Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Coblosan di Hong Kong

Tgl 6 Juli.
Langit sebentar terang sebentar mendung, sumuk, gerah. Tapi wajah-wajah kawan-kawan sebangsaku yang kujumpai di Victoria Park demikian semringah. Peluh pating dlewer mendelete sapuan bedak di wajah namun semangat mereka untuk menuju satu titik, jantung Victory, membuncah.

Aktivitas di lapangan rumput Victoria Park dimulai sejak pagi-pagi sekali. Tenda-tenda didirikan, spanduk dijembreng dari pohon ke pohon. Para petugas lalu lalang mempersiapkan apa yang sudah menjadi rencana besar hari ini. Yes, today is Coblosan Day. Hari ini adalah saatnya TKW-Hong Kong memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden ketujuh Indonesia.

Bahkan sebelum jadwal coblosan ini dilaksanakan beberapa kawan sudah berbaris antri di depan pintu masuk. Pilpres yang dijadwalkan dimulai pada pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 5 sore itu memakan tempat seluruh lapangan rumput Victoria Park yang seluas lapangan sepak bola jejer tiga.

13 TPS dengan enam bilik pada masing-masing TPS itu dibanjiri kurang lebih 32.000 TKW-HK yang antusias mengikuti pemilu kali ini (pada pileg hanya sekitar 6.0000 orang yang berpartisipasi).

Keantusiasan kawan-kawan ini juga disebabkan jadwal coblosan yang jatuh pada hari Minggu, hari liburnya TKW (kebanyakan liburnya hari Minggu, namun ada juga yang libur pada hari lain). Selain itu, tak bisa dipungkiri bahwa magnet dari pilpres kali ini ada pada capres nomer urut dua.  Visi misi capres asal Solo untuk TKI/W dinilai lebih realis dan solutif ketimbang capres nomer urut pertama. Selain itu kebanyakan TKW-HK yang tak lepas dari gadget HP android dengan fasilitas internet yang tergolong murah dan unlimited ini memudahkan TKW-HK untuk berselancar di dunia maya untuk mencari tahu tentang berita dan hal ihwal capres-cawapres. Streaming debat capres dan video-video yang telah diunggah di youtube menjadi referensi penting bagi kami.

KJRI dan PPLN Hong Kong yang bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan pilpres di Hong Kong ini pun menuai banyak kritikan. Dari 158.000 TKW di Hong Kong ternyata ada banyak sekali  yang tidak mendapatkan surat konfirmasi pilpres.

Surat konfirmasi pilpres ini dikirim kepada TKW-HK ke rumah majikannya masing-masing dua minggu sebelum pilpres. Setelah mendapatkan surat konfirmasi pilpres, calon pemilih diberikan dua opsi untuk memberikan suara lewat pos atau memilih langsung di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Bagi yang memutuskan untuk memberikan suara lewat pos maka surat konfirmasi itu diharuskan untuk dikirim balik ke KJRI untuk kemudian KJRI mengirim Surat Suara yang bisa dicoblos langsung oleh pemilih di rumah (rumah majikan) kemudian dikembalikan lagi ke KJRI lewat pos. Sedang bagi yang memilih untuk memberikan suara di TPS, tidak perlu mengirim balik surat konfirmasi tapi nanti akan dikirimi surat undangan mencoblos dengan barcode (untuk screening data) yang bertuliskan nama, nomer TPS dan waktu pencoblosan.

Di Hong Kong, ada pengecualian bagi TKW yang tak terdaftar dan tak mendapatkan surat konfirmasi, mereka tetap mempunyai kesempatan untuk memberikan suara secara langsung dengan cara mendatangi TPS dan menunjukkan KTP Hong Kong. Pendataan akan dilakukan secara manual dan komputer di TPS.

Kesemrawutan berlanjut dengan banyak yang mengirimkan surat balasan dan menyatakan kesediaannya untuk memberikan suara lewat pos (karena tidak libur di hari pencoblosan) tetapi malah mendapatkan surat undangan untuk memilih langsung di TPS. Ini menjadi kekecewaan yang besar karena mereka merasa dipaksa golput karena gagal nyoblos.

Malah pada hari H pemungutan suara tadi tak ada kontrol. Di pintu masuk menuju 13 TPS itu waktu pencoblosan (yang berbeda) yang tertera di surat undangan itu diabaikan oleh pemilih dan PPLN. Petugas malah menyilakan pemilih dengan jadwal waktu pencoblosan kapanpun bisa masuk. Teruknya, tidak ada pemisahan antara calon pemilih yang sudah mempunyai surat undangan dengan calon pemilih yang belum terdaftar.Sehingga ini memperlambat proses pendataan baru dan pendataan ulang. Pintu masuk dipecah menjadi dua saat banyak protes dan masukan diteriakkan oleh kawan-kawan kepada petugas, itu pun baru sekitar pukul 11.30 AM.

Parahnya, pilpres itu berakhir dengan demonstrasi yang boleh saya bilang aneh. Beberapa kawan-kawan yang melihat antrian mengular itu memilih menepi hingga terik matahari dirasa tak begitu menyengat dan panjangnya antrian menyurut. Namun ternyata antrian tersebut tak menyurut hingga waktu coblosan hampir selesai.

15 menit sebelum coblosan selesai petugas PPLN lewat pengeras suara mengumumkan bahwa pilpres akan selesai (pilpres selesai pukul 5 sesuai jadwal & ijin dari pihak Victoria Park). Kondisi pintu masuk menyepi namun tepat pukul 5 sore depan pintu masuk digrudug oleh banyak kawan-kawan yang tadinya berteduh yang ingin mengikuti pilpres. Setelah protes dan debat yang alot dan pertimbangan dari KJRI, PPLN dan Bawaslu akhirnya mereka berinisiatif untuk memberi kesempatan nyoblos 20 menit lagi. Setelah 20 menit, tiba-tiba datang lagi banyak kawan, sekitar 40-70an orang (lihat video di bawah) yang mau nyoblos. Lalu karena diberitahu bahwa TPS tutup mereka bersama mbak-mbak yang lain yang ada di sekitar TPS, mendadak protes untuk dibukakan pintu masuk untuk menunaikan haknya memberikan suara. Dan lagi, protes itu terjadi.

Ya kalau di Indonesia mah nyoblos sampai malem biasa aja khan di rumah sendiri. Lha ini di negara orang yang waktu sewa tempatnya ada aturannya. Sebenarnya kalau mau itung-itungan siapa yang salah, jujur saja:
1. Salah pemilih yang takut matahari dan tidak on time.
2. Salah PPLN Hong Kong karena ngasih surat undangan pada yang mau nyoblos lewat pos.
3. Salah TPS-nya yang kurang banyak. TPS-nya tuh seharusnya 40-50 buah dengan petugas bagian konfirmasi surat undangan sebanyak bilik suara di TPS itu. Coba bayangkan saja, di desa saja satu RWada  satu TPS. Satu RW berapa jiwa sih? Di sini 158.000 orang lho. Taruhlah yang mengikuti coblosan cuma sepertiganya saja, 13 TPS cukupkah?

Banyak yang mengeluh dan menyesalkan tidak memilih nyoblos lewat pos sehingga gagal menggunakan hak pilihnya.

*JKW kehilangan banyak suara karena ini, hehe...

Berikut foto-foto Pilpres di Hong Kong (tapi maaf, foto yang pada protes itu tidak punya karena kamera sudah habis batreinya):

menuju lokasi pilpres
menuju lapangan rumput


sebelum pintu masuk, pukul 11.30AM
sebelum Pintu masuk 12.45 PM

di depan pintu masuk @ 1 PM

jam 3 sore

jam 3 sore
aku tadi di TPS 9

pendataan bagi pemilih dengan surat undangan
menunjukkan bahwa surat suara masih baru, tidak cacat

memasukkan suara


Pendataan bagi pemilih tanpa surat undangan
pendataan pemilih tanpa surat undangan

di dalam pintu masuk, pemilih tanpa surat undangan
foto dari luar pintu

antrian mengular menuju pintu masuk

puanassss sekaliiiiiiii...!!
Video suasana pilpres di HK pada pukul 11.15 AM


Video "Protes Ganjil"
direkam oleh Mega Vristian.
Video ini adalah video protes dari mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang ikut-ikutan. Lalu mengapa video yang saya unggah di youtube itu saya beri tajuk "Protes Ganjil"? Karena awalnya mbak-mbak yang gagal nyoblos ini biasa-biasa saja namun setelah ketambahan mbak-mbak yang lain mendadak agresif, berteriak-teriak dan yel-yel yang lain. Ini aneh bin ganjil sekali.


--------------------------------------------







Srinthil 9: Saat Srinthil Debat Capres

 Saat ini, di depan kami kawan-kawan akrab kami saling berteriak adu lantang. Otot-otot leher mereka menjelantir tegang, mata-mata mereka membulat. Bahkan saat berdebat mereka sambil menggerak-gerakkan tangan dengan kasar. Merasa tak tahu apa yang sedang terjadi aku memilih diam barang sejenak.

Aku dan Srinthil terpaksa berhenti demi mendengar perdebatan itu. Padahal saat setengah jam yang lalu saat kami tinggalkan mereka untuk membeli Mie ayam dari warung lesehan pinggir Victory mereka rukun-rukun saja lho.  Lhah ini menjelang buka puasa kok sudah perang? Coba kalau dilihat sama Amien Rais, pasti dikira perang Badar deh.

Merasa nggak ngerti apa yang mereka perdebatkan membuat kami diam sejenak mendengarkan. Ketika suara itu menjadi satu persatu yang bicara bukan lagi adu cepat seperti tadi, barulah kami mengerti ke arah mana perdebatan mereka itu.

"Lha emang NKRI mau jadi Negara Kartu Republik Indonesia? Apa-apa kok solusinya kartu. Entar banjir juga solusinya pakek kartu? Mikir dong mikir!" kata Anez.

"Iya. Ih! Alergi aku sama kartu! Entar itu KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri=kartu identitas TKI yang cara membuatnya belibet) bukannya dihilangin malah digedhein, malah tambah nyusahin. Mana pencipta KTKLN (Jumhur) di sono pula! Enggak deh! Ngeri membayangkan rempongnya bikin KTKLN," ujar Miya sambil bergidik.

"Lagian kata Mister Blusukan lucu, bilang kalo  KJRI harus punya data TKI. Itu mah udah dari dulu, lha khan itu kewajiban KJRI, iya tho? KJRI ada sistem online, khan? Apa nggak sama aja tuh? Beda nama aja. Dari tahun lalu koar-koar sistem online tapi nyatanya apa coba? Orang pendataan pemilu aja ancur gini. Mosok aku milih lewat surat, dikirimin undangan. Mana bisa? Coblosannya jam 12 sampai jam 2 lagi. Khan itu jatahnya ikut seminar wirausaha. Rugi dong bokap guwe kehilangan satu suara," teriak Suzy.

"Eh, elu pikir bokap elu doang? Bapakku juga rugi tau!  Banyak yang pengin nyoblos tapi gak jadi karena gak dapet undangan dan pas gak libur," sergah Ellya

"Iya, samalah. Mangkanya, kalau pak Jokowi menang sistemnya akan diperbaiki," kata Chamid takut-takut.

"Dipikir-pikir bokap macanmu itu lucu. Lupa gak pakek laurier wings ya? Bocoor...bocoor...! Kalau kekayaan negara itu bocor, nanganinya gimana? Njelasin gitu aja ngambang, gak jelas. Semua juga tahu kalau babu ekspor itu terpaksa ke luar negeri karena ekonomi. Lhah sementara ekonomi masih diperbaiki trus suruh gimana? Apa solusinya? Gak usah jadi TKW? Trus nunggu ekonomi membaik berapa lama? Trus adikku mau sekolah pakek apa?" Hindun berkata sambil membanting-banting handuknya yang baunya semerti rendaman cucian yang udah tujuh hari.

"Pakek Kartu Indonesia Pintar dong, bukan pakek bocor," jawab Ellya sambil tersenyum sinis.

O...rupanya itu. Aku baru ngerti bahwa mereka sedang menperdebatkan capres-capres andalan mereka. Tapi...lagi? Ini sudah yang keberapa? Masak tiap kali ketemu jadi kayak YKS gini, rame tapi enggak jelas. Padahal mereka khan berkawan baik. Masak cuma gara-gara capres trus tiap ketemu -enggak di FB enggak ketemuan langsung- trus berantem gini? OMG banget deh.

"Eh, kalian tuh udahan belum? Kalau masih mau berantem, sono! Biar mie ayam dan soto nih aku habisin sama Srint," kataku sewot.

"Lha kita enggak berantem mbak Ri, cuma debat aja," kata Ellya sambil mengambil semangkuk mie ayam.

"Eh, udah waktunya buka lho. Udah jam 7.15," kata Srinthil sambil membagi-bagikan makanan dan minuman.

"Allahumma laka sumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin," doa kami bersama-sama.

Akhirnya hening. Semua menikmati makanan sambil foto-foto. Ya ini mungkin sudah jadi lifestyle TKW-Hong Kong, sebelum makan foto dulu pakek kamera 360 trus diposting di FB. Habis itu lanjut makan.

Dua mangkok mie ayam, dua mangkok soto ayam, dua mangkok bakso dan dua porsi nasi campur dinikmati bersama. Bau-bau harum makanan yang sama tercium di segala penjuru Victoria Park malam itu. Sebenernya aku sih kepingin makan mie ayam, tapi karena udah keduluan sama Anez, ya udah. Walau Anez bukan muslim tapi dia setia kawan banget, enggak makan dan minum di depan kami. Bahkan Anez tadi yang membelikan semangka dan melon untuk buka bersama.

"Eekkk...alhamdulillah," Hindun bersendawa.

"Makan nikmat kayak gini jadi meyakinkan aku untuk bikin warteg nanti. Tapi modalnya dah berkurang karena ngawinin adik kemarin. Hhhh...," desah Hindun.

"Tenang aja, kalau bokap gue menang, beliau bakal memberikan pinjaman dana buat TKI purna untuk modal usaha," kata Anez tegas.

Duh, alamat mulai lagi nih adu mulutnya, pikirku.

"Lha itu bukannya program KUR (Kredit Usaha Rakyat yang dikhususkan untuk TKI purna)? Lagian ngasih pinjaman disertai ngajarin gimana caranya buka usaha nggak? Kalau enggak ya sama aja bo'ong. Ntar ujung-ujungnya TKI purna-nya yang kejeblos utang,"

"Makanya visi misi itu yang jelas dan detil kayak punyanya pak Jokowi yang 41 lembar. Mosok cuma tujuh lembar, mau jelas gimana? Mau detil gimana? Melindungi buruh itu tugas negara, pengiriman TKI nanti harus G to G (Goverment to Goverment=pengiriman tenaga kerja lewat pemerintah bukan PJTKIS), itu cocok banget,"

"G to G, iya bener banget. PDIP khan emang paling pinter kalo berhubungan dengan Cina,  negara komonis itu. Ya iyalah khan Jokowi juga penganut paham Komunis," tuduh Suzy serta merta.

"Eh kamu kalo ngomong jangan asal njeplak ya. Daripada bokap lo yang pembunuh, ketambahan pula Hatta Rajasa yang kebal hukum, mau jadi sepasang Hitler?" kata Hindun.

"Eh, daripada bapak lu yang tampang o'on gitu. mending nyokap guwe yang ganteng dan gagah," Miya membela diri.

"Ya mendinglah, itu wajah kerakyatan bukan ke-elit-elitan. Daripada jombloman gitu, suruh sono buat kebijakan buat jomblowers. French kiss sono sama kuda," gertak Ellya.

Perdebatan itu jadi nggak menentu. Hatiku bergemuruh melihat kawan-kawan karibku bersitegang seperti itu. Buku, tas, payung, sandal sudah bertebaran kemana-mana karena dijadikan alat peraga debat yang semakin ngawur. Kalau aku tak turun tangan pasti sebentar lagi ada adegan jambak-jambakan dan jotos-jotosan di tengah Victoria Park ini.

"Stop! Stop! Sudah! Sudah! Berhentiii...!" teriakku di atas angin. Seketika semua diam kaget karena suaraku yang meninggi tak seperti biasanya. Srinthil memegangi pundakku, entah mau meredam amarahku entah takut.

"Kalian debat di awal tadi masih wajar, tapi makin ke sini makin ngawur. Mau jadi tukang fitnah ya kalian?" bentakku.

"Kalian ini, mau milih presiden aja debatnya nglebihi waktu milih calon suami. Malu tau! Kalau kalian sudah menetapkan pilihan, ya mantabkanlah hati. Cari kebaikan pilihan kalian sebanyak-banyaknya. Kenali lebih dalam lagi. Bukan saling serang kayak politikus gila gini," kataku.

"Aku tahu ini pilihan yang berat. Seperti taruhan lima tahun ke depan. Makanya udah tahu kalau kita sedang gambling mbok ya fokus melihat potensi kalah yang enggak bikin bangkrut banget atau menang walau enggak seberapa. Ya, aku setuju bahwa kita akan mendukung calon pilihan kita. Tapi enggak usah over dosislah ndukungnya. Buktikan dukungan kalian pada 6 Juli nanti. Dengan cara nyoblos, milih. Kalian sekarang adu pendapat gini tanpa nyoblos ya percuma," kataku lagi.

Chamid, Srinthil, Hindun, Anez, Miya, Ellya tertunduk sedang Suzy yang merasa aku sindir, tertunduk lebih dalam lagi. 

"Kita ini berkawan selamanya atau mau bubar karena copras-capres ini?" tanyaku

"Selamanya, Mbak," jawab mereka kompak.

Kami berdelapan saling bersalaman, meminta maaf. Lalu berangkulan dan duduk melingkar lebih rapat lagi. Akhirnya kami berdelapan setuju untuk deklarasi damai. Bahwa tidak akan ada lagi saling gontok-gontokan dan tukar padu atau saling menjatuhkan capres. Bahwa kami akan lebih fokus kepada rekam jejak dan kebaikan capres pilihan masing-masing. Bahwa kami akan mendukung siapapun capres terpilih nantinya.

Malam merangkak, sudah saatnya kami kembali ke rumah majikan masing-masing, untuk menjadi peran pembantu di lakon film Kungyan-Lopan (Pembantu & Majikan) dengan kontrak shooting dua tahunan.

Rombongan kecil kami bubar ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam.



--------------------------------------------------------------------


Cerbung ini fiktif namun berdasarkan kejadian nyata. Fenomena seperti dalam cerbung ini  terjadi di Hong Kong. Kawan akrab bersitegang lantaran capres pilihannya.
Srinthil dan kawan-kawan menggambarkan TKW Hong Kong, pendukung capres-cawapres.
Kegelisahan untuk memutuskan Prabowo atau Jokowi juga didasari seperti hal di atas: ketakutan akan KTKLN, ketakutan saat menjadi menjadi TKI Purna, mosi tidak percaya pada capres akan perlindungan macam apa yang ditawarkan pada TKI/W, juga ketakutan saat nanti menjadi purna -saat kesehatan, pendidikan dan pangan menjadi momok atau hal yang membebani bagi orang kebanyakan.




Tak Netral, Ada Apa dengan SBY?

Pada awalnya saya merasa salut untuk yang pertama kalinya kepada SBY. Pasalnya SBY bersikap netral terhadap pasangan capres-cawapres. Dia tidak memihak. Tidakpun ada indikasi dia untuk memihak, kendati itu bukan mustahil. Apalah yang tak mungkin di dunia politik? Lha udang busuk saja bisa dibuat menjadi trasi kok.

Hingga ada kabar ini, bahwa SBY menyatakan dukungannya terhadap pasangan capres-cawapres nomer urut satu. Lalu DPP Partai Demokrat (yang kendali penuhnya dipegang oleh SBY) memutuskan dan menginstruksikan seluruh pengurus DPP, DPD, DPC, kader-kader Demokrat, seluruh simpatisan, serta sayap organisasi Partai Demokrat, untuk mendukung Prabowo-Hatta. What the hell is going on here, Mister Presiden?

Selagi sedang berhalangan berpuasa, biarlah saya keluarkan uneg-uneg kepala saya.

Century dan Hambalang adalah dua kasus never ending yang mungkin akan menjadi bumerang bagi SBY dan keluarga bila Jokowi menang. Pasalnya capres nomer urut dua ini berkomitmen untuk memperkuat KPK dan memberantas korupsi. Kasus Akil Mochtar, yang divonis penjara seumur hidup, bukankah sebuah tanda menguatnya KPK? Lha kalau diperkuat lagi bagaimana?

Sedang capres nomer urut satu dengan Hatta Rajasa sebagai cawapresnya mungkin bisa dijadikan sebagai tameng. Toh, terbukti hukum itu tumpul ke atas pada anak Hatta Rajasa. Sedang persepsi dan indikasi tentang keterlibatan Prabowo dalam isu HAM saja tak ada gaungnya. Hanya gema saja, gema dari opini publik yang digiring ke situ, tak ada itikad pengusutan. 1998-2014 bukan waktu yang singkat kalau benar-benar mau mengusut, nyatanya tidak.

So, welcome to the safe landing, Mister Presiden.
 
Kalau ada kubu yang menyatakan kuatnya JOkowi effect ditentang dengan pernyataan Jokowi effect itu hanya pepesan kosong, mungkin inilah salah satu pembuktiannya. Dukungan Demokrat ke capres pertama menambah barisan elite di kubu garuda merah. Sedang di seberang sana, di kubu Revolusi mental, berkumpul barisan enggak elite-elite amat, orang kampung, seniman jalanan, anak-anak muda dan sebagainya. 

Ini menarik sekali. Berubahnya pikiran SBY tentu didasari pada banyak fakta, survey salah satunya. Kalau dalam survey yang dipercaya oleh SBY tersebut menyatakan kemungkinan kemenangan capres nomer urut satu ya amanlah. Soalnya kalau capres nomer dua kalah toh sudah biasa, ya kan? Tahun 2004 dulu contohnya. Toh aman-aman saja khan? Megawati gagal nyapres toh tidak ada huru-hara kan?

Pertanyaan saya sekarang: "How are you, Mister Ruhut Sitompul?"


Saat Mister Ruhut Mendua

foto dari sini
Adalah seorang "dagelan politik" yang banyak dibenci publik sekaligus ditunggu-tunggu kehadirannya yang tak lain adalah Ruhut Sitompul yang membuat saya korupsi waktu istirahat saya untuk mengutik-utik blog dan menuliskan ini. 

Lelaki yang tidak akan pernah dimasukkan dalam kategori "lelaki STw macho" (STW=Setengah TuWa) ini emang kontroversial sekali. Lalu maaf, kenapa saya menyebut beliau dengan sebutan "dagelan politik"? Karena lelaki kelahiran Medan ini setiap muncul pasti mengeluarkan statemen atau opini yang nyleneh, ya kalau enggak nyleneh ya nyaris gila lah. Sebenarnya enggak beda jauh dengan pemilik blog ini sih (lho?), cuma mungkin kadar kepekatannya (gilanya) beda. OMG!

Dan adalah sebuah berita di sini dan di beberapa media online lainnya yang memberitakan bahwa tokoh media darling abu-abu yang satu ini memberikan dukungannya kepada pasangan capres nomor urut 2, Jokowi-Kalla. What???

Jadi orang yang selama ini memusuhi Jokowi mati-matian ini mendukung Jokowi?

Iya.

so what gitu loh?

Wah, kalau begini saya harus mengakui bahwa Ruhut adalah politikus yang kompeten. Pertama, beliau konsisten berperan sebagai "dagelan politik". Kedua, beliau bisa menerawang calon bos baru yang (menurutnya) baik dan prospektif. Sekaligus ketiga, beliau masih bisa loyal terhadap calon ex bosnya.

Tidak mudah untuk konsisten. Contohnya ya seperti saya sendiri. Kawan-kawan karib saya menunggu postingan saya di babungeblog atau share opini dan cerita lucu saya di FB, namun saya tak sanggup. Malah blog hiatus dan FB non aktif. Bahkan untuk sekedar meluangkan waktu satu jam untuk BW saja sedemikian berat, apalagi untuk posting. Padahal dulu getol banget mengkritisi sesuatu. Dan kalau lelaki yang pada 24 Maret lalu genap berumur nem jinah alias 60 tahun ini sanggup untuk konsisten menjadi -ya itu tadi seperti yang saya sebutkan tadi- itu adalah sebuah prestasi yang seharusnya diapresiasi. Jadi, mari bertepuk tangan sejenak untuk Mister Ruhut.

"Plok! plok! plok..!" (applause)

Oke, setelah tepuk tangan tadi selesai mari menilik SBY. Presiden dua putaran yang adalah (calon ex) bos dari Ruhut tak lama lagi akan lengser dan akan digantikan oleh entah pasangan Prabowo-Hatta atau JKW-Kalla. Ya pokoknya kalau enggak satu ya dua, gitu. Dan Ruhut yang mempunyai ilmu kebatinan yang dalam ini yakin bahwa "mister blusukan" akan menang. Sehingga (calon ex bos) SBY yang akan turun tahta ini sudah ada gambaran replacement-nya untuk kesinambungan apapun namanya itu. Dan bukankah with new employer we have to adjust ourself so that we can keep our job? (lihat sini) Jadi enggak usah ada istilah malu kalau dari anti pati menjadi cinta mati. Toh enggak cuma Ruhut yang berbuat demikian, iya to? Dulu partai-partai yang pada pileg Maret-April lalu saling berlomba memenangkan suara, toh akhirnya juga harus berbaik-baik kemudian berkoalisi. Saya baru sadar bahwa politik itu seperti kolor. Tarik ulur, memanjang lalu mengkerut kembali. Ya semoga saja tidak mengendur karena lupa akan apa sebenarnya tugas menjadi kolor itu.

Betapa pandainya Ruhut karena bisa mencari bos baru tanpa memecat bos lama, dia masih bisa loyal terhadap SBY. Keberpihakannya pada JKW-Kalla yang "katanya" dikarenakan kecewa pada Prabowo yang pada debat capres kedua lalu menyebut bocor sepuluh kali dan juga karena tagline "Indonesia Hebat" yang diusung capres-cawapres nomer urut dua itu seolah sebagai bukti kesetiaannya pada SBY. Saat 95% petinggi-petinggi partai berlambang mercedes  memberikan hatinya pada Prabowo, dia memberikan spermanya pada JKW. Ya meski spermanya nanti mandul, tidak berpengaruh apapun, toh tak ada yang dirugikan. Ruhut tetap Ruhut dengan gaya bicaranya yang seperti itu. Kalaupun dia kelepasan omong atau asal njeplak, itu tak akan mempengaruhi JKW-JK ataupun PDI-P. Ya, semua orang tahu kalau Ruhut itu ya..ya wis kaya ngono kuwi lah.

Indonesia saat ini sedang gonjang-ganjing karena semangat dukung-mendukung yang sumuk. Sumuk, gerah karena orang-orang mendadak menjadi irrasional dalam memberikan dukungan kepada jagonya masing-masing. Ruhut bukan pengecualian. Pastilah dia ikutan sumuk demi untuk menunjukkan bahwa dia mendukung salam dua jari.

Tapi ada yang mendadak membuat saya ngakak. Ruhut itu kok seperti Datuk Maringgih dalam Novel Siti Nurbaya ya? Tokoh antagonis yang di akhir cerita dihormati karena ikut berjuang demi tanah air. Lalu akankah Anis Baswedan berpelukan dengan Ruhut? Hehehe...

So Mister Ruhut, selamat mendua!
 

-----------------------------------------








Disclaimer: saya belum menjatuhkan pilihan saya pada capres-cawapres manapun, bukan pula berniat untuk golput. Tulisan ini saya buat tanpa niatan untuk menjatuhkan pasangan tertentu tetapi lebih untuk pembelajaran diri saya sendiri untuk mengenal lebih (dalam) tentang capres-cawapres tersebut. Mungkin saat ini saya menyentil Ruhut, bisa jadi besok giliran Jokowi lalu lusa giliran Prabowo. Semua capres tak ada yang sempurna, pun saya tidak sedang mencari yang sempurna tapi lebih melihat kecondongan atau keberpihakan capres-cawapres terhadap saya, kami, yang adalah WNI dari komunitas babu ekspor. Postingan-postingan ini dan selanjutnya (yang berhubungan dengan pilpres) sekaligus untuk memberi kritik, pertanyaan dan harapan pada capres-cawapres (nek diwaca lho).




Ketika Satu Persatu Pergi

Dua bulan setelah kepulangan/cutiku di tahun 2009, simbah (emak dari emak kandungku) meninggal. Wanita yang terkenal dengan sambel pecel dan kemandiriannya ini meninggalkan banyak kenangan indah bagiku dan aku tak sempat membalas semua itu, bahkan untuk duduk berlama-lama dengannya saja aku tidak bisa.

Dua tahun kemudian (2011) bapak menyusul simbah. Hanya sebulan sebelum kepulanganku cuti. Satu-satunya baju baru, batik sutra hijau yang aku pilih berhari-hari lamanya pun belum sempat dipakainya.

Lalu kemarin, 28 Mei 2014, pukul 2. 32 PM waktu HK (1.32 PM WIB), sebuah kabar terkirim lewat sms, simbah (emak dari simbok yang membesarkanku) telah meninggal. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Do you know how I feel?

Kosong.

Tak ada air mata sedikitpun hingga saat aku menyempatkan diri menulis ini. Kepergian simbah bukannya tidak menyedihkanku, bukan. Bagaimanapun dari ada kemudian tidak ada, tentu sebuah perubahan besar bagiku, bagi keluargaku. Kendati hal itu (meninggal) sudah bisa kami rasa dalam bulan-bulan terakhir ini. Beliau yang sudah sakit-sakitan berbulan-bulan lamanya (bahkan setahun lebih), beliau dengan umur hampir 100 tahun itu, beliau yang sedari aku kecil sampai dengan dewasa dan setengah tuwa ini tidak bisa melihat wajahku (karena buta), -memang mungkin sudah waktunya. Kami mengikhlaskannya bila masa itu tiba, termasuk kemarin.

Kendati demikian, kabar tentang kepergian simbah mengagetkan aku, menyadarkan aku bahwa satu persatu dari orang-orang yang amat berarti bagiku pergi tanpa aku bisa melihatnya.

Aku merasa kosong, hampa dan ketakutan baru tiba-tiba menghantuiku.

Aku mempunyai emak (kandung) dan simbok (yang membesarkanku) yang adalah orang terdekat dan amat berarti bagiku. Dan aku benar-benar takut bila...

Kontrak kerjaku akan berakhir pada pertengahan Juni tahun depan dan itulah rencana final exit-ku dari Hong Kong. Tinggal satu tahun lagi, sedang aku tak tahu akan bagaimana dalam satu tahun kedepan. 

Is it worth it? 

Or 

Should I just go home?



*kenapa pula aku harus menuliskan ini di blogku?




Demi Jokowi Gak Jadi Golput, Tapi...

"Mbak Rieee!" teriak temanku di ujung sana, wajahnya serius.

Aku menghentikan langkahku dan meletakkan tas jinjing dan beban berat di punggungku serta merta. Ya, tas punggung ini memang berat sekali hari itu, karena kebetulan banyak pesanan baju dan aksesoris dan mesin jahit yang mau diambil (aku jualan juga di Hong Kong). Dan aku tahu dengan gelagat seperti itu, dengan berita yang sepertinya penting yang dibawa kawanku itu, tentu akan memakan sedikit waktu untuk ngobrol.

"Mbak Rie, Jokowi mana?" tanyanya setengah berteriak padahal sudah berada tepat di depanku.

"Ha?" aku bengong.

"Enggak ada Jokowi, Mbak. Aku sudah bela-belain antri. Aku sudah bela-belain gak nonton GIGI (hari itu ada konser band GIGI, acaranya salah satu simcard provider di Hong Kong). Niatku pengin nyoblos Jokowi. Kok Jokowi gak ada. Katanya Jokowi nyapres?" tanyanya menyerbuku.

"Lha sing bilang nek hari ini pemilihan presiden siapa?" tanyaku.

"Ya khan Pemilu," jawabnya.

"Pemilu khan enggak cuma pilpres, cah ayu. Gak cuma pemilihan presiden. Hari ini Pemilu Legislatif. Yang Pemilihan Presidennya masih lama, sayang," jelasku.

"Gitu ya? Itu tadi banyak kepala. Mana aku gak kenal lagi. Wajah-wajahnya asing. Ada wajah lama juga aku gak suka. Trus aku harus milih siapa?" katanya.

"Lha kamu tadi milih siapa?" aku berbalik bertanya.

"Enggak tahu. Enggak milih. Kertas tak buka trus aku bingung. Trus aku nyoblos logo partainya aja," jawabnya.

"Ya udah. Wong wis kadung kok. Lain kali kalau niatnya mau ikut, ya harus nyari tahu dulu, itu Pemilu apa. Nyari info sebanyak-banyaknya, kenali tokoh-tokohnya, kenali partainya.  Koran gratis juga banyak ditulis beritanya kok. Tuh HP keren buat browsing khan bisa. Kalau buat FB sama whatsapp dan skype doang, mending hibahkan saja ke aku, biar bisa aku buat ngeblog," kataku.

"Yee...," katanya sambil menyablek tanganku.
"Kecewa berat, Mbak. Aku nggak jadi golput karena Jokowi. Wong gak ada sosialisasi lho. Mending tadi nonton GIGI," katanya jengkel.

"Ada sosialisasi kok, itu di koran. Tanggal 9 Maret lalu juga ada pemaparan Pemilu dari Kominfo dan Bawaslu, tapi woro-woronya di FB tanggal 4 Maret, acaranya tanggal 9 Maret. Ada 50 orang tuh yang ikut," jawabku.

"Yeee...sama aja bo'ong,"

Percakapan berlanjut dengan menanyakan ini dan anu dan itu lalu dengan sedikit basa-basi aku pamit untuk melanjutkan perjalananku mengantarkan barang pesanan. Lalu baru beberapa langkah ada suara lagi mengejutkanku.

"Mbak Rieeee..!"

"Aku pengin marah," katanya setelah berada di depanku dengan nafas terengah-tengah dan buah dada naik turun.

"Aku tak pergi aja nek gitu. Wong arep nesu kok nyari aku," kataku gemas.

"Enggak nyari, kebetulan ketemu gini kok. Nyoblos gak, Mbak?" tanyanya.
"Aku tadi nyoblos, aku gak kenal mereka (nama-nama di daftar pemilu). Trus aku bilang sama pengawasnya: "Pak, gak ada yang saya kenal". Trus tahu nggak jawaban pengawas TPS itu?" katanya cuepet banget seperti MTR Express jurusan airport HK.

"Enggak," jawabku cuek.

"Yaelah mbak, itu pengawas dari KJRI ngomong gini: "Kalau mbak enggak kenal mereka, ya lihat saja wajahnya. Lhah kalau ada wajah yang paling cakep yang mbak suka, ya pilih saja dia."
Gitu katanya. Njengkelin nggak tuh orang?" jelas temenku ini dengan wajah geregetan.

"Trus ada yang kamu suka enggak?"

"Ya enggaklah,"

"Trus dirimu nyoblos apa?"

"Enggak tahu,"

"Kenapa sih pada males nyari info dulu sebelum mau ikutan pemilu?"

"Ya mana aku tahu (dipikir pilpress bukan pileg), Mbak," jawabnya.

"Nggak tahu ya tanya, cari info. Lha kamu punya mbakyu sepinter aku ya gak pernah tanya. Tanyanya cuma kalau lagi mentok pas punya masalah majikan, pas punya masalah sama pacar. Pas mau beli make up atau baju. Huh," kataku.

"Lha mbak Rie nggak ngasih tahu! Sekarang pelit info. Nulis kek di wall FB, nulis kek di opini koran, nulis kek di blog. Sekarang jualan mulu, jarang ngasih-ngasih info kayak dulu, sebel!"

Lho kok? Kok aku yang disalahin ya?


******

Hari itu tgl 30 Maret 2014. di Hong Kong sedang diadakan Pemilu Legislatif.
TKW-Hong Kong (HK) masih banyak yang belum mengetahui apa bedanya Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. Umum yang mereka tahu kalau Pemilu itu ya milih presiden. Berhubung jagoan yang menjadi media darling dan kerap menjadi obrolan karena blusukannya telah memproklamirkan diri nyapres di pilpres tahun ini, maka kebanyakan (yang mengira bahwa pemilu itu ya cuma pilpres) akan datang ke TPS yang berada di Victoria Park, Causeway Bay, HK untuk nyoblos kepalanya Jokowi.

Tak banyak yang berpartisipasi dalam Pileg kemarin, hanya sekitar 6.000 peserta dari total TKW-HK yang lebih dari 152.000 orang. Itupun sudah tergolong meningkat dibanding lima tahun yang lalu.

Bagi yang mengetahui bahwa Pileg itu bukan untuk memilih presiden, tentu akan menunggu Pilpres untuk memberikan suaranya. Kebanyakan TKW-HK di sini mempunyai pendapat bahwa mereka yang berada di DPR tak mampu menyampaikan suara TKW bahkan terkesan masa bodoh dengan TKW.


21 ton kertas suara yang terkirim ke HK