Privasi Untuk Pembantu, Tak Perlukah?

bawah toilet, atas tempat tidur
Juli 2012. Tiba-tiba saja Facebook geger. Foto-foto kamar tidur TKW- Hong Kong berkeliaran di wall. Masing-masing orang mendadak merasa kamar tidur pembantu itu begitu pentingnya untuk dibicarakan dan diperdebatkan.

Uniknya, foto tersebut justru berasal dari seorang warga Hong Kong, Doris Lee. Doris Lee adalah perwakilan dari organisasi Open Door, sebuah kelompok warga Hong Kong yang mendukung hak-hak Pekerja Rumah Tangga Asing.

Cerita bermula ketika seorang ratu penyanyi anak-anak kenamaan, Purple Lee, memamerkan rumahnya kepada media massa (Headline Daily).

Di rumah seluas 1.800 sq feet itu semua ruang tampak mewah. Menurut Purple Lee, rumahnya itu didesain secara khusus, tak luput pula kamar tidur pembantunya. Kamar tidur pembantu itu malah super khusus spesial, ianya terletak di atas toilet! Media massa geger, selama sebulan penuh membicarakan penyanyi tenar yang dinilai tidak manusiawi itu.

Selama tujuh setengah tahun aku bekerja di Hong Kong selama itu pula aku melihat kamar tidur kawan-kawan senasibku dalam situasi yang "nyleneh", tidak sesuai dengan yang tertera dalam kontrak kerjanya. Ada yang tidur di lantai dapur, ada yang di ruang tamu, ada yang berbagi kamar dengan anak laki-laki majikan umur 1yang berumur 18 tahun, ada yang tidur di lantai toilet, ada yang tidur diatas toilet, ada pula yang tidur di atas kulkas dan mesin cuci, sepertiku.

Doris Lee sempat menghubungiku dan membanjiriku dengan berbagai pertanyaan, salah satunya: "why aren't you complainning?"- mengapa kamu tidak protes?

Dan jawabku sesederhana ini: "We take whatever they give to us! We complain to ourselves but we cannot just break out. With every employer, we have to adjust ourselves, so that we can keep our jobs."

Apa yang orang lain lihat tentang TKW-Hong Kong atau apa yang tampak di luar adalah bahwa jadi TKW itu enak, gaji empat juta setengah perbulan, ber-gadget mewah dan up to date dapat libur mingguan pula. Tapi pernahkah orang-orang tersebut merasakan atau setidaknya bertanya tentang apa yang kami alami perhari? Sekalipun kami mengatakannya, bisakah orang-orang tersebut mengerti dan memahami posisi kami?

nggelar tikar di depan toilet trus tidur di sana
Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan untuk seorang pembantu untuk memilih bersikap "nrima". Kami membutuhkan pekerjaan itu. Secara hukum TKW-HK itu tinggal dengan majikannya tapi pemerintah Hong Kong mengabaikan tempat istirahat bagi pembantu rumah itu. Dalam surat kontrak kerja tertulis bahwa majikan diharuskan memberi tempat istirahat yang layak bagi pembantunya dan dituliskan secara jelas bagaimana kondisi tempat istirahatnya, adapun kenyataannya banyak pembantu rumah yang istirahat di tempat yang tidak sesuai dengan apa yang tertera dalam kontrak kerjanya.  Pemerintah Hong Kong juga seakan menutup mata tentang hal ini, tidak ada pemeriksaan dan tidak ada itikad untuk menekantegaskan hal ini kepada warga yang menjadi majikan/calon majikan.


Jika seorang pembantu melaporkan hal ini (ketidaklayakan tempat istirahatnya) maka yang didapatnya adalah pemecatan kerja sepihak. Dan apalah yang lebih ditakutkan oleh seorang TKW selain pemecatan kerja? Karena itu berarti dia harus kembali ke agensi, membayar sekian ribu dolar dan bersaing lagi mencari majikan baru, terkatung-katung menunggu visa kemudian ujungnya mendapat majikan yang belum tentu juga akan lebih baik dari majikan sebelumnya. Sedang di rumah sana, di Indonesia sana, emak dan bapak menunggu kiriman uang, anak-anak butuh biaya SPP, butuh susu, butuh uang jajan, seragam dan tetek bengeknya. Maafkan, kalau aku pesimis, bahwa tak ada orang yang bisa memahami kondisi sebenar dari TKW selain mereka yang pernah merasakan pahit getirnya melancong, mempertahankan hidup demi kehidupan yang lain.

Dan setelah laporan itu (bahwa pembantu itu tidak mempunyai tempat tidur yang layak) apakah yang terjadi dengan majikan? Tidak ada inspeksi oleh pemerintah HK kepada majikan, tidak ada sanksi dan tidak ada daftar hitam dari majikan tersebut. Hal ini berlangsung dari tahun ke tahun di Hong Kong. Tidak ada pembenahan dan tidak ada progress menuju ke lebih baik. Pemerintah HK seolah menutup fakta bahwa sebagian warganya (yang kaya) telah tidak memanusiawikan pekerjanya, pekerja yang diremehkan karena status kerjanya yang sebernya adalah orang tervital dalam kelangsungan hidupnya, yang mengurus anaknya, ibunya, rumahnya, makannya, hingga yang menjadi tumpuan kemarahan saat pekerjaan kantornya teramat berat di hari itu.
ini juga nggelar kasur tipis di toilet

Setelah bekerja selama sehari penuh, 16 jam, sebenarnya yang kami butuhkan hanyalah bagaimana seorang majikan itu memperlakukan selayaknya. Saya pribadi dan kami para pembantu rumah di HK ini, tidak begitu memusingkan tentang tempat tidur kami. Sejauh ribuan mil kami menempuh perjalanan dari negara kami untuk bekerja, meninggalkan orang-orang tersayang demi sesuatu yang kami harapkan esok akan menjadi sedikit cerah, kami menyadari benar konsekuensinya, kami menyadari benar di mana posisi kami. Kami tak mengharap lebih selain makan minum, ijin cuti sakit, gaji tepat pada waktunya, mendapatkan hak libur dan tidak dimaki tanpa sebab. 

Kalau hal tersebut terpenuhi, tidur dengan memeluk toilet pun tak jadi masalah. Tapi kalau tidak, bukankah itu terlalu? Siapa yang sanggup menerimanya? Dan apakah wajar manusia memperlakukan manusia sedemikian tidak manusiawinya?




Foto pertama dan kedua dari Doris Lee.
Foto ketiga dari kawanku, Fitri Vivi

13 komentar :

  1. waahhh, ketinggalan berita neh ..selama ini tahunya paling tmn2 ada yg tdr di sova atau berbagi dg anak majikan. lha ini kok unik tempat tdrnya...(geleng2kepala) ^_^7

    BalasHapus
  2. di sini, tempat tidur para asisten luasnya hampir 3x3meter. lumayan luas sih. dulu pernah dibuat di atas gudang gitu, ya mirip tempatmu itu mbak, tapi beberapa kali itu pada jatuh ke bawah pas tidur. akhirnya ya dikasih kamar gitu. padahal kabeh yo lanang.
    begitupun tetep tuh pada males mberesi kamarnya, sampe mangkel hatiku ngeliatnya. keset pwolll :(
    malah lebih resik klo dikasi tempat tidur di atas gudang itu, krn ruangnya pas buat kasur thok, jadi gak isa nyampah hehehe

    tapi kalaukelas artis juga ngasih kamar cem itu ke ART nya wew ... eh WOW gak pake koprol.

    BalasHapus
  3. sabar banget to mbak bertahun2 hidup kaya gitu...

    BalasHapus
  4. Makkk, aku BW iki hehehe

    Ah, Mak, njenengan nek nulis sesuai relaita yang aku suka lagi njenengan gak perlu bermanis2 menyebut pembantu dengan PLRT :)

    Betul, Mak, adakalanya karena berpikir butuh jadi alasan "nrimo" memang sering digunakan. Pun dengan saya yang gajinya segitu2 aja wahihihi, ini mah pasrah opo nrimo, Mak? :)

    BalasHapus
  5. Miris keadaan teman-teman yang lain. Ikut prihatin. Semoga kejadian ini dijadikan perhatian oleh pemerintah HK.

    Saya sendiri alhamdulilah, majikan super baik meskipun mereka bukan orang kaya, tapi perlakuan mereka lebih dari memanusiakan manusia, bahkan telah menganggap saya sebagai saudara sendiri.

    Saya hampir setiap hari mendapat perlakuan kecil yang luar biasa kadang bikin kesel. Seperti menyelimuti saya waktu saya tidur (saya tidur sekamar dengan anak asuh), menghidupkan kipas angin atau AC untuk saya, bertanya sudah makan apa belum, Mom mirip ibu saya yang perhatian berlebihnya kadang bikin jengkel namun ngangennin.

    Terkadang keadaan saya bikin heran saya sendiri dan bingung teman-teman dekat saya, kok majikan saya bisa sebaik ini(alhamdulilah) dan di luar sana(alhamdulilah pasti ada hikmah di balik musibah) bisa seperti itu ya.

    Begitulah realitanya, nggak di HK, Malaisia, Arab Saudi, maupun Indonesia sendiri, orang itu semua sama, ada yang baik dan ada pula yang buruk.

    Untuk teman-teman semoga diberikan ketabahan juga semoga keadaan bisa menjadi lebih baik.

    BalasHapus
  6. @rima, wola! Rame banget kemaren di media massa dan di TV HK.

    @saryadi, stoc ikhlas dan sabar harus luar biasa banyak untuk kerja di perantauan :)

    @nica, hehe...lain orang lain pemikirannya ya..

    BalasHapus
  7. @milo, aku enggak tidur di toilet lho, tapi di atas kulkas dan mesin cuci, hehe...

    @anaz, happy blogging kembali nduk...

    @yuli, beruntungnya dirimu..alhamdulillah...ikut seneng mendengarnya...

    BalasHapus
  8. Esumpah, kok jahat banget sih mbak itu si Ungu Lee :(
    Itu yang tidur di toilet buset deh...
    Eh mbak aku hari Jumat mau ke HK, hihihi *sksd*
    Singgah di Causeway Bay, jauh dari tempatmu kah?

    BalasHapus
  9. sekedar sharing,semoga bisa menjadi inspirasi,,saya seorang wanita,janda beranak satu..beberapa tahun yg lalu saya cerai dengan suami saya,darisitu saya sangat bingung,karena mantan suami saya sangat tidak bertanggung jawab akan nafkah yg harus dia berikan kepada anaknya..saya sempat berpikir untuk menjadi TKW ke luar negeri,,karena saya bingung mencari kerja di indonesia,apalagi saya hanya tamat-an SMP..akhirnya saya memutuskan untuk mengadu nasib ke jakarta,,saya bekerja menjadi helper pria yg berbisnis online,,saya perhatikan kerjanya santai,tapi uangnya banyak,,dengan tekad yg kuat n sedikit nekad,saya memberanikan diri untuk bertanya n meminta diajarkan bisnis yg dia geluti,,diluar perkiraan,,dia sangat welcome sekali..selama beberapa bulan saya dengan tekun belajar bisnis nya,,alhamdulillah sekarang penghasilan saya mencukupi,bahkan bisa dibilang lebih...point nya dari kisah saya ini adalah,TIDAK ADA YG TIDAK MUNGKIN,JANGAN TERLALU TAKUT KEPADA HAL2 DIMASA DEPAN YG BELUM TENTU TERJADI..tuhan suka dengan hambanya YG BERUPAYA MAKSIMAL,karena dari situlah kita diuji,apakah kita PANTAS untuk diberikan yg lebih lagi ,, BAIK SAJA TIDAK CUKUP,KALAU LEBIH BAIK MASIH MUNGKIN...itulah yg membuat hidup kita lebih maju n lebih baik lagi...TETAP SEMANGAT N OPTIMIS YA SAUDARIKU ... :)

    BalasHapus
  10. Waduch.. Kok aku baru tau yg mcm ginian.. Astaghfirullah

    BalasHapus
  11. Mbaaak, pulang mbaaak.. saya sedih liatnya. Semoga Allah kasih tempat terbaik di surga nanti.

    BalasHapus

Matur suwun wis gelem melu umuk...