Jasa pengiriman barang BAI menggerutuiku karena aku gagal mengambil paketan pada hari Sabtu. BAI juga mengkhawatirkan paketan yang berisi makanan itu akan busuk bila terlalu lama di gudang pengambilan. Berhubung Sabtu aku tak jadi libur, maka baru keesokan harinya aku sempat mengambilnya, itupun setelah berlari-lari menyerahkan pesanan online kepada kostumerku dari satu titik ke titik lain (masih di daerah Causeway Bay-untuk kisah jualan onlineku ini mungkin akan kutuliskan nanti).
Aku menggeret salah seorang kawan yang jarang banget libur. Menggeretnya, memegang erat tangannya hingga dia tak bisa menolak untuk berkata tidak untuk mengikutiku (sukurin Wiek, haha..!). Kemudian bersamanya aku menuju gudang pengiriman barang, menyeret sebuah kardus lalu membukanya persis di lorong apartemen.
455 dolar, pikirku.
"455 dolar," gerutuku.
"Iki apa wae ta Wiek kok sampek meh 500 dolar ki," kataku pada Awiek.
"Astagfirullah, akeh men. Gek paket pelem wae kok sampek 750 ewu lho, kaujo aaa...!" gerutuku.
23 buah mangga, 2 kilogram sambel pecel dan seplastik enjet (batu kapur yang sudah dilunakkan) terdapat di kardus bekas kardus Indomie itu. Saat kuterima pada Minggu (15 Des'13) lalu, kerdus itu sudah lembek, basah, bau dan berminyak. Tiga di antara mangga-mangga itu sudah busuk. Sebelas lagi gembuk, selebihnya tidak begitu ok tapi juga tidak begitu gembuk.
"Nyenengke wong tua, Mbak. Jenenge wong tua pengin ngirim anake lho. Piye maneh, ya ben lah," bujuk Awiek.
Aku masih membayangkan biaya pengiriman sebesar 455 dolar alias 750 ribu. Betapa besar uang itu bagiku. Aku membayangkan ketika aku butuh setidaknya 2x5 hari ngepel lantai, 5x5 hari ngosek WC ditambah belanja, nyuci pakaian, masak plus diomeli majikan. Aku membayangkan betapa aku akan kehilangan kesempatan ikut kursus ini dan itu dengan uang itu. Aku membayangkan betapa...
"Lha timbang dipakek buat mbayar biaya pemaketan, 750 ewu lho bisa buat tambah transfer dhuwit emak," gerutuku lagi.
"Di sini mau makan mangga lho tinggal ke pasar beli yang 30 dolar udah dapet guedhe. Itu lho buat beli di sini udah dapet 15 buah lebih. Lagian siapa yang mau makan mangga sebanyak ini? Pengin mencret apa? UUgghhh...!" tambahku.
"Mbaak...nyenengke wong tua, Mbaaakkk!" kata Awiek lagi, nadanya sedikit meninggi tapi dengan ujung bibir tertarik ke atas.
Aku tak habis pikir, apa sih yang emak pikirkan saat mengirim paketan ini? Aku geram, aku ingin marah pula. Tapi sewaktu aku dial nomer telpon bapak (bapak yang merawatku), beliau tak menjawab panggilan telponku. Dan saat aku menelpon mbak Titik, kakakku, dia sedang sibuk.Olala!
Lalu kulimpahkan marahku pada Awiek. Kupasrahkan empat buah mangga padanya dengan harapan bisa mengurangi bebanku, ternyata paketan itu berat, seberat 13 kilogram, belum ketambahan paketan lainnya dan barang daganganku dan berkah hujan pada hari itu. Dan kembali harus kurayu-paksa Awiek untuk membantuku membawa pulang (ke rumah bos) barang-barang itu.
Lalu...
Hari Selasa (17 Des'13) aku baru berkesempatan menelpon bapak. Dan sewaktu kukatakan bahwa paketan itu telah sampai dan telah aku nikmati, beberapa cerita mengalir lancar tanpa aku mempunyai kesempatan untuk memenggal atau menyela.
Beliau bercerita bagaimana emak membeli kacang langsung dari petaninya kemudian dikupasnya lalu menungguinya saat kacang-kacang itu dijemur. Menggorengnya lalu membawanya ke pasar untuk diselep (dan harus satu jam menunggu giliran). Beliau menceritakan bagaimana beliau mengambil mangga. Mangga itu setelah dipetik langsung dimasukkan kardus. Dipilih yang bagus-bagus, besar-besar dan yang paling tua. Bapak yang biasanya mengunduh mangga dengan gotek mendadak harus memanjat pohon mangga yang penuh dengan semut krangkang. Lalu beliau juga menceritakan kehebohan saat mangga-mangga dan sambel pecel itu dikemas dalam kerdus.
Aku tersenyum, ternganga, terpana dan entah ter-ter apa lagi. Yang jelas cerita-cerita itu kurasakan lebih hebat dari pada kehilanganku atas 455 dolar atau 750 ribu. Cerita-cerita itu begitu penuh dengan cinta dan ketulusan dari orang-orang yang mencintaiku (dan kucintai). Cerita-cerita itu begitu penuh tenaga, penuh semangat dan membuatku hangat.
"Takkirimi akeh, ben awakmu isa melu ngrasakne, ben kancamu ya isa melu ngincipi," kata bapak.
O, jadi itu toh alasan bapak dan emak mengirim sedemikian banyak mangga dan sambel pecel. Katanya kalau yang 10 buah busuk, masih ada 13 buah yang baik yang bisa aku makan bersama kawan-kawanku (dan memang juga aku bagi-bagikan kepada kawan-kawanku).
Pribadi-pribadi yang sederhana itu entah berapa kali telah membuatku kalah. Betapa cara pikir mereka yang simple, melihat sesuatu dari sisi lain, membuat sesuatu yang kurasakan berat sebenarnya/menjadi tak terasa.
Dan sewaktu telpon itu kuakhiri, tak sedikitpun aku menyinggung besarnya biaya pemaketan yang harus kubayarkan. Bukankah semua sudah terbayarkan lunas dengan cerita-cerita itu? Sudah tak membebaniku lagi.
***pesan moral: cinta itu mahal maaakkk...!
Aku menggeret salah seorang kawan yang jarang banget libur. Menggeretnya, memegang erat tangannya hingga dia tak bisa menolak untuk berkata tidak untuk mengikutiku (sukurin Wiek, haha..!). Kemudian bersamanya aku menuju gudang pengiriman barang, menyeret sebuah kardus lalu membukanya persis di lorong apartemen.
455 dolar, pikirku.
"455 dolar," gerutuku.
"Iki apa wae ta Wiek kok sampek meh 500 dolar ki," kataku pada Awiek.
"Astagfirullah, akeh men. Gek paket pelem wae kok sampek 750 ewu lho, kaujo aaa...!" gerutuku.
23 buah mangga, 2 kilogram sambel pecel dan seplastik enjet (batu kapur yang sudah dilunakkan) terdapat di kardus bekas kardus Indomie itu. Saat kuterima pada Minggu (15 Des'13) lalu, kerdus itu sudah lembek, basah, bau dan berminyak. Tiga di antara mangga-mangga itu sudah busuk. Sebelas lagi gembuk, selebihnya tidak begitu ok tapi juga tidak begitu gembuk.
"Nyenengke wong tua, Mbak. Jenenge wong tua pengin ngirim anake lho. Piye maneh, ya ben lah," bujuk Awiek.
Aku masih membayangkan biaya pengiriman sebesar 455 dolar alias 750 ribu. Betapa besar uang itu bagiku. Aku membayangkan ketika aku butuh setidaknya 2x5 hari ngepel lantai, 5x5 hari ngosek WC ditambah belanja, nyuci pakaian, masak plus diomeli majikan. Aku membayangkan betapa aku akan kehilangan kesempatan ikut kursus ini dan itu dengan uang itu. Aku membayangkan betapa...
"Lha timbang dipakek buat mbayar biaya pemaketan, 750 ewu lho bisa buat tambah transfer dhuwit emak," gerutuku lagi.
"Di sini mau makan mangga lho tinggal ke pasar beli yang 30 dolar udah dapet guedhe. Itu lho buat beli di sini udah dapet 15 buah lebih. Lagian siapa yang mau makan mangga sebanyak ini? Pengin mencret apa? UUgghhh...!" tambahku.
"Mbaak...nyenengke wong tua, Mbaaakkk!" kata Awiek lagi, nadanya sedikit meninggi tapi dengan ujung bibir tertarik ke atas.
Aku tak habis pikir, apa sih yang emak pikirkan saat mengirim paketan ini? Aku geram, aku ingin marah pula. Tapi sewaktu aku dial nomer telpon bapak (bapak yang merawatku), beliau tak menjawab panggilan telponku. Dan saat aku menelpon mbak Titik, kakakku, dia sedang sibuk.Olala!
Lalu kulimpahkan marahku pada Awiek. Kupasrahkan empat buah mangga padanya dengan harapan bisa mengurangi bebanku, ternyata paketan itu berat, seberat 13 kilogram, belum ketambahan paketan lainnya dan barang daganganku dan berkah hujan pada hari itu. Dan kembali harus kurayu-paksa Awiek untuk membantuku membawa pulang (ke rumah bos) barang-barang itu.
Lalu...
Hari Selasa (17 Des'13) aku baru berkesempatan menelpon bapak. Dan sewaktu kukatakan bahwa paketan itu telah sampai dan telah aku nikmati, beberapa cerita mengalir lancar tanpa aku mempunyai kesempatan untuk memenggal atau menyela.
Beliau bercerita bagaimana emak membeli kacang langsung dari petaninya kemudian dikupasnya lalu menungguinya saat kacang-kacang itu dijemur. Menggorengnya lalu membawanya ke pasar untuk diselep (dan harus satu jam menunggu giliran). Beliau menceritakan bagaimana beliau mengambil mangga. Mangga itu setelah dipetik langsung dimasukkan kardus. Dipilih yang bagus-bagus, besar-besar dan yang paling tua. Bapak yang biasanya mengunduh mangga dengan gotek mendadak harus memanjat pohon mangga yang penuh dengan semut krangkang. Lalu beliau juga menceritakan kehebohan saat mangga-mangga dan sambel pecel itu dikemas dalam kerdus.
Aku tersenyum, ternganga, terpana dan entah ter-ter apa lagi. Yang jelas cerita-cerita itu kurasakan lebih hebat dari pada kehilanganku atas 455 dolar atau 750 ribu. Cerita-cerita itu begitu penuh dengan cinta dan ketulusan dari orang-orang yang mencintaiku (dan kucintai). Cerita-cerita itu begitu penuh tenaga, penuh semangat dan membuatku hangat.
"Takkirimi akeh, ben awakmu isa melu ngrasakne, ben kancamu ya isa melu ngincipi," kata bapak.
O, jadi itu toh alasan bapak dan emak mengirim sedemikian banyak mangga dan sambel pecel. Katanya kalau yang 10 buah busuk, masih ada 13 buah yang baik yang bisa aku makan bersama kawan-kawanku (dan memang juga aku bagi-bagikan kepada kawan-kawanku).
Pribadi-pribadi yang sederhana itu entah berapa kali telah membuatku kalah. Betapa cara pikir mereka yang simple, melihat sesuatu dari sisi lain, membuat sesuatu yang kurasakan berat sebenarnya/menjadi tak terasa.
Dan sewaktu telpon itu kuakhiri, tak sedikitpun aku menyinggung besarnya biaya pemaketan yang harus kubayarkan. Bukankah semua sudah terbayarkan lunas dengan cerita-cerita itu? Sudah tak membebaniku lagi.
![]() |
| breakfast, lunch, dinner: sambel pecel plus dessert mangga selama seminggu! |
***pesan moral: cinta itu mahal maaakkk...!













