![]() | |
| Jam 5, pintu utama sudah tutup. Foto by Kyteth asti |
Berita di medsos terlalu banyak MSG dan ditambahi di sana-sini. Entah pula dari mana medsos itu mendapat keterangan. Apakah dari orang yang menyaksikan langsung atau sekedar berita "katanya"?
Akhirnya pembaca digiring pada pada opini ini-itu sesuai kepentingan medsos tersebut. Namun bukankah tugas medsos untuk memberikan fakta? Bukan opini atau isu? Kalau opini atau isu kenapa harus diberi label berita? Ya memang negara Indonesia ini negara besar namun bukan berarti sebuah berita harus dibesar-besarkan untuk membesarkan Indonesia. Bah!
Saya bolak-balik ke lapangan rumput Victoria Park, tempat pesta terbesar sepanjang sejarah berbangsa dan perpolitikan Indonesia di Hong Kong. Saya dan beberapa kawan juga sudah menduga akan adanya kesemrawutan dan keramaian, ketimpangan berita dan ketimpangan pelaksanaan pilpres 20014 di Hong Kong.
Pilpres dimulai tepat pukul 9 pagi. Beberapa kawan yang sudah mengantri memasuki pintu masuk menuju TPS.
Lapangan rumput Victoria Park berubah menjadi "kampung Pemilu" karena keseluruhan lapangan digunakan sebagai Tempat Pemungutan suara (TPS).
Ada 13 TPS di lapangan rumput itu yang dikelilingi oleh pagar besi dua lapis dan hanya ada satu pintu masuk menuju TPS-TPS itu.
Dengan adanya tiga jalur yaitu jalur hijau (untuk yang bawa undangan), jalur kuning (yang tidak terdaftar dan belum mendaftar dan hanya berbekal KTP Hong Kong atau Passpor untuk pendataan baru secara manual kemudian dimasukkan ke data komputer) dan jalur merah (untuk pemilih yang bingung, misal gak jadi milih lewat pos tapi pengin nyoblos langsung atau kehilangan surat undangannya) dan sosialisasi tentang mekanisme pencoblosan yang sebenarnya sudah dilaksanakan di aula Ramayana KJRI-Hong Kong pada 21 Juni lalu, namun pada pelaksanaannya masih banyak kekurangan.
Pemilih yang rencananya dibagi dalam tiga jalur itu ternyata harus melewati pintu masuk yang cuma satu thok til. Tidak ada pemisahan antara calon pemilih jalur ijo, kuning, abang semua ngrumpel jadi satu. PPLN Hong Kong gagal mengantisipasi ini. Antrian berjubel dan tidak jelas. Petugas malah menyilakan pemilih dengan jadwal waktu pencoblosan kapanpun bisa masuk, ini semakin membingungkan. Pintu masuk dipecah menjadi dua saat banyak protes dan masukan diteriakkan oleh kawan-kawan kepada petugas, itu pun baru sekitar pukul 11.30 AM yang diumumkan lewat pengeras suara. Namun karena ratusan pemilih yang setiap orangnya memiliki mulut yang tidak bisa diam dan kebutuhan selfie yang mendadak menjadi penting sekali, kemungkinan pengumuman itu kurang didengar atau (diabaikan?). Saya melihat beberapa petugas PPLN beredar untuk memberitahu info itu kepada pemilih yang baru memasuki area lapangan rumput, itupun masih banyak yang bingung.
Antrian mengular, cuaca panas. Saya sendiri mengabaikan kepala saya yang sedang kebul-kebul kepanasen kemudian bergabung di antrian pada pukul 1.15 PM dan baru selesai pukul 2.15 PM (saya membawa surat undangan). Bagi saya pribadi kalau mau jujur, yang gagal nyoblos itu sebenarnya bisa nyoblos kalau mereka on time dan tidak takut panas. Meskipun begitu, pelaksanaan Pemilu di Hong Kong seharusnya bisa diminimalisir keruwetannya mengingat pengalaman pileg pada Maret lalu. Kalau pada pileg pemilihnya bertambah, maka pada pilpres bukan lagi bertambah tapi berkelipatan.
15 menit sebelum coblosan selesai petugas PPLN lewat pengeras suara (sekali lagi, lewat pengeras suara) mengumumkan bahwa pilpres akan selesai (pilpres selesai pukul 5 sesuai jadwal & ijin dari pihak Victoria Park). Kondisi pintu masuk menyepi PPLN menyilakan kawan-kawan yang berada di depan pintu masuk untuk segera ke TPS lalu menutup pintu masuk.
![]() |
| Ini yg sebenarnya gagal nyoblos Foto by Asti |
![]() |
| Para pemilih yang gagal nyoblos, ini jumlah yang sebenarnya! Foto by Kyteth Asti |
Semua TPS sudah tutup dan staf Victoria Park sudah ancang-ancang melakukan kegiatannya untuk membersihkan Victoria Park.
Hal ini diperburuk dengan mbak-mbak yang tadinya sudah mencoblos ikut-ikutan berteriak.
"Buka! Buka! Buka!"
Sebagian ada pula meneriakkan nama capres nomor urut dua sambil mengacungkan dua jari.
"Jokowi! Jokowi! Jokowi!"
Kemudian mereka merangsek ke pintu masuk meminta untuk TPS dibuka kembali dan menyilakan kawan yang belum menggunakan hak pilihnya untuk masuk. Mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang sudah nyoblos yang demo inipun berjumlah 200-an orang, bukan 500-1000 seperti yang diberitakan oleh medsos.
Video ini adalah video protes dari mbak-mbak yang gagal nyoblos dan mbak-mbak yang ikut-ikutan. Lalu mengapa video yang saya unggah di youtube itu saya beri tajuk "Protes Ganjil"? Karena awalnya mbak-mbak yang gagal nyoblos ini biasa-biasa saja namun setelah ketambahan mbak-mbak yang lain mendadak agresif, berteriak-teriak dan yel-yel yang lain. Ini aneh bin ganjil sekali.
Terjadilah desak-desakan. Sebagian pintu pagar besi itu roboh. Maaf, pagar besi ini bukan bentuk permanen, jadi adalah pagar yang bisa dipindah-pindakan dan dua orang saja cukup untuk merobohkannya. Dan kalau kawan-kawan berdesak-desakan itu amat sangat memungkinkan pagar besi roboh dengan sendirinya, BUKAN SENGAJA DIROBOHKAN. Pada saat yang sama, pintu pagar dan pintu masuk sengaja dibongkar oleh petugas Hong Kong yang bertugas di Victoria park karena waktu perijinannya sudah lewat.
Mbak-mbak yang berteriak-teriak demo berhamburan masuk ke area TPS dan protes kepada sesiapa saja petugas yang dijumpai.
Sekiranya ini yang bisa saya sampaikan dengan sebenar-benarnya. Saya tak terikat oleh pihak manapun dan tak terpengaruhi oleh beban membela capres pilihan saya. Saya menuliskan apa yang saya lihat dan saya ketahui. Semoga ini bisa membantu untuk mencerahkan berita yang simpang siur itu.
Pada dasarnya kita adalah satu kesatuan WNI, siapapun presidennya nanti marilah saling dukung untuk kemajuan bangsa.
Sebagai pembanding, perhatikan screenshot broadcast dari PPLN dan kesaksian dari kawan-kawan saya lewat FB berikut:
BROADCAST PPLN HONG KONG:
KESAKSIAN KAWAN-KAWAN SAYA YANG MELIHAT SECARA LANGSUNG DI TPS :
















