Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Yopi Ga Jadi Minta Hadiah

Yopi namanya. Mungil, cantik, lincah, periang, berhidung mancung, pandai dan berbakat.

Semua siswa-siswi hingga guru di SD Lebak II mengenalnya, bahkan banyak orang tua murid juga mengenalnya. Karena selain selalu menjadi ranking pertama di kelasnya, Yopi juga pandai menari dan menyanyi. Tari apa saja dia bisa. Tari kelinci, tari gambyong, tari remo, tari jaipong, tari India, modern dance juga bisa. Lagu apapun juga bisa dinyanyikannya. Lagu Jawa, dangdut, pop, anak-anak, rok hingga seriosa. Pokoknya prestasi Yopi enggak kalah dibandingkan dengan Brandon de Angelo ataupun Putri Ayu dari Indonesia Mencari Bakat tahun 2010 yang lalu.

Di ruang belajarnya berjejer belasan piala dari lomba menari dan menyanyi yang telah dimenangkannya. Inilah yang membuat mama, papa, teman sekolah dan guru-gurunya bangga. Yopi telah berhasil mengangkat nama sekolah SD Lebak II
sekaligus membuat bangga mama dan papanya.

Selain piala-piala dan hadiah yang diperolehnya dari menang lomba, Yopi juga mendapatkkan beberapa hadiah dari papa mamanya. Ada boneka monyet yang lucu hadiah dari papa saat dia jadi ranking pertama kelas dua kemaren, ada HP yang berwarna merah muda dengan pernik mickey mouse hadiah dari mama saat dia naik kelas tiga, ada MP3 hadiah ulang tahunnya tiga hari yang lalu saat dia genap sembilan tahun dan masih banyak lagi hadiah-hadiah yang lain. Setiap kemenangan yang diraihnya Yopi selalu meminta hadiah dari papa mamanya. Begitu juga kemarin saat Yopi menang lomba nyanyi sekabupaten, Yopi merengek minta dibelikan HP, padahal dia sudah punya.

"Beliin HP dong ma," rajuk Yopi saat mereka sedang duduk berdua sore itu.

"Lha kemarin khan sudah," jawab mamanya kalem.

"Yah mama, yang kemarin itu sudah setahun yang lalu, udah ga keren lagi," rengek Yopi.

Mama menghela nafas, kemudian meletakkan majalah yang dibacanya di meja kecil di samping kanannya.

"Khan masih bisa dipakai sayang," kata mama.

"Ya masih bisa dipakai tapi sudah butut, mana ga ada MP3-nya lagi, huuh kuno banget!" gerutu Yopi.

"Mama aja masih pakai yang seperti itu, lihat nih," kata mama sambil menunjukkan HPnya kepada Yopi.

"Yee.. mama. Mama khan enggak kemana-mana, cuma buat nelpon papa sama Yopi doang," sungut Yopi.

"Eh siapa bilang? Mama ke arisan, ikut ngaji, belanja atau kondangan juga kok," jawab mama sambil senyum.

"Tapi Yopi khan bawa ke sekolah ma. Trus kalau temen-temen Yopi ngelihat HP butut ini khan trus Yopi jadi malu," rengek Yopi sambil cemberut.

"Ya itulah dia Yop. Mama juga ketemu temen-temen mama dan mereka ngelihat HP mama tapi mama ga malu kok," kata mama.

"Mama nyuruh kamu bawa HP ke sekolah khan tujuannya biar mama bisa komunikasi sama kamu kalau pas jemput kamu ke sekolah. Kalau semisal mama telat atau kamu pulangnya awal atau gimana khan bisa nelpon, gitu," jelas mama lagi.

"Lhah papa aja punya HP keren, dua lagi," tukas Yopi.

"Papa khan buat kerja, sayang. HP papa khan nyambung dengan internet biar papa bisa ngecek e-mail kapanpun. Punya HP khan dilihat kebutuhannya, sayang. Enggak cuma karena ingin, trus beli. Enggak cuma karena gengsi, trus harus beli," jelas mama dengan suara lembut.

"Pokoknya beliin! Masak Yopi menang lomba nyanyi mama ga ngasih hadiah," bentak Yopi kemudian beranjak dari tempat itu. Dia kemudian berlari menuju kamarnya. Mama geleng-geleng kepala.

Braak..! suara pintu dibanting dengan kerasnya. Tangan kecil Yopi kemudian meraih remote VCD player. Sedetik kemudian mengalunlah musik hiphop Kate De Luna dengan lagu Whine up yang merupakan lagu favoritnya. Lagu itu segera mengantarnya ke alam mimpi.

Dalam mimpinya Yopi keheranan. Dandanannya sudah berubah. Bukan lagi memakai rok hitam dan kaos biru lagi tetapi dia sekarang memakai celana kulit berwarna kuning dipadu dengan jaket kulit hitam. Yopi juga meraba rambutnya dan merasakan perbedaan juga. Ketika Yopi bercermin, dilihatnya rambutnya diatur indah dengan jeli warna-warni, wajahnya juga ada sedikit make up. Yopi terlihat keren banget saat itu.

Dan yang lebih mengherankannya, saat itu dilihatnya Kat De Luna memakai kostum yang sama dengannya dan melambai sambil berteriak, "Yo! Yopi! Let's dance!"

"Nyayi dan dance duet bareng Kat De Luna?" tanya Yopi dalam hati hampir tidak percaya. Tapi kemudian musik menghentak dan Deluna menariknya menuju ke tengah panggung. Di sana mereka menari dan menyanyi berdua disaksikan oleh ribuan penonton dan disiarkan langsung di TV.

Hati Yopi senang sekali. Dia sudah melupakan kejengkelannya kepada mamanya sore tadi, dia juga melupakan keinginannya untuk memiliki HP keren.

Musik berhenti. Yopi dan De Luna melambaikan tangannya kepada penonton dan disambut dengan tepuk tangan dan teriakan yang membahana.

"Yo! Yopi and De Luna! Yo! Yo! Yo!"

Di ruang ganti Yopi berbincang dengan De luna, dan ternyata Deluna bisa berbahasa Indonesia.

"Saya senang sekali bisa duet bareng kamu," kata Yopi.

"Oh, aku juga senang sekali, kamu sungguh berbakat. Aku yakin kamu bisa seperti aku nanti," kata Kat tulus. Kat terlihat kebingungan mencari-cari sesuatu. Dibongkarnya tasnya dan dicarinya sesuatu dari dalamnya.

"Cari apa?" tanya Yopi.

"Mmm..HP. Aku mau nelpon mamaku, ngabarin tentang konserku hari ini denganmu," jawabnya.

"Yop, boleh pinjem HPnya ga? Aku mau misscall HPku. Kalau ada suaranya khan gampang nyarinya," kata Kate.

"HPku jelek," jawab Yopi. Dia merasa malu sekali menunjukkan HPnya pada artis pujaannya.

"Jangan gitu, yang penting khan bisa dibuat komunikasi, punya HP bagus kalau enggak ketemu seperti HPku juga ga bisa dipakai khan?" kata Deluna.

"Iya juga ya," pikir Yopi.

Yopi kemudian mengulurkan HPnya kepada kepada De Luna. Setelah berterima kasih, Kat De Luna segera mendial nomer HPnya dan seketika terdengarlah nada dering dari HP Deluna yang rupanya terselip diantara baju-bajunya.

"Nah ketemu deh, makasih ya Yop," kata Deluna.

"Lho kok HPnya mirip punyaku," kata Yopi keheranan.

"Iya. Aku sms dan telpon mama dan temen-temenku juga pakai HP ini," jawab Deluna.

Yopi melongo, tiba-tiba saja dia merasa berdosa dan menyesal telah bicara kasar dengan mamanya sore tadi. Belum selesei rasa berdosa dan menyesal, tiba-tiba Yopi dan Kat Deluna dikagetkan oleh suara.

Tok.. tok.. tok... Tok.. tok.. tok... Suara pintu Yopi diketuk dari luar. Suara itulah yang kemudian mengakhiri mimpi indah Yopi.

"Yop, mandi dulu. Udah jam lima lho," kata mama memanggil.

"Iya maa..," jawab Yopi.

Diambilnya handuk dan baju gantinya dan segera dia membuka pintu dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Melihat Yopi, mama segera mengulurkan segelas jus jeruk yang baru saja selesai dibuatnya.

"Makasih ma," kata Yopi.

Mama tersenyum.

"Ma, ga usah beli HP ya," kata Yopi tiba-tiba.

Mama tersenyum lagi, agak terkejut juga keheranan mendengar kata-kata Yopi barusan.

"HP yang setahun lalu mama beliin masih bisa kok, mending uangnya ditabung aja ya ma," kata Yopi lagi.

"Iya Yop, baguslah kalau kamu ngerti. Soalnya khan kamu udah mau naik kelas empat jadi ada kebutuhan yang lain yang lebih penting untuk sekolahmu," kata mama.

"Iya ma. Maapin Yopi tadi teriak-teriak sama mama ya," kata Yopi sambil memeluk mamanya



****

Jago Mbalela

"Eh elo, srakah amir, gue capek tauk," kata Jago sambil mengepak-kepakkan sayapnya lemah.

"Eh elo! Kalo gue nyuruh elo apa, ya jalan dong! Ngaca sana! Dasar ayam!" kata Doren sambil mendorong kembali Jago untuk memasuki ring.

"Gue bilang gue capek. Gue capek tauk! Gue gorok baru tau rasa lo!"

"Eh elo, ayam! Masuk sana! Lanjutkan!" perintah Doren sambil mengumpat dengan sepuluh bahasa.

Jago menjulurkan lidahnya, "Weeeek...!"
"Ini orang enaknya diapain ya, maksa-maksa mulu. Nyobain silet ini dah, biar tau rasa dia," pikir Jago sambil mengambil ancang-ancang. Tiba-tiba Jago melompat, "Ciaaaatttt....!"

"Jleb! sreeettt....cuuurrr...crooott...!"

Semua mata memandang bengong, darah Doren muncrat kemana-mana. Ke lantai, ke baju para penyabung ayam di sekitarnya, ke makhluk bersayap lainnya. Bau anyir yang rada-rada bercampur bau kari segera saja menyebar. Saat itu tak ada yang bergerak kecuali Jago yang kemudian mereyakan hari kemerdekaannya.

"Rasain lo! Mampus lo! Horeeee...gue bebassss...merdekaaa...! Kukuruyuuuuuuuukk...!" teriak Jago sambil berhiphop ala chicken dance.


----------

Itu mungkin kronologis kematian Doren, penyabung ayam asal India yang tewas di kaki ayam aduannya sendiri. Berhubung neh yang bikin kronologisnya bukan asli India dan bukan blogger biasa (ciee...) jadi cara penulisannya mungkin terkesan nyleneh, walau tanpa bisa dipungkiri pembaca pasti senyum-senyum saat menyimak kronologis nyleneh diatas (hayoo..ngakuuu..!).

Dua bulan lalu saya diherankan dengan sebuah berita tentang ayam aduan yang menggorok leher tuannya.

Sabung ayam yang kerap terjadi di Indonesia ternyata juga terjadi di negara lain, India, bahkan sepertinya di India lebih sadis lagi perlakuan mereka terhadap sang ayam. Pemilik ayam melekatkan pisau cukur di kaki ayam dengan tujuan supaya ketika ayam aduan itu sedang berkelahi bisa mencederai lawan tarungnya atau lebih parahnya membunuh lawan tarungnya. Tak jarang tampak banyak ayam-ayam yang berkelonjotan berlumuran darah karena kalah perang, bahkan tak jarang pula ayam petarung tersebut mati demi keegoisan dan kerakusan para penyabung ayam.

Saat itu (20/1), Doren, pemilik ayam aduan, terus mendorong ayamnya untuk kembali ke ring. Gladiator berbulu yang sudah kelelahan ini enggan untuk kembali ke medan perang dan terus berusaha melarikan diri, tapi lagi-lagi Doren mendorong ayamnya untuk kembali memasuki ring. Akhirnya binatang itu tidak tahan lagi dan menyerang Doren dengan mendaratkan kakinya dengan kekuatan penuh ke leher orang yang setiap hari memberinya makan. Tak ayal terjadilah pertumpahan darah yang tak seperti biasanya yang membuat manusia-manusia di sekitar ring itu terkejut sekaligus membuat beberapa ayam di ring bingung.

Beberapa pemberitaan akhir-akhir ini menunjukkan sebuah keganjilan dari perilaku hewan-hewan di sekitar kita. Sebagai contoh, sebuah ular python terlihat menggendong kodok di punggungnya saat melarikan diri dari banjir di Australia awal Agustus lalu. Hewan melata, unggas dan bahkan serangga, merekapun menerima pesan dari-Nya untuk bersatu dan bersolidaritas demi keadilan dan keselamatan, termasuk selamat dari manusia yang superior dan egois. Dalam hal ini, ayam jago yang "mbalela" tersebutpun berhasil memerankan tokoh Spartacus dalam hidupnya. Jago berhasil menggugat ke-ayam-an dan keadilan, ke-ayam-an yang adil dan beradap dan keadilan sosial bagi seluruh ayam petarung di dunia.

Namun apa yang kemudian terjadi pada gladiator berbulu tersebut tidak diketahui. Mungkin ayam tersebut sudah diumpetin oleh penyabung ayam lainnya atau mungkin sudah merdeka dan poligamy dengan ayam-ayam betina yang memujanya atau entahlah.

Jika saya adalah keluarga dari Doren, saya akan membalas dendam dengan segera menangkap kemudian menggorengnya atau menyajikannya menjadi kari ayam atau tandoori chicken dengan menambahkan yogurt banyak-banyak supaya lebih lezat. Tetapi sebagai orang yang baik-baik sekaligus seorang warga negara Indonesia, saya kok jadi mempunyai pemikiran lain. Saya cenderung ingin menyelamatkan Jago dari tangan-tangan orang India untuk kemudian membawanya ke Indonesia. Mengarak Jago itu keliling Indonesia dan menobatkannya sebagai "Pahlawan Demokrasi". Membuat spanduk dan bendera kecil-kecil yang pasti nantinya bakal laris manis melebihi larisnya Blackberry. Menjadikan Jago sebuah merk untuk kaos, gaun, rok, jeans, BH hingga celana dalam dan G-string. Membuat grup di Face Book dan mencari member sebanyak-banyaknya. Dan ah, setelah cukup sukses dan populer bisa dikembangkan lagi menjadi sebuah partai demokrasi berlambang ayam jago. Menarik bukan?

Menjadikan Jago sebagai Pahlawan Demokrasi jauh lebih pas dan tak beresiko ketimbang mencalonkan seseorang yang belum tentu bisa diteladani.

Menggugat Doktrin "TKW Itu Bodoh"

Ketika saya masih kecil ramai orang bertanya kepada saya tentang cita-cita saya. Mulai dari emak, bapak, tetangga samping rumah, guru TK hingga penjual jajan di sebelah sekolah saya, mereka selalu menanyakan tentang cita-cita saya. Saya menjawabnya dengan tegas, “Dokter!” Gelar itu terdengar keren sekaligus hebat di telinga saya.

Seiring bertambahnya umur dan rasa mengerti saya tentang keadaan keluarga, saya tak lagi berani mengungkapkan cita-cita saya tersebut. Cita-cita itu mengabur berbanding lurus dengan semakin tidak jelasnya perekonomian keluarga. Memperjuangkan diri untuk hidup kemudian menjadi sesuatu yang lebih penting daripada pendidikan apalagi gelar keren tersebut. Hingga sampailah perjuangan untuk hidup itu di negara ini, Hong Kong. Meski untuk itu saya harus rela untuk didoktrinasikan sebagai orang bodoh. Pandangan umum mengatakan bahwa, hanya orang-orang bodohlah yang rela menjadi TKW. Hal ini dikarenakan untuk menjadi TKW tidak diperlukan ijasah. Paperproof (ijasah) itulah yang mengkastakan manusia-manusia di bumi Indonesia sedemikian sarkastisnya.
Bagi saya pribadi, sekolah adalah proses pembelajaran. Ijazah bagi saya adalah bukti yang kita peroleh dari hasil proses pembelajaran itu. Sehingga menurut saya, tujuan akhir dari sekolah bukanlah ijazah tetapi apa yang kita peroleh dari proses sekolah/pembelajaran itu.

Hidup juga proses pembelajaran. Maka, meski jauh di tanah rantau saya tetap meneruskan proses belajar saya meski dengan segala keterbatasan yang saya miliki di samping pekerjaan saya sebagai pembantu rumah tangga.
Koran, majalah, perpustakaan, buku, internet, menjadi acuan saya untuk belajar. Semakin saya tahu justru semakin banyak yang saya tidak tahu. Perkembangan pengetahuan bukan hitungan hari lagi tetapi sudah bertolak ukur dengan hitungan detik. Dari detik ke detik berikutnya sudah dihasilkan berbagai kreasi baru atau penemuan-penemuan baru di berbagai bidang.

Di Hong Kong, beberapa tempat belajar-mengajar seperti tempat kursus ketrampilan, kursus computer, kejar paket A, B dan C hingga sekolah tinggi setara D1 dan D3 pun menjamur. Masing-masing tempat menjanjikan pemberdayaan TKW berbasis pendidikan. Visi dan misi mereka pun disuarakan layaknya kampanye pemilihan capres.
Investasi di bidang ilmu itu tidak ada ruginya, namun kadang temen-teman saya melupakan untuk survey lebih dulu sebelum berinvestasi. Beberapa tempat belajar-mengajar tersebut ada yang benar-benar bertujuan untuk mencerdaskan etnis minoritas (warga negara asing yang kurang mampu yang tinggal di Hong Kong seperti TKW, kuli bangunan, sopir, dll) namun ada pula yang hanya berniat mengeruk keuntungan dari etnis minoritas dengan cara menarik uang sekolah yang tinggi dan menipu dengan cara mengiming-imingi pendidikan yang (katanya) disamakan dengan pendidikan formal di Indonesia. Bahkan dengan tanpa kemaluan, ada pula yang mengatakan bahwa lulusan sekolah yang mereka adakan bisa langsung meneruskan kuliah di Indonesia, bah!

Embel-embel D1, D3 ataupun mahasiswa UT terdengar begitu merdu dan menjanjikan. Dan lagi-lagi kawan-kawan saya ini adalah obyek yang amat empuk, teramat sangat empuk. Keinginannya untuk mendapat pengakuan sebagai “bukan orang bodoh” menjadikannya klepek-klepek seketika begitu mendengar gelar-gelar tersebut dan tentu saja juga ijasah! Nah lho kalau sudah begini salah siapa? TKW yang bodoh atau orang-orang yang membudayakan diri mempunyai doktrin “TKW itu Bodoh”? Lalu bagaimana pula dengan negara yang tak becus memfasilitasi warga negaranya untuk mendapatkan pendidikan yang layak?

Pendidikan adalah kunci kemajuan peradaban suatu bangsa. Kegagalan pemerintah untuk memfasilitasi warga negaranya untuk mendapatkan pendidikan yang layak menuntut warga negaranya untuk berpikir kritis, tak terkecuali TKW.

Mungkin nanti, suatu saat nanti bakal bermunculan TKW-TKW yang telah mampu berpikir kritis dan realistis yang secara otodidak ataupun tanpa ijasah berhasil mencapai kemampuan setara dengan lulusan sarjana. Dan sewajarnyalah untuk mengakui kemampuan mereka sebagai suatu kemampuan yang substansial. Bukan malah mendoktrin dan mengunderestimate mereka. Bukankah banyak pula lulusan sarjana karbitan bergelar S1 atau S2 yang hanya membeli paperproof/ijasah saja?

Ijasah bukanlah sebuah komoditas/bukti intelektualitas seseorang kalau itu tanpa dibarengi dengan kualitas.

Hidup Tak Mau, Matipun Enggan Jadi SBY

Hidup tak mau, matipun enggan jadi SBY

Pernyataan ini justru keluar dari mulut seorang bocah yang berumur 12 tahun, Hendra, keponakanku. Memang bukan persis seperti apa yang tertulis di judul postingan ini namun intinya sama. Lewat percakapan singkatku dengannya lewat hubungan kawat kemarin kudengar suaranya yang lugu, polos, unik dan realistis.

Lik, demikian dia memanggilku, kependekan dari Bulik. Percakapanku dengannya waktu itu menggunakan bahasa Jawa krama alus. Tetapi mengingat tidak semua orang bisa berbahasa Jawa krama alus di internet jadi aku coba untuk mengalihbahasakannya. 

“Saya pengin bekerja Lik, bantuin emak,” kata bocah yang telah ditinggal minggat oleh bapaknya sejak berumur empat tahun ini kepadaku.

“Kerja apa?” tanyaku.

“Pokok e setelah sekolah SMP trus kerja sembarang Lik, yang penting halal,” jawabnya mantab. 

Hanya ibunya yang buruh tani itulah yang menyangga seluruh kebutuhan hidup keluarga termasuk biaya sekolahnya. Ekonomi keluarganya yang tidak memungkinkannya untuk mempunyai pendidikan lebih tinggi lagi dari SMP tersebut membuatnya sadar sejak dini bahwa dia tidak akan memaksakan kehendak untuk bersekolah lebih tinggi dan mencapai gelar yang lebih keren dari sekedar jebolan SMP. Kenyataan yang sama persis sepertiku puluhan tahun silam. 

“Gak pengin jadi guru atau dokter ya?” tanyaku berbasa-basi.

“Enggak Lik, jadi presiden aja saya enggan, ntar diomelin banyak orang,” katanya.

“Lha kok bisa?” tanyaku.

“Lha emak tuh tiap hari kerjaane ngomel mulu. Katanya presiden goblok, ga mikirin rakyat, gajinya banyak juga masih minta naik. Cabe aja mahal, minyak mahal, beras mahal, apa-apa mahal. Bayangkan, emak tiap hari ngomel gitu-gitu terus” jawabnya.

"Makanya saya ga mau Lik kalo suruh jadi presiden seperti yang sekarang ini," tambahnya pula. 

“Ooh…gitu,” kataku yang mendengarkannya sambil tersenyum-senyum. 


repost dari Multiply

Kontributor Linglung

Ini adalah kisah seorang kontributor ling lung, seorang wanita yang mempunyai pekerjaan resmi sebagi babu di negaranya Jet Li tapi mempunyai pekerjaan sampingan sebagai guru privat komputer, loper majalah, MC, kontributor sekaligus tukang foto. Kesemua pekerjaan sampingan tersebut dilakuannya pada hari liburnya. Keren khan?

Ya meskipun termasuk dalam habitat TKW, dia lumayan cerdas. Sayangnya dia mempunyai kebiasaan aneh dan tidak sewajarnya, terkadang juga nggilani.

Dia seorang wanita muda, dengan tingkat kecuekan yang teramat tinggi, dengan rambut yang tidak pernah disisir, dengan camera Nikon D90 yang selalu menggelantung dilehernya, dengan MP3 yang nyumpel di kedua belah telinganya dan dengan pakaian yang jauh dari mencolok tapi teramat dekat dengan nyleneh.

Kapan hari dia memakai celana hitam super baggy dengan kaos putih bintil-bintil dipadu dengan scarf warna polkadot pink dan sandal jepit. Kemarinnya dulu dia memakai kaos singlet sedengkul warna hitam dengan percikan cat di sana-sini yang dirangkepin dengan kaos putih bertuliskan "original". Rambutnya kadang dibiarkan tergerai uwel-uwelan, persis sarang burung gagak. Kadang juga dibundel pakek gelang karet hingga jidatnya yang lebar dan kinclong menjadi daya tarik tersendiri Dari jarak 20 meter orang tentu sudah mengenal dia (kalau bukan karena kameranya, tentu karena rambutnya).

Berikut adalah kisahnya:

Kisah 1
Kecintaannya pada dunia potret-memotret sudah ada sejak lima tahun yang lalu. Tak seperti kebanyakan TKW yang memprioritaskan hp ketika gaji pertama mereka diterima, kontributor satu ini memilih membeli kamera. Setelah Yashica dan Nikon yang dirasanya sudah out of date karena masih menggunakan baterai biji-biji itu, pilihan selanjutnya lumayan keren, Nikon D90. Namun sayangnya, entah saking cerdasnya atau karena saking ling lungnya, sampai saat ini dia belum juga menguasai fungsi kamera tersebut.

Suatu Minggu di sebuah acara akbar pengajian yang diadakan oleh TKW Hong Kong yang mengambil tempat di Masjid Tsim Sha Tsoi, dia pun hadir. Rencananya seh mau meliput acara, gitu.

Panitia yang kerap melihat wajah yang tak asing tersebut langsung menyilakannya masuk lengkap dengan sebuah botol aqua dan sekerdus snack untuknya.

Kontributor linglung kita ini cuma pringisan malu tapi swear dalam hati dia udah ngarepin dari tadi, ya sukur-sukur dapet dua kerdus (lumayan khan ga usah beli makan siang).

Begitu masuk dipilihnya tempat paling belakang dan paling pojok. Lima menit kemudian....zzzz...tidur! Lho kok? katanya mau liputan? Bangun! Bangun!

Eh, ujug-ujug mendadak ada setetes air yang mengalir dengan diam-diam dari sudut mulutnya dan jatuh pas persis di atas tangannya. Seketika itu dia terbangun. Seketika itu juga dia teringat apa tujuannya ke datang tempat tersebut. Seketika itu pula diraihnya kamera gedenya dan diarahkan untuk membidik.

Pencet...pencet...
"Lho kok ga ada suara "cekrek"?" pikirnya.

Pencet lagi...pencet lagi... "Lho kok diem aja neh kamera," katanya dalam hati sambil menepuk-nepuk kameranya.

Pencet...pencet...

"Buset, aku dah bangun kok kameraku masih bobo," pikir dia.

Pencet...pencet...masih ga bisa motret juga.

pencet...

pencet...

"Sialan..!" gerutunya dalam hati.

pencet...pencet...

"Ih sialan bener neh kamera!" gerutunya lagi dalam hati.

pencet..blink..blink...

pencet...blink blink blink...

pencet...blink..blink...kemudian...blank...!

"Blaik! Mati aku! cilaka!" gerutunya setelah tau bahwa kamera tidak berbunyi "cekrek" karena ternyata out of battery.

Dengan kemaluan yang amat besar dia berjalan menuju salah satu panitia yang bertugas mendokumentasikan acara dan berbisik,"Mbak pinjem kameranya sebentar dong."

"Buat apa mbak? Ini cuma kamera digital biasa, kamera mbak khan lebih bagus," kata panitia.

"Mmm..begini mbak (garuk-garuk kepala, beberapa ketombe sempat terjatuh karena aksi garuk-garuk kepalanya ini). Mm..begini mbak, saya hanya pengin membandingkan banyaknya pixel yang membentuk gambar kamera saya dengan kamera mbak," jawabnya beralasan.

"Ooo.. (manggut-manggut tapi tampangnya bloon)," jawab panitia. Entah mudeng apa enggak dengan apa yang dimaksud dengan pixel tersebut, atau mungkkin malu karena gaptek, segera dicabutnya memory card dari kamera digital mungil miliknya kemudian diserahkannya kepada kontributor linglung kita.

Untung si kontributor linglung neh selalu menenteng notebooknya. Sejurus kemudian dia memindahkan foto milik panitia ke dalam dokumen notebooknya. Dalam hati dia berkata, "Slamet...akhirnya dapet poto pelengkap liputan nanti, hehhe...."

Wolaa..!!

Kontributor linglung kita ngapusiiiiiiii....!!


Kisah 2
Ada tiga kejadian yang menyebabkan lagu Indonesia Raya berkumandang di negara lain. Satu, saat kunjungan kenegaraan. Dua, saat tim olah raga Indonesia menang. Tiga, saat HP kontributor linglung kita berbunyi. Ketiganya merupakan momen-momen yang paling penting dalam sejarah dunia yang patut dicatat.

Termasuk saat itu, sesorang dari salah satu organisasi menelpon kontributor linglung kita untuk mengundangnya menghadiri acara yang diadakan oleh organisasinya. Pucuk dicinta ulampun tiba, pikir kontributor linglung kita. Jadi tamu undangan itu kehormatan, pikirnya. Sudah dihargai masih juga dapet cemilan dan jajan, pikirnya lagi.

Maka dengaan langkah penuh cuek bebek dia segera menuju tempat diadakannya acara pada Minggu yang sudah diitentukan. Dan seperti biasa setelah dipersilakan duduk dan mendapat sekerdus jajan, sang kontributor linglung ini memilih duduk di tempat yang peling disukainya, disana kembali dia liyer-liyer.

Tak satupun dari apa yang disampaikan dari acara tersebut ditangkap olehnya, beruntung dia sempat menjepret beberapa gambar sebelum adegan liyer-liyer terjadi. Dan walhasil sang kontributor linglung kita ini lagi-lagi mendatangi ketua panitia untuk mengajukan beberapa pertanyaan. Di atas kertas secuil dituliskannya hasil wawancaranya kemudian berlenggang dari tempat tersebut.

Pada malam harinya, ketika dia dihadapkan dengan laptop bututnya dan bermaksud menuangan segala apa yang didapatnya pada siang hari tadi, si kontributor linglung kita heboh. Pasalnya, kertas secuil hasil wawancara siang tadi hilang, sedang dia hingga saat ini masih berjuang keras melawan lupa, ya dia amat sangat pelupa. Akhirnya kontributor linglung kita dengan terpaksa meraih HPnya dan menelpon ketua panitia yang kkemarin hari menelponnya.

Ketua panitia: "Assalamualaikum mbak **^!e^!E**,
Kontributor : "Walekum salam.
ketua panitia: "Ada yang bisa dibantu mbak?"
kontributor : "Eh mbak saya kemaren wawancara apa seh sama mbak? Waduh ini kertasnya ilang (katanya lugu dan jujur banget)."
ketua panitia: "??*$@%??...(kemudian terdengar tawa yang ditahan).

oalahhh...malu-maluiiiinnn...ga profesional banget, wwkwkkkk...

Pak SBY, TKW itu Tak Butuh HP!

Guyonan baru pak SBY kali ini luar biasa. Ketika saya membacanya sejam yang lalu kontan saya ngakak, sumpah ini ngakak saya yang pertama kali semenjak berita duka dari saudara-saudara yang berada di Sumbar dan Yogyakarta beberapa hari yang lalu.

Guyonan itu adalah janji yang diucapkan oleh pemerintah (SBY) untuk memberikan Hp kepada TKI karena menganggap dengan adanya Hp akan memudahkan TKI untuk melapor jika mendapat perlakuan tidak adil dari majikannya.

Saya masih mengingat benar bagaimana saya harus menandatangani kontrak perjanjian kerja saya sebulan sebelum saya diterbangkan ke Hong Kong untuk bekerja di sektor non-formal tepatnya sebagai domestic helper atau pembantu atau jongos atau buruh atau TKW atau babu. Hari itu saya hanya diberi pilihan: “take it or leave it”. Di mana di dalam kontrak kerja saya tertera bahwa saya hanya mendapatkan libur dua kali perbulan (padahal seharusnya TKW mendapatkan libur sekali dalam seminggu di Hong Kong), merawat bayi sekaligus mengurus rumah dan dapur. Di situ pula tertera peraturan-peraturan yang diberikan oleh majikan saya dan salah satunya adalah larangan untuk menggunakan telepon rumah majikan dan telepon pribadi di rumah majikan!

Apa yang ditanamkan PJTKI kepada saya selama berada di penampungan adalah bagaimana saya bisa mendapatkan majikan dengan segera, dan untuk itu saya harus menerima syarat apapun yang diberikan oleh calon majikan. Saya hanya diberitahu tentang kewajiban saya dan tidak diberitahu sedikitpun tentang hak-hak yang bisa saya dapatkan. Berapa gaji standar di Hong Kong, berapa kali libur yang bisa saya dapatkan, asuransi kesehatan, hak berserikat dan berorganisasi, hak menunaikan ibadah dan sebagainya, tidak pernah disosialisasikan kepada saya/calon TKW selama berada di penampungan.

Pemeriksaan tas sebelum keberangkatan saya ke Hong Kong pun dilaksanakan. Jangankan membawa Hp, membawa uang saja tak boleh. Alasannya takut kalau kemudian majikan saya nanti menuduh saya mencuri uang.

Pengetahuan saya tentang Hong Kong nol, tidak ada sama sekali. Bagaimana budaya di Hong Kong, kebiasaan/adat istiadatnya, kepercayaan mereka, bagaimana pola pikir mereka, apa harapan mereka terhadap pembantunya, saya sama sekali tak tahu dan tidak diberitahu.

Adalah dari orang-orang dari pemerintah Hong Kong yang menyambut kedatangan TKW di bandara Chek Lap Kok-Hong Kong, yang memberitahu saya sedikit tentang hak-hak saya dan memberikan buku panduan/pedoman bekerja di Hong Kong dan sebuah kartu nama bertuliskan nomor-nomor penting yang bisa saya hubungi ketika saya mendapatkan kesulitan di Hong Kong. Mereka mewanti-wanti saya untuk membaca buku tersebut dan menelpon bila mendapat kesulitan. Saya ingat betul kata-kata wanita itu: “Don’t be afraid, call us if you need help. Good luck. God Bless You.” Mengapa perhatian seperti itu justru diberikan oleh pekerintah Hong Kong? Mengapa ini tidak saya dapatkan dari Indonesia?????????????

Yang saya dapatkan selama di penampungan adalah pengetahuan dasar bahasa kantonis (yang hingga kini belum saya kuasai), cara memasak (yang amat berbeda dari apa yang saya masak sekarang), dan praktek mencuci dan menyetrika (kenyataannya mesin cuci itu banyak modelnya yang jelas yang berada di penampungan untuk praktek itu out of date).

Kesemua ini menjadikan saya shock ketika berada di Hong kong pada 6 bulan pertama. Bukan hanya saya, kawan yang baru datang ke Hong Kong yang kebetulan saya jumpai sewaktu libur pun mengatakan hal yang sama.

Pak SBY, pernahkah bapak bertanya kepada TKI/TKW tentang apa yang paling dibutuhkan oleh mereka?

Selama ini pemerintah hanya berasumsi tentang apa yang dibutuhkan oleh TKW. Mereka tak pernah duduk bersama (dialog) dan bertanya itu langsung kepada TKI/TKW atau perwakilannya. Mereka hanya berasumsi kemudian memutuskan begitu saja.

Seperti halnya rencana pemberian Hp kepada TKI kali ini. Ini juga merupakan asumsi dari pemerintah/SBY terhadap apa yang paling dibutuhkkan TKI saat ini. Jadi Hp adalah apa yang paling dibutuhkan TKI saat ini? Sebentar…sebentar…saya kepingin ngakak lagi nih!

Banyaknya kemalangan yang telah menimpa TKW di arab Saudi atau Malaysia tetapi ternyata masih banyak pula yang ingin bekerja di sana. Kalau mau jujur, ini dikarenakan untuk pergi ke Arab Saudi atau Malaysia calon TKW tidak memerlukan pendidikan atau pengetahuan standar. Pengetahuan ala kadarnyapun jadilah. Pengetahuan standar sendiri di Indonesia tidak sama dengan pengetahuan standar di negara tujuan. Pengalaman saya di atas sebagai salah satu contoh nyata. Memang pengalaman saya itu terjadi enam tahun yang lalu, tapi apa mau dikata bila kawan saya yang baru datang ke Hong Kong untuk kali pertama juga mendapatkkan pengalaman yang sama persis seperti apa yang saya alami enam tahun yang lalu itu? Itu artinya selama enam tahun terakhir ini tidak ada perubahan sama sekali. TKW dulu sama bodohnya dengan TKW sekarang, lebih tepatnya dibodohkan, karena hal mencerdaskan (mencerdaskan bangsa) sendiri sebenarnya adalah tanggung jawab negara.

Keseriusan pemerintah untuk melindungi warga negaranya tak cukup hanya ditunjukkan dengan pemberian Hp saat keberangkatan TKI/TKW berjuang demi ekonomi keluarga dan masa depannya. Bagaimana pemerintah bisa yakin kalau majikannya bakal mengijinkan pembantunya untuk menggunakan Hp?

Ketika seseorang itu memutuskan untuk bekerja ke luar negeri itu adalah keputusan yang riskan, nyawa taruhannya. Dan bila perlindungan yang diharapkkan datang dari pemerintah hanya menguap begitu saja berarti mereka benar-benar harus berjuang sendiri atau hanya mengikuti arus nasip yang membawa mereka.

Perwakilan pemerintah di negara tujuan kerja (Konsulat Jendera RI) hendaknya menjadi rumah dan menjadikan TKI/TKW benar-benar merasa aman dan terlindungi. Atau bila tidak, sekalian serahkan saja stempelnya pada TKW masing-masing waktu dia berangkat ke negara tujuannya.