikir-pikir bokap macanmu itu lucu. Lupa gak pakek laurier wings ya? Bocoor...bocoor...! Kalau kekayaan negara itu bocor, nanganinya gimana? Njelasin gitu aja ngambang, gak jelas. Semua juga tahu kalau babu ekspor itu terpaksa ke luar negeri karena ekonomi. Lhah sementara ekonomi masih diperbaiki trus suruh gimana? Apa solusinya? Gak usah jadi TKW? Trus nunggu ekonomi membaik berapa lama? Trus adikku mau sekolah pakek apa?" Hindun berkata sambil membanting-banting handuknya yang baunya semerti rendaman cucian yang udah tujuh hari.

"Pakek Kartu Indonesia Pintar dong, bukan pakek bocor," jawab Ellya sambil tersenyum sinis.

O...rupanya itu. Aku baru ngerti bahwa mereka sedang menperdebatkan capres-capres andalan mereka. Tapi...lagi? Ini sudah yang keberapa? Masak tiap kali ketemu jadi kayak YKS gini, rame tapi enggak jelas. Padahal mereka khan berkawan baik. Masak cuma gara-gara capres trus tiap ketemu -enggak di FB enggak ketemuan langsung- trus berantem gini? OMG banget deh.

"Eh, kalian tuh udahan belum? Kalau masih mau berantem, sono! Biar mie ayam dan soto nih aku habisin sama Srint," kataku sewot.

"Lha kita enggak berantem mbak Ri, cuma debat aja," kata Ellya sambil mengambil semangkuk mie ayam.

"Eh, udah waktunya buka lho. Udah jam 7.15," kata Srinthil sambil membagi-bagikan makanan dan minuman.

"Allahumma laka sumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin," doa kami bersama-sama.

Akhirnya hening. Semua menikmati makanan sambil foto-foto. Ya ini mungkin sudah jadi lifestyle TKW-Hong Kong, sebelum makan foto dulu pakek kamera 360 trus diposting di FB. Habis itu lanjut makan.

Dua mangkok mie ayam, dua mangkok soto ayam, dua mangkok bakso dan dua porsi nasi campur dinikmati bersama. Bau-bau harum makanan yang sama tercium di segala penjuru Victoria Park malam itu. Sebenernya aku sih kepingin makan mie ayam, tapi karena udah keduluan sama Anez, ya udah. Walau Anez bukan muslim tapi dia setia kawan banget, enggak makan dan minum di depan kami. Bahkan Anez tadi yang membelikan semangka dan melon untuk buka bersama.

"Eekkk...alhamdulillah," Hindun bersendawa.

"Makan nikmat kayak gini jadi meyakinkan aku untuk bikin warteg nanti. Tapi modalnya dah berkurang karena ngawinin adik kemarin. Hhhh...," desah Hindun.

"Tenang aja, kalau bokap gue menang, beliau bakal memberikan pinjaman dana buat TKI purna untuk modal usaha," kata Anez tegas.

Duh, alamat mulai lagi nih adu mulutnya, pikirku.

"Lha itu bukannya program KUR (Kredit Usaha Rakyat yang dikhususkan untuk TKI purna)? Lagian ngasih pinjaman disertai ngajarin gimana caranya buka usaha nggak? Kalau enggak ya sama aja bo'ong. Ntar ujung-ujungnya TKI purna-nya yang kejeblos utang,"

"Makanya visi misi itu yang jelas dan detil kayak punyanya pak Jokowi yang 41 lembar. Mosok cuma tujuh lembar, mau jelas gimana? Mau detil gimana? Melindungi buruh itu tugas negara, pengiriman TKI nanti harus G to G (Goverment to Goverment=pengiriman tenaga kerja lewat pemerintah bukan PJTKIS), itu cocok banget,"

"G to G, iya bener banget. PDIP khan emang paling pinter kalo berhubungan dengan Cina,  negara komonis itu. Ya iyalah khan Jokowi juga penganut paham Komunis," tuduh Suzy serta merta.

"Eh kamu kalo ngomong jangan asal njeplak ya. Daripada bokap lo yang pembunuh, ketambahan pula Hatta Rajasa yang kebal hukum, mau jadi sepasang Hitler?" kata Hindun.

"Eh, daripada bapak lu yang tampang o'on gitu. mending nyokap guwe yang ganteng dan gagah," Miya membela diri.

"Ya mendinglah, itu wajah kerakyatan bukan ke-elit-elitan. Daripada jombloman gitu, suruh sono buat kebijakan buat jomblowers. French kiss sono sama kuda," gertak Ellya.

Perdebatan itu jadi nggak menentu. Hatiku bergemuruh melihat kawan-kawan karibku bersitegang seperti itu. Buku, tas, payung, sandal sudah bertebaran kemana-mana karena dijadikan alat peraga debat yang semakin ngawur. Kalau aku tak turun tangan pasti sebentar lagi ada adegan jambak-jambakan dan jotos-jotosan di tengah Victoria Park ini.

"Stop! Stop! Sudah! Sudah! Berhentiii...!" teriakku di atas angin. Seketika semua diam kaget karena suaraku yang meninggi tak seperti biasanya. Srinthil memegangi pundakku, entah mau meredam amarahku entah takut.

"Kalian debat di awal tadi masih wajar, tapi makin ke sini makin ngawur. Mau jadi tukang fitnah ya kalian?" bentakku.

"Kalian ini, mau milih presiden aja debatnya nglebihi waktu milih calon suami. Malu tau! Kalau kalian sudah menetapkan pilihan, ya mantabkanlah hati. Cari kebaikan pilihan kalian sebanyak-banyaknya. Kenali lebih dalam lagi. Bukan saling serang kayak politikus gila gini," kataku.

"Aku tahu ini pilihan yang berat. Seperti taruhan lima tahun ke depan. Makanya udah tahu kalau kita sedang gambling mbok ya fokus melihat potensi kalah yang enggak bikin bangkrut banget atau menang walau enggak seberapa. Ya, aku setuju bahwa kita akan mendukung calon pilihan kita. Tapi enggak usah over dosislah ndukungnya. Buktikan dukungan kalian pada 6 Juli nanti. Dengan cara nyoblos, milih. Kalian sekarang adu pendapat gini tanpa nyoblos ya percuma," kataku lagi.

Chamid, Srinthil, Hindun, Anez, Miya, Ellya tertunduk sedang Suzy yang merasa aku sindir, tertunduk lebih dalam lagi. 

"Kita ini berkawan selamanya atau mau bubar karena copras-capres ini?" tanyaku

"Selamanya, Mbak," jawab mereka kompak.

Kami berdelapan saling bersalaman, meminta maaf. Lalu berangkulan dan duduk melingkar lebih rapat lagi. Akhirnya kami berdelapan setuju untuk deklarasi damai. Bahwa tidak akan ada lagi saling gontok-gontokan dan tukar padu atau saling menjatuhkan capres. Bahwa kami akan lebih fokus kepada rekam jejak dan kebaikan capres pilihan masing-masing. Bahwa kami akan mendukung siapapun capres terpilih nantinya.

Malam merangkak, sudah saatnya kami kembali ke rumah majikan masing-masing, untuk menjadi peran pembantu di lakon film Kungyan-Lopan (Pembantu & Majikan) dengan kontrak shooting dua tahunan.

Rombongan kecil kami bubar ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam.



--------------------------------------------------------------------


Cerbung ini fiktif namun berdasarkan kejadian nyata. Fenomena seperti dalam cerbung ini  terjadi di Hong Kong. Kawan akrab bersitegang lantaran capres pilihannya.
Srinthil dan kawan-kawan menggambarkan TKW Hong Kong, pendukung capres-cawapres.
Kegelisahan untuk memutuskan Prabowo atau Jokowi juga didasari seperti hal di atas: ketakutan akan KTKLN, ketakutan saat menjadi menjadi TKI Purna, mosi tidak percaya pada capres akan perlindungan macam apa yang ditawarkan pada TKI/W, juga ketakutan saat nanti menjadi purna -saat kesehatan, pendidikan dan pangan menjadi momok atau hal yang membebani bagi orang kebanyakan.




Tak Netral, Ada Apa dengan SBY?

Pada awalnya saya merasa salut untuk yang pertama kalinya kepada SBY. Pasalnya SBY bersikap netral terhadap pasangan capres-cawapres. Dia tidak memihak. Tidakpun ada indikasi dia untuk memihak, kendati itu bukan mustahil. Apalah yang tak mungkin di dunia politik? Lha udang busuk saja bisa dibuat menjadi trasi kok.

Hingga ada kabar ini, bahwa SBY menyatakan dukungannya terhadap pasangan capres-cawapres nomer urut satu. Lalu DPP Partai Demokrat (yang kendali penuhnya dipegang oleh SBY) memutuskan dan menginstruksikan seluruh pengurus DPP, DPD, DPC, kader-kader Demokrat, seluruh simpatisan, serta sayap organisasi Partai Demokrat, untuk mendukung Prabowo-Hatta. What the hell is going on here, Mister Presiden?

Selagi sedang berhalangan berpuasa, biarlah saya keluarkan uneg-uneg kepala saya.

Century dan Hambalang adalah dua kasus never ending yang mungkin akan menjadi bumerang bagi SBY dan keluarga bila Jokowi menang. Pasalnya capres nomer urut dua ini berkomitmen untuk memperkuat KPK dan memberantas korupsi. Kasus Akil Mochtar, yang divonis penjara seumur hidup, bukankah sebuah tanda menguatnya KPK? Lha kalau diperkuat lagi bagaimana?

Sedang capres nomer urut satu dengan Hatta Rajasa sebagai cawapresnya mungkin bisa dijadikan sebagai tameng. Toh, terbukti hukum itu tumpul ke atas pada anak Hatta Rajasa. Sedang persepsi dan indikasi tentang keterlibatan Prabowo dalam isu HAM saja tak ada gaungnya. Hanya gema saja, gema dari opini publik yang digiring ke situ, tak ada itikad pengusutan. 1998-2014 bukan waktu yang singkat kalau benar-benar mau mengusut, nyatanya tidak.

So, welcome to the safe landing, Mister Presiden.
 
Kalau ada kubu yang menyatakan kuatnya JOkowi effect ditentang dengan pernyataan Jokowi effect itu hanya pepesan kosong, mungkin inilah salah satu pembuktiannya. Dukungan Demokrat ke capres pertama menambah barisan elite di kubu garuda merah. Sedang di seberang sana, di kubu Revolusi mental, berkumpul barisan enggak elite-elite amat, orang kampung, seniman jalanan, anak-anak muda dan sebagainya. 

Ini menarik sekali. Berubahnya pikiran SBY tentu didasari pada banyak fakta, survey salah satunya. Kalau dalam survey yang dipercaya oleh SBY tersebut menyatakan kemungkinan kemenangan capres nomer urut satu ya amanlah. Soalnya kalau capres nomer dua kalah toh sudah biasa, ya kan? Tahun 2004 dulu contohnya. Toh aman-aman saja khan? Megawati gagal nyapres toh tidak ada huru-hara kan?

Pertanyaan saya sekarang: "How are you, Mister Ruhut Sitompul?"


Saat Mister Ruhut Mendua

foto dari sini
Adalah seorang "dagelan politik" yang banyak dibenci publik sekaligus ditunggu-tunggu kehadirannya yang tak lain adalah Ruhut Sitompul yang membuat saya korupsi waktu istirahat saya untuk mengutik-utik blog dan menuliskan ini. 

Lelaki yang tidak akan pernah dimasukkan dalam kategori "lelaki STw macho" (STW=Setengah TuWa) ini emang kontroversial sekali. Lalu maaf, kenapa saya menyebut beliau dengan sebutan "dagelan politik"? Karena lelaki kelahiran Medan ini setiap muncul pasti mengeluarkan statemen atau opini yang nyleneh, ya kalau enggak nyleneh ya nyaris gila lah. Sebenarnya enggak beda jauh dengan pemilik blog ini sih (lho?), cuma mungkin kadar kepekatannya (gilanya) beda. OMG!

Dan adalah sebuah berita di sini dan di beberapa media online lainnya yang memberitakan bahwa tokoh media darling abu-abu yang satu ini memberikan dukungannya kepada pasangan capres nomor urut 2, Jokowi-Kalla. What???

Jadi orang yang selama ini memusuhi Jokowi mati-matian ini mendukung Jokowi?

Iya.

so what gitu loh?

Wah, kalau begini saya harus mengakui bahwa Ruhut adalah politikus yang kompeten. Pertama, beliau konsisten berperan sebagai "dagelan politik". Kedua, beliau bisa menerawang calon bos baru yang (menurutnya) baik dan prospektif. Sekaligus ketiga, beliau masih bisa loyal terhadap calon ex bosnya.

Tidak mudah untuk konsisten. Contohnya ya seperti saya sendiri. Kawan-kawan karib saya menunggu postingan saya di babungeblog atau share opini dan cerita lucu saya di FB, namun saya tak sanggup. Malah blog hiatus dan FB non aktif. Bahkan untuk sekedar meluangkan waktu satu jam untuk BW saja sedemikian berat, apalagi untuk posting. Padahal dulu getol banget mengkritisi sesuatu. Dan kalau lelaki yang pada 24 Maret lalu genap berumur nem jinah alias 60 tahun ini sanggup untuk konsisten menjadi -ya itu tadi seperti yang saya sebutkan tadi- itu adalah sebuah prestasi yang seharusnya diapresiasi. Jadi, mari bertepuk tangan sejenak untuk Mister Ruhut.

"Plok! plok! plok..!" (applause)

Oke, setelah tepuk tangan tadi selesai mari menilik SBY. Presiden dua putaran yang adalah (calon ex) bos dari Ruhut tak lama lagi akan lengser dan akan digantikan oleh entah pasangan Prabowo-Hatta atau JKW-Kalla. Ya pokoknya kalau enggak satu ya dua, gitu. Dan Ruhut yang mempunyai ilmu kebatinan yang dalam ini yakin bahwa "mister blusukan" akan menang. Sehingga (calon ex bos) SBY yang akan turun tahta ini sudah ada gambaran replacement-nya untuk kesinambungan apapun namanya itu. Dan bukankah with new employer we have to adjust ourself so that we can keep our job? (lihat sini) Jadi enggak usah ada istilah malu kalau dari anti pati menjadi cinta mati. Toh enggak cuma Ruhut yang berbuat demikian, iya to? Dulu partai-partai yang pada pileg Maret-April lalu saling berlomba memenangkan suara, toh akhirnya juga harus berbaik-baik kemudian berkoalisi. Saya baru sadar bahwa politik itu seperti kolor. Tarik ulur, memanjang lalu mengkerut kembali. Ya semoga saja tidak mengendur karena lupa akan apa sebenarnya tugas menjadi kolor itu.

Betapa pandainya Ruhut karena bisa mencari bos baru tanpa memecat bos lama, dia masih bisa loyal terhadap SBY. Keberpihakannya pada JKW-Kalla yang "katanya" dikarenakan kecewa pada Prabowo yang pada debat capres kedua lalu menyebut bocor sepuluh kali dan juga karena tagline "Indonesia Hebat" yang diusung capres-cawapres nomer urut dua itu seolah sebagai bukti kesetiaannya pada SBY. Saat 95% petinggi-petinggi partai berlambang mercedes  memberikan hatinya pada Prabowo, dia memberikan spermanya pada JKW. Ya meski spermanya nanti mandul, tidak berpengaruh apapun, toh tak ada yang dirugikan. Ruhut tetap Ruhut dengan gaya bicaranya yang seperti itu. Kalaupun dia kelepasan omong atau asal njeplak, itu tak akan mempengaruhi JKW-JK ataupun PDI-P. Ya, semua orang tahu kalau Ruhut itu ya..ya wis kaya ngono kuwi lah.

Indonesia saat ini sedang gonjang-ganjing karena semangat dukung-mendukung yang sumuk. Sumuk, gerah karena orang-orang mendadak menjadi irrasional dalam memberikan dukungan kepada jagonya masing-masing. Ruhut bukan pengecualian. Pastilah dia ikutan sumuk demi untuk menunjukkan bahwa dia mendukung salam dua jari.

Tapi ada yang mendadak membuat saya ngakak. Ruhut itu kok seperti Datuk Maringgih dalam Novel Siti Nurbaya ya? Tokoh antagonis yang di akhir cerita dihormati karena ikut berjuang demi tanah air. Lalu akankah Anis Baswedan berpelukan dengan Ruhut? Hehehe...

So Mister Ruhut, selamat mendua!
 

-----------------------------------------








Disclaimer: saya belum menjatuhkan pilihan saya pada capres-cawapres manapun, bukan pula berniat untuk golput. Tulisan ini saya buat tanpa niatan untuk menjatuhkan pasangan tertentu tetapi lebih untuk pembelajaran diri saya sendiri untuk mengenal lebih (dalam) tentang capres-cawapres tersebut. Mungkin saat ini saya menyentil Ruhut, bisa jadi besok giliran Jokowi lalu lusa giliran Prabowo. Semua capres tak ada yang sempurna, pun saya tidak sedang mencari yang sempurna tapi lebih melihat kecondongan atau keberpihakan capres-cawapres terhadap saya, kami, yang adalah WNI dari komunitas babu ekspor. Postingan-postingan ini dan selanjutnya (yang berhubungan dengan pilpres) sekaligus untuk memberi kritik, pertanyaan dan harapan pada capres-cawapres (nek diwaca lho).




Ketika Satu Persatu Pergi

Dua bulan setelah kepulangan/cutiku di tahun 2009, simbah (emak dari emak kandungku) meninggal. Wanita yang terkenal dengan sambel pecel dan kemandiriannya ini meninggalkan banyak kenangan indah bagiku dan aku tak sempat membalas semua itu, bahkan untuk duduk berlama-lama dengannya saja aku tidak bisa.

Dua tahun kemudian (2011) bapak menyusul simbah. Hanya sebulan sebelum kepulanganku cuti. Satu-satunya baju baru, batik sutra hijau yang aku pilih berhari-hari lamanya pun belum sempat dipakainya.

Lalu kemarin, 28 Mei 2014, pukul 2. 32 PM waktu HK (1.32 PM WIB), sebuah kabar terkirim lewat sms, simbah (emak dari simbok yang membesarkanku) telah meninggal. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Do you know how I feel?

Kosong.

Tak ada air mata sedikitpun hingga saat aku menyempatkan diri menulis ini. Kepergian simbah bukannya tidak menyedihkanku, bukan. Bagaimanapun dari ada kemudian tidak ada, tentu sebuah perubahan besar bagiku, bagi keluargaku. Kendati hal itu (meninggal) sudah bisa kami rasa dalam bulan-bulan terakhir ini. Beliau yang sudah sakit-sakitan berbulan-bulan lamanya (bahkan setahun lebih), beliau dengan umur hampir 100 tahun itu, beliau yang sedari aku kecil sampai dengan dewasa dan setengah tuwa ini tidak bisa melihat wajahku (karena buta), -memang mungkin sudah waktunya. Kami mengikhlaskannya bila masa itu tiba, termasuk kemarin.

Kendati demikian, kabar tentang kepergian simbah mengagetkan aku, menyadarkan aku bahwa satu persatu dari orang-orang yang amat berarti bagiku pergi tanpa aku bisa melihatnya.

Aku merasa kosong, hampa dan ketakutan baru tiba-tiba menghantuiku.

Aku mempunyai emak (kandung) dan simbok (yang membesarkanku) yang adalah orang terdekat dan amat berarti bagiku. Dan aku benar-benar takut bila...

Kontrak kerjaku akan berakhir pada pertengahan Juni tahun depan dan itulah rencana final exit-ku dari Hong Kong. Tinggal satu tahun lagi, sedang aku tak tahu akan bagaimana dalam satu tahun kedepan

Is it worth it? 

Or 

Should I just go home?



*kenapa pula aku harus menuliskan ini di blogku?




Demi Jokowi Gak Jadi Golput, Tapi...

"Mbak Rieee!" teriak temanku di ujung sana, wajahnya serius.

Aku menghentikan langkahku dan meletakkan tas jinjing dan beban berat di punggungku serta merta. Ya, tas punggung ini memang berat sekali hari itu, karena kebetulan banyak pesanan baju dan aksesoris dan mesin jahit yang mau diambil (aku jualan juga di Hong Kong). Dan aku tahu dengan gelagat seperti itu, dengan berita yang sepertinya penting yang dibawa kawanku itu, tentu akan memakan sedikit waktu untuk ngobrol.

"Mbak Rie, Jokowi mana?" tanyanya setengah berteriak padahal sudah berada tepat di depanku.

"Ha?" aku bengong.

"Enggak ada Jokowi, Mbak. Aku sudah bela-belain antri. Aku sudah bela-belain gak nonton GIGI (hari itu ada konser band GIGI, acaranya salah satu simcard provider di Hong Kong). Niatku pengin nyoblos Jokowi. Kok Jokowi gak ada. Katanya Jokowi nyapres?" tanyanya menyerbuku.

"Lha sing bilang nek hari ini pemilihan presiden siapa?" tanyaku.

"Ya khan Pemilu," jawabnya.

"Pemilu khan enggak cuma pilpres, cah ayu. Gak cuma pemilihan presiden. Hari ini Pemilu Legislatif. Yang Pemilihan Presidennya masih lama, sayang," jelasku.

"Gitu ya? Itu tadi banyak kepala. Mana aku gak kenal lagi. Wajah-wajahnya asing. Ada wajah lama juga aku gak suka. Trus aku harus milih siapa?" katanya.

"Lha kamu tadi milih siapa?" aku berbalik bertanya.

"Enggak tahu. Enggak milih. Kertas tak buka trus aku bingung. Trus aku nyoblos logo partainya aja," jawabnya.

"Ya udah. Wong wis kadung kok. Lain kali kalau niatnya mau ikut, ya harus nyari tahu dulu, itu Pemilu apa. Nyari info sebanyak-banyaknya, kenali tokoh-tokohnya, kenali partainya.  Koran gratis juga banyak ditulis beritanya kok. Tuh HP keren buat browsing khan bisa. Kalau buat FB sama whatsapp dan skype doang, mending hibahkan saja ke aku, biar bisa aku buat ngeblog," kataku.

"Yee...," katanya sambil menyablek tanganku.
"Kecewa berat, Mbak. Aku nggak jadi golput karena Jokowi. Wong gak ada sosialisasi lho. Mending tadi nonton GIGI," katanya jengkel.

"Ada sosialisasi kok, itu di koran. Tanggal 9 Maret lalu juga ada pemaparan Pemilu dari Kominfo dan Bawaslu, tapi woro-woronya di FB tanggal 4 Maret, acaranya tanggal 9 Maret. Ada 50 orang tuh yang ikut," jawabku.

"Yeee...sama aja bo'ong,"

Percakapan berlanjut dengan menanyakan ini dan anu dan itu lalu dengan sedikit basa-basi aku pamit untuk melanjutkan perjalananku mengantarkan barang pesanan. Lalu baru beberapa langkah ada suara lagi mengejutkanku.

"Mbak Rieeee..!"

"Aku pengin marah," katanya setelah berada di depanku dengan nafas terengah-tengah dan buah dada naik turun.

"Aku tak pergi aja nek gitu. Wong arep nesu kok nyari aku," kataku gemas.

"Enggak nyari, kebetulan ketemu gini kok. Nyoblos gak, Mbak?" tanyanya.
"Aku tadi nyoblos, aku gak kenal mereka (nama-nama di daftar pemilu). Trus aku bilang sama pengawasnya: "Pak, gak ada yang saya kenal". Trus tahu nggak jawaban pengawas TPS itu?" katanya cuepet banget seperti MTR Express jurusan airport HK.

"Enggak," jawabku cuek.

"Yaelah mbak, itu pengawas dari KJRI ngomong gini: "Kalau mbak enggak kenal mereka, ya lihat saja wajahnya. Lhah kalau ada wajah yang paling cakep yang mbak suka, ya pilih saja dia."
Gitu katanya. Njengkelin nggak tuh orang?" jelas temenku ini dengan wajah geregetan.

"Trus ada yang kamu suka enggak?"

"Ya enggaklah,"

"Trus dirimu nyoblos apa?"

"Enggak tahu,"

"Kenapa sih pada males nyari info dulu sebelum mau ikutan pemilu?"

"Ya mana aku tahu (dipikir pilpress bukan pileg), Mbak," jawabnya.

"Nggak tahu ya tanya, cari info. Lha kamu punya mbakyu sepinter aku ya gak pernah tanya. Tanyanya cuma kalau lagi mentok pas punya masalah majikan, pas punya masalah sama pacar. Pas mau beli make up atau baju. Huh," kataku.

"Lha mbak Rie nggak ngasih tahu! Sekarang pelit info. Nulis kek di wall FB, nulis kek di opini koran, nulis kek di blog. Sekarang jualan mulu, jarang ngasih-ngasih info kayak dulu, sebel!"

Lho kok? Kok aku yang disalahin ya?


******

Hari itu tgl 30 Maret 2014. di Hong Kong sedang diadakan Pemilu Legislatif.
TKW-Hong Kong (HK) masih banyak yang belum mengetahui apa bedanya Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. Umum yang mereka tahu kalau Pemilu itu ya milih presiden. Berhubung jagoan yang menjadi media darling dan kerap menjadi obrolan karena blusukannya telah memproklamirkan diri nyapres di pilpres tahun ini, maka kebanyakan (yang mengira bahwa pemilu itu ya cuma pilpres) akan datang ke TPS yang berada di Victoria Park, Causeway Bay, HK untuk nyoblos kepalanya Jokowi.

Tak banyak yang berpartisipasi dalam Pileg kemarin, hanya sekitar 6.000 peserta dari total TKW-HK yang lebih dari 152.000 orang. Itupun sudah tergolong meningkat dibanding lima tahun yang lalu.

Bagi yang mengetahui bahwa Pileg itu bukan untuk memilih presiden, tentu akan menunggu Pilpres untuk memberikan suaranya. Kebanyakan TKW-HK di sini mempunyai pendapat bahwa mereka yang berada di DPR tak mampu menyampaikan suara TKW bahkan terkesan masa bodoh dengan TKW.


21 ton kertas suara yang terkirim ke HK