Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Almost Insane

“All I really need to know about how to live and what to do and how to be I learned in kindergarten…. Share everything….”

Some where in a book in which I have forgotten about the writer, I have found those words. Well, that is true for sharing is a good thing to do in life. May be, I have taken so much by those words. It has changed me from country kind of girl into rock kind of lady.

It might be just a little tiny bit of leaping from just simple sharing into a such a thrilling sharing. But half of the world against me.They said that I have assumed it (sharing) wrongly. I think they have misunderstood me, seriously completely misunderstood!

Most say the way I share is impossible, almost insane. See, I am not talking about sharing toys or things here, but love. There is an awesome guy who has made me fall deeply in love (or may be, fall madly in love as well). The guy who can be a prince in any season of my heart. I might have summer, fall or winter in one day but he is always be my sunshine. He is the one who give me brightnes and power to survive. I know, I knew, all of woman may not be as lucky as me but you do have some one (or some hope) for having this kind of man, don't you?

OK, I will make it short! I am falling in love to a 45 years old man. Why 45? This is the age when the man has his prime, the golden year, isn't it? Into addition, 45 years married old man. Oh yes!

So deeply in love I till I feel that sharing him with his wife is very much better than not having him at all. It is normal to me. I don’t care what he has done with his wife out there, I don’t even want to know. All I want is his love when he is with me. That's it! 

I had sex with him, gave him everything. May be a little bit too excessive but this is probably all of my fault. I let him do it without any rejection.  How could I resist it? I never had the power to do it. I am bound to him. I was never be able to separate which one is love nor pleasure. Can you?

 But how can the hell be so different about this "sharing" thing from other's opinion?

“You are sick!” my friend snapped at me.

“ I don’t think so, I am perfectly fit,” I denied.


“You are sick and need a treatment!” she added.


“Oh I see, you hate me telling about him. But he is all topic I have."


There is a long pause, both of us are not paying attention to each other anymore. I don’t know why I feel like vomiting, her words are giving me a sudden sick. I may know her a couple of years earlier than "my man" but she is no matter to me anymore. Ever since her disliking and her thinking of me, that is the end of our friendship. Having her as a friend is like having an enemy under the pillow. It pricks your head and let you bleed to die a lot earlier. When some one is no longer understand you, she is nobody.


I really don’t care if some one says that I am stupid and stubborn because I am. Once I have made up my mind there is no way to change. I love him and that is that!

_______________________________________________





 

nyoba sedikit "miksi" pakek bahasa Inggris, haha!! mawuttt grammarnya....

Stuck on You

you know
my world is all built around you
Sometimes, when I don't see you
I feel so lost
it's kinda stupid
or may be
I should not let you know

I supposed to be strong
apparently,I am not that strong
may be
I haven't done my best is just not good enough

I hate to make you unhappy
unfortunately I did it many times
I just want you to take care of me
as you know
I am such a sensitive person
you are a gift to me
the right person to spend the rest of my life with

honey, I love you
I need you

--------------------

for someone, somewhere

Tersandung Cinta

"Aduh celaka!" teriakku kaget dan tertahan. 

Tertera 3:17 AM ketika aku melirik pojok kanan laptopkun (ralat=laptop pinjeman dari bosku). Sedemikian asyiknya aku dengan temuan terbaruku, berita lama dari Suara Merdeka tanggal 20 Nov'06 tentang Pemenang Lomba Blog 2006, membuatku gentayangan di dunia maya hingga lupa waktu. 

Segera saja kusimpan (bookmark) tiga buah situs dan mematikan laptop yang terasa panas. Tetapi baru saja aku hendak meraih stop kontak lampu kamarku, terdengar suara langkah kaki mendekat dan kemudian berhenti dua meter dari pintu kamarku. Seperti kungyan (babu) kebanyakan, kamarku bersebelahan dengan dapur. Serta merta kuurungkan niatku dan pura-pura telah tertidur pulas.

Sorot lampu kamarku tembus keluar.

"Masih belum tidur juga ya?" tanya bos dari luar kamarku (yang lebih mirip kalau disebut gudang).

"Cece..!" panggil bosku padaku.

"Ya," jawabku lemah.

"Sudah jam tiga kok belum tidur juga," kata bos, terdengah nada marah disana.

"Forgot to switch off the light, I overslept," jawabku berbohong.

"Ooo..," kata bos.

Terdengar suara air yang dituang ke dalam gelas kemudian langkah kaki menjauh dari dapur (kamarku bersebelahan dengan dapur). Aku lega. Saat itu aku benar-benar harus tidur walau dengan membawa perasaan penasaran hingga ke dalam mimpiku. .....

Aku bertemu Sudaryono Ahmad pemilik http://penakayu.blogspot.com, Muhammad Sulhanudin pemilik http://embunkehidupan.blogspot.com juga Ahmad Munif pemilik http://munif.wordpress.com, ketiganya adalah pemenang lomba blog 2006 pemenang ke tiga, dua dan pertama.

"Ngeblog itu berbagi," kata mas Sulhanudin.

"Ngeblog itu memberi pencerahan," kata mas Sudaryono.

"Ngeblog itu...ah..sepertinya aku terbang kalo lagi ngeblog," kata mas Munif sambil tersenyum.

Aku heran, mengapa ketiga orang itu begitu antusias sekali untuk ngeblog. Apa itu ngeblog? Blog? Ngeblog? Blog? Ngeblog.......??

....ngeblog itu berbagi....

....ngeblog itu pencerahan...

....ngeblog itu terbang....

Kata-kata itu terulang-ulang di kepalaku dan membuatku pusing dan hampir saja bangun kesiangan.

"Blog ngeblog...., blog ngeblog....," kata itu masih menghantuiku sewaktu aku mencuci muka dan menggosok gigiku. Masih terngiang-ngiang saat aku memandikan si kecil Katelyn, saat aku membersihkan rumah, saat aku berada di ruang tunggu menunggu Katelyn les, saat aku masak. 

Ah rasanya ingin sekali aku menyegerakan semua pekerjaanku supaya aku bisa berdiam di depan laptop untuk mencari info tentang blog.

"Cece, nanti kamu tidur ama Katelyn ya," kata Mrs Wong atau dhai-dhaiku alias bos perempuanku.

Jangkriiiiikkkkkkkkkkkk!!" umpatku dalam hati. Di saat hati sedang menggebu-gebu ingin tahu tentang blog kok malah gak ada kesempatan buat ngenet. Akhirnya harus kupendam keinginanku hingga minggu keesokan harinya saat aku mendapatkan liburku.

Minggu itu...
Perpustakaan yang berada tak jauh dari rumah bosku segera menjadi tujuanku. Di sana terdapat akses internet beserta beberapa desktop yang bisa digunakan oleh siapapun. Hari libur itu aku gunakan sepenuhnya untuk mencari tahu tentang "blog". Dari jam 10 pagi hingga jam lima sore ketika perutku mulai protes karena tidak diisi sedari pagi.

 www.s-lestari.blogspot.com adalah blog pertamaku, yang berisikan celotehanku. Namun blog tersebut terpaksa aku bantai sebagai korban ganti layout dan pengeditan. 

Kemudian di 2 september 2007 blog keduaku yaitu www.babungeblog.blogspot.com aku ikrarkan. Setelah berpusing-pusing dengan layout dan pengeditan dan html, java script yang sama sekali tidak aku kenal. Babu Ngeblog? Mengapa? Ya karena aku adalah babu, seperti juga kata ndoro kakung:

...Mosok cuma para majikan, juragan, ndoro, atau priyayi saja yang boleh punya blog? Mosok cuma karyawan sakit hati yang boleh misuh-misuh, mengumpat tempatnya mencari makan? Mosok para pembantu ndak boleh bikin perkumpulan? Mosok cuma tulisan yang ndakik-ndakik yang boleh diposting? Mosok lelucon gombal ndak boleh disebarkan?...

Benar, aku jatuh cinta, jatuh cinta pada blog. And when I fall in love...it will be forever...


memori juli-september 2007


post signature



Teman Baru itu Bernama Laptop

"You can use this," kata Mr Wong menyerahkan laptop warna abu-abu bermerk DELL seri Latitude/D610 kepadaku. Hari itu awal juni 2007, dua minggu sebelum aku menandatangani kontrakku yang kedua. Aku tertegun. Antara percaya dan tidak atas berita tersebut.

"But I don't know how to use it yet," jawabku jujur.

"Enter the internet, search there. You can learn a lot of things from there," jawabnya.

Aku semakin bingung, bagaimana mungkin aku tahu cara pengoperasian laptop ini kalau dasar-dasarnya saja aku tak tahu? Seminggu yang lalu aku mengenal komputer dari Indah, seorang kawan yang kemudian mengajakku ke warnet dan mengenalkanku dengan sebuah program. Program unik dari komputer yang dengan adanya program itu aku bisa bercakap-cakap dengan siapapun di dunia manapun pada saat itu juga. Program yang kemudian kukenal sebagai Yahoo Messenger/chatting, program yang kemudian juga menghancurkan impian Indah karena katanya dia di tipu oleh seseorang yang di cintainya lewat program tersebut. Aku pusing, setahuku program di komputer ya chatting itu. Dan kalau sebuah program hanya akan menghancurkan saja kenapa harus di pelajari?

Mr Wong membuka laptop tersebut, menekan tombol terbesar di sebelah atas yang serupa mesin tik elektrik(sekarang aku kenal sebagai keyboard), seketika itu juga laptop menyala.

"Kamu pencet ini kemudian masukkan kode ini," kata Mr Wong menjelaskanku.

"Nah, kamu lihat icon internet itu?" tanyanya.

"Yang mana?" tanyaku di tengah kebingunganku.

"Yang "e" itu, artinya Internet Explorer, coba klik icon itu," perintah bos.

Aku begitu bersemangat, segera saja aku melakukan perintah bos. "Icon "e" untuk "Internet Explorer", aku mencatatnya dalam otakku.

Sebuah program terbuka, YAHOO! Mendadak saja aku kecewa, mengapa bos menyuruhku untuk masuk program ini? Untuk menghancurkanku?

"Yahoo ini adalah homepage dari internet explorer di laptop ini, yang lainnya ada wikipedia, ada ICQ, ada MSN dan masih banyak lagi. Dari sini kamu bisa membaca berita, mencari info, mencari teman, belajar bahkan juga berbisnis," jelas Mr Wong.

Aku masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh bos. Dan ditambah dengan bahasa yang ada di komputer itu adalah bahasa asing, yaitu bahasa Inggris, aku semakin ragu kalau aku bisa mendapat pencerahan dari benda kecil berbentuk segi empat tersebut.

"But, in English? All in English?" tanyaku mengambang.

"Ya cari saja yang bahasa Indonesia," jawab bos sambil tersenyum.

Hari itu aku mengenal internet, hari itu juga aku bisa membaca kompas, suara merdeka, jawa pos begitu senangnya bisa membaca berita Indonesia tanpa harus pergi ke perpustakaan pusat Hongkong. Dan aku bisa membacanya setiap hari! Setiap hari sebelum waktu tidurku.

Bos benar, dari internet aku bisa belajar banyak hal. Terimakasih bos...


----------------------------------------

Memori Juni 2007








post signature



2 Tahun Pertama Itu

2 tahun pertama itu adalah kerja keras yang indah bagiku. Indah karena kemudian aku bisa mendapat simpati dan kepercayaan dari bos. Sempat dua kali mendapat peringatan dari bos dan hampir dipulangkan, namun entah dengan pertimbangan apabosku kemudian mempertahankanku.

Ramai temanku menyarankan agar aku berganti majikan saja dari pada menambah kontrak pada majikan yang sama. Oleh temanku pekerjaanku dianggap terlalu memakan hati.

Aku hanya tersenyum, aku pikir kalau bosku yang meminta padaku untuk menambah kontrak berarti dia memang benar-benar membutuhkanku. Lepas dari segala peraturan yang di berikan kepadaku mereka adalah tipe majikan yang perhatian sekali terhadap kesehatan dan makanku, apalagi yang di cari oleh seorang pembantu?

Ada 2 kamera yang dipasang di rumah yang mengikuti setiap gerak-gerikku dalam bekerja. Mereka (bosku) memantauku dimanapun mereka berada, di kantor, di restoran saat makan siang mereka, di bar saat mereka bertemu dengan kawan-kawan mereka ataupun di saat mereka sedang mengadakan vacation. Kamera rumah selalu terhubung dengan komputer dan HP mereka. Semula aku merasa risih, merasa kalau mereka selalu menaruh rasa curiga kepadaku, sempat juga merasa tertekan selama bulan-bulan pertama namun kemudian ku biarkan saja hingga aku kini terbiasa.

Walau kerjaku dipantau oleh kamera, beliau (bosku) pun mengharuskanku untuk menuliskan setiap kegiatanku di hari itu secara mendetil. Mulai dari saat aku bangun pagi pukul berapa, ke toilet dari jam berapa samapai jam berapa, membuat susu hingga memberikan susu kepada si kecil Katelyn berapa lama dan berapa banyak, mengepel lantai dari jam berapa sampai jam berapa dan sebagainya hingga saat malam jam kerjaku, semua kegiatan di tulis tanpa terkecuali. Sering aku mengelus dada tentang ini, betapa susahnya untuk mendapatkan simpati ataupun kepercayaan dari mereka.

Pun liburku ditentukan oleh jam bukan hari. Selama sebulan aku hanya berhak libur selama 16 jam yang di bagi 3 kali, yaitu satu kali 8 jam di hari sabtu dan 2 kali 4 jam di hari minggu. Aneh bukan? Seharusnya aku berhak libur satu kali dalam satu minggu dan setiap satu libur adalah fullday, 24 jam. Dan yang lebih aneh adalah peniadaan libur kalau aku berbuat suatu kesalahan sebagai hukumanku.

Ada kalanya aku iri melihat teman-temanku yang lain, mereka mempunyai kebebasan untuk berinteraksi dengan yang lain, sedangkan aku tidak. Larangan untuk berbicara dengan orang lain juga larangan untuk menggunakan HP di rumah selalu ditekantegaskan oleh kedua bosku. Di samping itu beliau juga mengharuskanku menyerahkan daftar teman-temanku beserta alamatnya, juga melaporkan kemana pergiku selama aku libur. Menelponku setiap dua jam sekali dan menanyakan keberadaanku di waktu liburku.

Sampai kinipun aku tak mengerti alasan mereka. Dan seperti inem-inem yang lain, kuterima saja semua peraturan yang menjerat hak dan kebebasanku itu dengan keikhlasan yang kupaksakan.

Dan hari itu, aku ingat persis 3 bulan sebelum kontrakku habis mereka memintaku untuk bekerja dengan mereka lagi. Aku diam. Seminggu kemudian baru kuberikan jawaban.

"Saya bersedia bekerja lagi di sini dengan syarat. Yaitu mendapatkan libur sesuai hak saya," kataku saat itu.

Keberatan di mata mereka jelas sekali terlihat. Berat melepasku untuk libur satu kali dalam seminggu.

"I would rather pay you than allow you to have a holiday, it's just too much for us," kata bosku.

"It's just as much for me," jawabku.
"I can't do anything with that tight holiday schedule from you. Saya selalu cemas pulang terlambat daripada menikmati libur saya," protesku.

"OK, bagaimana kalau kamu ambil 2 kali libur dalam sebulan trus kami bayar kamu sebagai ganti kalau kamu enggak libur," kata Mr. Wong.

"OK, but I want it full day. On Sundays" jawabku.

"Agree," kata Mrs. Wong.

Hari itu aku merasa seperti seorang pahlawan penegak kebenaran. Kebenaranku sendiri.


post signature


"Mak, Hong Kong itu jauh sekali...

"Mak, aku sudah sampai di Hong Kong," bisikku lirih.

Emakku nun jauh berada di sebuah desa kecil yang berada di kabupaten Blora, entah beliau bisa mendengarkan bisikanku atau tidak, aku tak tahu.

17 Juni 2005. Saat itu bukan kali pertama aku melihat bandara, tetapi tetap saja rasa kagum muncul begitu aku tiba di bandara Hong Kong International Airport di Chek Lap Kok. Megah, mewah, nyaman, ramai tapi teratur dan bersih, demikian kesan pertama yang kudapatkan.

Berulang kali aku mencubit pahaku, sekedar meyakinkan diriku bahwa itu bukan mimpi dan itu memang bukan mimpi, aku benar-benar berada di bandara di Hong Kong.

Ketika seseorang menjemputku (Miss Sou dari agensi), seorang kawanku yang berangkar bersama-sama denganku tadi sedang menangis tersedu-sedu, katanya dia takut. Takut kalau mendapat bos yang jahat, takut kalau tidak bisa menyesuaikan diri, takut, takut, takut dan takut-takut yang lain.

Tanganku mendadak dingin, dan akupun menggigil. Merasakan hawa dingin yang dikeluarkan oleh AC entah dengan kekuatan berapa volt, juga tertular ketakutan yang sama seperti kawanku.

Aku terbayang, kemarin dulu saat aku mendengar dan menyaksikan berita tentang TKW yang disiksa majikannya, disiram air panas, disetrika tangannya, tak diberi makan, digaji minim dan sebagainya. Oh... bagaimana denganku nanti? Tiba-tiba dadaku terasa sesak, mataku dipenuhi oleh air yang entah darimana asalnya. Hampir saja air di mataku itu tumpah kalau saja tak kupaksakan dia untuk kembali ke tempat asalnya dan kutetapkan hatiku bahwa aku adalah wanita tegar. Sudah sejauh ini melangkah, aku tak mau gagal.
Miss Sou membiarkan kami, mungkin dia terlalu sering melihat situasi seperti yang kami alami, jadi dia memilih diam. Kami kemudian digiring menuju bus stop. Di sana aku berpisah dengan kawanku itu. Ada agen lain yang menjemputnya. 

Aku dan miss Sou naik bus berbeda dengan kawanku dan agennya. Aku lupa nomer bisku. Bis tingkat itu membawa kami dari Chek Lap Kok international Airport Hongkong menuju ke... entah kemana aku tak tahu. Beberapa wejangan sempat disampaikan oleh miss Sou tentang bagaimana menjadi kungyan (babu) yang baik dan bagaimana harus bersikap di Hongkong, tetapi kudengarkan sambil lalu. Mataku menatap lekat-lekat ke pegunungan yang kami lewati kemudian beralih ke keramaian Hong Kong. Hatiku kacau tak keruan sekaligus takjub oleh pemandangan Hong Kong yang seolah tak pernah diam.
Dan aku terhenyak, kaget manakala miss Sou menyenggol tanganku dan bis tingkat itu berhenti di sebuah tempat yang ramai (tempat itu kemudian aku kenal sebagai daerah Causeway Bay).

Akhirnya setelah segala tetek bengek dengan imigrasi dan bank terselesaikan aku dipertemukan dengan seorang laki-laki, Mr. Wong, begitu dia menyuruhku memanggilnya. Tinggi kurus dengan wajah mirip orang-orang Korea.

Dia mengajakku mampir ke MC Donald, memesankan sebuah chicken burger dan menyerahkannya padaku. Kemudian berangkat kerumahnya yang mungil yang berada di belakang perpustakaan pusat Hong Kong. Seorang wanita yang terlihat seusia dengan Mr. Wong yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Mrs. Wong. Dia tersenyum ramah padaku, memamerkan bayinya yang usianya baru sebulan setengah, Katelyn.

Aku sempat bercakap sebentar sebelum aku sudah tak berkonsentrasi lagi karena mendadak perutku mulas tak tertahankan. Seperti ada sesuatu yang memaksa untuk keluar, seharian tadi tak satupun kali aku mampir ke toilet. Aku pamit untuk menggunakan toilet. Dan tertegun melihat toilet yang luas, bersih dan kering!

Saat itu, seperti tahun-tahun sebelumnya (dan hingga kinipun) aku selalu kepanikan dengan toilet paper. Pasalnya aku telah terbiasa cebok pakai air. Aku gunakan beberapa lembar, kemudian lagi dan lagi kuulangi. Seperti aku merasa taiku masih tetap menempel di sana, aku bergidik, jijik. Setelah hampir setengah jam di dalam toilet dan hampir setengah roll toilet paper aku gunakan, aku baru sadar. Dan begitu aku keluar dari toilet mereka bertanya cemas," Are you okay?"

"Oh yes I am, but I think I am smelly," jawabku malu. Kurapatkan kakiku serapat-rapatnya dan kucoba menjauh sedikit dari mereka, takut kalau-kalau bau taiku masih kentara. "Bagaimana aku bisa memberi first impression kalau sampai mereka tercium bau itu," pikirku.

Mereka menyilakan aku mandi, diberinya aku handuk dan segala keperluan mandi lainnya. Dan menyuruhku masuk ke kamar depan dan tidur setelah selesai mandi. Aku lega, akhirnya aku bisa mencuci bersih diriku.

"Mak, Hongkong itu jauh sekali dan dua tahun itu lama sekali. Sekiranya besuk apa yang akan aku lakukan dan bagaimana perlakuan mereka padaku?"

Aku terus bermonolog. Mencari segala jawaban atas pertanyaan yang terus-menerus mengalir, tak kering-kering. Merisaukan segala apa yang terjadi esok hari.


"Mak, doakan aku tabah menjalani semua ini, doakan aku akan baik-baik saja..."

memori, 17 juni 2005


post signature