Anak Wadon

Dek jaman berjuang
jur kelingan anak lanang
biyen tak openi ning saiki ana ngendi
jarene wis menang
keturutan sing digadang
biyen nate janji
ning saiki opo lali....

Ah tembang itu salah, yang benar adalah "jur kelingan anak wadon", seperti halnya diriku pada saat ini, bantahku dalam hati. Namun uyon-uyon caping nggunung itu terus berlanjut, tak mempedulikan diriku yang sedangberbantah kata mengenainya.

"Pak gek mangan disik to!" teriak istriku dari dalam pawon.
Kesibukan hatiku sejenak terhenti, mengingat hari sudah beranjak malam dan sedari pagi kopiku pun kubiarkan dingin begitu saja. Gelisah hatiku tak menentu, kebahagiaan dan kesedihan bercampur seperti halnya nasi rawon yang aku aduk-aduk tanpa perasaan.
"Pak, ada apa to?" tanya istiku lembut.
"Seperti baru sekali ini manggung aja to Pak, kok gelisah banget."
Ya memang bukan kali ini aku manggung bersama sebelas yoga lainnya, tapi baru kali ini aku merasa getaran yang lain. Selanjutnya acara makan itu hanya semacam keterpaksaan saja, demi istriku yang sudah penat lelah menyajikannya untukku.

Baru saja aku selesai makan, Sarmin datang.
"Bonang barus, bonang penerus, saron, slentem, siter, titil, kendang, gambang, gender, klonang, gong, kempul,kenong, ketug,semua sudah dipindahkan ke rumah pak Haji Sukro, Ki," lapor Sarmin padaku.
"Hem, turnuwun," jawabku sambil manggut-manggut.
Sekali lagi hatiku bergetar, perasaan tak menentu kembali menguasaiku. Satu dua kali aku menarik nafas panjang-panjang sekedar untuk menguatkan hatiku sendiri.

"Paak, jarite wis rampung ki," kata istriku sambil menyodorkan jarik baru kiriman dari anak wadonku.

Hemm...anak wadonku, apakah dia merasakan gejolak yang ada di diri bapaknya ini? Apakah dia merasakan kebahagiaan dan rindu ini? Sedang apa dia disana? Sehatkah? Lagi-lagi setiap aku mengenangnya selalu meninggalkanku dengan sekian pertanyaan. Pertanyaan yang wajar dimiliki oleh seorang bapak yang kangen akan anaknya.

"Pak, mboten dangu kok, kula namung pados modal kangge pawitan gesang kula mbenjang. Kula pengin gesang mandiri, mboten tansah gumantung dumateng tiyang asepuh. Mbok bilih to sampun cekap kula badhe wangsul lan ngabekti dumateng panjengan. Pareng nggih pak?" kenangku pada setiap ucapan terakhirnya sebelum keberangkatannya ke negeri beton itu.
Aku merasakan berat di kelopak mataku. Ada yang bergelanyutan disana yang memaksaku untuk jujur kalau aku menginginkan anak wadonku untuk berada disini, setidaknya untuk malam ini,biar kita bisa berkongsi kebahagiaan.

"Pak, kok malah deleg-deleg, gek ndang jaritan to Pak,"
Lagi-lagi istriku membawaku ke alam nyata, menyadarkan aku bahwa pekerjaan menunggu di depanku. Ah sudahlah, aku yakin dia disana pun bahagia,bujukku pada diri sendiri.
Kuraih jarik dan kuterapkannya menutup kakiku. Jarik batik tulis bermotif pakem yang banyak dipengaruhi oleh seni batik kraton Kasunanan Solo itu di buat dengan menggunakan sutra tenun. Warma coklat keemasannya nampak gebyar-gebyar di sorot lampu. Jarik bermotif sama pula dipakai oleh istriku cuma bedanya adalah wiron punyaku lebih besar daripada punya dia.

"Gendhuk pancen pinter milih ya Pak," gumam istriku bangga.
"Anak e sopo?" jawabku dengan nada bangga yang sama.
"Halah wong genah anak kita berdua kok."
Itulah canda pertama dan tawa pertama ku di hari ini.

Setapak demi setapak kami serombongan "Paguyuban Karawitan Lestari Manunggal" berarak menuju Rumah pak Haji Sukro. Anak-anak kecilpun bersorak dan mengelu-elukan kami sampai akhirnya mereka bergabung di belakang rombongan kami. Duh gendhuk, yen kowe ana kene..., desahku lagi.

Pak Haji Sukro punya hajat mantenan hari ini. Rumah Pak Haji yang selalu ramai, hari ini berlipat-lipat ramainya. Rumah joglo itu terbuka lebar di bagian depannya, kursi-kursi dan meja ditata rapi, segala jajanan di gelar diatas meja itu. Ada hiasan janur kuning disana-sini, ada juga dua batang pohon pisang dengan jantungnya yang masih utuh berada di pintu masuk ke rumah itu. Sementara di dalam sana Suryatiningsih duduk berdampingan dengan suaminya yang sudah disyahkan oleh pengadilan agama sejak siang tadi.

"Sugeng rawuh, sugeng rawuh," kata Pak Haji sambil menyalamiku.
"Matursuwun, " jawabku diikuti dengan basa-basi kejawen yang biasa diucapkan untuk memberi ucapan selamat padanya atas pernikahan anaknya itu.

Mataku tertumpu pada seperangkat gamelan, kesemuanya terlihat kilap karena baru. Itulah hasil keringat anakmu, kataku pada diri sendiri. Adalah keinginannya untuk membelikanku seperangkat gamelan itu, kecintaannya pada kesenian jawa sama halnya denganku.

"Pak, kula kirim arta kajeng kula supados bapak pundhuttaken gamelan. Ingkang wonten Bojonegoro meniko lho pak. Wekdal riyin bapak nate prasaja. Kula kepingin keturutan ingkang bapak gadang. Tumbaske nggih pak nggih,"

Ah, sekarang memang keturutan sing tak gadang. Tapi rasanya belum lengkap kalu anak wadon sing tak tresnani tidak berada di sini di waktu bahagia ini.

Aku merasakan sesuatu bergetar, bukan hanya dari hatiku tapi juga dari benda kecil yang berada dipangkonku. Handphone kiriman anakku itu bergetar berkali-kali. Ada tulisan "nomer tidak dikenal" disana. Ah siapa lagi kalau bukan anak wadonku, pikirku. Dengan satu tangan kuraih HP itu, kusentuh tombol hijau tanda aku bersedia untuk menerima panggilan itu. Wajahku mendadak sumringah, senyum segera terbentuk, semangat segera meluap. Anak wadonku telpon, sorakku dalam hati.

Tapi...ha?? Ini sudah malam, sudah jam 11 lewat, yang berarti disana adalah jam 12 lewat. Karena antara Jawa dan negeri beton itu beda satu jam.
"Nduk, bengi-bengi kok telpon, nanti kalau konangan majikanmu gimana?" tanyaku rada miris. Takut kalau-kalau anak kebanggaanku mendadak kepergok oleh majikannya.
"Ah mboten kok Pak, semua sudah tidur," jawabnya.
"Pripun pak? Lancar sedaya to?"
"Iyo nduk, kabeh lancar. Ini baru mau mulai."
"Waranggana ne sinten pak?"
"Nyi Suparti, saka desa Klopo Duwur."
"Kok tebih sanget...
"Lha kan masih teman dekat te Bapak to nduk,"
"Pak...
"Hemm...
"Kula bingah sanget, HP ne saya hidupkan sampai pagi ya pak, biar saya bisa dengar suara gamelanne."
"Mbok jangan boros-boros to nduk,"
"Ah namung sepisan meniko,"
"Yo uwis sak karepmu. Bapak wis arep mulai manjak lho nduk, ga bisa ngobrol-ngobrol sama kamu."
"Mboten nopo nopo kok pak, kula ngertos."
Dan percakapan berhenti disitu. Ah akhirnya anak wadonku disini walau cuma suaranya saja. Hatiku bungah ora karuan
. Tembang demi tembang mengalir dari suara merdu Nyi Suparti. Masih dalam pikiranku membayangkan seolah suara merdu itu berasal dari anak wadonku sendiri. Gendhuk juga pinter nembang mungkin kelak dikemudian hari dia bakal menjadi pesinden yang sejati.

Dek jaman berjuang
jur kelingan anak wadon
biyen tak openi ning saiki ana ngendi
jarene wis menang
keturutan sing digadang
biyen nate janji
ning saiki opo lali....

Ah liriknya sudah ganti,...

.....00......

Jam 9 pagi saat aku terbangun dari tidurku, kulihat ada sebuah sms dari anak wadonku.

Pak, kula tilem angkler sngt
Rasane kados pun keloni klih
bpk simbok. DEne kula ngimpi
dados waranggana nembang uyon2
caping gunung. Pak, benjg
desmbr kula wangsul, kangge
selamine. Kula pengin sesarengn
kalih bapak nguri2 kabudayan
jawi.Pulsa telas sanes wekdal
kula tlp, trisno Gendhuk.


"Suu, Suu!!" teriakku pada istriku.
"Anak wadon arep bali Su, ra sida tambah kontrak. Suu, Suu....
anak wadon arep bali Suu.............

0 comments :

Posting Komentar

Matur suwun wis gelem melu umuk...