Galau?

huuhuuhuuuu...

Semangaaaaatttt..!

Love your job and be proud.

Iyes!

Bekerja sambil belajar.

Masih galau lagi?

No! No! No! Be happy laahhh...!

Ayo ngeblog!

Masa kalah sama Babu Ngeblog?

Tragedi Munyuk Kesasar di Hong Kong

Jam sebelas malam ketika semua tugasku sudah selesai dan momongan kecilku dan bos perempuanku sudah masuk kamarnya, bos lakiku belum juga pulang. Saat itu aku sudah mlangkring di atas sarangku yang berada di atas mesin cuci dan kulkas.

Heran? Keterbatasan tempat di apartemen bosku menyebabkan mereka memilih tempat paling strategis untuk membuat sarang untukku. Di atas dua buah kulkas dan mesin cuci diberi papan yang digelari kasur diatasnya, itulah dan disitulah sarangku. Nah uniknya, untuk sampai di atas kasur tersebut, dibutuhkan tangga setinggi satu setengah meter. Jadi konon tiap jam sebelas malam waktu Hong Kong, sudah bisa dipastikan ada sebangsa munyuk manis tanpa ekor yang lagi manjat tangga menuju sarangnya.

Sayup-sayup terdengar gending-gending jawa dari ponselku, sebentar saja aku sudah hampir tidur, liyer-liyer. Baju-bajuku carut marut kubiarkan saja. Antara kaos, celana, cempak dan BH menjadi timbunan yang tak keruan lagi bercampur dengan buku dan koran-koran gratisan. Tak sempat kulipat karena keinginan untuk memberesi sarang kalah dengan kebutuhan jasmani. Kantuk itu tak tertahankan.


Sayup-sayup pula terdengar pintu depan dibuka kemudian ditutup dengan segera. Namun aku sudah mulai melukis "peta" di bantalku, tak peduli.

Tiba-tiba saja, entah berapa menit kemudian, suara bos lakiku mengagetkanku. Berteriak memanggilku persis dibawah sarangku.

Seketika aku tersentak, diantara rasa ngantuk dan iler yang ndlewer di pipiku aku bangun dengan amat sangat tidak ikhlas.

“Cecee!” teriak bosku.

“Hm,” jawabku enggan.

“Cece, I got promotion!” katanya bangga dan gembira. Sudah kebiasaan antara aku dan bosku untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Katanya lebih mudah komukasi dengan bahasa Inggris karena aku tak fasih berbahasa kantonis. Aku dan bosku pun saling terbuka. Berita-berita yang menggembirakan sering kami bagi bersama. Dalam hal ini mungkin bos berpikir dia ingin berbagi cerita bahagianya denganku, tapi bagiku ini adalah awal petaka.
“What? Apa?” tanyaku lagi, kali ini aku siap-siap turun dari sarangku. Dengan mata setengah terpejam kujulurkan kakiku kebawah mencari-cari tangga untuk turun. Sial, tangganya terjatuh hingga menimpa gelas yang berada di atas microwave. Dan..mak krompyaaang...gelasnya jatuh dan pecah. Sedangkan aku gandul-gandul bergelantungan, kedua tangan memegang erat kasurku.

“Ce, aku dipromosikan. Aku naik jabatan,” kata bosku masih dengan nada gembiranya.

“Sialan!” pikirku. Ada orang tergelantung kayak gini bukannya bantuin malah ngocehin tentang hal lain. Dasar bos kalau gak pengertian. HuHH!!

“I got promotion, aku naik jabatan,” katanya lagi.

“Dancuuukk! Dasar bos egois!” umpatku dalam hati.

“Are you not happy? Kamu ga seneng ya denger berita ini?” tanya bos tanpa dosa.

“I don’t care! Ga pedulii! Help me! Bantuiin!” jeritku panik. Tanganku rasanya kesemutan karena bergelantungan. Sedangkan mau loncat turun aku takut karena di bawah ada pecahan gelas.

“Oh sorry,” kata bos.

Dalam hati aku ayem akan segera ada bantuan. Tapi gak sangka malah bos membungkuk memunguti pecahan gelas bukannya mbantuin aku turun dari tempat gelantunganku.

“Dasar Chiken, CHIna KENtir,” umpatku lagi dalam hati.
“Help me! Bantuin aku! Take me down, take me down! Turunkan aku!” teriakku panik.

Mungkin saat itu bosku baru tersadar kemudian kulihat tangannya menjulur mau meraihku tapi diurungkannya.

“Goblook!” bentakku dalam hati. Sapa butuh tanganmu? Ih jangan sampe deh si bos nurunin aku kayak gaya Shahrukh Khan megang pinggang Aiswarya Rai gitu, iihh! Nehikk..nehiiikkk...! Ogaaahhh...kagak mau! Amit-amit, setan anake demit, demit sing suka dulat-dulit, dulat-dulit sampai pecirit, iihh amit-amiitt...! Aku tambah panik.

“Turunkan aku, ambilin tangga!” bentakku. Kali ini benar-benar membentak.

Bosku kemudian ngambilin tangga buatku, dan hanya memandangi aku. Aku turun dari tangga sambil menggerutu.

“Apakah gajiku dinaikkan?” tanyaku sambil memberesi pecahan gelas. Bos malah nggeloyor pergi. Dasar! Benar-benar sebuah tragedi munyuk kesasar di Hong Kong, hiks...


TKW Hong Kong Ngaji Gratis Lewat Conference Call


Komunitas dan organisasi Buruh Migran Indonesia (BMI) Islam makin menjamur jumlahnya di Hong Kong. Mereka kerap menggelar berbagai acara, dari pengajian dengan mengundang ustad kondang hingga belajar bersama. Namun rata-rata aktifitas tersebut dilakukan pada hari Minggu.

Sayangnya, tidak semua BMI mendapatkan libur pada hari Minggu. Hal tentu saja menjadi kendala bagi mereka untuk melakukan kegiatan ke-Islaman. Kegiatan ke-Islaman menjadi kerinduan tersendiri bagi mereka.

"Kami gelisah, kami ingin belajar, kami ingin mendapat siraman rohani tapi kok tidak dapat libur di hari Minggu," ungkap Salamah, BMI asal Ponorogo yang akrab dengan panggilan bunda.

Kendala dan kegelisahan semacam inilah yang mendasari Salamah beserta teman-temannya untuk mencari waktu lain dan cara lain agar kegiatan tausiyah, tahlilan, yasinan atau ngaji bareng tetap bisa dilakukan.

Solusi yang mereka dapatkan adalah dengan conference call/panggilan ganda pada malam hari. Dengan memanfaatkan waktu istirahat setelah menunaikan "PR" sebagai kungyan/pembantu, Salamah beserta teman-temannya akhirnya bisa merealisasikan kegiatan-kegiatan ke-Islaman mereka. Mereka menamakan diri Saalikul Lail, artinya orang-orang yang mencari ridho Allah pada malam hari.

Menurut Salamah, Saalikul Lail mempunyai beberapa kegiatan ke-Islaman seperti tahlilan, yasinan, istiqosah yang rutin diadakan pada malam Jumat juga ta'lim, yasinan, kultum pada menjelang atau sesudah subuh di tiap hari.

Perhatian dari LDPI
Melihat keantusiasan Saalikul Lail, Lembaga Dakwah Pekerja Indonesia (LDPI) memberikan perhatian khusus kepada mereka. "Setiap malam Selasa dari LDPI memberikan ilmunya kepada kami. Kami diberi tausiyah, diajari tajwid juga tanya jawab seputar keagamaan. Semua itu kami lakukan lewat HP (conference call)," terang Salamah.

Hal ini dibenarkan oleh Ustad Astamar dari LDPI. "Jadi semacam kursus, kursus jarak jauh. Tapi saya saya juga mengingatkan mereka untuk mencintai tanah air dan menabung," jelasnya.

Masih menurut Astamar, diadakannya kursus jarak jauh tersebut diharapkan bisa menumbuhkan kader dakwah di kalangan BMI-Hong Kong dan mempersiapkan BMI yang akan pulang ke Tanah Air. "Setidaknya mereka jadi tahu tajwid dan ilmu agama sehingga bisa ditularkan kepada teman-temannya yang lain. Atau bagi yang sudah pulang, nanti di Indonesia juga bisa memberikan ceramah atau jadi MC di acara-acara di desanya. Yang penting bekal ilmu dan rasa percaya diri ada pada mereka, insyaallah bermanfaat," katanya.

Kursus ini rencananya diadakan selama 10 kali pertemuan. "Insyaallah nanti akan ada penyerahan sertifikat dari LDPI kepada peserta kursus. Sebelumnya kami akan menguji kemampuan dakwah mereka," tambahnya.

Selain kegiatan bersama LDPI, Saaliku Lail setiap satu bulan sekali mendapat tausiyah berbahasa Jawa oleh KH. Moh Najib dari Blitar. Selain itu, Saalikul Lail juga menjalin hubungan dengan pondk pesantren Roudhlatul Ulum dari Trenggalek yang diasuh oleh Kyai Asrofi Ali beserta istri, Nyai Mudawammah.

Tausiyah bersama Kyai Asrofi Ali beserta istri dilakukan setiap malam Rabu. Tausiyah-tausiyah tersebut juga dilakukan dengan memanfaatkan layanan conference call dan waktu istirahat di malam hari.

Disinggung tentang besarnya biaya yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan ini, Salamah balik bertanya, "Hanya 20 dolar untuk satu setengah jam ilmu yang bisa kita dapatkan, apakah itu memberatkan?"

20 dolar yang dimaksud Salamah tersebut untuk membeli kartu telepon prabayar guna menelpon Ustad yang ada di Indonesia. "Jadi 20 dolar itu dibebankan secara bergilir kepada jamaah Saalikul Lail. Cuma satu orang saja yang membeli kartu (kartu telepon prabayar), itu saja. Kursus dan pengajian itu gratis," tegas Salamah.

Salah seorang anggota Saalikul Lail menyatakan keantusiasan dan kepuasannya selama mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Saalikul Lail. “Awalnya saya diajak oleh bunda, tapi saya ragu. Namun setelah ikut satu kali kok rasanya hati saya manteb dan semangat,” katanya.

Didasari oleh keinginan yang sama yaitu untuk mendapatkan ridho Allah kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu selain sebagai sarana silaturahim, belajar bersama, pemanfaatan waktu istirahat dan pulsa, juga untuk mengajak BMI agar terhindar dari pergaulan yang tidak benar dengan berbuat baik. “Banyak komentar negatif tentang BMI-HK, ngapain sakit hati? Berbuat baik saja. Insyaallah nantinya mereka akan bisa menilai yang sebenarnya terjadi,” nasihat ustad Astamar.

Parade Protes

CERITA TENTANG WANITA PERKASA

Ada cerita
Tentang wanita
Wanita perkasa
Yang menyebrangi lautan untuk perut dan turunan

Tunduk
Hatinya luka
Berdarahdarah
Bernanahnanah
Hingga berulat berbelatung
Menunggu masa yang tak kunjung terang

Pada kertas hijau muda
Wanita itu terikat
Kebebasannya
Haknya
Hatinya

Telahpun berteriak hingga serak
Memanggil massa untuk di akui
Bahwa dia ada tapi tak di adakan

Telahpun memanggil bapak
Ataupun ibu
Mengadu pilu
Tapi mereka hanya setengah peduli
Setengah lagi mencaci maki

Kemudian hanya angin yang menjanjikan kesejukan
Hanya janji

Wanita itu menangis
Airmatanya berubah samudra
Dan tikus-tikus berdasi berenang
di dalamnya

Wanita itu mengaduh
Sakitnya berubah musik
Dan para kecoak berjoged ria
mendengarnya

Wanita itu berkeringat
Peluhnya berubah permata
Dan para perampok berebut
merenggutnya

Derita wanita perkasa adalah upacara gembira
Bagi mereka
Yang kaya dunia
Yang melarat hati rasa

Apa yang tersisa untuk wanita perkasa?
Apa haknya?

Apakah wanita perkasa difatwa derita?
Ha?


MERDEKAKAH KITA?

Apa arti kata merdeka
Di jaman penuh luka
Karena tabrakan kepentingan yang berbeda-beda

Apa arti kata merdeka
Di saat informasi publik
Terpotong oleh belenggu hukum unik

Merdekakah kita?

Srinthil 8: Face Buruk di Facebook

Ini adalah alasan kenapa Serial Srinthil berhenti total selama satu tahun lebih terhitung dari kisah Srinthil yang terakhir. Untuk itu saya menghimbau kepada pembaca(kalo ada yang baca, hiks..), dengan ini maka saya menghimbau kepada pembaca semuanya untuk membaca dengan mata dan hati. Tidak dengan telinga ato hidung. Selaen itu juga harap dapat menyaring yang kotor dan memasak yang mentah (emang aer??).

Banyak kejadian di luar kebiasaan babu, tapi itu adalah kisah perjalanan kami. Dan karena kami adalah babu-babu yang luar biasa tersebut maka, semua kisah jadi satu adonan gado-gado hidup. Ada suka, duka, ketawa, kejahilan, ndableg, cabe, bawang, kecap, lontong, krupuk, dan dikasih sedikit garam…(lhoo…!!!) tindih menindih, tumpang-menumpang, tumpuk-menumpuk, sambung-menyambung menjadi satu... itulah Indonesia(Ya Olloh Ririiii...kok gaya bahasa cerita Srinthil jadi semrawut?)

"Jiannnngggggkrriiiiiiiikk!!" geramku dalam hati. Sudah tiga kali aku menelpon Srinthil tapi tidak dijawab, sedang sms yang kukirim sejam yang lalupun sepi jawaban. Sudah dua jam aku menunggu, perutku semakin merdu menyanyikan lagu kelaparan, sedang Srinthil yang dua jam yang lalu pamit dan berjanji padaku akan membelikan rujak petis favoritku yang berada di Warung Candra deketnya KJRI itu belum muncul juga.

"Jan-jane munyuk siji iki kemana tho..!" gremengku sendiri.

Teman-teman genk yang lainpun belum muncul karena masih mempunyai urusan masing-masing. Rasanya sepi, walau di sekelilingku banyak teman-teman sesama TKW yang lalu lalang menikmati hari liburnya.

Sudah beberapa lagu juga yang kuputar di notebookku, sembari membantu (koreksi=membantu dengan upah, satu lagu 50 sen)teman-teman yang lain untuk mengisi lagu di MP3, namun tak ada bau ketiak Hindun yang menyengat atau suara compreng Srinthil yang khas yang terdengar dari jarak 500 meter sekalipun.

Iseng, kukunjungi beberapa situs termasuk Facebookku yang sudah seminggu lebih tak tersentuh. Iseng juga kukirim pesan lewat fesbukku ke inbox fesbuk Srinthil, klik..pesan terkirim.

Sepuluh detik berikutnya kuterima pesan dari Srinthil, "Mbak Ri muisi a, aq kelupaan ini lagi berangkat beli rujak petis," tulis Srinthil dalam pesannya.

"Jiaangkriiikkkk....!!" umpatku lagi. "Dasar munyuk ra duwe buntut! Tega-teganya mempertaruhkan hidup matiku dengan fesbuk. Serta-merta kudial nomer Srinthil.

"Anu mbak Rie sepurane, hehehe...ini dalam perjalanan ke warung Candra, muisi a..maap mbak Ri," kata Srinthil.

"Sri, dirimu jadi orang amanah banget ya," kataku sinis. Hati dan perutku teriris luka dan lapar.

"Lha aku itu, anu... aku itu tadi fesbukan, eh ndelalah kok pas online chat ndek fesbuk ketemu sama mas Yudha, trus..."

"Ora ngurus! Ga peduli Mas Arip atau mas Duryudhana balane Sengkuni kuwi, pokoke NO REKEN! Wetengku ki luwe Sriiii!!" teriakku dengan sisa tenagaku. "Tega temen dirimu ki kok malah fesbukan," tambahku.

"Mbak Ri, mbak Ri bilang walao kita babu, jangan sampai ketinggalan informasi dan ilmu. Seperti mbak Ri juga bisa ngeblog tho? Berarti aku bisa fesbukan juga khan? Hari gini mosok ga punya fesbuk? Lha mosok cuma anak sekolahan dan kuliahan, PNS, juragan, ndoro, anggota DPR, atau karyawan perusahaan saja yang boleh punya blog atau fesbuk? Mosok cuma mereka yang boleh narsis dan nulis ini ono suka-suka mereka? Mosok para babu ga boleh bikin blog atao fesbuk? Mosok babu ga boleh menuliskan uneg-uneg kepala, nulis status nyentrik dan misuh-misuh karena bosnya yang kurang sajen?" kata Srinthil membela diri.

"Karepmu Sri, ga ada yang nglarang. Tapi mbok pas kamu fesbukan tadi sikilmu ya mlaku ke warung gitu, ora terus ndeprok pinggir dalan wiridan fesbuk thok! Kalo kayak gitu caramu ntar dapat masalah baru dari fesbuk kamu," kataku.

"Iya..iya...maap, ga gitu lagi deh mbak," jawab Srinthil. Kudengar Srinthil memesan rujak petis, namun perutku tak lagi bisa menunggu. Serta merta kupanggil mbak yang nawarin nasi bungkus yang lewat di depanku.

"Mbak, nasi campurnya satu mbak!" teriakku.

"Lho mbak Ri, aku wes pesen rujak petis iki, wes tak bayar pisan," kata Srinthil yang denger teriakanku.

"Ora urus, pangana dewe karo fesbukan," jawabku sambil mematikan HP.

Oh hari ini pertama kalinya aku mbolos bertemu dengan teman-teman se-gengku. Kusengajakan diriku untuk pulang kerumah (rumah bos) jauh lebih awal dari biasanya, dan kuabaikan beberapa misscall dari temen-temen geng yang menanyakanku. Aku lelah. Sebenarnya bukannya karena hatiku terlalu dongkol dengan Srinthil, karena toh setelah perutku terisi nasi campur tadi marahkupun sudah lenyap. Tapi, ah..entahlah..aku merasa seperti ada himpitan tertentu yang memaksaku kembali bertanya pada diriku sendiri, "Sampai kapan aku akan dicukupkan untuk merantau?"

Emak kemaren menangis karena lebaran kemaren aku membatalkan kepulanganku ke rumah. Berarti sudah terhitung sepuluh kali lebaran aku tidak berada dirumah. Emak kangen, kangen sekali. Ah, seandainya emak tau, kalau aku juga teramat-sangat-kangen-sekali-banget padanya...

Kepalaku berputar-putar, ucapan terakhir emak mendengung-dengung dikepalaku..."Nduk, awakmu kuwi wes dimanjakan dengan kemewahan Hong Kong, makanya takut pulang..." ah apa iya??? Tidak ada yang berubah dengan penampilanku, dari dulu hingga sekarang aku tetap penggemar jeans dan kaos, warna pilihanku juga cuma putih, abu-abu dan biru atau warna polos lainnya tanpa motif sama sekali, rambutku juga masih item, wajahku juga tetap polos tanpa polesan make up, tindikan di kupingku juga cuma satu di masing-maisng kuping...ah...tapi...notebookku...laptopku...koneksi internet yang unlimited dan gratis ini...nikon D90ku...itukah yang dimaksud emak dengan kemewahan itu? Barang-barang yang kudapati dengan perjuangan luar biasa di luar tugasku sebagai babu itu? ah tahukah mereka...?? ah...

.......

Hari demi hari Srinthil semakin jarang sms padaku, padahal Senin pagi waktu dia menelponku dia tahu kalau aku tak sedang marah padanya. Malam hari yang biasanya kami asyik bercengkrama bersama lewat sms gratisan dari smartone, Srinthil juga tak berpartisipasi.

Yang jelas tiap malam saat aku membuka laptop dan mengecek status fesbuk Srinthil, ternyata statusnya berubah-ubah di setiap jamnya, luarrr biasa! "Ah inikah lifestyle babu jaman sekarang?" tanyaku pada diri sendiri.

dreeettt...drreeeettt....dreeetttt....," getar Hpku yang kebetulan aq vibrate saja.

Tertera sebuah nama yang baru saja kita rasani bersama, Srinthil.

"Mbak Riiii...hik..huwaaa..huwaaa....

"Ada apa Sri?" tanyaku bingung.

"Mbak Ri...huwaaaa....aq mau lapor sama MUI mbak...huwaaaa...biar mereka memfatwa haram fesbuk, huwaa...waaa....aq di terminit mbak, huwaaa... Simbokku (bos perempuan) ngamuk a...huwaaa...metu Cinone..huwaaa....," wadul Srinthil disela isak tangisnya.

"Lha masalahe apa kok ada MUI dan facebook dan terminit campur jadi satu?" tanyaku heran campur kaget.

"Lha aq wingi kemaren ga sengaja invite dia di Fesbukku. Khan dari yahoo email itu aq invite semua gitu, lali lupa nek emaile simbok juga ada ndek situ...huwaaa...wa... Trus simbok ngamuk aku, dia bilang gini: "Is this you? Kamu kurang kerjaan ya? Kalo kurang kerjaan ntar tak tambahin kerjaan biar ga dolanan terus. Emange aq ngasih gaji kamu cuma buat nutul-nutul HP thok? Lagian Faceburuk gini kamu pamerin di Facebook?" gitu kata simbokku mbak, hik huwaaa...huwaaa...

"MBak...hik...emang Faceku buruk ya, hik...huwaa waa...,"

"Ya biasalah Sri, babu face," jawabku.

"Maksudnya baby face gitu ya mbak? ah mbak Ri salah ngucap," kata Srinthil.

"Bukan! Babu face kuwi artine rai babu," jwabku jujur.

"Mbak Riiii...huwaaa...elek ngunu ta? hik hiks...

"Trus kamu gimana ini sekarang? Dipecat tenan ta?" tanyaku tak menghiraukannya yang masih mempermasalahkan tentang babu face dan baby face.

"Iya mbak...hik...mau ke agen nyari bos lagi tapi ga mau pulang, aku di Cina aja mbak nunggu visa," katanya.

"Udah nelpon agen belum?" tanyaku

"Uwis,"

"Ya udah kamu di ejen aja dulu atau nyari tempat kos sambil nunggu nyari majikan dua minggu ini, ntar minggu kita ketemu, sekarang aku ga bisa bantu, aku sendiri lagi kerja. Tapi nek kamu butuh uang, ntar boleh pinjem aku," tegasku.

"Makasih mbak,"

Hening sejenak, di selilingi isak Srinthil yang tinggal satu dua...

"Mbak..,"

"Ya,"

"Trus blog e sampeyan piye?" tanyanya yang membuatku kaget.

"Apane sing kepiye?"

"Lha nanti trus Serial Srinthil rak mandeg?" tanyanya serius.

"Wakakaka...kok sempet-sempete dirimu mikir tho Sri.." jawabku.

"Ga usah ditulis aja ya mbak sampek aku dapet majikan sing genah," pesannya

"Ya wes lah gampang," jawabku.

.......

Nah itulah kawan alasan dari kealpaan serial Srinthilku....
jumpa lagi di Srinthil berikutnya karena Srinthil is BACK!!

Perusahaan Abang Ijo vs Abang Putih

Kawans, ini adalah cerita tentang perusahaan Abang Ijo dan perusahaan Abang Putih, cobalah simak hingga akhir cerita....

Bapak Lesmana adalah pemimpin dari perusahaan Abang Ijo. Dan seperti halnya Raden Lesmana dalam tokoh pewayangan, bapak Lesmana ini seorang pemimpin yang gagah, tampan tapi peragu dan sedikit tolol.

Suatu hari, perusahaan Abang Ijo mengikuti sebuah tender besar. Dalam tender itu dibutuhkan kecepatan dan ketepatan pimpinan perusahaan untuk membuat keputusan.

Bapak Lesmana dengan kepercayaan diri yang meluap-luap berkata, “Aku berjanji, perusahaan Abang Ijo pasti memenangkan tender ini!” Perkataan tersebut tentu saja membuat pegawai perusahaan berbangga hati mempunyai pimpinan yang optimis dan berjanji setinggi gunung.

Kemudian masalah timbul ketika sampai pada pembuatan keputusan. Bapak Lesmana terlalu bijaksana. Beliau menimbang-nimbang beberapa hal dan menerapkan ilmu matematika dalam menghitung untung rugi. Itu dilakukannya berulang-ulang. Kebijaksanaan yang berlebihan yang diterapkan oleh bapak Lesmana ini menjadikannya seorang pemimpin yang peragu, ragu dalam membuat keputusan. Karena ragu membuat keputusan, tender besarpun gagal di dapat dan pegawai perusahaan kecewa terhadap pimpinannya.

Payahnya kejadian seperti ini tidak menjadikan bapak Lesmana menyadari kesalahan dan berbenah diri. Perusahaan Abang Ijo pun gagal mendapatkan tender-tender selanjutnya karena pak Lesmana hanya mampu berjanji tapi tak mampu membuat keputusan. Tidak ada tanda bahwa pak Lesmana mempunyai itikad baik untuk memenuhi janjinya dan memberikan bukti bahwa beliau adalah pemimpin yang mumpuni.

Pegawai-pegawainyanya geram dan mengadakan mogok kerja. Perusahaan menjadi makin terpuruk dan hampir dinyatakan bangkrut. Nah saat itu barulah bapak Lesmana sadar akan kesalahannya dan segera merubah diri dan strategi

Sekarang, ketika perusahaaan Lesmana mengikuti tender atau tawaran kerjasama, bapak Lesmana berpikir cepat, bertindak cepat dan membuat keputusan secara cepat dan tepat pula. Akhirnya perusahaan Lesmana mendapatkan prestise sekaligus prestasi yang luar biasa. Dan bapak Lesmana kini menjadi seorang pemimpin yang disegani sekaligus disayangi oleh pegawai-pegawainya.

……….

Ada banyak cerita serupa yang berisikan tentang nilai hidup seseorang yang berada dalam timbangan baik atau buruk, pahlawan atau pengecut, lakon atau bandit. Kesemuanya mengerucut ke satu sistem tatanan nilai yang hampir sama, bahwa kesetimbangan atas nilai baik dan buruk itu dipertanggungjawabkan pada hasil akhir sebuah proses.

Beruntung bagi bapak Lesmana yang mendapat teguran dari pegawainya lewat pemogokan yang kemudian menjadikannya mengakui kesalahannya dan berbenah diri, Pegawainya pun mengampuni kesalahannya, bahwa salah itu tak mengapa yang terpenting mengakui kesalahan dan jangan melakukan kesalahan yang serupa lagi.

Lepas dari kultur ketimuran atau pola pikir ketimuran, masyarakat manapun, termasuk Indonesia dan Buruh Migran Indonesia-Hong Kong (BMI-HK) pada khususnya, tentu mempunyai pemikiran yang sama. Bahwa kita menghargai sebuah proses sekaligus hasil akhir.

Seperti halnya BMI-HK menunggu sebuah proses dan progress dari pemerintah Indonesia untuk membuat kebijaksanaan dan perlindungan bagi buruh migran pada umumnya dan BMI-HK pada khususnya, namun hingga kini kebijaksanaan dan perlindungan itu masih sebatas janji. Padahal, perlindungan dan kebijaksanaan pemerintah terhadap BMI adalah happy ending dan romantisme dari kisah cinta warga negara (BMI = warga negara) dan pemerintahnya.

Banyak hal yang bisa dilihat dari ketidakromantisan pemerintah. Seperti terminal IV khusus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang di maksudkan untuk melindungi dan memberikan kenyamanan pada TKI yang baru pulang, ternyata tak lebih dari sebuah gedung megah tempat mangkal para kriminal yang berseragam. Terminal IV itu “rencananya” akan ditutup, namun catat kawan, itu baru “rencana”, entah akan diwujudkan atau tidak tergantung dari pemerintah yang katanya masih berpikir tentang opsi lain yang lebih baik.

Pelanggaran hak asasi manusia pada buruh migran seperti gaji di bawah standar, pelecehan seksual, kekerasan, potongan agen yang mencekik, penahanan paspor adalah momok bagi BMI, yang puluhan tahun sudah berjalan tanpa perbaikan yang berarti.

Konvensi PBB tahun 1990 tentang perlindungan buruh migran yang ditandatangani oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2004, sampai saat inipun belum diratifikasi padahal jelas ratifikasi konvensi buruh migran ini sangat diperlukan sebagai dasar dari pembentukan kebijakan bagi buruh migran. Pemerintah malah menyerukan dakwahnya dengan mengajak para BMI untuk bersabar. “Tunggu sampai pemerintah siap, sabar ya,” kata Muhaimin Iskandar, Menteri Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi (menakestran) pada dialog yang diadakan di aula gedung Konsulat Jenderal Republik Indonesia-Hong Kong (KJRI-HK) lantai 20, Minggu (27 des ’09).

Meskipun desakan-desakan kepada KJRI untuk meningkatkan pelayanan secara maksimal dan memberikan perlindungan terhadap BMI juga desakan-desakan kepada pemerintah Indonesia untuk meratifikasi konvensi PBB tahun 1990 sekaligus membuat kebijakan baru dan perlindungan utuh sebagai kewajiban dari pemerintah kepada warganya telah dilakukan berulang kali, namun baik KJRI-HK maupun pemerintah masih adem ayem menyaksikan telenovela dari serial drama duka BMI. Pun beberapa dialog yang sempat digelar bersama KJRI dan menakestran, tak lebih hanya sebuah ajang silaturahim yang dipaksakan.

Kesemua itu menunjukkan timbangan kebaikan pemerintah Indonesia yang jauh dari harapan. Ibaratnya janji sudah setinggi gunung, namun bukti baru sebatas mata kaki (antagonisme antara janji dan bukti). Wah rupanya dari tahun ajaran lama (pemerintahan lama) hinggga beberapa kali ganti tahun ajaran (ganti kepemerintahan/pemimpn), tetap saja menggunakan kurikulum (janji) yang sama ya?

Ah, seandainya pemerintah bisa searif bapak Lesmana yang menyadari kesalahannya kemudian memperbaiki diri dengan membuat keputusan secara cepat dan tepat, tentu antagonisme antara janji dan bukti ini tak akan pernah terjadi. Hubungan BMI dan pemerintah/KJRI pun akan mesra lagi, romantis lagi dan sejalan hati.

Apakah mustahil adanya happy ending dari kisah cinta antara BMI dan pemerintah?

Dancuk! Bojoku Rabi Maneh!

"Dancuk! Bojoku rabi maneh!" jerite Suwanti kanthi luh dleweran lan ulat getem-getem. Tangan kekarone nggedhor meja sakrosane. Dene HP-ne mencelat sanalika, nyampluk sikile kenya ayu kang pinuju liwat ing sacedhake.

Aku minggir, rumangsa wedi nyawang kahanan atine Suwanti kang lagi kebranang. Age-age wae aku mrangguli lan nyuwun pangapura marang kenya ayu kang meh wae nesu nyawang patrape Suwanti. "Sepurane, Jeng. Iki mbakyuku lagi susah atine merga ditinggal rabi maneh karo bojone," kandhaku alon marang kenya kuwi mau. Kenya kuwi ngadoh kanthi lambe mecucu.

Aku judeg, ora ngerti apa kang isa kaucap kanggo ngarih-arih dheweke. Apa ya ilok menawa aku menehi wejangan marang dheweke amarga aku dhewe uga nate ngalami kedadeyan kang pada plek setahun kepungkur? Kaya dene Suwanti, setahun kepungkur bojoku rabi maneh tanpa palilahku. Lelakon kaya ngene iki ora mung siji loro kedadeyan marang wanita kaya aku lan Suwanti, atusan, malah menawa uga ewon cacahe.

Ora salahku menawa dadi wong ora duwe, kere. Uga dudu salahe Suwanti utawa wanita-wanita liyane. Kuwi mana wis ginaris dening Gusti Kang Murbeng Dumadi lan kita mung saderma nglakoni, rak ya ngono tho? Dene ora sak jamake menungsa pasrah marang nasib, mesthi ana pambudidaya amrih becike urip.

Cekak aose aku lan Suwanti mana mbabu ning Hong Kong, ninggalake bojo lan nyengkut makarya. Nyikut sekabehing rasa sedih uga sepi, pamrihe muga-muga bisa dadia dalan tumuju becike dina ngarep lan bebrayan. Kabeh mau wes ana palilah lan niat bismillah.

Tak kandhani ya, aku lan Suwanti ora nate milih dadi babu, ora! Iki mana kebutuhan. Dudu pilihan. Diarani pilihan mana menawa ana pilihan apik lan elek, dadi isa di gawe bahan pertimbangan ngana kae. Tuladhane milih mangan karo sambel trasi apa opor. Karuan nek opor luwih enak tinimbang sambel trasi, amarga sambel trasi kuwi rak gawe sereden tho? Beda karo opor, opor isa gawe kewaregen, ngentek-entekke sega sewakul!

Lha iki apa tumon ana pilihan kang kaya mengkene, milih dadi forever kere apa babu? Rak ya kojur tho? Ora adil, wong menehi pilihan kok padha-padha rekasane! Mangkane dadi babu kuwi dudu pilihan nanging kebutuhan.

Ndilalah sing jenenge pacoban urip kuwi maneka warna. Owah-owahan kuwi gawa bubrahing suasana. Sapa sing salah? Apa aku utawa Suwanti lan wanita-wanita sing oncat ninggalake negara lan bojo? Geneya akeh uwong kang alok menawa bubrahing keluarga merga wanitane lunga yen menawa lungane mau wes entuk palilah lan dadi niate wong loro? Geneya kita wanita sing wes rekasa keraya-raya kerja ninggal keluarga sing dituding dadi punjering masalah? Kuwi ora adil! Geneya ora nyalahke negara wae sing ora kasil gawe makmure rakyate?

Ora krasa luhku dleweran rerasan lara lapa sing di alami dening wanita-wanita kaya aku. O ndonya...

"Brakkkk!!" suara meja di gedhor maneh. Sedela wae akeh mata kang nyawang Suwanti. aku rumangsa sumpek ing tengahing taman kang padatan di enggo ngaso para babu ing Hong Kong nalika wayah libur kerja kuwi.

"Wes tho Wan, sabar...sabar," kandhaku marang Suwanti padha plek karo apa kang kinucap dening Suwanti marang aku setahun kepungkur. Nyoba ngarih-arih lan ngelus-elus pundake nanging tanganku dikibatake kanthi kasar. Ah, biyen aku uga kaya mengkono, pikirku.

"Aku salah apa Sar? Aku kurang apik piye? Huu...uuu..," pitakone Suwanti marang aku karo mingseg-mingseg, pitakon kang padha kaya sing nate dak takonake marang dheweke.

"Kowe ora salah Wan," jawabku.

"Aku kurang apa Sar? Aku kudune kepriye? Huu..uuu..," pitakone maneh.

Meh wae dak wangsuli, "Kurang cedhak Wan" nanging dak wurungake. Ndah ne laraning atine Suwanti yen aku nyalahke dheweke wektu kuwi. Apa ya kudu nyalahke kahanan? Ah embuh...

Yen amarga kurang komunikasi lha wong Suwanti ya kerep caturan karo bojone lewat telpon. Kebutuhan ben dina sasat dicukupi karo Suwanti, malah kala-kala Suwanti ngemenke ngirim klambi utawa panganan karemaning bojone saka Hong Kong. Malah uga saking gemine Suwanti kanyata wes kasil gawe omah kramikan barang.

"Aku kudu priye iki Sar? Rong minggu engkas aku bali kok malah ana kabar kaya mengkene, huuu...uu...,"

"Sabar Wan, dileremake atine. Yen bali aja nganti kowe katon kalah ning ngarepe bojomu, aja kaya aku. Tatagna atimu, aja pamer luh, Wan," kandhaku, nanging luhku dhewe dleweran nalika aku ngrangkul raket Suwanti.

Ah rasa iki, rasa kang padha karo sing nate dakrasa, ya rasa iki uga kang gawe raketing kekancan kaya paseduluran.

Aku ndhangak, apa alam iki ora krasa menawa ana ati kang lagi kelara-lara? Geneya abang kuning, ijo, biru, ungu kluwung gumantung ing angkasa mbarengi gonjang-ganjinging ati kang diblenjani tresna?


ANA CANDHAKE...