Gila Hormat Saat Puasa

Berpuasa adalah hal yang biasa bagi orang yang beriman. Yaitu sarana dia untuk lebih ikhlas, lebih meringankan tubuhnya agar tak lebih berat daripada jiwanya. Puasa di hari Senin-Kamis ataupun hari-hari sunah lainnya terlebihnya di hari wajib puasa itu sendiri (bulan Ramadhan), melakukan puasa bagi yang mengetahui sebenar-benarnya arti puasa adalah hal yang biasa.

Ada yang menarik dari hal yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan itu, yaitu hak spesial yang di terima oleh orang-orang yang berpuasa, mereka dihormati.

Menghormati mereka (yang puasa di bulan Ramadhan) dengan cara yang wajar sampai dengan cara yang kurang wajar digelar. Cara meghormati yang entah karena benar-benar mrentul saka telenging ati (dari kesadaran dan inisiatif sendiri) atau karena pemaksaan halus(perintah) oleh beberapa pihak, terakhir menimbulkan keresahan sekaligus tanya, keresahan dan tanya yang mendalam (pada saya).

Lagi-lagi di negara yang sehebat Indonesia, di mana kere berceceran di pinggir-pinggir jalan dan kolong jembatan sedang para penggedenya makan enak tidur kepenak di atas dampar (singgasana) kesengsaraan rakyatnya ini mempunyai kebiasaan yang "unik" di bulan puasa. Unik dalam tanda petik ("unik").

Penutupan warung, penutupan tempat pelacuran dan diskotik dianjurkan bahkan di beberapa tempat adalah diharuskan (sekaligus dihancurkan?) untuk menghormati orang-orang yang puasa. Menghormati suatu hal yang biasa, sebuah ibadah yang adalah tanggung jawab dari setiap individu terhadap kholiknya, ibadah yang sejatinya untuk menahan hawa nafsu.

Tak terhitung berapa jumlah pengangguran yang tercipta di bulan puasa ini. Pedagang warung-warung makan beserta tukang cuci piringnya, pemilik diskotik dan tempat pelacuran, germo, dan lonte-lontenya, bulan puasa ini musibah bagi mereka.

Anggap saja masalah pedagang warung bisa sedikit diatasi, karena mereka masih bisa buka di sore harinya menjelang buka puasa atau malam hari di saat sahur, lalu bagaimana dengan germo dan lontenya? Buka lagi setelah puasa? Kalau harus tutup di bulan Ramadhan dan buka lagi setelah Ramadhan, apa pelacuran itu legal atau dilegalkan? Kalau memang berniat untuk menutup kegiatan mereka, mengapa harus menunggu puasa? Dan kalau berniat untuk menutup pelacuran, bukankah pelanggannya juga harus diciduk juga?  Padahal kebanyakan pelanggannya adalah orang-orang berduit, berdasi, berpangkat, berkuasa dan ber- ber- lainnya. Jujur saja deh, Sir!

Dalam Al Quran maupun hadits tidak ada text/tulisan yang secara langsung atau tidak langsung menjadi dasar premis untuk menyimpulkan bahwa muslim yang berpuasa harus atau layak mendapat penghormatan dari orang yang tidak berpuasa (tolong koreksinya kalau saya keliru). Jadi kalau dalam Al Quran sendiri tidak ada yang mendasari perintah untuk menghargai orang-orang yang berpuasa, mengapa perintah "unik" itu semacam keharusan dan hampir wajib hukumnya?

"Pahala orang yang berpuasa adalah urusan-Ku"...hadist Qudsi
Bukankah itu sama artinya kalau Beliau mengharapkan keikhlasan kaumNya?

5 agama di satu negara dan beberapa aliran kepercayaan yang dianut oleh warganya dan bukti konkrit dari pengakuan adanya agama yang berbeda itu dengan mencantumkan status keagamaan di KTP-nya, namun ternyata belum mampu untuk mewujudkan rasa pengakuan sekaligus kebijaksanaan yang sebenar-benarnya.

Lamunan saya melayang jauh di benua lain, eropa misalnya. Yang di waktu musim kemarau lamanya siang sedemikian panjangnya, di luar semua tetap seperti biasa, tidak ada peraturan secuilpun yang melarang orang untuk tidak membuka warung atau diskotik atau tempat pelacurannya. Semua biasa saja, yang berpuasa berpuasalah dia dan yang tidak berpuasa tidak puasalah dia. Semua bersliweran seperti hari-hari lain, biasa-biasa saja. Berpuasa, sungguh biasa untuk dilakukan bagi yang beriman. Tanpa peraturan tanpa perintah, dan tanpa rasa takut.


12 komentar :

  1. Selamat menunaikan ibadah puasa ^^!

    Kupungut pundi-pundi memori yang tercecer di pikiran dan hati. Kupaksa tunduk meriam ego dari hijaunya rumput-rumput ambisi. Berteriakku pada hening lembayung jiwa yang tak kunjung bertepi. Bergelayutku pada curamnya rongga-rongga hakiki. Tiba-tiba diam terjatuh pada tumpulnya duri angka-angka binari. Kuyupku oleh kumpulan bilangan nol dan satu yang berganti-ganti. Mereka meminta verifikasi data pribadi yang terenkripsi dalam mimpi. Tapi terganjal oleh tebalnya sandi dalam hitungan sanubari. Apakah ini cuma emosi dalam wujud simpati? Bukankah ini cuma malam bertopeng hari? Tidakkah mereka bisa merubah alegori imaji? Sadarkah bahwa bumi cuma sugesti? Oh keinginan yang tak kunjung berhenti. Istirahatlah kau dalam pelukan bulan suci tahun ini. Biarkanlah aku, dia, dan kami semua, berperisai dalam janji. Berkepompong erat hingga bisa berpendar kembali.

    BalasHapus
  2. He..he..he... tak melu umuk mbak,

    di aceh, biasanya kalau ada warung buka pas bulan puasa pasti dijamin segera digrebeg

    secara pribadi aku kurang setuju, kalau ada model pemaksaan seperti itu

    biarpun warung buka, aku tetep puasa kok, nggak ngaruh tuh

    sebaiknya memang yangpuasa biar puasa, yang tuidak ya silahkan seperti biasa saja

    orangpuasa tidak perlu diistimewakan, karena Tuhan Allah SWT yang akan memuliakan mereka yang berpuasa dengan tulu sikhlas

    insya Allah
    amin

    BalasHapus
  3. bagus nih tulisannya :)

    saya juga berpikiran sama

    BalasHapus
  4. >>dodol, toce sai leng loi, lei keh tuhai a...

    >>koekoeh, lam kenal koekoeh...makasih dah mampir

    >>Slamet Widodo, yupz kang , puasa lewat trus buka lagi, wkwkwkwk...

    >>eshape waskita, makasih...seharusnya begitu, itu baru muslim sejati.

    >>ramadewi, makasih...lam kenal...

    BalasHapus
  5. wah kekinian iki sk relevan mbk Rie :D

    BalasHapus
  6. Saya setuju dengan opini, Mbak yang ini:

    Dalam Al Quran maupun hadits tidak ada text/tulisan yang secara langsung atau tidak langsung menjadi dasar premis untuk menyimpulkan bahwa muslim yang berpuasa harus atau layak mendapat penghormatan dari orang yang tidak berpuasa (tolong koreksinya kalau saya keliru). Jadi kalau dalam Al Quran sendiri tidak ada yang mendasari perintah untuk menghargai orang-orang yang berpuasa, mengapa perintah "unik" itu semacam keharusan dan hampir wajib hukumnya?

    Memang tidak ada, meskipun saya tak banyak ilmu agama dan begini-begini saja akan tetapi melihat komentar-komentar yang berseliweran di FB saya mencari tahu ternyata tidak ada di hadist manapun.

    BalasHapus
  7. 8 tahun kemudian (2016), tulisan mbak ini masih amat relevan!

    BalasHapus
  8. yg puasa ya puasa, yg buka warung ya buka aja. kalau tergoda? lha itu urusan individunya

    BalasHapus
  9. keren banget ki tulisane mbak....
    setuju banget pokoke....

    BalasHapus

Matur suwun wis gelem melu umuk...