Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

hatiku tercecer

ketika hatiku tercecer di sawah-sawah duka
bukankah engkau yang mengumpulkannya
menjadi segebang cinta
mengikatnya dengan kasih
membawanya dengan harapan
bahwa hatiku seutuhnya milikmu

dan ketika sayang sudah membanjiri hatiku
mengapa sepatu mu bertolak
dan menghindariku

terulang lagi
hatiku tercecer di sawah-sawah duka

sayang dan kasih menjadi segebang cinta derita
atau derita cinta
bukankah cinta hakikatnya bahagia
mengapa membuatnya menderita
kenapa dibuatnya menderita

beginilah cinta, deritanya tiada akhir

ataukah cinta harus di akhiri
agar tak ada lagi
hati yang tercecer di sawah-sawah duka

Bunuh Saja Lelaki Itu

iya
mengapa membiarkannya mengoar seperti kerbau liar
mengapa membiarkannya bernyanyi seperti perkutut manggung

bunuh saja dia
bunuh saja lelaki itu
yang menusuk paksa lubang kehormatanku
yang mengalirkan darah haram ke tubuhku
yang membungkam kebenaran dengan gemintang di kepalanya
bunuh saja dia
bunuh saja lelaki itu
yang mencengkeram gumpalan indah milikku
yang mengikat hatiku pada kepedihan tak berkesudahan
yang mencampakkanku di pinggir malam hampir masuk jurang

bunuh saja dia
bunuh saja lelaki itu
tak akan ada yang menyesal karena hilangnya


ijinkan Rie menyanyi

Wuih rasa kebangsaannya lagi gede2nya. Gpp khan, eh malah harus itu!

Yuuk nyanyi bareng yuk!!

IBU PERTIWI

kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
mas intanmu terkenang

hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang susah
merintih dan berdoa

kulihat ibu pertiwi
kami datang berbakti
lihatlah putra-putrimu
menggembirakan ibu

ibu kami tetap cinta
putramu yang setia
menjaga harta pusaka
untuk nusa dan bangsa

Surat Untuk Cintaku

my dear,

you see...this is me
I always say something that I planned not to say to you. I just donno how, anyway.
I mean I hate my self...looks like I don't have a problem, but in fact I do.

There are things I didn't say. That is that I was thinking if you're happy to be with me all the time. I do thing that you would see this as "my trying to occupy you all the time. I do wonder if you are totally happy about this"classic query".

My problem that if I want you to be happy I should let you do everything you are happy with. But if that something you do you feel alright bothers me, what should I do?
I think I am still selfish, and also I don't love you good enough. I am not trying to make up or anything so I say this to you, I mean, as you know, I am the kind of person who think about all this weird questions all the time. Seriously, I do love you but that is not "good enough".

They are some difficult we had to overcome, and this is my challenge.
I am willing to take this challenge, including being so honest to you, yet I know this will not make you happy(this is part of the challenge) because I do care about us. And for this, I have no clue why? God knows, so I am actually glad(yet worried) that I said all this to you. I do feel like I am very stupid and like a loser too. I didn't hold on until "the end".

Sometimes I feel so sorry about myself or my emotion, this I have mentioned before. You see...I am trying to break this problem into pieces and trash them one by one. And I do (and I did) find the problem should be "me"!

This is the hardest part it's like you saying it's hard to change yourself. Not that this is against my own will.This is what I like coz you are way too important to me out the moment, and I am so used to share every simple bit of my life with you. So, I am weighing things comparing what is more important to me.

And apparently, I am still fighting. You are a bit heavier, in that sense. I still want to hang it here.

Something funny is our "fights" are so calm. This is one of the stuffs that I treasure, yet we were not happy and had our own opinion and position. We could still talk. so what else can I say? This coil never end, Iam talking about this essay.

So, I don't know what else I can say...
I guess this is life we are messing with. Things just can't happen too straight forward, especially I am dealing with you.
I just...well...anyway...

your love



wakakakak...lagi lagi lagi lagi......cintaaa
bikin bingung aja, pengin nulis tapi ga ada bahan, ga ada ide. Halah sing penting nulis. Grammar nya kacau ya biarin, hehehe...

Parade Salam

()()
(0)
,(( ) tikus


{{{ }}}
o(@.@)o
'(------)' monyet


><((((((;> ikan

rame2 mO n9ucapin Met Sore n meT busy aza yah...


post signature

Srinthil 4 : Mbak Ri ultah

Minggu, 18 November 2007

“Mbak bawa pisau ga mbak?” teriak Srinthil dalam sms nya.
“Ga,” jawabku pendek.
“Mbak bawa gunting ga mbak?” tanyanyanya lagi masih dalam format sms.
“Ga,” jawabku lagi.
“Mbak bawa silet ga mbak?”
“Ga,”
“Mbak ada tali ga mbak?’ tulisnya dalam sms untuk yang ke empat kali.

Deegg...

Ada apa dengan dia, pikirku dalam hati. Apakah karena broken heart sama si wedus Arip mampu membuatnya nekat begini, tanyaku pada diri sendiri. Untuk apa pisau itu, untuk apa gunting itu, untuk apa silet itu,, dan untuk apa pula tali itu, demikian pertanyaan beruntun yang kemudian hadir menggelisahkanku.
Segera jimat ampuhku kukeluarkan, kutekan nomer yang sudah kuhapal di kepalaku. Ah paling pulsa Srinthil habis dan ga bisa nerima telpon, prakiraku. Dan benar saja karena sesaat kemudian kudengar suara merdu dari operator yang kalau ga salah seperti ini: “The number you are calling is currently unavailable, please call again later, tuuuttt.”
Halah bosen!

Yah, hanya satu jalan untuk mencari tau semua itu yaitu sms(sms di Hongkong gratis untuk sesame jaringan).
“Sri, ngopo to kamu ni? Mau buat apa to smua tu?” tulisku dalam sms.

Semenit, dua menit, lima menit, delapan menit, sepuluh menit, lima belas menit….
Ga ada jawaban, kemana neh anak??

Dipojok lapangan Victoria, terlihat Srinthil dengan uborampe-nya. Pisau di ketiak kanan, gunting di tangan kiri. Sedang tas punggungnya nampak penuh oleh sesuatu yang… aku tak tau apa isinya. Di pojokan Victoria Park itu sepi, cuma penjaga lapangan yang kadang lalu lalang naik sepeda berpatroli. Wah gawat, pikirku. Rupanya si Srinthil dah nekat. Sepintas terlihat dia menarik sesuatu panjang keluar dari tasnya, ya tak salah lagi, itu adalah seutas tali.
Degg..degg..!! jantungku berdebar semakin kencang.
Srinthil mengamati tali itu, tapi rupanya dia mengurungkan niatnya, matanya beralih ke sebilah pisau tajam bergagang kayu. Di genggamnya pisau itu dengan tangan kanannya dan di elusnya mata pisau dengan jari telunjuk kirinya. Nyess….
Kulihat Srinthil mengaduh, jarinya berlumuran darah. Oalah Gusti paringana kesadaran kepada Srinthil, doaku.
Gunting!! Waduh!!
Tapi guntingpun diletakkan kembali.
Oh iya masih ada silet.
Degg…degg..degg…!! semakin cepatnya jantungku berdebar. Tanganku dingin mengepal, keringatpun bercucuran dari setiap pori-poriku.
Tittttttttttt tiiitttttt………..!!” bunyi klakson dibelakangku seketika menyadarkan aku dari pikiran sing mengembara ora karuan parak e. He he…
Rupanya aku ngalamun membayangkan yang enggak-enggak yang terjadi pada Srinthil.

“Lei cisin a! Siong sei a lei!(kamu gila ya! Mau mati ya!),” teriak sikei(sopir) truk itu sambil nunjuk-nunjuk kearahku dengan telunjuknya sing ireng tunteng itu.

“Muisi a suk-suk(maaf pak),” jawabku sambil pringisan plus kisinan.

Belum lagi gremengan dari orang-orang sekelilingku.
Halah ben ne, po’o. Cuek saja aku lalui mereka.

HP ku bergetar, suara “uyon-uyon caping gunung” segera terdengar yang adalah nada dering favoritku.

“Hallo,” jawabku tanpa melihat nomer siapa sing nelpon aku.

“Ri, rene o po’o, wis di tunggu sama temen-temen se-geng kita neh,” teriak Chamid.

“ Ning endi? Dimana? Lha tadi kamu tuh tak sms tak telpon ko ra ana ki gek ndelik ning endi to?” tanyaku ga kalah kencengnya suaranya.
Suara hangar binger gini kalau ga ngomong kenceng ga bakalan bisa denger lho. Tau ggak daerah Causewaybay itu selalu ramai dengan anak-anak BMI(Buruh Migran Indonesia/ TKW) yang lagi libur.

“ Ndek pojokan Victoria Park sing dekete kantin depannya WC umum itu loh!” kata Chamid yang dilanjutkan dengan pendeskripsian tempat sing malah bikin aku bingung.

“Halah ndek tempat sing biasane kita kumpul-kumpul itu loh, Ri!” teriak Suzy memangkas omongan Chamid.

“Iyo, iyo, aku tak kesana sekarang, lha Srinthil endi?”

“Halah pook e rene sik, buruaaaaaaaaann,” kata geng ku kompak.

Tutt…HP mati.

Iyalah anak-anak gengku tuh kalo nyuruh pake maksa gitu, mesti deh. Uiyah belum ngenalin geng-ku. Eh asline bukan geng ding, tapi cuma sekelompok babu-babu ndableg sing suka ngumpul-ngumpul buat curhat, sharing atau sekedar ngrasani bendarane/bos e. He he… Ceritane geng itu sepakat kita beri nama “BE SMART GROUP”. Keren khan, pasti dunk, sapa dulu ketuanya.
He he… Maksute tuh kita neh karena dah lama mbabu di HOngkong(kecuali Srinthil) jadi smart khan. Rata-rata dari kita dah mbabu di Hongkong ini sejak jamanne Pak Harto masih lungguh damper mahesa kencono sampai sekarang jamane Raden Bagus SBY yang mumet mikir negoro(halah mosok mumet tenan to Pak?).
Ada 8 anggota kelompoknya antara lain:
1. Suzy, nama asli Susmiyatun. Nah bagi wong Hongkong lidahnya khan susah banget kalo mo panggil Sus-mi-ya-tun gitu khan, jadi dengan terpaksa Susmiyatun ini harus rela diganti nama tanpa bancakan jenang abang putih seperti yang biasane dilakukan oleh mboknya di desanya sana. Suzy ini berperawakan langsing tinggi, berkulit putih dan berjerawat banyak. Uiyah dia tuh paling getol kalo ngomongin tentang bisnis MLM nya. Itu loh Multi Level Marketing, belakangan ini marak berkembang diantara para babu-babu Hongkong.
2. Hindun Triyana, cewek yang mendedikasikan dirinya sebagai babu sejak lulus SD ini memang luaaaarr biasa. Termasuk tubuhnya yang gemuk ora nguwati, mangane akeh plus seneng ngutang.Tapi Hindun tipe temen yang setia loh.
3. Ellya Novikawati, si manis yang berpantat gede ini suka banget ngurus rambute sing memang bagus seh. Tapi opo ra kebangeten jajal, mosok tiap minggu rambute ki di krembat lah, di pijet kepala lah, di diminyak i lah, Halah
4. Chamid, si alim satu ini senengane anut grubyuk,maksudnya dia paling suka nimbrung-nimbrung ma geng kita. Manut banget orangnya tuh. Hobby dia kalo pas libur adalah nyabutin bulu keteknya si Hindun. Hebaaatt.
5. Miyanti Restiana, cah ini kemayu banget(padahal ga ayu loh). Paling suka pake rok mini plus sandal japit, saat ini lagi ikut kursus kecantikan.
6. Anez, gadis jangkung berambut kayak indomi. Dan kegemarannya adalah makan Indomi.
7. Srinthil, anggota termuda dan terbaru. Yang selalu penuh dengan masalah dan kadang bikin geng kita mumet ndase. Anak satu ini polos banget dan jujur.
8. Dan tentunya adalah aku sendiri, Ri. Nama lengkapku Sri Bethari. Merupakan pioneer dari geng ini. Yang di percaya untuk menjadi ketua(karena memang yang tertua,he he..).

“Lhaaa lakon ne teko ki,” sambut Hindun yang di barengi gelak cekikikan dari kawan se-gengku.

“Sapa sing beli panganan segini banyaknya? Si Srinthil mana?” tanyaku sebelum meletakkan pantatku.

“Duduk dululah, ntar lagi Srinthil juga datang. Dia lagi mengemban misi,” jawab Suzy sambil ngutek-utek kalkulator.

“Kalkulatormu kuwi lho, di simpen sik po’o, sebel aku nyawangkene,”

“Iyo, simpeno sik,” timpal Chamid menyetujui saranku untuk Suzy.

“Lah ngopo to? Khan acarane durung dimulai,” kata Suzy membela diri.
Matanya masih lengket pada digit-digit kalkulator yang di pegangnya. Kalau sudah seperti itu biasanya Suzy sudah konsentrasi banget. Padahal loh jumlah uang yang di itung juga segitu-gitu aja.

“Ngeyel men to Suz, mbok disimpen, lha wong sing duwe acara dah nyuruh gitu,” kali ini Hindun pun ikut-ikutan nimbrung.

“Aku ki lagi serius diajeng, ntar kalo ketlingsut duwitku trus piye?” sungut Suzy.

“Ssstt… Uwis lah, ra sah padu. Kae lho Srinthil wis datang,” berita Miya yang dibarengi dengan wajah-wajah antusias dari semua anggota geng.

Seperti yang aku bayangkan tadi, wajah Srinthil tampak pucat, air matanya masih nampak dleweran di kedua belah pipinya. Keringatnya nampak mengembun dari setiap pori-pori kulitnya. Kedua tangannya memegang sebuah box dengan amat sangat hati-hati sekali banget.
Dan ketika dia menemukan wajahku, wajahnya pun berlipat-lipat pucatnya, ketakutan juga terlihat disana. We lha dalah ngopo maneh iki, pikirku.
Kami segeng terhipnotis dengan kedatangannya, tak ada yang bersuara.

“Mbak Ri njaluk sepurane,” katanya sambil ndeprok sujut di depanku.

“Lah ngopo to Sri,” tanyaku ga ngerti.

“Sepurane sing akeh mbak, uwa uwa…

“Lha iki piye to Sri kok penyek kabeh ngene?” teriak Suzy.

“Iyo sepurane, uwa..uwa…

“Kowe ki lho Sri, mung diwenehi tanggung jawab koyo ngono wae ra iso,” gremeng Anez.

“Lha aku tadi dah minta tolong sama kalian tapi ga ada yang bisa Bantu, aku khan dah nanya kalo aku butuh pisau, gunting, silet, tali, tapi ga ada satupun yang bisa ngasih ke aku. Lha trus gek piye?” bela Srinthil masih dibarengi dengan tangis sesenggukan.

“Yo sing penting kamu masih seger kuwarasan to Sri, wis ra sah di gagas wedus gibas Arip ki,” kataku kalem nyoba nenangin si Srinthil.

Tapi, tiba-tiba saja Srinthil beranjak, kepalanya tegak, wajahnya marah, tatapannya dingin. Aku mendadak saja ngeri melihat pemandangan Srinthil yang ada di hadapanku. Tidak ada tanda-tanda persahabatan di setiap desah nafasnya, dunia be smart group aku rasakan akan pecah bila-bila masa.

“Ora!! Gak bakalan mikir wedus gibas siji kuwi,” teriaknya dengan tangan mengepal seperti kue onde-onde. Jari-jarinya kelihatan putih menahan amarah, otot-otot tangannya menegang dan bunyi gemelutuk giginya segera terdengar sebagai pertanda kalau emosinya sedang meluap-luap. Waduh gawat iki!

“Lha ngopo maneh awakmu nangis ki? Nek ora mergo Arip? Yo maap kalau aku mengingatkanmu ama wedus satu itu, maap Sri,”

“oei oei…, iki ki bukan masalah Arip atau wedus, tapi liat loh kue tart kok penyek kabeh ki gek trus piye?” gerutu Ellya.

“Iyo, gek jatuh dimana kamu tadi Sri,” tanya Chamid.

“Aku tadi naik MTR(kereta bawah tanah), tapi usek-usekan banyak orang gitu, trus rotine ya penyek trus pisau ne jatuh ra karuan panggone trus nyari tali buat ngiket ga ada trus aku liat ada anak yang bawa tali raffia katane mau ada lomba makan krupuk gitu. Pikirku aku mau minta dikit buat naleni kardus roti sing peyok kabeh tapi ga ada gunting atau silet buat motong raffia itu. Jadi kue tart tak bekem, tak pegang erat-erat aja trus….

“Oalah Sri….,” sahut kami bertujuh serentak. Wajah-wajah geli campur cekikikan segera hadir. Ini anak emang sejuta perkara.

“Sepurane yo mbak, rencana mau buat surprise buat mbak Rie jadi gagal gara-gara aku neh,” kata Srinthil dengan penuh penyesalan.

“Gak popo, aku tadi emang udah kamu kasih surprise duluan kok. Aku sempet bingung tadi waktu kamu nanya tentang pisau, gunting, tali, silet. Tak kirain kamu mo nekat bunuh diri gara-gara…”

“Cuih,…bedes elek ngono mo dibelain sampe bunuh diri? Enggak lah" tampik Srinthil.

“Yo uwis nek ngono. Nek ngono ki kue tart e buat kamu aja, jawabku lega sambil ndulit kue tart dan ku oleskan di bibirnya sing ngewes wae iku.

“Iyo Sri, kue tart e kanggo awakmu wae,” Chamid menimpali.

Dan serentak kami bertujuh saling berebut ndulit kue tart dan ngusep-usep wajah e Srinthil. Kue sing seharusnya enak dimakan itu enak juga dipandang diwajah Srinthil. He he he…
Ah apalah arti makan kue dibandingkan dengan kegembiraan yang kini hadir lagi di wajah sahabatku tercinta Srinthil ini?

“Uwis ah,” kata Srinthil sambil berlari menuju WC yang ada di pojokan utara Victoria Park itu.

“Mbak Riiiii………
“Mbak Ri met Ultah yaaaaaa…!! I love you!” teriaknya sesampai depan WC diiringi dengan jingkrak-jingkrak bungah.

“I love you to!” jawabku di iringi tawa.

Ya ya…. Met ultah Ri, bisikku pada diri sendiri.

Pak Pos, apakah Rie Rie cantik?

Seorang berpakaian dinas, dengan kemeja lengan pendek warna putih, celana panjang warna biru tua dengan ikat pinggang hitam dan juga sepatu hitam, berada diantara tumpukan surat-surat beralamat jelas. Di wajahnya peluh menetes satu-satu, karena di Indonesia toh kemewahan seperti AC/pendingin ruangan belum menjadi hak pak pos, kasian deh.
Uiyah, sementara itu, ada yang dengan gagahnya naik diatas sepeda warna oren dengan kantong-kantong yang menggantung di samping jok sepeda motor berisi penuh dengan surat-surat atau poscard, dengan alamat jelas(kalau alamatnya ga jelas emang pak pos mau keliling-keliling bawa surat itu?).

Dari satu alamat ke alamat yang lain, atau dari satu desa ke desa yang lain. Mungkin dengan sedikit menggerutu karena panas matahari terlalu menyengat atau hujan tak bersahabat. Yah namanya juga manusia kalau ga komplin ga wajar dunk, he he...

Ah uh...itu hanya pemikiranku, bayanganku terhadap apa yang dikerjakan oleh Sang Pengantar Warta ini.
Itupun karena aku mendapat sms dari mbakyuku tersayang, sms nya gini loh:
Nduk, kok potomu rung teko,
suwe men. Wis dienteni 3
minggu pengin ngerti rupa
mu.Opo saiki ayu?opo isih
pancet?bls

(nduk, potomu kok belum datang,lama amat. Sudah ditunggu 3 minggu pengin tau wajahmu. Apa sekarang cantik? apa masih sama?balas)
Dan jawabanku adalah:
Mbak, takonno karo Pak Carik
nek wis teko rak yo di wenehno to


(mbak, tanya saja sama Pak Carik, kalau sudah datang khan disampein)
Dan dua menit kemudian aku mendapat balasan dari mbak Titik ku,demikian isinya:
wis takon pak Carik jare
rung tekan ki

(sudah tanya pak Carik, katanya belum nyampe tuh)
kemudian jawaban terakhirku:
Mbuh lah, di tunggu wae.
Menowo wae pak pos e lg
kesengsem karo aku,he he

(ga tau ya.., tunggu aja. Mungkin pak pos nya lagi jatuh cinta ma aku, he he..)
wakakakakak...
ga kebayang deh gimana kalo si Pak Pos mbukak suratku yang berisi 30 lembar potoku ukuran 4R. Mungkin dia mesam-mesem, trus malah kesengsem, he he he...
Rie heran banget, padahal pengiriman surat dari Indonesia ke Hongkong tuh cuma 4 hari aja udah nyampe. Soalna kemaren tuh mbakku ngirim poto keluarga 20 lembar ukuran 3R, dia ngirimnya hari senin trus hari jumat malem udah nyampe ke Rie. Lah ini aku yang ngirim 3 minggu yang lalu sampai sekarang kok belum nyampe ke tangan keluargaku juga ya...
Kemana ngumpetnya poto-potoku? Kalau pak carik/sekretaris desa kayaknya ga bakalan deh ngumpetin poto Rie. Lha trus dimana tuh poto?????????

Iseng-iseng Rie nyari di searching engine: protes buat Posindo enter
Halah yang ketemu malah tulisan-tulisan yang sama sekali ga aku mengerti. Dan kemudian..."BLOG" maka tulisan ini terwujud, sebagai pelampiasan atas kekecewaan Rie kepada Posindo, sing kerjane klemar-klemer. Jangan-jangan poto ne Rie di simpen ama salah satu pak pos... Trus Rie di jopa-japu di jampi-jampi gitu. Lha trus piye??
Kau meng ngo....hellpppppp!!

vulnerable day

I keep on telling me self
Husss...weep...
let yourself be vulnerable at the right moment
and shed a tear or two
that's how people perceive how heartfelt you are

and then
those pretty clear water running down
release all the heavy weigh in my heart
emptying the anger
cleaning the sadness

and now
after all the drama
I feel lighter
still sad
but wiser

Calon Istri Kedua

Sudah tak siang lagi, tidakpun sore. Matahari yang telah pergi dua jam yang lalu meninggalkan sepi. Sepi yang membuat gemuruh di dada ini semakin memuncak. Sepi yang membuat keakraban seorang ibu dan anak menjadi gumpalan-gumpalan awan yang diam karena angin tak jua datang untuk mengusirnya pergi dari birunya kalbu. Dan itu menyiksakan.

Tak lepas-lepasnya mata tua yang telah lelah itu menatap jalan-jalan kosong. Matanya lurus memandang sedang ku tahu hatinya disini, disampingku. Mencoba memahamiku dan gagal. Mencoba membujukku dan sia-sia. Mata itu seolah takut memandangku, memandangku yang berarti menengok bayangan di masa mudanya.
Dia mendesah panjang, menutup tirai jendela yang kemudian menjadi penghalang mataku untuk melihat keluar secara jelas. Melangkah gontai menghampiriku seolah seribu beban di kakinya . Yang kulihat bukan beban di kakinya tapi di hatinya. “Ibu, maafkan Nimas,”kataku. Bibirku menganga tapi tak ada sepatah katapun yang terlepas. Kututup kembali bibirku dan aku siap menunggu.

“Haruskah ini turun-temurun ?” tanyanya pilu. Guratan-guratan kecil di dahinya mendadak menebal. Matanya menyipit menahan airmata yang sejak tadi memenuhinya. Dan lagi, dia meninggalkanku. Seolah membiarkan jarak tak menguak kegelisahan hatinya. Berjalan membelakangiku menyembunyikan wajahnya dari hadapanku.Selangkah sebelum dia sampai di depan tirai itu, setetes dua tetes airmata jatuh, aku tahu aku tahu…

“Ibu maafkan Nimas,” kataku dengan segenap keberanian yang terkumpul. “Nimas sudah memikirkannya bu. Nimas sadar akan segala resikonya. Toh mbak Ayu juga mengijinkannya. Bu, kalau ini ibu anggap dosa, biarlah Nimas menanggungnya. Kalau ini ibu anggap aib, maafkan Nimas. Tapi tolonglah jangan sekali-kali ibu anggap semua ini adalah turun-temurun. Ini cinta bu, hati yang bicara. Nimas mencintainya dan Nimas yakin dialah jodoh Nimas bu.”

Masih dengan pandangan yang sama, ibu menatapku. Sekali lagi mencoba memahamiku dan gagal. Berdiri lemas seolah tanpa daya menghadapi kemelut di dalam dirinya. Jarak yang ada di antara Ibu dan aku bukan sekedar sepuluh langkah saja, tapi sepuluh kali kerinduan akan kelembutan , pengertian dan kasih sayangnya. Tersadar bahwa aku butuh kedekatan itu, beranjak ku menujunya. Kuraih tangan tuanya dan dalam hitungan detik tangan tua itu telah basah. Tangisku pecah.

Dia yang mengajariku untuk tabah dan sabar, dia yang selalu sukses menyembunyikan duka, jugapun menangis. Saat itulah aku merasakan kedekatan yang sempat hilang. Saat itulah aku merasakan betapa jarak yang tadi ada seolah sirna di telan ombak airmata kami. Indah, nyaman.

“Lihatlah kamu,”katanya masih dengan airmata yang berlinang.

“Lihatlah ibu,”katanya lagi.

“Tidak cukupkah kamu melihat antara penderitaan dan cinta yang ibu alami sebagai contohmu?” Kurasakan getar suaranya sewaktu dia bertanya, seolah dia sendiri tak mempercayai apa yang telah di ucapkannya.

“Ibu, apakah ibu mencintai ayah ?” tanyaku takut.

“Ya pasti.”

“Apakah ayah mencintai ibu?”

“Tidak di ragukan lagi kaupun tau itu.”

“Dan Nimas pun sama bu. Nimas mencintai mas Panji, mas Panji mencintai Nimas,” kataku mantap tanpa keraguan sedikitpun.

“Tapi Nimas,…”

“Ibu, Nimas mohon izinkan Nimas restui Nimas bu, mengertilah ini bu.”

“Nimas, akankah kau kuat menerima gunjingan itu nak, akankah kau sanggup menghadapi cercaan sebegitu banyak orang ?”

“Nimas yakin pasti bisa bu.”

“Lihatlah ibu. Di mata orang istri kedua itu hina, istri kedua itu pengganggu dan pengacau kebahagiaan istri pertama. Tidak cukupkah ibu sebagai contohmu ? Lupakah kau sewaktu kau pulang sekolah dulu, menangis dan meraung hanya karena mendengar omongan orang tentang ibu ?”

“Nimas sadar, Nimas ingat bu.”

“Nimas, haruskah ini tur…….”

“Ibuu.. !!,” kataku dengan nada yang agak keras menampik kata-kata yang bakal keluar dari mulutnya, membuat ibu seketika menghentikan kata-katanya, terdiam. Saat itu juga aku menyesal telah memanggilnya dengan nada yang keras. Tapi aku tak mau kata-kata itu keluar lagi dari mulutnya, aku tak mau dia menyakiti hatiku dan hatinya dengan kata-kata itu. Aku menatapnya dengan tajam tapi mesra dan terakhir menjawabnya dengan sepenuh keyakinan dan kepercayaan diriku.

“Ibu, Nimas yakin kalau mas Panji itu jodoh Nimas. Nimas percaya kalau mas Panji mencintai Nimas sebesar Nimas mencintainya.”

Kulihat mata yang penuh kekhawatiran itu, mata yang selama ini mampu membuatku merasa teduh dan nyaman, tak berkedip memandangku. Menelanjangi di setiap kata-kataku, sebelum akhirnya menguliti keraguan yang dimilikinya. Berhasilkah dia? Entahlah.

Yang jelas, doa restupun terlempar padaku. Kemenangankukah ini? Mungkin. Semoga ibu mengucapkannya dengan kesadaran bukan keterpaksaan. Dan sudahlah, aku tak hendak berpikir lagi.

The Killer

Aku melihat dia, masih dengan langkah yang sama. Dia tegap dan berwibawa. Dia gagah dan berkharisma. Tapi dia bukan idola. Malahan banyak anak-anak yang menjuluki dia sebagai “The Killer”. Akupun ga habis pikir, padahal ga sekalipun dia membunuh seseorang. Mau tau kenapa? Sepele saja. Hanya karena kegalakan dan kedisiplinan yang ditunjukkan ke anak-anak yang kemudian membuatnya memperoleh gelar itu. Dasar anak-anak!

Misgiyanto namanya, guru paruh baya yang mengajar matematika di sekolahan kami. Dia dingin dan terlihat angkuh. Di wajahnya tak pernah kutemukan senyum. Guratan-guratan selalu terpasang di keningnya, membuatnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Kutafsir umurnya 45 tahun. Ga terlalu tua khan?

Melihat dia hatiku bergetar, ketakutan membuatku mempercepat langkahku. Tadinya hanya berjalan cepat, kini akupun sudah berlari. Mengejarnya ? Bukan !! Aku mengejar ketertinggalanku. Ini sudah jam tujuh lebih satu menit, yang berarti semenit yang lalu bel sekolah sudah berteriak. Koridor_koridor hampir sepi. Semua calon pemikir dan pembangun bangsa tergesa masuk kelasnya masing-masing.

“Alamak mati aku !”teriakku dalam hati. The killer berada satu langkah di depanku. Kegugupanku makin kentara. Dan… mak guabruukkk!! Aku terjatuh persis di bawah kakinya. “ Sialan!” gerutuku masih dalam hati juga.

“Maaf pak, saya terlambat,”kataku masih dengan posisi tengkurap dan kepala sedikit mendongak. Dia hanya menoleh dan kemudian berlalu tanpa memperdulikan aku sedikitpun.

Ya Tuhan, aku sakit hati diperlakukan seperti itu olehnya. Tidakkah terpikir olehnya untuk sekedar menungguku berdiri barang semenit dan mengucap sepatah kata menanyakan keadaan ku? Sudah matikah perasaannya terhadap penderitaan orang lain ? Hmm keterlaluan!

Kumelihat banyak anak-anak tersenyum lewat jendela kaca kelas mereka dan bahkan ada yang tertawa melihat penderitaanku ini. Ah sama saja, mereka tak lebih baik dari pada the killer.

Kukumpulkan tenagaku, dan bergegas berlalu dari tempat sialan itu. Sekali lagi aku harus berlari, the killer sudah masuk ke kelasku. Akankah dia mengijinkanku mengikuti pelajarannya? Ataukah akan mengusirku serta-merta? Lalu bagaimana dengan rencana ulangan hari ini?
Ya Tuhan, lunakkanlah hatinya, doaku sendiri.

“Maaf pak, boleh saya masuk?” tanyaku dengan segenap keberanian yang berhasil kukumpulkan. Dia memandangku, sesaat saja. Sekilas aku lihat ada sebenang senyum, sesaat saja, hanya seper sekian detik sebelum kemudian dia berpaling ke anak-anak. Tak salahkah penglihatanku tadi? Sebenang senyumnya telah membuatku melupakan perlakuan buruknya tadi. Keberanianku bangkit, harapanku untuk mengikuti pelajaran dan ulanganpun demikian menggebu.

“Maaf pak, boleh saya masuk?” tanyaku lagi lebih mantap dan penuh dengan kepercayaan diri. Tapi dia diam, tidakpun menoleh kepadaku.

“Kumpulkan buku catatan dan buku pelajaran kalian, dan keluarkan selembar kertas untuk ulangan. Sekarang!” perintahnya yang segera diikuti oleh kesibukan seisi kelas. Hah?? Lalu bagaimana dengan nasibku? Mana sebenang senyumnya tadi?
“Maaf pak boleh saya masuk dan mengikuti ulangan?” tanyaku lagi. Kali ini keberanianku mulai mengendur, keringat dinginpun mulai berjatuhan dari ujung-ujung jariku. Mataku menatap sesosok angkuh dihadapanku, mencoba mencari keikhlasannya.

“Kamu duduk,”katanya dengan tanpa menoleh kearahku.

“Terima kasih pak,”jawabku.

Sekali lagi kumelihat sebenang senyum itu, sesaat saja, hanya seper-sekian detik saja. Itupun sudah cukup untuk menyemangatiku. Ya Tuhan terima kasih. Sebenang senyumnya telah memudahkanku dalam meggarap semua soal-soal ulangan yang diberikannya. Rumus-rumus yang semalam aku hafal dalam keremangan lampu minyak tanah seakan terlihat dengan jelas di depan mataku. Selanjutnya sebenang senyumnya membuatku mencintai matematika, mencintai kedisiplinannya, mencintai keangkuhannya…. Mencoba memahami segala alasan yang mungkin ada di balik sikap-sikap angkuhnya. Sebenang senyumnya adalah sebuah bukti bahwa dia masih peduli. Dan mungkin juga dia mencintai… Aku harap, banyak yang melihat sebenang senyumnya tadi.


Cerpen adalah nyata kubuat untuk Bapak Misgiyanto yang berada di SMAN 1 Blora. Mungkin beliau telah lupa akan kejadian ini, namun aku akan selalu mengenangnya.

dear honey,

I guess
this is going to be my habit
unchangeable habit

no word can describe
or tell
how much you mean to me
and
how much I love you

I will show you
this is no lie

from luckiest man alive,

me

Babu Ngeblog

Ngeblog memang bisa menghilangkan stress, tempat mencurahkan segala uneg-uneg yang ada di kepala. Bagiku juga tempat untuk mengumpat karena jujur saja aku ini termasuk seorang yang kasar dalam bicara. Ngeblog juga untuk mengisi waktu luang, yang bagiku lagi amatlah terbatas, karena kerja seharian yang menyita waktu hampir 15 jam. Maklum, aku khan seorang buruh, mbahku bilang buruh itu jarwodosok(singkatan jawa) dari kata dilebur ora weruh (tanpa sadar di perintah melulu kerja). Banyak tanggapan yang aku peroleh tentang Babu Ngeblog ini. Ada yang mendukung, ada yang mencemooh. Ada yang ngasih saran yang bagus, ada yang ngritik kekuranganku. Kesemua itu kucoba rangkum dalam postingan ini dan kucoba pula tuk peroleh hikmahnya.

Dari kawan-kawan Blog:
komentar nta
tulisan Srinthil nya cukup menghibur,...(setidaknya membuatku tersenyum dikala hatiku hancur)

Kata Chigi28
tulisannya keren-keren terutama puisinya cool!!

Puan Indah Hairani berucap:
saya cuba untuk memahami bahasa Anda tapi ternyata sukar sekali
(Indah adalah sastrawati malaysia, aq ga tau gmn dia bisa nemuin blogku)

Dan berikut adalah dari kawan-kawanku di Hong Kong
Hindun Triyana

S L I(panggilan akrabku), aku baca blogmu itu, sepertinya ga ada yang istimewa. Semua biasa-biasa aja. Ceritanya kurang ngegreng gitu loh, simpel banget. Mbok yao buat cerita yang agak panjang trus dibikin yang ada emosi suka duka cinta gitu biar yang baca tuh ketawa disaat lucu dan nangis di saat sedih. Tapi buat Srinthil aku salut deh, soal ngocol kamu biangnya!!

Ellya Novikawati
Mbak, blog e sampeyan ki wis apik, aku aja mau buat blog tapi ga tau mau nulis apa nantinya, wurung deh,.

Mbak Mega
Kenapa ga masuk ke FLP(Forum Lingkar Pena Hongkong) saja ntar kamu belajar mendalami kata. Tulisanmu tuh terlalu polos, jujur banget. Sudah baik tapi perlu pengembangan dan tuntunan.

Fauzana
Kenapa judulnya Babu Ngeblog seh?? Aku ga setuju, mbok nyari judul yang lebih bagus khan bisa.

Al
Rie, tulisanmu tuh kampungan banget. Seperti lirik lagune Kangen Band saja.

Suwanti
Mana sisi puitismu?? Yang ada kok cuma gremengan tok!

Maryati
Emang yang Proposal cinta itu karyamu sendiri? Atau kamu jiplak dari mana tuh?

Dan lain lainnya...


Maka inilah kesimpulan yang kudapat
Menulis itu ternyata tidak mudah, ngosek WC mungkin jauh lebih mudah. Diperlukan kejelian dan kepekaan oleh seorang penulis agak di setiap paragraf tersusun secara beruntun, bukan kacau balau seperti yang aku buat ini.
Ah apalah aku ini, mungkin dari seratus penulis di Hongkong ini aku masuk dalam urutan ke 99. Pembendaharaan kataku sangat terbatas, pengetahuanku jauh dari cukup, kemampuanku? aku belum bisa mengukur seberapa kemampuanku. Yang aku tahu, aku mempunyai niat dan kemauan,selanjutnya kemampuan mungkin bisa muncul dengan sendirinya. Mungkin akan bisa karena biasa.

Judulnya kayaknya ga usah dipermasalahkan deh, sebenernya aku cuma mau bilang kalo babu juga bisa nulis. Jadi bukan hanya para sastrawan dengan jidat berkerut-kerut saja yang bisa.
Soal bahasa, aku memang membuatnya dengan pencampuradukan antara bahasa Indonesia dengan bahasa jawa. Nah mungkin disini karena ternyata kejawenanku terlalu kental.
Bahasaku kampungan? Memang, itulah yang akan aku jadikan ciri dari tulisanku. Aku ga akan menutupi kekuranganku, kutuliskan saja secara apa adanya. Jadi maaf, kalau kata-kata puitis memang langka adanya di blog ini.

Menanggapi soal tulisanku dalam bentuk bahasa asing/Inggris, dengan bangga ku katakan itu hasil karyaku sendiri. Bukan copy paste, karena aku bukan seorang plagiator. Aku menghargai tulisan dalam bentuk apapun, dan seandainya aku mengcopy tulisan orang pastilah ku cantumkan dari mana asal tulisan itu. Meragukan? Mungkin dalam pikiran Anda babu tuh ga tau menahu tentang bahasa asing selain bahasa daerahnya dan bahasa majikannya, tapi itu salah. Babu juga belajar. Sayang sekali kalau tanggapan seperti itu justru datang dari sekawanan babu sendiri.

Saran dari mbak Mega ada benarnya, pasti minggu nanti kuluangkan waktu untuk kesana.

Btw, makaseh banget atas komentarnya, semua itu semoga bisa membangun aku untuk menulis yang lebih baik. Karena di dunia kata tiada batasan yang kentara, walau babu pun berhak bicara.

Belanja , belanjaa...


Kemaren :
uih ada kaset te Kangen Band yang baru, beli ah. Aq khan ngefans ama band baru satu ini.

Minggu, 18 nop '07 :

Wah celanane bagus-bagus ya, beli ah beli. Lagian hari ini aq khan ultah. Itung2 buat hadiah ultah buat diriku sendiri.

Sabtu, tgl 17 Nop,07 (waktu di pasar) :
Busseeeett, celana dalemme cute bangeett. Rugi deh kalo ga ngambil, lagian murah ini kok.

Aku 2 minggu yang lalu :
(Sambil narik trolly blanjaan dengan tangan nempel di kuping megangin HP)
"Mid, aq dah beli tas adidas yang baru warna putih dengan garis merah dan satunya lagi warna putih dengan garis biru, yg garis biru buatmu ya. Cuma 40 dolar aja kok murah."

Aku 2 setengah minggu yang lalu :
Alamaaakkk... Ini dia yang kucari2. Seneng banget udah ketemu jodo ma tas model gini.
"Kei jin a, cece?" (berapa harganya ini?) tanyaku pada bakul tas itu.

Aku 3 minggu yang lalu :
Jaketnya kancinge gede tapi modelnya polos,klasik kesukaanku, ga terlalu tebel n ga terlalu tipis, cocok ga buatku? Pantes ya??" tanyaku pada Suzy temenku.


Begitulah aku....
Ah ga cuma aku ding, kaeknya hampir semua cewek mempunyai kegatelan yang sama yaitu belanja. Terlepas apakah yang di beli itu benar2 apa yang kita butuhkan apa ga. Payahnya kalo mata neh dah dibiarkan survey kemana2 langsung deh hati bicara "MUST BUY".
Jahhh...
Paling aman tuh kalo pas libur cuma bawa uang terbatas aja. Misal aja bawa 200 dolar, cukup buat makan 2 kali plus beli cemilan gitu. Ato ndekem aja di Library ato kwai-kwai tei(rajin2) di depan kompi sambil ngutak-utik browsing ato chat gitu.

Btw, kalo boleh jujur emang cuma cewek aja yang doyan belanja meh ? Hayoo yang cowok ngakuuuuuu !!!!!!!!

itungan penting buat yang jenius

hasyah, emang bener kalo yang ga jenius mending pergi aja dah, ga usah baca postinganku yang ini. So inilah bunyi postinganku:

jreng jreeeeng!!

BAWA KALKULATOR ambil angka 23, x4, +13, x25, -200, +11, x2, -40, x50, +85, -10500, -50007.

ADA SESUATU?? di coba yak, SANGAT MENARIK !!

"keterangan":
+(tambah)
-(kurang)
x(kali)

Anak Wadon

Dek jaman berjuang
jur kelingan anak lanang
biyen tak openi ning saiki ana ngendi
jarene wis menang
keturutan sing digadang
biyen nate janji
ning saiki opo lali....

Ah tembang itu salah, yang benar adalah "jur kelingan anak wadon", seperti halnya diriku pada saat ini, bantahku dalam hati. Namun uyon-uyon caping nggunung itu terus berlanjut, tak mempedulikan diriku yang sedangberbantah kata mengenainya.

"Pak gek mangan disik to!" teriak istriku dari dalam pawon.
Kesibukan hatiku sejenak terhenti, mengingat hari sudah beranjak malam dan sedari pagi kopiku pun kubiarkan dingin begitu saja. Gelisah hatiku tak menentu, kebahagiaan dan kesedihan bercampur seperti halnya nasi rawon yang aku aduk-aduk tanpa perasaan.
"Pak, ada apa to?" tanya istiku lembut.
"Seperti baru sekali ini manggung aja to Pak, kok gelisah banget."
Ya memang bukan kali ini aku manggung bersama sebelas yoga lainnya, tapi baru kali ini aku merasa getaran yang lain. Selanjutnya acara makan itu hanya semacam keterpaksaan saja, demi istriku yang sudah penat lelah menyajikannya untukku.

Baru saja aku selesai makan, Sarmin datang.
"Bonang barus, bonang penerus, saron, slentem, siter, titil, kendang, gambang, gender, klonang, gong, kempul,kenong, ketug,semua sudah dipindahkan ke rumah pak Haji Sukro, Ki," lapor Sarmin padaku.
"Hem, turnuwun," jawabku sambil manggut-manggut.
Sekali lagi hatiku bergetar, perasaan tak menentu kembali menguasaiku. Satu dua kali aku menarik nafas panjang-panjang sekedar untuk menguatkan hatiku sendiri.

"Paak, jarite wis rampung ki," kata istriku sambil menyodorkan jarik baru kiriman dari anak wadonku.

Hemm...anak wadonku, apakah dia merasakan gejolak yang ada di diri bapaknya ini? Apakah dia merasakan kebahagiaan dan rindu ini? Sedang apa dia disana? Sehatkah? Lagi-lagi setiap aku mengenangnya selalu meninggalkanku dengan sekian pertanyaan. Pertanyaan yang wajar dimiliki oleh seorang bapak yang kangen akan anaknya.

"Pak, mboten dangu kok, kula namung pados modal kangge pawitan gesang kula mbenjang. Kula pengin gesang mandiri, mboten tansah gumantung dumateng tiyang asepuh. Mbok bilih to sampun cekap kula badhe wangsul lan ngabekti dumateng panjengan. Pareng nggih pak?" kenangku pada setiap ucapan terakhirnya sebelum keberangkatannya ke negeri beton itu.
Aku merasakan berat di kelopak mataku. Ada yang bergelanyutan disana yang memaksaku untuk jujur kalau aku menginginkan anak wadonku untuk berada disini, setidaknya untuk malam ini,biar kita bisa berkongsi kebahagiaan.

"Pak, kok malah deleg-deleg, gek ndang jaritan to Pak,"
Lagi-lagi istriku membawaku ke alam nyata, menyadarkan aku bahwa pekerjaan menunggu di depanku. Ah sudahlah, aku yakin dia disana pun bahagia,bujukku pada diri sendiri.
Kuraih jarik dan kuterapkannya menutup kakiku. Jarik batik tulis bermotif pakem yang banyak dipengaruhi oleh seni batik kraton Kasunanan Solo itu di buat dengan menggunakan sutra tenun. Warma coklat keemasannya nampak gebyar-gebyar di sorot lampu. Jarik bermotif sama pula dipakai oleh istriku cuma bedanya adalah wiron punyaku lebih besar daripada punya dia.

"Gendhuk pancen pinter milih ya Pak," gumam istriku bangga.
"Anak e sopo?" jawabku dengan nada bangga yang sama.
"Halah wong genah anak kita berdua kok."
Itulah canda pertama dan tawa pertama ku di hari ini.

Setapak demi setapak kami serombongan "Paguyuban Karawitan Lestari Manunggal" berarak menuju Rumah pak Haji Sukro. Anak-anak kecilpun bersorak dan mengelu-elukan kami sampai akhirnya mereka bergabung di belakang rombongan kami. Duh gendhuk, yen kowe ana kene..., desahku lagi.

Pak Haji Sukro punya hajat mantenan hari ini. Rumah Pak Haji yang selalu ramai, hari ini berlipat-lipat ramainya. Rumah joglo itu terbuka lebar di bagian depannya, kursi-kursi dan meja ditata rapi, segala jajanan di gelar diatas meja itu. Ada hiasan janur kuning disana-sini, ada juga dua batang pohon pisang dengan jantungnya yang masih utuh berada di pintu masuk ke rumah itu. Sementara di dalam sana Suryatiningsih duduk berdampingan dengan suaminya yang sudah disyahkan oleh pengadilan agama sejak siang tadi.

"Sugeng rawuh, sugeng rawuh," kata Pak Haji sambil menyalamiku.
"Matursuwun, " jawabku diikuti dengan basa-basi kejawen yang biasa diucapkan untuk memberi ucapan selamat padanya atas pernikahan anaknya itu.

Mataku tertumpu pada seperangkat gamelan, kesemuanya terlihat kilap karena baru. Itulah hasil keringat anakmu, kataku pada diri sendiri. Adalah keinginannya untuk membelikanku seperangkat gamelan itu, kecintaannya pada kesenian jawa sama halnya denganku.

"Pak, kula kirim arta kajeng kula supados bapak pundhuttaken gamelan. Ingkang wonten Bojonegoro meniko lho pak. Wekdal riyin bapak nate prasaja. Kula kepingin keturutan ingkang bapak gadang. Tumbaske nggih pak nggih,"

Ah, sekarang memang keturutan sing tak gadang. Tapi rasanya belum lengkap kalu anak wadon sing tak tresnani tidak berada di sini di waktu bahagia ini.

Aku merasakan sesuatu bergetar, bukan hanya dari hatiku tapi juga dari benda kecil yang berada dipangkonku. Handphone kiriman anakku itu bergetar berkali-kali. Ada tulisan "nomer tidak dikenal" disana. Ah siapa lagi kalau bukan anak wadonku, pikirku. Dengan satu tangan kuraih HP itu, kusentuh tombol hijau tanda aku bersedia untuk menerima panggilan itu. Wajahku mendadak sumringah, senyum segera terbentuk, semangat segera meluap. Anak wadonku telpon, sorakku dalam hati.

Tapi...ha?? Ini sudah malam, sudah jam 11 lewat, yang berarti disana adalah jam 12 lewat. Karena antara Jawa dan negeri beton itu beda satu jam.
"Nduk, bengi-bengi kok telpon, nanti kalau konangan majikanmu gimana?" tanyaku rada miris. Takut kalau-kalau anak kebanggaanku mendadak kepergok oleh majikannya.
"Ah mboten kok Pak, semua sudah tidur," jawabnya.
"Pripun pak? Lancar sedaya to?"
"Iyo nduk, kabeh lancar. Ini baru mau mulai."
"Waranggana ne sinten pak?"
"Nyi Suparti, saka desa Klopo Duwur."
"Kok tebih sanget...
"Lha kan masih teman dekat te Bapak to nduk,"
"Pak...
"Hemm...
"Kula bingah sanget, HP ne saya hidupkan sampai pagi ya pak, biar saya bisa dengar suara gamelanne."
"Mbok jangan boros-boros to nduk,"
"Ah namung sepisan meniko,"
"Yo uwis sak karepmu. Bapak wis arep mulai manjak lho nduk, ga bisa ngobrol-ngobrol sama kamu."
"Mboten nopo nopo kok pak, kula ngertos."
Dan percakapan berhenti disitu. Ah akhirnya anak wadonku disini walau cuma suaranya saja. Hatiku bungah ora karuan
. Tembang demi tembang mengalir dari suara merdu Nyi Suparti. Masih dalam pikiranku membayangkan seolah suara merdu itu berasal dari anak wadonku sendiri. Gendhuk juga pinter nembang mungkin kelak dikemudian hari dia bakal menjadi pesinden yang sejati.

Dek jaman berjuang
jur kelingan anak wadon
biyen tak openi ning saiki ana ngendi
jarene wis menang
keturutan sing digadang
biyen nate janji
ning saiki opo lali....

Ah liriknya sudah ganti,...

.....00......

Jam 9 pagi saat aku terbangun dari tidurku, kulihat ada sebuah sms dari anak wadonku.

Pak, kula tilem angkler sngt
Rasane kados pun keloni klih
bpk simbok. DEne kula ngimpi
dados waranggana nembang uyon2
caping gunung. Pak, benjg
desmbr kula wangsul, kangge
selamine. Kula pengin sesarengn
kalih bapak nguri2 kabudayan
jawi.Pulsa telas sanes wekdal
kula tlp, trisno Gendhuk.


"Suu, Suu!!" teriakku pada istriku.
"Anak wadon arep bali Su, ra sida tambah kontrak. Suu, Suu....
anak wadon arep bali Suu.............

Antara Hujan dan Batu

hujan takut datang
walau awan sudah penat penuh membawa titiktitik airmata
kau tahu kenapa?
kupaksakan dia kembali keasalnya
aku ini wanita tegar
teriakku

dan kembalilah dia ke muara
dimana dukaderitasakitnestapa


dia berubah bentuk menjadi batu
batu yang sedemikian tajam dan keras

lalu kusentuh batu itu
kugenggam dan aku terluka

sampai angin datang dan menegurku
"air mata bisa mengurangi luka,
sehingga sakitnya tak seberapa
kenapa engkau tak melepaskannya?"

tapi aku lebih suka menggenggam batu
menjadikan tanganku hancur dan berubah merah
dan tak hendak aku membiarkan hujan
tak hendak aku membiarkannya berjuntaian
tak hendak aku melepaskannya

Srinthil 3 : Kurban Chattingan


Halah tanggal tua, kelabakan deh. Terlajur uang terkirim semua ke kampung halaman demi bapak yang merengek2 minta di belikan bebek. Setelah 2 bulan yang lalu minta di belikan kebo. waduh! Masalahnya ini bebek berhubungan dengan kebo kata bapak. Bebek ini akan mbantu bapakku untuk meringankan gaweannya.

Walah pak, lha udah ada kebo buat ngrakal sawah dan juga narik gerobak kok minta bebek to, protesku pada bapak.
"Pokok e kudu beli bebek, aku ga kuat jalan jauh atau naik ontel," katanya dengan aji2 pengeyelannya.

Dan yang ga kira2 itu adalah harga bebek yang hampir sama dengan 2 bulan gajiku, buseeeettt. Ini bebek yang di maksud sama bapak adalah si sepeda motor yang rencananya mau di bawa buat ngarit, karena daerahku rumputnya dah pada langka jadi harus pergi ke daerah laen buat ngarit, yang konon kata bapak letaknya lumayan jauh.

Berhubung aku neh termasuk anak sing bekti lan ngurmati sama orang tua, yo uwis tak belikan. Kurang piye jajal?

Nah sekarang kembali ke... tanggal tua, bukan laptop, emang aku Tukul Arwana?! Itung punya itung kaeknya si Srinthil seminggu yang lalu dah gajian tuh, ehm. Kalo bulan lalu dia ngotot kalo uangnya bakal di kirimin ke emaknya yang lagi sakit wudunen, nah mungkin sekarang dia lagi ga ada rencana buat ngirim duit neh,pikirku.

Tit tut tit tut tut tit tit tut, dengan lincahnya jariku yang ngapalen mencet2 HP nelpon si Srinthil.
The number you are calling is currently unavailable please call again later, tuut.
Asem tenan! kemana neh anak?

Gubrraaakkkk!! Suara seseorang jatuh di belakangku, waktu kutoleh ya ampuuun si Srinthil to.

"Walah kamu neh jalan ga ngeliat jalan apa, lagian kalo mau jatuh di lihat dulu nek kamu tadi jatuhin aku trus piye jal? Udah tau khan kalo aku tuh kutilang dara (kurus tinggi langsing dada rata) gini, lha opo ga gepeng aku?" kataku sambil membatunya berdiri.

"Uhuk uhuk...
"Uhuk uhuk...

"Lho lho lho, kaya gitu aja nangis to, ya maap lah kalo omonganku rada kasar. Wis to ah ojo ngisin2 ni gitu, cup cup meneng," bujukku.

"Uwa uwaaa...
Halah kok malah tambah kenceng nangisnya. Kebingungan aku di buatnya, perasaan bersalahku menyebabkan aku menggandeng dia masuk ke Victoria Park dan duduk di lapangan itu yang sudah kugelari plastik terlebih dahulu.

"Uwis to Srinthil, aku khan dah minta maap. Wong cuma kaek gitu aja kok kamu nanges to," bujukku lagi.

"Mbak...
"Piye?" jawabku agak lega karena dia akhirnya mau ngomong juga.
"Aku nanges bukan karena kamu marahin aku," katanya sambil maseh sesenggukan.
"Lha trus karena apa?"
"Oalah mbak, begini to rasane putus cinta itu."
"Lha emange dirimu lagi putus cinta po? Gek pacarmu sapa kok ga tau cerita ma aku," kataku kecewa.

Biasanya sekecil apapun si Srinthil selalu menceritakan padaku. Mulai dari celana dalamnya yang terbang di tiup angin sampai bosnya yang suka ngupil. Lha ini, wong dia punya pacar kok ga crita ma aku ya? Apa takut nek tak odain pacare po? Ga percaya amat seh dia sama aku,pikirku.

"Mbak...
"Arip kuwi wedus tenan kok,"
"Arip sopo? Gek kenal dimana?"
"Arip kuwi loh sing kemaren dulu kenal di chatting. Habis itu khan aku setiap hari minggu chat ama dia terus, orangnya tuh dulu pengertian, humoris tambah wajahnya cakep kaek Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta itu loh. Trus lagi dia bilang dia cinta ama aku, aku juga gitu mbak, ga tau kenapa kok aku juga suka ama dia. Trus dia minta tolong ama aku katane bisnis ayam petelurnya kurang lancar jadi dia tuh butuh uang. Trus aku kirimin mbak, malah jatah yang buat ngobatin wudun ne mbokku juga ke ambil buat dia. Trus lagi bulan ini sabtu kemaren tuh, dia minta uang lagi katanya kandang ayamnya rada rusak trus butuh dana buat.....

"Sik sik sik...nek ngomong tuh mbok sing alon2 gitu. Intine gini to, kamu kaseh gajimu bulan yang lalu ama bulan ini ke si wedus Arip gitu ya?" tegasku.
"Iyo," jawabnya malu.

Waduh, lemes aku,trus aku utang ama sapa ya, dalam hatiku bertanya.

"Lha nek emang kalo kamu ama dia sama2 cintanya, trus ntar kalian tuh ada jodoh. Jadi pas nanti kalo kamu udah finish kontrak trus pulang mbojo gitu, nek gitu yo ga popo to," sambungku ragu.

"Uwa uwa...
"Halah ngopo maneh?"
Gregeten aku sama si Srinthil pembawaannya yang cengeng itu ga nguatin banget. Coba kalo aku ni ga setia kawan udah tak tinggalain dari tadi dia.

"Arip kuwi mau chat ama aku, tapi lamaaa banget dia ga jawab pm ku, padahal aku loh cuma chat ama dia. Trus aku di ajarin ama mbak sebelahku suruh "BUZZ", trus tak buzz trus eh lha kok dia tuh ngomong mesra banget ama cewek laennya. Lara atiku," isak si Srinthil.

"Oalah nduk,"
"Trus dia tak telpon mbak, supaya cintaku ga tergantung. Lha kok dengan tenangnya dia bilang aku ini bukan siapa2 baginya. Orang chat tu ya kayak gitu, katanya. Kalopun aku mau kirim uang ke dia itu murni kebodohanku, dan untung di dia. Sakit atiku mbak,"

"Yo uwis to Sri, mau gimana lagi wong udah terlanjur. Ya buat pelajaran aja bagimu, nek jangan terlalu percaya ama wedus. Orang bisa ngomong ndakik-ndakik, ngomong manis2 tapi padahal dia tuh wedus gibas sing paling mambu.
"Wis to ah, ayo ndekem ning library wae lah buat ngedem-edem atimu."

Dan berangkatlah kami menuju ke Library yang berada tak jauh dari tempat lesehan kita tadi. Matahari makin turun, dan aku ga mau Srinthil larut dalam kesedihannya dan terbawa sampai rumah bosnya. Kesedihan ini harus berakhir, pikirku.


Fenomena semacam ini sering terjadi di kalangan kawan BMI, so GIRLS OPEN YOUR EYES BEWARE OF SNAKES!! Jangan cuma nurutin kata hati, pakai logika dan otak sebelum bertindak.

Pedoman Babu


1. Bangun tidur cari SAPU
2. Majikan pergi mapan TURU
3 Selesai masak makan DULU
4. Selesai mandi dandan AYU
5. Kalo dah nganggur cepat utang KARTU, dijamin bisa ngguyu n tambah lemu.

Kalo kamu kerjakan kelima pedoman itu,jangan kaget menerima hadiah surprise dari BOSMU. Karena berupa tas besar berisikan semua BAJUMU, n di suruh cepat2 cari EJENMU...


YA ALLAH semoga ini ga akan terjadi padaku dan juga temen2KU...
Walo kita sering melakukan ITU...

(kumpulan sms gila)

Beraraklah Awan Pilu



Jumat tgl 26 Okt kemaren aku mendapat sebuah buku, kiriman dari bang Latip yang ada di Malaysia sana. Merupakan keberuntunganku menemukan blog bang Latip(www.latiptalib.blogspot.com), karena ternyata beliau itu orang tersohor di Malaysia. Novelis yang bergelar datuk tapi lebih suka dipanggil pak atau bang ini merupakan penulis novel perjuangan sejarah islam. Beraraklah Awan Pilu memenangi tempat ketiga hadiah Sastra Kumpulan Utusan pada 2005(Malaysia tentunya). Novel berkategori remaja yang sarat akan pesan positif ini ternyata di dasari oleh pengalaman pribadi beliau.
Novel ini setebal : 246 halaman, terbitan Exxon Mobil.

RINGKASAN CERITA
Dalam novel tersebut menceritakan tentang... Syafiq seorang pemuda Malaysia yang berkelana untuk mencari bapaknya ke negeri Brunei. Dia hanya berbekal sebuah cincin kawin, selembar foto mendiang ibu dan bapak yang sedang dicarinya dan beberapa uang saja. Di atas pesawat yang membawanya ke Brunei dia berkenalan dengan Marissa, seorang gadis yang sombong.

Perangai Shafiq yang sopan dan santun serta kepercayaannya kepada Tuhan membawakan dia dipercayai dan didoakan oleh setiap orang yang ditemuinya di jalan.
Mungkin adalah keberuntungan karena dia bertemu dengan Marissa lagi, kali ini ban mobil si gadis kempes tertancap paku, sedang mesin mobilpun susah dijalankan. Shafiq membantunya. Sepeninggal si gadis itu ditemukannya sebuah dompet,milik si gadis yang terjatuh. Dan karena Shafiq adalah pria yang jujur maka di kembalikannya dompet tersebut kepada pemiliknya.

Lagi-lagi sebuah keberuntungan, Dato'Mansor/ayah Marissa mempunyai wajah yang serupa dengan foto bapaknya(bapak Shafiq). Shafiqpun berniat untuk mencari tahu kebenarannya, diterimalah tawaran untuk menjadi sopir di keluarga itu.
Perangai Dato' Mansor dan Datin Siti amatlah beda. Kalau sang Dato' adalah orang yang ramah dan berbelas kasihan, maka Datin adalah seorang yang sombong dan suka merendahkan orang sama halnya dengan Marissa.

Berbagai suka duka dijalani di keluarga tersebut, Marissa pun melunak dan berubah perangai terhadap Shafiq. Sedang Datin masihlah sama. Sampai akhirnya Dato' tertusuk pisau oleh ulah penjambret sekeluarnya dia dari sebuah Bank, Demi menolong nyawa sang Dato', Shafiq mendonorkan darahnya. Darah yang sama rupanya benar-benar mengalir dari tubuh mereka.

Hal yang menimpa Dato' Mansor itu membawa perubahan dalam diri Datin, beliau sedikit melunak hatinya. Dan sekembalinya sang Dato' membawa pengakuan. Diceritakannya kepada Datin kalau di pernah menikah di Malaysia dan bahwasanya Shafiq adalah anak kandung satu-satunya(Marissa hanya anak pungut).
Damai di keluarga Dato' Mansor. Namun Shafiq berkeinginan untuk pulang ke Malaysia. Meneruskan cita-citanya. Sebulan kemudian Dato/ Mansor, Datin Siti dan Marissa menyambangi Shafiq di kampungnya. Sebuah hajatan dilakukan untuk mendoakan mendiang Kalsom(ibu Shafiq) dan juga untuk membenarkan cerita tentang siapa bapak Shafiq yang sebenarnya. Maka telah beraraklah awan pilu.

TANGGAPAN SAYA TENTANG NOVEL INI
Judul yang bagus, sesuai sekali dengan isi cerita. Novel ini di tulis dengan gaya bahasa yang sederhana tapi mengena. Bahasa Melayu dan bahasa Indonesia tidaklah jauh beda. Hanya saja mungkin ada beberapa kata yang tidak lazim digunakan di Indonesia dan itu membuat saya membacanya berulang-ulang untuk mendapatkan maklumat yang sebenarnya(mungkin juga karena saya terlalu bodoh).
Gaya tarik dari novel ini menurut saya adalah kemampuan bang Latip untuk menyisipkan tentang bencana yang menimpa Aceh dan juga sejarah tentang negara-negara terdahulu. Dan juga pesan-pesan positif keagamaan(islam) tanpa perlu menuliskan dalil-dalil islam kedalamnya.

BUAT BANG LATIP
Kabarnya novel-novel bang Latip hendak diterbitkan di Indonesia, selamat/tahniah!!
Semoga mereka(orang-orang di Indonesia) sama antusiasnya seperti saya. Dan semoga bang Latip diberi kesehatan untuk terus berkarya. Amin.

Kisah Reni

Sebuah kisah nyata ini dialami oleh salah seorang temanku. Sebut saja namanya Reni. Gadis asal Bandung yang lahir hampir bersamaan denganku ini mempunyai satu kelebihan, yaitu lemak.

Lemak, bagi seorang wanita umumnya adalah sebuah momok, menakutkan. Wanita mana seh yang menginginkan perut besar, kaki gajah, tangan seperti gebuk maling? Pastinya ga ada. Dan itu termasuk Reni. Sering dia mengeluhkan ini padaku, sering juga dia mengagumi akan kekurusanku. Padahal aku sendiri seh ingin agak gemukan dikit.

Rabu itu kesialan terjadi pada Reni, dia menyebutnya demikian. Termination yang juga adalah suatu hal yang menakutkan bagi BMI(BMI= buruh migran Indonesia/TKW), yang artinya pemutusan hubungan kerja sepihak yang dilakukan oleh majikan terhadap pembantunya, hari itu terjadi pada Reni. Kenapa?
Sebuah invoice/tagihan di temukan. Rupanya temenku Reni lupa mengambil surat2 buat majikannya. Kebetulan si bos mengecek kotak surat hari itu. Pokoknya sial deh, aku ga nyalahin si bos kalau dia seketika marah melihat invoice dengan tulisan merah. Bos mana yang mau kalau babunya ternyata menimpuk hutang di luar sana?

Yang aku sayangkan dari sikap Reni adalah, waktu dia menelponku dan bilang "Ri, aku ngebreak kontrak" Padahal kenyataannya adalah sebaliknya. Dia di terminit bukan dia yang break contract. Mengapa harus bohong? Aku paling ga suka ama kebohongan, ku pikir dia tau akan hal itu tapi ternyata tidak.

Kisah sebenarnya baru aku ketahui hari jumat dari bos dia yang kebetulan adalah kawan karib bosku. Waktu itu mereka lagi "ngrasani Reni" dan aku mendengarkannya. Halah ternyata ngrasani itu bukannya hal wajar bagi babu saja tapi ternyata bos kalo ketemu bos juga sama. Kisah Reni ini cukup lucu, dia pinjem uang itu untuk keperluan SPA dan kecantikan dia tiap minggu, mungkin biar bisa langsing n cantik kali, buseeettt.
Spontan ngakak aku mendengarnya, seakan tak percaya "apa bener seh". Aku yang adalah seorang yang straight forward banget langsung bertanya ada bukti ga? Bos Reni tuh nunjukin invoice ke aku, invoice bukan hanya dari badan kredit uang aja tapi juga dari spa terkenal di Hongkong, ampuuuuuuuunnn deh!!

Kisah Reni ini bisa aku ambil hikmahnya, bahwa mensyukuri nikmat Allah adalah sangat penting. Makanya walo dengan hidung pesek, gigi gede2, lambe ndoweh, batuk nonong plus kutilang dara(kurus tinggi langsing dada rata) aku tetap bersyukur Alhamdulillah, aku masih normal. Satu hal lagi kejujuran, karena sewaktu aku tau kalo aku di bohongi sama Reni, hatiku sakiiit sekali. NO LIE( kalo bisa seh). Dan juga jangan sampe terjerat hutang deh, we"ll never knows what lies ahead. Iya khan?!

Srinthil 2 : Belajar Chatting

"Mbaaak...mbak Rii!" teriak Srinthil kepadaku sambil menjinjing rok panjangnya yang klengsreh nyaponi dalan. Dandanane feminin banget hari ini, walau terbilang masih kerja bakti alias masih dalam masa potongan 7 bulan untuk nyaur utang kepada agen yang telah menyalurkannya kerja di Hong Kong. Rok warna kuning kunir bosok plus kaos rada ketat warna putih di tambah tas adidas(palsu) warna item dengan garis keemasan. Waduh, boleh juga dandanane.

"Mbak Rii.. mbok mendeg delok po'o mbaak," katane dengan payudara(maap) yang naik turun karena ngos-ngosan.
"Ono opo to?" jawabku. Aku lho mau ke warnet bentar, selak warnet te kebak uwong je.
"Lha kuwi kepeneran, wis jan pas banget mbak."
"Nyapo to?" mau ikutan pa?"
"Ho oh karep ku tuh mau minta tolong mbok aku di ajarin chatting po'o mbak," katane merajuk.
"Halah wong chatting wae ko ndadak di ajarin barang, nanti khan kamu bisa sendiri to."
"Lha wong aku ra tau nyekel komputer je."
"Yo uwis ayo."

"Lantai brapa seh mbak?"
"Lantai 8 atase CSL itu loh."
(CSL tuh nama salah satu konter simcard di Hkg)
"Lho mbak kok kesitu?" tanyanya heran.
"Lha kuwi liat aja, sing antri lift wae panjang banget gitu kok. Wis mlaku lewat tangga waelah," kataku.
"Cisiiiin..." gerutu si Srinthil.(cisin=edan/gila)

----****-----

"Mbak leh mbukak komputer ki piye," tanyanya mbingungi sambil pencet2 semua tombol yang ada di keyboard.
"Sabar to, aku tak nyelehke bokongku sik," jawabku anyel. "Nah gini loh carane..."
Wah ceritane aku lagi jadi tutor chatting neh, akhirnya dengan kemampuanku yang pas-pasan aku ngajarin si Srinthil cara nge-boot kompi, mbuat ID trus masuk ke YM. Sebelumnya sempet gontok-gontokan sama Srinthil tentang ID apa sing pantes buat dia. Dan keputusan terakhir, ID "mutiara lumuten" menjadi hak milik Srinthil sepenuhnya. Buseettt.
"Wis yo, tak tinggal ngliat imel ku dulu, kamu chatting aja dengan cowok2 itu.
"Ho'o, makasih yo mbak."
Dengan jari pas persis kayak Petruk dia ngetik. Wis jan telunjuke tuh keceng teng, kaku gitu. Hi hik...
"Mbak kok sing mau chat ma aku banyak banget to, piye iki?"
"Matiin aja join roomnya."
"Carane piye?"
"Halah kowe ki ribut banget seh. Ngene lho, di klik sing tanda silang ning pojok kanan atas itu, trus di buang cowok-cowok e,jangan chatting terlalu banyak orang,malah bingung mengko."
"OK lah mbak, tursuwun," jawabnya sambil pringisan.

Kembali aku pada komputerku sendiri, mataku mecicil melihat jumlah imel yang ada, ga biasanya seorang babu ndableg kayak aku ni dapat imel segini banyak. Ada 5 dari free_koteka, ada 3 dari bidadari_chatting, trus lagi dari june_kadaluwarsa, tempe_penyek, sambel_belacan, putra_sumatra, canada_jantan, dan laen-laennya, waduh piye leh ku njawab? Mumet.

"Uhuk..uhuk...
"Uhuk..uhuk...
"Uhuk..uuu....

Halah lha nyapo ki bocah kok malah mewek gini? Tak kirain tadi tuh lagi enjoy chat ma gendakan-gendakane, lha kok malah nangis sesenggukan gini.
"Nyapo seh? Ada apa to?"
"Kuwi lho mbak..uhuk..uhuk..." katanya sambil nuding ke layar kompi.
"Lha nyapo wong chatting kok malah nangis?" tanyaku masih juga ga ngerti.
"Kuwi lho mbak...hu ..uuu...

Mataku melotot melihat ke layar kompi di hadapan Srinthil. Marah, dongkol banget rasane aku. Selama hidupku kenal ama dunia maya nih baru kali ini aku merasakan penghinaan yang luar biasa oleh lawan chat. Pasalnya si bedes elek itu menuliskan kata-kata yang amat sangat menjijikkan sekali banget. Coba kalo dia ada di hadapanku pasti dah tak pentungi pakek gagang sapu, ben monyor kabeh lambene. Pantes aja si Srinthil sampe nanges kayak gituh.

Mau tahu ga ama apa yang di tuliskan sama si munyuk sialan tuh?Pastikan?!
Dia menuliskan begini, "Berapa harga memekmu dijual di pasaran Hongkong?"
kebangeten ga tuh? Asem tenan kok, emange disini kita jualan memek apa? Apa ga tau tugas mulia kita tiap hari yang mulai dari nyapu, ngepel,masak, momong simbah, momong anak, angon dog2, nyuci car, dsb...

Dasar wong nek lambene ndower ki, ngomong asal njeplak saja, ga pake mikir ga pake otak. Waton ngomong tok, ora ngomong nganggo waton.
"Uhuk...uhuk...uwaa...
"Lho mbak kok sampeyan melu nangis?" tanya Srinthil yang sudah reda dari tangisnya.

lho kok??

Cinta Seorang Pengemis

bajuku satu
kumal dan tambalan
celanaku satu
item dan koloran
sandalku satu
merah dan pedotan

ya
semua serba satu
seperti cintaku
seperti cintaku
cintaku satu kamu
kamu satu cintaku

pada kaleng sahabat sejatiku
dia selalu menemaniku
menadah rejeki
yang terjatuh

O kaleng cintaku
taukah kau akan cintaku padamu
cintaku satu kamu
kamu satu cintaku

(dari lantai 19, di bawah sana kulihat ada pengemis)

Salut!!


Baca2 di blognya ndoro kakung sebagai tombo stress terutama kalau si bos lage kumat karena kurang sajenne n luntur jopa-japune.

Nah salah satu postingan yg bertajuk "pembantu pecas ndahe" adalah yang tak baca pertama kali. Maklum itu sesuai dengan propesiku sebagai babu.Berikut adalah potongan dari postingan itu...


....Mosok cuma para majikan, juragan, ndoro, atau priyayi saja yang boleh punya blog? Mosok cuma karyawan sakit hati yang boleh misuh-misuh, mengumpat tempatnya mencari makan? Mosok para pembantu ndak boleh bikin perkumpulan? Mosok cuma tulisan yang ndakik-ndakik yang boleh diposting? Mosok lelucon gombal ndak boleh disebarkan?...


Hoyeee ono sing mbelani, salut deh!


Tapi mas mo nambahin aja, kalo menurut pendapat pribadiku sih, kita neh cuma pengin di "uwongke" mangsute kita sebenere mau dihargai karena babu toh juga manusia, jadi hargai hak kita sebagai manusia. Pelecehan kerap terjadi, penghinaan, penyepelean, lha nek gitu itu berarti babu khan ora di uwongke. Paling sebel aku sama orang-orang sing sok pinter, sok semugih, sok iso...dll.
Pengin wae tak antem watu raine ben pecah ndase. Lha wis piye maneh, nganyelke kok. Ben ne po'o.

Sepi

sepi
turuku kinemulan pedhut wengi
ngendi tresna sing wingi?
ilang digawa dedhemit ratri

Happiness is...

( kebahagiaan menurutku )



Happiness is...
Makan indomi goreng tanpa pelototan mata bosku

Happiness is...
Tanggal 17 waktu gajiku

Happiness is...
Tidur ampe pagi tanpa gangguan bos kecilku

Happiness is...
Sms dari kawan-kawanku

Happiness is...
hari minggu

Happiness is…
Aku!

Srinthil 1 : Babu Baru Bernama Srinthil

Srinthil 1: Babu Baru Bernama Srinthil

Siapa sih yang engggak kenal dengan Srinthil? Hayo...! Sapa coba? Waduuh... kok banyak yah. Ah itu mah wajar saja, karena Srinthil itu bukan seorang yang terkenal ataupun tercemar. Dia wanita biasa yang tinggal di rumah biasa. Cuma satu yang enggak biasa dari Srinthil yaitu, keinginannya yang luar biasa untuk menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan golongan dan kepentingan bersama. Lho?

Oke-oke, jangan prutes dulu dunk ah. Srinthil tuh temenku yang ayu tur lugu, seneng ngguyu & jarang mecucu. Wis lah pokoke ayu tuenan!! Dia lahir dan dibesarkan di Malang kemringet (mang ada?) Itu loh soalnya kalo mo ke Malang ndadak usek-usekan di atas bis selama 3 jam, bayangin aja apa ga kemringet tuh?

Nah demi kepentingan pribadinya yaitu untuk memajukan harkat & martabat & juga harta keluarga, Srinthil yang senasib sepenanggungan denganku itu 3 bulan lalu pergi ke Hongkong. Sebelumnya dia mendekam dalam PJTKI selama 5 bulan. 


Nah, hari ini adalah hari pertamanya dapat libur. Dan hari ini adalah hari keberuntungannya karena bertemu sama aku. Pertemuan yang tidak disengaja. Pertemuan yang diprakarsai oleh sebuah botol. 

Ceritanya miggu itu aku libur sendiri, praktis enggak ada kegiatan di pagi harinya. Capek menyebabkan aku menetapkan bokongku pada salah satu bangku di pojok selatan lapangan Viktoria yang berdekatan dengan toilet umum, lalu aku bertemu dengannya.

Ceritanya begni...

Aku mengambil botol air dari tasku, berbekal air adalah kebiasanku. Tapi tiba-tiba saja pandanganku terhadap botol itu mengabur, eh bukan, menyuram, ah entahlah. Yang pastinya dikarenakan ada seseorang berdiri persis di belakangku. Yang berarti si seseorang itu menutup sebagian sinar karena matahari naik dari balik punggungku.

Dia melihatku dengan tatapan aneh, seperti antara takut dan pengin tahu. Rambutnya cepak, celana jeans nya agak kegedean, kaosnya berlogokan PT. ABCD, salah satu nama PJTKI terkenal di Pluit, Jakarta. Ciri-ciri seperti ini biasanya dimiliki oleh babu baru, artinya dia baru saja datang dari Indonesia.

"Mbak,” panggilnya mengambang. Sorot matanya tegak lurus menatap botol airku. Bibirnya masih menganga untuk seper-sekian detik.

“Ya,” jawabku singkat. Walau aku berpakaian tomboy tapi suaraku amatlah lembut. O pakaian tomboy? Inikah yang membuatnya takut terhadapku? Mungkin, mungkin…

“Ada apa mbak?” tanyaku karena dia tak hendak juga menggerakkan bibirnya untuk bicara setelah 2 menit berlalu.

Tangannya menunjuk kea rah botol airku dan matanya masih tetap sama, tegak lurus menatap botol itu. Hauskah dia? Segera saja aku ulurkan botol air itu.

“Haus?” tanyaku.

“Minum aja’” tambahku pula.

Tiba-tiba saja dia mundur selangkah sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tatapan matanya beralih ke wajahku.

“Nggak kok mbak, bukannya haus, itu lho mbak, botol itu…”

Kali ini matanya beralih ke botolku lagi, jari tengahnya menunjuk-nunjuk, sedang tangan yang satunya lagi menggantung di samping badannya sambil memegang erat tas kresek plastik warna putih.

“Apaan seh? Ada apa dengan botol ini? Ini air matang lho,” kataku tidak mengerti.

“Itu punyaku, itu bukan air matang mbak,” jarinya masih menuding ke botolku. Dia menggigit bibir bawahnya seperti layaknya seseorang ketakutan terhadap sesuatu.

“Sayang.... aku tadi bawa botol sendiri, lha kok bisa kamu bilang kalo ini adalah botolmu? Nalar e ki piye?”

Aku dah mulai kesal tapi melihat wajah innocent dia, marahkupun tak jadi keluar. Membayangkan semasa aku masih baru di Hong Kong sini, tentunya masih selugu dan sepolos dia. Kesalku kutelan kembali bahkan kini rasa kasihan segera membanjiri. Perasaan seperti ini adalah wajar terjadi di antara para TKW, perasaan semacam saling mengerti dan memahami karena kami toh berada jauh dari famili jadi siapa lagi yang terdekat dengan kami selain sesama babu?

“Mbak, tenan kok tadi aku naruh botol air ndek sini trus tak tinggal ke WC. Lha pas aku mbalik ke sini lagi sampeyan udah duduk di sini. Menjejer dua buah botol,”

Aku? Menjejer botol?” tanyaku bingung.

“Lha ya itu botol yang ada di samping kiri mbak, yang satu lagi sekarang ada di tangan mbak. Dan yang ini mbak, yang ada di tangan embak ini, ini adalah botol airku. Soale ndek botole itu tak kasih tulisan namaku. Lha itu lho masih ndek situ tulisane,” katanya menjelaskan panjang lebar tentang status per-botolannya.

Beralih mataku mengamati botol yang sudah berada di tanganku sejak 15 menit yang lalu. Ku alihkan pula pandanganku di samping kiri mejaku. Dan benar saja sodara-sodara, ternyata sebuah botol berdiri tegak di sana. Bingung aku, mendadak garuk-garuk kepala dan rasa kisinan segera menggerayangi diriku. Waduh duh, kok bisa aku ngambil botol sing salah iki mau piye?

“Iya ya, emang ini ada tulisane Srinthil, namamu tho mbak?” tanyaku mengalihkan pembicaraan ben ra katon isinku.

“Iya,”

“Baru datang ya?” tanyaku pula.

“Iya,”

“Libur pertama kali?” tanyaku lagi.

“Iya,”

“Sendirian ya?”

“Iya,”

“Rum…

“Mbak anu maap, mbok saya minta balik botol saya, soale selak kebelet mau ke WC,” katanya.

“Lha tadi katanya udah ke WC?”

“Lha ya itu, karena tadi botolnya ga ada ya ga jadi ke WC. Ke WC khan butuh botol mbak!”

“Ha? Ke WC butuh botol? Lha emang mau buat apa? Kaek mau ngumpulin air kencing buat tes urine aja,” tanyaku bingung.

“Bukan tes mbak, tapi anu itu maksudnya butuh air yang dalam botol itu,”

Pusing banget aku ngomong sama orang yang selugu dia. Botol buat ke WC? Air di botol buat ke WC? Semakin aku mencoba menggatuk-gatukkan antara botol, air di botol dan WC semakin kepalaku pening. Benar-benar aku ga ngerti dengan jalan pikiran si babu baru yang bernama Srinthil ini.

Sembari mengulungkan botol itu aku berkata lagi, “Di WC khan ada keran tho mbak, kalo mau cuci tangan pakek keran khan bisa.”

“Lha nek cebok trus piye mbak?”

“Oalah…ya pakek tissue lo, ga punya ya? Ini lho mbak tak kasih tissue,” kataku. Tanganku menyerahkan botol air itu sekaligus juga tissue.

“Mbak aku ini ndak bisa cebok kalo ga pakek air, rasanya kok ada bau anyir gitu, njijiki,”

"Huwakakak...," spontan aku ngakak! Siapa seh yang ga bakalan ketawa dengerin jawaban dia yang amat polos itu?

“Oalah mbak mbak, wong udah di Hongkong khan beda ama di desa mbak,” jawabku di iringi tawa yang ga bisa di tahan lagi.

“Gak bisa mbak, ini sudah kebiasaan saya, buktinya saya sudah 5 bulan disini juga ga bisa pakek tissue kalo ke WC. Udah dulu ya mbak, kebelet neh,”

Dan berlarilah dia menuju WC umum terdekat.

Sekembalinya dari WC dia mendekatiku. Mungkin karena dia sendirian dan baru jadi butuh seseorang untuk diajak ngobrol. Saat itu aku juga sendiri, biasanya aku berkumpul dengan teman-temanku yang lain di sore hari. Dan keluguannya itulah yang menarik hatiku, kepolosannya, kesederhanaannya menjadikan aku bisa bicara banyak. Kujelaskan dia tentang banyak hal yang menyangkut tentang cara kerja maupun pergaulan di Hongkong. Hongkong yang bebas ini sayang sekali kalau mengkontaminasi jiwa bersihnya. Minggu ini aku merasa menjadi seseorang yang berguna sekali.

Demikian awal kisahnya hingga Srinthil kinipun sejajar dengan kawan-kawanku yang sudah kukenal bertahun-tahun lamanya.

Proposal Cinta


Loving some one is very hard. The learning curve could be so steep. It's hard to say right or wrong. It's always comes in a mixture of sweetness and bitterness. Patience is one thing, comprise is another.

The thing that I hate most about a relationship is that the feeling of being afraid to offend the other person. I guess there is no such thing called honesty in this world. Sometimes, telling lies is a must, which I hate to do it!! Why should two people in love tell lies to each other? And then, sometimes truth cuts like a knife. So, what should we do? how are we gonna get the balance?

I sometimes got very frustrated and I will dislike myself very much. I will blame myself for not being able to control myself, or the situation. You see, it's the sense of incapability, feeling like I am a real loser. That hurts.
While one person is breaking the walls and the other is building blocks, that won't work. I guess this is not what we are though, thanks God!

May be I should just say less? May be I am scared, feeling so cold all of sudden. Then, I will say to myself, "hey, not only me need support and understanding, you need that too" The two "MEs" are fighting. Trying to find the way out.

You see, I do need more from you so to understand you more. Or I don't want to know coz I m trying to hide away from the truth. This is very scary. Wanting to know, but afraid to know.

I have no idea why I love you so. With you I see the different world. You are like salt and pepper to me. You spice up my tasteless life. To that, I thank you.

I dunno how can I keep you here with me. My strategy is to...love you. I dunno how either. Trial and error, that's the only way, I suppose. Just hope that I won't make big mistakes.

I am not sure if you are the one, again, trial and error.

Yes we should love like we never been hurt. And yes, it's easy to say. To do? Deep down inside we are scared to lose, to get hurt.


I didn't chose to meet you, but I chose to make this relationship to develop. No words can describe or tell how much you mean to me. Sound like a joke huh? but it is true. I am inviting you to join me. I am inviting you to be part of my future. You make this all complete. No matter what, please stay with me.
I LOVE YOU

______________________________________________



 

Buseeeeeeeettttt, bingung mau di masukin kategori apa. Cerpen, bukan. Puisi, kepanjangen. Prosa,apaan tuh? Mumetzz!!

Almost Insane

“All I really need to know about how to live and what to do and how to be I learned in kindergarten…. Share everything….”

Some where in a book in which I have forgotten about the writer, I have found those words. Well, that is true for sharing is a good thing to do in life. May be, I have taken so much by those words. It has changed me from country kind of girl into rock kind of lady.

It might be just a little tiny bit of leaping from just simple sharing into a such a thrilling sharing. But half of the world against me.They said that I have assumed it (sharing) wrongly. I think they have misunderstood me, seriously completely misunderstood!

Most say the way I share is impossible, almost insane. See, I am not talking about sharing toys or things here, but love. There is an awesome guy who has made me fall deeply in love (or may be, fall madly in love as well). The guy who can be a prince in any season of my heart. I might have summer, fall or winter in one day but he is always be my sunshine. He is the one who give me brightnes and power to survive. I know, I knew, all of woman may not be as lucky as me but you do have some one (or some hope) for having this kind of man, don't you?

OK, I will make it short! I am falling in love to a 45 years old man. Why 45? This is the age when the man has his prime, the golden year, isn't it? Into addition, 45 years married old man. Oh yes!

So deeply in love I till I feel that sharing him with his wife is very much better than not having him at all. It is normal to me. I don’t care what he has done with his wife out there, I don’t even want to know. All I want is his love when he is with me. That's it! 

I had sex with him, gave him everything. May be a little bit too excessive but this is probably all of my fault. I let him do it without any rejection.  How could I resist it? I never had the power to do it. I am bound to him. I was never be able to separate which one is love nor pleasure. Can you?

 But how can the hell be so different about this "sharing" thing from other's opinion?

“You are sick!” my friend snapped at me.

“ I don’t think so, I am perfectly fit,” I denied.


“You are sick and need a treatment!” she added.


“Oh I see, you hate me telling about him. But he is all topic I have."


There is a long pause, both of us are not paying attention to each other anymore. I don’t know why I feel like vomiting, her words are giving me a sudden sick. I may know her a couple of years earlier than "my man" but she is no matter to me anymore. Ever since her disliking and her thinking of me, that is the end of our friendship. Having her as a friend is like having an enemy under the pillow. It pricks your head and let you bleed to die a lot earlier. When some one is no longer understand you, she is nobody.


I really don’t care if some one says that I am stupid and stubborn because I am. Once I have made up my mind there is no way to change. I love him and that is that!

_______________________________________________





 

nyoba sedikit "miksi" pakek bahasa Inggris, haha!! mawuttt grammarnya....

Stuck on You

you know
my world is all built around you
Sometimes, when I don't see you
I feel so lost
it's kinda stupid
or may be
I should not let you know

I supposed to be strong
apparently,I am not that strong
may be
I haven't done my best is just not good enough

I hate to make you unhappy
unfortunately I did it many times
I just want you to take care of me
as you know
I am such a sensitive person
you are a gift to me
the right person to spend the rest of my life with

honey, I love you
I need you

--------------------

for someone, somewhere

Tersandung Cinta

"Aduh celaka!" teriakku kaget dan tertahan. 

Tertera 3:17 AM ketika aku melirik pojok kanan laptopkun (ralat=laptop pinjeman dari bosku). Sedemikian asyiknya aku dengan temuan terbaruku, berita lama dari Suara Merdeka tanggal 20 Nov'06 tentang Pemenang Lomba Blog 2006, membuatku gentayangan di dunia maya hingga lupa waktu. 

Segera saja kusimpan (bookmark) tiga buah situs dan mematikan laptop yang terasa panas. Tetapi baru saja aku hendak meraih stop kontak lampu kamarku, terdengar suara langkah kaki mendekat dan kemudian berhenti dua meter dari pintu kamarku. Seperti kungyan (babu) kebanyakan, kamarku bersebelahan dengan dapur. Serta merta kuurungkan niatku dan pura-pura telah tertidur pulas.

Sorot lampu kamarku tembus keluar.

"Masih belum tidur juga ya?" tanya bos dari luar kamarku (yang lebih mirip kalau disebut gudang).

"Cece..!" panggil bosku padaku.

"Ya," jawabku lemah.

"Sudah jam tiga kok belum tidur juga," kata bos, terdengah nada marah disana.

"Forgot to switch off the light, I overslept," jawabku berbohong.

"Ooo..," kata bos.

Terdengar suara air yang dituang ke dalam gelas kemudian langkah kaki menjauh dari dapur (kamarku bersebelahan dengan dapur). Aku lega. Saat itu aku benar-benar harus tidur walau dengan membawa perasaan penasaran hingga ke dalam mimpiku. .....

Aku bertemu Sudaryono Ahmad pemilik http://penakayu.blogspot.com, Muhammad Sulhanudin pemilik http://embunkehidupan.blogspot.com juga Ahmad Munif pemilik http://munif.wordpress.com, ketiganya adalah pemenang lomba blog 2006 pemenang ke tiga, dua dan pertama.

"Ngeblog itu berbagi," kata mas Sulhanudin.

"Ngeblog itu memberi pencerahan," kata mas Sudaryono.

"Ngeblog itu...ah..sepertinya aku terbang kalo lagi ngeblog," kata mas Munif sambil tersenyum.

Aku heran, mengapa ketiga orang itu begitu antusias sekali untuk ngeblog. Apa itu ngeblog? Blog? Ngeblog? Blog? Ngeblog.......??

....ngeblog itu berbagi....

....ngeblog itu pencerahan...

....ngeblog itu terbang....

Kata-kata itu terulang-ulang di kepalaku dan membuatku pusing dan hampir saja bangun kesiangan.

"Blog ngeblog...., blog ngeblog....," kata itu masih menghantuiku sewaktu aku mencuci muka dan menggosok gigiku. Masih terngiang-ngiang saat aku memandikan si kecil Katelyn, saat aku membersihkan rumah, saat aku berada di ruang tunggu menunggu Katelyn les, saat aku masak. 

Ah rasanya ingin sekali aku menyegerakan semua pekerjaanku supaya aku bisa berdiam di depan laptop untuk mencari info tentang blog.

"Cece, nanti kamu tidur ama Katelyn ya," kata Mrs Wong atau dhai-dhaiku alias bos perempuanku.

Jangkriiiiikkkkkkkkkkkk!!" umpatku dalam hati. Di saat hati sedang menggebu-gebu ingin tahu tentang blog kok malah gak ada kesempatan buat ngenet. Akhirnya harus kupendam keinginanku hingga minggu keesokan harinya saat aku mendapatkan liburku.

Minggu itu...
Perpustakaan yang berada tak jauh dari rumah bosku segera menjadi tujuanku. Di sana terdapat akses internet beserta beberapa desktop yang bisa digunakan oleh siapapun. Hari libur itu aku gunakan sepenuhnya untuk mencari tahu tentang "blog". Dari jam 10 pagi hingga jam lima sore ketika perutku mulai protes karena tidak diisi sedari pagi.

 www.s-lestari.blogspot.com adalah blog pertamaku, yang berisikan celotehanku. Namun blog tersebut terpaksa aku bantai sebagai korban ganti layout dan pengeditan. 

Kemudian di 2 september 2007 blog keduaku yaitu www.babungeblog.blogspot.com aku ikrarkan. Setelah berpusing-pusing dengan layout dan pengeditan dan html, java script yang sama sekali tidak aku kenal. Babu Ngeblog? Mengapa? Ya karena aku adalah babu, seperti juga kata ndoro kakung:

...Mosok cuma para majikan, juragan, ndoro, atau priyayi saja yang boleh punya blog? Mosok cuma karyawan sakit hati yang boleh misuh-misuh, mengumpat tempatnya mencari makan? Mosok para pembantu ndak boleh bikin perkumpulan? Mosok cuma tulisan yang ndakik-ndakik yang boleh diposting? Mosok lelucon gombal ndak boleh disebarkan?...

Benar, aku jatuh cinta, jatuh cinta pada blog. And when I fall in love...it will be forever...


memori juli-september 2007


post signature



Teman Baru itu Bernama Laptop

"You can use this," kata Mr Wong menyerahkan laptop warna abu-abu bermerk DELL seri Latitude/D610 kepadaku. Hari itu awal juni 2007, dua minggu sebelum aku menandatangani kontrakku yang kedua. Aku tertegun. Antara percaya dan tidak atas berita tersebut.

"But I don't know how to use it yet," jawabku jujur.

"Enter the internet, search there. You can learn a lot of things from there," jawabnya.

Aku semakin bingung, bagaimana mungkin aku tahu cara pengoperasian laptop ini kalau dasar-dasarnya saja aku tak tahu? Seminggu yang lalu aku mengenal komputer dari Indah, seorang kawan yang kemudian mengajakku ke warnet dan mengenalkanku dengan sebuah program. Program unik dari komputer yang dengan adanya program itu aku bisa bercakap-cakap dengan siapapun di dunia manapun pada saat itu juga. Program yang kemudian kukenal sebagai Yahoo Messenger/chatting, program yang kemudian juga menghancurkan impian Indah karena katanya dia di tipu oleh seseorang yang di cintainya lewat program tersebut. Aku pusing, setahuku program di komputer ya chatting itu. Dan kalau sebuah program hanya akan menghancurkan saja kenapa harus di pelajari?

Mr Wong membuka laptop tersebut, menekan tombol terbesar di sebelah atas yang serupa mesin tik elektrik(sekarang aku kenal sebagai keyboard), seketika itu juga laptop menyala.

"Kamu pencet ini kemudian masukkan kode ini," kata Mr Wong menjelaskanku.

"Nah, kamu lihat icon internet itu?" tanyanya.

"Yang mana?" tanyaku di tengah kebingunganku.

"Yang "e" itu, artinya Internet Explorer, coba klik icon itu," perintah bos.

Aku begitu bersemangat, segera saja aku melakukan perintah bos. "Icon "e" untuk "Internet Explorer", aku mencatatnya dalam otakku.

Sebuah program terbuka, YAHOO! Mendadak saja aku kecewa, mengapa bos menyuruhku untuk masuk program ini? Untuk menghancurkanku?

"Yahoo ini adalah homepage dari internet explorer di laptop ini, yang lainnya ada wikipedia, ada ICQ, ada MSN dan masih banyak lagi. Dari sini kamu bisa membaca berita, mencari info, mencari teman, belajar bahkan juga berbisnis," jelas Mr Wong.

Aku masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh bos. Dan ditambah dengan bahasa yang ada di komputer itu adalah bahasa asing, yaitu bahasa Inggris, aku semakin ragu kalau aku bisa mendapat pencerahan dari benda kecil berbentuk segi empat tersebut.

"But, in English? All in English?" tanyaku mengambang.

"Ya cari saja yang bahasa Indonesia," jawab bos sambil tersenyum.

Hari itu aku mengenal internet, hari itu juga aku bisa membaca kompas, suara merdeka, jawa pos begitu senangnya bisa membaca berita Indonesia tanpa harus pergi ke perpustakaan pusat Hongkong. Dan aku bisa membacanya setiap hari! Setiap hari sebelum waktu tidurku.

Bos benar, dari internet aku bisa belajar banyak hal. Terimakasih bos...


----------------------------------------

Memori Juni 2007








post signature



2 Tahun Pertama Itu

2 tahun pertama itu adalah kerja keras yang indah bagiku. Indah karena kemudian aku bisa mendapat simpati dan kepercayaan dari bos. Sempat dua kali mendapat peringatan dari bos dan hampir dipulangkan, namun entah dengan pertimbangan apabosku kemudian mempertahankanku.

Ramai temanku menyarankan agar aku berganti majikan saja dari pada menambah kontrak pada majikan yang sama. Oleh temanku pekerjaanku dianggap terlalu memakan hati.

Aku hanya tersenyum, aku pikir kalau bosku yang meminta padaku untuk menambah kontrak berarti dia memang benar-benar membutuhkanku. Lepas dari segala peraturan yang di berikan kepadaku mereka adalah tipe majikan yang perhatian sekali terhadap kesehatan dan makanku, apalagi yang di cari oleh seorang pembantu?

Ada 2 kamera yang dipasang di rumah yang mengikuti setiap gerak-gerikku dalam bekerja. Mereka (bosku) memantauku dimanapun mereka berada, di kantor, di restoran saat makan siang mereka, di bar saat mereka bertemu dengan kawan-kawan mereka ataupun di saat mereka sedang mengadakan vacation. Kamera rumah selalu terhubung dengan komputer dan HP mereka. Semula aku merasa risih, merasa kalau mereka selalu menaruh rasa curiga kepadaku, sempat juga merasa tertekan selama bulan-bulan pertama namun kemudian ku biarkan saja hingga aku kini terbiasa.

Walau kerjaku dipantau oleh kamera, beliau (bosku) pun mengharuskanku untuk menuliskan setiap kegiatanku di hari itu secara mendetil. Mulai dari saat aku bangun pagi pukul berapa, ke toilet dari jam berapa samapai jam berapa, membuat susu hingga memberikan susu kepada si kecil Katelyn berapa lama dan berapa banyak, mengepel lantai dari jam berapa sampai jam berapa dan sebagainya hingga saat malam jam kerjaku, semua kegiatan di tulis tanpa terkecuali. Sering aku mengelus dada tentang ini, betapa susahnya untuk mendapatkan simpati ataupun kepercayaan dari mereka.

Pun liburku ditentukan oleh jam bukan hari. Selama sebulan aku hanya berhak libur selama 16 jam yang di bagi 3 kali, yaitu satu kali 8 jam di hari sabtu dan 2 kali 4 jam di hari minggu. Aneh bukan? Seharusnya aku berhak libur satu kali dalam satu minggu dan setiap satu libur adalah fullday, 24 jam. Dan yang lebih aneh adalah peniadaan libur kalau aku berbuat suatu kesalahan sebagai hukumanku.

Ada kalanya aku iri melihat teman-temanku yang lain, mereka mempunyai kebebasan untuk berinteraksi dengan yang lain, sedangkan aku tidak. Larangan untuk berbicara dengan orang lain juga larangan untuk menggunakan HP di rumah selalu ditekantegaskan oleh kedua bosku. Di samping itu beliau juga mengharuskanku menyerahkan daftar teman-temanku beserta alamatnya, juga melaporkan kemana pergiku selama aku libur. Menelponku setiap dua jam sekali dan menanyakan keberadaanku di waktu liburku.

Sampai kinipun aku tak mengerti alasan mereka. Dan seperti inem-inem yang lain, kuterima saja semua peraturan yang menjerat hak dan kebebasanku itu dengan keikhlasan yang kupaksakan.

Dan hari itu, aku ingat persis 3 bulan sebelum kontrakku habis mereka memintaku untuk bekerja dengan mereka lagi. Aku diam. Seminggu kemudian baru kuberikan jawaban.

"Saya bersedia bekerja lagi di sini dengan syarat. Yaitu mendapatkan libur sesuai hak saya," kataku saat itu.

Keberatan di mata mereka jelas sekali terlihat. Berat melepasku untuk libur satu kali dalam seminggu.

"I would rather pay you than allow you to have a holiday, it's just too much for us," kata bosku.

"It's just as much for me," jawabku.
"I can't do anything with that tight holiday schedule from you. Saya selalu cemas pulang terlambat daripada menikmati libur saya," protesku.

"OK, bagaimana kalau kamu ambil 2 kali libur dalam sebulan trus kami bayar kamu sebagai ganti kalau kamu enggak libur," kata Mr. Wong.

"OK, but I want it full day. On Sundays" jawabku.

"Agree," kata Mrs. Wong.

Hari itu aku merasa seperti seorang pahlawan penegak kebenaran. Kebenaranku sendiri.


post signature