Erwiana, Facebook, dan Solidaritas Buruh


Erwiana, Facebook, dan Solidaritas Buruh

dok / Jaringan Buruh Migran Indonesia
AKSI SOLIDARITAS รข€“ Ribuan buruh migran asal Indonesia menggelar aksi solidaritas untuk Erwiana di depan kantor Central Government Offi ce (CGO) di Hong Kong, Minggu (19/1). Sekitar 100 warga lokal turut bergabung dalam aksi ini.
Akankah negara bicara lantang tentang nasib pekerja rumah tangga Indonesia di Hong Kong?
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menelepon seorang lelaki bernama Rahmat, di sela-sela rapat kabinet yang berlangsung di Istana Negara, Selasa (21/1) pagi.

“Pak Rahmat, ini Pak SBY. Saya sedih prihatin terhadap musibah yang mengenai putri Bapak, Erwiana. Saya juga marah pada yang berbuat kejahatan. Saya minta hukum dan keadilan ditegakkan,” demikian SBY menelepon, seperti diberitakan Antara, Selasa. 

Tak jelas apa tanggapan dan reaksi Rahmat menerima telepon mendadak itu. Namun yang pasti, kejutan Rahmat sudah datang jauh-jauh hari, Sabtu (11/1) lalu, saat putrinya, Erwiana Sulistyaningsing, datang ke rumah dengan dipapah seorang buruh migran asal Magetan, seorang perempuan yang baru dijumpai Erwiana saat di Bandara Chek Lap Kok, Hong Kong. 

Wajah dan mata Erwiana lebam, tubuhnya memar. Rahmat dan istrinya histeris. Baru delapan bulan Erwiana bekerja di negeri bekas jajahan Inggris itu, tapi pulang dengan luka di sekujur badan. 

Riyanti, buruh migran asal Magetan yang mengantar Erwiana pulang ke kampung halamannya di Desa Pucangan, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menemukan Erwiana duduk sendiri di bandara Hong Kong, Jumat (10/1) malam lalu. Kebetulan malam itu, Riyanti juga memutuskan pulang kampung. Mereka menumpang penerbangan yang sama. 

Riyanti curiga dengan wajah lebam Erwiana. Namun, Erwiana bungkam ketika ditanya apa yang terjadi padanya. Ia hanya bilang alergi cuaca. 

Tapi, Riyanti tak percaya. Saat Erwiana minta diantar ke toilet dengan langkah tertatih, Riyanti makin curiga. Di toilet, Riyanti menemukan Erwiana berganti pampers untuk pantatnya. Riyanti makin curiga Erwiana mengalami penganiayaan, tapi perempuan berusia 22 tahun itu tetap bungkam.

Sambil mencoba berkomunikasi dengan Erwiana, Riyanti berbalas pesan pendek dengan kawannya, Icha, juga seorang buruh migran asal Malang yang bekerja di Hong Kong. Kepada Icha, Riyanti mengirim foto Erwiana yang lebam. 

Icha-lah yang kemudian menjadi orang pertama yang mem-posting foto Erwiana di Facebook, Sabtu (11/1) pagi. Ia tak berpikir panjang. Ia memutuskan melakukan hal tersebut setelah SMS terakhirnya ke Riyanti yang meminta agar Riyanti menemani Erwiana pulang hingga ke kampung halamannya, tak berbalas. 

Kemungkinan karena Riyanti sudah berada dalam pesawat bersama Erwiana. “Yang kupikirkan saat itu (saat mem-posting foto Erwiana di Facebook-red), itu jalan satu-satunya berharap kepedulian kawan-kawan BMI (buruh migran Indonesia, sebutan lain untuk tenaga kerja Indonesia-red) membantu Erwiana,” ucap Icha kepada SH. 

Tanggapan dan reaksi pun meluas. Banyak yang kemudian menyebarluaskan foto ini. Ada yang pro, ada yang kontra. Tak sedikit pula yang skeptis. Orang yang pro menyebut Erwiana harus dibantu dan solidaritas harus segera digalang. 

Orang yang kontra melihat foto semacam ini tak bisa sembarangan diedarkan tanpa izin dari pemiliknya karena dikhawatirkan terjadi sesuatu yang justru lebih buruk terhadap Erwiana. Sementara itu, orang yang skeptis menganggapnya sebagai hoax. 

Namun, saat informasi lanjutan mengalir dari Icha dan Riyanti tentang proses perjalanan Erwiana pulang ke kampung halaman, hingga penanganan terhadapnya, arus pun berubah cepat. Solidaritas mengalir deras. 

Disiksa

Kepada Riyanti, saat berada di dalam pesawat, Erwiana berkisah bahwa majikan perempuannya, Lo Wan-tung, memang doyan memukulinya. Ia takut mengaku karena majikannya sempat mengancam orang tuanya di kampung akan dibunuh jika Erwiana mengisahkan penganiayaan tersebut.

Selama delapan bulan bekerja pada majikan tersebut, Erwiana hanya sekali diberi makan nasi setiap hari, pada pukul 07.00. Siang dan malam hanya dapat jatah satu iris roti dan satu botol air mineral untuk sehari. Jam tidurnya pun diubah. 

Ia boleh beristirahat atau tidur dari pukul 13.00-17.00. Selebihnya, ia harus dalam kondisi bangun dan bekerja. Saat ia kelaparan dan mencoba mengambil roti di lemari, majikan langsung memukulinya, juga setiap kali dia melakukan kesalahan kecil. 

Dokter Imam Fadli, spesialis bedah yang merawat Erwiana di Rumah Sakit Islam Amal Sehat Sragen, mengatakan, Erwiana tak bisa berjalan dan mengalami pembengkakan otak karena kepalanya terus dipukuli benda tumpul selama enam bulan terakhir. 

Saat bulan pertama mengalami penganiayaan, Erwiana sebetulnya telah mencoba melapor pada PJTKI Graha Ayu Karsa Tangerang yang mengirimnya. Namun, alih-alih memberi perlindungan, PJTKI malah menelepon agen di Hong Kong yang menyalurkan Erwiana ke Lo Wan-tung dan sang agen memberi tahu majikan tersebut tentang keinginan Erwiana untuk hengkang. Jadilah, Erwiana kembali jadi bulan-bulanan. 

Minggu (19/1), sebuah aksi menuntut keadilan bagi Erwiana digelar di Hong Kong. Sekitar 5.000 orang turun ke jalan menuju kantor pemerintah Hong Kong dan markas polisi Hong Kong. 

Sejumlah organisasi pekerja migran mengoordinasi aksi tersebut. Warga Hong Kong yang bersimpati terhadap kasus Erwiana juga turun ke jalan. “Lebih dari 100 warga lokal ikut dalam aksi ini,” kata Sring Atin, juru bicara Komite Keadilan untuk Erwiana dan Semua Pekerja Migran Rumah Tangga. 

Hari itu juga polisi memeriksa Susi, pekerja migran asal Malang yang juga menjadi korban penganiayaan Lo Wan-tung. Sring mendampingi Susi dalam pemberian kesaksian tersebut. Kepada SH, Sring mengatakan, pada Jumat (17/1), polisi Hong Kong menghubunginya. “Mereka bilang jika Susi bisa bersaksi, mereka akan menangkap majikan Erwiana, Minggu (19/1) malam,” Sring menjelaskan.
Meski mundur sehari, polisi menepati janjinya. Senin (20/1) malam, Lo Wan-tung dicokok Imigrasi Hong Kong di bandara saat hendak terbang ke Bangkok. Perempuan tersebut ditangkap atas tuduhan menganiaya dua PRT asal Indonesia. 

Hari yang sama, empat penyidik dari Unit Kejahatan Kepolisian Hong Kong dan pejabat Departemen Perburuhan Hong Kong terbang ke Indonesia untuk memeriksa Erwiana. Polisi butuh keterangan dan hasil medis Erwiana sebagai bahan investigasi untuk menjerat Lo Wan-tung. 

Aksi solidaritas terhadap kasus ini dan juga soroton media internasional membuat Hong Kong jengah. Mereka tak ingin disamakan dengan Arab Saudi jika kasus ini gagal ditangani. 

Presiden Yudhoyono tampaknya juga terusik hingga merasa perlu untuk menelepon ayah Erwiana. Tapi, penghiburan saja memang tak cukup. 

Kamis (23/1) dan Minggu (26/1) nanti, organisasi dan jaringan buruh migran Indonesia di Hong Kong kembali menggelar aksi. Mereka akan mendatangi kantor Departemen Perburuhan Hong Kong dan kantor agen Chans Asia Recruitment Centre yang menyalurkan Erwiana, menuntut agar agen ditutup dan pemerintah Hong Kong meninjau ulang aturan yang mengharuskan PRT asing tinggal di rumah majikan. Secara kebetulan agen Chans berkantor di kawasan Causeway Bay, tempat perwakilan pemerintah Indonesia juga berkantor. 

Para pekerja migran asal Indonesia ini telanjur memercayai bukti bahwa bukan para pejabat negara yang akan menuntaskan masalah dan nasib mereka, tapi diri mereka sendiri. (SU Herdjoko)

8 komentar :

  1. Alhamdulillah Mbak T_T di sini isunya tenggelam banjir, koruptor, dan instagram Bu Ani u.u Semoga tidak akan lagi ada Erwina-Erwina lainnya u.u

    BalasHapus
  2. Semoga bentuk kepedulian pak sby yg di pertontonkan kemarin bisa terealisasi secepatnya dan mbak erwiana mendapatkan keadilan dan hak nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya harap juga demikian Menolong warga negarnya yang mengalami musibah dan masalah di negeri orang harusnya asas kemanusiaan yang didahulukan. Toh mereka adalah Pahlawan Devisa negaa juga. Pak SBY harus sunggug sungguh dan IKHLAS dalam membantu

      Hapus
  3. semoga tidak akan terulang lagi kejadian seperti ini

    BalasHapus
  4. Turut prihatin dengan pahlawan devisa negara,,,

    BalasHapus
  5. Kita berharap semoga kejadiannya tidak terulang kembali, turut prihatin...

    BalasHapus

Matur suwun wis gelem melu umuk...