Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

The Past is in The Past

Sebuah pertanyaan berhak atas jawaban.

Kami, aku dan momonganku, berjalan menuju bus stop yang berada di ujung Village Road. Kami melewati beberapa mobil yang berjejer terparkir di tepi jalan.

Pukul 6 petang, suasana lengang, tak banyak mobil bergerak melawan arah kami berjalan. Udara tak bergerak, diam di tempat, dingin yang pengap, ini musim winter yang salah kaprah di tahun ini. Cuaca tak menentu.

Uap menyembul dari mulut kami saat kami mendengungkan lagu yang menjadi soundtrack film Frozen, Let It Go. Lagu yang dibawakan apik oleh Idina Menzel menjadi agak kedangdut-dangdutan saat aku dan momonganku berusaha keras untuk menyanyikannya.

.........
My power flurries through the air into the groooouuundddd
My soul is spiraling in frozen fractals all arooouuundddd
And one thought crystallizes like an icy blaaaaaasssttt
I’m never going back,
the past is in the paaaassst....

"Waiiiiitttt...!" teriak momonganku tiba-tiba. Aku mendadak harus mengerem mulutku untuk tidak menyanyikan kelanjutan dari lagu itu.

"What?" tanyaku heran.
"What does that mean?" tanyanya.
"What does that mean what?" tanyaku heran dua kali.
"What does it mean? What does "the past is in the past" mean?" tanya momonganku serius. Dia bahkan berhenti berjalan dan menatapku sungguh-sungguh.
"We always sing this song, I understood most of the lyric, but not this one," katanya.

Anak yang pada 14 April nanti genap 9 tahun ini memang bocah yang curious banget. Rasa ingin tahunya tinggi. Ya iyalah,secara babunya juga gitu.

Sebenarnya aku mau menjelaskan begini: bahwa Elsa dituntut untuk menyembunyikan kekuatan magicnya dan itu membuat Elsa ketakutan kalau kekuatannya sampai diketahui orang. Jadi saat Elsa minggat dan berada di gunung dia mencoba untuk melupakan ketakutannya, tidak menutupi kekuatannya dan menjadi dirinya sendiri, toh semua orang sudah tahu tentang kekuatan magicnya. 

Bukankah penjelasan seperti itu terlalu rumit baginya? Maka aku memilih  penjelasan seperti ini:

"The lyric is like a poem. Beautifully arrange words related to the movie," jawabku.
"So?" desaknya.
"You saw the movie, didn't you?"
"Yes."
"Elsa ran away from palace then go to the icy mountain, right?"
"Yes."
"So Elsa's past is the palace. She has left the palace, so it passed," jelasku.
"Get it?" tanyaku, berharap dia bisa menangkap penjelasanku.

Aku mulai bingung bagaimana harus menjelaskan padanya. Dan dari wajahnya tergambar bahwa dia makin mumet dengan penjelasanku yang mbulet. Kami sampai di bus stop. Sejenak aku membuka google dari ponselku. Aku mengetik "the past is in the past meaning" kemudian menekan tombol search. Percuma. Yang ada hanya lirik lagu dan disney wiki.

"I don't get it," jawabnya jujur.

Ok,  aku harus memutar otak. Kalau penjelasan kedua ini enggak juga bisa dimengerti olehnya berarti harus kirim whatsapp ke pak bos untuk menanyakan hal ini.

"Where are we going?" tanyaku.
"Play therapy," jawabnya cepat.
"We walked from home to this bus stop, didn't we?"
"Yes."
"What did we pass?"
"Cars, dogs, apartments?"
"Yes. So the cars, dogs and apartments were passed, right?"
"Yes."
"So that's it! Cars, dogs and apartments are behind us. We can say it like this: cars, dogs and apartments are past and the are behind us, passed, past. Do you get it now?"
"No."

**tepuk jidat

Lalu tiba-tiba dia berkata:

"You said Elsa's past is palace and she left palace, so the palace is behind her, past. Like that?"
"Yes," jawabku lega.

Akhirnya dia mengerti walau tidak sepenuhnya benar pengertian yang di dapatnya. Lha kalau pertanyaan yang fardhu ain jawabannya itu tidak terjawab, sampai besok dan besoknya lagi dia akan nguber aku untuk memberikan jawaban yang tepat. 

huufftt....

 

Ayam dan Emak

emak di pintu rumahku
Ada perdebatan antara aku dan emak yang tak pernah berakhir, tentang unggas. Emak adalah pecinta hewan berkaki dua yang aneh. Burung brenggala yang berumur belasan tahun itu tetap berada di kurungan yang sama sejak pertama kali didapatnya. Tak pernah dimandikan dan tak pernah dicuci kurungannya. Hanya diganti air minum dan dicukupi makanannya.

"Manuk kuwi gak perlu adus, nduk," katanya setiap kali aku memrotesnya untuk memandikan burung.

Sama halnya dengan ayam. Sejak ayam itu masih kuthuk, masih kecil, hingga ayam itu keluar jalu dan jengger juga buntut ekornya memanjang, diletakkannya di dalam kurungan yang sama hingga ayam jago yang sebenarnya macho dan ganteng itu menjadi mentelung, membungkuk badannya karena sundhul kurungan, kurungannya terlalu kecil untuk ukuran ayam jantan yang siap untuk flirting.

Eh..boro-boro flirting, ini ayam gak beda jauh nasibnya sama anak wedoknya emak waktu ABG, gak boleh keluar ke mana-mana! Lhah gimana mau ndapetin babon cakep? Tiba waktunya kawin juga mesti dikawin paksa. Jadi ada beberapa kurungan gitu. Yang ayam cewek ditaruh di dunak jebrak sedang yang ayam cowok ditaruh di kurungan ayam beneran. Dan pas waktunya kawin itu ayam cewek dimasukkan ke kurungan ayam cowok. Ditonyol-tonyolin gitu biar cepet kawin. Duh!

Kebayang gak sih? Itu kurungan ayam buat ayam jago aja udah nyesek, ketambahan ayam cewek. Mana tempat kurungan itu di deketnya dapur pula, jadi pas kami makan bisa ngelihat itu ayam lagi ngapain gitu. Khan jadinya mereka enggak punya privacy, ya khan? Sering dulu, itu kurungan aku tutupin pakek gombal, biar kalau pas mereka making love mereka punya privacy, biar gak malu. Lhah kalau nggak kawin-kawin, nggak bertelur. Buntutnya emak ngedumel. Emak emang hobby banget melihat hidup ayam nelangsa.

foto dari sini
Dulunya dulu sih emak suka sama menthok, itu semacam bebek gitu. Tapi aku benci. Benci sama tainya yang crat-crot di mana-mana. Gak sopan banget. Benci sama suaranya yang wak-wek-wok, brisik. Tapi suka kasihan juga saat bulu-bulunya dicabutin oleh tukang mindring (tukang jualan panci kredit keliling yang juga kebetulan membeli bulu angsa dan menthok, entah untuk apa). Iya sih, kalau enggak dicabutin itu menthok bisa mbleber, terbang ke mana-mana.

Dan enggak tahu kenapa tiba-tiba emak memutuskan untuk menjual semua menthok (7 ekor). Yang aku tahu, setelah menthok dijual aku punya seragam dan sepatu baru. Saat SD aku cuma dibelikan seragam dan sepatu satu kali, yaitu pas kelas 4 SD, ya pas menthok itu terjual. Jadi pas jalan ke sekolah, pas jalan itu aku merasa sepatuku bunyi wak-wek-wok. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi sungguh risih dan merasa bersalah telah membenci menthok. Akhirnya pas keluar dari rumah dipakai tapi selang lima menit sepatu dilepas, dipakai lagi di depan gapura SD. Pulangnya juga gitu. Di depan gapura dilepas, hampir sampai rumah dipakai lagi. Sebelumnya aku pakai lungsuran dari tetangga kanan kiri yang mempunyai anak sebaya denganku. Hidup saat itu susah, amat susah. Meski begitu dulu damai banget.

Kembali ke ayam dan burung. Kemarin saat emak aku telpon, beliau bilang burung brenggala satu-satunya itu sakit. Eh sebenarnya bukan sakit tapi tidak mau ngigel/bersuara. Dan keluarlah lagi kecerewetanku.

"Kurungane diganti, tumbas anyar," perintahku.

"Niku penyakiten, wong kurungane kotor," kataku.

Lalu terdengar suara simbah menggumam entah apa. Simbah yang sakit uzur itu seperti tahu bila-bila aku menelpon. Beliau minta air anget, katanya. Lalu aku membayangkan emakku yang juga sedang sakit itu tergopoh-gopoh ke dapur, mengambil segelas air hangat. Lalu aku mendengar suara emak melemah, seprti tercekat, seperti mau nangis.

"Wong lara ngopeni wong lara. Lara kok bareng," katanya.

Sesaat kami terdiam. Tak berani aku meneruskan kecerewetanku. Pikiranku tak keruan. Sedang emak melanjutkan keluhannya.

"Anak mung siji, adoh sisan," katanya. Lalu diam.

Aku yakin di sana emak menangis. Tapi tak ada suaranya. Beliau lebih nelangsa dari pada ayam jago dan ayam cewek dalam kurungan tadi. Punya anak pungut satu saja enggak bisa merawatnya dengan baik. Mungkin juga beliau mengkhawatirkan masa tuanya tanpa anak di sampingnya. Mungkin juga beliau merasa kesepian atau takut atau perasaan lain yang aku tak tahu....



**Jam 2 dini hari. Masih belum bisa tidur mengingatmu, Mak.
    Setahun lagi, nggak akan lama kok.
    Semoga njenengan segera sehat, aamiin.




Erwiana, Facebook, dan Solidaritas Buruh


Erwiana, Facebook, dan Solidaritas Buruh

dok / Jaringan Buruh Migran Indonesia
AKSI SOLIDARITAS – Ribuan buruh migran asal Indonesia menggelar aksi solidaritas untuk Erwiana di depan kantor Central Government Offi ce (CGO) di Hong Kong, Minggu (19/1). Sekitar 100 warga lokal turut bergabung dalam aksi ini.
Akankah negara bicara lantang tentang nasib pekerja rumah tangga Indonesia di Hong Kong?
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menelepon seorang lelaki bernama Rahmat, di sela-sela rapat kabinet yang berlangsung di Istana Negara, Selasa (21/1) pagi.

“Pak Rahmat, ini Pak SBY. Saya sedih prihatin terhadap musibah yang mengenai putri Bapak, Erwiana. Saya juga marah pada yang berbuat kejahatan. Saya minta hukum dan keadilan ditegakkan,” demikian SBY menelepon, seperti diberitakan Antara, Selasa. 

Tak jelas apa tanggapan dan reaksi Rahmat menerima telepon mendadak itu. Namun yang pasti, kejutan Rahmat sudah datang jauh-jauh hari, Sabtu (11/1) lalu, saat putrinya, Erwiana Sulistyaningsing, datang ke rumah dengan dipapah seorang buruh migran asal Magetan, seorang perempuan yang baru dijumpai Erwiana saat di Bandara Chek Lap Kok, Hong Kong. 

Wajah dan mata Erwiana lebam, tubuhnya memar. Rahmat dan istrinya histeris. Baru delapan bulan Erwiana bekerja di negeri bekas jajahan Inggris itu, tapi pulang dengan luka di sekujur badan. 

Riyanti, buruh migran asal Magetan yang mengantar Erwiana pulang ke kampung halamannya di Desa Pucangan, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menemukan Erwiana duduk sendiri di bandara Hong Kong, Jumat (10/1) malam lalu. Kebetulan malam itu, Riyanti juga memutuskan pulang kampung. Mereka menumpang penerbangan yang sama. 

Riyanti curiga dengan wajah lebam Erwiana. Namun, Erwiana bungkam ketika ditanya apa yang terjadi padanya. Ia hanya bilang alergi cuaca. 

Tapi, Riyanti tak percaya. Saat Erwiana minta diantar ke toilet dengan langkah tertatih, Riyanti makin curiga. Di toilet, Riyanti menemukan Erwiana berganti pampers untuk pantatnya. Riyanti makin curiga Erwiana mengalami penganiayaan, tapi perempuan berusia 22 tahun itu tetap bungkam.

Sambil mencoba berkomunikasi dengan Erwiana, Riyanti berbalas pesan pendek dengan kawannya, Icha, juga seorang buruh migran asal Malang yang bekerja di Hong Kong. Kepada Icha, Riyanti mengirim foto Erwiana yang lebam. 

Icha-lah yang kemudian menjadi orang pertama yang mem-posting foto Erwiana di Facebook, Sabtu (11/1) pagi. Ia tak berpikir panjang. Ia memutuskan melakukan hal tersebut setelah SMS terakhirnya ke Riyanti yang meminta agar Riyanti menemani Erwiana pulang hingga ke kampung halamannya, tak berbalas. 

Kemungkinan karena Riyanti sudah berada dalam pesawat bersama Erwiana. “Yang kupikirkan saat itu (saat mem-posting foto Erwiana di Facebook-red), itu jalan satu-satunya berharap kepedulian kawan-kawan BMI (buruh migran Indonesia, sebutan lain untuk tenaga kerja Indonesia-red) membantu Erwiana,” ucap Icha kepada SH. 

Tanggapan dan reaksi pun meluas. Banyak yang kemudian menyebarluaskan foto ini. Ada yang pro, ada yang kontra. Tak sedikit pula yang skeptis. Orang yang pro menyebut Erwiana harus dibantu dan solidaritas harus segera digalang. 

Orang yang kontra melihat foto semacam ini tak bisa sembarangan diedarkan tanpa izin dari pemiliknya karena dikhawatirkan terjadi sesuatu yang justru lebih buruk terhadap Erwiana. Sementara itu, orang yang skeptis menganggapnya sebagai hoax. 

Namun, saat informasi lanjutan mengalir dari Icha dan Riyanti tentang proses perjalanan Erwiana pulang ke kampung halaman, hingga penanganan terhadapnya, arus pun berubah cepat. Solidaritas mengalir deras. 

Disiksa

Kepada Riyanti, saat berada di dalam pesawat, Erwiana berkisah bahwa majikan perempuannya, Lo Wan-tung, memang doyan memukulinya. Ia takut mengaku karena majikannya sempat mengancam orang tuanya di kampung akan dibunuh jika Erwiana mengisahkan penganiayaan tersebut.

Selama delapan bulan bekerja pada majikan tersebut, Erwiana hanya sekali diberi makan nasi setiap hari, pada pukul 07.00. Siang dan malam hanya dapat jatah satu iris roti dan satu botol air mineral untuk sehari. Jam tidurnya pun diubah. 

Ia boleh beristirahat atau tidur dari pukul 13.00-17.00. Selebihnya, ia harus dalam kondisi bangun dan bekerja. Saat ia kelaparan dan mencoba mengambil roti di lemari, majikan langsung memukulinya, juga setiap kali dia melakukan kesalahan kecil. 

Dokter Imam Fadli, spesialis bedah yang merawat Erwiana di Rumah Sakit Islam Amal Sehat Sragen, mengatakan, Erwiana tak bisa berjalan dan mengalami pembengkakan otak karena kepalanya terus dipukuli benda tumpul selama enam bulan terakhir. 

Saat bulan pertama mengalami penganiayaan, Erwiana sebetulnya telah mencoba melapor pada PJTKI Graha Ayu Karsa Tangerang yang mengirimnya. Namun, alih-alih memberi perlindungan, PJTKI malah menelepon agen di Hong Kong yang menyalurkan Erwiana ke Lo Wan-tung dan sang agen memberi tahu majikan tersebut tentang keinginan Erwiana untuk hengkang. Jadilah, Erwiana kembali jadi bulan-bulanan. 

Minggu (19/1), sebuah aksi menuntut keadilan bagi Erwiana digelar di Hong Kong. Sekitar 5.000 orang turun ke jalan menuju kantor pemerintah Hong Kong dan markas polisi Hong Kong. 

Sejumlah organisasi pekerja migran mengoordinasi aksi tersebut. Warga Hong Kong yang bersimpati terhadap kasus Erwiana juga turun ke jalan. “Lebih dari 100 warga lokal ikut dalam aksi ini,” kata Sring Atin, juru bicara Komite Keadilan untuk Erwiana dan Semua Pekerja Migran Rumah Tangga. 

Hari itu juga polisi memeriksa Susi, pekerja migran asal Malang yang juga menjadi korban penganiayaan Lo Wan-tung. Sring mendampingi Susi dalam pemberian kesaksian tersebut. Kepada SH, Sring mengatakan, pada Jumat (17/1), polisi Hong Kong menghubunginya. “Mereka bilang jika Susi bisa bersaksi, mereka akan menangkap majikan Erwiana, Minggu (19/1) malam,” Sring menjelaskan.
Meski mundur sehari, polisi menepati janjinya. Senin (20/1) malam, Lo Wan-tung dicokok Imigrasi Hong Kong di bandara saat hendak terbang ke Bangkok. Perempuan tersebut ditangkap atas tuduhan menganiaya dua PRT asal Indonesia. 

Hari yang sama, empat penyidik dari Unit Kejahatan Kepolisian Hong Kong dan pejabat Departemen Perburuhan Hong Kong terbang ke Indonesia untuk memeriksa Erwiana. Polisi butuh keterangan dan hasil medis Erwiana sebagai bahan investigasi untuk menjerat Lo Wan-tung. 

Aksi solidaritas terhadap kasus ini dan juga soroton media internasional membuat Hong Kong jengah. Mereka tak ingin disamakan dengan Arab Saudi jika kasus ini gagal ditangani. 

Presiden Yudhoyono tampaknya juga terusik hingga merasa perlu untuk menelepon ayah Erwiana. Tapi, penghiburan saja memang tak cukup. 

Kamis (23/1) dan Minggu (26/1) nanti, organisasi dan jaringan buruh migran Indonesia di Hong Kong kembali menggelar aksi. Mereka akan mendatangi kantor Departemen Perburuhan Hong Kong dan kantor agen Chans Asia Recruitment Centre yang menyalurkan Erwiana, menuntut agar agen ditutup dan pemerintah Hong Kong meninjau ulang aturan yang mengharuskan PRT asing tinggal di rumah majikan. Secara kebetulan agen Chans berkantor di kawasan Causeway Bay, tempat perwakilan pemerintah Indonesia juga berkantor. 

Para pekerja migran asal Indonesia ini telanjur memercayai bukti bahwa bukan para pejabat negara yang akan menuntaskan masalah dan nasib mereka, tapi diri mereka sendiri. (SU Herdjoko)

Erwiana, TKW Hong Kong Korban Penganiayaan Majikan


Erwiana sebelum berangkat ke Hong Kong
ERWIANA SULISTYANINGSIH
Asal: Ngawi
 Lahir pada 7 Januari 1991
Nomer passport: AS 321825
8 bulan bekerja di majikan bernama LAW WAN TUNG
beralamat di: Flat J 38 /F BLK 5 Beverly Garden 1 Tong Ming Street Tsueng Kwan O, Kowloon, HK
Erwiana diberangkatkan oleh P.T. GRAHA AYU KARSA Tangerang. Dan agen di Hong Kong Chans Asia Recruitment Centre.

Tulisan ini berdasarkan cerita Rian yang kebetulan hendak cuti ke Indonesia dan bareng Erwiana. 

Tanggal 9 Januari 2014

Ketika aku sampai di bandara CHEK LAP KOK, HONG KONG, aku melihat ada seorang mbak-mbak, BMI (BMI=TKW) juga. Tapi kok wajahnya lebam dan jari tangannya juga bengkak menghitam? Lalu ku tanya: "Namamu siapa mbak?"
“Erwiana,” jawabnya.

Aku : "Lhoh mbak, kenapa wajah dan tanganmu seperti itu?"
Erwiana : "Ahh nggak papa kok, Mbak. Ini cuma alergi kena air dingin."
Aku : "Ahh massa sih alergi air dingin sebegitunya? Kok kayak ada luka gitu lo. Mbak di wajahmu juga lebam."
Erna : "Enggaklah, nggak apa-apa kok." (Erwiana diam dan menunduk sambil memainkan jarinya yang menghitam itu)

Aku : "Memangnya kenapa sih, Mbak? Apakah kamu dipukul oleh majikanmu?" (aku setengah memaksa dia untuk mengakui apa sih yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?)

Erwiana : "Ora papa, Mbak." (Lagi-lagi dia menunduk)

Aku : "Kamu asal mana?"
Erwiana: "Ngawi, Mbak."
Aku : "Lhoh, ya sama. Aku dari Magetan, berarti kita tetangga dekat lo."
Erwiana: "Oh iya, Mbak.”

Terdengar suara peringatan kepada seluruh penumpang pesawat agar segera masuk ke Gate 31.

Aku: "Ayok masuk, dah ada peringatan tuh.”
Erwiana: "Aku ewangana, Mbak. Aku gak bisa bawa tasku."
Aku : "Lhoh tadi katamu gak apa-apa? Lha kok? Sebenarnya kenapa sih mbak kamu nih?" (Aku jengkel karena ditanya gak ngaku-ngaku)

Erwiana di bandara Hong Kong
Erwiana : "Mbak, iya aku dipukuli oleh majikanku selama 8 bulan, tapi mbak aja ngomong-ngomong ya, aku takut sekali.” (wajah Er terlihat banget cemas)
”Erwiana: "Aku gak boleh ngobrol dengan orang Indonesia atau pun melapor ke Polisi tentang kejadian ini.” (tangan Erwiana terlihat gemetar)
Aku: "Hahhh..??!!”(aku kaget dan menyayangkan banget, kenapa disiksa separah itu kok diam saja? Kenapa??)

Karena waktu sudah mepet dan kami pun harus segera masuk pesawat, maka aku gandeng dia untuk jalan. Namun alangkah kagetnya aku, ternyata dia juga susah jalan jadi aku harus memapah dia. Semua bawaanku kutaruh di kereta barang. Aku sudah menawarkan untuk lapor polisi, dia gak mau dan ngeyel gak mau.
Akhirnya kami tiba di depan gate masuk Imigrasi.
Beberapa petugas bertanya pada Erwiana: "Kamu kenapa?" Dan aku yang jawab, kujelaskan bahwa dia telah dianiaya majikanya. Petugas tersebut seketika langsung menyarankan untuk lapor polisi dan lagi-lagi Erwiana menolak dengan alasan ingin segera pulang bertemu keluarga di kampung. Akhirnya walaupun banyak orang menyarankannya lapor polisi tapi dianya nggak mau, ya sudah tentu pihak imigrasipun tidak bisa memaksa seseorang untuk melaporkan kasusnya.

Sampai di dalam pesawat aku bersusah payah untuk memapahnya dan barangku dibawakan teman yang lain. Oh ya, Erwiana juga tidak mau dipapah teman lainnya selain aku. Di barisan tempat dudukku juga Erwiana ada orang asing dan dia melihat kondisi fisik Erwiana yang begitu. Penumpang asing itu minta pindah tempat duduk yang kebetulan ada yang masih kosong. Mungkin orang itu takut melihat tangan Erwiana yang seperti penyakit apa gak tau.

Di dalam pesawat Erwiana tertidur, mungkin saking capeknya. Beberapa kali dia terlelap. Beberapa kali juga dia mengigau. Dalam igauanya dia berteriak ketakutan, capek dan banyak lagi. Saat dia tidak tidur, aku coba ajak dia untuk bicara mengenai kondisi dia di majikan hingga dia teraniaya.

Er..kutatap wajahnya saat ia tertidur lagi..
(kasihan banget kau Er, wajah ayumu kini berubah lebam, majikanmu hanya memberi satu lembar uang seratus dolar, umurmu yang masih muda juga harus dituakan tiga tahun. Aku menerawang sedih.
Erwiana terbang ke Hong Kong pada Tanggal 13 May 2013. Dia juga harus membayar potongan Agen selama 6/7 bulan. Sejak awal dia bekerja, Erwiana sudah mulai dipukul oleh majikannya menggunakan hanger atau apa saja yang ada di depan majikannya. Lalu pada saat dia sudah bekerja satu bulan dia sempat lari ke bawah rumah telpon pihak PJTKI di Indonesia. Erwiana laporan bahwa dia mengalami penganiayaan fisik dan tiap hari dimarahi oleh majikannya. Erwiana gak kuat dan gak tahu harus bagaimana. Lalu pihak PJTKI segera menghubungi agen yang ada di Hong Kong. Tak berapa lama agen datang ke bawah rumah majikan Erwiana menemui Erwiana yang masih di bawah rumah. Selanjutnya, pihak agen mengantar Erwiana kembali ke rumah majikan karena Erwiana belum habis masa potongan gaji.

Erwiana yang masih baru, tidak tahu harus kemana dan tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan. Dengan bujuk agen, Erwiana terpaksa kembali ke majikan lagi. Dalam bekerja sehari-harinya Erwiana selalu mendapat perlakuan tidak baik dari majikannya. Dia juga kurang makan dan kurang tidur. Hingga pada kondisi yang kritis, tepatnya tiga hari sebelum dipulangkan, Erwiana mengeluh sakit dan lemah. Lalu majikannya menyuruhnya untuk tidur istirahat. Ketika mandi, Erwiana juga dimandikan oleh majikan perempuannya dengan alasan kalau Erwiana mandi sendiri nggak bersih.

Akhirnya pesawat landing di bandara Indonesia. Aku segera memapah Erwiana, ketika dia berasa ingin buang air kecil, segera ku antar ke toilet. Dan alangkah terkejutnya aku, ternyata Erwiana sudah dipakek i Pampers! Ohhh ya Alloh… Betapa tersiksanya dirimu wahai saudaraku. Aku hanya bisa berucap dalam hati, ingin sekali aku menangis, menjerit, agar apa yang kurasakan dongkol dalam hati ini berkurang, tapi ku tahan. Aku tak ingin terlihat sedih di depan Erwiana.

Dari bandara aku mengantarkan Erwiana sampai rumahnya di Ngawi. Di halaman depan rumahnya Taxi yang kami tumpangi berhenti. Keluarganya yang tidak tahu dia akan pulang hari itu kaget. Apalagi ketika melihat kondisi fisik Erwiana yang mukanya lebam dan harus dibopong masuk ke rumah. Spontan keluarga dan tetangga yang di situ menangis histeris.

Sampai di dalam rumah, Erwiana ditidurkan. Sebenarnya aku sudah penasaran sejak dari Hong Kong, kok kakinya gak bisa buat jalan itu kenapa? Tapi Erwiana menutupi dan tidak mau memberitahuku. Dalam kondisi yang pada menangisi keadaan Er, aku terus bersabar, aku harus kuat, aku harus tatak di hadapan banyak orang. Aku gak ingin menangis meskipun batinku menjerit dan airmataku begitu ingin mengalir.

image
image
image
 image
Dan akhirnya akupun memberanikan diri untuk melihat kondisi kakinya. Duh Gustiiiiii… Ampunilah dosa hambamu yang lemah iniiiii…(ku berdoa dalam hati). Kedua kakinya diperban dan aku tidak tahu luka apa ini. Bekas siraman.air panaskah? Atau bekas apa?  Ya Allah... begini parahnya. Aku mencium aroma yang tidak sedap dari kedua kaki Erwiana namum tak sedikitpun aku merasa jijik atau bagaimana. Aku tetap melepas perban-perban yang menempel di luka  Erwiana dan menggantikan dengan yang baru.

Kondisi Erwiana sangat lemah dan masih  butuh perawatan extra. Saat ini Erwiana sudah dibawa ke Rumah Sakit setempat untuk perawatan.

Kawan-kawan semua, itu tadi kisah saudara kita yang foto-fotonya sudah ramai dibicarakan di FB sejak semalam, dan untuk kekurangan nama tempat atau alamat, saya pribadi memang belum mendapatkan dari pihak keluarga. Dan perlu kawan- kawan ketahui, saat ini Erwiana juga sudah ada pihak di Indonesia yang siap mendampingi untuk menuntut haknya.

************

Copas dari blog kawan, Fendy .







Winter with Mr. Tarmedi

***Bear it! I wrote this post in broken English!

I am trying to write a note in every other day (though last night I have posted) to keep my self occupy. It has been very cold days. The blanket & pillow are seemed more interesting than a laptop or an android phone. The wind often blows hard. It goes through the layers of clothes and through our bones. And as a compliment, the rain makes the days even worst.

But my friends & I (note: we are domestic workers in Hong Kong) have got to be stronger than winter. We are playing a co-star in every daily movie. We are the lady behind the success man. Well, we have people depending on us, laying great help or hope (as well as burden) to us. And to do such a job, we've got to keep healthy as well as happy.

Our boss might be in the bedroom watching TV or having longer nap time. But just look at those piles of dirty clothes in the loundry basket and on the washroom floor or look at how messy the house can be. And how about breakfast, lunch & dinner to serve? Or clothes to iron and baby to feed? Also marketing and (not to forget) moping and grooming the dogs? We definitely are not entitled for having such a lazy day in any season and any reason. Be it rain or fall or summer or winter, the job must be done. It is the same amount of HK$ 3.920 in every month, means the same things to do every day, no less, but can be more.

To keep healthy, may be it's all about the food we eat. But one of the reasons to keep happy is sending messeges to a friend or multiple friends in one group under the generosity of whatsapp, line, BBM for Android etc. It is free (for now) and easy. It doesn't take much time also.

We often talk about our self, our boss, our "man", our holiday, future, business or married & family planning. Further more, we discuss about many different news, from Indonesian domestic worker's news to Jokowi, SBY and Mr. Tarmedi.

Ok, so this (Mr. Tarmedi) is the latest news that has inspired me to write in English (forgive my wrong grammar pls). And because of this news, my friends went crazy (but it is a good way of craziness of course). We write messeges in English. We hope that we'll be better one day, getting more fluently and confidence through wrongs and errors.

But there are two different confersations I have made with completly different type of friend. And both make my days brighter and lighter. It's...it's fun way of learning. With little bit of twist and little bit addition here and there (include mixing the language). It is bizare but hilarious! Check it out!



 




Did you find it funny? I did and still do! Lol...

note:
nganfen (bahasa Kantonis)=sleepy
codauu(bahasa Kantonis)=good night

Bila Emak Kirim Mangga ke Hong Kong

Jasa pengiriman barang BAI menggerutuiku karena aku gagal mengambil paketan pada hari Sabtu.  BAI juga mengkhawatirkan paketan yang berisi makanan itu akan busuk bila terlalu lama di gudang pengambilan. Berhubung Sabtu aku tak jadi libur, maka baru keesokan harinya aku sempat mengambilnya, itupun setelah berlari-lari menyerahkan pesanan online kepada kostumerku dari satu titik ke titik lain (masih di daerah Causeway Bay-untuk kisah jualan onlineku ini mungkin akan kutuliskan nanti).

Aku menggeret salah seorang kawan yang jarang banget libur. Menggeretnya, memegang erat tangannya hingga dia tak bisa menolak untuk berkata tidak untuk mengikutiku (sukurin Wiek, haha..!). Kemudian bersamanya aku menuju gudang pengiriman barang, menyeret sebuah kardus lalu membukanya persis di lorong apartemen.

455 dolar, pikirku.

"455 dolar," gerutuku.

"Iki apa wae ta Wiek kok sampek meh 500 dolar ki," kataku pada Awiek.

"Astagfirullah, akeh men. Gek paket pelem wae kok sampek 750 ewu lho, kaujo aaa...!" gerutuku.

23 buah mangga, 2 kilogram sambel pecel dan seplastik enjet (batu kapur yang sudah dilunakkan) terdapat di kardus bekas kardus Indomie itu. Saat kuterima pada Minggu (15 Des'13) lalu, kerdus itu sudah lembek, basah, bau dan berminyak. Tiga di antara mangga-mangga itu sudah busuk. Sebelas lagi gembuk, selebihnya tidak begitu ok tapi juga tidak begitu gembuk.

"Nyenengke wong tua, Mbak. Jenenge wong tua pengin ngirim anake lho. Piye maneh, ya ben lah," bujuk Awiek.

Aku masih membayangkan biaya pengiriman sebesar 455 dolar alias 750 ribu. Betapa besar uang itu bagiku. Aku membayangkan ketika aku butuh setidaknya 2x5 hari ngepel lantai, 5x5 hari ngosek WC ditambah belanja, nyuci pakaian, masak plus diomeli majikan. Aku membayangkan betapa aku akan kehilangan kesempatan ikut kursus ini dan itu dengan uang itu. Aku membayangkan betapa...

"Lha timbang dipakek buat mbayar biaya pemaketan, 750 ewu lho bisa buat tambah transfer dhuwit emak," gerutuku lagi.
"Di sini mau makan mangga lho tinggal ke pasar beli yang 30 dolar udah dapet guedhe. Itu lho buat beli di sini udah dapet 15 buah lebih. Lagian siapa yang mau makan mangga sebanyak ini? Pengin mencret apa? UUgghhh...!" tambahku.

"Mbaak...nyenengke wong tua, Mbaaakkk!" kata Awiek lagi, nadanya sedikit meninggi tapi dengan ujung bibir tertarik ke atas.

Aku tak habis pikir, apa sih yang emak pikirkan saat mengirim paketan ini? Aku geram, aku ingin marah pula. Tapi sewaktu aku dial nomer telpon bapak (bapak yang merawatku), beliau tak menjawab panggilan telponku. Dan saat aku menelpon mbak Titik, kakakku, dia sedang sibuk.Olala!

Lalu kulimpahkan marahku pada Awiek. Kupasrahkan empat buah mangga padanya dengan harapan bisa mengurangi bebanku, ternyata paketan itu berat, seberat 13 kilogram, belum ketambahan paketan lainnya dan barang daganganku dan berkah hujan pada hari itu. Dan kembali harus kurayu-paksa Awiek untuk membantuku membawa pulang (ke rumah bos) barang-barang itu.

Lalu...

Hari Selasa (17 Des'13) aku baru berkesempatan menelpon bapak. Dan sewaktu kukatakan bahwa paketan itu telah sampai dan telah aku nikmati, beberapa cerita mengalir lancar tanpa aku mempunyai kesempatan untuk memenggal atau menyela.

Beliau bercerita bagaimana emak membeli kacang langsung dari petaninya kemudian dikupasnya lalu menungguinya saat kacang-kacang itu dijemur. Menggorengnya lalu membawanya ke pasar untuk diselep (dan harus satu jam menunggu giliran). Beliau menceritakan bagaimana beliau mengambil mangga. Mangga itu setelah dipetik langsung dimasukkan kardus. Dipilih yang bagus-bagus, besar-besar dan yang paling tua. Bapak yang biasanya mengunduh mangga dengan gotek mendadak harus memanjat pohon mangga yang penuh dengan semut krangkang. Lalu beliau juga menceritakan kehebohan saat mangga-mangga dan sambel pecel itu dikemas dalam kerdus.

Aku tersenyum, ternganga, terpana dan entah ter-ter apa lagi. Yang jelas cerita-cerita itu kurasakan lebih hebat dari pada kehilanganku atas 455 dolar atau 750 ribu. Cerita-cerita itu begitu penuh dengan cinta dan ketulusan dari orang-orang yang mencintaiku (dan kucintai). Cerita-cerita itu begitu penuh tenaga, penuh semangat dan membuatku hangat.

"Takkirimi akeh, ben awakmu isa melu ngrasakne, ben kancamu ya isa melu ngincipi," kata bapak.

O, jadi itu toh alasan bapak dan emak mengirim sedemikian banyak mangga dan sambel pecel. Katanya kalau yang 10 buah busuk, masih ada 13 buah yang baik yang bisa aku makan bersama kawan-kawanku (dan memang juga aku bagi-bagikan kepada kawan-kawanku).

Pribadi-pribadi yang sederhana itu entah berapa kali telah membuatku kalah. Betapa cara pikir mereka yang simple, melihat sesuatu dari sisi lain, membuat sesuatu yang kurasakan berat sebenarnya/menjadi tak terasa.

Dan sewaktu telpon itu kuakhiri, tak sedikitpun aku menyinggung besarnya biaya pemaketan yang harus kubayarkan. Bukankah semua sudah terbayarkan lunas dengan cerita-cerita itu? Sudah tak membebaniku lagi.

breakfast, lunch, dinner: sambel pecel plus dessert mangga selama seminggu!



***pesan moral: cinta itu mahal maaakkk...!