Demi Jokowi Gak Jadi Golput, Tapi...

"Mbak Rieee!" teriak temanku di ujung sana, wajahnya serius.

Aku menghentikan langkahku dan meletakkan tas jinjing dan beban berat di punggungku serta merta. Ya, tas punggung ini memang berat sekali hari itu, karena kebetulan banyak pesanan baju dan aksesoris dan mesin jahit yang mau diambil (aku jualan juga di Hong Kong). Dan aku tahu dengan gelagat seperti itu, dengan berita yang sepertinya penting yang dibawa kawanku itu, tentu akan memakan sedikit waktu untuk ngobrol.

"Mbak Rie, Jokowi mana?" tanyanya setengah berteriak padahal sudah berada tepat di depanku.

"Ha?" aku bengong.

"Enggak ada Jokowi, Mbak. Aku sudah bela-belain antri. Aku sudah bela-belain gak nonton GIGI (hari itu ada konser band GIGI, acaranya salah satu simcard provider di Hong Kong). Niatku pengin nyoblos Jokowi. Kok Jokowi gak ada. Katanya Jokowi nyapres?" tanyanya menyerbuku.

"Lha sing bilang nek hari ini pemilihan presiden siapa?" tanyaku.

"Ya khan Pemilu," jawabnya.

"Pemilu khan enggak cuma pilpres, cah ayu. Gak cuma pemilihan presiden. Hari ini Pemilu Legislatif. Yang Pemilihan Presidennya masih lama, sayang," jelasku.

"Gitu ya? Itu tadi banyak kepala. Mana aku gak kenal lagi. Wajah-wajahnya asing. Ada wajah lama juga aku gak suka. Trus aku harus milih siapa?" katanya.

"Lha kamu tadi milih siapa?" aku berbalik bertanya.

"Enggak tahu. Enggak milih. Kertas tak buka trus aku bingung. Trus aku nyoblos logo partainya aja," jawabnya.

"Ya udah. Wong wis kadung kok. Lain kali kalau niatnya mau ikut, ya harus nyari tahu dulu, itu Pemilu apa. Nyari info sebanyak-banyaknya, kenali tokoh-tokohnya, kenali partainya.  Koran gratis juga banyak ditulis beritanya kok. Tuh HP keren buat browsing khan bisa. Kalau buat FB sama whatsapp dan skype doang, mending hibahkan saja ke aku, biar bisa aku buat ngeblog," kataku.

"Yee...," katanya sambil menyablek tanganku.
"Kecewa berat, Mbak. Aku nggak jadi golput karena Jokowi. Wong gak ada sosialisasi lho. Mending tadi nonton GIGI," katanya jengkel.

"Ada sosialisasi kok, itu di koran. Tanggal 9 Maret lalu juga ada pemaparan Pemilu dari Kominfo dan Bawaslu, tapi woro-woronya di FB tanggal 4 Maret, acaranya tanggal 9 Maret. Ada 50 orang tuh yang ikut," jawabku.

"Yeee...sama aja bo'ong,"

Percakapan berlanjut dengan menanyakan ini dan anu dan itu lalu dengan sedikit basa-basi aku pamit untuk melanjutkan perjalananku mengantarkan barang pesanan. Lalu baru beberapa langkah ada suara lagi mengejutkanku.

"Mbak Rieeee..!"

"Aku pengin marah," katanya setelah berada di depanku dengan nafas terengah-tengah dan buah dada naik turun.

"Aku tak pergi aja nek gitu. Wong arep nesu kok nyari aku," kataku gemas.

"Enggak nyari, kebetulan ketemu gini kok. Nyoblos gak, Mbak?" tanyanya.
"Aku tadi nyoblos, aku gak kenal mereka (nama-nama di daftar pemilu). Trus aku bilang sama pengawasnya: "Pak, gak ada yang saya kenal". Trus tahu nggak jawaban pengawas TPS itu?" katanya cuepet banget seperti MTR Express jurusan airport HK.

"Enggak," jawabku cuek.

"Yaelah mbak, itu pengawas dari KJRI ngomong gini: "Kalau mbak enggak kenal mereka, ya lihat saja wajahnya. Lhah kalau ada wajah yang paling cakep yang mbak suka, ya pilih saja dia."
Gitu katanya. Njengkelin nggak tuh orang?" jelas temenku ini dengan wajah geregetan.

"Trus ada yang kamu suka enggak?"

"Ya enggaklah,"

"Trus dirimu nyoblos apa?"

"Enggak tahu,"

"Kenapa sih pada males nyari info dulu sebelum mau ikutan pemilu?"

"Ya mana aku tahu (dipikir pilpress bukan pileg), Mbak," jawabnya.

"Nggak tahu ya tanya, cari info. Lha kamu punya mbakyu sepinter aku ya gak pernah tanya. Tanyanya cuma kalau lagi mentok pas punya masalah majikan, pas punya masalah sama pacar. Pas mau beli make up atau baju. Huh," kataku.

"Lha mbak Rie nggak ngasih tahu! Sekarang pelit info. Nulis kek di wall FB, nulis kek di opini koran, nulis kek di blog. Sekarang jualan mulu, jarang ngasih-ngasih info kayak dulu, sebel!"

Lho kok? Kok aku yang disalahin ya?


******

Hari itu tgl 30 Maret 2014. di Hong Kong sedang diadakan Pemilu Legislatif.
TKW-Hong Kong (HK) masih banyak yang belum mengetahui apa bedanya Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. Umum yang mereka tahu kalau Pemilu itu ya milih presiden. Berhubung jagoan yang menjadi media darling dan kerap menjadi obrolan karena blusukannya telah memproklamirkan diri nyapres di pilpres tahun ini, maka kebanyakan (yang mengira bahwa pemilu itu ya cuma pilpres) akan datang ke TPS yang berada di Victoria Park, Causeway Bay, HK untuk nyoblos kepalanya Jokowi.

Tak banyak yang berpartisipasi dalam Pileg kemarin, hanya sekitar 6.000 peserta dari total TKW-HK yang lebih dari 152.000 orang. Itupun sudah tergolong meningkat dibanding lima tahun yang lalu.

Bagi yang mengetahui bahwa Pileg itu bukan untuk memilih presiden, tentu akan menunggu Pilpres untuk memberikan suaranya. Kebanyakan TKW-HK di sini mempunyai pendapat bahwa mereka yang berada di DPR tak mampu menyampaikan suara TKW bahkan terkesan masa bodoh dengan TKW.


21 ton kertas suara yang terkirim ke HK

6 komentar :

  1. Jangankan di Hong Kong mb Rie, di Jawa saja masih banyak orang salah sangka... Nyari-nyari gambar Jokowi, dikiranya Pilpres... hehe

    BalasHapus
  2. wah,,banyak banget ya yg nggak di coblos,,semoga tidak di apa-apakan tuh yg nggak di coblos :)

    BalasHapus
  3. Berarti sosialisasinya kurang ya mbak

    BalasHapus
  4. i think your web very informative,.thanks for sharing information by
    Peluang Bisnis Anak Kampus

    BalasHapus
  5. Si mba pinter bikin alur cerita yang biasa menjadi enak untuk dibaca,,,tetap semangat mba suarakan dunia anda

    BalasHapus

Matur suwun wis gelem melu umuk...