Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Tampilkan postingan dengan label wadul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wadul. Tampilkan semua postingan

Ngeblog Lagi

hiatus sejak 3 Oktober 2014

Wuaaaa.....3 tahun....!

Bukan nggak ngeblog lagi sejak itu, ada blog lain tapi yang bisa baca cuma segelintir orang alias private, yang mau mbaca aja kudu ada invitasi lewat e-mail. Pelit? Ho oh.

Berhubung hari ini ngendon di KJRI-HK dan Library, ya sudahlah mencoba membuka blog sing wis lumuten.

Daaannn....aku lali carane nulis di blogku. Begitu nulis, gaya tulisanku udah beda, gak seperti dulu. Seperti antara ngempet dan nge-rem. Kagok banget. Tulis...delete...tulis...delete.

Wudun semat, kakek-anipun!

Semoga bisa aktif ngeblog lagi.






















Cerita 2 Oktober

:Untuk kawan-kawanku di Hong Kong

Namanya Safi atau ah... sebenarnya aku tak tahu. Dia cuma mengenalkan diri dengan nama Safi begitu, tanpa aku tahu bagaimana menuliskan namanya dengan baik dan benar. Tapi lucunya dia suka dipanggil Sapi'i oleh kawan-kawannya. Geli juga mendengarnya. Cewek secakep dia, dengan hidung mancung dan bibir tipisnya, mata bulat dan tubuh tinggi semampainya, dipanggil Sapi'i? Ah! 

Malam itu kami berbagi meja di sebuah restoran cepat saji di kawasan Hennesy Road di atasnya Mc Donnald, Causeway Bay. Itu tuh tempat mi yang ada mangkoknya yang berdiameter 30 cm dengan menu mie-mienya.

Awalnya aku acuh, melihatnya duduk pun tidak. Aku lebih disibukkan dengan foto-foto demo mahasiswa-mahasiswi Hong Kong yang menuntut demokras yang sebenarnya (pilkada langsung) di Hong Kong (semoga bisa ngeblog tentang itu). Mataku menatap lekat ponsel android murahan dengan headset menancap erat di ke dua belah kupingku. Ketika aku sedikit mendengar suara tapi tak jelas, kulepaskan headset yang menyumpal di kuping kiriku, namun masih kurang jelas juga. Akhirnya kuputuskan untuk mencabut keduanya lalu berkonsentrasi pada makhluk cantik yang mirip artis Korea (bedanya cuman jerawat dia banyak) di depanku itu.

"Sendiri, Mbak?" tanyanya dengan senyum ramah.

"Iya. Kamu juga?" tanyaku.

"Iya. Pada nggak libur," jawabnya.

"Asal mana, Mbak," tanyanya lagi.

Pertanyaan biasa bila bertemu seseorang pertama kalinya adalah: nama, asal, kerja di mana, kerjanya apa saja, bosnya galak apa enggak, sudah berapa lama di HK.

Yang membuatku tertarik adalah bibirnya yang tipis dan bergincu tipis (atau entah warna bibirnya memang pink) yang selalu menyunggingkan senyum ketika berbicara itu. Hei! Itu khan biasanya aku? Biasanya aku yang selalu tersenyum-senyum ketika berbicara, bukan? Dan betapa cantiknya melihat seseorang berbicara dengan tersenyum-senyum begitu.

Lalu aku sibuk membuat kesimpulan-kesimpulanku sendiri. Gadis cantik berambut pirang ini pasti ikutan nge-dance atau fashion show deh, soalnya dia terlihat stylish banget dengan eye liner tipis yang membuat matanya tampak lebih bulat dan dengan kacamata yang digunakan untuk bando itu. Lalu jawabannya membuatku tercengang.

"Dulu iya, dua bulanan. Lalu keluar," jawabnya.

"Kenapa?" buruku.

"Yang ngajarin pulang. Tapi sebelum itu aku juga merasa kurang nyaman. Pengeluaran banyak untuk manggung. Sepatu, kostum. Fashion juga gitu," jawabnya yang kujawab balik dengan "o" saja.

"Sempat pacaran pula, tapi sudah putus lalu sekarang temenan biasa aja sama dia," katanya.

"O baguslah kalau baik-baik. Jangan berantem ya," kataku.

Ok, aku memaklumi, itu adalah privacy dia. Mau pacaran sama siapa kek itu urusan dia. Sudah mau berbagi dengan aku sejauh inipun sudah luar biasa bagiku. Entah mengapa aku seperti punya kekuatan untuk memaksa lawan bicaraku untuk menjawab pertanyaan "mengapa dan bagaimana"-ku. Menjelaskan sesuatu padaku dengan suka cita.

Mungkin karena aku melihat mata lawan bicaraku dan dengan begitu mereka merasa aku bisa dipercaya untuk diceritai sesuatu, atau mungkin pula karena mereka sedang desperate ingin berbagi, entah.

"Suka begini. Bebas. Tak banyak teman, tak tergantung sama satu teman. Bisa ke mana-mana. Hiking, atau apa, enak-bebas," jelasnya.

"Libur tiap Minggu?" tanyaku.

"Iya."

"Nggak tertarik ikut kursus? Komputer, bahasa Inggris, Akuntansi? Banyak yang gratis kok," aku menawarkan.

"Mmm... Pengin menjahit tapi belum tahu di mana," jawabnya.

"Ada di sana, di situ (menyebutkan tempat kursus menjahit). Mau aku antar?" tanyaku.

Namun dia menjawab dengan tersenyum. Mungkin untuk saat ini belum tertarik, mungkin nanti, pikirku. Tiba-tiba aku jadi ingin sharing sesuatu, tiba-tiba aku merasa mempunyai kewajiban untuk menyampaikan sesuatu.

"Ketika kamu sudah setua aku, sudah selama aku tinggal di HK sedang kamu kurang mempunyai ketrampilan, maka kamu akan merasakan penyesalan sepertiku," kataku memulai.

"Tapi aku SMA aja nggak lulus, Mbak. Dulu kelas dua naik ke kelas tiga aku keluar, karena ingin kerja," kata gadis asal Kediri ini membela diri.

"Di sini kursus enggak perlu ijasah apapun. Kursus yang gratisan juga banyak," kataku.

"Aku cuma pengin punya uang, pulang, nikah, punya anak lalu enggak ke mana-mana lagi," kilahnya.

"Amiin," jawabku.

"Aku ditinggal ibuk ke Saudi dan aku tahu benar bagaimana susahnya kurang kasih sayang dari ibuk," katanya.

"Aku nggak pengin ke mana-mana kalau sudah punya anak. Aku mau di sampingnya, aku mau di sisinya, ngerawat dia," matanya menerawang.

"Aamiin," kataku lagi.

Karena sudah sementara waktu ditunggui orang untuk giliran meja makan dan petugas restoran juga telah dua kali datang mengangkut mangkok dan gelas kami, maka kami beranjak.

"Lihat demo yuk," ajakku.

Kami menyusuri Hennesy road ke arah Wanchai lalu balik lagi ke Causeway Bay. Di depan MTR station exit F, Causeway Bay, kami berhenti sejenak sebelum berpisah.

"Mbak, sebenernya aku nggak mudeng dengan demo ini," katanya jujur.

"Aku ini tahu apa ya?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Baca. Jangan cuma membaca status cekakakan  di FB thok tapi enggak peduli lainnya," kataku.

"Aku suka sesuatu yang ringan, yang enggak usah mikir, yang bisa membuatku rileks. Bukan berita-berita berat begitu," nah gadis kelahiran tahun 1988 ini membela diri lagi.

"Kalau gitu enggak usah tahu sekalian, enggak usah nanya. Nanggung kalau tahunya cuma sedikit, mending nggak usah, hehehe...," kataku.

Lalu kami pun berpisah. Dia terpaksa naik MTR karena tram nya enggak jalan padahal dia bilang paling suka kalau naik tram. Ha! Kebalikan sama aku yang paling benci naik tram. Sedang aku memilih naik minibus.

Entah mengapa, aku merasa sedikit berat meninggalkannya, merasa belum selesai aku menjelaskan sesuatu tapi juga merasa tidak perlu menjelaskan terlalu panjang lebar. Takut kalau-kalau terkesan terlalu menggurui. Dan satu perasaan lain yang membuatku tak selesa adalah: waktu "kepulanganku" (ke tanah air) sudah semakin dekat dan aku belum merasa berbuat apa-apa, belum belajar apa-apa.

Nama Cina Jokowi & Prabowo

Pas selesai dinner. Pak Bos masih di meja makan nungguin anaknya yang belum selesai makan. Apple Daily (salah satu nama koran) di tangan kanan, I-phone di tangan kiri, kepala mlengos ke dapur.

"Do you know this Waithotho and Polabowo?" tanyanya.


"Hem? What food is that?" aku balik bertanya karena merasa enggak mudeng dengan pertanyaannya. Biasanya sih kalau pak bos atau nyonyah membaca koran lalu memanggilku berarti lagi pas melihat resep makanan dan nyuruh aku masak seperti itu besuk harinya.


"Lei ko President a (presidenmu)!" teriaknya. 



Disorongkannya I-phone miliknya kepadaku. Di I-phone itu kulihat dua foto yang akhir-akhir ini lagi panas-panasnya jadi trending topik, Prabowo dan Jokowi, di wall FBnya pak Bos. Oalah...jadi nama Cina Prabowo itu Polabowo (Prabowo Subiyanto:  的前女婿普拉博沃)  sedang nama Cina Widodo itu Waithotho (Joko Widodo: 印尼奧巴馬」維多多) 

Tampak Prabowo memakai baju putih yang lagi pidato dan Jokowi yang memakai kotak-kotak lagi ancang-ancang lari di panggung, disaksikan ribuan folowernya. Ternyata kawan-kawan kerja bosku juga ada yang berasal dari Indonesia dan mereka juga sama-sama gencarnya update status tentang kedua capres fenomenal tersebut.

"What does he say?" tanya pak bos sambil nunjukin postingan di FB temannya.


"Talking about quick count," jawabku.
 

"What does he say?" tanya pak bos sambil nunjukin FB temannya yang lain.

"Demonstration on Sunday coz some did not have chance to vote," jawabku. Jiah..malam ini aku jadi translator dadakan.


"How about you? Did you go and vote?" tanya pak bos lagi.


"Yes."


"Does any of this Withotho and Polabowo make any difference to you here?" pak bos semakin ingin tahu dan dia menanti penjelasan dariku.


Aku unjal ambegan sebelum menjawab. Berdoa semoga aku enggak salah ucap atau salah memberi info.


"This one (sambil nunjuk foto) said he wil blablabla.... And this one (sambil nunjukin foto) said blablabla...."
 

"There is a plan to stop sending Domestic Helper, you know," tambahku, berharap pak bos ketakutan mendengarnya. Diluar dugaanku pak bos dengan kalemnya menjawab: "Don't trust them 100%, they will change after won the vote."
 

"That is so damn true!" teriakku dalam hati dan kecewa juga karena gagal menakut-nakutinya.

"What does he say?" tanya pak bos lagi sambil nunjukin FB temannya, aku jengah.


"They are two versions of news about election in HK," jawabku. 


Tiba-tiba.... Mak jederrrr..! Ada link blogku di situ, dishare oleh temennya bosku. Modiarrr kowe Rie..!!

"Why are you so "kepo"?" (kepo: bhs Hokkien artinya pengin tahu) kataku menunjukkan wajah tidak suka (sekaligus was-was)


"Just curious," jawabnya sambil mesem lalu kembali lagi ke I-phonenya.


Aku buru-buru pergi biar nggak ditanyaain lagi. Ughh! Nyaris!

Kisruh Pilpres di Hong Kong

Jam 5, pintu utama sudah tutup.
Foto by Kyteth asti

Saya merasa mempunyai kewajiban untuk menuliskan kericuhan pelaksanaan pilpres di Hong Kong. Beberapa e-mail, whatsapp dan inbox FB dari kawan-kawan menanyakan berita-berita yang tumpang tindih di media sosial (medsos) dan meminta kejelasan dan kesaksian saya tentang apa yang saya lihat dan saya dengar di TPS. Sebagai mantan reporter di beberapa media cetak berbahasa Indonesia di Hong Kong, insting saya menuntun saya ke mana saya harus bergerak dan menyaksikan kejadian yang patut digarisbawahi (bukan berniat menyombong tapi karena ada beberapa komentar dan pesan yang meragukan kebenaran postingan saya).

Berita di medsos terlalu banyak MSG dan ditambahi di sana-sini. Entah pula dari mana medsos itu mendapat keterangan. Apakah dari orang yang menyaksikan langsung atau sekedar berita "katanya"?

Akhirnya pembaca digiring pada pada opini ini-itu sesuai kepentingan medsos tersebut. Namun bukankah tugas medsos untuk memberikan fakta? Bukan opini atau isu? Kalau opini atau isu kenapa harus diberi label berita? Ya memang negara Indonesia ini negara besar namun bukan berarti sebuah berita harus dibesar-besarkan untuk membesarkan Indonesia. Bah!

Saya bolak-balik ke lapangan rumput Victoria Park, tempat pesta terbesar sepanjang sejarah berbangsa dan perpolitikan Indonesia di Hong Kong. Saya dan beberapa kawan juga sudah menduga akan adanya kesemrawutan dan keramaian, ketimpangan berita dan ketimpangan pelaksanaan pilpres 20014 di Hong Kong.

Pilpres dimulai tepat pukul 9 pagi. Beberapa kawan yang sudah mengantri memasuki pintu masuk menuju TPS.

Lapangan rumput Victoria Park berubah menjadi "kampung Pemilu" karena keseluruhan lapangan digunakan sebagai Tempat Pemungutan suara (TPS).

Ada 13 TPS di lapangan rumput itu yang dikelilingi oleh pagar besi dua lapis dan hanya ada satu pintu masuk menuju TPS-TPS itu.

Dengan adanya tiga jalur yaitu jalur hijau (untuk yang bawa undangan), jalur kuning (yang tidak terdaftar dan belum mendaftar dan hanya berbekal KTP Hong Kong atau Passpor untuk pendataan baru secara manual kemudian dimasukkan ke data komputer) dan jalur merah (untuk pemilih yang bingung, misal gak jadi milih lewat pos tapi pengin nyoblos langsung atau kehilangan surat undangannya) dan sosialisasi tentang mekanisme pencoblosan yang sebenarnya sudah dilaksanakan di aula Ramayana KJRI-Hong Kong pada 21 Juni lalu, namun pada pelaksanaannya masih banyak kekurangan.

Pemilih yang rencananya dibagi dalam tiga jalur itu ternyata harus melewati pintu masuk yang cuma satu thok til. Tidak ada pemisahan antara calon pemilih jalur ijo, kuning, abang  semua ngrumpel jadi satu. PPLN Hong Kong gagal mengantisipasi ini. Antrian berjubel dan tidak jelas. Petugas malah menyilakan pemilih dengan jadwal waktu pencoblosan kapanpun bisa masuk, ini semakin membingungkan. Pintu masuk dipecah menjadi dua saat banyak protes dan masukan diteriakkan oleh kawan-kawan kepada petugas, itu pun baru sekitar pukul 11.30 AM yang diumumkan lewat pengeras suara. Namun karena ratusan pemilih yang setiap orangnya memiliki mulut yang tidak bisa diam dan kebutuhan selfie yang mendadak menjadi penting sekali, kemungkinan pengumuman itu kurang didengar atau (diabaikan?). Saya melihat beberapa petugas PPLN beredar untuk memberitahu info itu kepada pemilih yang baru memasuki area lapangan rumput, itupun masih banyak yang bingung.

Antrian mengular, cuaca panas. Saya sendiri mengabaikan kepala saya yang sedang kebul-kebul kepanasen kemudian bergabung di antrian pada pukul 1.15 PM dan baru selesai pukul 2.15 PM (saya membawa surat undangan). Bagi saya pribadi kalau mau jujur, yang gagal nyoblos itu sebenarnya bisa nyoblos kalau mereka on time dan tidak takut panas. Meskipun begitu, pelaksanaan Pemilu di Hong Kong seharusnya bisa diminimalisir keruwetannya mengingat pengalaman pileg pada Maret lalu. Kalau pada pileg pemilihnya bertambah, maka pada pilpres bukan lagi bertambah tapi berkelipatan.

15 menit sebelum coblosan selesai petugas PPLN lewat pengeras suara (sekali lagi, lewat pengeras suara) mengumumkan bahwa pilpres akan selesai (pilpres selesai pukul 5 sesuai jadwal & ijin dari pihak Victoria Park). Kondisi pintu masuk menyepi PPLN menyilakan kawan-kawan yang berada di depan pintu masuk untuk segera ke TPS lalu menutup pintu masuk.

Ini yg sebenarnya gagal nyoblos
Foto by Asti
 Namun tepat pukul 5 sore, pintu masuk digrudug oleh kawan-kawan yang berlari-lari mau nyoblos (lihat gambar samping). PPLN dan KJRI menyatakan telah tutup tapi mereka meminta untuk diberi sedikit kelonggaran waktu. Maka diberilah kompensasi perpanjangan waktu selama 20 menit. Pintu samping dibuka oleh Sam Aryadi, sekretaris panitia PPLN, dan masuklah beberapa kawan yang telat datang ini. Garis besar hanya BEBERAPA, tak lebih dari dua puluh orang.

Para pemilih yang gagal nyoblos, ini jumlah yang sebenarnya!
Foto by Kyteth Asti
Herannya setelah yang nyoblos di dalam TPS kelar, ada lagi sekitar 40-70 orang (lihat gambar samping!) menyatakan mau mencoblos. Apakah foto-foto (foto sebelum mbak-mbak berteriak-teriak meminta masuk) itu ada 500 hingga seribu? TIDAK!

Semua TPS sudah tutup dan staf Victoria Park sudah ancang-ancang melakukan kegiatannya untuk membersihkan Victoria Park.

Hal ini diperburuk dengan mbak-mbak yang tadinya sudah mencoblos ikut-ikutan berteriak.

"Buka! Buka! Buka!"

Sebagian ada pula meneriakkan nama capres nomor urut dua sambil mengacungkan dua jari.

"Jokowi! Jokowi! Jokowi!"

 Kemudian mereka merangsek ke pintu masuk meminta untuk TPS dibuka kembali dan menyilakan kawan yang belum menggunakan hak pilihnya untuk masuk. Mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang sudah nyoblos yang demo inipun berjumlah 200-an orang, bukan 500-1000 seperti yang diberitakan oleh medsos.


Video ini adalah video protes dari mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang ikut-ikutan. Lalu mengapa video yang saya unggah di youtube itu saya beri tajuk "Protes Ganjil"? Karena awalnya mbak-mbak yang gagal nyoblos ini biasa-biasa saja namun setelah ketambahan mbak-mbak yang lain mendadak agresif, berteriak-teriak dan yel-yel yang lain. Ini aneh bin ganjil sekali.

Lalu ada isu yang menyatakan bahwa adanya petugas (Sigit) yang mengatakan bahwa pendukung capres No 1 saja yang boleh masuk sedangkan capres No 2 tidak boleh. Saya pribadi tidak mendengar adanya statement seperti itu, kawan-kawan media juga tidak. Bahwa setelah saya cross check dengan semua kawan ternyata statement ini yang benar: BAHWA PETUGAS PPLN BERBAJU HITAM ITU MENYILAKAN KAWAN-KAWAN UNTUK BERBARIS DALAM ANTRIAN SATU PERSATU BARU DIIJINKAN MASUK, KALAU DUA (bergerombol) TIDAK BOLEH. Medsos saya rasa mendengar pernyataan dari mbak yang berada paling belakang. Biasanya kalau kita main bisik-bisik, yang giliran dibisikin terakhir pasti salah kaprah. Iya khan? Kendati demikian apa maksud dari petugas itu menyuruh antri lagi kalau TPS sudah tutup?

Terjadilah desak-desakan. Sebagian pintu pagar besi itu roboh. Maaf, pagar besi ini bukan bentuk permanen, jadi adalah pagar yang bisa dipindah-pindakan dan dua orang saja cukup untuk merobohkannya. Dan kalau kawan-kawan berdesak-desakan itu amat sangat memungkinkan pagar besi roboh dengan sendirinya, BUKAN SENGAJA DIROBOHKAN. Pada saat yang sama, pintu pagar dan pintu masuk sengaja dibongkar oleh petugas Hong Kong yang bertugas di Victoria park karena waktu perijinannya sudah lewat.

Mbak-mbak yang berteriak-teriak demo berhamburan masuk ke area TPS dan protes kepada sesiapa saja petugas yang dijumpai.

Sekiranya ini yang bisa saya sampaikan dengan sebenar-benarnya. Saya tak terikat oleh pihak manapun dan tak terpengaruhi oleh beban membela capres pilihan saya. Saya menuliskan apa yang saya lihat dan saya ketahui. Semoga ini bisa membantu untuk mencerahkan berita yang simpang siur itu. 

Pada dasarnya kita adalah satu kesatuan WNI, siapapun presidennya nanti marilah saling dukung untuk kemajuan bangsa.

Sebagai pembanding, perhatikan screenshot broadcast dari PPLN dan kesaksian dari kawan-kawan saya lewat FB berikut:


BROADCAST PPLN HONG KONG:


 
KESAKSIAN KAWAN-KAWAN SAYA YANG MELIHAT SECARA LANGSUNG DI TPS :












Ketika Satu Persatu Pergi

Dua bulan setelah kepulangan/cutiku di tahun 2009, simbah (emak dari emak kandungku) meninggal. Wanita yang terkenal dengan sambel pecel dan kemandiriannya ini meninggalkan banyak kenangan indah bagiku dan aku tak sempat membalas semua itu, bahkan untuk duduk berlama-lama dengannya saja aku tidak bisa.

Dua tahun kemudian (2011) bapak menyusul simbah. Hanya sebulan sebelum kepulanganku cuti. Satu-satunya baju baru, batik sutra hijau yang aku pilih berhari-hari lamanya pun belum sempat dipakainya.

Lalu kemarin, 28 Mei 2014, pukul 2. 32 PM waktu HK (1.32 PM WIB), sebuah kabar terkirim lewat sms, simbah (emak dari simbok yang membesarkanku) telah meninggal. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Do you know how I feel?

Kosong.

Tak ada air mata sedikitpun hingga saat aku menyempatkan diri menulis ini. Kepergian simbah bukannya tidak menyedihkanku, bukan. Bagaimanapun dari ada kemudian tidak ada, tentu sebuah perubahan besar bagiku, bagi keluargaku. Kendati hal itu (meninggal) sudah bisa kami rasa dalam bulan-bulan terakhir ini. Beliau yang sudah sakit-sakitan berbulan-bulan lamanya (bahkan setahun lebih), beliau dengan umur hampir 100 tahun itu, beliau yang sedari aku kecil sampai dengan dewasa dan setengah tuwa ini tidak bisa melihat wajahku (karena buta), -memang mungkin sudah waktunya. Kami mengikhlaskannya bila masa itu tiba, termasuk kemarin.

Kendati demikian, kabar tentang kepergian simbah mengagetkan aku, menyadarkan aku bahwa satu persatu dari orang-orang yang amat berarti bagiku pergi tanpa aku bisa melihatnya.

Aku merasa kosong, hampa dan ketakutan baru tiba-tiba menghantuiku.

Aku mempunyai emak (kandung) dan simbok (yang membesarkanku) yang adalah orang terdekat dan amat berarti bagiku. Dan aku benar-benar takut bila...

Kontrak kerjaku akan berakhir pada pertengahan Juni tahun depan dan itulah rencana final exit-ku dari Hong Kong. Tinggal satu tahun lagi, sedang aku tak tahu akan bagaimana dalam satu tahun kedepan

Is it worth it? 

Or 

Should I just go home?



*kenapa pula aku harus menuliskan ini di blogku?




Demi Jokowi Gak Jadi Golput, Tapi...

"Mbak Rieee!" teriak temanku di ujung sana, wajahnya serius.

Aku menghentikan langkahku dan meletakkan tas jinjing dan beban berat di punggungku serta merta. Ya, tas punggung ini memang berat sekali hari itu, karena kebetulan banyak pesanan baju dan aksesoris dan mesin jahit yang mau diambil (aku jualan juga di Hong Kong). Dan aku tahu dengan gelagat seperti itu, dengan berita yang sepertinya penting yang dibawa kawanku itu, tentu akan memakan sedikit waktu untuk ngobrol.

"Mbak Rie, Jokowi mana?" tanyanya setengah berteriak padahal sudah berada tepat di depanku.

"Ha?" aku bengong.

"Enggak ada Jokowi, Mbak. Aku sudah bela-belain antri. Aku sudah bela-belain gak nonton GIGI (hari itu ada konser band GIGI, acaranya salah satu simcard provider di Hong Kong). Niatku pengin nyoblos Jokowi. Kok Jokowi gak ada. Katanya Jokowi nyapres?" tanyanya menyerbuku.

"Lha sing bilang nek hari ini pemilihan presiden siapa?" tanyaku.

"Ya khan Pemilu," jawabnya.

"Pemilu khan enggak cuma pilpres, cah ayu. Gak cuma pemilihan presiden. Hari ini Pemilu Legislatif. Yang Pemilihan Presidennya masih lama, sayang," jelasku.

"Gitu ya? Itu tadi banyak kepala. Mana aku gak kenal lagi. Wajah-wajahnya asing. Ada wajah lama juga aku gak suka. Trus aku harus milih siapa?" katanya.

"Lha kamu tadi milih siapa?" aku berbalik bertanya.

"Enggak tahu. Enggak milih. Kertas tak buka trus aku bingung. Trus aku nyoblos logo partainya aja," jawabnya.

"Ya udah. Wong wis kadung kok. Lain kali kalau niatnya mau ikut, ya harus nyari tahu dulu, itu Pemilu apa. Nyari info sebanyak-banyaknya, kenali tokoh-tokohnya, kenali partainya.  Koran gratis juga banyak ditulis beritanya kok. Tuh HP keren buat browsing khan bisa. Kalau buat FB sama whatsapp dan skype doang, mending hibahkan saja ke aku, biar bisa aku buat ngeblog," kataku.

"Yee...," katanya sambil menyablek tanganku.
"Kecewa berat, Mbak. Aku nggak jadi golput karena Jokowi. Wong gak ada sosialisasi lho. Mending tadi nonton GIGI," katanya jengkel.

"Ada sosialisasi kok, itu di koran. Tanggal 9 Maret lalu juga ada pemaparan Pemilu dari Kominfo dan Bawaslu, tapi woro-woronya di FB tanggal 4 Maret, acaranya tanggal 9 Maret. Ada 50 orang tuh yang ikut," jawabku.

"Yeee...sama aja bo'ong,"

Percakapan berlanjut dengan menanyakan ini dan anu dan itu lalu dengan sedikit basa-basi aku pamit untuk melanjutkan perjalananku mengantarkan barang pesanan. Lalu baru beberapa langkah ada suara lagi mengejutkanku.

"Mbak Rieeee..!"

"Aku pengin marah," katanya setelah berada di depanku dengan nafas terengah-tengah dan buah dada naik turun.

"Aku tak pergi aja nek gitu. Wong arep nesu kok nyari aku," kataku gemas.

"Enggak nyari, kebetulan ketemu gini kok. Nyoblos gak, Mbak?" tanyanya.
"Aku tadi nyoblos, aku gak kenal mereka (nama-nama di daftar pemilu). Trus aku bilang sama pengawasnya: "Pak, gak ada yang saya kenal". Trus tahu nggak jawaban pengawas TPS itu?" katanya cuepet banget seperti MTR Express jurusan airport HK.

"Enggak," jawabku cuek.

"Yaelah mbak, itu pengawas dari KJRI ngomong gini: "Kalau mbak enggak kenal mereka, ya lihat saja wajahnya. Lhah kalau ada wajah yang paling cakep yang mbak suka, ya pilih saja dia."
Gitu katanya. Njengkelin nggak tuh orang?" jelas temenku ini dengan wajah geregetan.

"Trus ada yang kamu suka enggak?"

"Ya enggaklah,"

"Trus dirimu nyoblos apa?"

"Enggak tahu,"

"Kenapa sih pada males nyari info dulu sebelum mau ikutan pemilu?"

"Ya mana aku tahu (dipikir pilpress bukan pileg), Mbak," jawabnya.

"Nggak tahu ya tanya, cari info. Lha kamu punya mbakyu sepinter aku ya gak pernah tanya. Tanyanya cuma kalau lagi mentok pas punya masalah majikan, pas punya masalah sama pacar. Pas mau beli make up atau baju. Huh," kataku.

"Lha mbak Rie nggak ngasih tahu! Sekarang pelit info. Nulis kek di wall FB, nulis kek di opini koran, nulis kek di blog. Sekarang jualan mulu, jarang ngasih-ngasih info kayak dulu, sebel!"

Lho kok? Kok aku yang disalahin ya?


******

Hari itu tgl 30 Maret 2014. di Hong Kong sedang diadakan Pemilu Legislatif.
TKW-Hong Kong (HK) masih banyak yang belum mengetahui apa bedanya Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. Umum yang mereka tahu kalau Pemilu itu ya milih presiden. Berhubung jagoan yang menjadi media darling dan kerap menjadi obrolan karena blusukannya telah memproklamirkan diri nyapres di pilpres tahun ini, maka kebanyakan (yang mengira bahwa pemilu itu ya cuma pilpres) akan datang ke TPS yang berada di Victoria Park, Causeway Bay, HK untuk nyoblos kepalanya Jokowi.

Tak banyak yang berpartisipasi dalam Pileg kemarin, hanya sekitar 6.000 peserta dari total TKW-HK yang lebih dari 152.000 orang. Itupun sudah tergolong meningkat dibanding lima tahun yang lalu.

Bagi yang mengetahui bahwa Pileg itu bukan untuk memilih presiden, tentu akan menunggu Pilpres untuk memberikan suaranya. Kebanyakan TKW-HK di sini mempunyai pendapat bahwa mereka yang berada di DPR tak mampu menyampaikan suara TKW bahkan terkesan masa bodoh dengan TKW.


21 ton kertas suara yang terkirim ke HK

Ada Babu Ngeblog di Jawa Pos

Ketika aku membuka Facebookku pada Senin, 17 Maret, pukul 8.30 pagi,sudah ada tiga pesan menggedor-gedor pintu inbox untuk segera dibuka. Dan setelah aku buka, mak jreengg.., ketiga-tiganya berisi sama, sebuah foto dan tulisan (hampir sama), "profilmu dan blogmu di Jawa Pos hari ini".

Selang sekian menit, sekian puluh mention menghampiriku. Berhubung hari Senin adalah jatahku berkeliling Hong Kong untuk ngapelin tukang jagal ayam, tukang jagal sapi, tukang jagal babi, bakul iwak dan penjual sayur, maka ya kuabaikan. Tugas dari nyonyah bos tak boleh dinomorduakan.

Eh, sempat mengintip blog lewat HP dines, karena HPku sendiri  hampir tiga minggu rusak dan baru bisa beli tagl 18 (HP dines= HP pemberian pak bos khusus untuk whatsapp atau telpon bos dan keluarganya saja), sempat menginceng e-mail (48 e-mail pada 17 Maret) dan stat blog yang tiba-tiba mencolot tinggi sekali, 11.100 hits pada tanggal 17 Maret jam 11 malam. Wow! Biasa juga cuma sekitaran 300-500 perhari kalau pas gak ada postingan baru.

Lalu mulailah ritual awal, ngubek internet. Eh terus karena stat blog masih di atas 6 ribu hingga tanggal 21 maka ngubek internet lewat hp dines berkelanjutan. Iki jan-jane sing ditulis di Jawa Pos apa sih kok sampai segitunya?

Dan ketemu di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, di sini. Lho...lho...lho.... Kok banyak amat?
(jadi pengin malu**)

Pada (kalau nggak salah) tanggal 11 Februari, mas Abdul Ringgo dari Jawa Pos e-mail aku. Beliau yang ada jadwal seminar (entah seminar apa) di Hong Kong, ingin menemui aku. Aku sih enggak keberatan, toh sudah beberapa kali mahasiswa, LSM, peneliti dari Indonesia yang datang dan mengajak ketemuan sehubungan dengan riset, makalah atau essay mereka. Lagian di Hong Kong ini, ketemuannya juga di tempat umum, di Mc'Donald di ruas jalan Yee Wo Street, Causeway Bay. Siang hari pula. Apa yang patut ditakuti atau dicurigai?

Inilah saat aku harus korupsi waktu kerja untuk kesekian kalinya. Aku hanya bisa menjanjikan 2-3 jam ngobrol, tak lebih. Itupun sudah terhitung lama. Dan ngobrollah kami tentang ceritaku mengenal laptop, awal mula ngeblog dan sebagainya.

Judul di artikel JP: "Dulu Enter Saja Tak Tahu, Kini Ribuan Pembaca Menunggu" sempat membuatku tertegun. Ya memang dulu tombol enter yang mana saja aku enggak tahu. Hanya dikasih tahu bos tombol power dan icon internet explorer. Selebihnya, beliau selalu bilang: "Find it in google" setiap kali aku bertanya sesuatu. Kalau...ribuan pembaca? Benarkah? Lalu aku dikagetkan oleh lamunanku sendiri bahwa TKW-Hong Kong jumlahnya lebih dari 170 ribu. Dan bila aku mengenal lebih dari 30 organisasi bentukan TKW-HK yang dari perorganisasi anggotanya bisa mencapai 100 orang, yang kebetulan juga aku kenal dan mengenalku karena blogku belum lagi ketambahan teman dari FB dan blogger dari Indonesia, maka judul itu bukan bualan. Toh saat aku konsen di jualan online dan membiarkan blog berkarat karena tak kusentuh, selalu ada teguran dari teman dan e-mail atau whatsapp yang membuatku malu disebut blogger (non aktif).

Lalu bagaimana dengan isi tulisan di JP?
Ada beberapa hal yang membuatku mengernyitkan kening saat membaca artikel di JP itu. Seperti pernyataan bahwa aku gonta-ganti majikan. Kapan ya aku bilang gitu? Majikanku cuma satu, sembilan tahun sudah aku mengabdi kepada mereka dan cerita-cerita tentang mereka selalu aku tulis di blog ini. Pertengkaran-pertengkaranku dengan mereka, kebodohanku dan keras kepalanya kami selalu aku kemas di label celotehan. Kalau aku enggak mau diremehkan bos memang iya, kalau aku memilih bertengkar dengan mereka karena selisih pendapat atau kurang setuju terhadap sesuatu atau tak mau disalah-salahin mulu juga sering. Kalau aku gonta-ganti majikan? Enggaaakkkk..!! Hehehe...

Lalu soal uang dari Malaysia, aku gak pernah nyebutin nominal. Kalaupun aku sebut tentunya tidak segitu. Gimana bisa uang segitu untuk mendirikan rumah? Dan saat pertama didirikan, rumahku hanya 10 (bukan 12) jendela, dari mimpiku untuk memiliki 15 jendela. Ya memang terpaksa harus menerima rumah 10 jendela itu, tapi kepikiran terus hingga akhirnya Juli tahun 2011 rumah itu aku jebol untuk membuat lima jendela lagi (ini mau mewujudkan mimpi atau gila?).

Lalu tentang cerita bersambung di Jaya Baya, itu mah cerita pendek dan cerita anak dan artikel, profil yang dimuat di sana. Kalau cerita bersambung dalam bahasa Jawa, waduh ini masih planning mau buat buku/novel gitu, sebenernya juga Off the Record, auwww.... Jadi malu sama mbak Titah Rahayu yang mbaureksa Jaya Baya itu.

Cuma itu saja sih yang mengganjal tentang tulisan di JP. Selain yang aku komplinkan di atas, sudah sesuai dengan ceritaku yang memang begitu.

Ada yang lucu pada tanggal 18 Maret lalu, saat aku menelpon mbakku. Katanya, orang sedesa sempet dihebohkan oleh berita bahwa aku mau nikah dengan orang Hong Kong di Hong Kong. Whaaattt...???
Iya kalii...itu kalau si keren Chow Yun Fat yang memintaku, hehe! Tapi boro-boro, paling cuma diminta jadi babunya, wkwkwk....

Sebenernya pak lurah desaku ditelpon oleh temennya yang jadi lurah di Blora, lurah Blora itu bertanya apa ada warga desa yang bernama Sri estari di desa Cabak yang kerja di HK soalnya lagi ada berita di koran.. Trus pak carik denger, cuma gak jelas. Trus bilang sama punggawa desa lainnya dan istrinya bahwa Sri Lestari mau nikah di Hong Kong. Trus sang istri bilang sama tetangganya kalau aku mau nikah dengan orang HK di HK, trus tetangganya bilang sama tetangganya bahwa aku mau nikah dengan orang HK di HK dan lagi proses surat, trus tetangganya tetangganya bilang sama tetangganya kalau aku aku mau nikah dengan orang HK di HK dan lagi proses surat dan harus cepet, trus tetangganya tetangga tetangganya bilang sama handai taulan dan tetangganya kalau aku mau nikah sama orang HK di HK dan sedang proses surat dan harus cepet-cepet karena aku sedang kenapa-napa trus sampailah cerita itu pada emakku. Dan alhamdulillah emak tak memakan mentah-mentah cerita itu, walau bulik, budhe, pak dhe sudah nangis enggak karuan mendengar berita itu. Beliau langsung menghadap pak lurah dan bertanya langsung. Terlebih emak mempunyai keyakinan bahwa aku tak akan melangkahi beliau. Mosok mau nikah gak bilang emak? Ih terlalu deh.

Ya begitulah.

Ini ngeblognya udahan dulu ya. (ngeblog pakek HP di perjalanan pulang dari menjenguk nenek)

Ini sudah mau nyampek rumah bos.

Eh malah udah sampek depan pintu.

Terimakasih kepada semuanya yang telah menyempatkan diri bertandang ke Babu Ngeblog. Terimakasih atas komentar-komentarnya. terimakasih atas e-mailnya. terimakasih atas apresiasinya.
Semoga bisa aktif ngeblog lagi, semoga bisa berbagi lagi.

Akan ada kejutan 2-3 bulan lagi. Kejutan untuk semuanya.
Tapi gak ngomong dulu deh, entar gak kejutan dong, hehehe...

Salam dan terimakasih.

Rie Blora/Rie Lestari/Rie Rie/Sri Lestari/SLI/Lestari/Tari/Rere
(yuuuhhhh...akeh men alias-e...lha itu nama pena gonta-ganti mulu, hehe...)

The Past is in The Past

Sebuah pertanyaan berhak atas jawaban.

Kami, aku dan momonganku, berjalan menuju bus stop yang berada di ujung Village Road. Kami melewati beberapa mobil yang berjejer terparkir di tepi jalan.

Pukul 6 petang, suasana lengang, tak banyak mobil bergerak melawan arah kami berjalan. Udara tak bergerak, diam di tempat, dingin yang pengap, ini musim winter yang salah kaprah di tahun ini. Cuaca tak menentu.

Uap menyembul dari mulut kami saat kami mendengungkan lagu yang menjadi soundtrack film Frozen, Let It Go. Lagu yang dibawakan apik oleh Idina Menzel menjadi agak kedangdut-dangdutan saat aku dan momonganku berusaha keras untuk menyanyikannya.

.........
My power flurries through the air into the groooouuundddd
My soul is spiraling in frozen fractals all arooouuundddd
And one thought crystallizes like an icy blaaaaaasssttt
I’m never going back,
the past is in the paaaassst....

"Waiiiiitttt...!" teriak momonganku tiba-tiba. Aku mendadak harus mengerem mulutku untuk tidak menyanyikan kelanjutan dari lagu itu.

"What?" tanyaku heran.
"What does that mean?" tanyanya.
"What does that mean what?" tanyaku heran dua kali.
"What does it mean? What does "the past is in the past" mean?" tanya momonganku serius. Dia bahkan berhenti berjalan dan menatapku sungguh-sungguh.
"We always sing this song, I understood most of the lyric, but not this one," katanya.

Anak yang pada 14 April nanti genap 9 tahun ini memang bocah yang curious banget. Rasa ingin tahunya tinggi. Ya iyalah,secara babunya juga gitu.

Sebenarnya aku mau menjelaskan begini: bahwa Elsa dituntut untuk menyembunyikan kekuatan magicnya dan itu membuat Elsa ketakutan kalau kekuatannya sampai diketahui orang. Jadi saat Elsa minggat dan berada di gunung dia mencoba untuk melupakan ketakutannya, tidak menutupi kekuatannya dan menjadi dirinya sendiri, toh semua orang sudah tahu tentang kekuatan magicnya. 

Bukankah penjelasan seperti itu terlalu rumit baginya? Maka aku memilih  penjelasan seperti ini:

"The lyric is like a poem. Beautifully arrange words related to the movie," jawabku.
"So?" desaknya.
"You saw the movie, didn't you?"
"Yes."
"Elsa ran away from palace then go to the icy mountain, right?"
"Yes."
"So Elsa's past is the palace. She has left the palace, so it passed," jelasku.
"Get it?" tanyaku, berharap dia bisa menangkap penjelasanku.

Aku mulai bingung bagaimana harus menjelaskan padanya. Dan dari wajahnya tergambar bahwa dia makin mumet dengan penjelasanku yang mbulet. Kami sampai di bus stop. Sejenak aku membuka google dari ponselku. Aku mengetik "the past is in the past meaning" kemudian menekan tombol search. Percuma. Yang ada hanya lirik lagu dan disney wiki.

"I don't get it," jawabnya jujur.

Ok,  aku harus memutar otak. Kalau penjelasan kedua ini enggak juga bisa dimengerti olehnya berarti harus kirim whatsapp ke pak bos untuk menanyakan hal ini.

"Where are we going?" tanyaku.
"Play therapy," jawabnya cepat.
"We walked from home to this bus stop, didn't we?"
"Yes."
"What did we pass?"
"Cars, dogs, apartments?"
"Yes. So the cars, dogs and apartments were passed, right?"
"Yes."
"So that's it! Cars, dogs and apartments are behind us. We can say it like this: cars, dogs and apartments are past and the are behind us, passed, past. Do you get it now?"
"No."

**tepuk jidat

Lalu tiba-tiba dia berkata:

"You said Elsa's past is palace and she left palace, so the palace is behind her, past. Like that?"
"Yes," jawabku lega.

Akhirnya dia mengerti walau tidak sepenuhnya benar pengertian yang di dapatnya. Lha kalau pertanyaan yang fardhu ain jawabannya itu tidak terjawab, sampai besok dan besoknya lagi dia akan nguber aku untuk memberikan jawaban yang tepat. 

huufftt....

 

Sega Sambel Terong

"Kowe ki mangan apa?" pitakone Nyonyah karo nuding-nuding layah.











Nyonyah bos ujug-ujug wae ana mburiku, blas aku ora krungu suara sandhal nyedhak saking khusukku anggone mangan muluk. Batinku mana ya kaget campur gregeten, kok ora pangerten blas, nganggu gawe wong mangan.

"Genah nek sambel ngene kok Nyah. Kaya ra tau weruh aku mangan sambel wae," sumaurku enteng.

Lambeku isih panggah takjejeli sega sambel terong, ora mraelu nyonyah sing pasuryane katon seje kathik nganggo mengkirik pisan. "Ya benne, wong aku luwe," pikirku.

Wis jam 10 bengi, gaweyan durung rampung. Panci, piring, wajan, isih jejer-jejer antri, durung takkorahi. Wetengku jan luwe tenan, kawit esuk mung klebon gorengan thok. Iku wae olehku mangan karo kesusu, selak momonganku mulih seka sekolah. Nek konangan sida cilaka tenan, rebutan gorengan. Najan anak Cina ning momonganku kuwi kalebu dremban, panganan apa wae, apa maneh gorengan, ya doyan wae.

"Lha steak wedhus mau rak ya isih ta? Wong kok olehe ora nrimakna bendara. Aku iki kurang apik piye he? Rumangsaku nek karo panganan aku ki ra tau nglarang kowe mangan," kandhane Nyonyah karo mecucu.

"Wegah marai penyakit Nyah. Mengko gek sesuk mbok titik, rak tiwas ra dadi daging," sumaurku.

"Gundhulmu kuwi!" sumaure Nyonyah karo lunga.

Blaka Suta

Jam 7 isuk HP-ku muni. Tuttt, alarm. Mataku isih kriyip-kriyip. Iler nglumpuk dadi siji nandingi bengawan Solo sing badhege kaya kali Ciliwung.

Jan-jane mana aku wegah tangi, lha wong isih kepenak-kepenake ngimpi. Jan-jane mana kepingin ngrampungke ngimpi sing ketugel. Apa maneh adheme kaya bar diinggati kucing, 12 drajat. Ning kepeksa mak jranthal mbuwang slimut tuli mudhun petaranganku merga kelingan yen entuk dhawuh seka kanjeng bendara nyonyah bos, dikon masak bubur karo tim babi, karo sop buntut kanggo sarapan lan mangan awan mengko.

Kamangka tgl 25 Desember kuwi rak tanggal abang ta? Sing tegese babu Hong Kong kaya aku ngene iki wayahe prei, kiya-kiya, seneng-seneng dhewe, ngenggar-enggar salira. Ning ndelalah wong kuwi nek dapuk dadi babu, ya kepeksa ngempet misuh ning njero dadha. "Dancuk tenan!"
Jatukna aku turu kepenak, ngimpi kelon karo simbok.

Tanpa raup aku mususi beras trus takwenehi kulit jeruk sing garing karo uyah sithik karo minyak sithik, trus takjarke. Mbukak kulkas trus ngethokke daging babi sing ana lemake sithik-sithik karo buntut babi.

Njogan takslemeki koran, telenan takselehke, buntut babi taktumpangke, peso bedok takungkal.

"Allahu Akbar," dongaku ing njero dadha. Biasane nek wis ngono aku karo umik-umik ngrapal Al Fatekah, Al Ikhlas, Al Falaq, apalan-apalan cekak sing isih nyanthol ning utekku, ning karan dina iki aku lagi M ya kepeksa meneng.

Mari ngono....

 "Cleng! Cleng! Cleng! Dhog! Dhog! Dhog!" Aku dadi tukang jagal.

Seprapat jam rampung olehku ngethoki buntut karo nyacah daging babi. Njur ngurupke kompor, mak clethek! Nggodhog bubur, mbumboni daging cacah trus tak tim.

Let pitung menit tim babine wis mateng njur takganti masak sup buntut babi. Gandeng masak bubur lan sup babi kuwi butuh wektu udakara sakjam, ya njur taktinggal adus wae.

Water heater takuripke pol panase. Let sedhela, mak byur, aku wis teles kebes seka sirah teka sikilku. Banyu panas iki isa ngresiki iler lan rereged saka masak mau. Metu seka kiwan aku kebul-kebul, kaya pithik ntes diwedhangi.

Pas jam 9.45, nalika aku metu seka kiwan, HP ku muni. Tuuuutttt, sms mlebu.

"mbk sri pye kbre?" unine sms mau marang aku.

Merga sms seka nomer Indonesia sing durung takngerteni, aku penasaran. Njur takbales.

"Apik. Iki sapa?" smsku.

Let sedetik ana jawaban.

"aku atik mbah parmin lebak.kirim ono plsa po o mbk dwetmu akeh," ujare sms kuwi.

Wo.... Cene wong kok lek seneng njaluk-njaluk. Lha aku tepung karo simbahe ning ra ngerti putune. Mbah Parmin sing takkenal kuwi wonge temen, sregep. Ora tau nglerenke pacul apa dene jalane. Nek isuk tumekane sore macul, nek bengi njala iwak ing bengawan Solo. Lha kok putune kaya ngene iki ta.

Atiku serik banget. Mbah Parmin kuwi wong tuwa sing takkurmati, simbokku nate menehi dhuwit wae ditampik, milih ngakon simbok nggolekke gaweyan. Lhah nyapo bocah sing praupane wae aku durung nate weruh kok ngrepik-ngrepik karo aku. Lha rumangsane apa aku kaya bank ngono apa piye? Ora kere!

Isuk iki aku wis serik pindho, jan anyel tenan. Sms ora takwangsuli, mung takdelete njur takblokir nomer kuwi. Nesu aku. Sontoloyo, kakekane tenan!

Crita Babagan SMS

Ana SMS ngethithir tumuju nomerku. HP-ku kedher ping pindho. Sengaja dakgawe silent soale bendaraku wedok ana ngomah, dina iki ora mangkat kerja, nunggoni anake kang lagi prei sekolah. Nek dakuripake isa-isa gawe geger sakomah.

Bendaraku mana paling gething yen keprungu swara HP-ku muni nalika dheweke ana ngomah. Biyen, dhek jaman sepisanan aku lagi teken kontrak, ana perjanjian tertulis antarane aku lan bendaraku, ing kono katulis menawa ta aku ora entuk nganggo HP nalika bos ana ngomah.

Nganti seprene, nem tahun lawase, yen bendaraku ana ngomah HP-ku mesthi njur ora ana unine, silent mode.

Wektu iku tanganku isih gupak unthuk sabun. Ing wayah isuk ing dina Sabtu ngono kuwi biasane aku ngumbahi gombalane khususe bosku, dakkumbah nganggo tangan amarga kalebu gombal alus kang larang regane, bayaran rong mingguku wae durung cukup nek digawe tuku gombal siji.

Sabanjure...sreett..seerrr.. tanganku daklapke kaos kotange bendaraku sing arepe dakkumbah. Eh jebul Mbak Tarti. Wadon sepantaran umurku sing pitung taun kepungkur ninggal Purwadadi tumuju Hong Kong saperlu luru gawean dadi babu kuwi sing ngirim SMS mau.

Weh lha, njanur gunung tenan, batinku. Biasane Mbak Tarti kuwi yen SMS-an ing wayah bengi thok. Bendarane ora ngijinake babune dolanan HP. Malah kepara luwih serius, yen aku isih isa silent HP tapi Mbak Tarti kudu dipateni thes HP-ne. Bendarane ning omah terus alias ibu rumah tangga tulen sing ora nyambut gawe ngana kae. Jan persis kaya satpam nunggu gawe lan ngawasi saparipolahe Mbak Tarti.

Mbak Tarti siji-sijine kancaku sing ngaji-aji SMS gratis ing jaman internet ngene iki. Ora kaya babu-babu liyane sing saben dina sregep wiridan fesbukan, slinthutan karo bendarane, Mbak Tarti mung ngerti SMS lan telpun thok-thok. Yen babu liyane akeh sing cinta mati karo toilet, ndhekem jam-jaman ngguya-ngguyu karo nguthek-uthek HP, Mbak Tarti pilih ndhoprok ing pojok pawon nunggu dhawuh bendarane.

Mbak Tarti uga ora kaya babu-babu liyane sing seneng nulis-nulis lan kalebu penulis/sastrawan (babu) kae. Uga ora melu organisasi seni utawa tari apa maneh organisasi vocal/advokasi ngana kae, lha wong nek ngerti ana babu-babu arep dhemo wae Mbak Tarti mesthi ndhelik keweden kok.

Mbak Tarti mono mung babu biasa sing utun nyambut gawe lan sendika dhawuh marang bendarane. Sanajan ta kala mangsa bendarane kerep memba dadi Mak Lampir utawa Nyi Calon Arang, Mbak Tarti pilih meneng lan pasrah wae.

Ing sakjroning nem taun, wanita ireng manis sing dhuwur lan kurune ngluwihi aku kuwi mung ngerti Victoria Park thok. Mula kanggoku rada angel anggonku ngemban atine wong siji kuwi.

Kanca tunggal sak-PT-ku kuwi sajak ngusung kabar penting nganti ora sabar nunggu wengi kanggo SMS-an. Mbuh ana ngendi anggoneSMS kuwi. Menawa wae pas blanja nang pasar utawa pas nunggu simbah sing diopeni lagi priksa dhokter, mbuhlah.

Gandheng SMS sapepadha simcard kuwi gratis lan uga gandheng aku wis penasaran banget, saknalika iku uga langsung dakwaca SMS-e.

"Rie, wong lanang kuwi kucing apa ula?" mengkono isi SMS kuwi mau.

We lha dalah.... Yen ta ora ngelingi menawa sing ngirim SMS kuwi wong kang mbokmenawa wae mung ndhuweni kanca akrab siji yaiku aku, menawa wae bakal dakjarke wae nganti mengko bengi nembe dakjawab. Iki takon temenanan apa guyon, pikirku.

"Kalamangsa kucing, kalamangsa ula. Sing kaya bungklon ya akeh, sing kaya asu ya ana. Ana apa?" jawabku.

Ora let sedhela, wadon kang kepeksa gelem diwayuh sakwise ngonangi bojone ngetengi wadon liya kuwi mau banjur ngirim balesane.

"Dhuwit celengan gawe sekolahe Anti (anake wadon Mbak Tarti) dibedhol karo bapake, jare arep gawe babaran bojo nom," ujare maneh.

"Lha apa dheweke ora mergawe?" pitakonku.

"Ora nyukupi," jawabane cekak aos.

SMS mbaka SMS banyu mili. Nanging aku durung mangerteni ning ngendi bakale tuk-e. Aku duwe rasa was-was uga, merga pakulinanku sing biasa ngomong blak-blakan kuwi mesthine ora bakal gawe rena atine Mbak Tarti. Njur aku kudu mangsuli kepriye iki? Aku bingung karepku dhewe.

"Nek ngono dheweke kalebu kewan kapapat Mbak, asu," wangsulanku maneh, isih padha, uga lewat SMS.

Suwe anggonku ngenteni wangsulan SMS saka Mbak Tarti, nanging nganti pirang-pirang jam ora ana wangsulan. Dakkirim SMS kang isine aku njaluk sepura menawa ana lupute anggonku njawab SMS sakdurunge, nanging ya ora diwangsuli. Aku samsaya bingung.

Aku isa nylamur gorehing atiku nalika aku ngayahi kewajibanku ngopeni momonganku nganti tumekaning masak kanggo makan malam. Nanging rikala kabeh pagawean rampung lan aku wis mapan ing sakdhuwure kasurku sing temumpang ing sakdhuwure kulkas (waca ing kene: http://babungeblog.blogspot.com/2010/03/tragedi-munyuk-kesasar-di-hong-kong.html) , aku nyawang HP-ku kanthi ati kroncalan.

Dakpikir aku ora ngomong akeh-akeh utawa aneh-aneh ing SMS kapungkur awan mau. Apa ya amarga SMS kuwi sing gawe ora seneng tumekaning lara atine Mbak Tarti nganti ora gelem mbalesi maneh? Oh Gusti! Geneya aku dhek mau ora mikir jero sakdurunge ngirim SMS pungkasan? Getunku kepati-pati.

"Dreeetttt...dreeettt...!" HP-ku kedher pindho. Saknalika aku jumbul kaget, meh wae HP-ku mencelat saka tanganku.

Dakbukak SMS sing dakgadhang-gadhang saka Mbak Tarti. Lan tenan, SMS kuwi pancen saka Mbak Tarti.

Age-age anggonku maca ukara mbaka ukara ing SMS kuwi mau. Atiku dheg-dhegan.

"Aku ora nesu. Asu iki bapake anakku. Aku sejatine ora ikhlas menawa anak sing dakrewangi toh nyawa, toh pati, uga toh nasib iki bakal diwaleni dening wong lanang sing mung udu kenthongan," tulise ing SMS.

"Dreeett... dreettt...," HP-ku kedher maneh.

"Ning aku ora ngerti njur kudu kepriye maneh. Wong tuwaku wis ora ana kabeh, aku ya ora duwe sedulur cedhak sing isa dakpercaya ngrumat anak wedokku. Nek bali desa, aku ora ngerti kudu nyambut gawe apa, nek ning kene aku isa ngirimi dhuwit ajeg. Ning ya kuwi aku makani maruku barang," SMS kapindhone.

Maneh, aku dheleg-dheleg. Aku njajali mapakke awakku ing kahanane Mbak Tarti, lan aku yakin aku ora bakal kuwawa nandhang lara lan laraaa banget kang kaya mengkono iku mau.

Bola-bali aku matur pamujiku marang Gusti, yen ta sasuwene iki aku isih isa milih dalan uripku dhewe, alhamdulillah. Ewadene Mbak Tarti, kawit cilik ora duwe pilihan babar pisan. Dipeksa kawin mudha, dikon dadi TKW, diwayuh nganti tumekaning ngopeni marune. O Gusti...aku ora isa mbayangke kaya ngapa perihe.

Aku ora ngerti kepriye anggonku bisa nulungi Mbak Tarti, menawa wae ya mung perkara siji iki sing ora bisa dakwedhar, kaya-kaya dalan uripe Mbak Tarti wis nali mati. Aku mung isa njaluk sepura, ora ngerti kudu SMS kepriye kanggo isa nglonggarake sumpek atining Mbak Tarti. O donya... mbok tulungana wadon siji kuwi...


Aku Dudu Klapa

Dakwolak-walik jeroning lara
jebul ora mung kebacut
ning nganggo banget

Lan
amarga bibitmu kang awujud lemah urip
aku tumali ing siksa tanpa cecek

Kangmas,
apa aku iki klapa
sing dibeset sepete,
diperes santene,
dideres gulane,
dipangan pondhohe,
dirah glugu, sada sakblukange?

apa lumrah?
lanang polah, wadon kepradhah?

Riyayan Kepungkur


“Gak metu mbak?” pitakone kanca sak flatku saka balkon apartemen sebelah. Wadon asal Malang iku wis dandan ayu lan nganggo mukena putih.

“Ora. Bosku kerja, anake sing momong sapa nek aku metu?” sumaurku.

“Digawa lo, dijak melu sholat Ied,” kandhane maneh sajak enteng wae .
Aku mung unjal ambegan, ora semaur.


Aku saiki ana ing papan kang adoh saka Blora, tanah klairanku. Adoh uga saka Indonesia, negaraku. Hongkong saiki dadi papan sawateraku. Ing kene aku nyambut gawe dadi babu, rewange Cina. Ing omahe bendhara kang lanang wadone lunga mergawe seka jam wolu isuk nganti jam pitu wengi kuwi aku kajibah ngrumat bocah cilik, masak, reresik omah uga blanja.

Nalika semana lungaku mrana ora amerga nglungani tanggung jawab marang wong tua nanging suwalike. Daya-daya kepingine ati supaya ora nambah bebane wong tua, kepingine ati gawe omah supaya simbok ora bingung golek ember lan plastik kanggo tadhah udan amarga trocoh ing sajeroning omah meh rata. Yen udan, teles ning sajabane omah meh padha karo teles ing sajroning omah, ngedab-edabi.

Udan kuwi gawe mirising atiku lan simbok. Omah sing wis miring mengulon lan nganti dicagaki supaya ora rubuh kuwi kaya-kaya bakal kalah tanding karo udan, mbuh saiki mbuh sesuk, mengkono pamikirku nalika semono.

Mangsa rendeng kang jare wayah paling trep kanggo turu kuwi malah dadi mangsa paling medeni kanggo aku lan simbok uga simbahku. Kita angel turu merga wedi marang wewayangan saka, panuwun, reng, usuk kang bakal kumleyang ngebruki kita.

Aku wis ana ing pucuking kaprihatinan kang naudzubillahi nalika mutuske oncat saka negaraku tumuju Hong Kong, tanpa palilah saka bapak, simbok apadene simbah. Amarga wes mesthi kekarone ora bakal menehi palilah. Simbah nate ngendikan mengkene, “Mergawea sak paran-paran angger kowe ora dadi buruh, babu. Buruh mana dilebur ora weruh. Lara saklara-larane gawe lan asor sak asor-asore gawe.”

Pancen bener ngendikane simbah. Kerja prasasat ora ana lerene, titahing bendara prasasat ora tau asat, ngimplah-implah kaya dene banyu segara. Yen ora kuwawa nyangga bisa gawe awak kuru lan ati nggrantes.

...

Bosku kekarone wes metu saka kamar nganggo klambi kantor jangkep sak jase. Kekarone banjur nyaut tas isi bontot mangan awan kang wis dak cawisake ing sandhuwure meja makan. Tuli nggeblas tanpa pamit. Aku unjal ambegan maneh, lega.

Aku mlebu pawon, nyawang lapangan Victoria kang wes kebak menungsa nganggo sandhangan sarwa putih sumadya sholat Ied. Sholat Ied berjamaah sing dianakake dening KJRI Hong Kong daksawang katon rame, udakara nem ewu menungsa tumplek blek ngebaki lapangan sing ambane kira-kira sapadha lapangan sepakbola jejer sanga. Nanging ramene isih ora madahani ramene sholat Ied tahun 2009 kae, amarga tahun 2010 riyaya tumiba ing dina Jumat. Para bendara mesthine padha makarya lan njalari akeh sing ora bisa melu sholat Ied, kaya dene aku. Dhek tahun 2009 riyaya tumiba ing dina Minggu, wayah para TKW padha prei mergawe, saengga padha bisa sholat Ied ing lapangan Victoria.

Iki pancen dudu riyaya kapisan sing daklakoni ing paran. Rolas riyaya aku ora bali sungkem wong tua. Kawitan nalika aku entuk gaweyan ana Semarang rolas tahun kepungkur nganti oncatku saka tanah kelahiran saperlu golek dhuwit. Ewadene rasa keranta-ranta kuwi tibake uga bisa dirasakake bola-bali, makaping-kaping.

Dak njipuk HP-ku, let sedhela tanganku gregelan nelpun simbok. Ing papan liya, ing Blora kana, simbok nampa telpunku lan nangis samangsa krungu suaraku lagi uluk salam.

Simbok nangis ing sangarepe panci blirik isi opor ayam nalika aku nelpun panjenengane. Astane sing mati separo dumadakan krasa abot banget diobahake. HP sing ana ing astane mrucut makaping-kaping mbarengi mrucute luh saka netrane kang mbanyu mili. Mbakyuku kepeksa mbiyantu nyekeli HP supaya simbok bisa nerusake anggone rerembugan karo aku.

“Sugeng Riyadin mak, sakkathah-kathahing lepat kula, kula nyuwun sepuntene nggih. Sepuntene dereng saged sungkem, sepuntene…,” kandhaku.

Aku dhewe kaya ora kuwawa nerusake tetembungan kang wengi sakdurunge wes dak cathet tharik-tharik ing sakmburine buku cathetan blanja. Abot banget kanggoku ngobahake lambe ngeja siji-mbaka siji ukara. Mripatku kembeng-kembeng kebak luh ora bisa nyawang cathetan sing sejatine wes dakapal ing sakjroning atiku. Pungkasane aku mung nangis ngguguk, ndheprok ing sakngarepe lambe pawon, wurung gawe sarapan kanggo momonganku. Dene kaya ngene rasane riyayan ing paran? Atiku keranta-ranta.

Nggrantesing ati luwih dene laraning lara dakrasakna ing dina riyaya. Aku kelingan opor ayam masakane simbok, utawa asem-asem daging sing seger kae. Aku kelingan gawe lungsung kupat sinambi gegojegan karo simbok, aku kelingan nalikane sesingidan nyumet mercon ing mburi omahe pak RT. Apamaneh kelingan takbiran bareng lan sholad Ied bareng kanca-kancaku wiwit cilik.

Ah, aja maneh sholad Ied bareng, swara takbiran wae ora keprungu ing Hong Kong. Sing ana mung swara-swara wong iwut nyambut gawe. Dina riyaya ing Hong Kong kanggone aku kaya dene dina liyane, kawajibanku kudu dakrampungake.

Kanggo sulihe riyaya, aku sakanca kang libur pendhak dina Minggu gawe acara dhewe. Ing lapangan Victoria kang kasebut uga “Kampung Jawa” kebak dening menungsa kaya dene aku saperlu mahargya riyaya sing ora bisa dirasakake pas ing dina riyaya.

Ing kene iki aku sakanca ngumandhangake takbir kanthi lamat-lamat amarga yen keseron isa diusir dening satpam lapangan. Ora krasa luh sing wes asat bali dleweran ing pipi. Salam-salaman lan rerangkulan karo kanca-kanca sanasib rasane kaya dene lungguh jejer karo sedulur dhewe.

Aku sakanca geguyonan sinambi mangan panganan Indonesia kang digawe kanthi sesidheman ing omahe bendarane dhewe-dhewe.

Kuwi crita riyayan ing Hong Kong sing dakrasakake tahun kepungkur. Rekasaning ati pengin nggayuh pepinginan kudu ditebus nganggo kangen lan sedih lan rasa-rasa liyane. Rasa-rasa kang ora bisa diwedharake nganggo tetembungan utawa tulisan apadene gambar. Rasa-rasa sing mung wong-wong kang mergawe ing negarane wong wae sing bisa mangerteni.

Tahun iki, aku bakal bali lan mahargya rawuhing riyaya bareng sakluargaku. Atiku bungah uga sedhih amarga tahun iki bapak ora bakal ana ing saktengahing kaluarga. Aku ora bakal bisa nemoni panjenengane kanggo njaluk sepura. Panjenengane wes ditimbali dening Gusti sewulan sepungkur. Sepuluh jam sakdurunge seda, ing telpun aku ditangisi dikon bali, nanging mokal kanggoku bali dadakan ngono kuwi.

Kodrating Gusti, aku mung nglakoni. Muga-muga panjenengane ditampa lan disepura dosane, aamiin.


Kaya kapacak ing majalah Jaya Baya edisi lebaran (September).

Golek Kiblat Ing Negara Cina


Isih ana suara adzan kang keprungu senajan tho lamat-lamat. Ora nganggo loudspeaker utawa pengeras suara kang di pasang ana cagak-cagak dhuwur kaya dene kang ana ing Indonesia. Ewadene suara adzan kang mung lamat-lamat kuwi wes kasil gawe greget kang padha. Kanggo nyatuhu ati lan jiwa sowan marang Gusti Kang Akarya Jagad, Allah SWT.
Hongkong papane, negara Cina kang wes kaya dene omah nomer loro dening saperanganing warga Indonesia kang golek rejeki ing kana kuwi ora luput saka suara adzan.
Apamaneh ing sasi iki, sasi ramadhan. Kaya-kaya kangen marang Gusti makaping-kaping tikele.

Ikhlas, Tatag, Teteg, Sabar

Akeh cerita kang bisa gawe tuladha kepriye carane para Tenaga Kerja Wanita-Hong Kong(TKW-HK) mangayubagya tekane sasi pasa.

Tiwi, TKW-HK asal Malang kang wes 14 tahun lawase ning Hongkong iki salah sijine. Suwene 14 tahun kerja ning Hong Kong, mung sepisan wae Tiwi(48 th) bali Indonesia saperlu ngrayakke pasa lan lebaran 6 tahun kepungkur. Kerja karo majikan loro sing duweni hubungan keluarga besar(sak marga) ning Peak-Central, Tiwi rumangsa beja. Beja dene majikane menehi ijin kanggo sholat uga pasa. Luwih bejane yen wayah buka biasane kabeh pembantu sak keluarga besare majikane nglumpuk.

“Sak dunge yo kangen karo anak, apa maneh nek pas wayah sahur ngana kae. Biasane nek ning omah aku masak kanggo anak lan bojoku. Biasane isa krungu swarane wong padha kothekan, kliling desa kanggo nangekake wong sing arep sahur. Nanging piye maneh, abot-abote aku pengin nyekolahke anakku, ya dilakoni wae kanthi ikhlas,” jare Tiwi.

Duweni gegadangan supaya bisa nyekolahke anak lanang siji-sijine nganti tekan universitas kuwi pancen abot. Abot ing ragat uga abot ing rasa. Miturut Tiwi, mokal yen tho mung kerja ning Indonesia wae nganti bisa nyekolahke anak, amarga Tiwi lan bojone kuwi mung tani utun. Niate Tiwi nguliahke anakke kaya-kaya wes bakal antuk asil, dene anake sedela maneh bakal di wisuda saka Universitas Muhammadiyah Malang.

Seje maneh karo Chamidah(24 th), asal Kaliwungu-Semarang kang wes kerja ning Hongkong 4 tahun suwene iki. Majikane kang meneng pitik angkrem kuwi ora ngijini dheweke sholat apadene pasa. Jarene wedi nek ngganggu kerjane.
“Halah, ora entuk terang-terangan ya nglimpe, singidan, asal aja konangan wae. Nek konangan isa di gebyah wejangan 3 dina ra rampung-rampung. Kudu sabar nduweni majikan kaya ngono kuwi,” ujare Chamidah.

“Ya abot-abote duwe adhi akeh gek lanang-lanang pisan. Aku khan ya pengin adhi-adhiku isa sekolah. Kamangka bapak ibuku wes sepuh, dadi aku kerja ben isa ngrewangi bebanne wong tuwa ngono lho. Nek pasa ning negarane uwong kuwi aku wes biasa, ya anggere tatag, teteg lan sabar wae,” ujare Chamidah kang duwe adhi 4 lanang kabeh kuwi.

Kekarone, Tiwi apadene Chamidah kang rumangsa duweni tanggung jawab kang gedhe marang anak, adhi lan wong tuwane, kapeksa mendem jero rasa kangenne marang keluarga. Lan nglakoni sakabehing coban urip ing Hong Kong kanthi ikhlas, tatag, teteg lan sabar.

Jadwal Pasa
Yen pasa ing Hongkong kuwi dudu warta kang mokal, terus sekirane piye carane para TKW-HK kuwi bisa ngerti kapan wayah pasa, buka, sahur utawa imsak? Ing kamangka adoh saka Indonesia, adoh saka para ulama lan ustad?

Kiblat kuwi ning endi-endi ana, ora mung ing Arab lan ing Indonesia wae. Islamic Union of Hongkong minangka gabungan saka sakabehe muslim kang ana ing Hong Kong biasane kang dadi panutan TKW-HK ngerteni kapan wayah pasa, buka, sahur lan imsak. Senajan tho ora di selaki, yen tho saperangan isih manut marang panutan NU lan Muhammadiyah saka Indonesia.

Pondhok Ramadhan

Akeh cara supaya luwih kusuk anggone sholat utawa pasa. Yen tho ning omahe majikan kadang-kadang isih nganggo aji-aji nyolong wektu, supaya bisa nglakoni sholat lan pasa, ing wektu libur(biasane para TKW-HK libur saben dina sabtu utawa minggu) isa di gawe kanggo ketemu karo kabeh kancane.

Ana sing ketemu ing masjid-masjid kaya dene masjid Al-Falah ing KJRI Hong Kong, masjid Ammar ing Wanchai, Masjid Kowloon ing Kowloon, masjid Jamia ing Central, masjid Cape-Collinson ing Chai Wan, masjid Stanley Prison ing Stanley utawa ing Persatuan Dakwah Victoria(PDV) Training Center ing Causewaybay. Malah ketemu ning taman Victoria-Causewaybay, ing ngisor jembatan layang-Causewaybay utawa ing emperan toko mana wes kalebu sesawangan kang lumrah.

Nglumpuk sak kanca-kancane kang mesti wae miturut marang lembaga utawa kelompok keagamaan(islam) kang di dhegake dening para TKW-HK kuwi biasane di enggo gawe ngaji, tadarus, dzikir, sholawatan, ngrungokake ceramah utawa diskusi bareng-bareng.

PDV minangka ibu saka lembaga-lembaga islam utawa kelompok keagamaan sing di dhegake dening para TKW kuwi minangka penggerak lan pamrakarsa sekaligus pengawas meh sakabehing kegiatan keislaman TKW-HK.

Mligine ing sasi pasa tahun iki, ana tambahan kegiatan kaya dene lomba kutbah, qiro’, cerdas cermat. Sing di rangkum ing sajroning kegiatan sasi pasa kang diwenehi tenger “Pondhok Romadhan”.

Pondhok Ramadhan kuwi di anakake sakwise jam 2. Ana diskusi lan ceramah kang disusun kanthi becik lan bedha tema ne ing saben minggune. Ing sajroning 4 minggu kuwi, tema ing saben pertemuanne yakuwi; fiqh, tauhid, hadist lan akidah akhlaq.
Kala mangsa saka KJRI utawa dene saka lembaga-lembaga islam ngundang ustad saka Indonesia, saperlu aweh wejangan, ceramah, pengajian ing sasi pasa kuwi. Malah kala mangsa uga ngundang artis kondang barang.

Sesawangan para TKW-HK kang nganakake buka bareng-bareng kuwi gawe ati temresep kaya dene kesiram banyu es sak gentong akehe. Apa maneh nalikane para TKW-HK kuwi bebarengan sholat magrib, sholat isya’ lan sholat tarawih, rasane sesawangan mau ora beda adoh karo sesawangan ing Indonesia. Malah-malah isa di ujarke yen luwih gedhe maknane. Dene adoh paran, ing papan kang kebak maneka werna gebyar kang gampang wae mlesetke dalan marang kanistan lan dosa, para TKW-HK(saperangan) kuwi isih eling marang kang gawe urip.

ZIS(Zakat, Infaq, Sodaqah)

Minangka jangkeping kewajiban ing sasi pasa iki, mesti wae ora kelalen karo sing jenenge zakat. Zakat dening para TKW-HK biasane dikumpulke dadi siji. Trus dikirimke ning amil Indonesia. Lan minangka bukti yen tho zakat utawa infaq lan sodaqoh kang wes di klumpukke mau tiba ing tanganing wong kang samestine, amil zakat, infaq lan sodaqoh kuwi menehi datane. Kang nuduhake marang sapa wae zakat kuwi mau disalurke.

Tutug

Tutuge Ramadhan ya kuwi ing dina kemenangan, Idhul Fitri. Yen tho pasa di kawiti tanggal 1 September berarti suk tanggal 1 Oktober bakal dadi badhane/lebaranne. Lan ndelalah tanggal 1 Oktober kuwi kalebu tanggal abang kanggo para TKW-HK.
Kaya dene 4 tahun kepungkur, sholat idhul fitri kang tumiba ing dina libure para TKW kuwi mestine bakal kebanjiran menungsa. Dene sing dadi pranatacara sholat Idhul Fitri ya kuwi KJRI.

Werna-wernaning para TKW-HK ora bisa diselaki, isih akeh kang ngumbar nafsu marang sapepadane wanita utawa kang junjung dhuwur pergaulan bebas, ewadene ora setithik kirane sing isih eling, sing isih ikhlas, tatag, teteg, lan sabar marang sakabehing coban urip Lan mestine, becik setitik waton apik mesti ora di tampik, utamane karo Gusti Kang Maha Ngerti.
------------------------------------

Foto dijupuk saka tahun 2007 sasi kang padha
foto1: Hadad Alwi menehi ceramah
foto2: PDV lagi rembug bareng(24/8/'08)
Foto3: Sholat Id tahun 2007

mung kepingin andum warta, muga2 bisa gawe tetimbangan.
amarga wes kadung ala kuwi tumempel kaya dene cap ing bathuke para TKW-HK.
di gebyah uyah lan di padha-padhakke sakkabehane, mung amarga ana sing lali marang Gustine, astagfirullah...