Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Diuber Petugas Imigrasi Hong Kong Hingga Jadi Lonthe Murahan

Tiga e-mail mampir di keranjang inboxku. Bukan spam, itu e-mail benar. Yang artinya memang tiga orang yang mengirim e-mail padaku sengaja menuliskan dan atau mengharapkan bertemu denganku. Dan hari ini (8 Agustus'10), itu terjadi. Aku berjumpa dengan mereka, tak hanya mereka bertiga tapi sembilan!

Mereka bukan kawan dekatku, bukan pula orang yang pernah kukenal. Satu kalipun aku belum pernah menjumpai mereka. Namun mengapa aku percaya dan segera menemui mereka begitu waktu yang telah disetujui tiba? Padahal seharusnya pukul 8 malam aq sudah harus pulang ke rumah majikanku. Mengapa? Tentu ada alasan yang amat kuat. Begini...

Mereka mengenalku di sini, di dunia maya melalui jejaring blogspot yang sudah kubangun sejak 17 September 2007 lalu, hampir tiga tahun. Saat itu mereka mengaku jengah bermain dengan Yahoo Messenger ataupun Facebook dan mencari kesibukan lain dengan browsing artikel tentang TKW-Hong Kong atau berita dari Indonesia.

Kesembilan wanita umur 30-41 tahun, rata-rata telah berkeluarga. Dan dari latar belakang kehidupan yang berbeda-beda namun hampir senada. Kesembilan dari mereka Over Stay (OS), yaitu sebuah istilah untuk sebutan TKW yang tinggal secara illegal di Hong Kong. Penyebabnya adalah karena mereka gagal untuk mencari majikan setelah masa tenggang dua minggu setelah kontrak kerjanya berakhir. Lihat, di Hong Kong mempunyai aturan two weeks rule yang artinya TKW diharuskan mendapat majikan lagi selama masa dua minggu, kalau dia tidak bisa mendapatkan majikan selama dua Minggu maka dia harus pulang ke Indonesia. Umumnya, kebutuhan ekonomi yang makin tinggi di Indonesia menjadikan mereka takut untuk pulang karena gagal. Maka itu mereka kemudian memilih untuk bersembunyi dari Imigrasi yang menyebabkan status mereka berubah illegal.

Beberapa yang pandai melapor pada imigrasi Hong Kong untuk mendapatkan Immigration Ordinance, sebuah surat yang menyatakan bahwa seseorang itu boleh tinggal (tinggal di Hong Kong) dengan catatan tidak boleh bekerja. Keadaan ini menyulitkan, mengingat kebutuhan hidup di Hong Kong relatif tinggi. Walaupun masing-masing mendapat tunjangan berupa uang 1000 dolar, beras, susu dan makanan kering pada setiap bulannya, toh itu belum bisa menutup biaya hidup mereka selama sebulan. Maka mereka akan membanting tulang untuk menutup biaya hidup sekaligus mengirim uang ke kampung halaman. Tak jarang, banyak yang bekerja di warung-warung makan sebagai tukang cuci atau tukang masak, bisnis kecil-kecilan seperti menjual makanan, pulsa atau alat-alat elektronik. Bahkan tak sedikit pula dari mereka, entah karena kurang gigih bekerja atau karena kemampuan mereka terbatas dan kurang beruntung kemudian menjajakan diri di pinggir-pinggir jalan sebagai, maaf, lonthe! Yang harga jualnya semalam tak lebih dari 200 dolar Hong Kong atau sekitar Rp.230.000 plus ketakutan terjangkit penyakit kelamin.

Mereka berkeluh kesah padaku. Kadang ada isak tangis kadang pula tawa kami tergelak. Banyak cerita yang membuat dadaku sesak dan berkali-kali aku mengucapkan syukur pada Tuhan bahwa aku adalah orang yang beruntung, beruntung masih menjadi pembantu yang normal, dalam artian tidak terbentur dengan masalah-masalah pelik seperti mereka. Alhamdulillah.

Bayang-bayang petugas imigrasi menghantui setiap hari-hari mereka, bayang-bayang besarnya kebutuhan yang harus dikirim ke Indonesia untuk keluarga juga meresahkan mereka. Keadaan sulit ini diperparah pula dengan rasa iri benci yang kadang ada diantara sesama kawan dari Indonesia (sesama kawan OS) yang melihat keberuntungan teman lainnya kemudian melapor/menelpon polisi yang berujung ke imigrasi. Simalakama! Ibarat sudah jatuh tertimpa traktor pula.

Banyak yang aku petik dari pertemuan dengan mereka. Masih dan akan selalu terngiang ucapan mereka, "Jangan membayangkan enaknya hidup di negri orang, semua ini perjuangan keras. Utamanya kalau kamu memutuskan untuk OS, hidup mati taruhannya. Dan skill apa yang kamu miliki untuk bisa OS?"

Ya, kalau kerja keras memang sudah menjadi ciri dari pembantu, buruh, namun skill/kemampuan/kelebihan juga mutlak dimiliki untuk bertahan di kerasnya kehidupan di perantauan. Tak ada pundak untuk airmata cengeng itu, karena airmata bukan hak dari pekerja keras seperti kami.

Minggu Pagi di Victoria Park

Hampir genap dua tahun ketika kabar tentang film berbau TKW Hong Kong ini muncul kembali dan dilayarlebarkan. Dulu kabar tentang adanya film kolosal yang menarik minat TKW Hong Kong untuk mengikuti casting film berbayar HK$ 400 seperti yang pernah saya tuliskan di sini sempat menjadi gonjang-ganjing, bukan hanya di babu ngeblog namun juga di rumah Lola Amaria.

Meski bantahan telah disampaikan Lola juga Dewi Umaya baik di sini maupun di beberapa situs online seperti detik.com atau kapanlagi.com bahwa mereka belum mengadakan casting pada waktu itu dan tidak mengadakan casting berbayar tersebut, namun toh pengklarifikasian tentang hal itu di Hong Kong belum juga terealisir hingga saat ini.Dan apakah kawan-kawan di Hong Kong sudah melupakan fakta casting itu? Saya yakin belum.

Entahlah, saya merasakan keanehan. Kalau mereka merasa bahwa adanya kasus casting berbayar itu merupakan pelecehan di dunia perfilman di Indonesia pada umumnya dan pada kru film Lola pada khususnya (lihat sini), mengapa tidak juga dilakukan pengklarifikasian itu? Ini tentang nama baik lho! Ini juga tentang kepercayaan.

Ah, itu keheranan pertama saya saja. Keheranan kedua saya muncul pada saat trailer tentang judul film sekaligus trailernya muncul di Youtube. Lho kok? Coba bandingkan dua trailer dibawah ini:








Beda sekali bukan?

Trailer pertama berjudul "TKW Hong Kong In Love" dengan bahasa mandarin yang menguasai percakapan antara pembantu dan majikan. Melupakan fakta bahwa mayoritas penduduk di Hong Kong berbahasa kantonis, kalaupun ada bahasa Mandarin dan bahasa Inggris itu hanya sekian persen saja. Kantonis adalah bahasa ibu di Hong Kong.

Sementara itu trailer kedua lebih hidup dengan menggunakan bahasa Kantonis sebagai bahasa percakapan antara pembantu dan majikan, bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan antara sesama TKW Hong Kong dan setting maupun penokohan yang lebih baik. Namun begitu, dalam trailer kedua itu bisa dilihat dengan jelas kekakuan Lola Amaria dalam berbahasa Jawa. Kalau boleh saya menilai, mungkin Lola lebih pantas untuk memerankan tokoh Sekar daripada Mayang.

Apapun itu pribadi saya berharap, film ini bisa memberi gambaran lain tentang TKW Hong Kong, tak muluk-muluk bukan? Ada plus minus TKW Hong Kong. Tak bisa dipungkiri, memang ada lesbianisme, gaya hidup wah, bebas atau norak dan sebagainya. Namun toh banyak juga yang berhasil menjadi guru, penulis, seniman, aktif di kegiatan dakwah, olahragawati atau juga ibu yang baik buat anak-anaknya. Kalau kita bicara tentang TKW Hong Kong, kita bukan hanya bicara tentang sekian persen saja tapi 130.409 (seratus tiga puluh ribu empat ratus sembilan) nyawa manusia warga negara Indonesia yang terdata di Labour Departement Hong Kong per April 2010 sebagai TKW. Jadi apakah adil untuk menghakimi TKW Hong Kong dengan julukan-julukan tak senonoh dan kata-kata sinis, direndahkan dan disamaratakan moral dan atau kebejatannya?

Kabar dari Hong Kong disiarkan di RRI

Radio Perantau Indonesia-Hong Kong (RPI-HK) dan Radio Republik Indonesia Pro 3 (RRI Pro 3) membuat program siaran bersama yang rutin disiarkan setiap hari Minggu pukul 15.00-16.00 waktu Hong Kong atau pukul 14.00-15.00 WIB. Acara ini praktis dimulai sejak Minggu (13/6).

RPI-HK yang berdiri dibawah naungan Dompet Dhuafa Hong Kong sejak 9 September 2009 ini beranggotakan orang-orang Indonesia yang bekerja di Hong Kong yang sebagian besar adalah Buruh Migran Indonesia (BMI) dari sektor pekerja rumah tangga.

Acara siaran bersama ini dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi dan berbagi suka duka di rantau dengan sanak famili di tanah air.

Siaran pertama dari program yang bertajuk “Kabar dari Rantau” ini mengambil tempat di 5 Kingsroad lt.1, Tinhau, dengan Bambang S. Soedjadi sebagai penanggung jawab siaran.

Sebanyak tiga orang BMI turut serta dalam siaran pertama tersebut. Masing-masing dari mereka menjelaskan tentang alasan mereka merantau ke Hong Kong.

Di tengah-tengah siaran, dibuka kesempatan kepada warga negara Indonesia baik yang di perantauan maupun di Indonesia untuk tanya jawab ataupun berbagi suka duka mereka. Dua orang BMI-Hong Kong dan seorang mantan BMI-Brunei yang berada di Indonesia turut berpartisipasi melalui telpon.

Menariknya, Kabar dari Rantau bisa didengarkan di seluruh Indonesia karena RRI Pro 3 (88,8 Mhz) menyiarluaskannya ke 60 stasiun radio di seluruh Indonesia. Sedang di Hong Kong, BMI bisa dengan mudah mengaksesnya di http://radioperantauindonesia.com:8080listen.pls lewat internet dari laptop pribadinya atau melalui ponsel yang berakses internet.

Nada dan Dakwah TKW Hong Kong

Pengajian Nada dan Dakwah yang diselenggarakan oleh Saalikul Lail (SL) bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Pekerja Indonesia (LDPI) pada Minggu (30/5) di Houtung Secondary School, Causeway Bay, Hong Kong, bernuansa lain.

Pengajian yang mengangkat tema “Menggapai Bintang” tersebut dimaksudkan sebagai pengenalan SL sekaligus ajakan kepada Buruh Migran Indonesia di Hong Kong (BMI-HK) untuk memanfaatkan waktu dan teknologi guna mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

SL, seperti postingan terdahulu, adalah organisasi islam yang terdiri dari BMI-HK yang rutin mengadakan kegiatan-kegiatan keislaman pada malam hari dengan memanfaatkan teknologi conference call (panggilan ganda). Dari tahlilan, yasinan, istiqosah hingga belajar bersama dilakukan dengan memanfaatkan waktu luang setelah jam kerja pada malam hari lewat layanan conference call.

Kegiatan-kegiatan keislaman tersebut mendapat perhatian khusus dari LDPI. LDPI mengadakan kursus dakwah jarak jauh dengan memberikan tausiyah, mengajari tajwid dan cara berdakwah kepada anggota SL. Hal ini dimaksudkan untuk mencetak kader dakwah dari kalangan BMI.

Saat itu juga diadakan wisuda kelulusan bagi anggota SL yang berhasil lolos tes dakwah oleh LDPI.

Purwaningsih dan Yuli adalah dua orang contoh anggota SL yang berhasil menangkap ilmu dan mempraktekkannya di hadapan 1000 jamaah yang hadir pada pengajian yang terbagi dalam dua sesi tersebut. Keduanya didaulat untuk memberikan ceramah di bawah pengawasan Ust. H. Astamar dari LDPI.

Acara yang berlangsung unik dan menarik ini dimeriahkan pula oleh Wahyu Bana Nasyid, pelantun lagu-lagu religi dari Indonesia.

Ketaton

Obat merah, pinicilin tanpa guna
Tatu iki wes kena infeksi
Mrambah ngebaki manah
Tumuju jantung tumekaning ati

Nanah-nanah dleweran
Mbayu mili nelesi pipi
Nanging gawe garing sukma

Sakdunge,
Yen ta patemonan kae sinukuri
Semono uga pepisahan iki

Lambe Turah Obral Gombal

Sari nyangklong tas kesusu metu seka kelase, karepe mono atene ndekem ndok kantin. Ate mulih aras-arasen. Apa maneh jam loro mengkok onok kuliah tambahan. Sari kuwi arek semester loro fakultas sastra Inggris, Universitas Ngayawara.

Mara-mara saka sisih kiwa, meh ae nabrak Anang, arek fakultas ekonomi. Arek kuwi kuru dhukur, senengane dodolan gombal ambek arek-arek wedhok neng kampus. "Dancuuk!" batine Sari.

"Eh... Hallo darling!" sapane Anang kalem, raine plek koyok baya, congore lincip ambek untune mrongos ngana kae.

Sari ngeblas mlaku, ora ngreken arek sithok elek kuwi.

"Sar, mbiyen-mbiyen aku akeh salah, akeh nebar kata-kata gombal ma sembarang orang. Sering bikin nangis cewek. Tapi setelah kenal kamu, aku saiki insaf," jarene ngethokke jurus bayane (jurus buaya).

"Baguslah," jawabe Sari enteng.

"Ora ate nebar pesona neh ambek cewek lewat cara apapun. Kasihan juga kalau akhirnya pada sakit hatinya gara-gara takgombali," ujare Anang.

"Wo wedhus!" batine Sari. Lha wong rai koyok baya ae kok atene ingah-ingih pamer mrongose. Iki uwong apa Bethara Kala, se?

"Tapi dasar aku!" ujare Anang.

Sari mara-mara mandheg. Ndelokna Anang eneg. Meh ae Sari muntah. "Cuk! Wong iki wes elek, kok doyan men nyocot, lambene turah men," batine Sari maneh.

"Tapi dasar aku, niat-niat thok, gak onok nyatane," ujare Anang ambek mesam-mesem sing malah nggawe raine tambah uelek.

"Yok apa carane katene isa mari iki?" pitakone Anang karo ngucek-ucek matane. Blobok kuning sakedele gedhene nganti metu, jan njijiki tenan!

Sari unjal ambegan.

"Wis watakmu kok Nang, ate piye maneh," jawabe Sari ambek nerusna laku.

"Eh, buruan nikah, mungkin bisa menghentikan kebiasaan jelekku," jare Anang.

"Ya rabia ambek bajul kana!" saure Sari ing jero ati.

"Wis watakmu Nang. Nek watuk isok dimareni, nek watak kuwi nganti tuwa ya pancet ae," jawabe Sari alus. Arek siji iki pancen pinter atine ya apik pisan, najan ta neng batine misuh-misuh ora karuan ning kata-katanya selalu halus dan penuh perhitungan.

"Mosok, se?" Emange wong ki njuk stagnan, ra isa brubah?" takone Anang.

"Wong Jawa biasa ngomong, ciri wanci ginawa tumekaning pati," jare Sari.

"Ah mosok, se? Bisa aja orang yang gak bener jadi baik. Iya kan?"

"Artine suatu watak dasar manusia itu sampai matipun sama. Tapi embuhlah, gak eruh aku," jare Sari.

"Lha iku nek sifat-sifat turunan, gen!" bengokke Anang.

"Lha menawa kuwi ya sifat turunanmu," ujare Sari kalem.

"Koen iku ngawur ae!" bengoke Anang tambah banter.

"Lha buktine koen mau ngomong dhewe nek "niat-niat thok, gak anok nyatane,"

"Lha wingi sasi pasa wes mari, je. Lha dina iki wis kumat maneh. Yok apa se aku iki?"

"Pasa rak ngempet kuwi."

"Apa takpasa ben dina ae ya, Sar?"

"Ra anok bedhane Nang, watakmu ancene wes ngono kuwi kok."

"Ah, kon iku malah nambah-nambahi rasa bersalahku thok ae," kandhane Anang karo ngelus-elus githoke.

"Nek kroso bersalah berarti rak bener, se? Jadi semakin kuat alibi nek koen iku ancene kelakuane ya koyok ngono kuwi,"

"Aku tulungana pa, Sar. Nglarakna atine wong kuwi dusa gedhe. Moh aku nek duwe watak elek kuwi. Gek ndang takmari mumpung iki isih sasi Syawal. Piye carane, Sar?"

Sari unjal ambegan. Nyelehna bokonge neng kursi pojok kantin sing isih sepi. Atine muntab.

"Mbak es degan satu ya!" bengokke Sari. Muga-muga ae es degan kuwi isa ngedhemna atiku, batine Sari. Sari unjal ambegan maneh.

Mbak Dewi bakul ndok kantin kuwi langsung iwut tangane nggawe es degan, sedelok ae dheke wes inthik-inthik nyedhaki mejane Sari lan Anang karo nggawa es degan. Es degan durung ae diselehna meja, wes disaut Anang. Baya sithok kuwi tanpa dusa trus nyruput es degan kuwi, mari ngono es degan kuwi trus disurung ngarepe Sari. Sari bola-bali unjal ambegan. "Dancuuk! Dasar baya rai gedhek!" bengokke Sari ing jero ati.

"Golek tampar nem meter," jare Sari karo nyawang Anang tajem, sing disawang kedhep-kedhep. Ancene nggatheli tenan arek sithok kuwi.

"Trus?"

"Talenana ning wit pelem,"

"Ate digawe apa, Sar? Ngrubuhke pelem ta?" pitakone Anang polos.

"Ya up to you, terserah. Atene digawe lompat tali ya mangga, atene digawe latihan panjat pelem ya enthuk, ate digawe kendhat ya silahkan. Sembaranglah," jare Sari rada emosi.

"Tambah ngawur ae koen iku. Tidak ada kasus lelara isa mari merga tali tampar. Ah jangan bercanda kalau dimintai saran, Sar!" gremenge Anang.

"Lho, iki model baru kok. Sapa ngerti koen sing dadi penemu pertamane,"

"Sar, anu... Mungkin lebih baik kalau koen rabi ae ambek aku, aku yakin pasti koen isa merubah sifatku. Ben mari elekku. Nek wes duwe bojo mesthi mari gombalku," jare Anang serius.

"Jabang bayiiik..! Nganti donya iki ate kukut and you are the only man alive, aku gak atene rabi ambek dhapuramu, Nang!" bengokke Sari emosi. Sari ngadheg mari ngono ninggal Anang ndok jero kantin dhewe.

"Jangan begitu, Sar. Saar..! Es degannya belum dibayar!" bengokke Anang.

"Sing ngombe rak koen ta. Bayaren dhewe! Aku atene mulih!" ujare Sari getem-getem. Sari wes gak duwe semangat maneh nggo melu kuliah tambahan jam loro mengkok. Sari nyetop microlet kuning trus sedela wae wes lungo ninggalna kampuse.




-------------------------------------------

Hehe... Logat Suroboyoan campur basa Indonesia campur basa Landa sithik-sithik. Kepingine nulis crita nganggo basa Suraboyoan, tapi akune gak reti yok apa nulise...sepurane ya!