Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Tampilkan postingan dengan label rasan-rasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rasan-rasan. Tampilkan semua postingan

Software & Hardware di dalam Underwear

Beberapa hari yang lalu time line FB dihebohkan dengan sharing beberapa foto, foto rumah megah yang dihancurkan. Foto bersumber dari seorang TKW Taiwan berinisial M. Rupanya, M sedang mempunyai masalah keluarga yang boleh dibilang ruwet dan boleh dibilang hais mbuh ngono kae.

Permasalahan keluarga itu pelik, bisa jadi semua orang mempunyai andil salah. Bisa jadi mereka engggak ada yg mau ngaku salah. Ya umumlah gitu, siapa sih yg mau disalahkan selain tiang listrik yang malang itu? (lho kok jadi bawa-bawa tiang listrik sih?)

M, seorang mantan istri yg sedang berang. Menurut dia, rumah itu hasil keringatnya bekerja di Taiwan yangg dibangun di atas lahan mertua. Masih menurutnya janda cantik asal Malang ini, rumah megah itu dihancurkannya setelah dia cerai. Katanya juga dia cerai karena suaminya selingkuh. Dan pas dia menanyakan tentang kepemilikan rumah yg dibangunnya, mertuanya menamparnya. Sehingga jalan yang dipilihnya kemudian adalah menghancurkan rumah beton bercat hijau muda yang baru selesai dibangunnya setahun yang lalu.

Karena penasaran, akhirnya aku kepo juga metani FBnya. Bukan hanya FB M tapi juga FB mantan suami M. Sebenarnya dulu aku tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi detektif, tapi berhubung rasa ingin tahuku lebih besar daripada tiang listrik (ya elah...tiang listrik lagi), aku pengin tahu kebenarannya walau sudah bisa dipastikan gak bakalan berhasil.  

Aku mendapati dua cerita yg berbanding terbalik. Si cowok bilang, mantan istri itu pernah selingkuh hingga digerebek. Hal itulah yang menjadi  bibit pertikaian rumah tangga mereka yang berujung perceraian. Kata mantan suami, setelah cerai M  meminta dia membeli rumah itu. Tapi karena mantan suami tidak mampu membayar akhirnya rumahpun dirobohkan.

Lalu ada berita lagi kalau lahan yang ada rumahnya itu akan dibeli untuk dibangun tower sehingga rumah harus dihancurkan.

Terlepas cerita mana yg benar, aku merasa alhamdulillah sekali tidak ikut komen atau menyebar fotonya.  Banyak kasus memang, banyak kawan yang kerja mati-matian jadi TKW tapi ditinggal jaran goyang oleh suami ngacengan dan penyuka "software" bernama memek dan semua hasil keringatnya dikuasai mantan suami beserta selingkuhannya. Banyak pula kasus teman-teman yang bekerja jadi TKW ini kecantol dan temangsang pada "hardware" berupa "batang" yg lebih keras. 

Kasus Software dan hardware di dalam underwear ini universal dan manusia (wi) banget. Bisa terjadi pada ustad dan ustadzah bercadar, bisa terjadi  pada artis yang pengin nyelebritis, bisa pula terjadi pada wong-wong gedhe. Tapi yang jelas ini tidak akan terjadi pada tiang listrik karena tiang listrik sudah pakai rompi oren.


Cerita 2 Oktober

:Untuk kawan-kawanku di Hong Kong

Namanya Safi atau ah... sebenarnya aku tak tahu. Dia cuma mengenalkan diri dengan nama Safi begitu, tanpa aku tahu bagaimana menuliskan namanya dengan baik dan benar. Tapi lucunya dia suka dipanggil Sapi'i oleh kawan-kawannya. Geli juga mendengarnya. Cewek secakep dia, dengan hidung mancung dan bibir tipisnya, mata bulat dan tubuh tinggi semampainya, dipanggil Sapi'i? Ah! 

Malam itu kami berbagi meja di sebuah restoran cepat saji di kawasan Hennesy Road di atasnya Mc Donnald, Causeway Bay. Itu tuh tempat mi yang ada mangkoknya yang berdiameter 30 cm dengan menu mie-mienya.

Awalnya aku acuh, melihatnya duduk pun tidak. Aku lebih disibukkan dengan foto-foto demo mahasiswa-mahasiswi Hong Kong yang menuntut demokras yang sebenarnya (pilkada langsung) di Hong Kong (semoga bisa ngeblog tentang itu). Mataku menatap lekat ponsel android murahan dengan headset menancap erat di ke dua belah kupingku. Ketika aku sedikit mendengar suara tapi tak jelas, kulepaskan headset yang menyumpal di kuping kiriku, namun masih kurang jelas juga. Akhirnya kuputuskan untuk mencabut keduanya lalu berkonsentrasi pada makhluk cantik yang mirip artis Korea (bedanya cuman jerawat dia banyak) di depanku itu.

"Sendiri, Mbak?" tanyanya dengan senyum ramah.

"Iya. Kamu juga?" tanyaku.

"Iya. Pada nggak libur," jawabnya.

"Asal mana, Mbak," tanyanya lagi.

Pertanyaan biasa bila bertemu seseorang pertama kalinya adalah: nama, asal, kerja di mana, kerjanya apa saja, bosnya galak apa enggak, sudah berapa lama di HK.

Yang membuatku tertarik adalah bibirnya yang tipis dan bergincu tipis (atau entah warna bibirnya memang pink) yang selalu menyunggingkan senyum ketika berbicara itu. Hei! Itu khan biasanya aku? Biasanya aku yang selalu tersenyum-senyum ketika berbicara, bukan? Dan betapa cantiknya melihat seseorang berbicara dengan tersenyum-senyum begitu.

Lalu aku sibuk membuat kesimpulan-kesimpulanku sendiri. Gadis cantik berambut pirang ini pasti ikutan nge-dance atau fashion show deh, soalnya dia terlihat stylish banget dengan eye liner tipis yang membuat matanya tampak lebih bulat dan dengan kacamata yang digunakan untuk bando itu. Lalu jawabannya membuatku tercengang.

"Dulu iya, dua bulanan. Lalu keluar," jawabnya.

"Kenapa?" buruku.

"Yang ngajarin pulang. Tapi sebelum itu aku juga merasa kurang nyaman. Pengeluaran banyak untuk manggung. Sepatu, kostum. Fashion juga gitu," jawabnya yang kujawab balik dengan "o" saja.

"Sempat pacaran pula, tapi sudah putus lalu sekarang temenan biasa aja sama dia," katanya.

"O baguslah kalau baik-baik. Jangan berantem ya," kataku.

Ok, aku memaklumi, itu adalah privacy dia. Mau pacaran sama siapa kek itu urusan dia. Sudah mau berbagi dengan aku sejauh inipun sudah luar biasa bagiku. Entah mengapa aku seperti punya kekuatan untuk memaksa lawan bicaraku untuk menjawab pertanyaan "mengapa dan bagaimana"-ku. Menjelaskan sesuatu padaku dengan suka cita.

Mungkin karena aku melihat mata lawan bicaraku dan dengan begitu mereka merasa aku bisa dipercaya untuk diceritai sesuatu, atau mungkin pula karena mereka sedang desperate ingin berbagi, entah.

"Suka begini. Bebas. Tak banyak teman, tak tergantung sama satu teman. Bisa ke mana-mana. Hiking, atau apa, enak-bebas," jelasnya.

"Libur tiap Minggu?" tanyaku.

"Iya."

"Nggak tertarik ikut kursus? Komputer, bahasa Inggris, Akuntansi? Banyak yang gratis kok," aku menawarkan.

"Mmm... Pengin menjahit tapi belum tahu di mana," jawabnya.

"Ada di sana, di situ (menyebutkan tempat kursus menjahit). Mau aku antar?" tanyaku.

Namun dia menjawab dengan tersenyum. Mungkin untuk saat ini belum tertarik, mungkin nanti, pikirku. Tiba-tiba aku jadi ingin sharing sesuatu, tiba-tiba aku merasa mempunyai kewajiban untuk menyampaikan sesuatu.

"Ketika kamu sudah setua aku, sudah selama aku tinggal di HK sedang kamu kurang mempunyai ketrampilan, maka kamu akan merasakan penyesalan sepertiku," kataku memulai.

"Tapi aku SMA aja nggak lulus, Mbak. Dulu kelas dua naik ke kelas tiga aku keluar, karena ingin kerja," kata gadis asal Kediri ini membela diri.

"Di sini kursus enggak perlu ijasah apapun. Kursus yang gratisan juga banyak," kataku.

"Aku cuma pengin punya uang, pulang, nikah, punya anak lalu enggak ke mana-mana lagi," kilahnya.

"Amiin," jawabku.

"Aku ditinggal ibuk ke Saudi dan aku tahu benar bagaimana susahnya kurang kasih sayang dari ibuk," katanya.

"Aku nggak pengin ke mana-mana kalau sudah punya anak. Aku mau di sampingnya, aku mau di sisinya, ngerawat dia," matanya menerawang.

"Aamiin," kataku lagi.

Karena sudah sementara waktu ditunggui orang untuk giliran meja makan dan petugas restoran juga telah dua kali datang mengangkut mangkok dan gelas kami, maka kami beranjak.

"Lihat demo yuk," ajakku.

Kami menyusuri Hennesy road ke arah Wanchai lalu balik lagi ke Causeway Bay. Di depan MTR station exit F, Causeway Bay, kami berhenti sejenak sebelum berpisah.

"Mbak, sebenernya aku nggak mudeng dengan demo ini," katanya jujur.

"Aku ini tahu apa ya?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Baca. Jangan cuma membaca status cekakakan  di FB thok tapi enggak peduli lainnya," kataku.

"Aku suka sesuatu yang ringan, yang enggak usah mikir, yang bisa membuatku rileks. Bukan berita-berita berat begitu," nah gadis kelahiran tahun 1988 ini membela diri lagi.

"Kalau gitu enggak usah tahu sekalian, enggak usah nanya. Nanggung kalau tahunya cuma sedikit, mending nggak usah, hehehe...," kataku.

Lalu kami pun berpisah. Dia terpaksa naik MTR karena tram nya enggak jalan padahal dia bilang paling suka kalau naik tram. Ha! Kebalikan sama aku yang paling benci naik tram. Sedang aku memilih naik minibus.

Entah mengapa, aku merasa sedikit berat meninggalkannya, merasa belum selesai aku menjelaskan sesuatu tapi juga merasa tidak perlu menjelaskan terlalu panjang lebar. Takut kalau-kalau terkesan terlalu menggurui. Dan satu perasaan lain yang membuatku tak selesa adalah: waktu "kepulanganku" (ke tanah air) sudah semakin dekat dan aku belum merasa berbuat apa-apa, belum belajar apa-apa.

Demi Jokowi Gak Jadi Golput, Tapi...

"Mbak Rieee!" teriak temanku di ujung sana, wajahnya serius.

Aku menghentikan langkahku dan meletakkan tas jinjing dan beban berat di punggungku serta merta. Ya, tas punggung ini memang berat sekali hari itu, karena kebetulan banyak pesanan baju dan aksesoris dan mesin jahit yang mau diambil (aku jualan juga di Hong Kong). Dan aku tahu dengan gelagat seperti itu, dengan berita yang sepertinya penting yang dibawa kawanku itu, tentu akan memakan sedikit waktu untuk ngobrol.

"Mbak Rie, Jokowi mana?" tanyanya setengah berteriak padahal sudah berada tepat di depanku.

"Ha?" aku bengong.

"Enggak ada Jokowi, Mbak. Aku sudah bela-belain antri. Aku sudah bela-belain gak nonton GIGI (hari itu ada konser band GIGI, acaranya salah satu simcard provider di Hong Kong). Niatku pengin nyoblos Jokowi. Kok Jokowi gak ada. Katanya Jokowi nyapres?" tanyanya menyerbuku.

"Lha sing bilang nek hari ini pemilihan presiden siapa?" tanyaku.

"Ya khan Pemilu," jawabnya.

"Pemilu khan enggak cuma pilpres, cah ayu. Gak cuma pemilihan presiden. Hari ini Pemilu Legislatif. Yang Pemilihan Presidennya masih lama, sayang," jelasku.

"Gitu ya? Itu tadi banyak kepala. Mana aku gak kenal lagi. Wajah-wajahnya asing. Ada wajah lama juga aku gak suka. Trus aku harus milih siapa?" katanya.

"Lha kamu tadi milih siapa?" aku berbalik bertanya.

"Enggak tahu. Enggak milih. Kertas tak buka trus aku bingung. Trus aku nyoblos logo partainya aja," jawabnya.

"Ya udah. Wong wis kadung kok. Lain kali kalau niatnya mau ikut, ya harus nyari tahu dulu, itu Pemilu apa. Nyari info sebanyak-banyaknya, kenali tokoh-tokohnya, kenali partainya.  Koran gratis juga banyak ditulis beritanya kok. Tuh HP keren buat browsing khan bisa. Kalau buat FB sama whatsapp dan skype doang, mending hibahkan saja ke aku, biar bisa aku buat ngeblog," kataku.

"Yee...," katanya sambil menyablek tanganku.
"Kecewa berat, Mbak. Aku nggak jadi golput karena Jokowi. Wong gak ada sosialisasi lho. Mending tadi nonton GIGI," katanya jengkel.

"Ada sosialisasi kok, itu di koran. Tanggal 9 Maret lalu juga ada pemaparan Pemilu dari Kominfo dan Bawaslu, tapi woro-woronya di FB tanggal 4 Maret, acaranya tanggal 9 Maret. Ada 50 orang tuh yang ikut," jawabku.

"Yeee...sama aja bo'ong,"

Percakapan berlanjut dengan menanyakan ini dan anu dan itu lalu dengan sedikit basa-basi aku pamit untuk melanjutkan perjalananku mengantarkan barang pesanan. Lalu baru beberapa langkah ada suara lagi mengejutkanku.

"Mbak Rieeee..!"

"Aku pengin marah," katanya setelah berada di depanku dengan nafas terengah-tengah dan buah dada naik turun.

"Aku tak pergi aja nek gitu. Wong arep nesu kok nyari aku," kataku gemas.

"Enggak nyari, kebetulan ketemu gini kok. Nyoblos gak, Mbak?" tanyanya.
"Aku tadi nyoblos, aku gak kenal mereka (nama-nama di daftar pemilu). Trus aku bilang sama pengawasnya: "Pak, gak ada yang saya kenal". Trus tahu nggak jawaban pengawas TPS itu?" katanya cuepet banget seperti MTR Express jurusan airport HK.

"Enggak," jawabku cuek.

"Yaelah mbak, itu pengawas dari KJRI ngomong gini: "Kalau mbak enggak kenal mereka, ya lihat saja wajahnya. Lhah kalau ada wajah yang paling cakep yang mbak suka, ya pilih saja dia."
Gitu katanya. Njengkelin nggak tuh orang?" jelas temenku ini dengan wajah geregetan.

"Trus ada yang kamu suka enggak?"

"Ya enggaklah,"

"Trus dirimu nyoblos apa?"

"Enggak tahu,"

"Kenapa sih pada males nyari info dulu sebelum mau ikutan pemilu?"

"Ya mana aku tahu (dipikir pilpress bukan pileg), Mbak," jawabnya.

"Nggak tahu ya tanya, cari info. Lha kamu punya mbakyu sepinter aku ya gak pernah tanya. Tanyanya cuma kalau lagi mentok pas punya masalah majikan, pas punya masalah sama pacar. Pas mau beli make up atau baju. Huh," kataku.

"Lha mbak Rie nggak ngasih tahu! Sekarang pelit info. Nulis kek di wall FB, nulis kek di opini koran, nulis kek di blog. Sekarang jualan mulu, jarang ngasih-ngasih info kayak dulu, sebel!"

Lho kok? Kok aku yang disalahin ya?


******

Hari itu tgl 30 Maret 2014. di Hong Kong sedang diadakan Pemilu Legislatif.
TKW-Hong Kong (HK) masih banyak yang belum mengetahui apa bedanya Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. Umum yang mereka tahu kalau Pemilu itu ya milih presiden. Berhubung jagoan yang menjadi media darling dan kerap menjadi obrolan karena blusukannya telah memproklamirkan diri nyapres di pilpres tahun ini, maka kebanyakan (yang mengira bahwa pemilu itu ya cuma pilpres) akan datang ke TPS yang berada di Victoria Park, Causeway Bay, HK untuk nyoblos kepalanya Jokowi.

Tak banyak yang berpartisipasi dalam Pileg kemarin, hanya sekitar 6.000 peserta dari total TKW-HK yang lebih dari 152.000 orang. Itupun sudah tergolong meningkat dibanding lima tahun yang lalu.

Bagi yang mengetahui bahwa Pileg itu bukan untuk memilih presiden, tentu akan menunggu Pilpres untuk memberikan suaranya. Kebanyakan TKW-HK di sini mempunyai pendapat bahwa mereka yang berada di DPR tak mampu menyampaikan suara TKW bahkan terkesan masa bodoh dengan TKW.


21 ton kertas suara yang terkirim ke HK