Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Tampilkan postingan dengan label Serial Srinthil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Srinthil. Tampilkan semua postingan

Srinthil 9: Saat Srinthil Debat Capres

 Saat ini, di depan kami kawan-kawan akrab kami saling berteriak adu lantang. Otot-otot leher mereka menjelantir tegang, mata-mata mereka membulat. Bahkan saat berdebat mereka sambil menggerak-gerakkan tangan dengan kasar. Merasa tak tahu apa yang sedang terjadi aku memilih diam barang sejenak.

Aku dan Srinthil terpaksa berhenti demi mendengar perdebatan itu. Padahal saat setengah jam yang lalu saat kami tinggalkan mereka untuk membeli Mie ayam dari warung lesehan pinggir Victory mereka rukun-rukun saja lho.  Lhah ini menjelang buka puasa kok sudah perang? Coba kalau dilihat sama Amien Rais, pasti dikira perang Badar deh.

Merasa nggak ngerti apa yang mereka perdebatkan membuat kami diam sejenak mendengarkan. Ketika suara itu menjadi satu persatu yang bicara bukan lagi adu cepat seperti tadi, barulah kami mengerti ke arah mana perdebatan mereka itu.

"Lha emang NKRI mau jadi Negara Kartu Republik Indonesia? Apa-apa kok solusinya kartu. Entar banjir juga solusinya pakek kartu? Mikir dong mikir!" kata Anez.

"Iya. Ih! Alergi aku sama kartu! Entar itu KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri=kartu identitas TKI yang cara membuatnya belibet) bukannya dihilangin malah digedhein, malah tambah nyusahin. Mana pencipta KTKLN (Jumhur) di sono pula! Enggak deh! Ngeri membayangkan rempongnya bikin KTKLN," ujar Miya sambil bergidik.

"Lagian kata Mister Blusukan lucu, bilang kalo  KJRI harus punya data TKI. Itu mah udah dari dulu, lha khan itu kewajiban KJRI, iya tho? KJRI ada sistem online, khan? Apa nggak sama aja tuh? Beda nama aja. Dari tahun lalu koar-koar sistem online tapi nyatanya apa coba? Orang pendataan pemilu aja ancur gini. Mosok aku milih lewat surat, dikirimin undangan. Mana bisa? Coblosannya jam 12 sampai jam 2 lagi. Khan itu jatahnya ikut seminar wirausaha. Rugi dong bokap guwe kehilangan satu suara," teriak Suzy.

"Eh, elu pikir bokap elu doang? Bapakku juga rugi tau!  Banyak yang pengin nyoblos tapi gak jadi karena gak dapet undangan dan pas gak libur," sergah Ellya

"Iya, samalah. Mangkanya, kalau pak Jokowi menang sistemnya akan diperbaiki," kata Chamid takut-takut.

"Dipikir-pikir bokap macanmu itu lucu. Lupa gak pakek laurier wings ya? Bocoor...bocoor...! Kalau kekayaan negara itu bocor, nanganinya gimana? Njelasin gitu aja ngambang, gak jelas. Semua juga tahu kalau babu ekspor itu terpaksa ke luar negeri karena ekonomi. Lhah sementara ekonomi masih diperbaiki trus suruh gimana? Apa solusinya? Gak usah jadi TKW? Trus nunggu ekonomi membaik berapa lama? Trus adikku mau sekolah pakek apa?" Hindun berkata sambil membanting-banting handuknya yang baunya semerti rendaman cucian yang udah tujuh hari.

"Pakek Kartu Indonesia Pintar dong, bukan pakek bocor," jawab Ellya sambil tersenyum sinis.

O...rupanya itu. Aku baru ngerti bahwa mereka sedang menperdebatkan capres-capres andalan mereka. Tapi...lagi? Ini sudah yang keberapa? Masak tiap kali ketemu jadi kayak YKS gini, rame tapi enggak jelas. Padahal mereka khan berkawan baik. Masak cuma gara-gara capres trus tiap ketemu -enggak di FB enggak ketemuan langsung- trus berantem gini? OMG banget deh.

"Eh, kalian tuh udahan belum? Kalau masih mau berantem, sono! Biar mie ayam dan soto nih aku habisin sama Srint," kataku sewot.

"Lha kita enggak berantem mbak Ri, cuma debat aja," kata Ellya sambil mengambil semangkuk mie ayam.

"Eh, udah waktunya buka lho. Udah jam 7.15," kata Srinthil sambil membagi-bagikan makanan dan minuman.

"Allahumma laka sumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin," doa kami bersama-sama.

Akhirnya hening. Semua menikmati makanan sambil foto-foto. Ya ini mungkin sudah jadi lifestyle TKW-Hong Kong, sebelum makan foto dulu pakek kamera 360 trus diposting di FB. Habis itu lanjut makan.

Dua mangkok mie ayam, dua mangkok soto ayam, dua mangkok bakso dan dua porsi nasi campur dinikmati bersama. Bau-bau harum makanan yang sama tercium di segala penjuru Victoria Park malam itu. Sebenernya aku sih kepingin makan mie ayam, tapi karena udah keduluan sama Anez, ya udah. Walau Anez bukan muslim tapi dia setia kawan banget, enggak makan dan minum di depan kami. Bahkan Anez tadi yang membelikan semangka dan melon untuk buka bersama.

"Eekkk...alhamdulillah," Hindun bersendawa.

"Makan nikmat kayak gini jadi meyakinkan aku untuk bikin warteg nanti. Tapi modalnya dah berkurang karena ngawinin adik kemarin. Hhhh...," desah Hindun.

"Tenang aja, kalau bokap gue menang, beliau bakal memberikan pinjaman dana buat TKI purna untuk modal usaha," kata Anez tegas.

Duh, alamat mulai lagi nih adu mulutnya, pikirku.

"Lha itu bukannya program KUR (Kredit Usaha Rakyat yang dikhususkan untuk TKI purna)? Lagian ngasih pinjaman disertai ngajarin gimana caranya buka usaha nggak? Kalau enggak ya sama aja bo'ong. Ntar ujung-ujungnya TKI purna-nya yang kejeblos utang,"

"Makanya visi misi itu yang jelas dan detil kayak punyanya pak Jokowi yang 41 lembar. Mosok cuma tujuh lembar, mau jelas gimana? Mau detil gimana? Melindungi buruh itu tugas negara, pengiriman TKI nanti harus G to G (Goverment to Goverment=pengiriman tenaga kerja lewat pemerintah bukan PJTKIS), itu cocok banget,"

"G to G, iya bener banget. PDIP khan emang paling pinter kalo berhubungan dengan Cina,  negara komonis itu. Ya iyalah khan Jokowi juga penganut paham Komunis," tuduh Suzy serta merta.

"Eh kamu kalo ngomong jangan asal njeplak ya. Daripada bokap lo yang pembunuh, ketambahan pula Hatta Rajasa yang kebal hukum, mau jadi sepasang Hitler?" kata Hindun.

"Eh, daripada bapak lu yang tampang o'on gitu. mending nyokap guwe yang ganteng dan gagah," Miya membela diri.

"Ya mendinglah, itu wajah kerakyatan bukan ke-elit-elitan. Daripada jombloman gitu, suruh sono buat kebijakan buat jomblowers. French kiss sono sama kuda," gertak Ellya.

Perdebatan itu jadi nggak menentu. Hatiku bergemuruh melihat kawan-kawan karibku bersitegang seperti itu. Buku, tas, payung, sandal sudah bertebaran kemana-mana karena dijadikan alat peraga debat yang semakin ngawur. Kalau aku tak turun tangan pasti sebentar lagi ada adegan jambak-jambakan dan jotos-jotosan di tengah Victoria Park ini.

"Stop! Stop! Sudah! Sudah! Berhentiii...!" teriakku di atas angin. Seketika semua diam kaget karena suaraku yang meninggi tak seperti biasanya. Srinthil memegangi pundakku, entah mau meredam amarahku entah takut.

"Kalian debat di awal tadi masih wajar, tapi makin ke sini makin ngawur. Mau jadi tukang fitnah ya kalian?" bentakku.

"Kalian ini, mau milih presiden aja debatnya nglebihi waktu milih calon suami. Malu tau! Kalau kalian sudah menetapkan pilihan, ya mantabkanlah hati. Cari kebaikan pilihan kalian sebanyak-banyaknya. Kenali lebih dalam lagi. Bukan saling serang kayak politikus gila gini," kataku.

"Aku tahu ini pilihan yang berat. Seperti taruhan lima tahun ke depan. Makanya udah tahu kalau kita sedang gambling mbok ya fokus melihat potensi kalah yang enggak bikin bangkrut banget atau menang walau enggak seberapa. Ya, aku setuju bahwa kita akan mendukung calon pilihan kita. Tapi enggak usah over dosislah ndukungnya. Buktikan dukungan kalian pada 6 Juli nanti. Dengan cara nyoblos, milih. Kalian sekarang adu pendapat gini tanpa nyoblos ya percuma," kataku lagi.

Chamid, Srinthil, Hindun, Anez, Miya, Ellya tertunduk sedang Suzy yang merasa aku sindir, tertunduk lebih dalam lagi. 

"Kita ini berkawan selamanya atau mau bubar karena copras-capres ini?" tanyaku

"Selamanya, Mbak," jawab mereka kompak.

Kami berdelapan saling bersalaman, meminta maaf. Lalu berangkulan dan duduk melingkar lebih rapat lagi. Akhirnya kami berdelapan setuju untuk deklarasi damai. Bahwa tidak akan ada lagi saling gontok-gontokan dan tukar padu atau saling menjatuhkan capres. Bahwa kami akan lebih fokus kepada rekam jejak dan kebaikan capres pilihan masing-masing. Bahwa kami akan mendukung siapapun capres terpilih nantinya.

Malam merangkak, sudah saatnya kami kembali ke rumah majikan masing-masing, untuk menjadi peran pembantu di lakon film Kungyan-Lopan (Pembantu & Majikan) dengan kontrak shooting dua tahunan.

Rombongan kecil kami bubar ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam.



--------------------------------------------------------------------


Cerbung ini fiktif namun berdasarkan kejadian nyata. Fenomena seperti dalam cerbung ini  terjadi di Hong Kong. Kawan akrab bersitegang lantaran capres pilihannya.
Srinthil dan kawan-kawan menggambarkan TKW Hong Kong, pendukung capres-cawapres.
Kegelisahan untuk memutuskan Prabowo atau Jokowi juga didasari seperti hal di atas: ketakutan akan KTKLN, ketakutan saat menjadi menjadi TKI Purna, mosi tidak percaya pada capres akan perlindungan macam apa yang ditawarkan pada TKI/W, juga ketakutan saat nanti menjadi purna -saat kesehatan, pendidikan dan pangan menjadi momok atau hal yang membebani bagi orang kebanyakan.




Srinthil 8: Face Buruk di Facebook

Ini adalah alasan kenapa Serial Srinthil berhenti total selama satu tahun lebih terhitung dari kisah Srinthil yang terakhir. Untuk itu saya menghimbau kepada pembaca(kalo ada yang baca, hiks..), dengan ini maka saya menghimbau kepada pembaca semuanya untuk membaca dengan mata dan hati. Tidak dengan telinga ato hidung. Selaen itu juga harap dapat menyaring yang kotor dan memasak yang mentah (emang aer??).

Banyak kejadian di luar kebiasaan babu, tapi itu adalah kisah perjalanan kami. Dan karena kami adalah babu-babu yang luar biasa tersebut maka, semua kisah jadi satu adonan gado-gado hidup. Ada suka, duka, ketawa, kejahilan, ndableg, cabe, bawang, kecap, lontong, krupuk, dan dikasih sedikit garam…(lhoo…!!!) tindih menindih, tumpang-menumpang, tumpuk-menumpuk, sambung-menyambung menjadi satu... itulah Indonesia(Ya Olloh Ririiii...kok gaya bahasa cerita Srinthil jadi semrawut?)

"Jiannnngggggkrriiiiiiiikk!!" geramku dalam hati. Sudah tiga kali aku menelpon Srinthil tapi tidak dijawab, sedang sms yang kukirim sejam yang lalupun sepi jawaban. Sudah dua jam aku menunggu, perutku semakin merdu menyanyikan lagu kelaparan, sedang Srinthil yang dua jam yang lalu pamit dan berjanji padaku akan membelikan rujak petis favoritku yang berada di Warung Candra deketnya KJRI itu belum muncul juga.

"Jan-jane munyuk siji iki kemana tho..!" gremengku sendiri.

Teman-teman genk yang lainpun belum muncul karena masih mempunyai urusan masing-masing. Rasanya sepi, walau di sekelilingku banyak teman-teman sesama TKW yang lalu lalang menikmati hari liburnya.

Sudah beberapa lagu juga yang kuputar di notebookku, sembari membantu (koreksi=membantu dengan upah, satu lagu 50 sen)teman-teman yang lain untuk mengisi lagu di MP3, namun tak ada bau ketiak Hindun yang menyengat atau suara compreng Srinthil yang khas yang terdengar dari jarak 500 meter sekalipun.

Iseng, kukunjungi beberapa situs termasuk Facebookku yang sudah seminggu lebih tak tersentuh. Iseng juga kukirim pesan lewat fesbukku ke inbox fesbuk Srinthil, klik..pesan terkirim.

Sepuluh detik berikutnya kuterima pesan dari Srinthil, "Mbak Ri muisi a, aq kelupaan ini lagi berangkat beli rujak petis," tulis Srinthil dalam pesannya.

"Jiaangkriiikkkk....!!" umpatku lagi. "Dasar munyuk ra duwe buntut! Tega-teganya mempertaruhkan hidup matiku dengan fesbuk. Serta-merta kudial nomer Srinthil.

"Anu mbak Rie sepurane, hehehe...ini dalam perjalanan ke warung Candra, muisi a..maap mbak Ri," kata Srinthil.

"Sri, dirimu jadi orang amanah banget ya," kataku sinis. Hati dan perutku teriris luka dan lapar.

"Lha aku itu, anu... aku itu tadi fesbukan, eh ndelalah kok pas online chat ndek fesbuk ketemu sama mas Yudha, trus..."

"Ora ngurus! Ga peduli Mas Arip atau mas Duryudhana balane Sengkuni kuwi, pokoke NO REKEN! Wetengku ki luwe Sriiii!!" teriakku dengan sisa tenagaku. "Tega temen dirimu ki kok malah fesbukan," tambahku.

"Mbak Ri, mbak Ri bilang walao kita babu, jangan sampai ketinggalan informasi dan ilmu. Seperti mbak Ri juga bisa ngeblog tho? Berarti aku bisa fesbukan juga khan? Hari gini mosok ga punya fesbuk? Lha mosok cuma anak sekolahan dan kuliahan, PNS, juragan, ndoro, anggota DPR, atau karyawan perusahaan saja yang boleh punya blog atau fesbuk? Mosok cuma mereka yang boleh narsis dan nulis ini ono suka-suka mereka? Mosok para babu ga boleh bikin blog atao fesbuk? Mosok babu ga boleh menuliskan uneg-uneg kepala, nulis status nyentrik dan misuh-misuh karena bosnya yang kurang sajen?" kata Srinthil membela diri.

"Karepmu Sri, ga ada yang nglarang. Tapi mbok pas kamu fesbukan tadi sikilmu ya mlaku ke warung gitu, ora terus ndeprok pinggir dalan wiridan fesbuk thok! Kalo kayak gitu caramu ntar dapat masalah baru dari fesbuk kamu," kataku.

"Iya..iya...maap, ga gitu lagi deh mbak," jawab Srinthil. Kudengar Srinthil memesan rujak petis, namun perutku tak lagi bisa menunggu. Serta merta kupanggil mbak yang nawarin nasi bungkus yang lewat di depanku.

"Mbak, nasi campurnya satu mbak!" teriakku.

"Lho mbak Ri, aku wes pesen rujak petis iki, wes tak bayar pisan," kata Srinthil yang denger teriakanku.

"Ora urus, pangana dewe karo fesbukan," jawabku sambil mematikan HP.

Oh hari ini pertama kalinya aku mbolos bertemu dengan teman-teman se-gengku. Kusengajakan diriku untuk pulang kerumah (rumah bos) jauh lebih awal dari biasanya, dan kuabaikan beberapa misscall dari temen-temen geng yang menanyakanku. Aku lelah. Sebenarnya bukannya karena hatiku terlalu dongkol dengan Srinthil, karena toh setelah perutku terisi nasi campur tadi marahkupun sudah lenyap. Tapi, ah..entahlah..aku merasa seperti ada himpitan tertentu yang memaksaku kembali bertanya pada diriku sendiri, "Sampai kapan aku akan dicukupkan untuk merantau?"

Emak kemaren menangis karena lebaran kemaren aku membatalkan kepulanganku ke rumah. Berarti sudah terhitung sepuluh kali lebaran aku tidak berada dirumah. Emak kangen, kangen sekali. Ah, seandainya emak tau, kalau aku juga teramat-sangat-kangen-sekali-banget padanya...

Kepalaku berputar-putar, ucapan terakhir emak mendengung-dengung dikepalaku..."Nduk, awakmu kuwi wes dimanjakan dengan kemewahan Hong Kong, makanya takut pulang..." ah apa iya??? Tidak ada yang berubah dengan penampilanku, dari dulu hingga sekarang aku tetap penggemar jeans dan kaos, warna pilihanku juga cuma putih, abu-abu dan biru atau warna polos lainnya tanpa motif sama sekali, rambutku juga masih item, wajahku juga tetap polos tanpa polesan make up, tindikan di kupingku juga cuma satu di masing-maisng kuping...ah...tapi...notebookku...laptopku...koneksi internet yang unlimited dan gratis ini...nikon D90ku...itukah yang dimaksud emak dengan kemewahan itu? Barang-barang yang kudapati dengan perjuangan luar biasa di luar tugasku sebagai babu itu? ah tahukah mereka...?? ah...

.......

Hari demi hari Srinthil semakin jarang sms padaku, padahal Senin pagi waktu dia menelponku dia tahu kalau aku tak sedang marah padanya. Malam hari yang biasanya kami asyik bercengkrama bersama lewat sms gratisan dari smartone, Srinthil juga tak berpartisipasi.

Yang jelas tiap malam saat aku membuka laptop dan mengecek status fesbuk Srinthil, ternyata statusnya berubah-ubah di setiap jamnya, luarrr biasa! "Ah inikah lifestyle babu jaman sekarang?" tanyaku pada diri sendiri.

dreeettt...drreeeettt....dreeetttt....," getar Hpku yang kebetulan aq vibrate saja.

Tertera sebuah nama yang baru saja kita rasani bersama, Srinthil.

"Mbak Riiii...hik..huwaaa..huwaaa....

"Ada apa Sri?" tanyaku bingung.

"Mbak Ri...huwaaaa....aq mau lapor sama MUI mbak...huwaaaa...biar mereka memfatwa haram fesbuk, huwaa...waaa....aq di terminit mbak, huwaaa... Simbokku (bos perempuan) ngamuk a...huwaaa...metu Cinone..huwaaa....," wadul Srinthil disela isak tangisnya.

"Lha masalahe apa kok ada MUI dan facebook dan terminit campur jadi satu?" tanyaku heran campur kaget.

"Lha aq wingi kemaren ga sengaja invite dia di Fesbukku. Khan dari yahoo email itu aq invite semua gitu, lali lupa nek emaile simbok juga ada ndek situ...huwaaa...wa... Trus simbok ngamuk aku, dia bilang gini: "Is this you? Kamu kurang kerjaan ya? Kalo kurang kerjaan ntar tak tambahin kerjaan biar ga dolanan terus. Emange aq ngasih gaji kamu cuma buat nutul-nutul HP thok? Lagian Faceburuk gini kamu pamerin di Facebook?" gitu kata simbokku mbak, hik huwaaa...huwaaa...

"MBak...hik...emang Faceku buruk ya, hik...huwaa waa...,"

"Ya biasalah Sri, babu face," jawabku.

"Maksudnya baby face gitu ya mbak? ah mbak Ri salah ngucap," kata Srinthil.

"Bukan! Babu face kuwi artine rai babu," jwabku jujur.

"Mbak Riiii...huwaaa...elek ngunu ta? hik hiks...

"Trus kamu gimana ini sekarang? Dipecat tenan ta?" tanyaku tak menghiraukannya yang masih mempermasalahkan tentang babu face dan baby face.

"Iya mbak...hik...mau ke agen nyari bos lagi tapi ga mau pulang, aku di Cina aja mbak nunggu visa," katanya.

"Udah nelpon agen belum?" tanyaku

"Uwis,"

"Ya udah kamu di ejen aja dulu atau nyari tempat kos sambil nunggu nyari majikan dua minggu ini, ntar minggu kita ketemu, sekarang aku ga bisa bantu, aku sendiri lagi kerja. Tapi nek kamu butuh uang, ntar boleh pinjem aku," tegasku.

"Makasih mbak,"

Hening sejenak, di selilingi isak Srinthil yang tinggal satu dua...

"Mbak..,"

"Ya,"

"Trus blog e sampeyan piye?" tanyanya yang membuatku kaget.

"Apane sing kepiye?"

"Lha nanti trus Serial Srinthil rak mandeg?" tanyanya serius.

"Wakakaka...kok sempet-sempete dirimu mikir tho Sri.." jawabku.

"Ga usah ditulis aja ya mbak sampek aku dapet majikan sing genah," pesannya

"Ya wes lah gampang," jawabku.

.......

Nah itulah kawan alasan dari kealpaan serial Srinthilku....
jumpa lagi di Srinthil berikutnya karena Srinthil is BACK!!

Srinthil 7: Baju Lebaran Menghebohkan


Peluh bercucuran dari setiap pori-poriku. Rasanya seperti habis mandi saja. Sekujur tubuhku basah, bajuku yang berwarna biru tua ini bertambah gelap warnanya. Keranjang belanjaan yang gemuk padat berisi kutarik dengan tangan kananku, sedang sebuah wanpo toi(tas belanja) berat tergantung di pundak kiriku, aku tak mampu lagi berlari kecil ataupun berjalan cepat. Terengah, hampir saja aku menabrak sesosok jangkung yang tampan didepanku.

“Canhai muisi a, sorry,” kataku.

“Em kan yiu lah, it’s Ok,” jawabnya dibarengi dengan senyum menawan.

Waduh, hatiku tratapan ga karuan. Segera saja aku membayangkan dia menjadi sahabatku yang bisa mengerti, memahami, menghormati sekaligus bisa diajak berbagi. Ah, bukankah ini suatu pemikiran yang biasa saja? Aku tak bermuluk-muluk membayangkannya menjadi kekasihku, seperti yang biasa dilakukan oleh Hindun saat dia melihat cowok cakep sekalipun itu cuma setakat cakepnya PKS(orang pakistan) yang notabene adalah serigala berbulu wedus saja.

post signature


Tiba-tiba saja HP bututku melantunkan sebuah lagu favoritku, caping gunung. Di sana di Cousewaybay di dekatnya central Library, Srinthil sedang mengelus-elus lantai dengan dengkul mengadu lantai, satu tangan memegang HP dan tangan satunya lagi memegang jimat kain pel. Dia berteriak-teriak di antara nafasnya yang ngos-ngosan karena kerajinannya menjadi peneliti kebersihan satu demi satu ubin di rumah bosnya.

"Mbak Riii, mbak, sampeyan lagi di pasar North Point khan? Tulungi aku po'o. Aku ra duwe klambi buat lebaran besuk. Beliin rok putih panjang yang di pasar itu ya mbak, pliiiiss..!" ujarnya merajuk.

"Sri, blanjaanku aja beratnya seperti fei cuiyuk(babi gemuk), gek ora gawa duwit pisan. Tinggal 50 dolar, itupun duwitte lopan(bos) je, piye tho dirimu kih. Mbok kamu lain kali pesennya pagi-pagi gitu, canhai muisi a(maafkan)," kataku berargumen.

"Mbak Ri, sudah cukup uang itu mbak. Lha mosok aku lebaran suruh pakek baju kadaluwarsa gitu. Ga ada rok mbak, sampeyan khan ngerti nek bos baruku ini gak suka aku pakai rok khan mbak,"

Yah, bos baru Srinthil memang rada aneh, walau tidak bisa di golongkan dalam kategori nyleneh. Dia yang kebetulan adalah adik dari bosku itu, paling tidak suka melihat Srinthil pakai rok. Maksudnya dia gak mau Srinthil ribut dengan rok yang bisa merepotkan kerjanya. Payahnya larangan untuk memakai rok juga berlaku kalau dia lagi libur. Walhasil si feminin Srinthil yang paling demen pakai rok ini harus menitipkan semua roknya kepadaku.

"Sri, aku kabotan tenan iki, gek rok itu hargane berapa?" tanyaku.

Aku berhenti di lampu merah hijau yang ada di sebelah terminal bis. Kuletakkan semua barang-arangku di pinggir trotoar, dan berkonsentrasi sepenuhnya mendengarkan suara Srinthil yang hampir pecah menjadi tangis.

"Cuma 49 dolar saja kok mbak, minggu kemaren aku dah mau membelinya tapi ternyata pas waktu itu aku harus nyaur utang kartu(pulsa) sama budhe Sari. Plis ya mbak, beliin ya mbak,"

"Semprul tenan Srinthil iki!" batinku mengumpat.

Kembali aku memasuki warung jagal babi yang menjadi langgananku dan menitipkan barang-barang belanjaanku disana. Dengan bergegas aku menuju ke Malioboro-nya North Point. Yupz! Di North Point mereka menjajakan pakaian persis di pinggir jalan berderet-deret seperti layaknya yang bisa kita lihat di Malioboro itu. Pakaian yang di jajakan di sanapun tergolong hou beng alias murah banget. Bayangkan selusin CD saja cuma 20 dolar, trus baju pesta ala Britney Spears hanya 80 dolar, trus baju renang atu suwim suwit yang seutas-utas nek kalo di beri merek trium atau wakul biasane hargane 300 dolar keatas, disini dijual dengan harga 29 dolar saja. Bayangkan!!

Bergegas aku menuju ke toko pakaian yang dimaksud Srinthil, membeli satu rok warna putih dengan tali di bagian pinggangnya dan renda-renda di bagian bawah. Dan pas banget sesuai apa yang di katakan Srinthil, harga matinya adalah 49 dolar.

...............

Kuserahkan rok putih itu kepada Srinthil yang tinggal satu lantai di bawah rumah bosku, segera saja rok itu disambut dengan suka cita.

"Toce sai, makasih mbak Ri, tak cobane sik, mbayare besuk ya," katanya seraya menutup pintu dan membiarkan angin menampar mukaku dengan kasar.

Dari jendela di dapur bosku aku bisa melihat kamar Wai Wai yang di hiasi dengan boneka-boneka kecil dan wallpaper gambar princess ala karakter Disney. Oh ya, Wai Wai adalah anak asuh Srinthil yang berumur 3 setengah tahun, keponakan dari bos lakiku. Dan bisa juga kulihat Srinthil sedang melenggak-lenggokkan diri, melihat pantatnya yang agak bulat tertutup rapat dan tampak lumayan seksi dengan rok putih itu.

"Gusti Allah nyuwun pangaksami! Ciloko pitulikur tenan Srinthil iki!" bathinku.

Segera saja kuraih Hp ku dan ku dial nomor HP Srinthil serta merta. Begitu HP tersambungkan aku bahkan gagap gugup sekali karena Srinthil menguasai pembicaraan.

"Mbak Ri, bisa lihat khan? Rok ini terlihat bagus baget sama aku ya mbak, pas banget, cocok banget. Gimana mbak kalau aku pakai kaos merah ini sebagai atasannya? atau yang putih ini yang lebih cocok? atau malah yang merah muda itu mbak? Mbak Ri besuk keluar rumahnya jam berapa? Aku tunggu di lantai bawah ja...

"Kringgg....Kriiiiiiiingg...kRiiiiiiingggggg...," teriak telepon rumah bos Srinthil keras sekali memutuskan celotehan Srinthil barusan. Dengan satu HP di kuping kiri dan satu telepon di kuping kanan, jelas sekali Srinthil gugup sekali.

Di seberang sana suara bosnya Srinthil terdengar melengking-lengking dan menggemuruh juga memanaskan telinga, bisa kudengarkan juga karena HPku ada di kuping kirinya Srinthil. Persis seperti suara halilintar tanpa hujan, persis rasa sambel lombok jempling tanpa garam, persis seperti tawanya Farida Pasha dalam film mak lampir, persis seperti teriakan klakson mobil yang bersahut sahutan disaat kemacetan.

"Lei comat ye a(kamu ngapain?) Kurang gaweyan ya? Mau blajar akting jangan di rumahku, mau belajar jadi fotomodel juga jangan di rumahku! Lupa apa sengaja kamu itu ha? Di kamare Wai Wai khan ada kameranya, yang tersambungkan ke HP dan komputer kantorku. Pakek ganti baju di kamar anakku lagi. Nyedit-nyedit pamer bokong sama siapa? Muter-muter kayak gasing, kok gak nyungsep aja sekalian? Beresin rumah kek, ngepel kek, ngosek WC kek, ngelap kaca kek, lha iki kamu jadi babu baru seminggu aja kok sudah bertingkah....bla bla bla.....

.....................sudah kututup HP ku, tak sanggup aku mendengarkan celotehan bosnya Srinthil...pedes des des.
Oalah Sri, Sri mau lebaran pakek rok baru aja kok menghebohkan bosmu.

Srinthil 6: Ejakulasi Dini Karena Levy

"Blaik! Kojur tenan mbakyu-mbakyuuuu!" teriak Srinthil dengan mulut mangap, megap-megap.

Berlari dia, seperti kesusu sekali untuk segera menyampaikan berita maha dasyat yang dimilikinya hari ini. Yah, Srinthil selalu tak lepas dengan berita setiap kali dia libur. Mulai dari berita tentang bosnya yang suka ngupil, tentang selusin celana dalamnya yang terbang ditiup angin, tentang kebiasaan dia cebok pakai air di negaranya Aaron Kwok ini, tentang wedus gibas Arip, tentang gajinya yang disunat, dan sekarang?? Berita tentang kiamatkah yang dibawanya?

"Blaik! Kojur tenan! Tobaaat-tobaaat!!"

"Nyapo tho Sri?" tanyaku heran.

"Mbak Ri, iki njur kepriye? Gimana neh?" Srinthil tampak kebingungan.

"Nyapo Sri? Ga jadi ketemu ma bintang idolamu Lola Amaria kuwi?" tebak Hindun.

post signature


"Lola...olala.... Jadi Srinthil ngefans sama Lola?" tanya Chamid dalam herannya.

"Semprul! Lha sing ngefans sama dia kuwi sapa? Aku ini masih fans beratnya mbak yu Yati Pesek," sanggah Srinthil.

"Madakke pesekmu ye? Hehehhe..," tanya Suzy yang di barengi dengan gelak kami. Maaf gelak ini bukan karena mbak Yati yang jelas-jelas adalah tokoh favorit kami, tapi gelak kami lantaran hidung Srinthil yang ndlesep dan dia tetep PD saja pakai kacamata walau tidak ada hidung buat tatakan kacamata itu.

"Bapakku, bosku...," kata Srinthil dengan nafas tertahan.

"Bapakmu nyapo Sri?" tanyaku.

"Bapakku ya lopanku ya bosku itu, ujug-ujug tiba-tiba semalam ejakulasi dini," kata Srinthil. Kepalanya menunduk sewaktu kalimat itu terucap.

"What?"

"Apaa??"

"Come a?"

Mendadak kami bertujuh(aku, Suzy, Chamid, Hindun, Anez, Miya, dan Liya) tersentak. Srinthil yang ndeso bin lugu itu mengenal kata ejakulasi dini? Sejak kapan? Gek lha kok yang di omongin adalah bapaknya alias bosnya?

"Ah, Sri...kamu...
"Kamu gak lagi kelonan ma dia khan Sri? Ingat Sri walau gaji kita cuma cukup buat bayar pulsa ma sekolahnya adik-adik kita dan nyaur utang berasnya simbok di Indo saja, tapi jangan sampai berbuat yang aneh-aneh hanya untuk mendapatkan uang lebih. Eling Sri, eling.... Kowe iki isih prawan," nasehatku padanya.

"Piye tho sampeyan iki mbak Ri, kebangeten banget. Lha emange aku di padhakno sama cewek gampangan ye? Lha emange aku iki cewek jajanan ye? Lha emange aku iki cerek(cewek experimen) ye? Tega men sampeyan iki mbak Ri...,"

"Sepurane Sri lha ujug-ujug juga kamu ngomongin tentang ejakulasi. Gek apa tho maksudmu sebenernya?" tanyaku.

"Bapakku kuwi mbak, kemaren baca koran. Bukan koran Suara atau Apakabar, lha wong dia gak bisa baca bahasa Indonesia. Pokok e koran dalam bahasa singkek gitu,"

Srinthil menarik nafas, kami merasakan hawa panas, kekecewaan dan kemarahannya meletup-letup kembali.

"Singkatnya mbak Ri, gara-gara Levy dia terminit aku."

"Ha?? Jadi ada babu baru gantinya kamu yang bernama Levy gitu ya? Jenenge apik men, anak PL(Philipina) ya?" buru Liya.

"Liya, nek katrok ki aja nemen-nemen tho! Masak kamu gak denger adanya isu levy di Hongkong sini?" kata Miya menyela.

"Isu levy apa mbak Ri?" tanya Liya padaku.

"Keputusan pemerintah Hongkong yang memungkinkan majikan untuk tidak perlu membayar levy atau pajak hingga 47 bulan, ini berlaku mulai 1 Agustus 2008," jawabku. Ada tuh beritanya di koran-koran," tambahku pula.

"Hai meh? Ada berita kayak gitu? Kok aku gak ngerti ya," kata Liya malu.

"Lha wong Liya ki nek entuk koran gratis cuma buat alas duduk saja kok mbak yu, makanya ada berita tentang bapaknya yang menyanyikan lagu cucak rowo juga dia gak ngerti blas," komentar Srinthil.

Wajah Liya semburat merah menahan malu akan kegagapan informasinya. Melirik ke bawah kakinya dan malunya bertambah seketika demi dilihatnya berita utama yang bertajuk "Di Ujung Tanduk" tulisan dari mbak Santi, penulis hebat itu. Koran yang tertanggal 9 agustus itu di dapatnya dariku pagi tadi. Kini halamannya pun tak lengkap lagi, sedangkan gambar wajah seorang bintang film merangkap sutradara yang berada di pojok kanan halaman itupun sudah hilang jidatnya karena koran tersobek di bagian itu.

"Lha nek aku di terminit hanya gara-gara levy itu khan sama aja ma bapakku terkena ejakulasi dini tho mbak. Dia pikir dengan terminit aku trus ngambil babu baru, dia jadi terlepas dari levy, ngirit gitu. Gek aku di pecat kuwarasan aliase tanpa pesangon mbakyu, aku jadi korbane levy iki mbakyu," mata Srinthil terlihat diantara rasa kecewa dan sedih tak terhingga.

"Golek maneh tho Sri, lha dirimu khan wes pengalaman ngosek WC dan ngelus-elus lantai gitu. Kamu jaga anak juga bisa khan?"

"Golek bos anyar wae Sri. Wong bos mu pelit medhit mecukil gitu aja kok. Paling-paling nek dirimu bertahan kerja ma dia, gajimu ya di sunati terus," khidmat Chamid.

"Cik gampang men olehmu ngomong? Lha nek agennya nanti motong gajiku lagi piye?"

"Laporke nuh, katane KJRI menjamin nek yang korban terminit karena levy gak bakalan mbayar apapun. Njajal bener pa nggak itu," Hindun menimpali.

"Njajal?? Lambemu kuwi!! Wes jan nasip...nasip... Lha kok Levy gawe gara-gara," gerutu srinthil mengakhiri ceritanya.



Srinthil 5: Curhat


Siapa seh yang ga tau, semua orang juga udah memakluminya. Bahkan adalah sudah menjadi tradisi kalau kumpul-kumpul tuh bisa menimbulkan cerita yang asyik. Nah apalagi kalo yang kumpul-kumpul tuh para anggota BCA ( Buruh Cina Asing..he he..) dijamin bakal seru deh. Ceritanya hari minggu itu di ikrarkan sebagai Hari Curhat Babu. Awal muasalnya tak lain karena di hari minggu tuh para BCA pada libur. Ga puas khan kalo cuma curhat lewat sms ato telpon. Walau sms sesama simcard gratis, tapi kalo pas ketahuan lopan(bos) khan bisa berabe, bisa-bisa dapet bonus cumi-cumi, naik pesawat jumpa famili yang artinya cau yau yi ( di pecat kuwarasan ). Kojur tenan!
Seperti biasanya kami, "Be Smart Group", mengadakan kumpul-kumpul setelah jam 3 sore, untuk sekedar curhat, sharing plus ngrasani lopan(bos). Iya waktunya emang sore aja karena kalau pagi masing-masing dari kami sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Aku sibuk merajut kata dan menuliskannya apa adanya lewat blog, Miya kursus tata rias, Ellya kursus perawatan & potong rambut, Anez ke gereja, Hindun ikut kursus masak, Suzy ngurusin bisnis MLM-nya, Srinthil ikut kursus komputer, sedangkan Chamid ikut organisasi islam Iqro'.

“Mbak Ri, piye kabare “Babu Ngeblog” Tanya Lya sambil ngelus-elus rambutnya.

Babu Ngeblog itu adalah websiteku yang berisikan tulisan opo anane. Tepatnya berada di www.babungeblog.blogspot.com

“Apik-apik wae,” jawabku.

“Ga ada postingan baru to?” tanya Anez yang lagi antusias banget baca tulisanku sing ora puitis blas seperti lirik lagune kangen band itu.

“Paling entar malem abis ketemu ama kita-kita,” celetuk Miya cepat.

“wakakakakak….,”

“Eh taukah kalian?” kata Hindun tiba-tiba.

“Gaaa……!”

“Ada cerita baru neh. Aku tuh kemarin nyabutin bulu ketekku. Maap ya Mid, maksudku tuh biar ga nyusahin kamu gitu. Lagian kalo musim dingin gini nyabutin bulu ketek di Victoria Park khan dingin banget,” papar Hindun.

“Nek aku seh ikhlas-ikhlas aja nyabutin bulu ketekmu yang selalu tebal itu,” kata Chamid terlihat kecewa.

“Lha trus aku tuh nyabutin bulu ketekku di kamar mandine simbok. Trus rambut jabutane itu tak kumpulin dan tak taruh di gelas yang biasane buat kumur pakku itu,”

“Lha kuwi jenenge babu kurang ajar,” sanggahku.

“Kreatip, kreatip...hehehe…,” kata Anez.

“Ko sik to, durung rampung ki critane,” Hindun menyela.

“Trus, trus, trus…

“Trus ki, ndelalah aku lali, kelupaan. Aku lali ga membuang bulu ketek yang ada di gelas pakku itu. Lha trus pas pakku pulang dia menemui rambut kriting ndek jerone gelas…

“wakakakakak….

“Ngamuk pakku. Langsung di uncalke gelas itu padaku, untung wae dudu gelas kaca,” celoteh Hindun yang juga terpingkal-pingkal sewaktu menceritakannya.

“Salahmu dewe! Wakakakakak…”

“Lha aku ini laen lagi,” kata Liya setelah tawa kami mereda.

“Apa?”

“Aku di amuk mbokku gara-gara telur ceplok alias telur mata sapi.”

“Lha kok isa? Mosok nyeplok endok aja kamu ga bisa?”

“Lha masalahnya kali ini telur mata sapinya mlerok ke kanan. Biasane khan melototin simbok gitu,” kata Liya.

“Wakakakakak….”

“Nek aku beda maneh,” kata Anez ga mau kalah.

“Apa?”

“Stok Indomiku habis,”

“Halahhhhhhhh…..” jawab kami serentak.

“Lha nek kamu piye Sri?” Tanya Chamid pada Srinthil

Iya neh dari tadi Srinthil terlihat ga biasa. Cuma senyum-senyum dikit aja. Menyadari ketidakbiasaan Srinthil ini, kami jadi merasa sedikit ga enak hati. Lha wong ada anggota geng yang lagi ga happy kok di diemin.

“Temen-temen, ini tanggal 20 khan?” tanya Srinthil dengan tangan merangkul kaki dan dagu menempel pada dengkulnya.

“Iya, kenapa?”jawab dan tanya Suzy.

Srinthil membuang nafas panjang. Dan seketika kami terhipnotis oleh tingkahnya. Matanya tak bergeming menatap jempol kakinya yang hampir menyembul dari kaus kaki itu.

“Nyapo to Sri?’ tanyaku lembut.

“Ini tanggal 20 khan? Tapi kok bos adem ayem aja ya…. Seharusnya dia dah gaji aku 5 hari yang lalu. Padahal aku dah berencana mo buka celengan di bank Mandiri. Pengin rasanya aku ngantem watu ben dia tersadar gitu. Padahal kalo aku kelupaan sekecil apapun dia pasti nyunati gajiku.”

“Sabar, sabar…!” hibur kami.

“Yo ntar tak traktir makan malem lah Sri,” kata Hindun serius.

“Wolaa…. Kit kapan kamu punya duit buat nraktir orang?”

“Iyo biasane mo makan aja ngebon dulu, hehehe…”

“Hasyahh…ini khan ga biasa,”

“Iya luarrr biazaa…!”

“Uwis lah Sri mungkin nanti malem simbokmu ngasih gaji. Dia sibuk kali, jadi kelupaan. Ato kamu ngomong baik-baik aja ama dia,” saranku.

Srinthil diam, sampai saat makan malam diapun masih diam. Padahal kami bertujuh dah berusaha bercerita ato ngomong yang lucu-lucu, diapun tetep diam. Dan sampai saatnya kami mengucap “coi kin” dia pun masih diam. Rasanya ada yang kurang, ada yang ga pas kalo Srinthil tidak ceria, ketawa seperti biasanya.

….


Pagi-pagi sekali, pukul 6, aku terbangun oleh getar HPku.

“Mbak Ri, aku belum digaji, sedih sekali,” curhat Srinthil melalui smsnya.

Aku jawab dengan:

“Sabar-sabar…, kalo perlu kamu ngomong baik-baik ama bosmu.”

Tak ada jawaban. Mungkin kesibukan kerja Srinthil menjadikannya tak sempat untuk mejawab smsku, pikirku. Tapi 3 hari berturut-turut dan setiap kali adalah jam 6 pagi, Srinthil mengirim sms padaku yang sama.

Selasa pagi: “Mbak Ri, aku belum digaji.”

Rabu pagi: “Mbak Ri, aku belum digaji."

Kamis pagi: “Mbak Ri, aku belum digaji.”

Sampai kamis malam jam satu tet, sebuah sms mengusik tidurku yang baru bermula.

“Mbak Ri, aku lali ngasih minum burunge pakku, gajiku disunati.”

Oalaaah…lha wong burung lupa minum aja kok disunati.

Lha nek bos lupa ngasih gaji???

Srinthil 4 : Mbak Ri ultah

Minggu, 18 November 2007

“Mbak bawa pisau ga mbak?” teriak Srinthil dalam sms nya.
“Ga,” jawabku pendek.
“Mbak bawa gunting ga mbak?” tanyanyanya lagi masih dalam format sms.
“Ga,” jawabku lagi.
“Mbak bawa silet ga mbak?”
“Ga,”
“Mbak ada tali ga mbak?’ tulisnya dalam sms untuk yang ke empat kali.

Deegg...

Ada apa dengan dia, pikirku dalam hati. Apakah karena broken heart sama si wedus Arip mampu membuatnya nekat begini, tanyaku pada diri sendiri. Untuk apa pisau itu, untuk apa gunting itu, untuk apa silet itu,, dan untuk apa pula tali itu, demikian pertanyaan beruntun yang kemudian hadir menggelisahkanku.
Segera jimat ampuhku kukeluarkan, kutekan nomer yang sudah kuhapal di kepalaku. Ah paling pulsa Srinthil habis dan ga bisa nerima telpon, prakiraku. Dan benar saja karena sesaat kemudian kudengar suara merdu dari operator yang kalau ga salah seperti ini: “The number you are calling is currently unavailable, please call again later, tuuuttt.”
Halah bosen!

Yah, hanya satu jalan untuk mencari tau semua itu yaitu sms(sms di Hongkong gratis untuk sesame jaringan).
“Sri, ngopo to kamu ni? Mau buat apa to smua tu?” tulisku dalam sms.

Semenit, dua menit, lima menit, delapan menit, sepuluh menit, lima belas menit….
Ga ada jawaban, kemana neh anak??

Dipojok lapangan Victoria, terlihat Srinthil dengan uborampe-nya. Pisau di ketiak kanan, gunting di tangan kiri. Sedang tas punggungnya nampak penuh oleh sesuatu yang… aku tak tau apa isinya. Di pojokan Victoria Park itu sepi, cuma penjaga lapangan yang kadang lalu lalang naik sepeda berpatroli. Wah gawat, pikirku. Rupanya si Srinthil dah nekat. Sepintas terlihat dia menarik sesuatu panjang keluar dari tasnya, ya tak salah lagi, itu adalah seutas tali.
Degg..degg..!! jantungku berdebar semakin kencang.
Srinthil mengamati tali itu, tapi rupanya dia mengurungkan niatnya, matanya beralih ke sebilah pisau tajam bergagang kayu. Di genggamnya pisau itu dengan tangan kanannya dan di elusnya mata pisau dengan jari telunjuk kirinya. Nyess….
Kulihat Srinthil mengaduh, jarinya berlumuran darah. Oalah Gusti paringana kesadaran kepada Srinthil, doaku.
Gunting!! Waduh!!
Tapi guntingpun diletakkan kembali.
Oh iya masih ada silet.
Degg…degg..degg…!! semakin cepatnya jantungku berdebar. Tanganku dingin mengepal, keringatpun bercucuran dari setiap pori-poriku.
Tittttttttttt tiiitttttt………..!!” bunyi klakson dibelakangku seketika menyadarkan aku dari pikiran sing mengembara ora karuan parak e. He he…
Rupanya aku ngalamun membayangkan yang enggak-enggak yang terjadi pada Srinthil.

“Lei cisin a! Siong sei a lei!(kamu gila ya! Mau mati ya!),” teriak sikei(sopir) truk itu sambil nunjuk-nunjuk kearahku dengan telunjuknya sing ireng tunteng itu.

“Muisi a suk-suk(maaf pak),” jawabku sambil pringisan plus kisinan.

Belum lagi gremengan dari orang-orang sekelilingku.
Halah ben ne, po’o. Cuek saja aku lalui mereka.

HP ku bergetar, suara “uyon-uyon caping gunung” segera terdengar yang adalah nada dering favoritku.

“Hallo,” jawabku tanpa melihat nomer siapa sing nelpon aku.

“Ri, rene o po’o, wis di tunggu sama temen-temen se-geng kita neh,” teriak Chamid.

“ Ning endi? Dimana? Lha tadi kamu tuh tak sms tak telpon ko ra ana ki gek ndelik ning endi to?” tanyaku ga kalah kencengnya suaranya.
Suara hangar binger gini kalau ga ngomong kenceng ga bakalan bisa denger lho. Tau ggak daerah Causewaybay itu selalu ramai dengan anak-anak BMI(Buruh Migran Indonesia/ TKW) yang lagi libur.

“ Ndek pojokan Victoria Park sing dekete kantin depannya WC umum itu loh!” kata Chamid yang dilanjutkan dengan pendeskripsian tempat sing malah bikin aku bingung.

“Halah ndek tempat sing biasane kita kumpul-kumpul itu loh, Ri!” teriak Suzy memangkas omongan Chamid.

“Iyo, iyo, aku tak kesana sekarang, lha Srinthil endi?”

“Halah pook e rene sik, buruaaaaaaaaann,” kata geng ku kompak.

Tutt…HP mati.

Iyalah anak-anak gengku tuh kalo nyuruh pake maksa gitu, mesti deh. Uiyah belum ngenalin geng-ku. Eh asline bukan geng ding, tapi cuma sekelompok babu-babu ndableg sing suka ngumpul-ngumpul buat curhat, sharing atau sekedar ngrasani bendarane/bos e. He he… Ceritane geng itu sepakat kita beri nama “BE SMART GROUP”. Keren khan, pasti dunk, sapa dulu ketuanya.
He he… Maksute tuh kita neh karena dah lama mbabu di HOngkong(kecuali Srinthil) jadi smart khan. Rata-rata dari kita dah mbabu di Hongkong ini sejak jamanne Pak Harto masih lungguh damper mahesa kencono sampai sekarang jamane Raden Bagus SBY yang mumet mikir negoro(halah mosok mumet tenan to Pak?).
Ada 8 anggota kelompoknya antara lain:
1. Suzy, nama asli Susmiyatun. Nah bagi wong Hongkong lidahnya khan susah banget kalo mo panggil Sus-mi-ya-tun gitu khan, jadi dengan terpaksa Susmiyatun ini harus rela diganti nama tanpa bancakan jenang abang putih seperti yang biasane dilakukan oleh mboknya di desanya sana. Suzy ini berperawakan langsing tinggi, berkulit putih dan berjerawat banyak. Uiyah dia tuh paling getol kalo ngomongin tentang bisnis MLM nya. Itu loh Multi Level Marketing, belakangan ini marak berkembang diantara para babu-babu Hongkong.
2. Hindun Triyana, cewek yang mendedikasikan dirinya sebagai babu sejak lulus SD ini memang luaaaarr biasa. Termasuk tubuhnya yang gemuk ora nguwati, mangane akeh plus seneng ngutang.Tapi Hindun tipe temen yang setia loh.
3. Ellya Novikawati, si manis yang berpantat gede ini suka banget ngurus rambute sing memang bagus seh. Tapi opo ra kebangeten jajal, mosok tiap minggu rambute ki di krembat lah, di pijet kepala lah, di diminyak i lah, Halah
4. Chamid, si alim satu ini senengane anut grubyuk,maksudnya dia paling suka nimbrung-nimbrung ma geng kita. Manut banget orangnya tuh. Hobby dia kalo pas libur adalah nyabutin bulu keteknya si Hindun. Hebaaatt.
5. Miyanti Restiana, cah ini kemayu banget(padahal ga ayu loh). Paling suka pake rok mini plus sandal japit, saat ini lagi ikut kursus kecantikan.
6. Anez, gadis jangkung berambut kayak indomi. Dan kegemarannya adalah makan Indomi.
7. Srinthil, anggota termuda dan terbaru. Yang selalu penuh dengan masalah dan kadang bikin geng kita mumet ndase. Anak satu ini polos banget dan jujur.
8. Dan tentunya adalah aku sendiri, Ri. Nama lengkapku Sri Bethari. Merupakan pioneer dari geng ini. Yang di percaya untuk menjadi ketua(karena memang yang tertua,he he..).

“Lhaaa lakon ne teko ki,” sambut Hindun yang di barengi gelak cekikikan dari kawan se-gengku.

“Sapa sing beli panganan segini banyaknya? Si Srinthil mana?” tanyaku sebelum meletakkan pantatku.

“Duduk dululah, ntar lagi Srinthil juga datang. Dia lagi mengemban misi,” jawab Suzy sambil ngutek-utek kalkulator.

“Kalkulatormu kuwi lho, di simpen sik po’o, sebel aku nyawangkene,”

“Iyo, simpeno sik,” timpal Chamid menyetujui saranku untuk Suzy.

“Lah ngopo to? Khan acarane durung dimulai,” kata Suzy membela diri.
Matanya masih lengket pada digit-digit kalkulator yang di pegangnya. Kalau sudah seperti itu biasanya Suzy sudah konsentrasi banget. Padahal loh jumlah uang yang di itung juga segitu-gitu aja.

“Ngeyel men to Suz, mbok disimpen, lha wong sing duwe acara dah nyuruh gitu,” kali ini Hindun pun ikut-ikutan nimbrung.

“Aku ki lagi serius diajeng, ntar kalo ketlingsut duwitku trus piye?” sungut Suzy.

“Ssstt… Uwis lah, ra sah padu. Kae lho Srinthil wis datang,” berita Miya yang dibarengi dengan wajah-wajah antusias dari semua anggota geng.

Seperti yang aku bayangkan tadi, wajah Srinthil tampak pucat, air matanya masih nampak dleweran di kedua belah pipinya. Keringatnya nampak mengembun dari setiap pori-pori kulitnya. Kedua tangannya memegang sebuah box dengan amat sangat hati-hati sekali banget.
Dan ketika dia menemukan wajahku, wajahnya pun berlipat-lipat pucatnya, ketakutan juga terlihat disana. We lha dalah ngopo maneh iki, pikirku.
Kami segeng terhipnotis dengan kedatangannya, tak ada yang bersuara.

“Mbak Ri njaluk sepurane,” katanya sambil ndeprok sujut di depanku.

“Lah ngopo to Sri,” tanyaku ga ngerti.

“Sepurane sing akeh mbak, uwa uwa…

“Lha iki piye to Sri kok penyek kabeh ngene?” teriak Suzy.

“Iyo sepurane, uwa..uwa…

“Kowe ki lho Sri, mung diwenehi tanggung jawab koyo ngono wae ra iso,” gremeng Anez.

“Lha aku tadi dah minta tolong sama kalian tapi ga ada yang bisa Bantu, aku khan dah nanya kalo aku butuh pisau, gunting, silet, tali, tapi ga ada satupun yang bisa ngasih ke aku. Lha trus gek piye?” bela Srinthil masih dibarengi dengan tangis sesenggukan.

“Yo sing penting kamu masih seger kuwarasan to Sri, wis ra sah di gagas wedus gibas Arip ki,” kataku kalem nyoba nenangin si Srinthil.

Tapi, tiba-tiba saja Srinthil beranjak, kepalanya tegak, wajahnya marah, tatapannya dingin. Aku mendadak saja ngeri melihat pemandangan Srinthil yang ada di hadapanku. Tidak ada tanda-tanda persahabatan di setiap desah nafasnya, dunia be smart group aku rasakan akan pecah bila-bila masa.

“Ora!! Gak bakalan mikir wedus gibas siji kuwi,” teriaknya dengan tangan mengepal seperti kue onde-onde. Jari-jarinya kelihatan putih menahan amarah, otot-otot tangannya menegang dan bunyi gemelutuk giginya segera terdengar sebagai pertanda kalau emosinya sedang meluap-luap. Waduh gawat iki!

“Lha ngopo maneh awakmu nangis ki? Nek ora mergo Arip? Yo maap kalau aku mengingatkanmu ama wedus satu itu, maap Sri,”

“oei oei…, iki ki bukan masalah Arip atau wedus, tapi liat loh kue tart kok penyek kabeh ki gek trus piye?” gerutu Ellya.

“Iyo, gek jatuh dimana kamu tadi Sri,” tanya Chamid.

“Aku tadi naik MTR(kereta bawah tanah), tapi usek-usekan banyak orang gitu, trus rotine ya penyek trus pisau ne jatuh ra karuan panggone trus nyari tali buat ngiket ga ada trus aku liat ada anak yang bawa tali raffia katane mau ada lomba makan krupuk gitu. Pikirku aku mau minta dikit buat naleni kardus roti sing peyok kabeh tapi ga ada gunting atau silet buat motong raffia itu. Jadi kue tart tak bekem, tak pegang erat-erat aja trus….

“Oalah Sri….,” sahut kami bertujuh serentak. Wajah-wajah geli campur cekikikan segera hadir. Ini anak emang sejuta perkara.

“Sepurane yo mbak, rencana mau buat surprise buat mbak Rie jadi gagal gara-gara aku neh,” kata Srinthil dengan penuh penyesalan.

“Gak popo, aku tadi emang udah kamu kasih surprise duluan kok. Aku sempet bingung tadi waktu kamu nanya tentang pisau, gunting, tali, silet. Tak kirain kamu mo nekat bunuh diri gara-gara…”

“Cuih,…bedes elek ngono mo dibelain sampe bunuh diri? Enggak lah" tampik Srinthil.

“Yo uwis nek ngono. Nek ngono ki kue tart e buat kamu aja, jawabku lega sambil ndulit kue tart dan ku oleskan di bibirnya sing ngewes wae iku.

“Iyo Sri, kue tart e kanggo awakmu wae,” Chamid menimpali.

Dan serentak kami bertujuh saling berebut ndulit kue tart dan ngusep-usep wajah e Srinthil. Kue sing seharusnya enak dimakan itu enak juga dipandang diwajah Srinthil. He he he…
Ah apalah arti makan kue dibandingkan dengan kegembiraan yang kini hadir lagi di wajah sahabatku tercinta Srinthil ini?

“Uwis ah,” kata Srinthil sambil berlari menuju WC yang ada di pojokan utara Victoria Park itu.

“Mbak Riiiii………
“Mbak Ri met Ultah yaaaaaa…!! I love you!” teriaknya sesampai depan WC diiringi dengan jingkrak-jingkrak bungah.

“I love you to!” jawabku di iringi tawa.

Ya ya…. Met ultah Ri, bisikku pada diri sendiri.

Srinthil 3 : Kurban Chattingan


Halah tanggal tua, kelabakan deh. Terlajur uang terkirim semua ke kampung halaman demi bapak yang merengek2 minta di belikan bebek. Setelah 2 bulan yang lalu minta di belikan kebo. waduh! Masalahnya ini bebek berhubungan dengan kebo kata bapak. Bebek ini akan mbantu bapakku untuk meringankan gaweannya.

Walah pak, lha udah ada kebo buat ngrakal sawah dan juga narik gerobak kok minta bebek to, protesku pada bapak.
"Pokok e kudu beli bebek, aku ga kuat jalan jauh atau naik ontel," katanya dengan aji2 pengeyelannya.

Dan yang ga kira2 itu adalah harga bebek yang hampir sama dengan 2 bulan gajiku, buseeeettt. Ini bebek yang di maksud sama bapak adalah si sepeda motor yang rencananya mau di bawa buat ngarit, karena daerahku rumputnya dah pada langka jadi harus pergi ke daerah laen buat ngarit, yang konon kata bapak letaknya lumayan jauh.

Berhubung aku neh termasuk anak sing bekti lan ngurmati sama orang tua, yo uwis tak belikan. Kurang piye jajal?

Nah sekarang kembali ke... tanggal tua, bukan laptop, emang aku Tukul Arwana?! Itung punya itung kaeknya si Srinthil seminggu yang lalu dah gajian tuh, ehm. Kalo bulan lalu dia ngotot kalo uangnya bakal di kirimin ke emaknya yang lagi sakit wudunen, nah mungkin sekarang dia lagi ga ada rencana buat ngirim duit neh,pikirku.

Tit tut tit tut tut tit tit tut, dengan lincahnya jariku yang ngapalen mencet2 HP nelpon si Srinthil.
The number you are calling is currently unavailable please call again later, tuut.
Asem tenan! kemana neh anak?

Gubrraaakkkk!! Suara seseorang jatuh di belakangku, waktu kutoleh ya ampuuun si Srinthil to.

"Walah kamu neh jalan ga ngeliat jalan apa, lagian kalo mau jatuh di lihat dulu nek kamu tadi jatuhin aku trus piye jal? Udah tau khan kalo aku tuh kutilang dara (kurus tinggi langsing dada rata) gini, lha opo ga gepeng aku?" kataku sambil membatunya berdiri.

"Uhuk uhuk...
"Uhuk uhuk...

"Lho lho lho, kaya gitu aja nangis to, ya maap lah kalo omonganku rada kasar. Wis to ah ojo ngisin2 ni gitu, cup cup meneng," bujukku.

"Uwa uwaaa...
Halah kok malah tambah kenceng nangisnya. Kebingungan aku di buatnya, perasaan bersalahku menyebabkan aku menggandeng dia masuk ke Victoria Park dan duduk di lapangan itu yang sudah kugelari plastik terlebih dahulu.

"Uwis to Srinthil, aku khan dah minta maap. Wong cuma kaek gitu aja kok kamu nanges to," bujukku lagi.

"Mbak...
"Piye?" jawabku agak lega karena dia akhirnya mau ngomong juga.
"Aku nanges bukan karena kamu marahin aku," katanya sambil maseh sesenggukan.
"Lha trus karena apa?"
"Oalah mbak, begini to rasane putus cinta itu."
"Lha emange dirimu lagi putus cinta po? Gek pacarmu sapa kok ga tau cerita ma aku," kataku kecewa.

Biasanya sekecil apapun si Srinthil selalu menceritakan padaku. Mulai dari celana dalamnya yang terbang di tiup angin sampai bosnya yang suka ngupil. Lha ini, wong dia punya pacar kok ga crita ma aku ya? Apa takut nek tak odain pacare po? Ga percaya amat seh dia sama aku,pikirku.

"Mbak...
"Arip kuwi wedus tenan kok,"
"Arip sopo? Gek kenal dimana?"
"Arip kuwi loh sing kemaren dulu kenal di chatting. Habis itu khan aku setiap hari minggu chat ama dia terus, orangnya tuh dulu pengertian, humoris tambah wajahnya cakep kaek Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta itu loh. Trus lagi dia bilang dia cinta ama aku, aku juga gitu mbak, ga tau kenapa kok aku juga suka ama dia. Trus dia minta tolong ama aku katane bisnis ayam petelurnya kurang lancar jadi dia tuh butuh uang. Trus aku kirimin mbak, malah jatah yang buat ngobatin wudun ne mbokku juga ke ambil buat dia. Trus lagi bulan ini sabtu kemaren tuh, dia minta uang lagi katanya kandang ayamnya rada rusak trus butuh dana buat.....

"Sik sik sik...nek ngomong tuh mbok sing alon2 gitu. Intine gini to, kamu kaseh gajimu bulan yang lalu ama bulan ini ke si wedus Arip gitu ya?" tegasku.
"Iyo," jawabnya malu.

Waduh, lemes aku,trus aku utang ama sapa ya, dalam hatiku bertanya.

"Lha nek emang kalo kamu ama dia sama2 cintanya, trus ntar kalian tuh ada jodoh. Jadi pas nanti kalo kamu udah finish kontrak trus pulang mbojo gitu, nek gitu yo ga popo to," sambungku ragu.

"Uwa uwa...
"Halah ngopo maneh?"
Gregeten aku sama si Srinthil pembawaannya yang cengeng itu ga nguatin banget. Coba kalo aku ni ga setia kawan udah tak tinggalain dari tadi dia.

"Arip kuwi mau chat ama aku, tapi lamaaa banget dia ga jawab pm ku, padahal aku loh cuma chat ama dia. Trus aku di ajarin ama mbak sebelahku suruh "BUZZ", trus tak buzz trus eh lha kok dia tuh ngomong mesra banget ama cewek laennya. Lara atiku," isak si Srinthil.

"Oalah nduk,"
"Trus dia tak telpon mbak, supaya cintaku ga tergantung. Lha kok dengan tenangnya dia bilang aku ini bukan siapa2 baginya. Orang chat tu ya kayak gitu, katanya. Kalopun aku mau kirim uang ke dia itu murni kebodohanku, dan untung di dia. Sakit atiku mbak,"

"Yo uwis to Sri, mau gimana lagi wong udah terlanjur. Ya buat pelajaran aja bagimu, nek jangan terlalu percaya ama wedus. Orang bisa ngomong ndakik-ndakik, ngomong manis2 tapi padahal dia tuh wedus gibas sing paling mambu.
"Wis to ah, ayo ndekem ning library wae lah buat ngedem-edem atimu."

Dan berangkatlah kami menuju ke Library yang berada tak jauh dari tempat lesehan kita tadi. Matahari makin turun, dan aku ga mau Srinthil larut dalam kesedihannya dan terbawa sampai rumah bosnya. Kesedihan ini harus berakhir, pikirku.


Fenomena semacam ini sering terjadi di kalangan kawan BMI, so GIRLS OPEN YOUR EYES BEWARE OF SNAKES!! Jangan cuma nurutin kata hati, pakai logika dan otak sebelum bertindak.

Srinthil 2 : Belajar Chatting

"Mbaaak...mbak Rii!" teriak Srinthil kepadaku sambil menjinjing rok panjangnya yang klengsreh nyaponi dalan. Dandanane feminin banget hari ini, walau terbilang masih kerja bakti alias masih dalam masa potongan 7 bulan untuk nyaur utang kepada agen yang telah menyalurkannya kerja di Hong Kong. Rok warna kuning kunir bosok plus kaos rada ketat warna putih di tambah tas adidas(palsu) warna item dengan garis keemasan. Waduh, boleh juga dandanane.

"Mbak Rii.. mbok mendeg delok po'o mbaak," katane dengan payudara(maap) yang naik turun karena ngos-ngosan.
"Ono opo to?" jawabku. Aku lho mau ke warnet bentar, selak warnet te kebak uwong je.
"Lha kuwi kepeneran, wis jan pas banget mbak."
"Nyapo to?" mau ikutan pa?"
"Ho oh karep ku tuh mau minta tolong mbok aku di ajarin chatting po'o mbak," katane merajuk.
"Halah wong chatting wae ko ndadak di ajarin barang, nanti khan kamu bisa sendiri to."
"Lha wong aku ra tau nyekel komputer je."
"Yo uwis ayo."

"Lantai brapa seh mbak?"
"Lantai 8 atase CSL itu loh."
(CSL tuh nama salah satu konter simcard di Hkg)
"Lho mbak kok kesitu?" tanyanya heran.
"Lha kuwi liat aja, sing antri lift wae panjang banget gitu kok. Wis mlaku lewat tangga waelah," kataku.
"Cisiiiin..." gerutu si Srinthil.(cisin=edan/gila)

----****-----

"Mbak leh mbukak komputer ki piye," tanyanya mbingungi sambil pencet2 semua tombol yang ada di keyboard.
"Sabar to, aku tak nyelehke bokongku sik," jawabku anyel. "Nah gini loh carane..."
Wah ceritane aku lagi jadi tutor chatting neh, akhirnya dengan kemampuanku yang pas-pasan aku ngajarin si Srinthil cara nge-boot kompi, mbuat ID trus masuk ke YM. Sebelumnya sempet gontok-gontokan sama Srinthil tentang ID apa sing pantes buat dia. Dan keputusan terakhir, ID "mutiara lumuten" menjadi hak milik Srinthil sepenuhnya. Buseettt.
"Wis yo, tak tinggal ngliat imel ku dulu, kamu chatting aja dengan cowok2 itu.
"Ho'o, makasih yo mbak."
Dengan jari pas persis kayak Petruk dia ngetik. Wis jan telunjuke tuh keceng teng, kaku gitu. Hi hik...
"Mbak kok sing mau chat ma aku banyak banget to, piye iki?"
"Matiin aja join roomnya."
"Carane piye?"
"Halah kowe ki ribut banget seh. Ngene lho, di klik sing tanda silang ning pojok kanan atas itu, trus di buang cowok-cowok e,jangan chatting terlalu banyak orang,malah bingung mengko."
"OK lah mbak, tursuwun," jawabnya sambil pringisan.

Kembali aku pada komputerku sendiri, mataku mecicil melihat jumlah imel yang ada, ga biasanya seorang babu ndableg kayak aku ni dapat imel segini banyak. Ada 5 dari free_koteka, ada 3 dari bidadari_chatting, trus lagi dari june_kadaluwarsa, tempe_penyek, sambel_belacan, putra_sumatra, canada_jantan, dan laen-laennya, waduh piye leh ku njawab? Mumet.

"Uhuk..uhuk...
"Uhuk..uhuk...
"Uhuk..uuu....

Halah lha nyapo ki bocah kok malah mewek gini? Tak kirain tadi tuh lagi enjoy chat ma gendakan-gendakane, lha kok malah nangis sesenggukan gini.
"Nyapo seh? Ada apa to?"
"Kuwi lho mbak..uhuk..uhuk..." katanya sambil nuding ke layar kompi.
"Lha nyapo wong chatting kok malah nangis?" tanyaku masih juga ga ngerti.
"Kuwi lho mbak...hu ..uuu...

Mataku melotot melihat ke layar kompi di hadapan Srinthil. Marah, dongkol banget rasane aku. Selama hidupku kenal ama dunia maya nih baru kali ini aku merasakan penghinaan yang luar biasa oleh lawan chat. Pasalnya si bedes elek itu menuliskan kata-kata yang amat sangat menjijikkan sekali banget. Coba kalo dia ada di hadapanku pasti dah tak pentungi pakek gagang sapu, ben monyor kabeh lambene. Pantes aja si Srinthil sampe nanges kayak gituh.

Mau tahu ga ama apa yang di tuliskan sama si munyuk sialan tuh?Pastikan?!
Dia menuliskan begini, "Berapa harga memekmu dijual di pasaran Hongkong?"
kebangeten ga tuh? Asem tenan kok, emange disini kita jualan memek apa? Apa ga tau tugas mulia kita tiap hari yang mulai dari nyapu, ngepel,masak, momong simbah, momong anak, angon dog2, nyuci car, dsb...

Dasar wong nek lambene ndower ki, ngomong asal njeplak saja, ga pake mikir ga pake otak. Waton ngomong tok, ora ngomong nganggo waton.
"Uhuk...uhuk...uwaa...
"Lho mbak kok sampeyan melu nangis?" tanya Srinthil yang sudah reda dari tangisnya.

lho kok??

Srinthil 1 : Babu Baru Bernama Srinthil

Srinthil 1: Babu Baru Bernama Srinthil

Siapa sih yang engggak kenal dengan Srinthil? Hayo...! Sapa coba? Waduuh... kok banyak yah. Ah itu mah wajar saja, karena Srinthil itu bukan seorang yang terkenal ataupun tercemar. Dia wanita biasa yang tinggal di rumah biasa. Cuma satu yang enggak biasa dari Srinthil yaitu, keinginannya yang luar biasa untuk menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan golongan dan kepentingan bersama. Lho?

Oke-oke, jangan prutes dulu dunk ah. Srinthil tuh temenku yang ayu tur lugu, seneng ngguyu & jarang mecucu. Wis lah pokoke ayu tuenan!! Dia lahir dan dibesarkan di Malang kemringet (mang ada?) Itu loh soalnya kalo mo ke Malang ndadak usek-usekan di atas bis selama 3 jam, bayangin aja apa ga kemringet tuh?

Nah demi kepentingan pribadinya yaitu untuk memajukan harkat & martabat & juga harta keluarga, Srinthil yang senasib sepenanggungan denganku itu 3 bulan lalu pergi ke Hongkong. Sebelumnya dia mendekam dalam PJTKI selama 5 bulan. 


Nah, hari ini adalah hari pertamanya dapat libur. Dan hari ini adalah hari keberuntungannya karena bertemu sama aku. Pertemuan yang tidak disengaja. Pertemuan yang diprakarsai oleh sebuah botol. 

Ceritanya miggu itu aku libur sendiri, praktis enggak ada kegiatan di pagi harinya. Capek menyebabkan aku menetapkan bokongku pada salah satu bangku di pojok selatan lapangan Viktoria yang berdekatan dengan toilet umum, lalu aku bertemu dengannya.

Ceritanya begni...

Aku mengambil botol air dari tasku, berbekal air adalah kebiasanku. Tapi tiba-tiba saja pandanganku terhadap botol itu mengabur, eh bukan, menyuram, ah entahlah. Yang pastinya dikarenakan ada seseorang berdiri persis di belakangku. Yang berarti si seseorang itu menutup sebagian sinar karena matahari naik dari balik punggungku.

Dia melihatku dengan tatapan aneh, seperti antara takut dan pengin tahu. Rambutnya cepak, celana jeans nya agak kegedean, kaosnya berlogokan PT. ABCD, salah satu nama PJTKI terkenal di Pluit, Jakarta. Ciri-ciri seperti ini biasanya dimiliki oleh babu baru, artinya dia baru saja datang dari Indonesia.

"Mbak,” panggilnya mengambang. Sorot matanya tegak lurus menatap botol airku. Bibirnya masih menganga untuk seper-sekian detik.

“Ya,” jawabku singkat. Walau aku berpakaian tomboy tapi suaraku amatlah lembut. O pakaian tomboy? Inikah yang membuatnya takut terhadapku? Mungkin, mungkin…

“Ada apa mbak?” tanyaku karena dia tak hendak juga menggerakkan bibirnya untuk bicara setelah 2 menit berlalu.

Tangannya menunjuk kea rah botol airku dan matanya masih tetap sama, tegak lurus menatap botol itu. Hauskah dia? Segera saja aku ulurkan botol air itu.

“Haus?” tanyaku.

“Minum aja’” tambahku pula.

Tiba-tiba saja dia mundur selangkah sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tatapan matanya beralih ke wajahku.

“Nggak kok mbak, bukannya haus, itu lho mbak, botol itu…”

Kali ini matanya beralih ke botolku lagi, jari tengahnya menunjuk-nunjuk, sedang tangan yang satunya lagi menggantung di samping badannya sambil memegang erat tas kresek plastik warna putih.

“Apaan seh? Ada apa dengan botol ini? Ini air matang lho,” kataku tidak mengerti.

“Itu punyaku, itu bukan air matang mbak,” jarinya masih menuding ke botolku. Dia menggigit bibir bawahnya seperti layaknya seseorang ketakutan terhadap sesuatu.

“Sayang.... aku tadi bawa botol sendiri, lha kok bisa kamu bilang kalo ini adalah botolmu? Nalar e ki piye?”

Aku dah mulai kesal tapi melihat wajah innocent dia, marahkupun tak jadi keluar. Membayangkan semasa aku masih baru di Hong Kong sini, tentunya masih selugu dan sepolos dia. Kesalku kutelan kembali bahkan kini rasa kasihan segera membanjiri. Perasaan seperti ini adalah wajar terjadi di antara para TKW, perasaan semacam saling mengerti dan memahami karena kami toh berada jauh dari famili jadi siapa lagi yang terdekat dengan kami selain sesama babu?

“Mbak, tenan kok tadi aku naruh botol air ndek sini trus tak tinggal ke WC. Lha pas aku mbalik ke sini lagi sampeyan udah duduk di sini. Menjejer dua buah botol,”

Aku? Menjejer botol?” tanyaku bingung.

“Lha ya itu botol yang ada di samping kiri mbak, yang satu lagi sekarang ada di tangan mbak. Dan yang ini mbak, yang ada di tangan embak ini, ini adalah botol airku. Soale ndek botole itu tak kasih tulisan namaku. Lha itu lho masih ndek situ tulisane,” katanya menjelaskan panjang lebar tentang status per-botolannya.

Beralih mataku mengamati botol yang sudah berada di tanganku sejak 15 menit yang lalu. Ku alihkan pula pandanganku di samping kiri mejaku. Dan benar saja sodara-sodara, ternyata sebuah botol berdiri tegak di sana. Bingung aku, mendadak garuk-garuk kepala dan rasa kisinan segera menggerayangi diriku. Waduh duh, kok bisa aku ngambil botol sing salah iki mau piye?

“Iya ya, emang ini ada tulisane Srinthil, namamu tho mbak?” tanyaku mengalihkan pembicaraan ben ra katon isinku.

“Iya,”

“Baru datang ya?” tanyaku pula.

“Iya,”

“Libur pertama kali?” tanyaku lagi.

“Iya,”

“Sendirian ya?”

“Iya,”

“Rum…

“Mbak anu maap, mbok saya minta balik botol saya, soale selak kebelet mau ke WC,” katanya.

“Lha tadi katanya udah ke WC?”

“Lha ya itu, karena tadi botolnya ga ada ya ga jadi ke WC. Ke WC khan butuh botol mbak!”

“Ha? Ke WC butuh botol? Lha emang mau buat apa? Kaek mau ngumpulin air kencing buat tes urine aja,” tanyaku bingung.

“Bukan tes mbak, tapi anu itu maksudnya butuh air yang dalam botol itu,”

Pusing banget aku ngomong sama orang yang selugu dia. Botol buat ke WC? Air di botol buat ke WC? Semakin aku mencoba menggatuk-gatukkan antara botol, air di botol dan WC semakin kepalaku pening. Benar-benar aku ga ngerti dengan jalan pikiran si babu baru yang bernama Srinthil ini.

Sembari mengulungkan botol itu aku berkata lagi, “Di WC khan ada keran tho mbak, kalo mau cuci tangan pakek keran khan bisa.”

“Lha nek cebok trus piye mbak?”

“Oalah…ya pakek tissue lo, ga punya ya? Ini lho mbak tak kasih tissue,” kataku. Tanganku menyerahkan botol air itu sekaligus juga tissue.

“Mbak aku ini ndak bisa cebok kalo ga pakek air, rasanya kok ada bau anyir gitu, njijiki,”

"Huwakakak...," spontan aku ngakak! Siapa seh yang ga bakalan ketawa dengerin jawaban dia yang amat polos itu?

“Oalah mbak mbak, wong udah di Hongkong khan beda ama di desa mbak,” jawabku di iringi tawa yang ga bisa di tahan lagi.

“Gak bisa mbak, ini sudah kebiasaan saya, buktinya saya sudah 5 bulan disini juga ga bisa pakek tissue kalo ke WC. Udah dulu ya mbak, kebelet neh,”

Dan berlarilah dia menuju WC umum terdekat.

Sekembalinya dari WC dia mendekatiku. Mungkin karena dia sendirian dan baru jadi butuh seseorang untuk diajak ngobrol. Saat itu aku juga sendiri, biasanya aku berkumpul dengan teman-temanku yang lain di sore hari. Dan keluguannya itulah yang menarik hatiku, kepolosannya, kesederhanaannya menjadikan aku bisa bicara banyak. Kujelaskan dia tentang banyak hal yang menyangkut tentang cara kerja maupun pergaulan di Hongkong. Hongkong yang bebas ini sayang sekali kalau mengkontaminasi jiwa bersihnya. Minggu ini aku merasa menjadi seseorang yang berguna sekali.

Demikian awal kisahnya hingga Srinthil kinipun sejajar dengan kawan-kawanku yang sudah kukenal bertahun-tahun lamanya.