Jago Mbalela

"Eh elo, srakah amir, gue capek tauk," kata Jago sambil mengepak-kepakkan sayapnya lemah.

"Eh elo! Kalo gue nyuruh elo apa, ya jalan dong! Ngaca sana! Dasar ayam!" kata Doren sambil mendorong kembali Jago untuk memasuki ring.

"Gue bilang gue capek. Gue capek tauk! Gue gorok baru tau rasa lo!"

"Eh elo, ayam! Masuk sana! Lanjutkan!" perintah Doren sambil mengumpat dengan sepuluh bahasa.

Jago menjulurkan lidahnya, "Weeeek...!"
"Ini orang enaknya diapain ya, maksa-maksa mulu. Nyobain silet ini dah, biar tau rasa dia," pikir Jago sambil mengambil ancang-ancang. Tiba-tiba Jago melompat, "Ciaaaatttt....!"

"Jleb! sreeettt....cuuurrr...crooott...!"

Semua mata memandang bengong, darah Doren muncrat kemana-mana. Ke lantai, ke baju para penyabung ayam di sekitarnya, ke makhluk bersayap lainnya. Bau anyir yang rada-rada bercampur bau kari segera saja menyebar. Saat itu tak ada yang bergerak kecuali Jago yang kemudian mereyakan hari kemerdekaannya.

"Rasain lo! Mampus lo! Horeeee...gue bebassss...merdekaaa...! Kukuruyuuuuuuuukk...!" teriak Jago sambil berhiphop ala chicken dance.


----------

Itu mungkin kronologis kematian Doren, penyabung ayam asal India yang tewas di kaki ayam aduannya sendiri. Berhubung neh yang bikin kronologisnya bukan asli India dan bukan blogger biasa (ciee...) jadi cara penulisannya mungkin terkesan nyleneh, walau tanpa bisa dipungkiri pembaca pasti senyum-senyum saat menyimak kronologis nyleneh diatas (hayoo..ngakuuu..!).

Dua bulan lalu saya diherankan dengan sebuah berita tentang ayam aduan yang menggorok leher tuannya.

Sabung ayam yang kerap terjadi di Indonesia ternyata juga terjadi di negara lain, India, bahkan sepertinya di India lebih sadis lagi perlakuan mereka terhadap sang ayam. Pemilik ayam melekatkan pisau cukur di kaki ayam dengan tujuan supaya ketika ayam aduan itu sedang berkelahi bisa mencederai lawan tarungnya atau lebih parahnya membunuh lawan tarungnya. Tak jarang tampak banyak ayam-ayam yang berkelonjotan berlumuran darah karena kalah perang, bahkan tak jarang pula ayam petarung tersebut mati demi keegoisan dan kerakusan para penyabung ayam.

Saat itu (20/1), Doren, pemilik ayam aduan, terus mendorong ayamnya untuk kembali ke ring. Gladiator berbulu yang sudah kelelahan ini enggan untuk kembali ke medan perang dan terus berusaha melarikan diri, tapi lagi-lagi Doren mendorong ayamnya untuk kembali memasuki ring. Akhirnya binatang itu tidak tahan lagi dan menyerang Doren dengan mendaratkan kakinya dengan kekuatan penuh ke leher orang yang setiap hari memberinya makan. Tak ayal terjadilah pertumpahan darah yang tak seperti biasanya yang membuat manusia-manusia di sekitar ring itu terkejut sekaligus membuat beberapa ayam di ring bingung.

Beberapa pemberitaan akhir-akhir ini menunjukkan sebuah keganjilan dari perilaku hewan-hewan di sekitar kita. Sebagai contoh, sebuah ular python terlihat menggendong kodok di punggungnya saat melarikan diri dari banjir di Australia awal Agustus lalu. Hewan melata, unggas dan bahkan serangga, merekapun menerima pesan dari-Nya untuk bersatu dan bersolidaritas demi keadilan dan keselamatan, termasuk selamat dari manusia yang superior dan egois. Dalam hal ini, ayam jago yang "mbalela" tersebutpun berhasil memerankan tokoh Spartacus dalam hidupnya. Jago berhasil menggugat ke-ayam-an dan keadilan, ke-ayam-an yang adil dan beradap dan keadilan sosial bagi seluruh ayam petarung di dunia.

Namun apa yang kemudian terjadi pada gladiator berbulu tersebut tidak diketahui. Mungkin ayam tersebut sudah diumpetin oleh penyabung ayam lainnya atau mungkin sudah merdeka dan poligamy dengan ayam-ayam betina yang memujanya atau entahlah.

Jika saya adalah keluarga dari Doren, saya akan membalas dendam dengan segera menangkap kemudian menggorengnya atau menyajikannya menjadi kari ayam atau tandoori chicken dengan menambahkan yogurt banyak-banyak supaya lebih lezat. Tetapi sebagai orang yang baik-baik sekaligus seorang warga negara Indonesia, saya kok jadi mempunyai pemikiran lain. Saya cenderung ingin menyelamatkan Jago dari tangan-tangan orang India untuk kemudian membawanya ke Indonesia. Mengarak Jago itu keliling Indonesia dan menobatkannya sebagai "Pahlawan Demokrasi". Membuat spanduk dan bendera kecil-kecil yang pasti nantinya bakal laris manis melebihi larisnya Blackberry. Menjadikan Jago sebuah merk untuk kaos, gaun, rok, jeans, BH hingga celana dalam dan G-string. Membuat grup di Face Book dan mencari member sebanyak-banyaknya. Dan ah, setelah cukup sukses dan populer bisa dikembangkan lagi menjadi sebuah partai demokrasi berlambang ayam jago. Menarik bukan?

Menjadikan Jago sebagai Pahlawan Demokrasi jauh lebih pas dan tak beresiko ketimbang mencalonkan seseorang yang belum tentu bisa diteladani.

8 komentar :

  1. kayaknya kurang keren ya kalo ditanya ntar sama malaikat.

    malaikat: "lo matinya kenapa, bro?"
    doren: "digorok ayam"
    malaikat: "oh."

    *jangkrik bunyi

    BalasHapus
  2. wkwkwkwkkk...asli ngakak baca komen tergokil ini, hehehe...
    makasih dah singgah ya...

    BalasHapus
  3. wah komeng panjang lebar kok ngilang gara gara muncul verifikasi kata..
    ririe nyebaiiiii.....

    BalasHapus
  4. @rawins, tulis maningggg....wkwkwkwk...

    BalasHapus
  5. salam kenal.... jago kandang bos...tp keren artikelnya

    BalasHapus
  6. bagus bro.....jago di ibaratkan sebagai perumpamaan....

    BalasHapus
  7. Top markotop.... Aku nemu tulisanmu saka VivaNews....

    BalasHapus
  8. Wehehe, lama ga berkunjung, makin nyleneh aja blog nya.

    Btw, ayam si Doren beneran namanya Jago?

    BalasHapus

Matur suwun wis gelem melu umuk...