Selamat Jalan Pak

Air mata itu tak bisa dibendung, menerobos begitu saja. Kerja sama dari kelenjar lakrimal dan emosiku begitu hebat padahal hanya karena satu sms yang baru sempat kubuka. Sms yang lainnya kemudian aku ketahui sama isinya, ketiganya dari kakak-kakakku.

Satu kalimat pendek yang aku tahu akan datang padaku semasa-masa tetap saja membuat guncangan di hatiku dan menimbulkan isakan-isakan tertahan ditengah hiruk-pikuknya manusia di MTR (kereta bawah tanah) sekembalinya aku dari rumah mamah (nenek) untuk makan siang bersama. Menahannya karena tak ingin terlihat aneh di depan banyak orang utamanya di saat seorang bocah sedang bergelanyut manja di tangan kananku dan itu bukanlah hal yang mudah. Setegar apapun aku, aku hanyalah seorang anak dari seorang bapak yang terkapar tanpa nyawa ribuan mil jauhnya dari tempatku berdiri pada saat itu.

"Nduk ngebel, bapak wes meninggal," begitu bunyi sms itu Tertera 14.30 Rabu, 13 Juli 2011, mbak Tik, pada bagian kaki sms.

Innalillahi wa innalillahi rojiun. Astagfirullah... Padahal aku berbicara dengannya seminggu yang lalu ketika beliau memohon padaku untuk pulang barang dua atau tiga hari untuk menjenguknya. Dan aku tak bisa mengabulkan permintaannya karena waktu pulangku sudah ditentukan majikan dan itu hanya tinggal satu bulan saja.

Padahal aku berbicara padanya pukul 18.30-19.00 waktu Hong Kong, menjelang maghrib pada Selasa, 12 Juli 2011. Suara nafasnya yang berat dan suara batuknya terdengar keras mendengung-dengung digendang telingaku, hingga saat inipun.

"Kapan mulih nduk?" tanyanya di sela-sela nafas beratnya.

"Tinggal sebulan lagi," jawabku memberi kepastian.

"Tanggal 21 ya. Ndak nyandhak umurku nduk?" kata bapak. "Bali sik nduk," tambahnya lagi.

Dan kembali aku mengatakan tak bisa. Kembali aku harus mengatakan alasanku bahwa untuk pulang ke rumah tidak semudah itu. Hong Kong-Blora membutuhkan waktu dan uang yang tidak sedikit. Lagipula kalau aku pulang secara mendadak berarti bosku harus mengatur segalanya lagi, dan itu yang teramat menyulitkan.

Penyakit bapak sejak dua tahun yang lalu memburuk, kini semakin parah. Hatinya yang keras menolak untuk pergi ke Rumah Sakit, menjadikan semuanya makin payah. Sabtu ini, aku dan kakakku merencanakan untuk memaksa beliau untuk nginep di Rumah Sakit, namun Tuhan berencana lain. Rencana dasyat-Nya itu telah merobek-robek hatiku menjadi kepingan-kepingan yang sulit untuk ditata kembali, meskipun bukan hal yang mustahil suatu saat nanti bisa. Namun hingga saat aku menulis ini, airmata itu terus mengalir dan nafasku sesak. Inilah di saat ikhlas itu menjadi teramat sulit bagiku.

Aku marah pada kakakku dan menghujaninya dengan sms yang menyakitkan, tak tahu apa yang bisa kuperbuat di sini. Aku marah pada diriku sendiri, atas kealpaanku di saat terakhir bapak, atas kegagalanku sebagai anak. aku marah, aku sedih, aku...

Di saatku menahan pedih hati, momonganku berteriak-teriak protes karena kutinggalkan sendirian.

"Ceceee... Play with me, why you stay in the toilet so loooong?" teriaknya di depan dapur yang berujung toilet pribadiku. "Ceceeeeeeee....!" teriaknya melengking.

"Sorry, I'm so sad, gak bisa main denganmu. Nonton TV aja ya," bujukku seraya mengambil sekeping VCD Hi-5 kesukaannya.

"Kenapa sedih?" Mammi angry with you?" tanyanya lugu.

"No, my dad went to heaven, that's why I'm so sad," jawabku.

Dua buah ciuman diberikannya padaku lengkap dengan pelukan eratnya. "Don't be sad. I will draw for you. I will be good, I watch TV later," janjinya sungguh-sungguh. Dan dia melakukan apa yang telah dijanjikannya serta merta.

Waktu terasa merangkak meski aku berdoa agar cepat segera berlalu. Kucoba untuk berkonsentrasi untuk melakukan sisa tugasku hari itu, namun sepertinya tak berhasil dengan sempurna. Oseng seledri besar dengan daging sapi dan tim telur malam itu telah terkontaminasi oleh airmataku. Tak ada yang protes, meski bos lakiku yang jago masak itu. Semua diam melakukan tindakan preventif agar aku tak meledak dalam duka lagi.

Satu-persatu orang yang kucintai pergi tanpa aku bisa melihat saat terakhir mereka. Nenek, dua tahun lalu juga telah pergi dan kini bapak tutwuri. Satu-persatu kami di sini ditinggal orang yang mereka cintai. Menggonjang-ganjingkan hati, menguji ketegaran dan keikhlasan kami dan kami dilarang gagal. Kalaupun ikhlas itu membutuhkan waktu yang agak lama, tegar itu harus terbentuk seketika.


Allaahummaghfirlii wali wali dayya warhamhuma kamaa rabbayaani saghiira

14 komentar :

  1. Innalillahi wa innalillahi rojiun, semoga Bapake sampean diterima semua amal ibadahnya dan yg ditinggalkan tabah-ikhlas menerima cobaan ini.

    Anaknya pasti lucu dan cerdas ye mba...

    BalasHapus
  2. innalillahi. semoga bapak tenang dan bahagia di sisi Nya y mbak.

    BalasHapus
  3. innalillaahi wainna ilaihi roji'un.. sesengguhnya semua kan kembali padaNYA..
    Mbrebes mili aku baca postingan ini, teringat saat dulu q juga begitu. Tak bisa menemani bapak di massa2 kritis hingga Allah menjemput. Masih terbayang tangis beliau minta q pulang, dan sakit karena penyesalan itu ga mampu hilang hingga sekarang mba. Uda 3 tahun, tapi sakitnya g terlupa. Dan q ga ingin mengulanginya untuk ibu tersayang..

    BalasHapus
  4. Semoga meskipun berada ribuan mil, doa akan tetap terkabulkan

    mohon pengampunan atas beliau sebagai penghormatan dan bakti anak sholeh kepada orang tua (lho kok ngajari)

    salam dari pamekasan madura

    BalasHapus
  5. Mbak.....Ikut berbelasungkawa...moga arwah beliau ditrima disisiNya.... kita berencana Allahlah yang menentukan....

    BalasHapus
  6. Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun. maaf mbak baru dengar sekarang. Semoga Alloh menempatkan beliau di sebaik - baik tempat kembali. Amin.

    BalasHapus
  7. Innalillahi.
    Kita nggak kenal, mbake, tapi aku ikut berduka cita sedalam-dalamnya. *peluk*
    Moga-moga jalannya Bapak almarhum lapang dan terang, nafas lega tidak sakit tidak sesak.

    BalasHapus
  8. Innalillahi wa innaillahi rojiun...
    Mbak, turut berduka cita, mohon maaf baru tahu beritanya tadi pas buka FB.

    Semua datang dari Allah dan kembali kepada Allah, semoga Bapak tenang di sisi-Nya juga diterima amal ibadahnya. Amin Allahumma amin...

    Mbak Rie, yang sabar dan tabah yah... Peluk, Mbak Rie

    BalasHapus
  9. Maaf byangett....

    Baru tahu kabar berita dukanya pagi ini mBokk...


    "Sedaya titah kang tumitah badhe katimbalan kondur dhumateng ingkang damel titah..."

    Ndherek belasungkawa, mugi suwargi Keng Bapa pikantuk margi engkang sae, padhang njingglang. Dene samangke lancar anggenipun tindak-sowan dhateng ngarsaning Akarya Jagad,

    Kunjuk Dhateng Ngarsa Kang Maha Agung, Amien...

    BalasHapus
  10. turut berduka cita Ririe... semoga amal baik beliau diterima di sisi-Nya

    BalasHapus
  11. Turut berduka cita, semoga khusnul khotimah. Maaf, telat lama.

    BalasHapus
  12. aamiin..aamiin...
    kepada semuanya...terimakasih atas simpati dan doanya

    BalasHapus

Matur suwun wis gelem melu umuk...