Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Tampilkan postingan dengan label celotehan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label celotehan. Tampilkan semua postingan

Software & Hardware di dalam Underwear

Beberapa hari yang lalu time line FB dihebohkan dengan sharing beberapa foto, foto rumah megah yang dihancurkan. Foto bersumber dari seorang TKW Taiwan berinisial M. Rupanya, M sedang mempunyai masalah keluarga yang boleh dibilang ruwet dan boleh dibilang hais mbuh ngono kae.

Permasalahan keluarga itu pelik, bisa jadi semua orang mempunyai andil salah. Bisa jadi mereka engggak ada yg mau ngaku salah. Ya umumlah gitu, siapa sih yg mau disalahkan selain tiang listrik yang malang itu? (lho kok jadi bawa-bawa tiang listrik sih?)

M, seorang mantan istri yg sedang berang. Menurut dia, rumah itu hasil keringatnya bekerja di Taiwan yangg dibangun di atas lahan mertua. Masih menurutnya janda cantik asal Malang ini, rumah megah itu dihancurkannya setelah dia cerai. Katanya juga dia cerai karena suaminya selingkuh. Dan pas dia menanyakan tentang kepemilikan rumah yg dibangunnya, mertuanya menamparnya. Sehingga jalan yang dipilihnya kemudian adalah menghancurkan rumah beton bercat hijau muda yang baru selesai dibangunnya setahun yang lalu.

Karena penasaran, akhirnya aku kepo juga metani FBnya. Bukan hanya FB M tapi juga FB mantan suami M. Sebenarnya dulu aku tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi detektif, tapi berhubung rasa ingin tahuku lebih besar daripada tiang listrik (ya elah...tiang listrik lagi), aku pengin tahu kebenarannya walau sudah bisa dipastikan gak bakalan berhasil.  

Aku mendapati dua cerita yg berbanding terbalik. Si cowok bilang, mantan istri itu pernah selingkuh hingga digerebek. Hal itulah yang menjadi  bibit pertikaian rumah tangga mereka yang berujung perceraian. Kata mantan suami, setelah cerai M  meminta dia membeli rumah itu. Tapi karena mantan suami tidak mampu membayar akhirnya rumahpun dirobohkan.

Lalu ada berita lagi kalau lahan yang ada rumahnya itu akan dibeli untuk dibangun tower sehingga rumah harus dihancurkan.

Terlepas cerita mana yg benar, aku merasa alhamdulillah sekali tidak ikut komen atau menyebar fotonya.  Banyak kasus memang, banyak kawan yang kerja mati-matian jadi TKW tapi ditinggal jaran goyang oleh suami ngacengan dan penyuka "software" bernama memek dan semua hasil keringatnya dikuasai mantan suami beserta selingkuhannya. Banyak pula kasus teman-teman yang bekerja jadi TKW ini kecantol dan temangsang pada "hardware" berupa "batang" yg lebih keras. 

Kasus Software dan hardware di dalam underwear ini universal dan manusia (wi) banget. Bisa terjadi pada ustad dan ustadzah bercadar, bisa terjadi  pada artis yang pengin nyelebritis, bisa pula terjadi pada wong-wong gedhe. Tapi yang jelas ini tidak akan terjadi pada tiang listrik karena tiang listrik sudah pakai rompi oren.


Ngeblog Lagi

hiatus sejak 3 Oktober 2014

Wuaaaa.....3 tahun....!

Bukan nggak ngeblog lagi sejak itu, ada blog lain tapi yang bisa baca cuma segelintir orang alias private, yang mau mbaca aja kudu ada invitasi lewat e-mail. Pelit? Ho oh.

Berhubung hari ini ngendon di KJRI-HK dan Library, ya sudahlah mencoba membuka blog sing wis lumuten.

Daaannn....aku lali carane nulis di blogku. Begitu nulis, gaya tulisanku udah beda, gak seperti dulu. Seperti antara ngempet dan nge-rem. Kagok banget. Tulis...delete...tulis...delete.

Wudun semat, kakek-anipun!

Semoga bisa aktif ngeblog lagi.






















Cerita 2 Oktober

:Untuk kawan-kawanku di Hong Kong

Namanya Safi atau ah... sebenarnya aku tak tahu. Dia cuma mengenalkan diri dengan nama Safi begitu, tanpa aku tahu bagaimana menuliskan namanya dengan baik dan benar. Tapi lucunya dia suka dipanggil Sapi'i oleh kawan-kawannya. Geli juga mendengarnya. Cewek secakep dia, dengan hidung mancung dan bibir tipisnya, mata bulat dan tubuh tinggi semampainya, dipanggil Sapi'i? Ah! 

Malam itu kami berbagi meja di sebuah restoran cepat saji di kawasan Hennesy Road di atasnya Mc Donnald, Causeway Bay. Itu tuh tempat mi yang ada mangkoknya yang berdiameter 30 cm dengan menu mie-mienya.

Awalnya aku acuh, melihatnya duduk pun tidak. Aku lebih disibukkan dengan foto-foto demo mahasiswa-mahasiswi Hong Kong yang menuntut demokras yang sebenarnya (pilkada langsung) di Hong Kong (semoga bisa ngeblog tentang itu). Mataku menatap lekat ponsel android murahan dengan headset menancap erat di ke dua belah kupingku. Ketika aku sedikit mendengar suara tapi tak jelas, kulepaskan headset yang menyumpal di kuping kiriku, namun masih kurang jelas juga. Akhirnya kuputuskan untuk mencabut keduanya lalu berkonsentrasi pada makhluk cantik yang mirip artis Korea (bedanya cuman jerawat dia banyak) di depanku itu.

"Sendiri, Mbak?" tanyanya dengan senyum ramah.

"Iya. Kamu juga?" tanyaku.

"Iya. Pada nggak libur," jawabnya.

"Asal mana, Mbak," tanyanya lagi.

Pertanyaan biasa bila bertemu seseorang pertama kalinya adalah: nama, asal, kerja di mana, kerjanya apa saja, bosnya galak apa enggak, sudah berapa lama di HK.

Yang membuatku tertarik adalah bibirnya yang tipis dan bergincu tipis (atau entah warna bibirnya memang pink) yang selalu menyunggingkan senyum ketika berbicara itu. Hei! Itu khan biasanya aku? Biasanya aku yang selalu tersenyum-senyum ketika berbicara, bukan? Dan betapa cantiknya melihat seseorang berbicara dengan tersenyum-senyum begitu.

Lalu aku sibuk membuat kesimpulan-kesimpulanku sendiri. Gadis cantik berambut pirang ini pasti ikutan nge-dance atau fashion show deh, soalnya dia terlihat stylish banget dengan eye liner tipis yang membuat matanya tampak lebih bulat dan dengan kacamata yang digunakan untuk bando itu. Lalu jawabannya membuatku tercengang.

"Dulu iya, dua bulanan. Lalu keluar," jawabnya.

"Kenapa?" buruku.

"Yang ngajarin pulang. Tapi sebelum itu aku juga merasa kurang nyaman. Pengeluaran banyak untuk manggung. Sepatu, kostum. Fashion juga gitu," jawabnya yang kujawab balik dengan "o" saja.

"Sempat pacaran pula, tapi sudah putus lalu sekarang temenan biasa aja sama dia," katanya.

"O baguslah kalau baik-baik. Jangan berantem ya," kataku.

Ok, aku memaklumi, itu adalah privacy dia. Mau pacaran sama siapa kek itu urusan dia. Sudah mau berbagi dengan aku sejauh inipun sudah luar biasa bagiku. Entah mengapa aku seperti punya kekuatan untuk memaksa lawan bicaraku untuk menjawab pertanyaan "mengapa dan bagaimana"-ku. Menjelaskan sesuatu padaku dengan suka cita.

Mungkin karena aku melihat mata lawan bicaraku dan dengan begitu mereka merasa aku bisa dipercaya untuk diceritai sesuatu, atau mungkin pula karena mereka sedang desperate ingin berbagi, entah.

"Suka begini. Bebas. Tak banyak teman, tak tergantung sama satu teman. Bisa ke mana-mana. Hiking, atau apa, enak-bebas," jelasnya.

"Libur tiap Minggu?" tanyaku.

"Iya."

"Nggak tertarik ikut kursus? Komputer, bahasa Inggris, Akuntansi? Banyak yang gratis kok," aku menawarkan.

"Mmm... Pengin menjahit tapi belum tahu di mana," jawabnya.

"Ada di sana, di situ (menyebutkan tempat kursus menjahit). Mau aku antar?" tanyaku.

Namun dia menjawab dengan tersenyum. Mungkin untuk saat ini belum tertarik, mungkin nanti, pikirku. Tiba-tiba aku jadi ingin sharing sesuatu, tiba-tiba aku merasa mempunyai kewajiban untuk menyampaikan sesuatu.

"Ketika kamu sudah setua aku, sudah selama aku tinggal di HK sedang kamu kurang mempunyai ketrampilan, maka kamu akan merasakan penyesalan sepertiku," kataku memulai.

"Tapi aku SMA aja nggak lulus, Mbak. Dulu kelas dua naik ke kelas tiga aku keluar, karena ingin kerja," kata gadis asal Kediri ini membela diri.

"Di sini kursus enggak perlu ijasah apapun. Kursus yang gratisan juga banyak," kataku.

"Aku cuma pengin punya uang, pulang, nikah, punya anak lalu enggak ke mana-mana lagi," kilahnya.

"Amiin," jawabku.

"Aku ditinggal ibuk ke Saudi dan aku tahu benar bagaimana susahnya kurang kasih sayang dari ibuk," katanya.

"Aku nggak pengin ke mana-mana kalau sudah punya anak. Aku mau di sampingnya, aku mau di sisinya, ngerawat dia," matanya menerawang.

"Aamiin," kataku lagi.

Karena sudah sementara waktu ditunggui orang untuk giliran meja makan dan petugas restoran juga telah dua kali datang mengangkut mangkok dan gelas kami, maka kami beranjak.

"Lihat demo yuk," ajakku.

Kami menyusuri Hennesy road ke arah Wanchai lalu balik lagi ke Causeway Bay. Di depan MTR station exit F, Causeway Bay, kami berhenti sejenak sebelum berpisah.

"Mbak, sebenernya aku nggak mudeng dengan demo ini," katanya jujur.

"Aku ini tahu apa ya?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Baca. Jangan cuma membaca status cekakakan  di FB thok tapi enggak peduli lainnya," kataku.

"Aku suka sesuatu yang ringan, yang enggak usah mikir, yang bisa membuatku rileks. Bukan berita-berita berat begitu," nah gadis kelahiran tahun 1988 ini membela diri lagi.

"Kalau gitu enggak usah tahu sekalian, enggak usah nanya. Nanggung kalau tahunya cuma sedikit, mending nggak usah, hehehe...," kataku.

Lalu kami pun berpisah. Dia terpaksa naik MTR karena tram nya enggak jalan padahal dia bilang paling suka kalau naik tram. Ha! Kebalikan sama aku yang paling benci naik tram. Sedang aku memilih naik minibus.

Entah mengapa, aku merasa sedikit berat meninggalkannya, merasa belum selesai aku menjelaskan sesuatu tapi juga merasa tidak perlu menjelaskan terlalu panjang lebar. Takut kalau-kalau terkesan terlalu menggurui. Dan satu perasaan lain yang membuatku tak selesa adalah: waktu "kepulanganku" (ke tanah air) sudah semakin dekat dan aku belum merasa berbuat apa-apa, belum belajar apa-apa.

Puasa Pertama di Hong Kong

Gara-gara pilpres, jadi lupa posting tentang puasa di Hong Kong padahal ini sudah ada di draft hampir tiga minggu yang lalu. Fiuh!

Jujur sampai sekarang saya belum tahu, sebenarnya apa sih hukumnya makan sahur dari makanan hasil curian atau selundupan makanan lopan/majikan?

Sembilan tahun yang lalu ketika puasa pertama saya di Hong Kong jatuh pada bulan keempat saya mengabdi pada keluarga Wong, situasi saya serba sulit. Untungnya kedua lopan saya berangkat kantor dari pukul delapan pagi hingga tujuh malam, jadi pada siang hari aman-aman saja untuk berpuasa. Justru godaan terberatnya adalah saat sahur. Tiap kali memasak untuk dinner hanya cukup dimakan tiga orang saja, yaitu untuk saya, nyonyah dan pak bos. Jadi pas itu ya terpaksa sedikit ngutil makanan dinner trus disimpen di dalam BMW (sebutan untuk tas geret belanja) dan setelah lopan tidur baru saya bawa setengah mangkuk kecil makanan itu ke kamar saya. 

Dulu saya dilarang keluar rumah dan saya manut saja, lha khan masih baru dan lugu gitu (kalau sekarang mah tiada hari tanpa berantem). Kendati bisa keluar rumah, uang saya juga tak cukup untuk membeli sepotong roti sekalipun

Dengan sisa gaji hanya $270 (setelah membayar $3.000 upeti kepada agency sebagai biaya penempatan dan pemberangkatan saya ke Hong Kong), saya nyaris seperti babu terndoweh se-Hong Kong. Lha iya, wong uang segitu itu harus bisa  untuk dua kali libur (dalam sebulan dulu saya dapat libur dua kali padahal seharusnya dapat libur sekali dalam seminggu), beli softex, sabun/odol, pulsa dan MBK. MBK? Kenapa harus memakai MBK kalau keringat saya saja wangi? Iya, di PT saya dulu semua calon TKW diwajibkan untuk membeli dan memakai MBK setiap hari. Lucunya MBK tersebut harus dibeli dari toko di PT. Dan itu (membeli dan memakai MBK) menjadi kebiasaan saya selama dua tahun pertama di Hong Kong. Terlebih karena mantan pembantu lopan yang dulu bekerja hanya dalam waktu dua minggu itu dipecat kuwarasan dengan alasan bau badannya yang nyegrak.

Saat libur dulu saya paling hanya makan satu kali saja yaitu satu jam sebelum saya pulang kandang (pulang ke rumah majikan setelah libur). Selebihnya saya selalu membawa air dua botol kecil, satu polopau (roti nanas) dan dua sisir pisang. Payahnya, di bulan Ramadhan saya terkena virus yang bernama "kemaruk". Walhasil pisang dan polopau yang bisa disisihkan untuk saur diembat juga saat berbuka puasa. Akibatnya tentu teruk sekali.

Nah, berhubung manusia adalah homo sapiens yang cerdas maka saya mendapat ilham untuk memenuhi tuntutan kedua,  mencari makanan untuk sahur.

Lumbung makanan itu adalah kulkas dan kulkas berada di dapur dan dapur berada persis di depan kamar lopan. Dengan ilmu maling yang saya warisi dari petinggi negeri yang kerap korupsi, saya mengendap-endap dengan tujuan untuk blusukan ke dapur.

Perasaan sih cuma sekian detik saja saya membuka kulkas dan screening isi kulkas sambil mengunyah selembar roti tawar, mendadak kulkas menjerit histeris. "Tit...tit...tiit..tiit....titititititititititiiii..." Paniklah saya. Langsung saja kulkas itu saya tutup mak jebret. Baru saja mak jebret, pak bos sudah berada di samping saya. 

"What are you doing?" tanyanya. Pertanyaan lumrah itu tiba-tiba seperti auman macan Asia pada pukul 3 dini hari.

Dengan mulut dipenuhi roti tawar, saya spontan menjawab, "Baby hungry. 

Jawaban itu pastilah membuat pak bos kebingungan. Tidak mungkin bayi yang belum berumur enam bulan itu makan roti, lha wong bubur encer saja tidak. Kenapa tidak mengambil botol susu? Kenapa roti? Atau mungkin juga beliau tidak melihat roti karena gelap gulita, semua lampu padam. Saya tak tahu. Tapi saya berusaha keras mempercayai alasan kedua dengan dada masih berdebar-debar karena kaget yang masih menguasai.

Beliau berbalik ke kamarnya tanpa bertanya-tanya lagi, saya lega. Dan saya (terpaksa) masuk ke kamar bayi sekedar mengecek sekaligus pura-pura ngasih susu.

Oalah...nyuri makanan untuk sahur apa hukumnya?

Nama Cina Jokowi & Prabowo

Pas selesai dinner. Pak Bos masih di meja makan nungguin anaknya yang belum selesai makan. Apple Daily (salah satu nama koran) di tangan kanan, I-phone di tangan kiri, kepala mlengos ke dapur.

"Do you know this Waithotho and Polabowo?" tanyanya.


"Hem? What food is that?" aku balik bertanya karena merasa enggak mudeng dengan pertanyaannya. Biasanya sih kalau pak bos atau nyonyah membaca koran lalu memanggilku berarti lagi pas melihat resep makanan dan nyuruh aku masak seperti itu besuk harinya.


"Lei ko President a (presidenmu)!" teriaknya. 



Disorongkannya I-phone miliknya kepadaku. Di I-phone itu kulihat dua foto yang akhir-akhir ini lagi panas-panasnya jadi trending topik, Prabowo dan Jokowi, di wall FBnya pak Bos. Oalah...jadi nama Cina Prabowo itu Polabowo (Prabowo Subiyanto:  的前女婿普拉博沃)  sedang nama Cina Widodo itu Waithotho (Joko Widodo: 印尼奧巴馬」維多多) 

Tampak Prabowo memakai baju putih yang lagi pidato dan Jokowi yang memakai kotak-kotak lagi ancang-ancang lari di panggung, disaksikan ribuan folowernya. Ternyata kawan-kawan kerja bosku juga ada yang berasal dari Indonesia dan mereka juga sama-sama gencarnya update status tentang kedua capres fenomenal tersebut.

"What does he say?" tanya pak bos sambil nunjukin postingan di FB temannya.


"Talking about quick count," jawabku.
 

"What does he say?" tanya pak bos sambil nunjukin FB temannya yang lain.

"Demonstration on Sunday coz some did not have chance to vote," jawabku. Jiah..malam ini aku jadi translator dadakan.


"How about you? Did you go and vote?" tanya pak bos lagi.


"Yes."


"Does any of this Withotho and Polabowo make any difference to you here?" pak bos semakin ingin tahu dan dia menanti penjelasan dariku.


Aku unjal ambegan sebelum menjawab. Berdoa semoga aku enggak salah ucap atau salah memberi info.


"This one (sambil nunjuk foto) said he wil blablabla.... And this one (sambil nunjukin foto) said blablabla...."
 

"There is a plan to stop sending Domestic Helper, you know," tambahku, berharap pak bos ketakutan mendengarnya. Diluar dugaanku pak bos dengan kalemnya menjawab: "Don't trust them 100%, they will change after won the vote."
 

"That is so damn true!" teriakku dalam hati dan kecewa juga karena gagal menakut-nakutinya.

"What does he say?" tanya pak bos lagi sambil nunjukin FB temannya, aku jengah.


"They are two versions of news about election in HK," jawabku. 


Tiba-tiba.... Mak jederrrr..! Ada link blogku di situ, dishare oleh temennya bosku. Modiarrr kowe Rie..!!

"Why are you so "kepo"?" (kepo: bhs Hokkien artinya pengin tahu) kataku menunjukkan wajah tidak suka (sekaligus was-was)


"Just curious," jawabnya sambil mesem lalu kembali lagi ke I-phonenya.


Aku buru-buru pergi biar nggak ditanyaain lagi. Ughh! Nyaris!

Kisruh Pilpres di Hong Kong

Jam 5, pintu utama sudah tutup.
Foto by Kyteth asti

Saya merasa mempunyai kewajiban untuk menuliskan kericuhan pelaksanaan pilpres di Hong Kong. Beberapa e-mail, whatsapp dan inbox FB dari kawan-kawan menanyakan berita-berita yang tumpang tindih di media sosial (medsos) dan meminta kejelasan dan kesaksian saya tentang apa yang saya lihat dan saya dengar di TPS. Sebagai mantan reporter di beberapa media cetak berbahasa Indonesia di Hong Kong, insting saya menuntun saya ke mana saya harus bergerak dan menyaksikan kejadian yang patut digarisbawahi (bukan berniat menyombong tapi karena ada beberapa komentar dan pesan yang meragukan kebenaran postingan saya).

Berita di medsos terlalu banyak MSG dan ditambahi di sana-sini. Entah pula dari mana medsos itu mendapat keterangan. Apakah dari orang yang menyaksikan langsung atau sekedar berita "katanya"?

Akhirnya pembaca digiring pada pada opini ini-itu sesuai kepentingan medsos tersebut. Namun bukankah tugas medsos untuk memberikan fakta? Bukan opini atau isu? Kalau opini atau isu kenapa harus diberi label berita? Ya memang negara Indonesia ini negara besar namun bukan berarti sebuah berita harus dibesar-besarkan untuk membesarkan Indonesia. Bah!

Saya bolak-balik ke lapangan rumput Victoria Park, tempat pesta terbesar sepanjang sejarah berbangsa dan perpolitikan Indonesia di Hong Kong. Saya dan beberapa kawan juga sudah menduga akan adanya kesemrawutan dan keramaian, ketimpangan berita dan ketimpangan pelaksanaan pilpres 20014 di Hong Kong.

Pilpres dimulai tepat pukul 9 pagi. Beberapa kawan yang sudah mengantri memasuki pintu masuk menuju TPS.

Lapangan rumput Victoria Park berubah menjadi "kampung Pemilu" karena keseluruhan lapangan digunakan sebagai Tempat Pemungutan suara (TPS).

Ada 13 TPS di lapangan rumput itu yang dikelilingi oleh pagar besi dua lapis dan hanya ada satu pintu masuk menuju TPS-TPS itu.

Dengan adanya tiga jalur yaitu jalur hijau (untuk yang bawa undangan), jalur kuning (yang tidak terdaftar dan belum mendaftar dan hanya berbekal KTP Hong Kong atau Passpor untuk pendataan baru secara manual kemudian dimasukkan ke data komputer) dan jalur merah (untuk pemilih yang bingung, misal gak jadi milih lewat pos tapi pengin nyoblos langsung atau kehilangan surat undangannya) dan sosialisasi tentang mekanisme pencoblosan yang sebenarnya sudah dilaksanakan di aula Ramayana KJRI-Hong Kong pada 21 Juni lalu, namun pada pelaksanaannya masih banyak kekurangan.

Pemilih yang rencananya dibagi dalam tiga jalur itu ternyata harus melewati pintu masuk yang cuma satu thok til. Tidak ada pemisahan antara calon pemilih jalur ijo, kuning, abang  semua ngrumpel jadi satu. PPLN Hong Kong gagal mengantisipasi ini. Antrian berjubel dan tidak jelas. Petugas malah menyilakan pemilih dengan jadwal waktu pencoblosan kapanpun bisa masuk, ini semakin membingungkan. Pintu masuk dipecah menjadi dua saat banyak protes dan masukan diteriakkan oleh kawan-kawan kepada petugas, itu pun baru sekitar pukul 11.30 AM yang diumumkan lewat pengeras suara. Namun karena ratusan pemilih yang setiap orangnya memiliki mulut yang tidak bisa diam dan kebutuhan selfie yang mendadak menjadi penting sekali, kemungkinan pengumuman itu kurang didengar atau (diabaikan?). Saya melihat beberapa petugas PPLN beredar untuk memberitahu info itu kepada pemilih yang baru memasuki area lapangan rumput, itupun masih banyak yang bingung.

Antrian mengular, cuaca panas. Saya sendiri mengabaikan kepala saya yang sedang kebul-kebul kepanasen kemudian bergabung di antrian pada pukul 1.15 PM dan baru selesai pukul 2.15 PM (saya membawa surat undangan). Bagi saya pribadi kalau mau jujur, yang gagal nyoblos itu sebenarnya bisa nyoblos kalau mereka on time dan tidak takut panas. Meskipun begitu, pelaksanaan Pemilu di Hong Kong seharusnya bisa diminimalisir keruwetannya mengingat pengalaman pileg pada Maret lalu. Kalau pada pileg pemilihnya bertambah, maka pada pilpres bukan lagi bertambah tapi berkelipatan.

15 menit sebelum coblosan selesai petugas PPLN lewat pengeras suara (sekali lagi, lewat pengeras suara) mengumumkan bahwa pilpres akan selesai (pilpres selesai pukul 5 sesuai jadwal & ijin dari pihak Victoria Park). Kondisi pintu masuk menyepi PPLN menyilakan kawan-kawan yang berada di depan pintu masuk untuk segera ke TPS lalu menutup pintu masuk.

Ini yg sebenarnya gagal nyoblos
Foto by Asti
 Namun tepat pukul 5 sore, pintu masuk digrudug oleh kawan-kawan yang berlari-lari mau nyoblos (lihat gambar samping). PPLN dan KJRI menyatakan telah tutup tapi mereka meminta untuk diberi sedikit kelonggaran waktu. Maka diberilah kompensasi perpanjangan waktu selama 20 menit. Pintu samping dibuka oleh Sam Aryadi, sekretaris panitia PPLN, dan masuklah beberapa kawan yang telat datang ini. Garis besar hanya BEBERAPA, tak lebih dari dua puluh orang.

Para pemilih yang gagal nyoblos, ini jumlah yang sebenarnya!
Foto by Kyteth Asti
Herannya setelah yang nyoblos di dalam TPS kelar, ada lagi sekitar 40-70 orang (lihat gambar samping!) menyatakan mau mencoblos. Apakah foto-foto (foto sebelum mbak-mbak berteriak-teriak meminta masuk) itu ada 500 hingga seribu? TIDAK!

Semua TPS sudah tutup dan staf Victoria Park sudah ancang-ancang melakukan kegiatannya untuk membersihkan Victoria Park.

Hal ini diperburuk dengan mbak-mbak yang tadinya sudah mencoblos ikut-ikutan berteriak.

"Buka! Buka! Buka!"

Sebagian ada pula meneriakkan nama capres nomor urut dua sambil mengacungkan dua jari.

"Jokowi! Jokowi! Jokowi!"

 Kemudian mereka merangsek ke pintu masuk meminta untuk TPS dibuka kembali dan menyilakan kawan yang belum menggunakan hak pilihnya untuk masuk. Mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang sudah nyoblos yang demo inipun berjumlah 200-an orang, bukan 500-1000 seperti yang diberitakan oleh medsos.


Video ini adalah video protes dari mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang ikut-ikutan. Lalu mengapa video yang saya unggah di youtube itu saya beri tajuk "Protes Ganjil"? Karena awalnya mbak-mbak yang gagal nyoblos ini biasa-biasa saja namun setelah ketambahan mbak-mbak yang lain mendadak agresif, berteriak-teriak dan yel-yel yang lain. Ini aneh bin ganjil sekali.

Lalu ada isu yang menyatakan bahwa adanya petugas (Sigit) yang mengatakan bahwa pendukung capres No 1 saja yang boleh masuk sedangkan capres No 2 tidak boleh. Saya pribadi tidak mendengar adanya statement seperti itu, kawan-kawan media juga tidak. Bahwa setelah saya cross check dengan semua kawan ternyata statement ini yang benar: BAHWA PETUGAS PPLN BERBAJU HITAM ITU MENYILAKAN KAWAN-KAWAN UNTUK BERBARIS DALAM ANTRIAN SATU PERSATU BARU DIIJINKAN MASUK, KALAU DUA (bergerombol) TIDAK BOLEH. Medsos saya rasa mendengar pernyataan dari mbak yang berada paling belakang. Biasanya kalau kita main bisik-bisik, yang giliran dibisikin terakhir pasti salah kaprah. Iya khan? Kendati demikian apa maksud dari petugas itu menyuruh antri lagi kalau TPS sudah tutup?

Terjadilah desak-desakan. Sebagian pintu pagar besi itu roboh. Maaf, pagar besi ini bukan bentuk permanen, jadi adalah pagar yang bisa dipindah-pindakan dan dua orang saja cukup untuk merobohkannya. Dan kalau kawan-kawan berdesak-desakan itu amat sangat memungkinkan pagar besi roboh dengan sendirinya, BUKAN SENGAJA DIROBOHKAN. Pada saat yang sama, pintu pagar dan pintu masuk sengaja dibongkar oleh petugas Hong Kong yang bertugas di Victoria park karena waktu perijinannya sudah lewat.

Mbak-mbak yang berteriak-teriak demo berhamburan masuk ke area TPS dan protes kepada sesiapa saja petugas yang dijumpai.

Sekiranya ini yang bisa saya sampaikan dengan sebenar-benarnya. Saya tak terikat oleh pihak manapun dan tak terpengaruhi oleh beban membela capres pilihan saya. Saya menuliskan apa yang saya lihat dan saya ketahui. Semoga ini bisa membantu untuk mencerahkan berita yang simpang siur itu. 

Pada dasarnya kita adalah satu kesatuan WNI, siapapun presidennya nanti marilah saling dukung untuk kemajuan bangsa.

Sebagai pembanding, perhatikan screenshot broadcast dari PPLN dan kesaksian dari kawan-kawan saya lewat FB berikut:


BROADCAST PPLN HONG KONG:


 
KESAKSIAN KAWAN-KAWAN SAYA YANG MELIHAT SECARA LANGSUNG DI TPS :












Coblosan di Hong Kong

Tgl 6 Juli.
Langit sebentar terang sebentar mendung, sumuk, gerah. Tapi wajah-wajah kawan-kawan sebangsaku yang kujumpai di Victoria Park demikian semringah. Peluh pating dlewer mendelete sapuan bedak di wajah namun semangat mereka untuk menuju satu titik, jantung Victory, membuncah.

Aktivitas di lapangan rumput Victoria Park dimulai sejak pagi-pagi sekali. Tenda-tenda didirikan, spanduk dijembreng dari pohon ke pohon. Para petugas lalu lalang mempersiapkan apa yang sudah menjadi rencana besar hari ini. Yes, today is Coblosan Day. Hari ini adalah saatnya TKW-Hong Kong memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden ketujuh Indonesia.

Bahkan sebelum jadwal coblosan ini dilaksanakan beberapa kawan sudah berbaris antri di depan pintu masuk. Pilpres yang dijadwalkan dimulai pada pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 5 sore itu memakan tempat seluruh lapangan rumput Victoria Park yang seluas lapangan sepak bola jejer tiga.

13 TPS dengan enam bilik pada masing-masing TPS itu dibanjiri kurang lebih 32.000 TKW-HK yang antusias mengikuti pemilu kali ini (pada pileg hanya sekitar 6.0000 orang yang berpartisipasi).

Keantusiasan kawan-kawan ini juga disebabkan jadwal coblosan yang jatuh pada hari Minggu, hari liburnya TKW (kebanyakan liburnya hari Minggu, namun ada juga yang libur pada hari lain). Selain itu, tak bisa dipungkiri bahwa magnet dari pilpres kali ini ada pada capres nomer urut dua.  Visi misi capres asal Solo untuk TKI/W dinilai lebih realis dan solutif ketimbang capres nomer urut pertama. Selain itu kebanyakan TKW-HK yang tak lepas dari gadget HP android dengan fasilitas internet yang tergolong murah dan unlimited ini memudahkan TKW-HK untuk berselancar di dunia maya untuk mencari tahu tentang berita dan hal ihwal capres-cawapres. Streaming debat capres dan video-video yang telah diunggah di youtube menjadi referensi penting bagi kami.

KJRI dan PPLN Hong Kong yang bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan pilpres di Hong Kong ini pun menuai banyak kritikan. Dari 158.000 TKW di Hong Kong ternyata ada banyak sekali  yang tidak mendapatkan surat konfirmasi pilpres.

Surat konfirmasi pilpres ini dikirim kepada TKW-HK ke rumah majikannya masing-masing dua minggu sebelum pilpres. Setelah mendapatkan surat konfirmasi pilpres, calon pemilih diberikan dua opsi untuk memberikan suara lewat pos atau memilih langsung di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Bagi yang memutuskan untuk memberikan suara lewat pos maka surat konfirmasi itu diharuskan untuk dikirim balik ke KJRI untuk kemudian KJRI mengirim Surat Suara yang bisa dicoblos langsung oleh pemilih di rumah (rumah majikan) kemudian dikembalikan lagi ke KJRI lewat pos. Sedang bagi yang memilih untuk memberikan suara di TPS, tidak perlu mengirim balik surat konfirmasi tapi nanti akan dikirimi surat undangan mencoblos dengan barcode (untuk screening data) yang bertuliskan nama, nomer TPS dan waktu pencoblosan.

Di Hong Kong, ada pengecualian bagi TKW yang tak terdaftar dan tak mendapatkan surat konfirmasi, mereka tetap mempunyai kesempatan untuk memberikan suara secara langsung dengan cara mendatangi TPS dan menunjukkan KTP Hong Kong. Pendataan akan dilakukan secara manual dan komputer di TPS.

Kesemrawutan berlanjut dengan banyak yang mengirimkan surat balasan dan menyatakan kesediaannya untuk memberikan suara lewat pos (karena tidak libur di hari pencoblosan) tetapi malah mendapatkan surat undangan untuk memilih langsung di TPS. Ini menjadi kekecewaan yang besar karena mereka merasa dipaksa golput karena gagal nyoblos.

Malah pada hari H pemungutan suara tadi tak ada kontrol. Di pintu masuk menuju 13 TPS itu waktu pencoblosan (yang berbeda) yang tertera di surat undangan itu diabaikan oleh pemilih dan PPLN. Petugas malah menyilakan pemilih dengan jadwal waktu pencoblosan kapanpun bisa masuk. Teruknya, tidak ada pemisahan antara calon pemilih yang sudah mempunyai surat undangan dengan calon pemilih yang belum terdaftar.Sehingga ini memperlambat proses pendataan baru dan pendataan ulang. Pintu masuk dipecah menjadi dua saat banyak protes dan masukan diteriakkan oleh kawan-kawan kepada petugas, itu pun baru sekitar pukul 11.30 AM.

Parahnya, pilpres itu berakhir dengan demonstrasi yang boleh saya bilang aneh. Beberapa kawan-kawan yang melihat antrian mengular itu memilih menepi hingga terik matahari dirasa tak begitu menyengat dan panjangnya antrian menyurut. Namun ternyata antrian tersebut tak menyurut hingga waktu coblosan hampir selesai.

15 menit sebelum coblosan selesai petugas PPLN lewat pengeras suara mengumumkan bahwa pilpres akan selesai (pilpres selesai pukul 5 sesuai jadwal & ijin dari pihak Victoria Park). Kondisi pintu masuk menyepi namun tepat pukul 5 sore depan pintu masuk digrudug oleh banyak kawan-kawan yang tadinya berteduh yang ingin mengikuti pilpres. Setelah protes dan debat yang alot dan pertimbangan dari KJRI, PPLN dan Bawaslu akhirnya mereka berinisiatif untuk memberi kesempatan nyoblos 20 menit lagi. Setelah 20 menit, tiba-tiba datang lagi banyak kawan, sekitar 40-70an orang (lihat video di bawah) yang mau nyoblos. Lalu karena diberitahu bahwa TPS tutup mereka bersama mbak-mbak yang lain yang ada di sekitar TPS, mendadak protes untuk dibukakan pintu masuk untuk menunaikan haknya memberikan suara. Dan lagi, protes itu terjadi.

Ya kalau di Indonesia mah nyoblos sampai malem biasa aja khan di rumah sendiri. Lha ini di negara orang yang waktu sewa tempatnya ada aturannya. Sebenarnya kalau mau itung-itungan siapa yang salah, jujur saja:
1. Salah pemilih yang takut matahari dan tidak on time.
2. Salah PPLN Hong Kong karena ngasih surat undangan pada yang mau nyoblos lewat pos.
3. Salah TPS-nya yang kurang banyak. TPS-nya tuh seharusnya 40-50 buah dengan petugas bagian konfirmasi surat undangan sebanyak bilik suara di TPS itu. Coba bayangkan saja, di desa saja satu RWada  satu TPS. Satu RW berapa jiwa sih? Di sini 158.000 orang lho. Taruhlah yang mengikuti coblosan cuma sepertiganya saja, 13 TPS cukupkah?

Banyak yang mengeluh dan menyesalkan tidak memilih nyoblos lewat pos sehingga gagal menggunakan hak pilihnya.

*JKW kehilangan banyak suara karena ini, hehe...

Berikut foto-foto Pilpres di Hong Kong (tapi maaf, foto yang pada protes itu tidak punya karena kamera sudah habis batreinya):

menuju lokasi pilpres
menuju lapangan rumput


sebelum pintu masuk, pukul 11.30AM
sebelum Pintu masuk 12.45 PM

di depan pintu masuk @ 1 PM

jam 3 sore

jam 3 sore
aku tadi di TPS 9

pendataan bagi pemilih dengan surat undangan
menunjukkan bahwa surat suara masih baru, tidak cacat

memasukkan suara


Pendataan bagi pemilih tanpa surat undangan
pendataan pemilih tanpa surat undangan

di dalam pintu masuk, pemilih tanpa surat undangan
foto dari luar pintu

antrian mengular menuju pintu masuk

puanassss sekaliiiiiiii...!!
Video suasana pilpres di HK pada pukul 11.15 AM


Video "Protes Ganjil"
direkam oleh Mega Vristian.
Video ini adalah video protes dari mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang ikut-ikutan. Lalu mengapa video yang saya unggah di youtube itu saya beri tajuk "Protes Ganjil"? Karena awalnya mbak-mbak yang gagal nyoblos ini biasa-biasa saja namun setelah ketambahan mbak-mbak yang lain mendadak agresif, berteriak-teriak dan yel-yel yang lain. Ini aneh bin ganjil sekali.


--------------------------------------------







Ketika Satu Persatu Pergi

Dua bulan setelah kepulangan/cutiku di tahun 2009, simbah (emak dari emak kandungku) meninggal. Wanita yang terkenal dengan sambel pecel dan kemandiriannya ini meninggalkan banyak kenangan indah bagiku dan aku tak sempat membalas semua itu, bahkan untuk duduk berlama-lama dengannya saja aku tidak bisa.

Dua tahun kemudian (2011) bapak menyusul simbah. Hanya sebulan sebelum kepulanganku cuti. Satu-satunya baju baru, batik sutra hijau yang aku pilih berhari-hari lamanya pun belum sempat dipakainya.

Lalu kemarin, 28 Mei 2014, pukul 2. 32 PM waktu HK (1.32 PM WIB), sebuah kabar terkirim lewat sms, simbah (emak dari simbok yang membesarkanku) telah meninggal. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Do you know how I feel?

Kosong.

Tak ada air mata sedikitpun hingga saat aku menyempatkan diri menulis ini. Kepergian simbah bukannya tidak menyedihkanku, bukan. Bagaimanapun dari ada kemudian tidak ada, tentu sebuah perubahan besar bagiku, bagi keluargaku. Kendati hal itu (meninggal) sudah bisa kami rasa dalam bulan-bulan terakhir ini. Beliau yang sudah sakit-sakitan berbulan-bulan lamanya (bahkan setahun lebih), beliau dengan umur hampir 100 tahun itu, beliau yang sedari aku kecil sampai dengan dewasa dan setengah tuwa ini tidak bisa melihat wajahku (karena buta), -memang mungkin sudah waktunya. Kami mengikhlaskannya bila masa itu tiba, termasuk kemarin.

Kendati demikian, kabar tentang kepergian simbah mengagetkan aku, menyadarkan aku bahwa satu persatu dari orang-orang yang amat berarti bagiku pergi tanpa aku bisa melihatnya.

Aku merasa kosong, hampa dan ketakutan baru tiba-tiba menghantuiku.

Aku mempunyai emak (kandung) dan simbok (yang membesarkanku) yang adalah orang terdekat dan amat berarti bagiku. Dan aku benar-benar takut bila...

Kontrak kerjaku akan berakhir pada pertengahan Juni tahun depan dan itulah rencana final exit-ku dari Hong Kong. Tinggal satu tahun lagi, sedang aku tak tahu akan bagaimana dalam satu tahun kedepan. 

Is it worth it? 

Or 

Should I just go home?



*kenapa pula aku harus menuliskan ini di blogku?




Demi Jokowi Gak Jadi Golput, Tapi...

"Mbak Rieee!" teriak temanku di ujung sana, wajahnya serius.

Aku menghentikan langkahku dan meletakkan tas jinjing dan beban berat di punggungku serta merta. Ya, tas punggung ini memang berat sekali hari itu, karena kebetulan banyak pesanan baju dan aksesoris dan mesin jahit yang mau diambil (aku jualan juga di Hong Kong). Dan aku tahu dengan gelagat seperti itu, dengan berita yang sepertinya penting yang dibawa kawanku itu, tentu akan memakan sedikit waktu untuk ngobrol.

"Mbak Rie, Jokowi mana?" tanyanya setengah berteriak padahal sudah berada tepat di depanku.

"Ha?" aku bengong.

"Enggak ada Jokowi, Mbak. Aku sudah bela-belain antri. Aku sudah bela-belain gak nonton GIGI (hari itu ada konser band GIGI, acaranya salah satu simcard provider di Hong Kong). Niatku pengin nyoblos Jokowi. Kok Jokowi gak ada. Katanya Jokowi nyapres?" tanyanya menyerbuku.

"Lha sing bilang nek hari ini pemilihan presiden siapa?" tanyaku.

"Ya khan Pemilu," jawabnya.

"Pemilu khan enggak cuma pilpres, cah ayu. Gak cuma pemilihan presiden. Hari ini Pemilu Legislatif. Yang Pemilihan Presidennya masih lama, sayang," jelasku.

"Gitu ya? Itu tadi banyak kepala. Mana aku gak kenal lagi. Wajah-wajahnya asing. Ada wajah lama juga aku gak suka. Trus aku harus milih siapa?" katanya.

"Lha kamu tadi milih siapa?" aku berbalik bertanya.

"Enggak tahu. Enggak milih. Kertas tak buka trus aku bingung. Trus aku nyoblos logo partainya aja," jawabnya.

"Ya udah. Wong wis kadung kok. Lain kali kalau niatnya mau ikut, ya harus nyari tahu dulu, itu Pemilu apa. Nyari info sebanyak-banyaknya, kenali tokoh-tokohnya, kenali partainya.  Koran gratis juga banyak ditulis beritanya kok. Tuh HP keren buat browsing khan bisa. Kalau buat FB sama whatsapp dan skype doang, mending hibahkan saja ke aku, biar bisa aku buat ngeblog," kataku.

"Yee...," katanya sambil menyablek tanganku.
"Kecewa berat, Mbak. Aku nggak jadi golput karena Jokowi. Wong gak ada sosialisasi lho. Mending tadi nonton GIGI," katanya jengkel.

"Ada sosialisasi kok, itu di koran. Tanggal 9 Maret lalu juga ada pemaparan Pemilu dari Kominfo dan Bawaslu, tapi woro-woronya di FB tanggal 4 Maret, acaranya tanggal 9 Maret. Ada 50 orang tuh yang ikut," jawabku.

"Yeee...sama aja bo'ong,"

Percakapan berlanjut dengan menanyakan ini dan anu dan itu lalu dengan sedikit basa-basi aku pamit untuk melanjutkan perjalananku mengantarkan barang pesanan. Lalu baru beberapa langkah ada suara lagi mengejutkanku.

"Mbak Rieeee..!"

"Aku pengin marah," katanya setelah berada di depanku dengan nafas terengah-tengah dan buah dada naik turun.

"Aku tak pergi aja nek gitu. Wong arep nesu kok nyari aku," kataku gemas.

"Enggak nyari, kebetulan ketemu gini kok. Nyoblos gak, Mbak?" tanyanya.
"Aku tadi nyoblos, aku gak kenal mereka (nama-nama di daftar pemilu). Trus aku bilang sama pengawasnya: "Pak, gak ada yang saya kenal". Trus tahu nggak jawaban pengawas TPS itu?" katanya cuepet banget seperti MTR Express jurusan airport HK.

"Enggak," jawabku cuek.

"Yaelah mbak, itu pengawas dari KJRI ngomong gini: "Kalau mbak enggak kenal mereka, ya lihat saja wajahnya. Lhah kalau ada wajah yang paling cakep yang mbak suka, ya pilih saja dia."
Gitu katanya. Njengkelin nggak tuh orang?" jelas temenku ini dengan wajah geregetan.

"Trus ada yang kamu suka enggak?"

"Ya enggaklah,"

"Trus dirimu nyoblos apa?"

"Enggak tahu,"

"Kenapa sih pada males nyari info dulu sebelum mau ikutan pemilu?"

"Ya mana aku tahu (dipikir pilpress bukan pileg), Mbak," jawabnya.

"Nggak tahu ya tanya, cari info. Lha kamu punya mbakyu sepinter aku ya gak pernah tanya. Tanyanya cuma kalau lagi mentok pas punya masalah majikan, pas punya masalah sama pacar. Pas mau beli make up atau baju. Huh," kataku.

"Lha mbak Rie nggak ngasih tahu! Sekarang pelit info. Nulis kek di wall FB, nulis kek di opini koran, nulis kek di blog. Sekarang jualan mulu, jarang ngasih-ngasih info kayak dulu, sebel!"

Lho kok? Kok aku yang disalahin ya?


******

Hari itu tgl 30 Maret 2014. di Hong Kong sedang diadakan Pemilu Legislatif.
TKW-Hong Kong (HK) masih banyak yang belum mengetahui apa bedanya Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. Umum yang mereka tahu kalau Pemilu itu ya milih presiden. Berhubung jagoan yang menjadi media darling dan kerap menjadi obrolan karena blusukannya telah memproklamirkan diri nyapres di pilpres tahun ini, maka kebanyakan (yang mengira bahwa pemilu itu ya cuma pilpres) akan datang ke TPS yang berada di Victoria Park, Causeway Bay, HK untuk nyoblos kepalanya Jokowi.

Tak banyak yang berpartisipasi dalam Pileg kemarin, hanya sekitar 6.000 peserta dari total TKW-HK yang lebih dari 152.000 orang. Itupun sudah tergolong meningkat dibanding lima tahun yang lalu.

Bagi yang mengetahui bahwa Pileg itu bukan untuk memilih presiden, tentu akan menunggu Pilpres untuk memberikan suaranya. Kebanyakan TKW-HK di sini mempunyai pendapat bahwa mereka yang berada di DPR tak mampu menyampaikan suara TKW bahkan terkesan masa bodoh dengan TKW.


21 ton kertas suara yang terkirim ke HK

Ada Babu Ngeblog di Jawa Pos

Ketika aku membuka Facebookku pada Senin, 17 Maret, pukul 8.30 pagi,sudah ada tiga pesan menggedor-gedor pintu inbox untuk segera dibuka. Dan setelah aku buka, mak jreengg.., ketiga-tiganya berisi sama, sebuah foto dan tulisan (hampir sama), "profilmu dan blogmu di Jawa Pos hari ini".

Selang sekian menit, sekian puluh mention menghampiriku. Berhubung hari Senin adalah jatahku berkeliling Hong Kong untuk ngapelin tukang jagal ayam, tukang jagal sapi, tukang jagal babi, bakul iwak dan penjual sayur, maka ya kuabaikan. Tugas dari nyonyah bos tak boleh dinomorduakan.

Eh, sempat mengintip blog lewat HP dines, karena HPku sendiri  hampir tiga minggu rusak dan baru bisa beli tagl 18 (HP dines= HP pemberian pak bos khusus untuk whatsapp atau telpon bos dan keluarganya saja), sempat menginceng e-mail (48 e-mail pada 17 Maret) dan stat blog yang tiba-tiba mencolot tinggi sekali, 11.100 hits pada tanggal 17 Maret jam 11 malam. Wow! Biasa juga cuma sekitaran 300-500 perhari kalau pas gak ada postingan baru.

Lalu mulailah ritual awal, ngubek internet. Eh terus karena stat blog masih di atas 6 ribu hingga tanggal 21 maka ngubek internet lewat hp dines berkelanjutan. Iki jan-jane sing ditulis di Jawa Pos apa sih kok sampai segitunya?

Dan ketemu di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, di sini. Lho...lho...lho.... Kok banyak amat?
(jadi pengin malu**)

Pada (kalau nggak salah) tanggal 11 Februari, mas Abdul Ringgo dari Jawa Pos e-mail aku. Beliau yang ada jadwal seminar (entah seminar apa) di Hong Kong, ingin menemui aku. Aku sih enggak keberatan, toh sudah beberapa kali mahasiswa, LSM, peneliti dari Indonesia yang datang dan mengajak ketemuan sehubungan dengan riset, makalah atau essay mereka. Lagian di Hong Kong ini, ketemuannya juga di tempat umum, di Mc'Donald di ruas jalan Yee Wo Street, Causeway Bay. Siang hari pula. Apa yang patut ditakuti atau dicurigai?

Inilah saat aku harus korupsi waktu kerja untuk kesekian kalinya. Aku hanya bisa menjanjikan 2-3 jam ngobrol, tak lebih. Itupun sudah terhitung lama. Dan ngobrollah kami tentang ceritaku mengenal laptop, awal mula ngeblog dan sebagainya.

Judul di artikel JP: "Dulu Enter Saja Tak Tahu, Kini Ribuan Pembaca Menunggu" sempat membuatku tertegun. Ya memang dulu tombol enter yang mana saja aku enggak tahu. Hanya dikasih tahu bos tombol power dan icon internet explorer. Selebihnya, beliau selalu bilang: "Find it in google" setiap kali aku bertanya sesuatu. Kalau...ribuan pembaca? Benarkah? Lalu aku dikagetkan oleh lamunanku sendiri bahwa TKW-Hong Kong jumlahnya lebih dari 170 ribu. Dan bila aku mengenal lebih dari 30 organisasi bentukan TKW-HK yang dari perorganisasi anggotanya bisa mencapai 100 orang, yang kebetulan juga aku kenal dan mengenalku karena blogku belum lagi ketambahan teman dari FB dan blogger dari Indonesia, maka judul itu bukan bualan. Toh saat aku konsen di jualan online dan membiarkan blog berkarat karena tak kusentuh, selalu ada teguran dari teman dan e-mail atau whatsapp yang membuatku malu disebut blogger (non aktif).

Lalu bagaimana dengan isi tulisan di JP?
Ada beberapa hal yang membuatku mengernyitkan kening saat membaca artikel di JP itu. Seperti pernyataan bahwa aku gonta-ganti majikan. Kapan ya aku bilang gitu? Majikanku cuma satu, sembilan tahun sudah aku mengabdi kepada mereka dan cerita-cerita tentang mereka selalu aku tulis di blog ini. Pertengkaran-pertengkaranku dengan mereka, kebodohanku dan keras kepalanya kami selalu aku kemas di label celotehan. Kalau aku enggak mau diremehkan bos memang iya, kalau aku memilih bertengkar dengan mereka karena selisih pendapat atau kurang setuju terhadap sesuatu atau tak mau disalah-salahin mulu juga sering. Kalau aku gonta-ganti majikan? Enggaaakkkk..!! Hehehe...

Lalu soal uang dari Malaysia, aku gak pernah nyebutin nominal. Kalaupun aku sebut tentunya tidak segitu. Gimana bisa uang segitu untuk mendirikan rumah? Dan saat pertama didirikan, rumahku hanya 10 (bukan 12) jendela, dari mimpiku untuk memiliki 15 jendela. Ya memang terpaksa harus menerima rumah 10 jendela itu, tapi kepikiran terus hingga akhirnya Juli tahun 2011 rumah itu aku jebol untuk membuat lima jendela lagi (ini mau mewujudkan mimpi atau gila?).

Lalu tentang cerita bersambung di Jaya Baya, itu mah cerita pendek dan cerita anak dan artikel, profil yang dimuat di sana. Kalau cerita bersambung dalam bahasa Jawa, waduh ini masih planning mau buat buku/novel gitu, sebenernya juga Off the Record, auwww.... Jadi malu sama mbak Titah Rahayu yang mbaureksa Jaya Baya itu.

Cuma itu saja sih yang mengganjal tentang tulisan di JP. Selain yang aku komplinkan di atas, sudah sesuai dengan ceritaku yang memang begitu.

Ada yang lucu pada tanggal 18 Maret lalu, saat aku menelpon mbakku. Katanya, orang sedesa sempet dihebohkan oleh berita bahwa aku mau nikah dengan orang Hong Kong di Hong Kong. Whaaattt...???
Iya kalii...itu kalau si keren Chow Yun Fat yang memintaku, hehe! Tapi boro-boro, paling cuma diminta jadi babunya, wkwkwk....

Sebenernya pak lurah desaku ditelpon oleh temennya yang jadi lurah di Blora, lurah Blora itu bertanya apa ada warga desa yang bernama Sri estari di desa Cabak yang kerja di HK soalnya lagi ada berita di koran.. Trus pak carik denger, cuma gak jelas. Trus bilang sama punggawa desa lainnya dan istrinya bahwa Sri Lestari mau nikah di Hong Kong. Trus sang istri bilang sama tetangganya kalau aku mau nikah dengan orang HK di HK, trus tetangganya bilang sama tetangganya bahwa aku mau nikah dengan orang HK di HK dan lagi proses surat, trus tetangganya tetangganya bilang sama tetangganya kalau aku aku mau nikah dengan orang HK di HK dan lagi proses surat dan harus cepet, trus tetangganya tetangga tetangganya bilang sama handai taulan dan tetangganya kalau aku mau nikah sama orang HK di HK dan sedang proses surat dan harus cepet-cepet karena aku sedang kenapa-napa trus sampailah cerita itu pada emakku. Dan alhamdulillah emak tak memakan mentah-mentah cerita itu, walau bulik, budhe, pak dhe sudah nangis enggak karuan mendengar berita itu. Beliau langsung menghadap pak lurah dan bertanya langsung. Terlebih emak mempunyai keyakinan bahwa aku tak akan melangkahi beliau. Mosok mau nikah gak bilang emak? Ih terlalu deh.

Ya begitulah.

Ini ngeblognya udahan dulu ya. (ngeblog pakek HP di perjalanan pulang dari menjenguk nenek)

Ini sudah mau nyampek rumah bos.

Eh malah udah sampek depan pintu.

Terimakasih kepada semuanya yang telah menyempatkan diri bertandang ke Babu Ngeblog. Terimakasih atas komentar-komentarnya. terimakasih atas e-mailnya. terimakasih atas apresiasinya.
Semoga bisa aktif ngeblog lagi, semoga bisa berbagi lagi.

Akan ada kejutan 2-3 bulan lagi. Kejutan untuk semuanya.
Tapi gak ngomong dulu deh, entar gak kejutan dong, hehehe...

Salam dan terimakasih.

Rie Blora/Rie Lestari/Rie Rie/Sri Lestari/SLI/Lestari/Tari/Rere
(yuuuhhhh...akeh men alias-e...lha itu nama pena gonta-ganti mulu, hehe...)

The Past is in The Past

Sebuah pertanyaan berhak atas jawaban.

Kami, aku dan momonganku, berjalan menuju bus stop yang berada di ujung Village Road. Kami melewati beberapa mobil yang berjejer terparkir di tepi jalan.

Pukul 6 petang, suasana lengang, tak banyak mobil bergerak melawan arah kami berjalan. Udara tak bergerak, diam di tempat, dingin yang pengap, ini musim winter yang salah kaprah di tahun ini. Cuaca tak menentu.

Uap menyembul dari mulut kami saat kami mendengungkan lagu yang menjadi soundtrack film Frozen, Let It Go. Lagu yang dibawakan apik oleh Idina Menzel menjadi agak kedangdut-dangdutan saat aku dan momonganku berusaha keras untuk menyanyikannya.

.........
My power flurries through the air into the groooouuundddd
My soul is spiraling in frozen fractals all arooouuundddd
And one thought crystallizes like an icy blaaaaaasssttt
I’m never going back,
the past is in the paaaassst....

"Waiiiiitttt...!" teriak momonganku tiba-tiba. Aku mendadak harus mengerem mulutku untuk tidak menyanyikan kelanjutan dari lagu itu.

"What?" tanyaku heran.
"What does that mean?" tanyanya.
"What does that mean what?" tanyaku heran dua kali.
"What does it mean? What does "the past is in the past" mean?" tanya momonganku serius. Dia bahkan berhenti berjalan dan menatapku sungguh-sungguh.
"We always sing this song, I understood most of the lyric, but not this one," katanya.

Anak yang pada 14 April nanti genap 9 tahun ini memang bocah yang curious banget. Rasa ingin tahunya tinggi. Ya iyalah,secara babunya juga gitu.

Sebenarnya aku mau menjelaskan begini: bahwa Elsa dituntut untuk menyembunyikan kekuatan magicnya dan itu membuat Elsa ketakutan kalau kekuatannya sampai diketahui orang. Jadi saat Elsa minggat dan berada di gunung dia mencoba untuk melupakan ketakutannya, tidak menutupi kekuatannya dan menjadi dirinya sendiri, toh semua orang sudah tahu tentang kekuatan magicnya. 

Bukankah penjelasan seperti itu terlalu rumit baginya? Maka aku memilih  penjelasan seperti ini:

"The lyric is like a poem. Beautifully arrange words related to the movie," jawabku.
"So?" desaknya.
"You saw the movie, didn't you?"
"Yes."
"Elsa ran away from palace then go to the icy mountain, right?"
"Yes."
"So Elsa's past is the palace. She has left the palace, so it passed," jelasku.
"Get it?" tanyaku, berharap dia bisa menangkap penjelasanku.

Aku mulai bingung bagaimana harus menjelaskan padanya. Dan dari wajahnya tergambar bahwa dia makin mumet dengan penjelasanku yang mbulet. Kami sampai di bus stop. Sejenak aku membuka google dari ponselku. Aku mengetik "the past is in the past meaning" kemudian menekan tombol search. Percuma. Yang ada hanya lirik lagu dan disney wiki.

"I don't get it," jawabnya jujur.

Ok,  aku harus memutar otak. Kalau penjelasan kedua ini enggak juga bisa dimengerti olehnya berarti harus kirim whatsapp ke pak bos untuk menanyakan hal ini.

"Where are we going?" tanyaku.
"Play therapy," jawabnya cepat.
"We walked from home to this bus stop, didn't we?"
"Yes."
"What did we pass?"
"Cars, dogs, apartments?"
"Yes. So the cars, dogs and apartments were passed, right?"
"Yes."
"So that's it! Cars, dogs and apartments are behind us. We can say it like this: cars, dogs and apartments are past and the are behind us, passed, past. Do you get it now?"
"No."

**tepuk jidat

Lalu tiba-tiba dia berkata:

"You said Elsa's past is palace and she left palace, so the palace is behind her, past. Like that?"
"Yes," jawabku lega.

Akhirnya dia mengerti walau tidak sepenuhnya benar pengertian yang di dapatnya. Lha kalau pertanyaan yang fardhu ain jawabannya itu tidak terjawab, sampai besok dan besoknya lagi dia akan nguber aku untuk memberikan jawaban yang tepat. 

huufftt....