Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

1500 TKW Kepung KJRI, Tolak Kenaikan Harga BBM

Kurang lebih 1500 massa mengepung Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong pada Minggu (25/3) pukul 14.00-17.00 PM. Massa yang notabene adalah Buruh Migran indonesia (BMI/TKW) menyatakan kekecewaannya sehubungan dengan kegagalan SBY untuk menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya dan isu terakhir tentang rencana akan dinaikkannya harga BBM.

"Hakikat dari pengiriman buruh migran besar-besaran ke luar negeri adalah karena pemerintah gagal menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya. Jadi rakyat terpaksa harus bermigrasi untuk mencari pekerjaan," kata Eni Lestari, ketua International Migrant Alliance dalam orasinya.

"Dan sekarang ditambah lagi dengan akan dinaikkannya harga BBM yang tentunya akan berimbas pada BMI," tambah Eni.

Menurut wanita asal Jawa Timur ini, meningkatnya harga BBM akan mengakibatkan meningkatnya harga-harga lainnya sehingga mengakibatkan keluarga di indonesia akan meminta pengiriman uang lebih banyak lagi dari biasanya, sedang gaji BMI di Hong Kong masih tetap.

Demo yang mengambil saat yang tepat, yaitu saat SBY berkunjung ke Hong Kong ini merupakan serangkaian acara penyambutan kedatangan SBY ke Hong Kong. Sehari sebelumnya SBY telah didemo di lain tempat. Bahkan pada hari ini (25/3) demo diadakan dua kali di tempat yang berbeda. Demo pertama diadakan di depan Shangri La Hotel di mana SBY beserta rombongannya menginap.

BMI yang tergabung dalam aksi demo di depan gedung KJRI kali itu sepakat bahwa SBY tidak berpihak kepada rakyat apalagi buruh migran. Kedatangannya ke Hong Kong inipun dinilai hanya setakat kunjungan untuk membicarakan bisnis untuk meningkatkan pemasokan buruh migran ke Hong Kong tanpa menyinggung tentang perlindungan sejati bagi buruh migran, apalagi SBY menolak duduk bersama untuk berdialog dengan perwakilan BMI untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Intinya, SBY dinilai tidak mau mendengarkan keluhan BMI yang sebenarnya.

"Tolak kenaikan BBM dan wujudkan perlindungan sejati terhadap buruh migran," kata salah satu orator yang disambut dengan gemuruh tampik yel-yel anti SBY.

Seperti demo-demo yang lain, tak satupun pihak KJRI yang menjumpai para pendemonstran di saat demo sedang berjalan. Namun uniknya, saat demo bubar tampak beberapa staf KJRI keluar untuk mengambil gambar.

Kendati aksi diikuti oleh banyak massa, namun hanya kurang lebih 20 polisi saja yang tampak mengatur jalannya demo. Polisi juga terkesan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada BMI untuk menumpahkan semua uneg-unegnya.

Pada hari yang sama juga, di Hong Kong sedang diadakan pemilihan Chief Executive. Ini tentu saja menjadikan polisi lebih menitikberatkan pengawasan di kawasan Central. Kebebasan yang diberikan kepada BMI ini juga dikarenakan polisi menganggap demo-demo penyambutan SBY di Hong kong sebelumnya terlihat tertib dan teratur. Sehingga polisi percaya bahwa BMI tidak akan bertindak anarkhis.

Menyambut Kedatangan SBY ke Hong Kong

Setelah sehari sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Cina guna mengadakan pertemuan dengan pemimpin China juga menyampaikan orasi ilmiah di Universitas Tsing Hi dalam rangka menerima gelar Doktor Honoris Causa dari universitas di Beijing, hari ini Sabtu (24/3) pukul 10:00 AM, SBY mengunjungi Hong Kong.

Hj. Ani Bambang Yudhoyono yang sebelumnya meresmikan pusat studi Bahasa Indonesia di Beijing, juga turut mendampingi SBY. Selain ibu negara, presiden yang didampingi rombongannya (Menlu Marty Natalegawa, Menperin MS Hidayat, Mendikbud M Nuh, Menpora Andi A Mallarangeng, dan Mendag Gita Wirjawan) tiba di Hong Kong dengan pesawat Kepresidenan Airbus A 330-300 milik Garuda Indonesia.

Presiden SBY diagendakan bertemu Chief Executive Hongkong Special Administrative Region, Donald Tsang, membahas upaya meningkatkan kerja sama pembangunan, ketenagakerjaan, perdagangan, investasi, pendidikan, pariwisata, dan sosial budaya. SBY juga akan bertemu sejumlah pimpinan perusahaan untuk mengajak mereka berinvestasi secara nyata di Indonesia dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Kedatangan SBY ke Hong Kong ini tak luput dari pantauan organisasi-organiusasi vocal Buruh Migran Indonesia (BMI/TKW) di Hong Kong. Serangkaian acara penyambutan khusus akan diadakan yang dimulai hari ini (24/3) pukul 16:00-17:00 PM. BMI diperkirakan akan mengadakan aksi demonstrasi di daerah Central.

Sebelumnya para BMI ini telah meminta ijin untuk mengadakan aksi di depan Central Goverment Office Hong Kong maupun di dekat kediaman presiden Donald Tsang namun tidak diijinkan. Ini dikarenakan SBY meminta pengawalan khusus dari kepolisian Hong Kong selama ia berada di Hong Kong. Pihak kepolisian Hong Kong menyatakan berada dalam red alert demi menjaga keselamatan kunjungan SBY beserta rombongan.

Tak kurang akal walau aksi ini tak berada tepat di jantung kota Hong Kong namun organisasi-organisasi vocal BMI ini berhasil menggaet buruh migran asal negara lain yang berada di hong Kong yang meliputi buruh migran asal Filipina, Nepal, Srilanka, Thailand, dan juga buruh lokal Hong Kong. Kesolidaritasian ini terjalin karena para buruh migran tersebut merasa mempunyai kesamaan latar belakang dan penderitaan.

Para buruh migran tersebut menyempatkan diri pamit kepada majikannya masing-masing untuk mendemo kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu.

Hebatnya lagi, buruh migran tersebut nekat minta ijin kepada majikannya masing-masing untuk mendemo kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu, mengingat karena hari Sabtu bukan hari libur mereka.

SBY juga diagendakan akan mengadakan dialog dengan perwakilan BMI pada Minggu (25/3), namun hingga saat tulisan ini diturunkan, tak ada satupun organisasi BMI vocal yang mendapat undangan untuk berdialog.

Rencana awal, dialog akan diadakan di wisma Konjen RI-HK yang terletak di Wisma Putri Mandiri, Country Villa, Block G, 28 Shouson Hill Road, Hong Kong, pukul 11.30-13.00 AM namun kemudian tersiar lagi kabar bahwa lokasi dialog akan dialihkan di Ground Ballroom Island Shangrila Hotel, Pacific Place, Supreme Court Road, Central.

Hal inilah yang menimbulkan kegerahan bagi BMI Hong Kong. BMI yang merasa bahwa SBY telah mengabaikan beberapa tuntutan dan statemen yang telah dikirimkan kepada presiden maupun instansi-instansi terkait masalah ketenagakerjaan, seperti sedang main petak umpet dengan BMI-Hong Kong.

Demo dengan massa yang lebih besar lagi akan digelar di depan gedung Konsulat Jenderal Indonesia pada Minggu (25/3) pukul 14.00-15.00 PM. Dalam demo tersebut, BMI akan menuntut perlindungan sejati terhadap BMI-HK yaitu:
1. Hapus KTKLN
2. Ijinkan BMI-HK Kontrak Mandiri
3. Ijinkan BMI-HK Pindah PPTKIS/Agent
4. Ijinkan BMI-HK Menunggu Visa Dimacau/China
5. Stop Overcharging
6. Cabut UUPPTKILN NO 39/2004

Selain itu, demo kali ini juga akan mengangkat isu dan tuntutan lain seperti:
1. Tolak Kenaikan Harga BBM
2. Cabut UU Migas no. 22/2001, UU no. 11/1967 dan UU Penanaman Modal no. 25/2007 yang mengabdi pada imperialis.
3. Turunkan Harga-harga Kebutuhan Pokok Rakyat
4. Naikkan Upah Buruh
6. Laksanakan Reforma Agraria Sejati

BMI berharap kunjungan Presiden SBY kali ini bisa membawa perubahan nyata untuk kehidupan rakyat Indonesia di Hong Kong.

Pada hari yang sama, SBY beserta Ibu dan rombongan direncanakan bertolak ke Korea untuk menghadiri KTT Keamanan Nuklir dan kunjungan kenegaraan setelah dialog usai.

Punakawan Mbeling

"RengTrukGongmBuk...!" pambengoke Rama Semar.

Olehe mbengok seru banget nganti otot-otot gulune pating jlantir metu. Sing dikarepake mono ya putra-putrane ya kuwi Gareng, Petruk, Bagong lan uga Jeng Ayu Limbuk sing katepakan ana kono.

Ewadene sing dibengoki padha iwut karepe dhewe. Gareng lagi nyekeli blekberi anyar karo iwut pesbukan, Petruk lagi mangan sega sambel terong kiriman seka Hong Kong lan Bagong lagi menthelengi Play Station main game nganti matane mecicil. Dene Jeng Ayu Limbuk kupinge kesumpelan headset, ngrungokake lagune Lady Gaga sing lagi duet karo Justin Beiber nembang "Jangkrik Genggong".

"Yongalah yaaa... yaaa.... Duwe anak wae kok ngakukna usus ta yaaa...yaaa...!" ujare Rama Semar karo ngelus-elus dhadhane. Rama Semar mlebu kamar, let sedhela metu maneh.

"RengTrukGongmBuuuk...!" pambengoke Rama Semar saiki kanthi piranti lespeker.

Sing diceluk tuli jranthal mlayu nemoni ramane amarga swarane bantere ngungkuli swarane bledheg sayuta nggegeteri.

"Neng apa ta Ma?" pitakone Gareng karo nyedhak, blekberine disingidake ana sak clana sisih mburi.

"Rama kuwi lho, senengane nek celuk-celuk gawe kaget wong sak Astina," kandhane Bagong.

"Mbok nek nyeluk ki sing mesrah kaya aku Ma," ujare Limbuk karo kethip-kethip.

"Mula ta, nek diceluk pisan ki gek gage ndang mangkat. Kuwalat tenan mengko karo Rama. Ngene lho, iki mau rak Rama mung arepe menehi ngerti, mbiyawarakake kabar sing "sesuatu banget" marang sira kabeh."

"Apa Rama?" pitakone Petruk sajak ra sranta.

"Kawit Syahrinthil dadi gendhakane Rama, Rama ki dadi terkontaminasi saiki," ujare Gareng karo ngikik, sedulure melu-melu ngikik.

"Hus! Ora ngomongna obat awet mudhaku!" pambetake Rama Semar alus.

"Ngene lho. Iki mau rak Rama seka kraton, diutus marak sowan ing ngarsane Kanjeng Sinuwun Raja Astina Pura. Wingi kae rak awake dhewe demo ngenani bayaran supaya diundhaki ta, lha iki pikolehane. Panjenengane Kanjeng Sinuwun wis kersa ngundhakake bayarane awake dhewe," ujare Rama Semar.

"Ah tenane...," Bagong sajak ora precaya.

"Aku ngerti kok, wong aku maca statuse Sinuwun neng pesbuk," ujare Gareng.

"Lho langsung diunggah ta Reng?" pitakone Petruk.

"Iya," sumaure Gareng.

"Lha rugi no Rama sowan Kanjenge," kandhane Limbuk.

"Sik takwacakake," kandhane Petruk karo ngrogoh blekberi.

"Yongalah..., koneksine ngadat. Kakekane tenan!" pisuhe Petruk.

"Sakdawa-dawane pesbuk rak isih dawa lambeku ta," ujare Rama Semar.

"Wo salah kuwi Ma. Isih dawa lambene Rie Rie," ujare Petruk sing ntes wae antuk kiriman sega sambel terong seka Hong Kong.

"Pokoke ngene, Sinuwun ki sanggup ngundhakake bayaran, ning ana sarate," ujare Rama Semar.

"Sarate apa Ma?" pitakone Limbuk.

"Bayarane awake dhewe kuwi bakal diundhaki sarate bakal dibayar nganggo "Yen"," ujare Rama Semar.

"Wah kaya Jepang ik. Isa sugih tenan awake dhewe ya kang Petruk," ujare Bagong karo lunjak-lunjak seneng.

"Wuih... Aku kelakon isa tuku lipen merk Miyabi tenan iki, uhuuii...!" ujare Limbuk.

"Halah taek kucing," aloke Gareng.

"Kowe ki mbok aja kaya ngono ta Reng, dirungokake dhisik," ujare Rama Semar.

"Lha aku wis ngerti kok. Nah iki gunane pesbuk. Mangkane pesbukan ki penting, ben ngerti sakdetik sakwise winarah," ujare Gareng.

"Halah.... Wong padune arepe golek wedokan neng pesbuk kanggo saingan karo Rama wae kok," ujare Bagong.

"Hus! Wis, wis, wis! Aja kedlarung-dlarung, uwis! Ngene lho, bayarane awake dhewe kuwi bakal diundhakake sarate nganggo "Yen". Ya kuwi:
1. Yen Kanjeng Sinuwun kelingan.
2. Yen ana turahan seka skandal Century.
3. Yen BBM lan sembako medhun.

"Ngono lho," ujare Rama Semar.

"Wo...lha kuwi bener kandhane kang Gareng. Taek tenan kuwi," ujare bagong.

"Bubar, bubar, bubar! Ngesuk demo maneh wae. Sisan karo nggawa gragalan," kandhane Petruk.


We lha dhalah! Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap katooon.... Oooooooongggg....


------------------------------------------------

gambar seka kene>> blog wayang

Helvy Tiana Rosa di Hong Kong

Meningkatnya minat tulis Buruh Migran Indonesia (BMI-TKW) Hong Kong sudah diketahui oleh penulis-penulis handal di Indonesia. Beberapa penulis sekaliber Pipiet Senja, Habiburrahman El Shirazy, Kang Romel pun sudah acap kali datang ke Hong Kong untuk menginspirasi sekaligus memberi bimbingan menulis bagi TKW Hong Kong.

Pada Minggu (25-26 Februari 2012) pendiri Forum Lingkar Pena, Helvy Tiana Rosa (HTR), juga tampak hadir di tengah-tengah BMI Hong Kong.

Kedatangannya tersebut selain untuk memberikan workshop "Menulis & Membaca Puisi dan Drama" juga sebagai ajang peluncuran buku kumpulan puisinya, Mata Ketiga Cinta.

Acara yang dimulai dari Sabtu hingga Minggu (25-26) Februari tersebut meski hanya dihadiri oleh 40 BMI yang tengah gencar-gencarnya menggeluti dunia kepenulisan dan akting, namun tampak gayeng.Hal ini dikarenakan metode pembelajaran yang diberikan oleh HTR terkesan berbeda dan mengena bagi peserta workshop.

Peserta dituntut untuk bisa menulis puisi dalam waktu lima belas menit. Tak hanya itu, peserta juga dipaksa untuk membuat puisi dengan dua belas kata pilihan yang diberikan oleh HTR.

"Kedua belas kata-kata itu walau kayaknya enggak ada hubungannya tapi bisa jadi satu kesatuan puisi. Karena puisi itu adalah akrobatik kata-kata. Jadi pinter-pinternya merangkai. Tapi ingat, jangan sampai tidak ada maknanya," kata HTR.

Para peserta yang dibagi menjadi enam kelompok pun berhasil membuat puisi. Ada yang dinilai menarik, ada pula yang dinilai kurang menarik. Puisi-puisi yang telah ditulis itu kemudian dibacakan di hadapan peserta yang lain. Hal ini sebagai salah satu cara untuk langkah selanjutnya, belajar drama/akting.

HTR juga sempat memberikan contoh tehnik pembacaan puisi. Penulis yang juga pendiri dari Teater Bening Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) ini membacakan salah satu puisinya dari buku Mata Ketiga Cinta yang berjudul Puisi Seorang Ibu Yang Mendobrak Pulazi. Hal ini terang saja langsung mendapat sambutan yang meriah karena HTR tak hanya membaca puisi tapi juga menyanyikan puisi tersebut, ini merupakan pelajaran baru bagi BMI Hong Kong.

Dalam sesi drama, hampir semua peserta mempunyai andil dalam memperagakan akting yang dinilai dan dibenahi secara langsung oleh HTR. HTR yang juga dosen di FSUI ini acap kali mengapresiasi antusias para peserta.

"Ini pelajaran buat satu semester lho, tapi saya mengajarkan sama kalian satu setengah jam saja dan kalian bisa nangkep," ujar HTR.

Ibu dari dua anak ini juga menyarankan kepada peserta untuk terus berlatih menulis dan akting di waktu liburnya. .

Acara yang disponsori oleh Tabloid Apakabar, bank Mandiri dan Telkom Indonesia-Hong Kong itu berjalan hingga pukul lima sore dan berakhir dengan foto bareng peserta workshop.

Ketika Wanita Berkalung Kotang

Perempuan Berkalung Sorban? Wow kerenn…!

Saya telah menyaksikan film yang berjudul Perempuan Berkalung Sorban dan saya akui film itu memang hebat. Kesan hebatnya itu sudah saya dapati semenjak baru mendengar judulnya saja.

Judul itu berhasil membangkitkan tomboyitas saya. Seolah-olah dan saya membayangkan seorang wanita perkasa. Dan betapa kerennya seorang wanita kalau dia terlihat perkasa (tidak pasrah), selama masih di level kewajaran.

Tapi ketika emak saya berseloroh bahwa BH-nya sekarang kebesaran semua, saya jadi tertawa sedih. Lantaran saya membayangkan beliau begitu kurus kering menanti atau pun juga memikirkan saya, meski beliau mengatakan kalau beliau sehat-sehat saja.

“Kaya kalungan BH, kegedhen kabeh saiki nduk (seperti berkalung BH, kebesaran semua sekarang nak),” katanya sambil terkekeh.

Degg!! Perempuan berkalung BH? Oh tidakk…!
Saya tak bisa turut terkekeh, saya membayangkannya aneh dan ngeri. Selanjutnya berkelebatan wanita-wanita dengan kutang yang semakin hari semakin ngglambreh kebesaran karena berbagai alasan. Dan kalau alasannya adalah kegagalan negara menunaikan tugasnya sebagai pengayom perut rakyat, maka mungkin akan menjadi seperti puisi yang saya tuliskan ini:


Ketika Wanita Berkalung Kutang

Ketika wanita berkalung kutang
Inilah tuan kesejahteraan kami yang sekarang
Dada telah rata dan keriput
Dihisap janji tuan
Janji yang lobang-lobang
Lobang-lobang
Karena rakus tuan

Ketika wanita berkalung kutang
Inilah tuan protes kami yang sekarang
Karena tenggorokan kami terlalu kering
Untuk berteriak nyaring

Ketika wanita berkalung kutang
Tolong tuan kembalikan air susu kami
Untuk hidup dan anak
Untuk malu dan negara

Kapan tuan dengar protes kami?
Apakah tuan menunggu
Celana dalam yang terlorot
Dan berkibar setengah tiang
Di hadapan tuan?


gambar dari sini

Crita Babagan SMS

Ana SMS ngethithir tumuju nomerku. HP-ku kedher ping pindho. Sengaja dakgawe silent soale bendaraku wedok ana ngomah, dina iki ora mangkat kerja, nunggoni anake kang lagi prei sekolah. Nek dakuripake isa-isa gawe geger sakomah.

Bendaraku mana paling gething yen keprungu swara HP-ku muni nalika dheweke ana ngomah. Biyen, dhek jaman sepisanan aku lagi teken kontrak, ana perjanjian tertulis antarane aku lan bendaraku, ing kono katulis menawa ta aku ora entuk nganggo HP nalika bos ana ngomah.

Nganti seprene, nem tahun lawase, yen bendaraku ana ngomah HP-ku mesthi njur ora ana unine, silent mode.

Wektu iku tanganku isih gupak unthuk sabun. Ing wayah isuk ing dina Sabtu ngono kuwi biasane aku ngumbahi gombalane khususe bosku, dakkumbah nganggo tangan amarga kalebu gombal alus kang larang regane, bayaran rong mingguku wae durung cukup nek digawe tuku gombal siji.

Sabanjure...sreett..seerrr.. tanganku daklapke kaos kotange bendaraku sing arepe dakkumbah. Eh jebul Mbak Tarti. Wadon sepantaran umurku sing pitung taun kepungkur ninggal Purwadadi tumuju Hong Kong saperlu luru gawean dadi babu kuwi sing ngirim SMS mau.

Weh lha, njanur gunung tenan, batinku. Biasane Mbak Tarti kuwi yen SMS-an ing wayah bengi thok. Bendarane ora ngijinake babune dolanan HP. Malah kepara luwih serius, yen aku isih isa silent HP tapi Mbak Tarti kudu dipateni thes HP-ne. Bendarane ning omah terus alias ibu rumah tangga tulen sing ora nyambut gawe ngana kae. Jan persis kaya satpam nunggu gawe lan ngawasi saparipolahe Mbak Tarti.

Mbak Tarti siji-sijine kancaku sing ngaji-aji SMS gratis ing jaman internet ngene iki. Ora kaya babu-babu liyane sing saben dina sregep wiridan fesbukan, slinthutan karo bendarane, Mbak Tarti mung ngerti SMS lan telpun thok-thok. Yen babu liyane akeh sing cinta mati karo toilet, ndhekem jam-jaman ngguya-ngguyu karo nguthek-uthek HP, Mbak Tarti pilih ndhoprok ing pojok pawon nunggu dhawuh bendarane.

Mbak Tarti uga ora kaya babu-babu liyane sing seneng nulis-nulis lan kalebu penulis/sastrawan (babu) kae. Uga ora melu organisasi seni utawa tari apa maneh organisasi vocal/advokasi ngana kae, lha wong nek ngerti ana babu-babu arep dhemo wae Mbak Tarti mesthi ndhelik keweden kok.

Mbak Tarti mono mung babu biasa sing utun nyambut gawe lan sendika dhawuh marang bendarane. Sanajan ta kala mangsa bendarane kerep memba dadi Mak Lampir utawa Nyi Calon Arang, Mbak Tarti pilih meneng lan pasrah wae.

Ing sakjroning nem taun, wanita ireng manis sing dhuwur lan kurune ngluwihi aku kuwi mung ngerti Victoria Park thok. Mula kanggoku rada angel anggonku ngemban atine wong siji kuwi.

Kanca tunggal sak-PT-ku kuwi sajak ngusung kabar penting nganti ora sabar nunggu wengi kanggo SMS-an. Mbuh ana ngendi anggoneSMS kuwi. Menawa wae pas blanja nang pasar utawa pas nunggu simbah sing diopeni lagi priksa dhokter, mbuhlah.

Gandheng SMS sapepadha simcard kuwi gratis lan uga gandheng aku wis penasaran banget, saknalika iku uga langsung dakwaca SMS-e.

"Rie, wong lanang kuwi kucing apa ula?" mengkono isi SMS kuwi mau.

We lha dalah.... Yen ta ora ngelingi menawa sing ngirim SMS kuwi wong kang mbokmenawa wae mung ndhuweni kanca akrab siji yaiku aku, menawa wae bakal dakjarke wae nganti mengko bengi nembe dakjawab. Iki takon temenanan apa guyon, pikirku.

"Kalamangsa kucing, kalamangsa ula. Sing kaya bungklon ya akeh, sing kaya asu ya ana. Ana apa?" jawabku.

Ora let sedhela, wadon kang kepeksa gelem diwayuh sakwise ngonangi bojone ngetengi wadon liya kuwi mau banjur ngirim balesane.

"Dhuwit celengan gawe sekolahe Anti (anake wadon Mbak Tarti) dibedhol karo bapake, jare arep gawe babaran bojo nom," ujare maneh.

"Lha apa dheweke ora mergawe?" pitakonku.

"Ora nyukupi," jawabane cekak aos.

SMS mbaka SMS banyu mili. Nanging aku durung mangerteni ning ngendi bakale tuk-e. Aku duwe rasa was-was uga, merga pakulinanku sing biasa ngomong blak-blakan kuwi mesthine ora bakal gawe rena atine Mbak Tarti. Njur aku kudu mangsuli kepriye iki? Aku bingung karepku dhewe.

"Nek ngono dheweke kalebu kewan kapapat Mbak, asu," wangsulanku maneh, isih padha, uga lewat SMS.

Suwe anggonku ngenteni wangsulan SMS saka Mbak Tarti, nanging nganti pirang-pirang jam ora ana wangsulan. Dakkirim SMS kang isine aku njaluk sepura menawa ana lupute anggonku njawab SMS sakdurunge, nanging ya ora diwangsuli. Aku samsaya bingung.

Aku isa nylamur gorehing atiku nalika aku ngayahi kewajibanku ngopeni momonganku nganti tumekaning masak kanggo makan malam. Nanging rikala kabeh pagawean rampung lan aku wis mapan ing sakdhuwure kasurku sing temumpang ing sakdhuwure kulkas (waca ing kene: http://babungeblog.blogspot.com/2010/03/tragedi-munyuk-kesasar-di-hong-kong.html) , aku nyawang HP-ku kanthi ati kroncalan.

Dakpikir aku ora ngomong akeh-akeh utawa aneh-aneh ing SMS kapungkur awan mau. Apa ya amarga SMS kuwi sing gawe ora seneng tumekaning lara atine Mbak Tarti nganti ora gelem mbalesi maneh? Oh Gusti! Geneya aku dhek mau ora mikir jero sakdurunge ngirim SMS pungkasan? Getunku kepati-pati.

"Dreeetttt...dreeettt...!" HP-ku kedher pindho. Saknalika aku jumbul kaget, meh wae HP-ku mencelat saka tanganku.

Dakbukak SMS sing dakgadhang-gadhang saka Mbak Tarti. Lan tenan, SMS kuwi pancen saka Mbak Tarti.

Age-age anggonku maca ukara mbaka ukara ing SMS kuwi mau. Atiku dheg-dhegan.

"Aku ora nesu. Asu iki bapake anakku. Aku sejatine ora ikhlas menawa anak sing dakrewangi toh nyawa, toh pati, uga toh nasib iki bakal diwaleni dening wong lanang sing mung udu kenthongan," tulise ing SMS.

"Dreeett... dreettt...," HP-ku kedher maneh.

"Ning aku ora ngerti njur kudu kepriye maneh. Wong tuwaku wis ora ana kabeh, aku ya ora duwe sedulur cedhak sing isa dakpercaya ngrumat anak wedokku. Nek bali desa, aku ora ngerti kudu nyambut gawe apa, nek ning kene aku isa ngirimi dhuwit ajeg. Ning ya kuwi aku makani maruku barang," SMS kapindhone.

Maneh, aku dheleg-dheleg. Aku njajali mapakke awakku ing kahanane Mbak Tarti, lan aku yakin aku ora bakal kuwawa nandhang lara lan laraaa banget kang kaya mengkono iku mau.

Bola-bali aku matur pamujiku marang Gusti, yen ta sasuwene iki aku isih isa milih dalan uripku dhewe, alhamdulillah. Ewadene Mbak Tarti, kawit cilik ora duwe pilihan babar pisan. Dipeksa kawin mudha, dikon dadi TKW, diwayuh nganti tumekaning ngopeni marune. O Gusti...aku ora isa mbayangke kaya ngapa perihe.

Aku ora ngerti kepriye anggonku bisa nulungi Mbak Tarti, menawa wae ya mung perkara siji iki sing ora bisa dakwedhar, kaya-kaya dalan uripe Mbak Tarti wis nali mati. Aku mung isa njaluk sepura, ora ngerti kudu SMS kepriye kanggo isa nglonggarake sumpek atining Mbak Tarti. O donya... mbok tulungana wadon siji kuwi...


Aku Dudu Klapa

Dakwolak-walik jeroning lara
jebul ora mung kebacut
ning nganggo banget

Lan
amarga bibitmu kang awujud lemah urip
aku tumali ing siksa tanpa cecek

Kangmas,
apa aku iki klapa
sing dibeset sepete,
diperes santene,
dideres gulane,
dipangan pondhohe,
dirah glugu, sada sakblukange?

apa lumrah?
lanang polah, wadon kepradhah?